photo by : Flickr   Seperti biasa Alan dan teman-temannya selalu bermain futsal di lapangan dekat dengan rumah pak RT. Seperti bias...

Kehadiran yang Tidak Terduga

/
0 Comments



photo by : Flickr 

Seperti biasa Alan dan teman-temannya selalu bermain futsal di lapangan dekat dengan rumah pak RT. Seperti biasa pula anak pak RT yang bernama Valdi juga bermain dan selalu mengajukan diri sebagai kapten tim. Sebenarnya banyak anak menyetujui jika Alan-lah yang pantas menjadi kapten tim. Sebaliknya malah Alan tidak suka jika ditunjuk menjadi kapten tim, dia lebih suka memposisikan dirinya sebagai penyerang atau kiper.

“Hey di! Gantian dong! Emang cuma sampeyan yang bisa jadi ketua di permainan ini? Tuh Alan yang lebih hebat dari sampeyan saja gak berani buka mulut!” ucap Rama dengan logat jawa tengahnya.

Melihat kedua temannya berkelahi membuat Alan memutuskan untuk menyingkir dari lapangan dan duduk di tepi lapangan sambil terus melihat kedua temannya itu.

“Eh lan, kamu harus mau jadi ketua tim ya kali ini!” ancam Mario sahabat Alan.

“Nggak lah mar, aku gak bisa jadi ketua futsal ini! Aku benci tugas memimpin tau!” bentak Alan membuat Valdi, Mario dan Rama menoleh kearahnya.

“Tuh denger! Alannya aja gak mau dia jadi pemimpin, ya udah berarti cuma aku yang pantes jadi pemimpin hari ini.” ucap Valdi dengan angkuhnya.

“Huh! Rek ayo!” teriak Mario membuat semua teman-temannya menyeret Alan paksa.

“Woy!! Sakit! Woy!!” teriak Alan berusaha melepas genggaman teman-temannya.

Langsung saja Rama memasukkan kain ke dalam mulut Alan dan membuat Alan tidak bisa berteriak lagi.

“Lho! Gak jadi main nih! Woy! Denger gak sih!” teriak Valdi saat melihat semua temannya pergi. Dia pun memutuskan untuk pergi dari lapangan itu dan mencari teman bermain yang lain.

Saat sudah menemukan tempat yang cocok, Rama pun menyuruh teman-temannya itu untuk melepaskan Alan dan membuatnya terjatuh.

Pelan-pelan Mario mengambil kain itu dari mulut Alan, karena dia sudah melihat wajah Alan yang sedang marah. Setelah berhasil mengambil kain itu, ia langsung berlari dan bersembunyi diantara teman-temannya.
Dugaan Mario salah, ia mengira Alan bakal teriak-teriak menghina mereka tetapi Alan hanya mengatur nafas dan melihat teman-temannya.

Tidak ada yang berbicara..

“Lan!” ucap Rama mendekati Alan. Alan tidak menoleh. “Asal sampeyan tau lan, sikap sampeyan tadi egois! Sampeyan gak tau kalau Valdi mimpin futsal kita lagi, kita gak bakalan bisa berkembang lan! Sedangkan waktu Valdi sakit dan gak mimpin futsal, sampeyan mau jadi pemimpin dan mau ngajarin kita main bola sampe sehebat ini. Alan, kita semua seneng sampeyan jadi pemimpin permainan itu. Kita semua emang gak bisa sekolah tinggi kayak sampeyan dan Valdi, tapi dengan sampeyan mau mimpin permainan futsal itu buat kita ngerasa sepadan sama kepintaran sampeyan walau hanya pinter main bola lan.” ucap Rama membuat Alan menoleh. Semua teman yang Alan lihat sedang menatap sedih dirinya, Mario pun sampai meneteskan air mata.

“Lan, gue pengen bisa sekolah kayak lu. Tapi gue gak punya uang kayak lu. Dengan lu mau ngajarin kita main bola sehebat lu, kita udah seneng kok lan. Cita-cita kita yang pengen bisa sekolah kerasa udah terpenuhi setelah lu ngelakuin itu lan. Kalau Valdi yang mimpin kita, kita berasa kayak orang kere, dan bodoh lan. Kita emang gak ada apa-apanya daripada lu dan Valdi.” ucap Vino yang membuat teman-temannya menangis.

Alan pun bangkit dari duduknya dan melihat sedih teman-temannya yang sedang menangis. Emang berat rasanya gak bisa sekolah, batin Alan dari dalam hatinya.
“Mmm..maafin aku udah gak perhatian sama kalian. Mulai sekarang aku bakal mau jadi pemimpin kalian di permainan futsal.”

Semua teman-teman Alan langsung berlari dan memeluk erat Alan. Ternyata akibat pelukan erat mereka itu membuat pakaian dan rambut Alan berantakan. Semua jadi tertawa dan Alan pun juga menjadi bahagia.

Hari ini memang sudah malam, tapi entahlah Alan tergerak hatinya untuk pergi ke gereja dan memutuskan untuk menenangkan hatinya disana. Tak disangka saat di gereja ia mendengar alunan organ yang indah, ia pun langsung mengambil air suci dan perlahan-lahan mengintip pemain organ itu. Perempuan berambut panjang dengan menggunakan pakaian seadanya. Ia menggunakan sweater berwarna putih, cocok dengan warna kulitnya. Alan tidak bisa mengalihkan pandangannya pada perempuan itu sampai-sampai ia menabrak kursi di depannya. Dan membuat pemain organ itu menghentikan permainannya dan berjalan mendekati Alan yang terlihat kesakitan karena kakinya yang kemasukan paku dari kursi kayu itu.

“Astaga..sebentar ya.” ucap perempuan itu membuat Alan menginggit bibirnya karena ternyata paku itu perlahan-lahan masuk ke kulitnya. Segera dengan cepat perempuan itu menarik paku itu dengan peralatan P3K yang dia bawa, tanpa terasa paku itu sudah keluar dan membuat Alan lega walau nafasnya ngos-ngosan.

“Sudah baikan? Kenapa kamu menabrak kursi kayu itu? Kursi itu berbahaya. Apa kamu mau berdoa? Silahkan saja..ada banyak kursi yang bisa kamu pilih.” ucap perempuan itu dengan nada lembut kepadanya.

“Apa kamu suster?” tanya Alan membuat perempuan itu tersenyum. “Bukan, aku orang biasa sepertimu. Hanya saja aku sering kesini setiap malam, aku selalu tidak bisa tidur jika aku tidak kesini.” ucap perempuan itu sambil meletakkan peralatan obat P3Knya ditempat yang telah disediakan.

Mendengar perkataan perempuan itu membuat Alan merasa ingin sekali berdoa dan menyerahkan segala sesuatunya untuk Tuhan. Melihat Alan berdoa membuat perempuan itu tersenyum senang dan memainkan organ itu lagi.

Alan langsung membuka mata dan melirik perempuan itu. Lagu yang ia mainkan tidak asing ia dengar, memang itu lagu kesukaan ibunya yang berjudul “Kiss the Rain” Alan selalu memainkan lagu itu jika ia sedang sendirian di rumah menggunakan gitarnya. Ibu Alan sudah meninggal 3 tahun yang lalu, mendengar lagu itu tidak membuat Alan sedih ia malah bahagia karena merasa ibunya sedang duduk disamping Alan dan terus menerus memeluk tubuhnya.

Hari sudah semakin larut, tapi Alan melihat perempuan itu masih teguh berdoa di depan patung bunda maria. Perempuan itu berdoa hampir tiga jam lamanya, dia memang benar-benar perempuan suci. “Andai aku tau namanya..mungkin dia bisa membantuku untuk menyelesaikan masalah yang kuhadapi” batin Alan sambil berlutut dan pergi dari gereja itu.

Alan merasa tenang setelah ia pergi ke tempat suci itu, dan ia masih membayangkan perempuan itu. Dia cantik, suci, indah hmm..dia sederhana. Kata-kata itu terus mengelilingi pikirannya. Melihat Alan pulang membuat ibu tirinya mengomel dan membentaki Alan. Alan tidak membantah dia hanya tersenyum melihat ibu tirinya yang terus memarahinya. Akibat senyuman Alan itu membuat ibu tirinya menutup mulut dan menyuruhnya untuk cepat masuk kamar dan tidur. Alan berhasil menemukan ayahnya yang ternyata masih menonton televisi.

“Yah..” ucap Alan membuat ayahnya tersenyum dan melihat pakaian rapi Alan
.
“Alan, kamu darimana? Kamu tampan dengan pakaian ini nak.” puji ayah Alan terhadap Alan dan membuat Alan tersenyum.

“Duduklah. Ada apa nak?” tanya ayah kepada Alan yang langsung duduk di sampingnya.

“Yah..aku menemukan perempuan yang mirip dengan ibu tadi di gereja.” ucap Alan membuat ayahnya terkejut.

“Apa maksudmu lan?” tanya ayah Alan yang langsung menutup koran yang dibacanya.

“Dia cantik, putih dan baik yah. Aku terkagum-kagum melihat penampilannya yang sama dengan ibu. Aku rasa dia seumuran denganku yah. Dia mengobati luka di kakiku saat ada paku yang tertancap di telapak kakiku. Dia juga bisa bermain organ dan ia suka lagu yang sama dengan ibu. Kiss the Rain.” ucap Alan membuat ayahnya terharu dan langsung memeluk Alan.

“Dekati dia nak. Ayah yakin dia yang terbaik buatmu.” ucap ayah Alan membuat Alan bingung.
“Apa maksud ayah? Terbaik buatku? Apa?” tanya Alan yang benar-benar sangat bingung.
Ayah Alan malah beranjak sambil mengacak-ngacak rambut Alan dan membuat Alan benar-benar bingung.
Pagi sudah tiba, dan seperti biasanya teman-teman Alan selalu mengunjungi rumahnya dan menyuruh Alan untuk memainkan musik menggunakan gitarnya. 

Walaupun Alan masih ingin tidur, ia tetap memaksa kakinya untuk berjalan keluar rumah dan mendatangi teman-temannya yang sudah menunggunya di tempat biasa.
Alan pun dengan mengantuk langsung memainkan lagu menggunakan gitarnya dan membuat semua teman-temannya duduk mendekatinya dan melihat jari-jari Alan yang bergerak cepat sekali.

“Wah keren ya..” puji Rama yang terpesona dengan permainan Alan. Perlahan-lahan mata Alan tertutup dan ia tertidur walau begitu tangannya masih bermain. Tanpa Alan sadari permainannya itu membuat semua temannya bersorak. Alan pun terkejut dan membuka matanya. Melihat teman-temannya yang sekarang sedang menari membuat Alan tertawa dan tidak mengantuk lagi.

“Berisik tau!” teriak Valdi dari jendela kamarnya. Langsung ia melaporkan kelakuan Alan dan teman-temannya pada ayahnya dan membuat ayahnya alias pak RT mendatangi mereka dengan wajah ganasnya.
“Apa kalian tidak diajari ibu kalian untuk tidak keluar rumah saat subuh hah?! Apa kalian tidak berfikir kalau permainan buruk itu akan merusak pendengaran semua orang disini? Apalagi suara anak kampong yang sedang teriak-teriak, apa kalian tidak kasihan dengan telinga mereka?” ucap pak RT langsung membanting keras gitar Alan dan menampar pipi teman-teman Alan. 

Segera langsung pak RT pergi dari hadapannya.
Setelah kepergiaan pak RT teman-teman Alan melihat Alan kaget, dia melihat Alan terus menerus bernafas namun terdengar seperti orang sesak nafas. Segera mereka perlahan-lahan mendekati Alan.
“Lan kamu gak papa?” tanya Mario mewakili teman-temannya.

“Aku-gak-papa..” ucap Alan dengan suara pelannya, Alan merasa ia benar-benar sulit bernafas.
“Aku-pulang-sebentar-ya..” ucap Alan sambil berjalan pergi. Ia terus menerus memegang dadanya dan jalan Alan menjadi terpatah-patah membuat teman-temannya refleks langsung mendekatinya dan membantunya berjalan.

Alan langsung ambruk saat melihat teman-temannya sedang berlari kearahnya, Rama, Vino, Mario dan teman-teman yang lain menjadi panik dan mempercepat lari mereka. Setelah berhasil dekat dengan Alan, mereka pun langsung menggotong Alan ke rumah sakit. Rama, Vino dan Mario pergi ke rumah Alan untuk memberi tahu keadaan Alan pada ibu tiri Alan yang tidak digubris sama sekali.

“Ke rumah sakit? Nih..bawa uangnya. Dasar anak merepotkan udah sana hush!” bentak ibu tiri Alan yang langsung melempar segenggam uang dalam kantong kearah Vino.
“Ayo..uang ini bukan buat kita, tapi buat Alan oke?” ucap Rama saat melihat Vino yang sedang menahan amarahnya terhadap perlakuan ibu tiri Alan yang sangat menyebalkan itu. Mereka pun langsung berlari menuju rumah sakit tempat Alan disembuhkan.

Semua teman-teman Alan menunggu di luar ruangan dan gelisah dengan keadaan Alan.
Hari sudah semakin siang, sudah 5 jam teman-teman Alan menunggu ruangan itu dibuka oleh seorang dokter yang sedang menyembuhkan Alan. Banyak diantara mereka tertidur akibat lamanya dokter itu keluar dari kamar Alan.
“Namamu Alan? Ada telfon dari ayahmu..” ucap dokter itu sambil menyodorkan ponsel Alan yang tergeletak di meja sebelahnya.

Alan pun langsung mengangkat telfon itu dengan nafasnya yang sudah normal.

“Nak kamu kenapa? Kenapa bisa masuk rumah sakit?!”

“Siapa yang bilang yah?”

“Rama, Vino dan Mario  nak. Ibu tirimu juga tidak mau kesana, maaf ya nak ayah gak bisa jenguk kamu saat ini. Tapi satu jam lagi ayah bisa kesana bagaimana?”

“Sudahlah yah Alan gak papa. Ada temen-temen Alan yang mau nungguin Alan sampai sadar, ayah gak usah khawatir. Selamat bekerja ya yah. Udahan dulu yah, aku mau dikasih obat sebentar.” Alan langsung mematikan handphonenya dan membiarkan dokter itu menyuntikkan obat di lengan kirinya.

“Alan..ini pemberian dari dokter , setiap kamu sesak nafas semprotkan obat ini oke? Itu akan membuat nafasmu perlahan-lahan sembuh. Kamu boleh pulang, dokter lihat teman-temanmu ketiduran di luar. 

Mungkin gara-gara kamu tidak sadar-sadar selama lima jam lamanya. Bayar langsung di kasir ya Alan.” ucap Dokter yang langsung disambut dengan senyum Alan. Alan langsung beranjak dan keluar dari kamarnya.

“Alan?!” teriak Glenn membuat semua temannya terbangun.

“Sampeyan gak papa lan?” tanya Rama sambil memegang kedua lengan Alan. Alan hanya tersenyum karena ia masih merasakan tubuhnya yang lemas.

“Ini uang dari ibu tiri lu katanya buat bayar biaya rumah sakit lu!” ucap Vino sambil menunjukkan wajah jengkelnya sambil melipat tangan kesal.

“Kamu kenapa vin?” tanya Alan membuat Vino berjalan pergi mendahulu teman-temannya.
“Mm..kita cerita nanti aja ya lan, kondisimu juga gak memungkinkan” ucap James yang selama ini diam diantara teman-temannya.

Alan pun mengangguk dan langsung memberikan uang itu ke kasir. Alan masih melihat Vino yang terlihat sangat sebal, sampai-sampai orang yang melihatnya menjadi takut karenanya.
Tak terasa sudah sampai di kampung tercinta, Alan melihat serpihan gitar itu masih ada di tempat ia melihat pak RT membanting keras gitarnya itu.

“Aku pulang!” teriak Vino membuat mereka terkejut dan berusaha menahan Vino, ternyata Alan berhasil menahan tangan kanannya dan berusaha menggenggamnya sekeras-kerasnya.
“Udahlah lan! Lu gak usah ngehibur gue! Gue gak mau lu tambah sakit kalau gue cerita perlakuan ibu tiri lu ke gue, Rama dan Mario!” ucap Vino membuat Alan terkejut.

“Apaan sih vin? Dia bercanda lan, gak kok ibu tiri sampeyan baik sama kita.” ucap Rama yang langsung mendapat tonjokan keras dari Vino. Semua teman terkejut melihat perlakuan Vino yang sangat kasar hari ini.
“Kata lu baik ram? Gue gak peduli ya sepolos apapun lu, lu pantes dapet tonjokkan keras itu! Bahkan lu lebih pantes dipanggil gila!” bentak Vino membuat Rama menangis sekencang-kencangnya.
Tidak ada temannya yang berani berbicara setelah melihat perlakuan Vino.

“Vin, bilang apa yang dilakuin sama ibu tiriku.” ucap Alan membuat Vino tambah naik darah.
“Asal lu dan kalian semua tau, Mario, gue dan Rama udah baik-baik ke rumah Alan buat beritau keadaannya ke ibu tirinya. Omongan kita malah dianggap gurauan sama ibu tiri lu dan dia menanggapi semua itu dengan ngelempar, ngelempar! Uang yang gue kasih ke lu tadi buat bayar biaya rumah sakit. Emang gue pengemis apa! Emang hidup gue melarat, gak kayak hidup kalian! Tapi bisa kan ngehargain perasaan orang juga, apa sesombong itu orang kaya?! Hah! Mana tadi pak RT ngejekin kita anak kampung! Emang bener kita anak kampung, tapi gak kampungan juga! Brengsek!” ucap Vino meluap-luap membuat semua teman-temannya termasuk Alan terdiam.

Vino langsung berlari pergi dan tidak kembali lagi setelah itu. Alan hanya bisa meremas tangannya dan menunduk.
“Lan..maaf ya kita ngerepotin kamu selama ini. Status sosialmu sama Valdi sebenarnya kan sama, tapi gara-gara kita kamu dianggap kere sama kayak kita.” ucap James menatap sedih Alan.
Alan tidak menatap wajahnya, tangannya masih mengepal keras.

“Lan..lebih baik sampeyan gak usah temenan sama kita lagi. Kita udah seneng kok udah pernah punya kenangan indah sama sampeyan. Makasih banyak Alan.” ucap Rama membuat Alan mengepal tangannya lebih keras dari sebelumnya.

Perlahan-lahan semua teman Alan menepuk pundaknya secara bergantian dan pergi lemas dari hadapannya. Alan tak bisa berbuat apa-apa lagi, berdiri pun tidak bisa. Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar dan membuat hujan deras menjatuhi tubuhnya yang kecil itu. Air hujan itu membuat badannya menggigil dan membuat jari-jarinya berkerut. Segeralah dia mengambil serpihan gitarnya itu sebelum ia sadar bahwa ada seseorang yang sedang memayunginya.

“Saat aku gak sengaja lewat pemukiman kampung ini aku melihat ada seorang anak laki-laki yang mengenakan kalung dan gelang hitamnya menangis di pepohonan dekat lapangan olahraga itu. Apa dia temanmu?” tanya perempuan yang tak asing bagi  Alan.
“Vino?! Makasih..” ucap Alan pada perempuan itu.
“Alan! Bawa payung ini..jangan buat repot teman-temanmu kalau sampai kamu masuk rumah sakit lagi.” ucap perempuan itu membuat Alan terkejut.

“Siapa namamu?” tanya Alan sembari menerima payung pemberian perempuan itu.
“Panggil saja Ailsa. Sudah ya, cepat datengi temenmu itu.” ucap Ailsa langsung berlari pergi dari hadapan Alan.
Alan pun langsung berlari menuju tempat yang Ailsa maksud, dan benar Vino yang sedang disana. Dia sedang sendirian dan benar dia memang sedang menangis.

“Bokap gue udah meninggal, nyokap gue udah meninggal. Gue tinggal sama nenek gue yang bentar lagi bakal meninggal, terus gue di dunia ini sama siapa?! Gue cuma punya temen-temen, mereka juga sebentar lagi ninggalin gue karena sikap kurang ajar gue yang sampek nonjok wajah Rama. Gue payah! Gue punya Alan yang slalu bantu kekurangan gue, selalu beliin gue makanan dan selalu bantuin nenek gue kerja di pasar. Kenapa gue malah kasar sama dia?! Arghh!!! Gue bodoh, bener-bener bodoh!” teriak Vino membuat Alan menepuk pundak Vino dan melepas jaket di tubuhnya. Langsung ia paksa Vino untuk mengenakan jaket Alan dan membuat Vino langsung menghapus air matanya.

“Kenapa gak pernah bilang? Kamu selalu bilang kalau hidupmu indah, kalau memang kejadiannya kayak gitu aku bakalan seneng bisa ngangkat kamu jadi saudaraku vin. Aku pengen dari dulu punya saudara laki-laki di rumah. Dan aku emang udah anggep nenekmu kayak nenekku sendiri vin, dia juga sayang sama aku kayak dia sayang sama kamu. Beruntunglah masih punya nenek sekuat nenekmu vin. Tuhan gak bakal biarin kamu sengsara di dunia ini, karena Tuhan sayang sama kamu dan semua orang di dunia ini.” ucap Alan membuat Vino menoleh kebingungan.

“Tuhan? Siapa Tuhan?” tanyanya bingung kearah Alan dan membuat Alan menarik tangan Vino dan mengajaknya masuk gereja.

“Apaan nih lan! Gue gak pake baju bagus! Jangan asal tarik gue lan!” bantah Vino sambil menahan tarikan Alan yang langsung direnggangkan oleh Alan.

“Vin, gak perlu baju bagus buat ke rumah suci ini. Yang harus kamu lakukan sebelum masuk rumah suci ini, kamu harus menghilangkan apapun yang membuatmu marah ataupun sedih. Pikirkan untuk apa tujuanmu datang kesini. Oke?” ucap Alan membuat Vino bingung.

“Tujuan gue apa lan?” tanya Vino sambil berpikir keras.

“Kamu pengen tau siapa Tuhan kan?” ucap Alan membuat Vino menoleh cepat kearahnya dan membuat Vino mengangguk.

Melihat Vino yang bersemangat membuat Alan mengajak Vino masuk dan mengajari Vino cara berdoa, cara mengambil air suci, cara berlutut, cara bertingkah lebih sopan dan cara untuk bersabar. Lagi-lagi Alan mendengarkan lagu kiss the rain itu dari organ Ailsa. Dia senang sudah bisa mengetahui nama perempuan baik itu.

“Vin..itu Ailsa. Perempuan yang baik banget sama aku, ayo kenalan.” ajak Alan membuat Vino tersenyum.

“Ailsa..kenalin ini Vino orang yang kamu lihat lagi nangis tadi di pohon-pohon deket lapangan olahraga itu.” ucap Alan membuat Vino menolehnya kaget dan bingung.

“Oh namanya Vino, keren ya namanya. Mm Vino mau kamu ambil pakaian ini? Aku menemukannya di kamarku dan berpikir buat apa aku menyimpannya. Cobalah..kamu bisa berganti di ruangan itu.” ucap Ailsa sambil memberikan pakaian itu ke Vino. Vino pun langsung mencoba pakaian itu dan masuk ke ruangan itu.
“Ailsa, kamu tau kalau aku dirumah sakit tadi?” tanya Alan heran kepada Ailsa.

“Kebetulan aja. Dokter yang memeriksamu itu ayahku, jadi aku tau kalau kamu sakit asma kan?” jawab Ailsa membuat Alan tertawa.

“Pantas saja. Ayahmu sabar ya sepertimu.” puji Alan membuat Ailsa tersenyum.

“Gak juga. Alan kamu bisa dateng besok minggu, aku butuh pemain gitar buat acara sekolah minggu gembira. Bisa?” tanya Ailsa berharap pada Alan.

“Aku pengen sa. Tapi kamu lihat kan tadi gitarku hancur, jadi aku gak bisa mainlah sa.” balas Alan memelas.

“Masalah gitarnya gak masalah lan. Asal aja kamu mau, jalan deh.” ucap Ailsa membuat Alan tersenyum.

“Oke sa! Ketemuan disini jam 8 pagi ya? Sip!” jawab Alan bersemangat.

“Gue suka pakaian pemberian lu Ailsa!” teriak Vino membuat Ailsa dan Alan melihat kearahnya.

“Wow..Vin, kamu ganteng sekali!!” ucap Ailsa terpesona dan membuat wajah Vino memerah.

Alan hanya tertawa melihat perubahan wajah Vino yang baru pertama kali ini dia lihat.
Alan dan Vino pun berpamitan pada Ailsa dan berjalan pulang bersama. Perasaan Vino sudah lega setelah berdoa di gereja itu, membuat Alan juga bahagia melihat sahabatnya sudah tidak emosi.

“Vin..ajakin temen-temen ngumpul di lapangan ya. Aku mau ngajakin mereka main permainan baru oke? Aku tunggu..” ucap Alan sambil berlari menjauhi Vino.

“Sip lan!” teriak Vino yang juga sedang berlari pulang ke rumahnya.

Sampainya di rumah Alan langsung dipeluk oleh ibu tirinya saat melihat ayah Alan sedang memelototinya.
“Maafin ibu ya lan. Ibu tadi sakit kepala, maka dari itu ibu gak bisa jenguk kamu.” ucap ibu tiri Alan membuat Alan naik darah.

“Yah! Alan mulai besok bakal tinggal di rumah nenek dan kakek di Jogja.” ucap Alan membuat ayah dan ibu tirinya terkejut.

“Kamu gila nak! Ayah gak punya uang buat perjalananmu kesana!” teriak ayah Alan terkejut.

“Alan udah nabung diam-diam dan udah kekumpul 10 juta. Dan Alan juga sudah bilang nenek dan kakek disana. Alan juga pengen ngelanjutin kelas enam disana, dan bakal balik kalau Alan sudah kelas 1 SMA. Alan mau siap-siap dulu.” ucap Alan membuat ibu tirinya senang dan membuat ayahnya terbengong melihat Alan.

Tak terasa sudah jam 6 pagi. Alan juga sudah berada di lapangan sesuai janjinya, dia terus memotret lapangan itu dengan kameranya berulang kali. 

“Alan!” teriak Vino sambil membawa semua teman-temannya kesini. Alan tersenyum melihat mereka berlarian seperti itu. Alan pun memotret mereka berulang kali dan membuat mereka bingung.
“Ini apa lan?” tanya James penasaran.

“Ini camera. Ayo foto bareng, ayo kumpul-kumpul!” ajak Alan sambil mengaktifkan timer dan berlari kearah teman-temannya dan berfoto konyol bersama teman-temannya.

“Simpan ya fotonya siapa tau ada salah satu dari kita yang bakalan pergi lama.” ucap Alan sambil membagikan hasil foto dari kameranya itu.

“Emang siapa yang mau pergi lama lan?” tanya Mario membuat semua temannya memandang bingung Alan.

“Emm..maaf kalau ndadak, aku jam 7 nanti bakalan ke Jogja dan pulang 5 tahun kemudian. Aku mau ngelanjutin pendidikan tinggi di sekolah terkenal di Jogja supaya bisa ngajarin lebih banyak pengetahuan buat kalian. Aku juga udah ngumpulin uang yang aku tabung dari kelas 1, aku akhirnya bisa beliin kalian semua tab yang bisa kalian pake buat belajar tanpa aku. Aku juga sudah beliin kalian modem yang gak bakalan pernah habis pulsanya, aku berharap dengan media yang aku siapkan membuat kalian semua pinter kedepannya dan bisa sekolah sampai kuliah.” ucap Alan membuat teman-temannya menangis dan memeluknya erat-erat.

“Kenapa pergi secepat itu lan, siapa yang mau ngajarin kita futsal lagi?” tanya Glenn sambil menangis.

“Vino.” ucap Alan membuat Vino terkejut.

“Aku?!” ucapnya terheran. Semua teman-temannya melihat heran Vino dan perlahan-lahan tersenyum kearahnya.

“Alan! Ayo berangkat” teriak nenek Alan dari jauh.

“Lan..aku bakalan ajak temen-temen ke rumah suci itu.” ucap Vino sambil mendekati Alan.

“Aku bakalan bangga jadiin kamu sebagai sahabatku vin. Udah ya! Daa..jangan pernah lupain aku oke?! Jangan pernah menganggap kalian lemah, karena kalian..mm..” ucap Alan kehilangan kata-kata.

“Pernah punya sahabat sehebat dan sebaik Alan!” teriak mereka serempak membuat Alan tertawa dan tersenyum.

Alan sudah pergi dari hadapan mereka dan membuat mereka lebih bersemangat dari sebelumnya.

5 tahun kemudian
Alan tidak sabar bisa bertemu dengan teman-temannya, sudah 5 tahun ia berkelana dan berhasil menempuh pendidikan tinggi. Dia lupa sebelum dia ke Jogja ia belum bertemu dengan Ailsa.
Perjalanan selama di kereta terasa sangat lama, Alan hanya bisa menatap foto masa kecilnya saat dia berpisah dengan teman-temannya.

Vino sudah bisa bersekolah dan mengikuti kelas akselerasi dan membuatnya lebih cepat menyelesaikan studinya sehingga bisa sama seperti Alan. Tidak hanya Vino ternyata Mario, Rama, Glenn, James, Romi, Toni, Bima dan Juna juga bisa melakukannya walaupun mereka kalah cepat dengan Vino. Pendidikan mereka berdelapan masih menduduki kelas 9 SMP. Berbeda dengan Valdi ia masih menduduki kelas tujuh SMP karena kemalasannya yang membuat kedua orang tuanya stress dan mengangkat ayah Alan menjadi ketua RT baru.

“Alan! Kamu tambah tampan saja! Ayah kangen dengan kamu.” ucap ayah saat melihat Alan sudah masuk rumah.

“Om, mau dibuatkan berapa teh?” tanya seorang perempuan yang sedang ada di dapur rumah mereka.
“Yah siapa?” tanya Alan membuat ayahnya tersenyum.

“Perempuan yang mirip ibumu.” ucap ayahnya membuat Alan bingung.

“Alan? Kamu kenapa disini?” tanya Ailsa yang terlihat terkejut.

“Ailsa? Kamu yang ngapain disini? Ini rumahku!” ucap Alan membuat Ailsa panik.

“Gak usah takut Ailsa. Alan dia yang selama ini merawat ayah, ayah sudah menceraikan ibu tirimu. Karena kamu bilang Ailsa mirip dengan ibumu, maka dari itu ayah menyuruhnya untuk tinggal di rumah selama kamu tidak ada disini.” ucap ayah Alan membuat Alan bingung.

“Dia gak punya rumah?” ucap Alan dengan nada tingginya.

“Aku bakal pergi saat kamu sudah pulang lan. Maaf ya aku membuat suasana hatimu gak enak. Om, saya pergi dulu ya.” ucap Ailsa langsung mengemasi barangnya.

Alan hanya terdiam. Entah kenapa Alan menjadi sangat kejam terhadap perempuan yang selalu bersikap baik padanya. “Kenapa dia mencari perhatian ayahku? Dasar perempuan gila!” batin Alan tanpa mempedulikan kepergiannya.

“Alan! Kenapa kamu kasar sama Ailsa?! Dia sudah bantu ayah selama kamu gak ada dirumah! Dia baik sama ayah! Kenapa kamu malah marah lihat dia disini nak!” teriak ayah Alan membuat Alan naik darah.

“Yah! Ibu gak bisa digantiin sama siapapun! Termasuk perempuan kayak dia! Emang perempuan itu punya hak apa buat tinggal disini? Dia bukan siapa-siapa bagi ayah! Kenapa ayah berubah!” ucap Alan langsung mengangkat tas besarnya dan masuk ke kamarnya.

“Aku tak menyangka Alan bakal semarah itu melihat aku ada dirumahnya. Lagipula aku gak tau kalau om Revan punya anak dan anaknya adalah Alan. Aku gak pernah berniat ngerebut kasih sayang dari om Revan ke Alan. Aku merasa bersalah sekarang.” ucap Ailsa sambil menghusap air matanya.
“Lho sa udah balik nih? Alan berarti udah dateng?” ucap Vino yang terlihat senang saat melihat Ailsa sudah membawa kopernya.

“Iya..” jawab Ailsa lemas sambil terisak.

“Ailsa? Kamu kenapa?” tanya Vino sambil berusaha melihat wajah Ailsa.

“Gak papa vin. Udah kesana aja, Alan ada dirumah kok. Duluan ya..” ucap Ailsa sambil tersenyum kearah Vino. Vino masih menatap bingung Ailsa yang masih terlihat menangis dalam perjalanannya.

“Tuhan sepertinya Alan gak  menyukai keberadaanku saat ini. Mungkin aku sudah harus pulang kerumahMu lagi Tuhan. Aku sakit hati melihat Alan membentakku seperti tadi. Bawa aku kembali Tuhan” pinta Ailsa sambil membiarkan tubuhnya seakan ringan dan bersiap untuk menghilang.

“Ailsa!” teriak Alan yang melihat Ailsa penuh dengan cahaya.

“Hah!” ucap Ailsa kaget dan membuat cahayanya menghilang.
“Kamu siapa sebenernya? Kenapa tadi banyak cahaya di sekitarmu?! Siapa kamu sa!” teriak Alan sambil mendekati Ailsa.

“Aku bukan manusia lan. Aku dikirm Tuhan buat bantu kamu agar bisa buat temen-temenmu bisa semangat dari hidup melarat mereka. Aku juga dikirim buat memastikan semua teman-temanmu gak bakalin ngelupain kamu dan buat mereka sadar kalau ada Tuhan yang senantiasa hadir dan membantu mereka dalam masalah. Dan aku rasa aku udah gak berarti lagi di dunia ini.” ucap Ailsa sambil menundukkan kepalanya.
Alan langsung duduk dan menghembuskan nafasnya pelan.

“Jadi kamu roh? Perempuan yang selama ini aku kagumi adalah roh? Gila!” ucap Alan sambil meremas kepalanya.
“Terus apa maksudmu nemenin ayahku? Mau ngerebut kasih sayangnya dari aku hah?! Atau mau ambil harta kekayaannya!” bentak Alan membuat tangan Ailsa bergetar.

Ailsa tidak bisa menjawabnya dia hanya bisa menangis karena merasa hatinya terasa sangat sakit, Alan ternyata tidak menghargai jerih payahnya yang selama ini mau mengurusi ayah dan teman-temannya.
Alan mendegus pelan. “Jawab sa!” teriak Alan lebih keras dari sebelumnya.
“Selama kamu di Jogja ayahmu sulit jalan lan dan ibumu malah minta cerai ke ayahmu dan meninggalkan ayahmu di rumah dengan keadaan yang seperti itu. Aku juga gak tau kalau om Revan ayahmu lan, aku bener-bener gak tahu. Aku mengira om Revan bener-bener sebatang kara. Maka dari itu aku nemenin dia selama mungkin.” ucap Ailsa membuat Alan naik darah.

“Apa semelas itu kah wajah ayahku sa! Sebatang kara! Kamu menganggap ayahku gak punya apa-apa! Emang ibuku udah meninggal delapan tahun yang lalu tapi jangan harap kamu bakal nggantiin posisi ibuku sa! Dia lebih baik dan bahkan lebih suci dari kamu! Dasar perempuan licik!” bentak Alan dengan nada tinggi.

“Tuhan…bawa aku bersamamu lagi. Aku sudah senang bisa membuatnya bahagia. Aku harap dengan kejadian semua ini dia bisa benar-benar membenciku dan akhirnya bisa melupakanku.” ucap Ailsa membuat cahaya ditubuhnya muncul lagi dan bahkan bersinar dari sebelumnya.
Alan terkejut melihat perubahan Ailsa. “Lan makasih sudah berikan kesempatan buat aku untuk menolongmu makasih lan.” ucap Ailsa membuat tubuhnya semakin bersinar dan membuat Alan menutup matanya menggunakan lengan tangannya.

“Apa dia malaikat penolongku?” batin Alan. Perbuatan Ailsa sudah membuat Alan sesukses ini, membuat teman-temannya bersemangat untuk melanjutkan sekolah sampai setinggi-tingginya dan membuat ayah Alan tidak menderita penyakit itu lagi. Sesungguhnya Alan menyukai gadis itu yang sekarang sudah hilang dihadapannya.

Terkadang kita tidak pernah menyadari ada orang yang diam-diam membantu kita walaupun selama itu dia ada dihadapan kita dan kita mengenalnya. Memang butuh waktu lama untuk menyadari kebaikan orang itu.

Jika kita terus berusaha dalam menjalani hidup dengan kondisi seburuk apapun, yakinlah Tuhan akan senantiasa menolong kita dan memperbaiki kehidupan kita dan menjadikannya lebih indah dari sebelumnya

Percayalah..bahwa Tuhan melihat dan selalu ada disampingmu.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger