photo by : Flickr “Lihat Kai bodoh! Maura tahu sekarang! Payah! Pengecut!” teriak Kai sembari membanting dirinya dengan keras di ata...

Maura Bodoh! #2

/
0 Comments

photo by : Flickr

“Lihat Kai bodoh! Maura tahu sekarang! Payah! Pengecut!” teriak Kai sembari membanting dirinya dengan keras di atas ranjang. Ia benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya. Saat kepanikan berhasil menggerogoti tubuhnya, ia menemukan sebuah pecahan kaca bekas gelas yang ia pecahkan beberapa jam yang lalu. Kesadarannya benar-benar hilang. Pecahan gelas itu dengan cepat merobek lengan dan wajah Kai. Ia menjadi gila. Teriakan ia redam dalam gigitannya yang kuat pada sosok bantal pendamping tidurnya.
    Seperti biasa, kepulangan Sendy sama sekali tidak Kai hiraukan. Ia mendengar pintu rumah terbuka dan hentakan kaki pelan menuju deringan telepon genggam. Kai tidak peduli. Ia menghabiskan waktu sepanjang hari dalam kegelapan kamar yang menjadi tempat favoritnya.
    Kepulangan Sendy disapa baik oleh Maura lewat deringan telepon yang membuyarkan keheningan dalam rumahnya.
    “Sendy. Apa kamu sudah pulang? Apa kabar dengan Kai?” tanya Maura dengan suara bergetar.
    “Iya kak aku sudah pulang. Aku tidak tahu.” balas Sendy malas membahas pembicaraan itu.
    “Dia seharian di kamar. Aku tidak tahu mungkin dia sudah mati di dalam sana.” lanjut Sendy saat ia tidak mendengar suara apapun dari Maura.
    “Baiklah. Terima kasih Sendy.” balas Maura sedih sembari perlahan menutup kembali ganggang telefon yang terus ia pegang.
    Sendy kesepian. Rumah kecil yang gelap membuatnya tidak tahan. Kai adalah kakaknya. Namun, ia tidak merasa memiliki kakak selama hidupnya. Ia terus menganggap Kai sudah meninggal walaupun ia jelas-jelas ada bersamanya. Kesendirian yang mendalam membuat kaki Sendy beralih menuju pintu rumah dan pergi lagi.
    Matahari terlihat malu memberikan senyuman pada penduduk bumi hari ini. Pagi yang berbeda. Hujan mengguyur deras tanpa ampun pada daratan. Maura menunggu Kai datang. Hari ini adalah waktu kunjungan Kai ke rumahnya. Ia memainkan tetesan air hujan yang membasahi pagar rumahnya. Matanya terus waspada dan telinganya terus bersiap pada hentakan kaki yang akan mendatanginya. Tap..tap.. Kai datang.
    “Kak.” sapa seseorang yang tampaknya mengecewakan Maura. Sendy datang ke rumahnya.
    “Sendy? Masuklah.” balas Maura bersikap dewasa tanpa menunjukkan rasa kecewanya.
    “Aku tahu hari ini adalah waktu kunjungan Kai. Seharian Kai tidak keluar dari kamar bahkan dia tidak menyentuh makanan yang sudah kusiapkan. Aku sudah membuang makan siang dan makan malamnya. Kak, aku akui aku memang tidak menyukai Kai. Namun, aku peduli padanya. Hari ini aku membuang sarapannya lagi. Dan, seperti biasa. Aku mendengar suara teriakan kecil dari kamarnya. Aku tidak tahu ada apa dengannya. Datanglah ke rumah, Kak. Aku akan mengantarmu pulang nanti.” ucap Sendy dengan wajah datar. Maura tertegun dan panik dengan keadaan Kai. Dia harus membantu Sendy mengetahui keadaan Kai sebenarnya.
    Perjalanan yang tidak sempurna terjadi hari ini. Kecelakaan motor dan mobil terjadi. Semua orang panik. Darah terlihat jelas membekas di tepi jalan. Hujan sepertinya enggan menghilangkan darah itu. Ia membiarkan darah itu terus membekas supaya dapat menjadi pengingat bahwa dalam berkendara butuh kehati-hatian. Maura teringat pada Kai. Kai terus menyembunyikan sesuatu tentang dirinya. Namun, penderitaannya itu menjadi pengingat bahwa ia tidak akan pernah bahagia.
    Rumah dimana Maura melihat keanehan Kai yang membuatnya panik telah di depan mata. Apakah Kai mau membukakan pintu itu untuknya?
    “Kakak ikut aku. Aku harap kakak mau mengetuk kamarnya.” ucap Sendy memimpin jalan di depan Maura.
    Maura perlahan-lahan melangkahkan kaki dengan penuh ragu. Beberapa detik pun berlalu, sudah lama Maura berdiri diam di depan pintu kamar Kai. Sendy tak memperhatikan. Dia menyibukkan dirinya dengan sebatang coklat yang terus ia hisap dengan nikmat. Maura mengetuk pintu kamar Kai. Ia merasa Kai tidak ada di dalam kamar. Suasana sunyi ia dengar dan rasakan. Perkataan Tommy kembali menghantuinya.
    Kai membuka pintu dengan wajah menyeramkan. Rambutnya acak-acakan, matanya sembap, pakaiannya kotor, dan tubuhnya penuh luka gores. Maura melihat kebencian yang sangat besar ada dalam wajah Kai. Dalam sekejap, Kai meraih tangan Maura dan menutup pintu kamarnya.
    Maura ketakutan. Namun, apa yang ia takutkan adalah keadaan Kai bukan yang lainnya. Kai terus memegang tangan Maura dengan tatapan yang sama. Penderitaan terlihat jelas di wajahnya. Kegelapan kamar membuat Maura sedikit ketakutan. Maura takut gelap. Tanpa basa-basi, Kai melempar sepatunya menuju saklar. Lampu pun menyala. Maura merasa tenang. Keheningan kembali terasa. Kai masih memegang tangannya.
    “Kai. Aku tahu kamu memiliki masalah. Aku mohon jangan tinggalkan aku.” ucap Maura menahan tetesan air mata yang hampir keluar. Kai tidak menjawab apa-apa. Tatapan mata dan wajah yang sama sepanjang waktu. Ia juga tetap memegang tangan Maura.
    “Kai bicaralah padaku.” ucap Maura yang tidak dapat lagi menahan derasnya air mata yang ia tahan.
    Kai mendengus. Ia melepas pelan tangan Maura dan berbalik. Keadaan Kai tanpa busana membuat hati Maura meringis. Banyak sekali luka goresan yang ia lihat. Ada luka baru yang menyayat punggungnya dan darah masih keluar tanpa ragu. Kai menyadari Maura yang terlihat ketakutan. Ia meraih kemeja dan mengenakannya.
    “Kejadian apa yang kamu ingat?” tanya Kai dengan suara serak. Suaranya terdengar sangat lemah.
    “Aku mengingat ulang tahunmu.” jawab Maura dengan ekspresi tangis yang sama.
    “Jangan bohong! Aku tahu kamu mengingat dimana aku bersikap aneh dengan Tommy dan kelompoknya! Aku tahu Maura. Kenapa kamu berbohong! Kamu kira aku akan baikan setelah kamu mengatakan ulang tahunku yang bodoh itu. Kamu bodoh! Kamu mau merayakannya demi orang seperti aku. Kamu bodoh!” teriak Kai dengan penuh kesakitan. Suaranya semakin lemah. Segelas air putih kembali ia banting keras pada tatapan lantai yang kosong. Maura terkejut.
    “Kamu yakin akan tetap di kamar ini dan melihat orang gila sepertiku! Kamu benar-benar bodoh Maura!” tamparan kuat meluncur dan melukai wajah Maura. Maura kesakitan.
    “Berhentilah mengunjungiku. Berhentilah memanggilku. Berhentilah menyapaku. Berhentilah mengenalku. Berhentilah menganggapku ada di dunia ini. Aku sudah mati.” ucap Kai dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia menatap sinis Maura yang terus berharap padanya. Maura perlahan membuka pintu kamar Kai.
    “Kai. Aku akan pergi. Namun, biarkan aku memberimu sedikit pelukan.” pinta Maura memohon pada Kai. Kai tidak menggubrisnya. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat dan membuka pintu kamarnya dengan kasar.
    “Aku sudah tidak mengenalmu.” ucap Kai mendorong Maura sembari membanting pintunya dengan marah.
    Air mata yang membanjiri wajah Maura kini semakin parah. Ia sedih dengan perlakuan Kai. Sendy menyadari kejadian itu dan ia hendak membentak Kai tetapi Maura menahannya.
    “Sendy antarkan aku pulang.” ucap Maura dengan tangisannya yang menjadi-jadi. Sendy sedih dengan keadaan Maura. Ia menuntun Maura keluar dengan hati-hati.
    Kamar yang kembali gelap membuat Kai merasa tenang. Air mata perlahan keluar dari matanya.
    “Maafkan aku, Maura” ucapnya pelan sembari memegang dadanya yang terasa sakit akibat siksaan yang ia alami. Tubuhnya semakin lemah. Keadaan Kai benar-benar parah. Semua terlihat gelap untuknya dan kepergian Maura membuatnya semakin marah. Ia benci dengan dirinya sendiri. Kaca kembali ia sayatkan pada tubuhnya. Ia benar-benar membenci tubuhnya sendiri.

    Beberapa minggu berlalu.

    Hari-hari tanpa Kai memaksa Maura untuk tidak bahagia. Ia selalu melangkahkan kaki melewati rumah Kai tanpa mengunjunginya. Jadwal kunjungan yang mereka buat kini tidak berjalan dengan baik. Ia bertemu Tommy yang terlihat sangat bahagia berjalan melewati Maura.
    Tetesan hujan turun tanpa terduga. Ia tidak melihat satupun tempat untuk berteduh. Ia hanya menemukan rumah Kai.
    “Kak.” sapa Sendy yang tampak berbeda hari ini. Ia menyodorkan sebuah payung pada Maura.
    “Masuklah.” ajak Sendy dengan ramah.
    “Kamu berbeda Sen. Apa yang membuatmu tersenyum hari ini?” tanya Maura penasaran dengan perubahan adik Kai.
    “Aku menirumu, Kak. Aku merasa tenang disaat aku tersenyum. Ya, aku mencoba nyaman untuk bertahan di rumah menakutkan itu. Setidaknya berkat kak Maura aku bisa melakukannya dengan baik sekarang. Masuklah. Kai tidak ada di rumah.” ucap Sendy dengan tertawa. Ia menarik pelan tangan Maura dan membiarkannya duduk di atas sofa ruang tamunya.
    “Kak. Kau tidak merindukan Kai? Aku menemukan banyak hal padanya akhir-akhir ini. Dia sudah mau makan dan ia tidak lagi mengurung dirinya di kamar. Aku sebenarnya takut ada seseorang di luar sana yang sudah menggantikanmu. Namun, aku tidak menemukan orang itu. Ya, aku tetap berharap bahwa hubungan kalian akan berjalan selamanya.”
    “Aku senang mendengarnya. Aku juga senang dengan perubahanmu itu. Aku berharap kalian menjalin hubungan baik. Sendy panggilah dia kakak. Kamu tahu kan apa yang terjadi pada kakakmu? Aku mendengar bahwa kamu datang pada seorang guru psikolog. Apa yang ia katakan?”
    “Ah. Kakak selalu tahu apa saja. Kakak menderita agoraphobia. Agoraphobia adalah rasa cemas atau takut pada keramaian. Ya, aku bisa memahaminya. Itulah alasan Kai maksudku kak Kai bertingkah aneh selama ini. Setelah aku mengetahui kebenarannya, aku masih tetap membencinya.”
    Maura terkejut mendengar kebenaran itu. Keadaan yang seperti itu mampu Kai sembunyikan selama mereka menjalani masa pendekatan. Maura benar-benar tidak bisa berpikir panjang. Baginya, Kai sudah melakukan semua ini di luar batas wajar. Kenapa dia tidak mau mengakuinya?
    “Terima kasih Sendy kamu sudah percaya padaku. Aku akan pulang.” ucap Maura terhenti saat ia menginjak sebuah sepatu yang dikenakan oleh seseorang. Kai!
    Maura berjalan mundur dengan menunduk.
    “Maafkan aku, Kai. Aku akan pergi.” ucap Maura keluar dari rumah Kai dengan berlari kecil. Kai benar-benar tidak merindukannya. Namun, penampilan Kai sekarang benar-benar berubah. Ia menjadi lebih keren dan luka-luka itu tidak ada lagi di tubuhnya.
    “Maura!” teriak Kai membuyarkan lamunanya.
    “Aku ingin mengajakmu ke kafe tempat favorit keluargaku. Aku berharap kamu datang.” ucap Kai dengan langkahnya yang semakin dekat.
    “Kai kamu tidak marah?”
    “Ya. Aku sadar. Aku tidak bisa benar-benar tidak mengenalmu.”

      


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger