Ketegaranmu menerimaku perlahan membuat degup jantung ini terus menanti. Semua yang terlukis di wajahmu terkadang membuatku mati. Kemunaf...

Bayang Buram Berujung Pelukan #5 (ending)

/
0 Comments
Ketegaranmu menerimaku perlahan membuat degup jantung ini terus menanti. Semua yang terlukis di wajahmu terkadang membuatku mati. Kemunafikan bisa saja datang disaat waktu yang tak dinanti. Senyuman yang terukir halus di wajahmu telah lambat laun menjawab kegundahan hati. Keikhlasanmu untuk menerima tubuh ini memang memanjakan sendi. Terima kasih atas senyummu yang selama ini berarti. Kelak kupastikan penghargaanmu akan kuberi. Tunggu aku wahai bidadari.
                                            Kai.


    “Selamat ulang tahun kak Maura!” teriak Natal, adik Maura, dengan bersemangat.
    Gerombolan balon berwarna merah maroon membuat kamar Maura terasa sesak. Senyum terukir malas di wajah Maura. Kekecewaan tergambar sempurna di wajah adiknya. Kelembutan hati membuat Maura memamerkan senyum lebarnya yang menawan pada Natal. Mata yang bersinar terpancar indah dari mata adiknya. Ia terlihat sangat bahagia dengan hari ulang tahun kakaknya.
    “Kak, 3 bulan sudah berlalu. Aku yakin kak Kai datang.” ucap Natal sembari memijat pundak Maura yang lelah. Maura membalasnya dengan tawa dan terus menyangkal dirinya bahwa dia tidak mengharapkan apapun dari Kai. Kai lebih baik tinggal bersama ayahnya daripada terus jauh dari orang tuanya. Keadaan Kai harus benar-benar dipahami baik oleh ayahnya. Makam ibunya juga ada di kota itu. Maura tidak mengharapkan apapun dari Kai.
    “Dek, kakak kangen sama kak Kai.” keluh Maura sembari memeluk manja tubuh adiknya.Ugh! Maura ternyata tidak bisa terus mengabaikan rasa rindunya.
    Perayaan ulang tahun akan diadakan secara informal di sebuah restoran dekat rumah mereka. Wajah murung Maura membuat keluarganya terus berupaya memberikan lelucon terbaik untuknya. Maura berhasil dilumpuhkan. Ia kini tertawa layaknya Maura yang sebenarnya.
    Jam 12 siang telah memaksa mereka untuk segera berangkat menuju tempat makan yang dinantikan. Perjalanan yang tidak mendukung membuat keluhan-keluhan kecil terdengar jelas dalam mobil. Maura menatap kaca mobil dengan menabahkan hatinya. Seorang bapak terjatuh dari motor tepat di depan matanya. Maura terkejut sehingga ia membuka pintu mobil tanpa berkutik. Perlahan Maura semakin tercengang sembari membawa lelaki tua itu menepi jauh dari kerumunan.
    “Maura?” sapa lelaki tua itu yang ternyata adalah ayah Kai. Tubuhnya yang terus tercengang membuat mulutnya tak berkutik. Seluruh keluarga Maura memberikan pertolongan sempurna padanya. Tubuh Maura terus terdiam dengan pikiran-pikiran yang tidak memungkinkan. Senyum terukir jelas dalam wajah sosok ayah Kai itu sembari mendekati Maura.
    “Kamu Maura kan? Wah. Terima kasih ya sudah menemaninya selama ini. Apa ini ulang tahunmu?” ucap om Ravi sembari menepuk pelan pundak Maura yang terlihat bingung.
    “Ah iya om. Kai menceritakan banyak hal tentang om. Maaf om tingkah saya memang benar-benar terkejut bisa bertemu dengan om hari ini.” ucap Maura sembari menyembunyikan tangannya yang terus bergetar di belakang tas selempangnya. Senyuman terus terukir di keduanya. Percakapan panjang membuat matahari semakin memamerkan kekuatan panasnya. Perjumpaan membuat perjalanan menuju restoran berjalan semestinya. Ejekan kecil dari Natal membuat Maura menutup mulut adiknya dengan paksa. Gelitikan kecil ia arahkan tepat di perut adiknya. Keheningan kembali meliputi mobil itu dengan sempurna.
    Restoran telah menyapa baik keluarganya. Keramaian membuat Maura semakin mengingat Kai disaat kencannya. Ia terus menyangkal keinginan hatinya untuk bertemu dengan lelaki itu. Keadaan yang mencengangkan kembali terjadi. Sapaan tak terduga datang dari belakang tubuhnya.
    “Sendy?” ucap Maura membuat tubuhnya semakin bergetar. Apakah mereka benar-benar sudah kembali?
    Rangkulan hangat ia berikan pada Maura dengan tawa yang menjadi khasnya. Natal terkejut melihat kehadiran Sendy. Kebersamaan Natal bersama Sendy yang berangsur lama membuat mereka kini menjadi sahabat. Pelukan hangat juga diberikan pada Natal dengan lihai. Hati Maura kembali memaksa tubuhnya mendekat dan bertanya tentang lelaki yang ia rindukan. Namun, ia tetap menyangkal keinginan hati yang terus membuat tubuhnya bergetar hebat.
    “Kau sedang apa disini? Apa kakak sedang merayakan ulang tahun?” tanya Sendy dengan mata yang perlahan membulat dengan hebat. Senyuman dibalas cepat oleh Natal. Percakapan yang menggelikan antara Natal dan Sendy membuat Maura mampu menghindarkan perasaan penasaran yang terus mengetuk bibirnya untuk terbuka. Perpisahan kembali tejadi diantara ketiganya. Kelemahan hati membuatnya payah melangkah mendekat meja makan keluarganya. Degupan jantung ini benar-benar memberikan reaksi yang hebat.
    “Hai.” suara lelaki berbisik dekat dengan telinga Maura. Degupan hati membuatnya benar-benar tak berkutik. Ia mengalihkan pandangannya dengan cepat. Astaga.
    “Titi. Wah kamu datang.” seru Natal membuat kekecewaan serta gerutuan Maura terdengar jelas. Keadaan yang terjadi membuat seluruh keluarganya tertawa geli. Maura tidak sedang ingin berstand up comedy. Beberapa menit telah berlari dengan cepat. Hidangan lezat telah tertata dengan menawan di atas meja berhiaskan vas bunga tulip yang kembali membuatnya teringat. Tulip-tulip yang berwarna-warni membuat perayaan ini terasa romantis. Suapan perlahan Maura luncurkan dalam mulutnya. Obrolan-obrolan yang terdengar membuat bibir Maura benar-benar terkunci akan rasa penasaran yang menyambar hebat.
    “Kamu cantik, Natal.” puji Titi pada Natal sembari memberikan sekuntum tulip merah yang kembali mengingatkan Maura.
    “Aku ke toilet dulu.” keluh Maura membuat kakinya beranjak dengan kesal menuju kamar mandi yang berada jauh di belakangnya. Wajah lesu ia tunjukkan dengan baik. Ia tidak memiliki gairah untuk menjalani hari istimewanya ini. Keadaan terus memaksa matanya untuk kembali tercengang.
    Air keran tiba-tiba mengucur deras menuju wajahnya. Ia semakin sebal. Maura mematikan keran itu dengan paksa sembari meraih tisu. Ia benar-benar terlihat kacau. Kaca yang menjadi saksi kekecewaannya terus memandangnya tanpa bosan. Bibir yang menggerutu, tatapan wajah datar, dan rambutnya yang basah membuat hatinya semakin kesal pada hari yang sangat istimewa ini.
    Langkah perlahan ia lantunkan dengan berirama. Suasana keramaian restoran membuatnya kembali mendengus. Perayaan ulang tahun yang benar-benar membuat wajahnya tidak bisa mengukir senyuman dengan menawan. Suara musik menggetarkan telinganya. Kepayahan wajah yang ia rasakan membuatnya malas untuk berbalik.
    Ia duduk dengan terus menatap kaca kecil yang ada di depannya. Wajahnya sudah terlihat lebih baik. Tampilan keluarga membuat Maura kembali mendengus. Mereka terus menatap Maura tanpa berkutik. Ia berbalik dan tidak menemukan apa-apa.
    “Lagu ini ditujukan untuk Maura. Perempuan yang memakai gaun sederhana berwarna maroonitu. Selamat menikmati.” ucap seseorang yang entah siapa.
    Maura malas melihat seseorang yang akan membuatnya tercengang hari ini. Lagu ‘Kesempurnaan Cinta’ dinyanyikan dengan baik oleh penyanyi handal itu. Sedakan yang tiba-tiba menyerang tenggorokannya membuat tangannya terulur cepat menuju air putih yang langsung ditegukkannya dengan sembarangan.
    Maura berbalik. Ia harus menghargai penampilan penyanyi itu.
    Deg!
    Ya. Hal ini kembali terjadi. Kini ia mendengar suara penyanyi itu tetapi ia tidak sedang ada di tempat para pemusik itu berlagu. Payah. Maura berbalik sembari kembali menyantap makanan sebelum tangannya perlahan terangkat lembut oleh seseorang.
    “Selamat ulang tahun.” ucap Kai sembari tersenyum manis. Senyuman yang kembali membuat wajahnya menawan. Lesung pipit itu terus memaksa hatinya untuk berteriak kagum. Kai telah ada di depannya. Dan, apa Kai baik baik saja dengan situasi ricuh seperti ini? Keramaian dan tepuk tangan meriah tak membuatnya kembali panik. Maura tidak menemukan sepasang earphone di telinga Kai. Ia juga membiarkan ekor matanya melihat sekelilingnya dengan menakjubkan. Apa Kai memaksa tubuhnya untuk melakukan ini?
    Tangan Maura menggeret pelan Kai menuju belakang restoran. Situasi yang membuat Kai ketakutan.
    “Eh. K..kau kenapa?” tanya Kai sembari meneguk pelan ludahnya setelah melihat wajah Maura yang sangat jelek.
    “Kau benar Kai? Eh. Kau bisa bernyanyi dengan santai di kerumunan itu? Dan, sekarang kamu merasa nyaman mendengar keramaian lalu lintas ini. Apa kau alien yang menyamar menjadi Kai?” ucap Maura yang sangat bingung. Tawa menggelegar Kai luncurkan sembari memegang perutnya dengan kesakitan.
    “Haha. Maura aku sudah bisa menghadapi phobia ini berkatmu. Ya. Selama berbulan-bulan ini aku menjalani terapi di kota ayahku. Dan, ternyata terapi itu berhasil dan aku bisa bertidak selayaknya orang normal pada umumnya. Namun, aku tidak mengatakan bahwa aku benar-benar sembuh. Aku pasti akan merasakan panik di waktu-waktu yang tidak terduga. Hanya saja tidak sesering dulu.” jelas Kai sembari menutup pelan mulut Maura yang sedari tadi menganga.
    Maura tak bisa berkutik. Tatapan mata ingin pelukan ia tujukan manja pada Kai. Namun, Kai tidak peka.
    “Maura. Eh. Kenapa wajahmu itu? Aku tampan? Terima kasih. Kau juga cantik Maura. Oh. Aku punya sesuatu.” ucap Kai membuat Maura kembali menunjukan wajah datarnya. Sebuah bukuhandmade berwarna merah muda dengan hiasan pita putih yang Kai berikan membuat Maura semakin tercengang.
    “Aku tidak tahu hadiah apa yang pantas kuberikan padamu. Namun, aku yakin kamu senang membaca buku ini. Ya. Ini adalah perasaanku yang selama ini tidak bisa terucap selama menghadapi fobia juga kesabaranmu. Ya. Aku harap kamu menyukainya. Oh ya. Kuberikan tulip sesuai dengan warna bajumu. Ah. Mbak bisa minta tolong fotokan kami?” ucap Kai tanpa jeda dan membuat Maura hanya bisa menatap kagum dirinya.
    Arah kamera menunjukkan kesiapannya di arah mereka. Pose lucu Kai tunjukkan. Maura berpose selayaknya orang normal dengan sikap biasa. Kai menggerutu melihat Maura yang berpose dengan malas. Senyum manis telah membuat foto keduanya terasa romantis.
    “Kau sengaja memberi kejutan? Kai kaulah yang pandai membuat orang kejang. Lihat! Kamu sangat tampan. Kenapa tak memberitahuku jika kau berkunjung. Aku terkejut melihat ayahmu yang terjatuh di depan mataku dan adikmu yang tiba-tiba memelukku. Dan, sekarang kamu memberikan kejutan. Ah. Aku bingung.” ucap Maura yang kini semakin tercengan setelah ia menyadari pelukan hangat Kai yang tiba-tiba.
    Kai melepas pelukannya dan memegang lembut lengan Maura.
    “Maura. Kejutanmu selama hidupku jauh lebih menakjubkan dibandingkan hadiah ini. Setiap malam, aku selalu mengutuk diriku bahwa tidak ada satupun orang yang menyayangi kekuranganku. Namun, Sendy, Vito, Natal, keluargaku, keluargamu, dan kamu mengubah kutukan itu perlahan. Dan, lihat. Tanpa kalian aku tidak bisa berubah seperti ini. Maura selama ini kamu selalu membelaku di depan Tommy. Itu sangat berharga. Bahkan hadiah ini tidak bisa membalas kebaikanmu. Uh. Perpisahan lalu membuatku benar-benar terpuruk. Aku selalu merasa lemah setiap kali aku menunjukkan kekuranganku padamu. Ya. Aku memang payah Maura. Namun, semua berubah. Kini aku akan tetap ada dan aku akan menujukkan padamu. Kai bisa melindungimu walaupun ia dalam penderitaan phobia sekalipun. Dan, akan selalu ada di depan matamu.” ucap Kai sembari berjalan pergi dari hadapan Maura. Keadaan yang tiba-tiba menggertak keras hatinya membuat matanya terbelalak hebat.
    “Kai, kamu tidak pergi lagi?” ucap Maura sembari menahan tangannya untuk berteriak.
    Senyuman dengan lesung pipi yang menawan berhasil Kai tunjukkan dengan mempesona. Maura sangat senang. Tetesan air mata kehagiaan menghiasi wajahnya. Langkah pasti ia langkahkan dengan penuh keyakinan. Kebagiaan bersama keluarganya juga keluarga Kai membuat pesta ulang tahun ini mampu meraih gelar kebanggaan.




Kecintaan pada seseorang membuat segala kekurangan tampak memalukan. Semua dapat terkalahkan oleh sebuah kebanggaan. Rasa bangga akan seseorang dengan pelukan. Pelukan yang terus datang tak terhentikan. Saatnya nanti sebuah tetesan air mata akan keluar tak tertahankan.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger