“Lihat Kai bodoh! Maura tahu sekarang!
Payah! Pengecut!” teriak Kai sembari membanting dirinya dengan keras di atas
ranjang. Ia benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya. Saat kepanikan
berhasil menggerogoti tubuhnya, ia menemukan sebuah pecahan kaca bekas gelas
yang ia pecahkan beberapa jam yang lalu. Kesadarannya benar-benar hilang.
Pecahan gelas itu dengan cepat merobek lengan dan wajah Kai. Ia menjadi gila.
Teriakan ia redam dalam gigitannya yang kuat pada sosok bantal pendamping
tidurnya.
Seperti biasa, kepulangan Sendy sama sekali
tidak Kai hiraukan. Ia mendengar pintu rumah terbuka dan hentakan kaki pelan
menuju deringan telepon genggam. Kai tidak peduli. Ia menghabiskan waktu
sepanjang hari dalam kegelapan kamar yang menjadi tempat favoritnya.
Kepulangan Sendy disapa baik oleh Maura
lewat deringan telepon yang membuyarkan keheningan dalam rumahnya.
“Sendy. Apa kamu sudah pulang? Apa kabar
dengan Kai?” tanya Maura dengan suara bergetar.
“Iya kak aku sudah pulang. Aku tidak tahu.”
balas Sendy malas membahas pembicaraan itu.
“Dia seharian di kamar. Aku tidak tahu
mungkin dia sudah mati di dalam sana.” lanjut Sendy saat ia tidak mendengar
suara apapun dari Maura.
“Baiklah. Terima kasih Sendy.” balas Maura
sedih sembari perlahan menutup kembali ganggang telefon yang terus ia pegang.
Sendy kesepian. Rumah kecil yang gelap
membuatnya tidak tahan. Kai adalah kakaknya. Namun, ia tidak merasa memiliki
kakak selama hidupnya. Ia terus menganggap Kai sudah meninggal walaupun ia
jelas-jelas ada bersamanya. Kesendirian yang mendalam membuat kaki Sendy
beralih menuju pintu rumah dan pergi lagi.
Matahari terlihat malu memberikan senyuman
pada penduduk bumi hari ini. Pagi yang berbeda. Hujan mengguyur deras tanpa
ampun pada daratan. Maura menunggu Kai datang. Hari ini adalah waktu kunjungan
Kai ke rumahnya. Ia memainkan tetesan air hujan yang membasahi pagar rumahnya.
Matanya terus waspada dan telinganya terus bersiap pada hentakan kaki yang akan
mendatanginya. Tap..tap.. Kai datang.
“Kak.” sapa seseorang yang tampaknya
mengecewakan Maura. Sendy datang ke rumahnya.
“Sendy? Masuklah.” balas Maura bersikap
dewasa tanpa menunjukkan rasa kecewanya.
“Aku tahu hari ini adalah waktu kunjungan
Kai. Seharian Kai tidak keluar dari kamar bahkan dia tidak menyentuh makanan
yang sudah kusiapkan. Aku sudah membuang makan siang dan makan malamnya. Kak,
aku akui aku memang tidak menyukai Kai. Namun, aku peduli padanya. Hari ini aku
membuang sarapannya lagi. Dan, seperti biasa. Aku mendengar suara teriakan
kecil dari kamarnya. Aku tidak tahu ada apa dengannya. Datanglah ke rumah, Kak.
Aku akan mengantarmu pulang nanti.” ucap Sendy dengan wajah datar. Maura
tertegun dan panik dengan keadaan Kai. Dia harus membantu Sendy mengetahui
keadaan Kai sebenarnya.
Perjalanan yang tidak sempurna terjadi hari
ini. Kecelakaan motor dan mobil terjadi. Semua orang panik. Darah terlihat
jelas membekas di tepi jalan. Hujan sepertinya enggan menghilangkan darah itu.
Ia membiarkan darah itu terus membekas supaya dapat menjadi pengingat bahwa
dalam berkendara butuh kehati-hatian. Maura teringat pada Kai. Kai terus
menyembunyikan sesuatu tentang dirinya. Namun, penderitaannya itu menjadi
pengingat bahwa ia tidak akan pernah bahagia.
Rumah dimana Maura melihat keanehan Kai yang
membuatnya panik telah di depan mata. Apakah Kai mau membukakan pintu itu
untuknya?
“Kakak ikut aku. Aku harap kakak mau
mengetuk kamarnya.” ucap Sendy memimpin jalan di depan Maura.
Maura perlahan-lahan melangkahkan kaki
dengan penuh ragu. Beberapa detik pun berlalu, sudah lama Maura berdiri diam di
depan pintu kamar Kai. Sendy tak memperhatikan. Dia menyibukkan dirinya dengan
sebatang coklat yang terus ia hisap dengan nikmat. Maura mengetuk pintu kamar
Kai. Ia merasa Kai tidak ada di dalam kamar. Suasana sunyi ia dengar dan
rasakan. Perkataan Tommy kembali menghantuinya.
Kai membuka pintu dengan wajah menyeramkan.
Rambutnya acak-acakan, matanya sembap, pakaiannya kotor, dan tubuhnya penuh
luka gores. Maura melihat kebencian yang sangat besar ada dalam wajah Kai. Dalam
sekejap, Kai meraih tangan Maura dan menutup pintu kamarnya.
Maura ketakutan. Namun, apa yang ia takutkan
adalah keadaan Kai bukan yang lainnya. Kai terus memegang tangan Maura dengan
tatapan yang sama. Penderitaan terlihat jelas di wajahnya. Kegelapan kamar
membuat Maura sedikit ketakutan. Maura takut gelap. Tanpa basa-basi, Kai
melempar sepatunya menuju saklar. Lampu pun menyala. Maura merasa tenang. Keheningan
kembali terasa. Kai masih memegang tangannya.
“Kai. Aku tahu kamu memiliki masalah. Aku
mohon jangan tinggalkan aku.” ucap Maura menahan tetesan air mata yang hampir
keluar. Kai tidak menjawab apa-apa. Tatapan mata dan wajah yang sama sepanjang
waktu. Ia juga tetap memegang tangan Maura.
“Kai bicaralah padaku.” ucap Maura yang
tidak dapat lagi menahan derasnya air mata yang ia tahan.
Kai mendengus. Ia melepas pelan tangan Maura
dan berbalik. Keadaan Kai tanpa busana membuat hati Maura meringis. Banyak
sekali luka goresan yang ia lihat. Ada luka baru yang menyayat punggungnya dan
darah masih keluar tanpa ragu. Kai menyadari Maura yang terlihat ketakutan. Ia
meraih kemeja dan mengenakannya.
“Kejadian apa yang kamu ingat?” tanya Kai
dengan suara serak. Suaranya terdengar sangat lemah.
“Aku mengingat ulang tahunmu.” jawab Maura
dengan ekspresi tangis yang sama.
“Jangan bohong! Aku tahu kamu mengingat
dimana aku bersikap aneh dengan Tommy dan kelompoknya! Aku tahu Maura. Kenapa
kamu berbohong! Kamu kira aku akan baikan setelah kamu mengatakan ulang tahunku
yang bodoh itu. Kamu bodoh! Kamu mau merayakannya demi orang seperti aku. Kamu
bodoh!” teriak Kai dengan penuh kesakitan. Suaranya semakin lemah. Segelas air
putih kembali ia banting keras pada tatapan lantai yang kosong. Maura terkejut.
“Kamu yakin akan tetap di kamar ini dan
melihat orang gila sepertiku! Kamu benar-benar bodoh Maura!” tamparan kuat
meluncur dan melukai wajah Maura. Maura kesakitan.
“Berhentilah mengunjungiku. Berhentilah
memanggilku. Berhentilah menyapaku. Berhentilah mengenalku. Berhentilah
menganggapku ada di dunia ini. Aku sudah mati.” ucap Kai dengan suara yang
hampir tak terdengar. Ia menatap sinis Maura yang terus berharap padanya. Maura
perlahan membuka pintu kamar Kai.
“Kai. Aku akan pergi. Namun, biarkan aku
memberimu sedikit pelukan.” pinta Maura memohon pada Kai. Kai tidak
menggubrisnya. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat dan membuka pintu kamarnya
dengan kasar.
“Aku sudah tidak mengenalmu.” ucap Kai
mendorong Maura sembari membanting pintunya dengan marah.
Air mata yang membanjiri wajah Maura kini
semakin parah. Ia sedih dengan perlakuan Kai. Sendy menyadari kejadian itu dan
ia hendak membentak Kai tetapi Maura menahannya.
“Sendy antarkan aku pulang.” ucap Maura
dengan tangisannya yang menjadi-jadi. Sendy sedih dengan keadaan Maura. Ia
menuntun Maura keluar dengan hati-hati.
Kamar yang kembali gelap membuat Kai merasa
tenang. Air mata perlahan keluar dari matanya.
“Maafkan aku, Maura” ucapnya pelan sembari
memegang dadanya yang terasa sakit akibat siksaan yang ia alami. Tubuhnya
semakin lemah. Keadaan Kai benar-benar parah. Semua terlihat gelap untuknya dan
kepergian Maura membuatnya semakin marah. Ia benci dengan dirinya sendiri. Kaca
kembali ia sayatkan pada tubuhnya. Ia benar-benar membenci tubuhnya sendiri.
Beberapa minggu berlalu.
Hari-hari tanpa Kai memaksa Maura untuk
tidak bahagia. Ia selalu melangkahkan kaki melewati rumah Kai tanpa
mengunjunginya. Jadwal kunjungan yang mereka buat kini tidak berjalan dengan
baik. Ia bertemu Tommy yang terlihat sangat bahagia berjalan melewati Maura.
Tetesan hujan turun tanpa terduga. Ia tidak
melihat satupun tempat untuk berteduh. Ia hanya menemukan rumah Kai.
“Kak.” sapa Sendy yang tampak berbeda hari
ini. Ia menyodorkan sebuah payung pada Maura.
“Masuklah.” ajak Sendy dengan ramah.
“Kamu berbeda Sen. Apa yang membuatmu
tersenyum hari ini?” tanya Maura penasaran dengan perubahan adik Kai.
“Aku menirumu, Kak. Aku merasa tenang disaat
aku tersenyum. Ya, aku mencoba nyaman untuk bertahan di rumah menakutkan itu.
Setidaknya berkat kak Maura aku bisa melakukannya dengan baik sekarang.
Masuklah. Kai tidak ada di rumah.” ucap Sendy dengan tertawa. Ia menarik pelan
tangan Maura dan membiarkannya duduk di atas sofa ruang tamunya.
“Kak. Kau tidak merindukan Kai? Aku
menemukan banyak hal padanya akhir-akhir ini. Dia sudah mau makan dan ia tidak
lagi mengurung dirinya di kamar. Aku sebenarnya takut ada seseorang di luar
sana yang sudah menggantikanmu. Namun, aku tidak menemukan orang itu. Ya, aku
tetap berharap bahwa hubungan kalian akan berjalan selamanya.”
“Aku senang mendengarnya. Aku juga senang
dengan perubahanmu itu. Aku berharap kalian menjalin hubungan baik. Sendy
panggilah dia kakak. Kamu tahu kan apa yang terjadi pada kakakmu? Aku mendengar
bahwa kamu datang pada seorang guru psikolog. Apa yang ia katakan?”
“Ah. Kakak selalu tahu apa saja. Kakak
menderita agoraphobia. Agoraphobia adalah rasa cemas atau takut pada keramaian.
Ya, aku bisa memahaminya. Itulah alasan Kai maksudku kak Kai bertingkah aneh
selama ini. Setelah aku mengetahui kebenarannya, aku masih tetap membencinya.”
Maura terkejut mendengar kebenaran itu.
Keadaan yang seperti itu mampu Kai sembunyikan selama mereka menjalani masa
pendekatan. Maura benar-benar tidak bisa berpikir panjang. Baginya, Kai sudah
melakukan semua ini di luar batas wajar. Kenapa dia tidak mau mengakuinya?
“Terima kasih Sendy kamu sudah percaya
padaku. Aku akan pulang.” ucap Maura terhenti saat ia menginjak sebuah sepatu
yang dikenakan oleh seseorang. Kai!
Maura berjalan mundur dengan menunduk.
“Maafkan aku, Kai. Aku akan pergi.” ucap
Maura keluar dari rumah Kai dengan berlari kecil. Kai benar-benar tidak
merindukannya. Namun, penampilan Kai sekarang benar-benar berubah. Ia menjadi lebih
keren dan luka-luka itu tidak ada lagi di tubuhnya.
“Maura!” teriak Kai membuyarkan lamunanya.
“Aku ingin mengajakmu ke kafe tempat favorit
keluargaku. Aku berharap kamu datang.” ucap Kai dengan langkahnya yang semakin
dekat.
“Kai kamu tidak marah?”
“Ya. Aku sadar. Aku tidak bisa benar-benar
tidak mengenalmu.”