Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : berjelajah dalam karya Langit biru yang menyapaku kini berubah menjadi butiran putih yang menghuja...
published on spotify : berjelajah dalam karya
Langit
biru yang menyapaku kini berubah menjadi butiran putih yang menghujani teras
rumahku. Ya. Musim dingin telah tiba.
“Hmm.
Musim dingin sudah tiba. Ini berarti aku harus mempersiapkan semuanya untuk
acara ulang tahunku.” batin Klara sembari segera bersih diri dan berkaca.
Saat
sedang asik bersolek, Klara ingat bahwa salah satu temannya, Kevin, memiliki
tanggal ulang tahun yang sama.
“Aku
ingat. Kevin tidak pernah merayakan ulang tahunnya kan? Bagaimana jika aku
mengajaknya? Namun, bagaimana caranya?” batin Klara yang sadar bahwa Kevin
adalah laki-laki yang tidak menyenangkan.
Klara
dan Kevin memanglah dua kepribadian yang berbeda. Klara dikenal sebagai perempuan
yang sabar, baik hati, ramah, dan selalu berpenampilan sederhana. Hal itu tentu
berbeda dengan Kevin yang memiliki kepribadian yang egois, pendiam, mudah
marah, dan selalu berpenampilan gaul. Banyaknya perbedaan itu membuat
Klara sukar untuk mendekati Kevin.
Di
tengah kegundahan untuk merancang perayaan ulang tahunnya, Klara pun berkeliling
dan mendapati sebuah café yang lumayan sepi. Dengan cepat, Klara memilih
tempat duduk yang ia suka dan mengeluarkan lembaran kertas kosongnya.
Saat
asik merancang perayaan ulang tahun, Klara tiba-tiba saja dikagetkan dengan
suara skateboard yang terdengar sangat dekat dengan telinganya.
“Kevin?”
sapa Klara membuat Kevin berhenti dan melirik Klara.
Melihat
Kevin yang melirik Klara dengan kejam, Klara pun menutup mulut dan langsung
bersiap untuk berpindah tempat sebelum Kevin menghajarnya.
“Hei,
Ra.” panggil Kevin membuat Klara terpaksa mengurungkan niatnya yang ingin kabur
dan kembali duduk di posisinya yang semula.
“Terima
kasih ya atas hadiahmu tahun lalu. Aku suka lukisanmu.” puji Kevin sembari
perlahan mendekati Klara.
Klara
yang gemetar memaksakan diri untuk tersenyum guna tidak menyinggung perasaan Kevin.
“Aku
senang jika kamu menyukainya.” balas Klara membuat Kevin tiba-tiba saja duduk
di depannya.
Kevin
pun mengangguk dan melirik tulisan tangan Klara. Klara pun tidak menutupi hasil
tangannya itu dan berniat untuk mengajaknya jika ia mau.
“Kamu
ingin merayakan ulang tahun di mana?” tanya Kevin membuat Klara terkejut.
Klara
pun mengangkat bahu dan terus tersenyum di hadapannya.
“Aku
ada lokasi perayaan ulang tahun yang murah. Datang saja di hotel pamanku.” ucap
Kevin sembari memberikan kartu nama pamannya kepada Klara.
“Anggap
saja itu tanda terima kasihku atas hadiahmu.” lanjut Kevin sembari beranjak
dari duduknya.
“Vin!
Kamu tidak mau merayakan ulang tahunmu denganku? Setidaknya, berikan aku kesempatan
untuk membuktikan padamu bahwa perayaan ulang tahunmu akan menyenangkan.” ucap Klara
membuat Kevin menggeleng dengan cepat.
“Vin. Jikalau
kamu tidak mau, setidaknya lakukan ini untuk mewujudkan doaku selama ini.” lanjutku
membuat Kevin kembali mendekati Klara dengan wajah penasaran.
“Doa?”
tanyanya membuat Klara mengangguk.
“Aku
ingin sekali merayakan hari ulang tahun ini bersamamu. Aku ingin kamu
melepaskan semua kedengkian di dalam hatimu. Kamu adalah mawar yang berduri.
Perkenankanlah aku untuk membersihkan duri-duri yang melekat di tubuhmu, Vin.
Setelah aku melakukannya, aku tidak akan memaksamu lagi.” ucap Klara membuat
Kevin berpikir keras.
Setelah
beberapa menit berlalu, Kevin pun mengangguk.
“Baiklah.
Telpon aku jika kamu memerlukan sesuatu.” ucap Kevin sembari pergi dari hadapan
Klara.
Klara
pun tersenyum.
Sepanjang
hari Klara selalu menghabiskan waktu dengan Kevin. Karena kedekatan itu, mereka
pun menjadi sahabat. Hubungan mereka pun terus berkembang seiring dengan berjalannya
waktu sampai pada akhirnya tiba di hari ulang tahun mereka. Melihat banyak
teman-teman Klara yang melirik sinis ke arah Kevin, membuat Klara mengecohkan
teman-temannya dengan musik yang ia nyalakan. Setelah musik itu menyala, semua
teman-teman Klara langsung masuk ke aula itu dengan wajah yang sangat bahagia Selama
acara berlangsung semua terlihat lancar dan sukses.
“Huh!”
keluh Kevin yang terdengar gusar di samping Klara.
“Kenapa,
Vin?” tanya Klara membuat Kevin menggeleng.
“Kenapa
acaranya belum juga selesai? Aku gerah!” protes Kevin yang langsung saja beranjak
dari kursinya dan memutari ruangan berulang kali.
“Vin.
Aku tahu di balik semua sikap dinginmu itu, kamu sedang menyembunyikan sesuatu.
Mengapa tiba-tiba sekolah kita masuk televisi? Aku bahkan tidak mendapatkan informasi
apapun dari kepala sekolah.” ucap Klara membuat Kevin terlihat sangat panik.
“Kamu
harus jujur, Vin. Aku bukanlah orang asing lagi di hadapanmu.” lanjut Klara
membuat Kevin menyerah dan duduk di hadapanku.
“Tolong,
Ra. Aku tidak ingin mereka tahu. Berjanjilah padaku.” balas Kevin sembari
menunjukkan jari kelingkingnya.
Klara
pun langsung mengaitkan jari kelingkingnya itu.
“Kamu
tahu riwayatku selama berada di sekolah kan? Aku adalah anak yang nakal. Bahkan
istilah troublemaker pantas diajukan padaku. Aku selalu bolos, tidak
lulus ujian, jadi langganan BK, suka berkelahi, minum, dan hal-hal buruk
lainnya. Bagaimana bisa aku tiba-tiba memamerkan bahwa aku berhasil membanggakan
sekolah dengan kejuaraanku bermain skateboard, Ra?” ucap Kevin membuat
Klara terkejut.
“Kini,
aku dihadapkan dengan dua pilihan. Aku menunjukkan keberhasilanku yang kelak akan
menjadi batu sandunganku sendiri atau aku diam dan membiarkan mereka tetap
membenciku. Aku pun memilih pilihan dua itu untuk kebahagiaanku sendiri. Ra,
kamu tidak perlu membelaku jika aku dibenci. Aku kini sudah bahagia karena
memiliki satu teman yang menerimaku apa adanya. Kamu.” ucap Kevin yang terlihat
berkaca-kaca.
Klara
pun mendekatinya dan mengacungkan jempol padanya.
“Kamu
benar-benar lelaki hebat, Vin. Aku tidak akan pernah membencimu.” ucap Klara
membuat Kevin tersenyum untuk yang pertama kalinya.
Sejak
saat itu, Klara dan Kevin semakin dekat. Di setiap ulang tahun, Klara dan Kevin
selalu menggelar pesta bersama. Melihat Kevin yang lambat laun terlihat ramah
karena pengaruh Klara, banyak teman-teman yang mau mengajaknya pergi. Benar-benar
akhir yang membahagiakan untuk Klara.
“Tidak
ada manusia sempurna dalam hidup ini. Janganlah pernah menilai orang dari
keburukannya, tetapi dekatilah dan temukan apa yang ada di dalam hatinya.”