Sudah 4 minggu semenjak Ujian Nasional berakhir telah berlari.
Kesunyian yang sudah kubayangkan dari lalu. Dimana sebuah hubungan pasti
memiliki masa perpisahan. Aku tahu bahwa saat ini belumlah waktunya. Namun, hati
ini sudah menangis lebih dulu sebelum tanggal itu bermain. Lama aku merasa
perpisahan itu akan membuatku sedih. Aku hanya bisa memberikan senyuman
termanis pada masa ini.
Ya. Hari ini adalah
tanggal 9 Mei. Aku berharap 3 hari dua malam itu akan kujalani dengan baik. Aku
berharap.
Aku telah mempersiapkan
transportasi yang dapat memudahkan perjalanan. Jam telah menyapaku dengan
menunjukkan seluruh jarumnya ke atas. Aku dan Fani pun bersiap untuk menyambut
kedatangan para kawan SMA yang koplak. Merekalah teman sekelasku. Aku merasa
tidak sabar tetapi di sisi lain aku takut terlihat lemah di hadapan mereka
nanti. Apa kata Tuhan? Apapun yang akan terjadi tiga hari ke depan biarkanlah
hal itu terjadi. Aku siap.
Banyak orang senang
dengan karet. Setiap waktu perjanjian mereka selalu bermain karet tanpa peduli
karet itu akan putus atau tidak. Kebiasaan lama memang sulit untuk
ditinggalkan. Ngakak aja sih.
Perjalanan panjang kami
lalui dengan tawa seperti biasa. Tanpa tawa semua terasa buram. Tawa yang
berbeda. Tawa yang selalu menyejukkan. Beginilah aku setiap hari jika terus memperhatikan
mereka. Baper sendiri.
Villa sederhana yang
megah telah kami pijak. Mulai ribet dengan pemilihan kamar.
“Aku sama kamu”
“Oh kamu sama dia? Ya udah aku sama yang lain”
“Kamu udah di booking ya?”
“Kamu di atas atau di bawah?”
“Aku di atas ya?”
“Aku di bawah deh kalau gitu.”
“Kamarmu dimana?”
“Gak tahu. ”
Ketawa aja sih dalam hati. Aku belum tentu akan
bisa melihat kejadian seperti ini lagi kelak. Berbahagialah mereka para tiga
cowok yang dengan santai langsung masuk kamar bawah dan langsung merebahkan
diri dengan manja. Ngakak aja.
Kelelahan masih
menguasai seluruh indra dan tubuhku. Mata kliyep-kliyep
memaksaku untuk merebahkan tubuhku dan bermain dalam mimpi kecil sebelum mereka
mengajakku untuk berenang bersama. Tubuh penuh kelelahan tanpa perlu
kutunjukkan karena melihat mereka bahagia adalah kebahagiaanku juga.
Berganti pakaian dan
berjalan menuju kolam dengan penuh tawa dan gurauan yang tidak pernah garing.
Mereka tidak pernah jaim jika membicarakan hal-hal privasi yang sebenarnya
boleh dikatakan benar-benar privasi. Mereka terbaik. Berenang dengan sesak
membuatku kesulitan bernafas. Tanpa kacamata pelindung, aku tak bisa berenang
dengan lihai. Aku pun memutuskan hanya mengelilingi kolam dengan ban besar
bersama Ursula.
Cia yang bertingkah
lucu saat menyentuh air membuat tawa meledak di semua arah. Kelakuannya yang
lucu membuat mulutku dengan buasnya meminum air kolam hingga tersedak. Hidungku
pun tak mau kalah ia menyeruput air
kolam itu dengan lebih ganas.
Aku berniat membantu Deline
supaya ia lebih berani di air. Namun, aku malah mendorongnya sehingga tubuhnya
memeluk air dengan mesra. Aku memang teman yang sangat baik. Karena tingkahku, Deline
tidak mempercayaiku lagi. Tawalah yang keluar dari mulutku. Tawa yang
menggelegar sampai-sampai tak ada yang tahu dan mendengarnya. Haha.
Setelah pengambilan
foto di tepi kolam, aku memutuskan untuk menyendiri di pojok. Memeluk mesra
tangga kolam dengan kaki yang kuangkat sehingga tubuhku tidak ikut goyang oleh
air. Aku tersenyum melihat Vian, Deri, Lena, Ria, Ferdi, dan Stefa yang melucu.
Mereka memanglah badut-badut kelasku. Aku yakin tanpa mereka, kelas ini tidak
akan seru. Mereka benar-benar terbaik.
Setelah 10 menit
berlalu, tatapan terarah padaku. Semua mengira bahwa aku sedang membuang “coklat”
dalam kolam. Aku hanya menanggapinya dengan tawa. “Lihatlah, pantas aku merasa
air ini semakin hangat.” timpal Dipta membuat semua tawa makin blegedes. Kejadian itu terulang terus
menerus. Aku pun memutuskan untuk keluar dari kolam dan merasakan
ketidaknyamanan yang tak terkira. Aku melakukan itu dalam kolam karena aku
kebelet buang air kecil. Saat keluar dari kolam, tubuhku tak mampu
menampungnya. Namun, bukan berarti aku sudah mengeluarkannya. Aku terus
berusaha menahannya sekuat tenaga.
Kami pun kembali dengan
tawa yang masih sama. Makan malam bersama. Tubuhku menggigil tak karuan membuat
semuanya terlihat cemas. Aku merasa berada dalam keluarga yang lain. Mereka
benar-benar terbaik. Sudah berapa kali aku mengatakan pernyataan itu?
Malam ini kami bermain truth or dare. Kegilaan kembali
terkulak. Apalagi pertanyaan yang diberikan benar-benar membuat semua rahasia
terkuak. Mereka benar-benar terbaik.
Pagi yang berbeda kami
jalani. Sarapan dengan menyantap roti sembari mengobrol dan melihat tv favorit.
Kenangan masa kecil yang kembali tampil saat ini. Setelah selesai mengisi
perut, mereka kembali ingin berenang. Namun, berenang dalam kolam yang berbeda.
Aku tak ikut berenang. Aku memotret juga memvideo kegilaan mereka. Dalam
video-video itu di antara lain ada rekaman dimana Dipta menyipratkan air kolam
berulang-ulang pada Ursula yang sedang berbalik arah. Teriakannya membuat semua
anak tertawa. Dipta memang usil. Video yang lain ketika Ferdi menggendong Vian
di atas bahunya dan Fani menggendong Dipta di atas bahunya. Kemudian Vian dan
Dipta saling mendorong. Dan pada akhirnya mereka berdua terjatuh. Aku hanya
tertawa saja. Video terlucu terakhir adalah ketika Dipta mencoba menggendong
Fani. Saat Fani sudah ada di bahunya, Dipta kehilangan keseimbangan dan dia
kesulitan bernafas. Semua air masuk dalam mulutnya. Aku hanya tertawa saja.
Haha.
Malam penuh debaran.
Sebuah lagu special sudah kubuat matang. Namun, perkara kapan aku akan
menyanyikannya itulang yang membuat hatiku bimbang. Memanggang, membakar, dan
berfoto ria di sisi kolam adalah kegiatan kami. Dilanjutkan dengan bernyanyi
bersama Ursula dan Ferdi. Malam semakin larut ketakutanku semakin memuncak.
Kepasrahan pada Tuhanlah yang bisa aku panjatkan.
Kami pun kembali ke
villa dan melanjutkan sesi heart to heart.
Aku beranikan diriku untuk mengawali sesi itu dengan nyanyianku. Dengan
malu-malu, aku menyanyikannya. Semua terlihat bahagia mendengarkannya. Aku
senang. Aku bersyukur memiliki teman seperti mereka. Aku akui tidak ada manusia
sempurna. Mereka juga sering membuatku sedih, kecewa, marah, dan risih. Namun,
mereka juga pandai membuatku bahagia, nyaman, dan sakit perut karena mendengar
gurauan mereka. Aku tidak merasakan kesedihan sama sekali saat sesi ini
berlangsung. Aku yakin ini karena aku sudah merasa sedih lebih dulu jauh-jauh
hari. Mungkin saja.
Malam ini kami tidur
bersama. Kami membawa ranjang tidur dan membawanya ke atas sehingga kami tidur
berjajar. Malam yang indah bersama kalian.
Pagi yang terasa siang.
Ya, itu karena kami semua kesiangan. Malam kemarin baru bisa terlelap pukul 2
pagi. First time in forever. Sebelum
kepulangan kami, kami pun bermain flying
fox. Berbagai rekaman wajah lucu yang ketakutan telah disimpan. Aku
berharap rekaman itu akan menjadi sebuah kenangan yang terindah. Perpisahan
dimana semua berpelukan. Mereka meneteskan air mata kesedihan dan mengatakan
kata-kata yang membuatku lemah untuk menahan air mataku ini.
“Gak ada lagi senin koplak”
“Gak ada lagi sekolah seru”
“Senin besok senin yang sepi”
“Will gonna miss you guys”
Tetesan air mata
perlahan mengalir dari kelopak mataku. Namun, tak sederas teman-teman yang
lain. Kami telah resmi berpisah.
Harapan terbaik untuk
kalian para sahabat. Kalian harus menjadi hebat, berani menggali segala
pengalaman yang lebat, tangguh menghadapi segala situasi yang menghambat, dan
yang terpenting terus mengatakan bahwa kita tetap menjadi seorang sahabat.
Ngakakk tier ❤❤❤
BalasHapusNgakakk tier ❤❤❤
BalasHapuswakakaak suwon..
Hapus