Masa lalu yang
mengenaskan! Ya! Itulah yang ia rasakan sampai saat ini. Gara-gara kecelakaan
itu Melki menjadi tidak bisa berjalan dan juga menjadi orang yang sangat
tertutup. Tidak ada satupun orang yang berani berbicara dengannya kecuali jika
Melki mengajak mereka berbicara lebih dulu. Masa lalu itu, tidak akan pernah
Melki lupakan! Sosok bayangan halus datang menghampiri benaknya dan yang ia
dapati adalah teman dekatnya yang selalu mencelotehinya setiap kali Melki
mengantar jemput Meri. Melki benar-benar orang yang payah, hanya karena Melki mengabaikan
semua perkataan yang diucapkan teman cerewetnya itu membuatnya berakhir tragis
seperti ini.
Sudah hampir empat
kali Melki membunyikan klakson sepeda motornya. Tetapi ia lihat Meri masih
belum keluar dari rumahnya. Emosinya pun mulai memuncak dan langsung ia gas
sepeda motornya sampai-sampai tetangga Meri keluar dari rumah mereka sambil
menghampirinya. “Hey anak muda! Tau kalau dilarang berisik di kompleks ini?
Kalau tidak punya sopan santun silakan keluar dari sini.” ucap seorang ibu
sambil menggendong bayinya. Melki hanya tersenyum sinis lalu mengabaikannya.
Melki melihat Meri sedang mengunci pintu rumahnya dan berjalan kearahnya.
“Melki! Bisa kan kamu ketuk pintu rumah atau meneleponku begitu? Kenapa kamu
malah menganggu tetangga-tetanggaku!” ucap Meri membuat Melki langsung
menatapnya tajam. Tanpa kata langsung saja Melki menyalakan motornya dan hendak
pergi dari hadapan Meri. Namun, Meri menahan motor Melki dan langsung naik di
belakangnya.
Melihat jalanan yang
ramai membuat Melki tidak sabar untuk menerobos banyak kendaraan itu. “Ki! Awas
kamu kalau nerobos mobil depanmu itu. Jangan nekat! Gak tau apa kalau aku takut
kamu berkendara dengan kecepatan tinggi. Lebih baik terlambat daripada nekat!
Jangan lakukan itu lagi ki! Ki!!” ucapan Meri tidak digubris sama sekali oleh
Melki. Melki langsung mengegas motornya dengan kecepatan tinggi dan
membelok-belokkan motornya itu dengan sangat cepat. Tiba-tiba saja ketika ia berhasil
menghindari kemacetan itu terdapat seorang anak perempuan sedang menyebrang di zebra cross.Melki ceroboh! Akibatnya, ia langsung menabrak anak itu dan
membuat anak perempuan itu terjatuh dengan darah mengucur dari kepala dan luka
di tangannya. “Melki!! Anak itu nanti mati! Bawa ki!! Bawa!! Aku gak mau jadi
orang yang nggak bertanggung jawab! Ini nyawa lho ki!! Nyawa lebih berharga
dari pekerjaan! Tolongin ki! Kamu mau masuk kantor polisi!” celoteh Meri
membuat Melki langsung mengangkat anak perempuan itu dan membawanya ke rumah
sakit.
Dokter langsung
menanggapi masalah itu dengan serius. Orang tua dari anak perempuan itu langsung
datang dengan tangis mereka yang menggebu-gebu. “Kamu apakan anak saya!” ucap
bapak itu sambil menarik kerah Melki. Melki tidak terima. Ia langsung melempar
tangan bapak itu dan menatapnya tajam. “Kamu berani dengan saya!” bentak bapak
itu membuat seorang perawat menghampiri mereka. “Maaf pak ini rumah sakit. Saya
harap bapak tidak menimbulkan kekacauan di rumah sakit ini.” nasihat perawat
itu membuat ia memutuskan untuk menutup mulutnya. “Ibu, bapak saya mewakili
teman saya mau minta maaf atas kecelakaan ini. Jika ada apa-apa teman saya akan
mempertanggungjawabkannya.” ucap Meri membuat Melki langsung menarik tangan
Meri dengan cepat. “Heh! Aku gak punya uang! Hati-hati kalau omong! Mana uang
gajiku gak seberapa juga! Malah omong yang enggak-enggak!” bentak Melki marah
kepada Meri. “Ki! Salah siapa kamu ngebut? Salah siapa kamu menerobos
kemacetan? Kan salah kamu juga! Kamu harus bertanggung jawab. Kalau ada apa-apa
sama anak itu kamu bisa dituntut. Lebih baik mengatakan itu daripada tidak sama
sekali. Jangan salah kamu!” ucap Meri membuat Melki menggeram.
“Syukurlah. Anak ibu
dan bapak baik-baik saja. Namun, anak ibu dan bapak disarankan untuk menjalani
rawat inap selama satu minggu.” ucap dokter membuat keduanya lega begitu juga
Meri. “Terima kasih atas pertanggungjawaban kalian. Saya berharap kalian lebih
berhati-hati lagi di jalan raya.” ucap ibu itu membuat Meri tersenyum namun,
membuat Melki menggerutu. “Ki! Bayar! Cuma 150.000 aja lho! Kamu kan kaya! Beli
mobil aja bisa. Masa ngerelain uang segitu aja gak mau! Jangan egois kamu!”
celoteh Meri membuat Melki langsung membayar dan meninggalkan Meri.
“Ki!” teriak Meri sambil
berlari menuju Melki.
Melki pun dengan
terpaksa mengendarai motornya dengan kecepatan normal walau, tangan kanannya
terasa sangat gatal untuk menambah gas. Saat ingin berbelok tiba-tiba saja ada
dua anak laki-laki sedang mengendari motor mereka dengan kecepatan tinggi
sehingga menyenggol motor Melki dan membuat Meri terjatuh dengan luka di sikut
dan lututnya. “Woy! Tanggung jawab! Masih kecil udah kayak gitu! Gak pernah
diajari sama orangtuamu apa!” teriak Melki sambil membopong Meri menuju tepi
jalan. Meri terus menerus meringis kesakitan. Melihat Meri membuat Melki merasa
resah. “Apa ini karma akibat aku menabrak anak perempuan tadi? Huh! Merepotkan!
Lihat saja jam sudah menunjukkan pukul delapan. Aku sudah resmi terlambat! Huh!
Payah!” batin Melki sambil mengobati luka Meri.
Sesampainya di kantor
Melki dan Meri disambut oleh beberapa pegawai di depan pintu. Mereka melihat keduanya
sinis sambil melipat tangan dan membuat Meri langsung meminta maaf serta
menunjukkan luka di sikut dan lututnya. Melihat luka Meri membuat emosi mereka
mereda dan mau memaafkan kesalahan ini namun, dengan ancaman bahwa kesalahan
hari ini tidak akan terulang lagi untuk hari berikutnya.
Kejadian kemarin sama
sekali tidak menyadarkan Melki. Ia tetap mengendarai motornya dengan kecepatan
tinggi karena ia tidak mau lagi terlambat seperti kejadian kemarin. Tak
menyangka saat ia hendak mendahului sepeda motor yang ada di depannya,
tiba-tiba saja sepeda motornya condong kea rah kanan dan menyerempet seorang
anak laki-laki yang sedang bersepeda. Akibat tidak kuat menahan sepedanya, anak
laki-laki itu terjatuh dengan luka di lutut dan kepala kirinya dan kerusakan pada
sepedanya. Waktu terus berjalan Melki bingung harus menolong atau melanjutkan
perjalanannya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan anak itu dengan memberinya
uang Rp. 200.000,00 untuk biaya pengobatannya. Langsung ia menerobos lampu
merah dengan kecepataan diatas rata-rata. Dan sampailah dia di kantornya tepat
waktu.
“Tumben cepet
datangnya? Nabrak orang lagi kamu?” sindir Bondan sambil mendekati Melki. Melki
tidak menghiraukannya dan langsung masuk saja sambil membawa tas laptopnya.
“Ki! Kenapa kamu gak mau nyelametin anak itu sih! Kamu gak ambil pelajaran dari
hari kemarin? Emang mungkin lukanya gak separah anak perempuan kemarin. Tetapi
ketahuilah, dia mau berangkat sekolah. Sepedanya rusak! Kamu tidak mau
mengantarnya atau memberikan dia uang agar dia bisa memperbaik sepedanya? Kamu
egois ki! Pengguna jalan sembrono kayak kamu gak pantas berkendara di jalan.
Cuma bisa merepotkan pengendara lain saja! Tidak sadar apa mereka juga punya
kepentingan yang sama dengan kamu! Kamu harus bertanggung jawab ki! Kenapa kamu
tidak mendengarkan!” teriak Meri membuat Melki marah besar dan meremas
pergelangan tangan Meri.
“Aku gak mau
terlambat kayak kemarin! Aku terpaksa ngelanggar rambu-rambu demi pekerjaanku!”
bentak Melki tak kalah hebatnya. “Ki! Kamu bisa kan berangkat lebih pagi dari
rumah! Dan pastinya jalan raya masih sepi. Kamu bebas berkendara cepat di
situasi seperti itu! Keterlambatan ini bukan salah dari kemacetan tetapi oleh
karena perbuatanmu sendiri yang tidak cakap dalam membagi waktumu. Jangan jadi
orang yang sembrono Ki! Selain merugikan orang lain, hal itu juga bisa
merugikan dirimu sendiri. Jangan egois!!!” teriak Meri membuat Melki langsung
menamparnya keras.
“Kamu tidak tahu
apa-apa tentang aku! Memang benar aku pengguna jalan yang sembrono. Asal kamu
tahu gak hanya aku yang ngelakuin hal-hal yang kayak gitu. Banyak orang dan
bahkan ada pengendara yang lebih kejam daripada aku. Mengapa kamu tidak melihat
itu? Kenapa kamu seolah-olah menyalahkanku dan menganggap diriku seorang
pengendara terburuk di negara ini! Oh ya. Hati-hati jika kamu berbicara
denganku. Mungkin hari ini tamparan tetapi, besok bisa saja tonjokan!” bentak
Melki membuat Meri meneteskan air mata karena merasa pipinya yang terus
memanas.
Kejadian itu membuat
Meri tidak lagi berani menasehati Melki. Ia tidak memedulikan lagi temannya dan
menjadi musuh sejak itu.
Melki tetap tidak
jera walaupun dia sering mendapatkan beberapa tilang dari polisi yang hampir
melubangi dompetnya itu. Tidak hanya anak kecil saja, Melki juga menabrak
seorang nenek yang sedang menunggu seseorang di tepi jalan. Lagi-lagi jam sudah
menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Karena menunggu lampu
hijau yang terlalu lama membuat Melki langsung berjalan di tepi dan tak sadar
spion motornya mengenai lengan nenek tua yang sedang berjalan di tepi. Nenek
itu pun terjatuh dan pingsan di tempat. Lagi-lagi Melki tidak menggubrisnya dan
memutuskan untuk meninggalkan nenek itu sampai-sampai ia tidak sadar terdapat
sebuah truk besar berada di depannya dan mengarah kearahnya. BRAK!!! Kecelakaan
hebat membuat Melki terluka dan kerusakan dasyat menghantam sepeda motornya.
Sudah kurang lebih
satu minggu Melki mengalami koma. Ia pun perlahan membuka mata dan mendapati
kedua orang tuanya dan Meri sedang berada di ruangannya. Melki melihat ayahnya
sedang menabahkan hati Meri yang terlihat terus menerus menangis. Ibunya
langsung mendekat ketika menyadari bahwa Melki sudah terbangun dari tidurnya.
Ia tidak bisa berbicara lidahnya terasa kelu bahkan ia pun kesulitan menggerakkan
kedua kakinya yang mati rasa. Dia sudah menduga bahwa dirinya lumpuh akibat
kecelakaan yang menimpanya satu minggu yang lalu. Hatinya sudah siap menghapi
kenyataan hari ini. Dia juga sadar karena telah mengabaikan nasihat Meri. Meri
terus menangis melihat kondisi Melki yang sangat mengenaskan hari ini. Melki
tidak bisa membalas kesedihan Meri ia hanya bisa menatap ketiga orang di
depannya itu dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba saja kedua
polisi datang menghampiri Melki dan membuat Melki melirik perlahan keduanya.
“Dengan bapak Melki? Saya menginformasikan bahwa sopir truk yang membuat bapak
koma saat ini tertangkap. Ia mengendarai truk itu dengan kondisi mengantuk
sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi saat berkendara. Saya seringkali melihat
bapak melanggar peraturan lalu lintas di jalan. Seorang nenek yang bapak
serempet dua minggu yang lalu meninggal. Namun, pihak keluarga beliau mau
memaafkan bapak dan tidak menuntut bapak. Pak, saya berharap dengan cobaan yang
menimpa bapak beserta keluarga hari ini dapat menjadi suatu pelajaran yang
berharga agar dapat menggunakan jalan raya dengan baik tanpa melukai bahkan
menghilangkan nyawa seseorang yang tidak bersalah dalam berkendara. Demikian
yang bisa saya informasikan. Semoga bisa bermanfaat bagi bapak di masa yang
akan datang nantinya.” ucap polisi itu sembari keluar dari ruangan itu bersama
ayah Melki. Meri terus menerus menatap Melki. Melki tau tatapan Meri saat ini.
Tatapan penuh kekecewaan juga marah yang ia tampilkan lewat tangisannya. Meri
sama sekali tidak sedih dengan keadaan Melki melainkan kekecewaan yang sudah
melewati batas kesabarannya itulah yang membuatnya menitikkan air mata.
“Aku menyesal tidak
mendengarkan kata-katamu.” ucap Melki lemas sambil perlahan mengarahkan
kepalanya kearah Meri. Meri tidak menatapnya langsung ia masih merasa kesal
bahkan ia takut ketika ia melihat mata Melki emosinya akan meningkat drastic.
Syukur saja dokter masuk dan memotong pembicaraan Meri dan Melki.
Setelah dokter itu
pergi tiba-tiba saja Melki membuka pembicaraan lagi dengan Meri. “Meri.
Jelaskan padaku kenapa pengendara harus menaati banyak peraturan. Contohnya
saja menggunakan helm, menyalakan lampu depan. Aku malah menganggap itu bukan
apa-apa. Jika kita tidak memakai helm tetapi berhati-hati, kita pasti selamat
kan? Kenapa seperti itu? Jelaskan.” ucap Melki dengan nada lemas sambil
memperhatikan Meri yang sedang berpikir keras.
“Ki. Memang
seolah-olah larangan untuk tidak menggunakan helm dan tidak menyalakan lampu
depan seolah-olah berlebihan atau tidak wajib. Tapi siapa yang tahu kapan
kecelakaan terjadi menimpa kita? Peraturan-peraturan itu bertujuan untuk
mengantisipasi agar para pengendara terhindar dari kecelakaan lalu lintas.
Selain merugikan orang lain, kecelakaan juga bisa merugikan diri kita dalam
bidang ekonomi dan mungkin dalam bidang politik. Dalam bidang ekonomi contohnya
saja seperti keadaanmu sekarang. Berapa banyak biaya yang orang tuamu keluarkan
agar kamu sembuh? Itu tidak murah ki. Untuk bidang politik contohnya saja
penjara. Hanya karena kamu melanggar rambu-rambu lalu lintas membuatmu harus
masuk ke belakang jeruji penjara selama bertahun-tahun dan juga pasti akan
membutuhkan biaya untuk membebaskanmu dari tempat itu. Tidak ada peraturan yang
besifat tidak penting. Peraturan selalu bertujuan baik dan tidak mendukung atau
merugikan sebelah pihak. Peraturan diciptakan agar dunia ini tertib, aman dan
nyaman dari segala resiko yang bisa terjadi tanpa terduga. Pahamilah itu ki.
Ingat. Nyawa lebih penting dari kepentingan duniawi.” ucap Meri membuat Melki
menghela nafas dan tersenyum kearahnya.
“Memang benar semua
perkataanmu itu. Aku memang pengguna jalan egois yang selalu mengedepankan
kepentinganku sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Aku juga
pengendara motor yang ceroboh telah mengabaikan hal-hal sepele yang sebenarnya
penting bagi keselamatanku juga. Aku benar-benar merasa malu ketika aku
menyadari semua kesalahanku yang sudah kulakukan selama bertahun-tahun sejak
SMP. Betapa terlambatnya aku menyadari kesalahan-kesalahan itu dan membuatku
kehilangan kedua kakiku.” ucap Melki sambil melihat kedua kakinya.
“Kadang penyesalan memang selalu
terlambat. Namun, dengan peristiwa seperti ini akan bisa membuatmu lebih dewasa
dalam menyikapi kejadian di lalu lintas nantinya. Kamu tidak akan melakukan
pelanggaran-pelanggaran itu lagi dan dapat memanajemen waktu dengan baik.
Jadikanlah peristiwa ini pelajaran buatmu.” ucap Meri sambil menabahkan hati
Melki yang sudah terbuka kepada orang lain dan tidak lagi menjadi pribadi yang
egois, sembrono dan tertutup.
Tidak ada peraturan yang tidak penting. Untuk
mengerti makna dari peraturan itu butuh waktu yang sedikit lama untuk menyadari
kepentingannya. Jangan cepat memutuskan sesuatu yang tidak kamu ketahui
keburukannya. Jika itu dilakukan penyesalan terlambat akan membuatmu menderita.
Blog post ini dibuat dalam rangka
mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor
di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan
Nulisbuku.com