photo by : Flickr   Malam yang penuh debaran. Keadaan memaksa Maura untuk tetap menenangkan debaran hati yang terus melayang. Kini, su...

Kai yang Manis #3

/
0 Comments
photo by : Flickr  
Malam yang penuh debaran. Keadaan memaksa Maura untuk tetap menenangkan debaran hati yang terus melayang. Kini, suara tapak kaki yang melangkah tiba di hadapannya. Senyuman berhiaskan lesung pipit berhasil Kai tampilkan dengan lihai. Maura tersenyum. Senyuman yang sudah lama menari-nari di mimpinya kini telah benar-benar ada di depan matanya. Kemeja hitam, celana jeans gelap, sneakers hitam, dan tatapan mata yang menawan mampu Kai padukan dengan sempurna. Kaki diam Maura turut bahagia dengan ketampanannya. Sentuhan lembut Kai membuatnya tunduk. Genggaman tangan yang selalu Kai berikan tanpa ragu. Genggaman tangan yang ia rindukan. Minggu-minggu tanpa Kai membuatnya sangat bahagia dengan kencan sederhana ini. Tunggu. Apakah ini kencan?
    “Maafkan aku. Aku mengajakmu ke kafe yang baru saja dibuka. Aku..mm..bisakah kamu melihat mataku?” tanya Kai sembari menatap wajah Maura dengan gagah. Maura menengadahkan kepalanya dengan susah payah.
    “Maura. Keindahan matamu memang patut aku simpan dalam memoriku. Jujur saja, aku mm..” wajah merah mewarnai wajah Kai dengan tiba-tiba. Suasana kali ini benar-benar membuat keduanya membisu.
    “Aku..argh!” kepanikan meliputi Kai dengan cepat. Maura mengalihkan pandangannya. Banyak orang datang dengan menggunakan gaun indah juga jas mahal dalam kafe ini. Acara ulang tahun diselenggarakan tepat di sebelah meja mereka. Dengan cepat, Kai berlari menuju pintu keluar kafe. Sebelum ia meraih ganggang pintu itu, ia tidak bisa menerobos orang-orang yang jauh lebih besar darinya. Keringat tak ragu keluar membanjiri tubuhnya. Kesakitan ia rasakan dengan kepanikan yang terlihat di matanya.
    Maura menarik Kai menepi dan mengajaknya kembali duduk. Kai sangat panik. Wajahnya pucat. Maura sedih dengan keadaan Kai. Ia mengarahkan kepala Kai tepat di hadapannya. Maura mengenakan earphone pada telinga Kai dan memainkan sebuah musik klasik yang ia suka. Beberapa menit, Maura berhasil menenangkannya. Namun, tiba tiba seorang anak kecil menabrak Kai sehingga earphone itu terjatuh. Kepanikannya kembali membara tanpa ampun. Maura mengenakan hoodnya dan earphone yang ia bawa.
    “Kai tirulah aku.” ucap Maura menatap Kai dengan wajahnya yang manis. Salah satu pasangan earphone itu berayun dengan berharap.
    Kai tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Ia berusaha sekuat tenaga mengikuti Maura. Uh! Berhasil. Earphone yang berayun itu berhasil ia tancapkan tajam dalam telinganya. Kai menelungkupkan tubuhnya dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Keadaannya membaik setelah ia berhasil mendengarkan alunan musik yang diperdengarkan oleh Maura. Beberapa menit berlalu, makanan telah tersaji dengan lezat di atas meja mereka. Aroma menggoda membuat Maura tak menyadari tatapan Kai yang terus ia tampakan dalam waktu yang lama.
    “Maura. Kenapa kamu melakukan ini? Kamu bahkan tidak malu dengan tingkahku?” tanya Kai dengan wajah lelah bekas kepanikannya beberapa detik yang lalu. Maura menawarkan makanan pada Kai. Kai menyantapnya. Ia benar-benar tidak menggubris pertanyaan Kai. Senyuman wanita itu berhasil membuatnya bahagia. Ia baru menyadari bahwa ada seorang perempuan manis yang benar-benar menghargai dan mencintainya.
          “Maura kamu adalah kekasih terhebat. Terima kasih.” bisik Kai sembari menyantap lahap makanan di depannya. Maura kepanasan. Ia tidak menduga Kai mengatakan hal itu. Kata-kata termanis yang pernah ia dengar.
    “Maura. Jika kamu tidak cepat makan, aku bisa menghabiskannya dalam sepersekian detik. Aku tahu kamu takjub padaku. Aku sadar bahwa diriku tampan. Tapi, sudahlah. Matamu akan perih jika tidak berkedip.” ucap Kai sembari menyapu pelan mulut Maura dengan tisu. Maura sangat malu.
    “Hei. Tatapan apa itu? Cepat bersihkan wajahku. Lihat, berkatmu wajahku memerah. Kamu harus bertanggung jawab.” ucap Kai tersenyum dengan mempesona. Maura benar-benar malu. Ia pun melepaskan earphonenya dan memasangnya di sisi lain telinga Kai. Kai tertawa terpingkal telah berhasil membuat Maura benar-benar merah.
    Seorang bayi tiba-tiba menghampiri mereka berdua.
    “Kai, bayi siapa itu?” tanya Maura dengan gemas. Matanya berkeliling berusaha untuk mencari dimana orang tuanya berada. Maura terkejut melihat tingkah Kai selanjutnya.
    “Ow. Kenapa menangis? Oh. Aku yakin orang tuamu disini. Mungkin saja mereka sedang sibuk dengan acara itu. Tidak papa. Lihat, kakak cantik itu. Dia adalah perempuan terbaik. Coba lihat matanya. Dia sangat cantik kan?” ucap Kai sembari menggendong pelan bayi itu dan memainkan tangannya menuju kearah Maura.
    Bayi itu tertawa. Kai sangat manis saat ini.
    “Dek, kamu harus seperti kakak itu. Tidak peduli siapapun orang terdekatmu, kamu harus menyayanginya. Lihat, sendok dan garpu saja berbeda. Garpu memiliki sisi tajam di ujungnya. Namun, sendok itu mau menjadi pasangan si garpu. Jadilah anak baik ya.” ucap Kai membuat bayi itu tertawa lebih keras.
    “Cant..cant..ik. Kakak..” ucap bayi itu membuat Kai dan Maura tertawa. Kelucuan si bayi membuat suasana romantis ini benar-benar berarti.
    Ibu dari bayi itu datang dengan memohon maaf pada mereka.
    “Dada..” ucap Kai dengan manis sembari melambaikan tangan pada bayi itu.
    Maura hanya menatap Kai dalam diam. Kehangatan merambat pelan dalam tubuhnya. Senyuman yang terus ia tampakan tak pernah merasa lelah untuk terukir. Wajah Kai memerah padam. Maura tertawa puas melihat karma yang berbalik pada Kai.
    “Ow. Lihat, sang pangeran merubah warna wajahnya. Wajahmu sudah berubah seperti bayi, Kai. Kamu memerlukan serbet? Manisnya.” ejek Maura sembari melipat tangan dengan gemas. Kai menghela nafas. Ia tersenyum sebal dengan tiba-tiba menyuapkan makanan ke mulut Maura.
    “Ha-ha. Diamlah. Aku mengakui. Kamu memang lebih pandai membuat orang kejang dibandingkan aku.” ucap Kai membuat Maura menelan makannya dan menggerutu sebal padanya.
    Kencan panjang telah berakhir. Senyum terus terukir dalam wajah Kai.
    Pecahan kaca mengenai kakinya. Kai terkejut melihat berbagai benda yang ada di rumahnya hancur berantakan. Kepanikan menguras senyumnya.
    “Sendy. Sendy!” teriaknya sembari berlari dari ruang ke ruang yang lain.
    Malam ini Sendy tidak pulang. Ia melangkahkan kaki keluar dan berjalan menuju rumah teman adiknya. Kepanikan kembali menggerogoti tubuhnya. Rumah itu mengadakan sebuah pesta. Mustahil baginya untuk berkunjung dan menanyai keberadaan Sendy.

    Tok..tok..tok.. Pagi pun tiba.

    “Aaah!” teriak Kai. Mimpi buruk yang selalu ia jumpai tak kunjung lelah menemuinya. Kepanikan kembali muncul dan keringat mengucur deras. Ketukan pintu yang berirama berbeda membuat Kai mampu melawan kepanikannya. Ia berlari membuka pintu rumah dengan wajah yang semakin pucat.
    “Kak Kai. Apakah ada Sendy? Dia berjanji ke rumah untuk berlatih. Aku sudah menunggunya. Dia tidak datang. Apa Sendy baik-baik saja?” tanya Vito membuat Kai terguncang. Kepanikan dan pemikiran yang tidak-tidak muncul dalam gambaran pikirannya.
    “Vito bisakah kamu masuk seorang diri? Teman-temanmu membuat aku pusing.” ucap Kai berbisik. Vito menuruti Kai dan membujuk teman-temannya untuk kembali.
    Vito menceritakan kejadian terakhir yang menimpa Sendy. Selama berlatih, Sendy membawa ekspresi yang penuh kekecewaan. Mereka tidak bisa menemukan masalah apa yang menimpa Sendy. Beberapa menit kemudian, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Suara pecahan barang terdengar setelah itu. Vito mengetuk pintu rumah Sendy dengan panik. Sendy tidak menjawab kepanikannya dengan baik. Ia benar-benar mengusir Vito dengan kasar. Kai bingung dengan tingkah Sendy yang jarang-jarang terjadi di sepanjang hidupnya.
    Maura datang tepat waktu. Dan seperti biasa, dia sudah mengetahui masalah ini.
    “Vito. Tolong kabari kami jika kamu menemukan sesuatu.” ucap Maura sembari memberikan nomor teleponnya pada Vito. Kesepakatan untuk bekerja sama demi keselamatan Sendy telah Vito setujui. Tatapan tajam Maura ia tujukan pada Kai sembari meremas kedua lengannya.
    “Kai. Sendy adalah adikmu. Kita harus menemukannya. Ayo!” ucap Maura sembari menarik tangan Kai. Kai menahan tangannya dengan kuat.
    “Teman-temannya pasti akan mencarinya. Kita tidak perlu pergi.” balasnya dengan keringat yang kembali terjun.
    “Kai.”
    “Maura. Jika kamu memaksa, kamu saja yang pergi!”
    “Kai.”
    “Apa!”
    “Kai.” ucap Maura sembari mengenakan hood dan earphone yang sama seperti ketika mereka berada di restoran beberapa jam yang lalu. Kai menegukkan ludah dengan payah. Ia tidak bisa menolak permintaan Maura. Ini juga demi adiknya.
    Maura membantu Kai untuk membersihkan pecahan-pecahan barang yang mengotori rumah Kai. Saat Maura menyelesaikan tugasnya, ia menemukan Kai sedang berdiam diri di halaman belakang. Ia terlihat sangat stres. Maura tanpa ragu duduk di depannya dengan keringat tipisnya.
    “Kai. Kamu tidak ingat disaat kamu menolongku? Kamu sudah berhasil membantuku untuk tidak takut gelap.”
   
    Flashback
    Suasana rumah Kai benar-benar sunyi. Kegelapan menyelemuti rumahnya. Petir menyambar dengan hebatnya. Kepanikan keluarga membuat Maura berkeringat dan panik. Kai merangkul Maura dengan lembut.  
    “Kegelapan mungkin menakutkan. Namun, lihat ra. Kamu selalu menemukan cahaya.” ucap Kai sembari memperlihatkan sinar bulan yang tertutup oleh tirai.
    “Kamu tidak perlu takut gelap. Tuhan tidak tidur, ra. Selama ada Dia, terang selalu ada di hidupmu.”
   
    Kai terkejut.
    “Kamu tidak perlu takut keramaian. Tuhan tidak tidur, Kai. Selama ada Dia, di tengah keramaian pun kamu masih bisa merasakan pelukanNya.” ucap Maura membuat Kai mengalihkan pandangannya.
    Keheningan berlangsung cukup lama. Tatapan kosong terus Kai sampaikan tanpa khawatir. Genggaman tangan yang tiba-tiba menyambar pelan tangan Maura.
    “Ya. Aku akan mencari Sendy denganmu.” balas Kai membuat Maura berseri.
    Maura dan Kai melaporkan kehilangan Sendy pada pihak yang berwajib. Setelah laporan itu disampaikan, mereka memasang foto Sendy di berbagai tempat yang memungkinkan. Kai merasa pusing saat ia melihat berbagai kerumunan orang datang untuk melihat foto adiknya. Maura dengan sigap menarik Kai menuju tempat sepi dan menenangkannya.
    Kelelahan memeluk erat keduanya. Mereka tak menyadari bahwa mereka tertidur di bangku taman kota.
     Pagi yang cerah. Maura terkejut melihat Kai yang tertidur di sampingnya. Dengan perlahan, Maura meletakkan kepala Kai di atas bangku dengan nyaman. Kejadian tak terduga terjadi. Kai tersengal-sengal. Ia mencari sesuatu dengan berlari dalam keadaan mata tertutup. Kemudian ia terjatuh. Ia berteriak kesakitan. Teriakan yang menakutkan. Maura melihatnya dengan diam. Keadaan yang benar-benar mengerikan. Nafas yang tersengal-sengal terus ia dengar dari Kai yang kini kembali ke bangku dimana ia duduk. Kai terbangun. Ia terkejut melihat Maura yang terlihat bergetar.
    Maura menghusap cepat kedua tangannya dan tersenyum.
    “Se..selamat pagi, Kai. Lihat, aku membawakanmu roti. Ayo makan bersama.” ucap Maura tersenyum sembari menyembunyikan rasa takutnya.
    “Maura jangan munafik! Kamu merasa takut kan!” teriak Kai marah sembari menatap Maura dengan tajam.
    “Iya aku takut.”
    “Lalu, kenapa sampai sekarang kamu terus bersamaku! Pulanglah! Pergi!”
    “Kamu selalu mencintai orang pengecut sepertiku. Bagaimana aku bisa membenci orang yang mencintai kekuranganku?” teriak Maura kesal dengan Kai. Kali ini Maura tidak boleh tutup mulut. Keadaan ini harus ia perbaiki dan ia selesaikan dengan baik.
    “Uh. Kamu benar-benar pandai membuatku kejang, ra.” keluh Kai menyerah sembari merebahkan tubuhnya dengan manja di atas bangku taman.
    “Kenapa kamu menyembunyikan semua ini? Bahkan Sendy pun tidak tahu keadaanmu. Kamulah yang payah, Kai!” ucap Maura sembari menitikkan air mata yang dengan kasar ia usap.
    Kai tidak menjawab apapun.
    Suara kaki mendekat terdengar semakin jelas. Sosok adik Kai muncul tak terduga di depan mereka.
    “Sendy!” teriak Maura terkejut dengan wajah bahagia. Maura melihat sinis Kai yang hanya menampilkan sikap cuek saat adiknya datang.
    “Yo!” sapa Kai setelah menyadari kelakuan Maura yang terlihat.
    “Kak Maura. Bilang padanya mulai saat ini tidak usah mencariku lagi. Aku tidak mau serumah dengan orang seaneh dia. Ya. Orang aneh mana yang tega membiarkan adiknya tidak terawat? Hanya Kai yang bisa melakukan itu. Aku lebih bahagia dengan ayah.” balas Sendy sembari pergi meninggalkan keduanya. Kai terus terdiam.
    “Baiklah aku pulang.” ucap Maura meninggalkan Kai dalam kekecewaan.
    “Sendy! Sejak kapan kamu membawa buku jurnalku? Sendy!” teriak Kai setelah adiknya pergi menaiki mobil pribadinya.
    “Tunggu. Itu bukan plat mobil ayah.”



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger