photo by : Flickr Kai! Kai! Lihat! Kembang api itu benar-benar menarik. Apa
kau tahu itu? Kai! Ayo kita membeli beberapa makanan untuk semua orang. Kai,
kenapa kamu selalu menghindar! Kai! Ayo kita berpesta dengan mereka. Kai, kau
harus tampan hari ini. Kai, Kai, Kai!!
“Aah!”
Kai terengah-engah. Segelas air putih yang terletak manis di sudut meja tak
mampu diraihnya. Tangannya terus meraba dengan panik tanpa peduli barang-barang
itu nantinya akan melukainya. Gelas itu pecah mengenai kaki Kai yang tergantung
lemah di tepi ranjang. Kai tidak terkendali.
Suara bel pintu mengagetkannya. Kai menampar
keras pipinya lalu ia menenangkan diri. Suara bel kedua seolah-olah
meneriakinya supaya ia segera membukanya. Kepanikan itu membuat tubuhnya malas
menyapa seseorang dari balik pintu itu. Bel ketiga berbunyi. Dengusan sebal ia
teriakkan. Kai melangkah dengan malas dan meraih ganggang pintu dengan
tercengang.
“Hai. Kamu gak papa kan?” tanya Maura, kekasih Kai.
Wanita itu terus datang ke rumahnya tanpa
peduli apakah di luar sedang hujan bahkan badai sekalipun. Mereka berdua saling
berbagi jadwal kunjungan. Pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, Mauralah yang
berkunjung ke rumah Kai. Saat hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, Kailah yang pergi.
Di saat hari Minggu, mereka lakukan kebahagiaan dengan teman juga keluarga masing-masing. Kailah yang membuat keputusan itu. Maura hanya mengikuti.
“Hai.” sapa Kai baru saja sadar melihat
tubuhnya tak berpakaian dengan benar. Dengan cepat, ia meraih jaket yang
tergantung sempurna di sudut ruangan. Senyum nyengir ia tampilkan. Maura hanya
tertawa.
“Masuklah. Kamu bawa apa?” tanya Kai
penasaran ketika bebauan makanan sedap berhasil ia hirup dengan tajam. Maura
tidak menjawab. Ia duduk diam dan menatap Kai dengan penuh kesabaran.
“Apa?” tanya Kai bingung dengan tingkah
Maura yang terus tersenyum.
“Eh?” balas Kai menggelitik pelan rambutnya
dan melipat tangan. Kai berpikir keras.
Ia mencoba untuk mengambil segelas air
tetapi Maura menolaknya. Ia memijat kaki Maura tetapi dia mendengus.
“Kamu tidak ingat? Payah.” ejek Maura dengan
marah. Kai ingat dengan buku-buku yang ia baca. Perempuan itu selalu memberikan
kode dan kami para lelaki harus bisa mengerti apa maksudnya. Dan, kebanyakan
dari kode-kode itu adalah untuk mereka sendiri.
“Ah, aku tahu. Kamu butuh pembal..” ucap Kai
terhenti saat Maura menutup mulutnya dengan kencang.
“Uh. Kau benar-benar tidak ingat? Ini adalah
hari ulang tahunmu. Aku sudah menyiapkan segala persiapan di kafe yang sering
keluargamu kunjungi. Cepat bersiap. Kau harus tampan.” ucap Maura dengan
senyuman manis tepat di depan wajah Kai.
“Untuk apa.” balas Kai dengan wajah jutek.
Kai mendadak menjadi sadis dengan tatapan mata yang cukup menakjubkan.
“Aku tahu kamu menolaknya.”
Maura tersenyum lebar dan menarik pelan
mulut Kai membentuk setengah lingkaran.
“Tunggu. Kau yakin membiarkan perempuan
malang ini terus menerus mencium baumu yang menyengat itu?” ucap Maura dengan
langkahnya yang perlahan menjauh.
“Oh! Haha. Baiklah. Aku segera kembali.” ucap
Kai dengan wajah merah padam dan berangsur pergi sembari meraih handuk yang
tergeletak menawan di atas ranjangnya.
Maura menunggunya dengan sabar. Ia menata
makanan-makanan itu dengan baik dengan jari-jarinya yang lentik.
“Kak.” sapa Sendy, adik Kai, dengan tawa.
Maura pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah merona.
“Kak, aku akan pergi ke rumah temanku. Jika
Kai mencariku, katakan saja. Namun, aku yakin dia tidak peduli.” Sendy pergi
dengan sepeda hitam legam yang menjadi favoritnya. Maura membalas kepergiannya
dengan senyuman. Ia sedih. Kakak beradik itu masih saja tidak bisa bersatu.
“Maura.” Maura terkejut. Air matanya keluar tanpa terduga. Pemikirannya terlalu jauh sampai-sampai ia
tidak menyadari kehadiran Kai sudah ada di depannya.
“Kau tampan, Kai.” puji Maura sembari
menghusap pelan air matanya.
“Apa Sendy melakukan hal yang tidak kamu
suka? Katakan saja. Dia memang suka membuat masalah.” Maura benci dengan
percakapan ini. Ia pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Ayolah. Kita rayakan ulang tahunmu. Selama
hidupmu, kamu selalu menyendiri. Ayolah Kai. Kamu hari ini harus
bersenang-senang.” Kai tersenyum sembari menonjolkan lesung pipitnya dengan lihai.
Suara pecahan kaca terdengar keras tiba-tiba.
Kaca itu dengan secepat kilat melukai wajah Maura. Luka di pipinya membuat Kai
terkejut. Kai beranjak dari tubuhnya dan berlari menuju pintu rumah. Tangannya
bergetar. Ia tidak bisa memegang kuat ganggang pintu rumahnya sendiri. Kai
berusaha sekuat tenaga membuka ganggang pintu itu. Ia sangat ketakutan.
Keringat keluar deras di sekujur tubuhnya. “Lawanlah ini pengecut!” teriak Kai
membuat tangannya dengan kuat membuka ganggang pintu dan mendorongnya dengan
kencang.
“Akhirnya kamu keluar anak rumahan.” ucap
Tommy salah satu tetangga yang terus menerus membullynya dari SD. Maura keluar dengan ketakutan.
Tommy adalah seseorang yang selalu ingin
menjatuhkan Kai dan mempermalukannya di depan semua orang. Senyuman sinis ia
tampilkan tanpa peduli apa yang terjadi. Kai marah. Ia tidak bisa mendekati
Tommy. Dalam sekejap, Tommy membawa seluruh temannya. Mereka seakan-akan sedang
menunggu sebuah konser yang sangat mereka idam-idamkan.
“Kai, kau adalah idola kami. Kami ingin
minta tanda tanganmu. Kemarilah. Bukakan pintu ini untuk kami.” tawa
menggelegar terdengar membuat semua tanah seolah-olah bergetar.
Keringat mengucur deras di tubuh Kai. Degup
jantungnya yang cepat membuat seluruh tubuhnya kaku. Ia terus memaksakan
kakinya untuk keluar dari pintu rumah dan menghajar mereka. Kesakitan yang ia
dapatkan membuatnya tidak berdaya. Tawa kembali menyeruak dengan bangganya.
Maura bingung dengan tingkah Kai. Ia
terkejut merasakan panas yang luar biasa saat ia menyentuh lengan Kai. Maura
sontak memegang dahi Kai. Ia terkejut melihat Kai yang sangat kesakitan. Kai
terus memegang kakinya yang terlihat menyiksanya.
Maura tak tinggal diam. Muara bukanlah sosok
perempuan yang berani. Namun, itu bukan berarti bahwa dia tidak bisa menjadi
sosok itu. Langkah berani ia tapakkan sembari membuka pintu pagar rumah Kai
dengan marah.
“Pipimu terluka? Kamu tidak apa-apa? Lelaki
seperti dia memanglah bukan untukmu. Lelaki yang terus berdiam diri di rumah
dan tidak berani menghadap kami memang lelaki payah.” ejek Tommy membuat semua
temannya tertawa puas dengan lebih keras.
“Tommy. Lelaki payah adalah lelaki yang
sepanjang hidupnya terus mengganggu kehidupan orang lain tanpa sadar bahwa
hidupnya sendiri belumlah sempurna. Kamu terus membully orang yang bahkan tidak mengenalmu. Apa kamu tidak malu? Aku
terus melihat gerak-gerikmu sepanjang sekolah dulu Tom. Dan, berhentilah
mengganggunya.” ucap Maura sembari memberatkan suaranya.
“Lalu, apa yang membuatmu jatuh cinta
padanya? Tidak ada perempuan yang mau mendekatinya apalagi mencintainya.” teriak
Tommy membuat Kai kembali masuk ke rumahnya dengan kesakitan.
“Tom. Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya
perlu tahu seberapa bodohnya kamu mencampuri urusan orang dengan mengada-ngada
semua berita tentangnya. Ingat, Tom. Aku terus memperhatikanmu. Perempuan
seperti aku memang kamu pandang lemah. Namun, di saat aku berhasil menampilkan
kekuatanku. Kamu pasti kalah! Aku mohon pergilah.” ucap Maura membuat semua
anak-anak itu pergi dengan berbagai kata-kata mutiara yang keluar dari
sembarang bibir itu.
Maura berlari dan mengetuk pelan pintu Kai.
“Pulanglah.” Kai membuka pintu dengan
wajahnya yang pucat. Maura tidak bisa memaksa kehendaknya untuk terus menemani
Kai.
“Aku akan pergi. Namun, biarkan aku
memelukmu.” pinta Maura dengan air mata yang bercucuran.
“Terima kasih.” Kai tidak menggubris permintaan
Maura dan langsung menutup pintu rumahnya dengan tatapan kosong.
Maura sedih dengan keadaan Kai.
“Maura! Aku tahu kamu
terus memperhatikanku. Namun, apa yang akan terjadi besok tidak bisa kamu
hindari. Kai akan meninggalkanmu. Dan, dia akan terus ketakutan dan gila. Dia
akan..” tamparan Maura membuat Tommy menghentikan ocehannya.
“Tamparanmu tidak bisa mengubah apapun. Kai
akan meninggalkanmu.” ucap Tommy tertawa sembari pergi dengan mogenya.