Malam yang penuh debaran. Keadaan memaksa Maura
untuk tetap menenangkan debaran hati yang terus melayang. Kini, suara tapak
kaki yang melangkah tiba di hadapannya. Senyuman berhiaskan lesung pipit
berhasil Kai tampilkan dengan lihai. Maura tersenyum. Senyuman yang sudah lama
menari-nari di mimpinya kini telah benar-benar ada di depan matanya. Kemeja
hitam, celana jeans gelap, sneakers hitam, dan tatapan mata yang
menawan mampu Kai padukan dengan sempurna. Kaki diam Maura turut bahagia dengan
ketampanannya. Sentuhan lembut Kai membuatnya tunduk. Genggaman tangan yang
selalu Kai berikan tanpa ragu. Genggaman tangan yang ia rindukan. Minggu-minggu
tanpa Kai membuatnya sangat bahagia dengan kencan sederhana ini. Tunggu. Apakah
ini kencan?
“Maafkan
aku. Aku mengajakmu ke kafe yang baru saja dibuka. Aku..mm..bisakah kamu
melihat mataku?” tanya Kai sembari menatap wajah Maura dengan gagah. Maura
menengadahkan kepalanya dengan susah payah.
“Maura.
Keindahan matamu memang patut aku simpan dalam memoriku. Jujur saja, aku mm..”
wajah merah mewarnai wajah Kai dengan tiba-tiba. Suasana kali ini benar-benar
membuat keduanya membisu.
“Aku..argh!”
kepanikan meliputi Kai dengan cepat. Maura mengalihkan pandangannya. Banyak
orang datang dengan menggunakan gaun indah juga jas mahal dalam kafe ini. Acara
ulang tahun diselenggarakan tepat di sebelah meja mereka. Dengan cepat, Kai
berlari menuju pintu keluar kafe. Sebelum ia meraih ganggang pintu itu, ia
tidak bisa menerobos orang-orang yang jauh lebih besar darinya. Keringat tak
ragu keluar membanjiri tubuhnya. Kesakitan ia rasakan dengan kepanikan yang
terlihat di matanya.
Maura
menarik Kai menepi dan mengajaknya kembali duduk. Kai sangat panik. Wajahnya
pucat. Maura sedih dengan keadaan Kai. Ia mengarahkan kepala Kai tepat di
hadapannya. Maura mengenakan earphone
pada telinga Kai dan memainkan sebuah musik klasik yang ia suka. Beberapa
menit, Maura berhasil menenangkannya. Namun, tiba tiba seorang anak kecil
menabrak Kai sehingga earphone itu
terjatuh. Kepanikannya kembali membara tanpa ampun. Maura mengenakan hoodnya dan earphone yang ia bawa.
“Kai tirulah
aku.” ucap Maura menatap Kai dengan wajahnya yang manis. Salah satu pasangan earphone itu berayun dengan berharap.
Kai
tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Ia berusaha sekuat tenaga mengikuti Maura. Uh! Berhasil. Earphone yang berayun itu berhasil ia tancapkan tajam dalam
telinganya. Kai menelungkupkan tubuhnya dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
Keadaannya membaik setelah ia berhasil mendengarkan alunan musik yang
diperdengarkan oleh Maura. Beberapa menit berlalu, makanan telah tersaji dengan
lezat di atas meja mereka. Aroma menggoda membuat Maura tak menyadari tatapan
Kai yang terus ia tampakan dalam waktu yang lama.
“Maura.
Kenapa kamu melakukan ini? Kamu bahkan tidak malu dengan tingkahku?” tanya Kai
dengan wajah lelah bekas kepanikannya beberapa detik yang lalu. Maura
menawarkan makanan pada Kai. Kai menyantapnya. Ia benar-benar tidak menggubris
pertanyaan Kai. Senyuman wanita itu berhasil membuatnya bahagia. Ia baru
menyadari bahwa ada seorang perempuan manis yang benar-benar menghargai dan
mencintainya.
“Maura kamu adalah kekasih terhebat.
Terima kasih.” bisik Kai sembari menyantap lahap makanan di depannya. Maura
kepanasan. Ia tidak menduga Kai mengatakan hal itu. Kata-kata termanis yang
pernah ia dengar.
“Maura.
Jika kamu tidak cepat makan, aku bisa menghabiskannya dalam sepersekian detik.
Aku tahu kamu takjub padaku. Aku sadar bahwa diriku tampan. Tapi, sudahlah.
Matamu akan perih jika tidak berkedip.” ucap Kai sembari menyapu pelan mulut
Maura dengan tisu. Maura sangat malu.
“Hei.
Tatapan apa itu? Cepat bersihkan wajahku. Lihat, berkatmu wajahku memerah. Kamu
harus bertanggung jawab.” ucap Kai tersenyum dengan mempesona. Maura benar-benar
malu. Ia pun melepaskan earphonenya
dan memasangnya di sisi lain telinga Kai. Kai tertawa terpingkal telah berhasil
membuat Maura benar-benar merah.
Seorang
bayi tiba-tiba menghampiri mereka berdua.
“Kai,
bayi siapa itu?” tanya Maura dengan gemas. Matanya berkeliling berusaha untuk
mencari dimana orang tuanya berada. Maura terkejut melihat tingkah Kai
selanjutnya.
“Ow.
Kenapa menangis? Oh. Aku yakin orang tuamu disini. Mungkin saja mereka sedang
sibuk dengan acara itu. Tidak papa. Lihat, kakak cantik itu. Dia adalah
perempuan terbaik. Coba lihat matanya. Dia sangat cantik kan?” ucap Kai sembari
menggendong pelan bayi itu dan memainkan tangannya menuju kearah Maura.
Bayi
itu tertawa. Kai sangat manis saat ini.
“Dek,
kamu harus seperti kakak itu. Tidak peduli siapapun orang terdekatmu, kamu
harus menyayanginya. Lihat, sendok dan garpu saja berbeda. Garpu memiliki sisi
tajam di ujungnya. Namun, sendok itu mau menjadi pasangan si garpu. Jadilah
anak baik ya.” ucap Kai membuat bayi itu tertawa lebih keras.
“Cant..cant..ik.
Kakak..” ucap bayi itu membuat Kai dan Maura tertawa. Kelucuan si bayi membuat
suasana romantis ini benar-benar berarti.
Ibu
dari bayi itu datang dengan memohon maaf pada mereka.
“Dada..”
ucap Kai dengan manis sembari melambaikan tangan pada bayi itu.
Maura
hanya menatap Kai dalam diam. Kehangatan merambat pelan dalam tubuhnya.
Senyuman yang terus ia tampakan tak pernah merasa lelah untuk terukir. Wajah
Kai memerah padam. Maura tertawa puas melihat karma yang berbalik pada Kai.
“Ow.
Lihat, sang pangeran merubah warna wajahnya. Wajahmu sudah berubah seperti
bayi, Kai. Kamu memerlukan serbet? Manisnya.” ejek Maura sembari melipat tangan
dengan gemas. Kai menghela nafas. Ia tersenyum sebal dengan tiba-tiba menyuapkan
makanan ke mulut Maura.
“Ha-ha.
Diamlah. Aku mengakui. Kamu memang lebih pandai membuat orang kejang dibandingkan
aku.” ucap Kai membuat Maura menelan makannya dan menggerutu sebal padanya.
Kencan
panjang telah berakhir. Senyum terus terukir dalam wajah Kai.
Pecahan
kaca mengenai kakinya. Kai terkejut melihat berbagai benda yang ada di rumahnya
hancur berantakan. Kepanikan menguras senyumnya.
“Sendy.
Sendy!” teriaknya sembari berlari dari ruang ke ruang yang lain.
Malam
ini Sendy tidak pulang. Ia melangkahkan kaki keluar dan berjalan menuju rumah
teman adiknya. Kepanikan kembali menggerogoti tubuhnya. Rumah itu mengadakan
sebuah pesta. Mustahil baginya untuk berkunjung dan menanyai keberadaan Sendy.
Tok..tok..tok.. Pagi pun tiba.
“Aaah!”
teriak Kai. Mimpi buruk yang selalu ia jumpai tak kunjung lelah menemuinya.
Kepanikan kembali muncul dan keringat mengucur deras. Ketukan pintu yang
berirama berbeda membuat Kai mampu melawan kepanikannya. Ia berlari membuka
pintu rumah dengan wajah yang semakin pucat.
“Kak
Kai. Apakah ada Sendy? Dia berjanji ke rumah untuk berlatih. Aku sudah
menunggunya. Dia tidak datang. Apa Sendy baik-baik saja?” tanya Vito membuat
Kai terguncang. Kepanikan dan pemikiran yang tidak-tidak muncul dalam gambaran
pikirannya.
“Vito bisakah
kamu masuk seorang diri? Teman-temanmu membuat aku pusing.” ucap Kai berbisik.
Vito menuruti Kai dan membujuk teman-temannya untuk kembali.
Vito
menceritakan kejadian terakhir yang menimpa Sendy. Selama berlatih, Sendy
membawa ekspresi yang penuh kekecewaan. Mereka tidak bisa menemukan masalah apa
yang menimpa Sendy. Beberapa menit kemudian, ia memutuskan untuk pulang ke
rumah. Suara pecahan barang terdengar setelah itu. Vito mengetuk pintu rumah
Sendy dengan panik. Sendy tidak menjawab kepanikannya dengan baik. Ia benar-benar
mengusir Vito dengan kasar. Kai bingung dengan tingkah Sendy yang jarang-jarang
terjadi di sepanjang hidupnya.
Maura
datang tepat waktu. Dan seperti biasa, dia sudah mengetahui masalah ini.
“Vito.
Tolong kabari kami jika kamu menemukan sesuatu.” ucap Maura sembari memberikan
nomor teleponnya pada Vito. Kesepakatan untuk bekerja sama demi keselamatan
Sendy telah Vito setujui. Tatapan tajam Maura ia tujukan pada Kai sembari
meremas kedua lengannya.
“Kai.
Sendy adalah adikmu. Kita harus menemukannya. Ayo!” ucap Maura sembari menarik
tangan Kai. Kai menahan tangannya dengan kuat.
“Teman-temannya
pasti akan mencarinya. Kita tidak perlu pergi.” balasnya dengan keringat yang
kembali terjun.
“Kai.”
“Maura.
Jika kamu memaksa, kamu saja yang pergi!”
“Kai.”
“Apa!”
“Kai.”
ucap Maura sembari mengenakan hood
dan earphone yang sama seperti ketika
mereka berada di restoran beberapa jam yang lalu. Kai menegukkan ludah dengan
payah. Ia tidak bisa menolak permintaan Maura. Ini juga demi adiknya.
Maura
membantu Kai untuk membersihkan pecahan-pecahan barang yang mengotori rumah
Kai. Saat Maura menyelesaikan tugasnya, ia menemukan Kai sedang berdiam diri di
halaman belakang. Ia terlihat sangat stres. Maura tanpa ragu duduk di depannya
dengan keringat tipisnya.
“Kai.
Kamu tidak ingat disaat kamu menolongku? Kamu sudah berhasil membantuku untuk
tidak takut gelap.”
Flashback
Suasana rumah Kai benar-benar sunyi.
Kegelapan menyelemuti rumahnya. Petir menyambar dengan hebatnya. Kepanikan
keluarga membuat Maura berkeringat dan panik. Kai merangkul Maura dengan
lembut.
“Kegelapan mungkin menakutkan. Namun, lihat
ra. Kamu selalu menemukan cahaya.” ucap Kai sembari memperlihatkan sinar bulan
yang tertutup oleh tirai.
“Kamu tidak perlu takut gelap. Tuhan tidak
tidur, ra. Selama ada Dia, terang selalu ada di hidupmu.”
Kai
terkejut.
“Kamu tidak
perlu takut keramaian. Tuhan tidak tidur, Kai. Selama ada Dia, di tengah
keramaian pun kamu masih bisa merasakan pelukanNya.” ucap Maura membuat Kai
mengalihkan pandangannya.
Keheningan
berlangsung cukup lama. Tatapan kosong terus Kai sampaikan tanpa khawatir.
Genggaman tangan yang tiba-tiba menyambar pelan tangan Maura.
“Ya.
Aku akan mencari Sendy denganmu.” balas Kai membuat Maura berseri.
Maura
dan Kai melaporkan kehilangan Sendy pada pihak yang berwajib. Setelah laporan
itu disampaikan, mereka memasang foto Sendy di berbagai tempat yang
memungkinkan. Kai merasa pusing saat ia melihat berbagai kerumunan orang datang
untuk melihat foto adiknya. Maura dengan sigap menarik Kai menuju tempat sepi
dan menenangkannya.
Kelelahan
memeluk erat keduanya. Mereka tak menyadari bahwa mereka tertidur di bangku
taman kota.
Pagi yang cerah. Maura terkejut melihat Kai
yang tertidur di sampingnya. Dengan perlahan, Maura meletakkan kepala Kai di
atas bangku dengan nyaman. Kejadian tak terduga terjadi. Kai tersengal-sengal.
Ia mencari sesuatu dengan berlari dalam keadaan mata tertutup. Kemudian ia
terjatuh. Ia berteriak kesakitan. Teriakan yang menakutkan. Maura melihatnya
dengan diam. Keadaan yang benar-benar mengerikan. Nafas yang tersengal-sengal
terus ia dengar dari Kai yang kini kembali ke bangku dimana ia duduk. Kai
terbangun. Ia terkejut melihat Maura yang terlihat bergetar.
Maura
menghusap cepat kedua tangannya dan tersenyum.
“Se..selamat
pagi, Kai. Lihat, aku membawakanmu roti. Ayo makan bersama.” ucap Maura
tersenyum sembari menyembunyikan rasa takutnya.
“Maura
jangan munafik! Kamu merasa takut kan!” teriak Kai marah sembari menatap Maura
dengan tajam.
“Iya aku
takut.”
“Lalu,
kenapa sampai sekarang kamu terus bersamaku! Pulanglah! Pergi!”
“Kamu
selalu mencintai orang pengecut sepertiku. Bagaimana aku bisa membenci orang
yang mencintai kekuranganku?” teriak Maura kesal dengan Kai. Kali ini Maura
tidak boleh tutup mulut. Keadaan ini harus ia perbaiki dan ia selesaikan dengan
baik.
“Uh.
Kamu benar-benar pandai membuatku kejang, ra.” keluh Kai menyerah sembari
merebahkan tubuhnya dengan manja di atas bangku taman.
“Kenapa
kamu menyembunyikan semua ini? Bahkan Sendy pun tidak tahu keadaanmu. Kamulah
yang payah, Kai!” ucap Maura sembari menitikkan air mata yang dengan kasar ia
usap.
Kai
tidak menjawab apapun.
Suara
kaki mendekat terdengar semakin jelas. Sosok adik Kai muncul tak terduga di
depan mereka.
“Sendy!”
teriak Maura terkejut dengan wajah bahagia. Maura melihat sinis Kai yang hanya
menampilkan sikap cuek saat adiknya datang.
“Yo!”
sapa Kai setelah menyadari kelakuan Maura yang terlihat.
“Kak
Maura. Bilang padanya mulai saat ini tidak usah mencariku lagi. Aku tidak mau
serumah dengan orang seaneh dia. Ya. Orang aneh mana yang tega membiarkan
adiknya tidak terawat? Hanya Kai yang bisa melakukan itu. Aku lebih bahagia
dengan ayah.” balas Sendy sembari pergi meninggalkan keduanya. Kai terus
terdiam.
“Baiklah
aku pulang.” ucap Maura meninggalkan Kai dalam kekecewaan.
“Sendy!
Sejak kapan kamu membawa buku jurnalku? Sendy!” teriak Kai setelah adiknya
pergi menaiki mobil pribadinya.