Depresi menyerang
tubuhnya dengan lembut. Kegundahan yang terjadi akibat kelalaiannya yang terus
menyakiti hati Sendy juga Maura membuat ia rela membuang waktunya untuk tidur
di atas ranjang sepanjang hari. Dengkuran keras ia lantunkan mengikuti irama
mentari yang tiba di permukaan bumi.
Matahari muncul dengan menakjubkan hari ini.
Otaknya kembali berputar sembari mengingat kembali keadaan adiknya, Sendy.
Beberapa menit ia habiskan manja di atas ranjang. Ketakjubkan terasa saat ia
sadar bahwa mimpi buruk itu sudah pergi. Dia tidak berteriak layaknya orang
tidak waras seperti di hari-hari sebelumnya. Bagaimana bisa?
Ketakjuban akan dirinya sirna seketika ingatan
tentang adiknya yang hilang kembali terulang. Ia harus segera menolong Sendy.
Namun, siapa yang bisa menolongnya? Maura. Hanya wanita itu saja yang bisa
melakukannya.
Kejadian di pagi yang menakjubkan ini
membuatnya lebih berani meraih kendali dan mendayungnya dengan percaya diri. Ia
harus menghadapi segala ketakutannya yang kelak akan ia temui di jalan-jalan
menuju rumah Maura. Dengan cepat, ia meraih earphone
dan hoodienya. Kai mengenakan
keduanya sembari menutup pintu rumahnya dengan perlahan. Langkah cepat ia
tapakkan.
Hari ini adalah hari ulang tahun kota.
Karnaval, bazar, dan berbagai pertunjukan ditampilkan dengan paduan yang
dramatis. Tatapan tunduk terus Kai tunjukkan sepanjang jalan. Bayangan-bayangan
orang yang melewatinya membuat tangannya menggigil. Seorang anak kecil terlihat
ketakutan melihatnya. Wajah Kai yang tak
tertutup hood membuat perempuan
berumur 6 tahun di depannya itu menangis. Orang tuanya tidak ada bersamanya.
Kai berjalan mendekat sembari membuka pelan hoodnya.
“Hai. Kenapa menangis? Dimana orang tuamu?”
tanya Kai sembari berpura-pura mencari orang tuanya dengan mata tertutup.
Gadis kecil itu terus melihat Kai dengan
mata yang berkaca-kaca.
“Kau takut denganku ya? Aku memang
menakutkan. Walau begitu, aku bisa membuatmu tertawa. Lihat.” ucap Kai sembari
bersiul dengan menggerakkan tangan gadis itu perlahan.
Tingkah manis Kai membuat gadis itu menari
kecil menuruti irama siulan yang ia nyanyikan.
“Gadis!” teriak seorang perempuan dewasa
sembari berlari kecil menuju anak kecil itu.
Ia adalah kakak dari gadis mungil itu.
“Maura?” sapa Kai sembari menatap Maura
dengan tatapan penuh kejutan.
Maura tersenyum melihat Kai yang kini berani
membiarkan tubuhnya menyapa orang-orang di sekelilingnya.
“Gadis. Lihatlah kakak tampan itu. Dia orang
yang sangat baik. Saat kamu merasa ketakutan, kakak itu membuatmu tersenyum
dengan cepat. Kamu harus memberikannya hadiah terbaik.” ucap Maura membuat
Gadis mengecup pelan dahi Kai dengan manis.
Wajah memerah terlukis indah di wajah
laki-laki berlesung pipi itu.
“Terima kasih, Maura. Kau tidak pernah mengecewakanku.”
ucap Kai dengan wajah penuh kelegaan.
Keheningan membuat Maura tak menyadari
kepergian Kai. Langkah perlahan terdengar yakin dari balik tubuhnya.
Kai memberikannya sebuah bunga tulip merah
yang menawan. Wajah merah padam terukir di wajah Maura dengan cepat. Tangan
kecil Gadis meraih pelan bunga yang Kai berikan. Setelah itu, Gadis meletakkan
bunga itu di atas daun telinga kakaknya dengan kecupan sayang yang menjadi
pelengkapnya. Kai tersenyum dengan memperlihatkan lesung pipinya yang terukir
sempurna.
Kepulangan Gadis membuat keduanya menepi ke
tepi jalanan yang jauh dari keramaian. Maura tampak manis hari ini. Rambutnya
ia biarkan terurai indah, ia memakai dress
sederhana selutut, dan flat shoes
berwarna kulit yang sangat menawan. Tatapan takjub berhasil Kai tunjukkan
dengan lihai. Wajah Maura kembali memerah. Tangan lembutnya memukul pelan
lengan Kai dengan mempesona.
“Kamu cantik, Maura.” puji Kai membuat Maura
tersenyum.
“Apa alasanmu datang? Aku yakin ada suatu
masalah serius yang membuatmu nekat menerobos keramaian itu.” ucap Maura
sembari menyimpan bunga itu di dalam sakunya.
“Sendy mendapatkan masalah besar. Setelah
kamu pulang kemarin, aku melihatnya membawa buku jurnalku. Kemudian ia menaiki
sebuah mobil dengan wajah penuh amarah. Parahnya, itu bukan mobil milik ayahku.”
ucap Kai sembari kembali mengenakan hoodnya.
“Itu tidak baik. Benar-benar tidak baik.”
gerutu Maura gemas mendengar berita buruk itu.
“Kita harus segera mencarinya, Maura. Ayo.”
ucap Kai sembari menarik pelan tangan Maura.
Maura tersenyum. Kai hari ini sangat
berbeda. Perbedaan yang membuat degup jantungnya berirama.
Perjalan panjang segera mereka tempuh. Waktu
yang terus berlari cepat membuat keduanya mengeluh.
“Kai. Jika kita mencari Sendy dengan
berjalan kaki, kita tidak akan bisa cepat menemukannya. Aku memiliki kendaraan
motor di rumah. Kau bisa mengendarainya kan?” tanya Maura memastikan kemampuan
Kai.
“Aku bisa. Ayo!” ucap Kai dengan yakin.
Mereka berbalik menuju rumah Maura dengan
membawa sepeda motor. Dengan cekatan, Kai menyalakan motor itu. Wushh!
Kepanikan
menyerang kedua tangan Kai. Kemacetan membuatnya semakin gelisah meskipun kaca
helm telah tertutup dengan sempurna.
“Kai. Jangan lihat apa yang ada di samping
kiri dan kananmu. Lihatlah ke depan. Ini semua demi adikmu. Lakukanlah dengan
ketangguhan hatimu. Kamu pasti bisa!” ucap Maura berbisik sembari menaikan
volume lagu dari ponsel Kai.
Anggukan mantap membuat Kai mengendarainya
dengan lihai.
Perjalanan yang tidak terhentikan terus
mereka lalui. Matahari semakin lelah untuk bersinar. Kegelapan meliputi
perjalanan dengan menakjubkan.
Sebuah ponsel berdering. Maura mengangkatnya
dengan cepat.
“Kak Maura. Aku sudah menemukan Sendy. Ia
berada tepat di sebelah gubuk ujung kota ini. Aku berhasil menyelamatkannya.
Namun, kami sekarang terjerat. Aku tidak bisa keluar dari sini. Cepatlah kesini
kak.” teriak Vito dengan kepanikan yang menjerat tubuhnya.
Ia bisa mendengar suara Sendy yang
kesakitan. Hal ini membuat tangan Kai memutar gas dengan nekat.
Tiupan angin yang kejam membuat keduanya
menggigil. Malam yang panjang di atas aspal membuat semuanya terlihat buram.
Kelelahan juga degupan hati yang tak terhentikan menambahkan lelah yang tak terduga.
Gubuk yang mereka idamkan telah terlukis indah di depan mata. Mereka segera
berlari menuju gubuk itu. Suasana sepi terlihat di gubuk itu. Maura dan Kai
mencari dengan berkeliling di seluruhnya. Suara motor yang menjauh terdengar
cepat oleh Maura. Seseorang telah membawa pergi Sendy dan Vito saat mereka
sedang panik mencari keduanya di dalam gubuk.
Kai marah. Maura menaiki motor dengan cepat.
Motor yang melaju kencang mampu Kai kendalikan. Kemarahan benar-benar menguasai
pikiran dan hatinya. Sendy harus cepat ia dapatkan.
Sebuah kayu yang terjatuh mengenai kepala
Maura. Helm kuat itu mampu melindungi kepalanya. Sebuah lesatan kuat Maura
lakukan menuju arah roda motor yang membawa Sendy pergi. Decitan keras
terdengar guna mempertahankan kestabilannya. Kai semakin lihai dalam
menghindari serangan musuh dengan berbagai benda yang terlempar kearahnya.
Dewi
fortuna benar-benar memihak mereka. Kai bisa menyusul motor itu dan menangkap
pencuri itu. Sendy dan Vito selamat.
Sebuah tangan terulur manis menuju Kai.
“Terima kasih kak.” ucap Sendy yang
tiba-tiba menjerit kesakitan akibat tekanan kuat yang Tommy berikan pada
lehernya.
Kai melangkahkan kaki dengan cepat sembari
mempersiapkan pukulan yang telah terkumpul baik di tangannya. Brmm!
Kerumunan orang dengan bunyi motor yang
memekakkan telinga membuat Kai kesakitan. Kepanikan dan ketakutan kembali
menggerogoti tubuhnya. Kesakitan yang sangat parah ia rasakan. Ia terpuruk
sembari membiarkan dahinya menyentuh tanah dengan kasar.
“Aku tahu kamu menginginkan adikmu. Tapi aku mohon. Janganlah bersujud di
hadapanku. Kau membuatku malu.” ejek Tommy membuat Sendy dengan keras menggigit
tangannya sembari memutar kaki ke belakang sehingga mampu membuat Tommy
terjatuh.
Suara memekakkan telinga itu
berangsur-angsur semakin keras. Tatapannya yang semakin gelap dengan kuat ia
tajamkan. Ia melihat Tommy perlahan-lahan mendekati Maura dengan tatapan keji.
Genggaman erat yang menyakitkan telah Tommy berikan paksa pada Maura. Kegelapan
juga nafas yang tak beraturan menyerang Kai tanpa ampun. Ia baru saja menyadari
bahwa earphone yang ia kenakan
terlepas.
Saat melihat Kai yang berusaha bangun, semua
teman Tommy dengan cepat kembali memainkan gas motor dengan suara yang lebih
keras. Ia terus berteriak guna memberikan kekuatan pada dirinya. Tangan Kai tak
mampu mengangkat tubuhnya. Tatapannya semakin gelap. Ia tidak bisa bertahan.
“Kau terus menyakitiku, ra. Kamu memang
perempuan yang tidak tahu diri! Kau terus membela lelaki payah itu.” teriak
Tommy sembari melempar keras tangan Maura.
Vito dan Sendy telah terkapar lemah setelah
diberikan perlakuan keras oleh kerumunan penjahat itu. Hal itu membuat keduanya
tidak bisa menolong Maura. Darah menetes perlahan dari pergelangan tangan perempuan
malang itu. Ia sangat ketakutan.
Langkah kaki tajam Tommy langkahkan menuju
ke arah Kai yang sekarat.
“Aku mohon kekuatan untuk hari ini.” ucap
Maura sembari menghela nafas. Maura menghadang jalan Tommy dengan tatapannya
yang ia garangkan. Kemarahan memenuhi wajahnya.
“Wow. Apa kau sekarang memamerkan
keberanianmu di hadapanku? Oh. Kau pernah bersumpah akan membuatku lemah jika
melihat dirimu yang sebenarnya. Baiklah. Ini akan menjadi tontonan yang
menarik. Ayo lakukan hal yang kau suka cantik.” ejek Tommy sembari melipat
tangan dengan keangkuhan yang melekat pada dirinya.
“Ya. Aku lemah di matamu. Namun, kamu akan
segera melihatnya. Kamu akan terpuruk di depan mataku. Aku sudah mengatakannya
Tommy. Aku tahu semua yang kau lakukan.” ucap Maura sembari mengeluarkan
sekuntum bunga berwarna indah yang ia keluarkan dari sakunya.
Kelakuan aneh Tommy tunjukkan di depan
teman-temannya. Ia berteriak histeris seketika Maura mendekatkan bunga itu di
depan wajahnya. Keringat menggerogotinya dengan hebat. Semua teman Tommy
terkejut dengan ekspresi penuh kekecewaan. Vito dan Sendy terkejut melihat
kelemahan lelaki jahat yang tidak tahu diri itu.
“Maura jauhkan itu! Argh! Aku mohon
jauhkan!” teriak Tommy dengan badannya yang bergetar. Kelembutan Maura
membuatnya kembali menyimpan bunga itu dengan perlahan.
Maura tak berkutik. Ia terus melihat Tommy
yang perlahan mulai tenang dengan keadaannya.
“Aku memberikanmu bunga hanya dalam
sepersekian detik. Dan, kamu sudah kesakitan layaknya orang gila. Apa kamu
tidak membayangkan keadaan Kai? Kamu memancingnya dengan waktu yang sangat
lama! Bahkan kau tambahkan penderitaannya dengan memperdengarkan suara motor
yang memekikkan telinga itu. Apa kau waras!” teriak Maura marah sembari menarik
kerah Tommy. Teman-teman Tommy berdiam tenggelam dalam muara penyesalan.
Suasana hening tak membuat mereka kembali ingin menyiksa Kai.
Tommy sangat malu. Tamparan keras ia arahkan
pada Maura sembari sadar bahwa tamparan itu berbalik lebih keras kearahnya.
“Dasar pengecut!” teriak Kai dengan langkah
tertatih-tatih berdiri di hadapan Maura.
Kemarahan Kai benar-benar membuat tangannya
terus menyakiti tubuh Tommy dengan gesit. Maura menahan Kai sembari membujuknya
untuk tidak lagi berhadapan dengan lelaki itu.
Suara mobil polisi kembali memekakkan
telinga Kai. Ia kembali terpuruk dan terjatuh tepat di bahu Maura. Vito dan
Sendy bergegas menangkap gerombolan itu dan menyerahkannya dengan penuh
kelegaan pada polisi. Keheningan kembali menyelimuti mereka dengan kehangatan
yang sempurna.
“Kak Maura kau memanglah yang terbaik.” puji
Vito sembari tertawa dengan Vito.
“Kau benar-benar hebat kak Maura.” ucap Sendy
membuat Maura tersenyum kecil sembari mengetipkan mata. Ia ingin janji Sendy
untuk meminta maaf pada Kai terjadi hari ini.
Sendy mendekati Kai dengan berhati-hati.
Tatapan lelah Kai tunjukkan tanpa henti. Senyuman kecil ia tunjukkan pada
adiknya yang telah ada dekat di hadapannya.
“Kak. Kau benar-benar menakjubkan. Aku
selalu meremehkan dan merendahkanmu. Aku memang membencimu kak. Aku tidak
menyukai sikapmu yang terus menyembunyikan penderitaan itu. Namun, kini aku
sadar memang tidak mudah mengatakan hal itu. Jika aku yang mengalaminya, aku
yakin kelak aku akan melakukan hal yang sama. Maafkan pemikiran sempitku.” ucap
Sendy sembari menghusap pelan matanya yang perlahan basah.
Kai merangkul dan mengetuk keras dahi Sendy
tanpa ragu.
“Akulah yang bersalah saat ini. Namun karena
kamu meminta maaf, aku merasa sedikit menang. Ya. Aku juga membencimu saat itu.
Kau dengan tiba-tiba mengatakan bahwa kau akan meninggalkan kakak aneh ini? Kau
sangat kejam.” protes Kai membuat ketiganya tertawa dengan bersamaan.
Sendy kembali merasa bersalah sembari menggaruk
pelan rambutnya. Pagi yang sama telah Kai
hadapi. Mimpi buruk itu sudah pergi. Ia memutuskan untuk membuka tirai yang
selama ini ia tutup tanpa bosan. Cahaya matahari yang hangat memasuki
ruangannya dengan menawan. Wajah Sendy muncul saat ia berbalik.
“Maura mencarimu.” ucap Sendy sembari
meletakkan tubuhnya dengan manja di atas ranjang Kai.
“Asal kau tahu kak. Aku selalu ingin
merasakan ranjangmu sepanjang hidupku. Dan, kini aku berhasil. Ha-ha” tawa
Sendy membuat suara dengkuran dengan cepat ia nyanyikan.
Getaran handphone
Kai terdengar.
“Halo.” sapa Kai sembari mengenakan pakaian
dengan rapi.
“Kemasilah barang-barang kalian. Ayah sudah
mengirim tiket pesawat untuk kalian berdua.” balas ayah Kai membuat Kai ragu
menekan ganggang pintu kamarnya.
“Tunggu. Ayah akan membawa kami kemana?”
tanya Kai dengan nada penuh kejutan.
“Ayah ingin kalian tinggal bersama ayah.
Keadaan menyulitkan ini membuat ayah terpaksa memberitahu kalian dengan
tiba-tiba.”
“Ayah kenapa secepat ini? Apa yang membuatmu
menginginkan kami pergi hari ini?” keluh Kai sembari membalas permintaan
ayahnya dengan kesal.
“Kai. Ayah tidak bisa lagi membiayaimu
disana. Saat ini, ayah terbaring di rumah sakit. Ayah mohon mengertilah.”
Kebimbangan akan permohonan pria itu membuat
Kai mengangguk.
Sebuah koper ia lemparkan sekenanya. Sendy
terkejut dengan dentuman bunyi yang mengejutkan. Saat melihat Sendy terbangun, ia
memutuskan untuk membicarakannya dengan baik bersama Sendy. Tatapan mata Sendy
yang mengantuk terus ia tunjukkan tanpa malu. Kai memukul keras kepala Sendy
dengan bantal sembari meneriakinya untuk segera pergi menuju ruang tamu.
“Hai.” sapa Kai sembari kembali takjub
dengan penampilan Maura.
Maura berhasil mengubah bunga tulip yang ia
terima menjadi hiasan rambut yang indah. Kemanisannya benar-benar terpancar
dengan menakjubkan.
Senyuman Maura membuat hati Kai melarang
keras dirinya untuk tidak lagi menyakiti perempuan itu. Tangannya mengepal erat
guna menangguhkan hatinya yang perlahan lemah akibat tatapan polos kekasihnya
yang terlihat bingung.
“Maura, mungkin ini terlalu cepat. Tapi, aku
harus melakukannya. Aku dan Sendy akan pergi hari ini. Kami akan kembali ke
rumah ayah dalam jangka waktu yang lama. Aku tidak bisa memberitahu keputusan
ayah padamu. Yang jelas, kami akan pergi hari ini. Namun, aku berjanji padamu.
Aku akan berkunjung.” ucap Kai sembari menundukkan wajahnya dengan lesu.
Senyum tak terlihat sedikit pun di wajah
tampannya.
Maura terkejut mendengar kabar buruk yang
tersampaikan dengan mudahnya dari bibir Kai. Kekecewaan merangkulnya dengan
erat sembari menahan semua kebahagiaan merebut wajahnya.
Sendy muncul sembari menghusap wajahnya yang
terasa lelah. Keheningan membuatnya duduk perlahan sembari menatap Maura dengan
seksama.
Maura tersenyum.
“Aku tahu. Berita yang menyedihkan ini
muncul tak terduga saat kau datang. Aku benar-benar tidak berdaya, ra.” ucap
Kai sembari menekan dahinya dengan keras.
Ia terisak. Air mata tak terduga keluar
tanpa ijin dari matanya. Sendy meneguk pelan ludahnya sembari menepuk pelan
Kai.
Maura terdiam.
“Aku tidak menyangka aku benar-benar berada
di posisi ini. Dimana aku harus meninggalkanmu demi orang tuaku. Maura aku
tidak berdaya. Aku tahu ini adalah tanggung jawabku untuk terus merawat orang
tuaku tetapi di sisi lain aku tidak mau meninggalkanmu, Maura. Setelah semua kejadian
itu terjadi, aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku karena tidak percaya
pada wanita sepertimu.” keluh Kai sembari terus meringis kecewa dengan air mata
yang terus berjatuhan menuju lantai berwarna coklat itu.
Sendy tertegun. Ia tidak bisa mengeluarkan
sepatah kata apapun. Maura memang sangat berharga untuk kakaknya.
“Kai. Aku senang jika kamu memprioritaskan
orangtuamu dibanding aku. Itu adalah perbuatan baik. Aku tidak menyesalinya.”
ucap Maura sembari duduk dekat dengan Kai.
Kai terus terlelap dalam kesedihannya.
Tubuhnya terus terbatuk. Air mata perlahan keluar dari mata Maura. Kesedihan
meliputi hati perempuan itu dengan hati-hati. Kai memeluk Maura perlahan. Dia
sangat menyesal telah meragukan Maura selama ini. Sendy ikut memeluk keduanya. Perpisahan memang berlangsung tak terduga.
Namun, hal itu memang harus dilakukan.
Kepergian Kai dan Sendy disapa baik oleh
senyum manis Maura. Keduanya telah berangkat sembari terbang menuju kota tujuan.
Tulip yang menjadi saksi akan ia jadikan sebagai kenangan berharga yang tak
terlupakan.
keep on writing!!! :)
BalasHapus