Masa lalu yang mengenaskan! Ya! Itulah yang ia rasakan sampai saat ini. Gara-gara kecelakaan itu Melki menjadi tidak bisa berjalan dan ...

Penyesalan yang Terlambat

/
0 Comments


Masa lalu yang mengenaskan! Ya! Itulah yang ia rasakan sampai saat ini. Gara-gara kecelakaan itu Melki menjadi tidak bisa berjalan dan juga menjadi orang yang sangat tertutup. Tidak ada satupun orang yang berani berbicara dengannya kecuali jika Melki mengajak mereka berbicara lebih dulu. Masa lalu itu, tidak akan pernah Melki lupakan! Sosok bayangan halus datang menghampiri benaknya dan yang ia dapati adalah teman dekatnya yang selalu mencelotehinya setiap kali Melki mengantar jemput Meri. Melki benar-benar orang yang payah, hanya karena Melki mengabaikan semua perkataan yang diucapkan teman cerewetnya itu membuatnya berakhir tragis seperti ini.

Sudah hampir empat kali Melki membunyikan klakson sepeda motornya. Tetapi ia lihat Meri masih belum keluar dari rumahnya. Emosinya pun mulai memuncak dan langsung ia gas sepeda motornya sampai-sampai tetangga Meri keluar dari rumah mereka sambil menghampirinya. “Hey anak muda! Tau kalau dilarang berisik di kompleks ini? Kalau tidak punya sopan santun silakan keluar dari sini.” ucap seorang ibu sambil menggendong bayinya. Melki hanya tersenyum sinis lalu mengabaikannya. Melki melihat Meri sedang mengunci pintu rumahnya dan berjalan kearahnya. “Melki! Bisa kan kamu ketuk pintu rumah atau meneleponku begitu? Kenapa kamu malah menganggu tetangga-tetanggaku!” ucap Meri membuat Melki langsung menatapnya tajam. Tanpa kata langsung saja Melki menyalakan motornya dan hendak pergi dari hadapan Meri. Namun, Meri menahan motor Melki dan langsung naik di belakangnya.

Melihat jalanan yang ramai membuat Melki tidak sabar untuk menerobos banyak kendaraan itu. “Ki! Awas kamu kalau nerobos mobil depanmu itu. Jangan nekat! Gak tau apa kalau aku takut kamu berkendara dengan kecepatan tinggi. Lebih baik terlambat daripada nekat! Jangan lakukan itu lagi ki! Ki!!” ucapan Meri tidak digubris sama sekali oleh Melki. Melki langsung mengegas motornya dengan kecepatan tinggi dan membelok-belokkan motornya itu dengan sangat cepat. Tiba-tiba saja ketika ia berhasil menghindari kemacetan itu terdapat seorang anak perempuan sedang menyebrang di zebra cross. Melki ceroboh! Akibatnya, ia langsung menabrak anak itu dan membuat anak perempuan itu terjatuh dengan darah mengucur dari kepala dan luka di tangannya. “Melki!! Anak itu nanti mati! Bawa ki!! Bawa!! Aku gak mau jadi orang yang nggak bertanggung jawab! Ini nyawa lho ki!! Nyawa lebih berharga dari pekerjaan! Tolongin ki! Kamu mau masuk kantor polisi!” celoteh Meri membuat Melki langsung mengangkat anak perempuan itu dan membawanya ke rumah sakit.

Dokter langsung menanggapi masalah itu dengan serius. Orang tua dari anak perempuan itu langsung datang dengan tangis mereka yang menggebu-gebu. “Kamu apakan anak saya!” ucap bapak itu sambil menarik kerah Melki. Melki tidak terima. Ia langsung melempar tangan bapak itu dan menatapnya tajam. “Kamu berani dengan saya!” bentak bapak itu membuat seorang perawat menghampiri mereka. “Maaf pak ini rumah sakit. Saya harap bapak tidak menimbulkan kekacauan di rumah sakit ini.” nasihat perawat itu membuat ia memutuskan untuk menutup mulutnya. “Ibu, bapak saya mewakili teman saya mau minta maaf atas kecelakaan ini. Jika ada apa-apa teman saya akan mempertanggungjawabkannya.” ucap Meri membuat Melki langsung menarik tangan Meri dengan cepat. “Heh! Aku gak punya uang! Hati-hati kalau omong! Mana uang gajiku gak seberapa juga! Malah omong yang enggak-enggak!” bentak Melki marah kepada Meri. “Ki! Salah siapa kamu ngebut? Salah siapa kamu menerobos kemacetan? Kan salah kamu juga! Kamu harus bertanggung jawab. Kalau ada apa-apa sama anak itu kamu bisa dituntut. Lebih baik mengatakan itu daripada tidak sama sekali. Jangan salah kamu!” ucap Meri membuat Melki menggeram.

“Syukurlah. Anak ibu dan bapak baik-baik saja. Namun, anak ibu dan bapak disarankan untuk menjalani rawat inap selama satu minggu.” ucap dokter membuat keduanya lega begitu juga Meri. “Terima kasih atas pertanggungjawaban kalian. Saya berharap kalian lebih berhati-hati lagi di jalan raya.” ucap ibu itu membuat Meri tersenyum namun, membuat Melki menggerutu. “Ki! Bayar! Cuma 150.000 aja lho! Kamu kan kaya! Beli mobil aja bisa. Masa ngerelain uang segitu aja gak mau! Jangan egois kamu!” celoteh Meri membuat Melki langsung membayar dan meninggalkan Meri.

“Ki!” teriak Meri sambil berlari menuju Melki.

Melki pun dengan terpaksa mengendarai motornya dengan kecepatan normal walau, tangan kanannya terasa sangat gatal untuk menambah gas. Saat ingin berbelok tiba-tiba saja ada dua anak laki-laki sedang mengendari motor mereka dengan kecepatan tinggi sehingga menyenggol motor Melki dan membuat Meri terjatuh dengan luka di sikut dan lututnya. “Woy! Tanggung jawab! Masih kecil udah kayak gitu! Gak pernah diajari sama orangtuamu apa!” teriak Melki sambil membopong Meri menuju tepi jalan. Meri terus menerus meringis kesakitan. Melihat Meri membuat Melki merasa resah. “Apa ini karma akibat aku menabrak anak perempuan tadi? Huh! Merepotkan! Lihat saja jam sudah menunjukkan pukul delapan. Aku sudah resmi terlambat! Huh! Payah!” batin Melki sambil mengobati luka Meri.

Sesampainya di kantor Melki dan Meri disambut oleh beberapa pegawai di depan pintu. Mereka melihat keduanya sinis sambil melipat tangan dan membuat Meri langsung meminta maaf serta menunjukkan luka di sikut dan lututnya. Melihat luka Meri membuat emosi mereka mereda dan mau memaafkan kesalahan ini namun, dengan ancaman bahwa kesalahan hari ini tidak akan terulang lagi untuk hari berikutnya.

Kejadian kemarin sama sekali tidak menyadarkan Melki. Ia tetap mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi karena ia tidak mau lagi terlambat seperti kejadian kemarin. Tak menyangka saat ia hendak mendahului sepeda motor yang ada di depannya, tiba-tiba saja sepeda motornya condong kea rah kanan dan menyerempet seorang anak laki-laki yang sedang bersepeda. Akibat tidak kuat menahan sepedanya, anak laki-laki itu terjatuh dengan luka di lutut dan kepala kirinya dan kerusakan pada sepedanya. Waktu terus berjalan Melki bingung harus menolong atau melanjutkan perjalanannya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan anak itu dengan memberinya uang Rp. 200.000,00 untuk biaya pengobatannya. Langsung ia menerobos lampu merah dengan kecepataan diatas rata-rata. Dan sampailah dia di kantornya tepat waktu.

“Tumben cepet datangnya? Nabrak orang lagi kamu?” sindir Bondan sambil mendekati Melki. Melki tidak menghiraukannya dan langsung masuk saja sambil membawa tas laptopnya. “Ki! Kenapa kamu gak mau nyelametin anak itu sih! Kamu gak ambil pelajaran dari hari kemarin? Emang mungkin lukanya gak separah anak perempuan kemarin. Tetapi ketahuilah, dia mau berangkat sekolah. Sepedanya rusak! Kamu tidak mau mengantarnya atau memberikan dia uang agar dia bisa memperbaik sepedanya? Kamu egois ki! Pengguna jalan sembrono kayak kamu gak pantas berkendara di jalan. Cuma bisa merepotkan pengendara lain saja! Tidak sadar apa mereka juga punya kepentingan yang sama dengan kamu! Kamu harus bertanggung jawab ki! Kenapa kamu tidak mendengarkan!” teriak Meri membuat Melki marah besar dan meremas pergelangan tangan Meri.

“Aku gak mau terlambat kayak kemarin! Aku terpaksa ngelanggar rambu-rambu demi pekerjaanku!” bentak Melki tak kalah hebatnya. “Ki! Kamu bisa kan berangkat lebih pagi dari rumah! Dan pastinya jalan raya masih sepi. Kamu bebas berkendara cepat di situasi seperti itu! Keterlambatan ini bukan salah dari kemacetan tetapi oleh karena perbuatanmu sendiri yang tidak cakap dalam membagi waktumu. Jangan jadi orang yang sembrono Ki! Selain merugikan orang lain, hal itu juga bisa merugikan dirimu sendiri. Jangan egois!!!” teriak Meri membuat Melki langsung menamparnya keras.

“Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku! Memang benar aku pengguna jalan yang sembrono. Asal kamu tahu gak hanya aku yang ngelakuin hal-hal yang kayak gitu. Banyak orang dan bahkan ada pengendara yang lebih kejam daripada aku. Mengapa kamu tidak melihat itu? Kenapa kamu seolah-olah menyalahkanku dan menganggap diriku seorang pengendara terburuk di negara ini! Oh ya. Hati-hati jika kamu berbicara denganku. Mungkin hari ini tamparan tetapi, besok bisa saja tonjokan!” bentak Melki membuat Meri meneteskan air mata karena merasa pipinya yang terus memanas.

Kejadian itu membuat Meri tidak lagi berani menasehati Melki. Ia tidak memedulikan lagi temannya dan menjadi musuh sejak itu.

Melki tetap tidak jera walaupun dia sering mendapatkan beberapa tilang dari polisi yang hampir melubangi dompetnya itu. Tidak hanya anak kecil saja, Melki juga menabrak seorang nenek yang sedang menunggu seseorang di tepi jalan. Lagi-lagi jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Karena menunggu lampu hijau yang terlalu lama membuat Melki langsung berjalan di tepi dan tak sadar spion motornya mengenai lengan nenek tua yang sedang berjalan di tepi. Nenek itu pun terjatuh dan pingsan di tempat. Lagi-lagi Melki tidak menggubrisnya dan memutuskan untuk meninggalkan nenek itu sampai-sampai ia tidak sadar terdapat sebuah truk besar berada di depannya dan mengarah kearahnya. BRAK!!! Kecelakaan hebat membuat Melki terluka dan kerusakan dasyat menghantam sepeda motornya.

Sudah kurang lebih satu minggu Melki mengalami koma. Ia pun perlahan membuka mata dan mendapati kedua orang tuanya dan Meri sedang berada di ruangannya. Melki melihat ayahnya sedang menabahkan hati Meri yang terlihat terus menerus menangis. Ibunya langsung mendekat ketika menyadari bahwa Melki sudah terbangun dari tidurnya. Ia tidak bisa berbicara lidahnya terasa kelu bahkan ia pun kesulitan menggerakkan kedua kakinya yang mati rasa. Dia sudah menduga bahwa dirinya lumpuh akibat kecelakaan yang menimpanya satu minggu yang lalu. Hatinya sudah siap menghapi kenyataan hari ini. Dia juga sadar karena telah mengabaikan nasihat Meri. Meri terus menangis melihat kondisi Melki yang sangat mengenaskan hari ini. Melki tidak bisa membalas kesedihan Meri ia hanya bisa menatap ketiga orang di depannya itu dengan tatapan kosong.

Tiba-tiba saja kedua polisi datang menghampiri Melki dan membuat Melki melirik perlahan keduanya. “Dengan bapak Melki? Saya menginformasikan bahwa sopir truk yang membuat bapak koma saat ini tertangkap. Ia mengendarai truk itu dengan kondisi mengantuk sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi saat berkendara. Saya seringkali melihat bapak melanggar peraturan lalu lintas di jalan. Seorang nenek yang bapak serempet dua minggu yang lalu meninggal. Namun, pihak keluarga beliau mau memaafkan bapak dan tidak menuntut bapak. Pak, saya berharap dengan cobaan yang menimpa bapak beserta keluarga hari ini dapat menjadi suatu pelajaran yang berharga agar dapat menggunakan jalan raya dengan baik tanpa melukai bahkan menghilangkan nyawa seseorang yang tidak bersalah dalam berkendara. Demikian yang bisa saya informasikan. Semoga bisa bermanfaat bagi bapak di masa yang akan datang nantinya.” ucap polisi itu sembari keluar dari ruangan itu bersama ayah Melki. Meri terus menerus menatap Melki. Melki tau tatapan Meri saat ini. Tatapan penuh kekecewaan juga marah yang ia tampilkan lewat tangisannya. Meri sama sekali tidak sedih dengan keadaan Melki melainkan kekecewaan yang sudah melewati batas kesabarannya itulah yang membuatnya menitikkan air mata.

“Aku menyesal tidak mendengarkan kata-katamu.” ucap Melki lemas sambil perlahan mengarahkan kepalanya kearah Meri. Meri tidak menatapnya langsung ia masih merasa kesal bahkan ia takut ketika ia melihat mata Melki emosinya akan meningkat drastic. Syukur saja dokter masuk dan memotong pembicaraan Meri dan Melki.

Setelah dokter itu pergi tiba-tiba saja Melki membuka pembicaraan lagi dengan Meri. “Meri. Jelaskan padaku kenapa pengendara harus menaati banyak peraturan. Contohnya saja menggunakan helm, menyalakan lampu depan. Aku malah menganggap itu bukan apa-apa. Jika kita tidak memakai helm tetapi berhati-hati, kita pasti selamat kan? Kenapa seperti itu? Jelaskan.” ucap Melki dengan nada lemas sambil memperhatikan Meri yang sedang berpikir keras.

“Ki. Memang seolah-olah larangan untuk tidak menggunakan helm dan tidak menyalakan lampu depan seolah-olah berlebihan atau tidak wajib. Tapi siapa yang tahu kapan kecelakaan terjadi menimpa kita? Peraturan-peraturan itu bertujuan untuk mengantisipasi agar para pengendara terhindar dari kecelakaan lalu lintas. Selain merugikan orang lain, kecelakaan juga bisa merugikan diri kita dalam bidang ekonomi dan mungkin dalam bidang politik. Dalam bidang ekonomi contohnya saja seperti keadaanmu sekarang. Berapa banyak biaya yang orang tuamu keluarkan agar kamu sembuh? Itu tidak murah ki. Untuk bidang politik contohnya saja penjara. Hanya karena kamu melanggar rambu-rambu lalu lintas membuatmu harus masuk ke belakang jeruji penjara selama bertahun-tahun dan juga pasti akan membutuhkan biaya untuk membebaskanmu dari tempat itu. Tidak ada peraturan yang besifat tidak penting. Peraturan selalu bertujuan baik dan tidak mendukung atau merugikan sebelah pihak. Peraturan diciptakan agar dunia ini tertib, aman dan nyaman dari segala resiko yang bisa terjadi tanpa terduga. Pahamilah itu ki. Ingat. Nyawa lebih penting dari kepentingan duniawi.” ucap Meri membuat Melki menghela nafas dan tersenyum kearahnya.

“Memang benar semua perkataanmu itu. Aku memang pengguna jalan egois yang selalu mengedepankan kepentinganku sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Aku juga pengendara motor yang ceroboh telah mengabaikan hal-hal sepele yang sebenarnya penting bagi keselamatanku juga. Aku benar-benar merasa malu ketika aku menyadari semua kesalahanku yang sudah kulakukan selama bertahun-tahun sejak SMP. Betapa terlambatnya aku menyadari kesalahan-kesalahan itu dan membuatku kehilangan kedua kakiku.” ucap Melki sambil melihat kedua kakinya.

“Kadang penyesalan memang selalu terlambat. Namun, dengan peristiwa seperti ini akan bisa membuatmu lebih dewasa dalam menyikapi kejadian di lalu lintas nantinya. Kamu tidak akan melakukan pelanggaran-pelanggaran itu lagi dan dapat memanajemen waktu dengan baik. Jadikanlah peristiwa ini pelajaran buatmu.” ucap Meri sambil menabahkan hati Melki yang sudah terbuka kepada orang lain dan tidak lagi menjadi pribadi yang egois, sembrono dan tertutup.


Tidak ada peraturan yang tidak penting. Untuk mengerti makna dari peraturan itu butuh waktu yang sedikit lama untuk menyadari kepentingannya. Jangan cepat memutuskan sesuatu yang tidak kamu ketahui keburukannya. Jika itu dilakukan penyesalan terlambat akan membuatmu menderita.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger