Seperti biasa Alan dan teman-temannya selalu bermain
futsal di lapangan dekat dengan rumah pak RT. Seperti biasa pula anak pak RT
yang bernama Valdi juga bermain dan selalu mengajukan diri sebagai kapten tim.
Sebenarnya banyak anak menyetujui jika Alan-lah yang pantas menjadi kapten tim.
Sebaliknya malah Alan tidak suka jika ditunjuk menjadi kapten tim, dia lebih
suka memposisikan dirinya sebagai penyerang atau kiper.
“Hey di! Gantian dong! Emang cuma sampeyan yang bisa
jadi ketua di permainan ini? Tuh Alan yang lebih hebat dari sampeyan saja gak
berani buka mulut!” ucap Rama dengan logat jawa tengahnya.
Melihat kedua temannya berkelahi membuat Alan
memutuskan untuk menyingkir dari lapangan dan duduk di tepi lapangan sambil
terus melihat kedua temannya itu.
“Eh lan, kamu harus mau jadi ketua tim ya kali ini!”
ancam Mario sahabat Alan.
“Nggak lah mar, aku gak bisa jadi ketua futsal ini!
Aku benci tugas memimpin tau!” bentak Alan membuat Valdi, Mario dan Rama menoleh
kearahnya.
“Tuh denger! Alannya aja gak mau dia jadi pemimpin,
ya udah berarti cuma aku yang pantes jadi pemimpin hari ini.” ucap Valdi dengan
angkuhnya.
“Huh! Rek ayo!” teriak Mario membuat semua
teman-temannya menyeret Alan paksa.
“Woy!! Sakit! Woy!!” teriak Alan berusaha melepas
genggaman teman-temannya.
Langsung saja Rama memasukkan kain ke dalam mulut
Alan dan membuat Alan tidak bisa berteriak lagi.
“Lho! Gak jadi main nih! Woy! Denger gak sih!”
teriak Valdi saat melihat semua temannya pergi. Dia pun memutuskan untuk pergi
dari lapangan itu dan mencari teman bermain yang lain.
Saat sudah menemukan tempat yang cocok, Rama pun
menyuruh teman-temannya itu untuk melepaskan Alan dan membuatnya terjatuh.
Pelan-pelan Mario mengambil kain itu dari mulut Alan,
karena dia sudah melihat wajah Alan yang sedang marah. Setelah berhasil
mengambil kain itu, ia langsung berlari dan bersembunyi diantara
teman-temannya.
Dugaan Mario salah, ia mengira Alan bakal
teriak-teriak menghina mereka tetapi Alan hanya mengatur nafas dan melihat
teman-temannya.
Tidak ada yang berbicara..
“Lan!” ucap Rama mendekati Alan. Alan tidak menoleh.
“Asal sampeyan tau lan, sikap sampeyan tadi egois! Sampeyan gak tau kalau Valdi
mimpin futsal kita lagi, kita gak bakalan bisa berkembang lan! Sedangkan waktu
Valdi sakit dan gak mimpin futsal, sampeyan mau jadi pemimpin dan mau ngajarin
kita main bola sampe sehebat ini. Alan, kita semua seneng sampeyan jadi
pemimpin permainan itu. Kita semua emang gak bisa sekolah tinggi kayak sampeyan
dan Valdi, tapi dengan sampeyan mau mimpin permainan futsal itu buat kita
ngerasa sepadan sama kepintaran sampeyan walau hanya pinter main bola lan.”
ucap Rama membuat Alan menoleh. Semua teman yang Alan lihat sedang menatap
sedih dirinya, Mario pun sampai meneteskan air mata.
“Lan, gue pengen bisa sekolah kayak lu. Tapi gue gak
punya uang kayak lu. Dengan lu mau ngajarin kita main bola sehebat lu, kita
udah seneng kok lan. Cita-cita kita yang pengen bisa sekolah kerasa udah
terpenuhi setelah lu ngelakuin itu lan. Kalau Valdi yang mimpin kita, kita
berasa kayak orang kere, dan bodoh lan. Kita emang gak ada apa-apanya daripada
lu dan Valdi.” ucap Vino yang membuat teman-temannya menangis.
Alan pun bangkit dari duduknya dan melihat sedih
teman-temannya yang sedang menangis. Emang berat rasanya gak bisa sekolah,
batin Alan dari dalam hatinya.
“Mmm..maafin aku udah gak perhatian sama kalian.
Mulai sekarang aku bakal mau jadi pemimpin kalian di permainan futsal.”
Semua teman-teman Alan langsung berlari dan memeluk
erat Alan. Ternyata akibat pelukan erat mereka itu membuat pakaian dan rambut
Alan berantakan. Semua jadi tertawa dan Alan pun juga menjadi bahagia.
Hari ini memang sudah malam, tapi entahlah Alan
tergerak hatinya untuk pergi ke gereja dan memutuskan untuk menenangkan hatinya
disana. Tak disangka saat di gereja ia mendengar alunan organ yang indah, ia
pun langsung mengambil air suci dan perlahan-lahan mengintip pemain organ itu.
Perempuan berambut panjang dengan menggunakan pakaian seadanya. Ia menggunakan
sweater berwarna putih, cocok dengan warna kulitnya. Alan tidak bisa
mengalihkan pandangannya pada perempuan itu sampai-sampai ia menabrak kursi di
depannya. Dan membuat pemain organ itu menghentikan permainannya dan berjalan
mendekati Alan yang terlihat kesakitan karena kakinya yang kemasukan paku dari
kursi kayu itu.
“Astaga..sebentar ya.” ucap perempuan itu membuat
Alan menginggit bibirnya karena ternyata paku itu perlahan-lahan masuk ke
kulitnya. Segera dengan cepat perempuan itu menarik paku itu dengan peralatan
P3K yang dia bawa, tanpa terasa paku itu sudah keluar dan membuat Alan lega
walau nafasnya ngos-ngosan.
“Sudah baikan? Kenapa kamu menabrak kursi kayu itu?
Kursi itu berbahaya. Apa kamu mau berdoa? Silahkan saja..ada banyak kursi yang
bisa kamu pilih.” ucap perempuan itu dengan nada lembut kepadanya.
“Apa kamu suster?” tanya Alan membuat perempuan itu
tersenyum. “Bukan, aku orang biasa sepertimu. Hanya saja aku sering kesini
setiap malam, aku selalu tidak bisa tidur jika aku tidak kesini.” ucap perempuan
itu sambil meletakkan peralatan obat P3Knya ditempat yang telah disediakan.
Mendengar perkataan perempuan itu membuat Alan
merasa ingin sekali berdoa dan menyerahkan segala sesuatunya untuk Tuhan.
Melihat Alan berdoa membuat perempuan itu tersenyum senang dan memainkan organ
itu lagi.
Alan langsung membuka mata dan melirik perempuan
itu. Lagu yang ia mainkan tidak asing ia dengar, memang itu lagu kesukaan
ibunya yang berjudul “Kiss the Rain” Alan selalu memainkan lagu itu jika ia
sedang sendirian di rumah menggunakan gitarnya. Ibu Alan sudah meninggal 3
tahun yang lalu, mendengar lagu itu tidak membuat Alan sedih ia malah bahagia
karena merasa ibunya sedang duduk disamping Alan dan terus menerus memeluk
tubuhnya.
Hari sudah semakin larut, tapi Alan melihat
perempuan itu masih teguh berdoa di depan patung bunda maria. Perempuan itu
berdoa hampir tiga jam lamanya, dia memang benar-benar perempuan suci. “Andai
aku tau namanya..mungkin dia bisa membantuku untuk menyelesaikan masalah yang
kuhadapi” batin Alan sambil berlutut dan pergi dari gereja itu.
Alan merasa tenang setelah ia pergi ke tempat suci
itu, dan ia masih membayangkan perempuan itu. Dia cantik, suci, indah hmm..dia
sederhana. Kata-kata itu terus mengelilingi pikirannya. Melihat Alan pulang
membuat ibu tirinya mengomel dan membentaki Alan. Alan tidak membantah dia
hanya tersenyum melihat ibu tirinya yang terus memarahinya. Akibat senyuman
Alan itu membuat ibu tirinya menutup mulut dan menyuruhnya untuk cepat masuk
kamar dan tidur. Alan berhasil menemukan ayahnya yang ternyata masih menonton
televisi.
“Yah..” ucap Alan membuat ayahnya tersenyum dan
melihat pakaian rapi Alan
.
“Alan, kamu darimana? Kamu tampan dengan pakaian ini
nak.” puji ayah Alan terhadap Alan dan membuat Alan tersenyum.
“Duduklah. Ada apa nak?” tanya ayah kepada Alan yang
langsung duduk di sampingnya.
“Yah..aku menemukan perempuan yang mirip dengan ibu
tadi di gereja.” ucap Alan membuat ayahnya terkejut.
“Apa maksudmu lan?” tanya ayah Alan yang langsung
menutup koran yang dibacanya.
“Dia cantik, putih dan baik yah. Aku terkagum-kagum
melihat penampilannya yang sama dengan ibu. Aku rasa dia seumuran denganku yah.
Dia mengobati luka di kakiku saat ada paku yang tertancap di telapak kakiku.
Dia juga bisa bermain organ dan ia suka lagu yang sama dengan ibu. Kiss the
Rain.” ucap Alan membuat ayahnya terharu dan langsung memeluk Alan.
“Dekati dia nak. Ayah yakin dia yang terbaik
buatmu.” ucap ayah Alan membuat Alan bingung.
“Apa maksud ayah? Terbaik buatku? Apa?” tanya Alan
yang benar-benar sangat bingung.
Ayah Alan malah beranjak sambil mengacak-ngacak
rambut Alan dan membuat Alan benar-benar bingung.
Pagi sudah tiba, dan seperti biasanya teman-teman
Alan selalu mengunjungi rumahnya dan menyuruh Alan untuk memainkan musik menggunakan
gitarnya.
Walaupun Alan masih ingin tidur, ia tetap memaksa kakinya untuk
berjalan keluar rumah dan mendatangi teman-temannya yang sudah menunggunya di
tempat biasa.
Alan pun dengan mengantuk langsung memainkan lagu
menggunakan gitarnya dan membuat semua teman-temannya duduk mendekatinya dan
melihat jari-jari Alan yang bergerak cepat sekali.
“Wah keren ya..” puji Rama yang terpesona dengan
permainan Alan. Perlahan-lahan mata Alan tertutup dan ia tertidur walau begitu
tangannya masih bermain. Tanpa Alan sadari permainannya itu membuat semua
temannya bersorak. Alan pun terkejut dan membuka matanya. Melihat
teman-temannya yang sekarang sedang menari membuat Alan tertawa dan tidak
mengantuk lagi.
“Berisik tau!” teriak Valdi dari jendela kamarnya.
Langsung ia melaporkan kelakuan Alan dan teman-temannya pada ayahnya dan
membuat ayahnya alias pak RT mendatangi mereka dengan wajah ganasnya.
“Apa kalian tidak diajari ibu kalian untuk tidak
keluar rumah saat subuh hah?! Apa kalian tidak berfikir kalau permainan buruk
itu akan merusak pendengaran semua orang disini? Apalagi suara anak kampong
yang sedang teriak-teriak, apa kalian tidak kasihan dengan telinga mereka?”
ucap pak RT langsung membanting keras gitar Alan dan menampar pipi teman-teman
Alan.
Segera langsung pak RT pergi dari hadapannya.
Setelah kepergiaan pak RT teman-teman Alan melihat
Alan kaget, dia melihat Alan terus menerus bernafas namun terdengar seperti
orang sesak nafas. Segera mereka perlahan-lahan mendekati Alan.
“Lan kamu gak papa?” tanya Mario mewakili
teman-temannya.
“Aku-gak-papa..” ucap Alan dengan suara pelannya,
Alan merasa ia benar-benar sulit bernafas.
“Aku-pulang-sebentar-ya..” ucap Alan sambil berjalan
pergi. Ia terus menerus memegang dadanya dan jalan Alan menjadi terpatah-patah
membuat teman-temannya refleks langsung mendekatinya dan membantunya berjalan.
Alan langsung ambruk saat melihat teman-temannya
sedang berlari kearahnya, Rama, Vino, Mario dan teman-teman yang lain menjadi
panik dan mempercepat lari mereka. Setelah berhasil dekat dengan Alan, mereka
pun langsung menggotong Alan ke rumah sakit. Rama, Vino dan Mario pergi ke
rumah Alan untuk memberi tahu keadaan Alan pada ibu tiri Alan yang tidak
digubris sama sekali.
“Ke rumah sakit? Nih..bawa uangnya. Dasar anak
merepotkan udah sana hush!” bentak ibu tiri Alan yang langsung melempar
segenggam uang dalam kantong kearah Vino.
“Ayo..uang ini bukan buat kita, tapi buat Alan oke?”
ucap Rama saat melihat Vino yang sedang menahan amarahnya terhadap perlakuan
ibu tiri Alan yang sangat menyebalkan itu. Mereka pun langsung berlari menuju
rumah sakit tempat Alan disembuhkan.
Semua teman-teman Alan menunggu di luar ruangan dan
gelisah dengan keadaan Alan.
Hari sudah semakin siang, sudah 5 jam teman-teman
Alan menunggu ruangan itu dibuka oleh seorang dokter yang sedang menyembuhkan
Alan. Banyak diantara mereka tertidur akibat lamanya dokter itu keluar dari
kamar Alan.
“Namamu Alan? Ada telfon dari ayahmu..” ucap dokter
itu sambil menyodorkan ponsel Alan yang tergeletak di meja sebelahnya.
Alan pun langsung mengangkat telfon itu dengan
nafasnya yang sudah normal.
“Nak kamu kenapa? Kenapa bisa masuk rumah sakit?!”
“Siapa yang bilang yah?”
“Rama, Vino dan Mario nak. Ibu tirimu juga tidak mau kesana, maaf
ya nak ayah gak bisa jenguk kamu saat ini. Tapi satu jam lagi ayah bisa kesana
bagaimana?”
“Sudahlah yah Alan gak papa. Ada temen-temen Alan
yang mau nungguin Alan sampai sadar, ayah gak usah khawatir. Selamat bekerja ya
yah. Udahan dulu yah, aku mau dikasih obat sebentar.” Alan langsung mematikan
handphonenya dan membiarkan dokter itu menyuntikkan obat di lengan kirinya.
“Alan..ini pemberian dari dokter , setiap kamu sesak
nafas semprotkan obat ini oke? Itu akan membuat nafasmu perlahan-lahan sembuh.
Kamu boleh pulang, dokter lihat teman-temanmu ketiduran di luar.
Mungkin
gara-gara kamu tidak sadar-sadar selama lima jam lamanya. Bayar langsung di
kasir ya Alan.” ucap Dokter yang langsung disambut dengan senyum Alan. Alan
langsung beranjak dan keluar dari kamarnya.
“Alan?!” teriak Glenn membuat semua temannya
terbangun.
“Sampeyan gak papa lan?” tanya Rama sambil memegang
kedua lengan Alan. Alan hanya tersenyum karena ia masih merasakan tubuhnya yang
lemas.
“Ini uang dari ibu tiri lu katanya buat bayar biaya
rumah sakit lu!” ucap Vino sambil menunjukkan wajah jengkelnya sambil melipat
tangan kesal.
“Kamu kenapa vin?” tanya Alan membuat Vino berjalan
pergi mendahulu teman-temannya.
“Mm..kita cerita nanti aja ya lan, kondisimu juga
gak memungkinkan” ucap James yang selama ini diam diantara teman-temannya.
Alan pun mengangguk dan langsung memberikan uang itu
ke kasir. Alan masih melihat Vino yang terlihat sangat sebal, sampai-sampai
orang yang melihatnya menjadi takut karenanya.
Tak terasa sudah sampai di kampung tercinta, Alan
melihat serpihan gitar itu masih ada di tempat ia melihat pak RT membanting
keras gitarnya itu.
“Aku pulang!” teriak Vino membuat mereka terkejut
dan berusaha menahan Vino, ternyata Alan berhasil menahan tangan kanannya dan
berusaha menggenggamnya sekeras-kerasnya.
“Udahlah lan! Lu gak usah ngehibur gue! Gue gak mau
lu tambah sakit kalau gue cerita perlakuan ibu tiri lu ke gue, Rama dan Mario!”
ucap Vino membuat Alan terkejut.
“Apaan sih vin? Dia bercanda lan, gak kok ibu tiri
sampeyan baik sama kita.” ucap Rama yang langsung mendapat tonjokan keras dari
Vino. Semua teman terkejut melihat perlakuan Vino yang sangat kasar hari ini.
“Kata lu baik ram? Gue gak peduli ya sepolos apapun
lu, lu pantes dapet tonjokkan keras itu! Bahkan lu lebih pantes dipanggil
gila!” bentak Vino membuat Rama menangis sekencang-kencangnya.
Tidak ada temannya yang berani berbicara setelah
melihat perlakuan Vino.
“Vin, bilang apa yang dilakuin sama ibu tiriku.”
ucap Alan membuat Vino tambah naik darah.
“Asal lu dan kalian semua tau, Mario, gue dan Rama
udah baik-baik ke rumah Alan buat beritau keadaannya ke ibu tirinya. Omongan
kita malah dianggap gurauan sama ibu tiri lu dan dia menanggapi semua itu
dengan ngelempar, ngelempar! Uang yang gue kasih ke lu tadi buat bayar biaya
rumah sakit. Emang gue pengemis apa! Emang hidup gue melarat, gak kayak hidup
kalian! Tapi bisa kan ngehargain perasaan orang juga, apa sesombong itu orang
kaya?! Hah! Mana tadi pak RT ngejekin kita anak kampung! Emang bener kita anak
kampung, tapi gak kampungan juga! Brengsek!” ucap Vino meluap-luap membuat
semua teman-temannya termasuk Alan terdiam.
Vino langsung berlari pergi dan tidak kembali lagi
setelah itu. Alan hanya bisa meremas tangannya dan menunduk.
“Lan..maaf ya kita ngerepotin kamu selama ini.
Status sosialmu sama Valdi sebenarnya kan sama, tapi gara-gara kita kamu
dianggap kere sama kayak kita.” ucap James menatap sedih Alan.
Alan tidak menatap wajahnya, tangannya masih
mengepal keras.
“Lan..lebih baik sampeyan gak usah temenan sama kita
lagi. Kita udah seneng kok udah pernah punya kenangan indah sama sampeyan.
Makasih banyak Alan.” ucap Rama membuat Alan mengepal tangannya lebih keras
dari sebelumnya.
Perlahan-lahan semua teman Alan menepuk pundaknya
secara bergantian dan pergi lemas dari hadapannya. Alan tak bisa berbuat
apa-apa lagi, berdiri pun tidak bisa. Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar
dan membuat hujan deras menjatuhi tubuhnya yang kecil itu. Air hujan itu
membuat badannya menggigil dan membuat jari-jarinya berkerut. Segeralah dia
mengambil serpihan gitarnya itu sebelum ia sadar bahwa ada seseorang yang
sedang memayunginya.
“Saat aku gak sengaja lewat pemukiman kampung ini
aku melihat ada seorang anak laki-laki yang mengenakan kalung dan gelang
hitamnya menangis di pepohonan dekat lapangan olahraga itu. Apa dia temanmu?”
tanya perempuan yang tak asing bagi
Alan.
“Vino?! Makasih..” ucap Alan pada perempuan itu.
“Alan! Bawa payung ini..jangan buat repot
teman-temanmu kalau sampai kamu masuk rumah sakit lagi.” ucap perempuan itu
membuat Alan terkejut.
“Siapa namamu?” tanya Alan sembari menerima payung
pemberian perempuan itu.
“Panggil saja Ailsa. Sudah ya, cepat datengi temenmu
itu.” ucap Ailsa langsung berlari pergi dari hadapan Alan.
Alan pun langsung berlari menuju tempat yang Ailsa
maksud, dan benar Vino yang sedang disana. Dia sedang sendirian dan benar dia
memang sedang menangis.
“Bokap gue udah meninggal, nyokap gue udah
meninggal. Gue tinggal sama nenek gue yang bentar lagi bakal meninggal, terus
gue di dunia ini sama siapa?! Gue cuma punya temen-temen, mereka juga sebentar
lagi ninggalin gue karena sikap kurang ajar gue yang sampek nonjok wajah Rama.
Gue payah! Gue punya Alan yang slalu bantu kekurangan gue, selalu beliin gue
makanan dan selalu bantuin nenek gue kerja di pasar. Kenapa gue malah kasar
sama dia?! Arghh!!! Gue bodoh, bener-bener bodoh!” teriak Vino membuat Alan
menepuk pundak Vino dan melepas jaket di tubuhnya. Langsung ia paksa Vino untuk
mengenakan jaket Alan dan membuat Vino langsung menghapus air matanya.
“Kenapa gak pernah bilang? Kamu selalu bilang kalau
hidupmu indah, kalau memang kejadiannya kayak gitu aku bakalan seneng bisa
ngangkat kamu jadi saudaraku vin. Aku pengen dari dulu punya saudara laki-laki
di rumah. Dan aku emang udah anggep nenekmu kayak nenekku sendiri vin, dia juga
sayang sama aku kayak dia sayang sama kamu. Beruntunglah masih punya nenek
sekuat nenekmu vin. Tuhan gak bakal biarin kamu sengsara di dunia ini, karena
Tuhan sayang sama kamu dan semua orang di dunia ini.” ucap Alan membuat Vino
menoleh kebingungan.
“Tuhan? Siapa Tuhan?” tanyanya bingung kearah Alan
dan membuat Alan menarik tangan Vino dan mengajaknya masuk gereja.
“Apaan nih lan! Gue gak pake baju bagus! Jangan asal
tarik gue lan!” bantah Vino sambil menahan tarikan Alan yang langsung
direnggangkan oleh Alan.
“Vin, gak perlu baju bagus buat ke rumah suci ini.
Yang harus kamu lakukan sebelum masuk rumah suci ini, kamu harus menghilangkan
apapun yang membuatmu marah ataupun sedih. Pikirkan untuk apa tujuanmu datang
kesini. Oke?” ucap Alan membuat Vino bingung.
“Tujuan gue apa lan?” tanya Vino sambil berpikir
keras.
“Kamu pengen tau siapa Tuhan kan?” ucap Alan membuat
Vino menoleh cepat kearahnya dan membuat Vino mengangguk.
Melihat Vino yang bersemangat membuat Alan mengajak
Vino masuk dan mengajari Vino cara berdoa, cara mengambil air suci, cara
berlutut, cara bertingkah lebih sopan dan cara untuk bersabar. Lagi-lagi Alan
mendengarkan lagu kiss the rain itu dari organ Ailsa. Dia senang sudah bisa
mengetahui nama perempuan baik itu.
“Vin..itu Ailsa. Perempuan yang baik banget sama
aku, ayo kenalan.” ajak Alan membuat Vino tersenyum.
“Ailsa..kenalin ini Vino orang yang kamu lihat lagi
nangis tadi di pohon-pohon deket lapangan olahraga itu.” ucap Alan membuat Vino
menolehnya kaget dan bingung.
“Oh namanya Vino, keren ya namanya. Mm Vino mau kamu
ambil pakaian ini? Aku menemukannya di kamarku dan berpikir buat apa aku
menyimpannya. Cobalah..kamu bisa berganti di ruangan itu.” ucap Ailsa sambil
memberikan pakaian itu ke Vino. Vino pun langsung mencoba pakaian itu dan masuk
ke ruangan itu.
“Ailsa, kamu tau kalau aku dirumah sakit tadi?”
tanya Alan heran kepada Ailsa.
“Kebetulan aja. Dokter yang memeriksamu itu ayahku,
jadi aku tau kalau kamu sakit asma kan?” jawab Ailsa membuat Alan tertawa.
“Pantas saja. Ayahmu sabar ya sepertimu.” puji Alan
membuat Ailsa tersenyum.
“Gak juga. Alan kamu bisa dateng besok minggu, aku
butuh pemain gitar buat acara sekolah minggu gembira. Bisa?” tanya Ailsa
berharap pada Alan.
“Aku pengen sa. Tapi kamu lihat kan tadi gitarku
hancur, jadi aku gak bisa mainlah sa.” balas Alan memelas.
“Masalah gitarnya gak masalah lan. Asal aja kamu
mau, jalan deh.” ucap Ailsa membuat Alan tersenyum.
“Oke sa! Ketemuan disini jam 8 pagi ya? Sip!” jawab
Alan bersemangat.
“Gue suka pakaian pemberian lu Ailsa!” teriak Vino
membuat Ailsa dan Alan melihat kearahnya.
“Wow..Vin, kamu ganteng sekali!!” ucap Ailsa
terpesona dan membuat wajah Vino memerah.
Alan hanya tertawa melihat perubahan wajah Vino yang
baru pertama kali ini dia lihat.
Alan dan Vino pun berpamitan pada Ailsa dan berjalan
pulang bersama. Perasaan Vino sudah lega setelah berdoa di gereja itu, membuat
Alan juga bahagia melihat sahabatnya sudah tidak emosi.
“Vin..ajakin temen-temen ngumpul di lapangan ya. Aku
mau ngajakin mereka main permainan baru oke? Aku tunggu..” ucap Alan sambil
berlari menjauhi Vino.
“Sip lan!” teriak Vino yang juga sedang berlari
pulang ke rumahnya.
Sampainya di rumah Alan langsung dipeluk oleh ibu
tirinya saat melihat ayah Alan sedang memelototinya.
“Maafin ibu ya lan. Ibu tadi sakit kepala, maka dari
itu ibu gak bisa jenguk kamu.” ucap ibu tiri Alan membuat Alan naik darah.
“Yah! Alan mulai besok bakal tinggal di rumah nenek
dan kakek di Jogja.” ucap Alan membuat ayah dan ibu tirinya terkejut.
“Kamu gila nak! Ayah gak punya uang buat
perjalananmu kesana!” teriak ayah Alan terkejut.
“Alan udah nabung diam-diam dan udah kekumpul 10
juta. Dan Alan juga sudah bilang nenek dan kakek disana. Alan juga pengen
ngelanjutin kelas enam disana, dan bakal balik kalau Alan sudah kelas 1 SMA.
Alan mau siap-siap dulu.” ucap Alan membuat ibu tirinya senang dan membuat
ayahnya terbengong melihat Alan.
Tak terasa sudah jam 6 pagi. Alan juga sudah berada
di lapangan sesuai janjinya, dia terus memotret lapangan itu dengan kameranya
berulang kali.
“Alan!” teriak Vino sambil membawa semua
teman-temannya kesini. Alan tersenyum melihat mereka berlarian seperti itu.
Alan pun memotret mereka berulang kali dan membuat mereka bingung.
“Ini apa lan?” tanya James penasaran.
“Ini camera. Ayo foto bareng, ayo kumpul-kumpul!”
ajak Alan sambil mengaktifkan timer dan berlari kearah teman-temannya dan
berfoto konyol bersama teman-temannya.
“Simpan ya fotonya siapa tau ada salah satu dari
kita yang bakalan pergi lama.” ucap Alan sambil membagikan hasil foto dari
kameranya itu.
“Emang siapa yang mau pergi lama lan?” tanya Mario
membuat semua temannya memandang bingung Alan.
“Emm..maaf kalau ndadak, aku jam 7 nanti bakalan ke
Jogja dan pulang 5 tahun kemudian. Aku mau ngelanjutin pendidikan tinggi di
sekolah terkenal di Jogja supaya bisa ngajarin lebih banyak pengetahuan buat
kalian. Aku juga udah ngumpulin uang yang aku tabung dari kelas 1, aku akhirnya
bisa beliin kalian semua tab yang bisa kalian pake buat belajar tanpa aku. Aku
juga sudah beliin kalian modem yang gak bakalan pernah habis pulsanya, aku
berharap dengan media yang aku siapkan membuat kalian semua pinter kedepannya
dan bisa sekolah sampai kuliah.” ucap Alan membuat teman-temannya menangis dan
memeluknya erat-erat.
“Kenapa pergi secepat itu lan, siapa yang mau
ngajarin kita futsal lagi?” tanya Glenn sambil menangis.
“Vino.” ucap Alan membuat Vino terkejut.
“Aku?!” ucapnya terheran. Semua teman-temannya
melihat heran Vino dan perlahan-lahan tersenyum kearahnya.
“Alan! Ayo berangkat” teriak nenek Alan dari jauh.
“Lan..aku bakalan ajak temen-temen ke rumah suci
itu.” ucap Vino sambil mendekati Alan.
“Aku bakalan bangga jadiin kamu sebagai sahabatku
vin. Udah ya! Daa..jangan pernah lupain aku oke?! Jangan pernah menganggap
kalian lemah, karena kalian..mm..” ucap Alan kehilangan kata-kata.
“Pernah punya sahabat sehebat dan sebaik Alan!”
teriak mereka serempak membuat Alan tertawa dan tersenyum.
Alan sudah pergi dari hadapan mereka dan membuat
mereka lebih bersemangat dari sebelumnya.
5 tahun kemudian
Alan tidak sabar bisa bertemu dengan teman-temannya,
sudah 5 tahun ia berkelana dan berhasil menempuh pendidikan tinggi. Dia lupa
sebelum dia ke Jogja ia belum bertemu dengan Ailsa.
Perjalanan selama di kereta terasa sangat lama, Alan
hanya bisa menatap foto masa kecilnya saat dia berpisah dengan teman-temannya.
Vino sudah bisa bersekolah dan mengikuti kelas
akselerasi dan membuatnya lebih cepat menyelesaikan studinya sehingga bisa sama
seperti Alan. Tidak hanya Vino ternyata Mario, Rama, Glenn, James, Romi, Toni,
Bima dan Juna juga bisa melakukannya walaupun mereka kalah cepat dengan Vino.
Pendidikan mereka berdelapan masih menduduki kelas 9 SMP. Berbeda dengan Valdi
ia masih menduduki kelas tujuh SMP karena kemalasannya yang membuat kedua orang
tuanya stress dan mengangkat ayah Alan menjadi ketua RT baru.
“Alan! Kamu tambah tampan saja! Ayah kangen dengan
kamu.” ucap ayah saat melihat Alan sudah masuk rumah.
“Om, mau dibuatkan berapa teh?” tanya seorang
perempuan yang sedang ada di dapur rumah mereka.
“Yah siapa?” tanya Alan membuat ayahnya tersenyum.
“Perempuan yang mirip ibumu.” ucap ayahnya membuat
Alan bingung.
“Alan? Kamu kenapa disini?” tanya Ailsa yang
terlihat terkejut.
“Ailsa? Kamu yang ngapain disini? Ini rumahku!” ucap
Alan membuat Ailsa panik.
“Gak usah takut Ailsa. Alan dia yang selama ini
merawat ayah, ayah sudah menceraikan ibu tirimu. Karena kamu bilang Ailsa mirip
dengan ibumu, maka dari itu ayah menyuruhnya untuk tinggal di rumah selama kamu
tidak ada disini.” ucap ayah Alan membuat Alan bingung.
“Dia gak punya rumah?” ucap Alan dengan nada
tingginya.
“Aku bakal pergi saat kamu sudah pulang lan. Maaf ya
aku membuat suasana hatimu gak enak. Om, saya pergi dulu ya.” ucap Ailsa
langsung mengemasi barangnya.
Alan hanya terdiam. Entah kenapa Alan menjadi sangat
kejam terhadap perempuan yang selalu bersikap baik padanya. “Kenapa dia mencari
perhatian ayahku? Dasar perempuan gila!” batin Alan tanpa mempedulikan
kepergiannya.
“Alan! Kenapa kamu kasar sama Ailsa?! Dia sudah
bantu ayah selama kamu gak ada dirumah! Dia baik sama ayah! Kenapa kamu malah
marah lihat dia disini nak!” teriak ayah Alan membuat Alan naik darah.
“Yah! Ibu gak bisa digantiin sama siapapun! Termasuk
perempuan kayak dia! Emang perempuan itu punya hak apa buat tinggal disini? Dia
bukan siapa-siapa bagi ayah! Kenapa ayah berubah!” ucap Alan langsung
mengangkat tas besarnya dan masuk ke kamarnya.
“Aku tak menyangka Alan bakal semarah itu melihat
aku ada dirumahnya. Lagipula aku gak tau kalau om Revan punya anak dan anaknya
adalah Alan. Aku gak pernah berniat ngerebut kasih sayang dari om Revan ke
Alan. Aku merasa bersalah sekarang.” ucap Ailsa sambil menghusap air matanya.
“Lho sa udah balik nih? Alan berarti udah dateng?”
ucap Vino yang terlihat senang saat melihat Ailsa sudah membawa kopernya.
“Iya..” jawab Ailsa lemas sambil terisak.
“Ailsa? Kamu kenapa?” tanya Vino sambil berusaha
melihat wajah Ailsa.
“Gak papa vin. Udah kesana aja, Alan ada dirumah
kok. Duluan ya..” ucap Ailsa sambil tersenyum kearah Vino. Vino masih menatap
bingung Ailsa yang masih terlihat menangis dalam perjalanannya.
“Tuhan sepertinya Alan gak menyukai keberadaanku saat ini. Mungkin aku
sudah harus pulang kerumahMu lagi Tuhan. Aku sakit hati melihat Alan
membentakku seperti tadi. Bawa aku kembali Tuhan” pinta Ailsa sambil membiarkan
tubuhnya seakan ringan dan bersiap untuk menghilang.
“Ailsa!” teriak Alan yang melihat Ailsa penuh dengan
cahaya.
“Hah!” ucap Ailsa kaget dan membuat cahayanya
menghilang.
“Kamu siapa sebenernya? Kenapa tadi banyak cahaya di
sekitarmu?! Siapa kamu sa!” teriak Alan sambil mendekati Ailsa.
“Aku bukan manusia lan. Aku dikirm Tuhan buat bantu
kamu agar bisa buat temen-temenmu bisa semangat dari hidup melarat mereka. Aku
juga dikirim buat memastikan semua teman-temanmu gak bakalin ngelupain kamu dan
buat mereka sadar kalau ada Tuhan yang senantiasa hadir dan membantu mereka
dalam masalah. Dan aku rasa aku udah gak berarti lagi di dunia ini.” ucap Ailsa
sambil menundukkan kepalanya.
Alan langsung duduk dan menghembuskan nafasnya pelan.
“Jadi kamu roh? Perempuan yang selama ini aku kagumi adalah roh? Gila!” ucap
Alan sambil meremas kepalanya.
“Terus apa maksudmu nemenin ayahku? Mau ngerebut
kasih sayangnya dari aku hah?! Atau mau ambil harta kekayaannya!” bentak Alan
membuat tangan Ailsa bergetar.
Ailsa tidak bisa menjawabnya dia hanya bisa menangis
karena merasa hatinya terasa sangat sakit, Alan ternyata tidak menghargai jerih
payahnya yang selama ini mau mengurusi ayah dan teman-temannya.
Alan mendegus pelan. “Jawab sa!” teriak Alan lebih
keras dari sebelumnya.
“Selama kamu di Jogja ayahmu sulit jalan lan dan
ibumu malah minta cerai ke ayahmu dan meninggalkan ayahmu di rumah dengan
keadaan yang seperti itu. Aku juga gak tau kalau om Revan ayahmu lan, aku
bener-bener gak tahu. Aku mengira om Revan bener-bener sebatang kara. Maka dari
itu aku nemenin dia selama mungkin.” ucap Ailsa membuat Alan naik darah.
“Apa semelas itu kah wajah ayahku sa! Sebatang kara!
Kamu menganggap ayahku gak punya apa-apa! Emang ibuku udah meninggal delapan
tahun yang lalu tapi jangan harap kamu bakal nggantiin posisi ibuku sa! Dia
lebih baik dan bahkan lebih suci dari kamu! Dasar perempuan licik!” bentak Alan
dengan nada tinggi.
“Tuhan…bawa aku bersamamu lagi. Aku sudah senang
bisa membuatnya bahagia. Aku harap dengan kejadian semua ini dia bisa
benar-benar membenciku dan akhirnya bisa melupakanku.” ucap Ailsa membuat
cahaya ditubuhnya muncul lagi dan bahkan bersinar dari sebelumnya.
Alan terkejut melihat perubahan Ailsa. “Lan makasih
sudah berikan kesempatan buat aku untuk menolongmu makasih lan.” ucap Ailsa
membuat tubuhnya semakin bersinar dan membuat Alan menutup matanya menggunakan
lengan tangannya.
“Apa dia malaikat penolongku?” batin Alan. Perbuatan
Ailsa sudah membuat Alan sesukses ini, membuat teman-temannya bersemangat untuk
melanjutkan sekolah sampai setinggi-tingginya dan membuat ayah Alan tidak
menderita penyakit itu lagi. Sesungguhnya Alan menyukai gadis itu yang sekarang
sudah hilang dihadapannya.
Terkadang
kita tidak pernah menyadari ada orang yang diam-diam membantu kita walaupun
selama itu dia ada dihadapan kita dan kita mengenalnya. Memang butuh waktu lama
untuk menyadari kebaikan orang itu.
Jika
kita terus berusaha dalam menjalani hidup dengan kondisi seburuk apapun,
yakinlah Tuhan akan senantiasa menolong kita dan memperbaiki kehidupan kita dan
menjadikannya lebih indah dari sebelumnya
Percayalah..bahwa
Tuhan melihat dan selalu ada disampingmu.