Selama
dua tahun, Alex sudah menjalin hubungan
dengan perempuan bernama Adven. Di sepanjang perjalanan, mereka selalu ditimpa
berbagai masalah yang melanda. Dan, permasalahan kali ini berkaitan kuat dengan
sahabat mereka. Sejujurnya, mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan
permasalahan baru itu.
Kebiasaan lama yang kulantunkan membuatku
harus menjemput Adven. Aku tidak akan pernah tega melihatnya menempuh
perjalanan jauh dengan kakinya. Jarak antara rumah dan universitas sama sekali
tidak dekat.
Suara
klakson motor aku ajukan sembari menampilkan senyuman pada wajah manis
kekasihku.
Aku
lantas turun dari motor sembari sungkem
pada kedua orang tuanya. Wajah penuh kegembiraan terukir indah di keluarganya.
“Pagi,
Tante.” sapaku sembari tersenyum pada ibunya, tante Fifi.
“Selamat
pagi, Alex. Mari masuk dulu.” ucapnya sembari membuka pelan pintu rumah dengan
menawan.
“Terima
kasih, Tante. Kami harus berburu waktu.” ucapku sembari bersiap di atas motor.
Lambaian
tangan penuh kehangatan tergambar jelas di wajah ibunya.
“Jangan
jadikan hari ini sia-sia diantara kalian berdua.” ucap tante Fifi sembari
mencium lembut dahi Adven.
Putaran
lembut tangan yang aku berikan membuat motor ini berjalan dengan lamban.
“Alex.
Aku merasa tidak enak hari ini.” keluh Adven sembari memasukkan tangannya lebih
dalam di kantong jaketku.
“Sakit?”
tanyaku singkat sembari terus fokus pada jalan.
“Aku
merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Aku takut.” ucap Adven sembari meletakkan
wajahnya di atas punggungku.
Tegukan
kuat aku jatuhkan. Perasaan buruk Adven selalu terjadi secara nyata di
universitas mereka. Keburukan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Mereka
telah sampai dengan selamat di tempat parkiran idaman. Suara langkah kaki
terdengar jelas menujuh arah kami. Aku mengalihkan pandanganku dan menatap
lelaki yang tidak asing itu. Dia sahabatku, Xander.
“Lex.
Aku ke kelas dulu.” ucap Adven sembari pergi dari motorku.
Aku
terus menatap lelaki itu tanpa bergerak sedikit pun. Tatapan datar terus
kuajukan sembari menunggu kata-kata yang kelak akan keluar dengan lugas dari
mulutnya.
“Selama
kamu bersama Adven, aku merasa kamu sudah tidak pernah lagi bermain di
lapangan. Apakah semua kenangan bersama kami berhasil kamu hapuskan semenjak
keberadaanmu dianggap baik oleh Adven? Aku yakin kamu tidak tahu kabar mengenai
Dion. Dia kalah di pertandingan futsal kemarin. Aku tidak melihat wajahmu di
stadion.” ucap Xander sembari terus mendekatiku dengan wajah penuh amarah.
Tegukan
kuat kembali aku jatuhkan. Aku terkejut mendengar berita yang tidak aku dapat
selama ini. Hal ini tidak biasa terjadi. Berita mengenai info lomba atau
pertandingan selalu muncul tepat waktu dalam ponselku. Aku sangat terkejut.
“Dulu,
kamulah orang yang selalu tahu mengenai perlombaan itu. Semenjak kamu bersama
Adven, kamu berubah drastis! Sepenting itukah Adven daripada teman-temanmu
sendiri!” teriak Xander sembari menjatuhkanku dari motor.
Luka
pada sikut dan lenganku telah terukir sempurna sehingga membuat wajahnya sangat
bahagia.
“Aku
minta jangan libatkan Adven dalam masalah ini. Cukup aku saja yang bisa kamu
salahkan. Bukan dia.” ancamku sembari beranjak dan mengepal erat tanganku
dengan amarah yang telah menggebu-nggebu.
“Kamu
mau menonjok wajahku? Silakan! Aku tidak takut dengan pengkhianat sepertimu!”
teriak Xander sembari terus melangkahkan kakinya mendekatiku.
“Nak, perkelahian tidak cocok untukmu. Kamu
adalah anak yang cerdas. Kamu mampu mengalahkan musuhmu dengan pemikiranmu yang
luar biasa itu. Namun, ayah minta jangan lukai orang-orang yang melukaimu. Ayah
tahu kamu adalah anak yang baik.”
Ucapan ayahku yang terngiang secara tiba-tiba
membuatku tak memiliki kesempatan untuk menghindari lesatan pukulan yang Xander
berikan. Tonjokan yang menimbulkan lebam di pipiku membuat amarahku kembali
terulang.
Suara
ayahku yang terus menggema membuat tubuhku terus merasakan kesakitan akibat
pukulannya. Aku terpuruk. Semua tubuhku memar. Aku terbatuk. Setetes darah keluar
perlahan dari mulutku dan hidungku. Aku benar-benar kesakitan.
“Aku
ingin kamu putus dengan Adven!” ucap Xander sembari mengulurkan tangannya tepat
di depan wajahku.
Aku
tidak menggubris tangannya dan memilih untuk berdiri sendiri tanpa bantuannya.
Aku lantas membawa tasku sembari berjalan dengan payah menuju kelas yang belum
terlihat.
“Lex,
aku sadar kamu bukanlah teman yang baik. Ingat! Sahabat lebih penting daripada
cinta basimu itu! Aku akan memastikan bahwa semua temanmu akan menyerangmu
nanti. Jika kamu mengabaikan perkataanku ini, aku tidak segan-segan meneror
Adven sepanjang malam. Ingat itu!” teriak Xander sembari menabrak tubuhku.
Kemarahan
terus merenggutku tanpa ampun. Aku ingin bisa memukul wajahnya supaya ia mampu
menarik kata-katanya. Ah. Aku memang
lelaki payah.
Saat
aku berhasil sampai di lorong universitas, aku melihat Adven. Semua foto yang
ada di dompetnya telah dirobek dengan sembarangan sehingga mengotori seluruh
tempat.
“Adven,
aku sudah meneleponmu kemarin! Aku membutuhkan artikelmu dengan cepat! Mereka
mencarimu untuk wawancara. Kenapa kamu tidak datang! Aku yakin kamu terus
menghabiskan waktumu untuk berpacaran dengan Alex kan? Lihat, aku tidak bisa
lulus ujian praktek karena kamu! Kita satu tim. Namun, keegoisanmu membuatku jatuh
sekarang!” teriak Tiara salah satu teman Adven.
Kemarahan
kembali menggeliat liar di dalam tubuhku. Aku sama sekali tidak menghabiskan
waktu dengan Adven kemarin. Apa yang membuat mereka terus membuat suatu berita
yang tidak benar seperti itu? Sial.
“Aku
tidak tahu. Aku ditugaskan wawancara di sebuah sekolah dan menyiarkan berita di
radio kemarin.” bela Adven dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kamu
harus putus dengan Alex! Atau, aku pastikan kamu akan keluar dari universitas
ini. Jangan macam-macam denganku.” teriaknya sembari mendorong Adven dan
membuatnya jatuh.
Air
mata perlahan membasahi pipinya. Aku heran dengan dunia ini. Mengapa hubunganku
seakan-akan tidak pernah disetujui dengan baik? Aku tidak pernah merasakan
kebahagiaan selama menjalin hubungan ini. Namun, kenapa aku masih kuat
mencintainya.
“Alex.
Kamu kenapa?” tanya Adven sembari memegang lembut wajahku dengan air mata yang
masih berlinang manis di wajahnya.
“Aku
dihajar Xander.” ucapku sembari menyentuh lembut kepala Adven.
Suara
tangisan terdengar jelas dari tubuhnya. Pelukan lembut ia berikan sembari terus
membasahi seragamku. Tanganku bergetar. Aku tidak pernah ingin melihatnya
menangis di hadapanku. Namun, apa yang aku dapatkan hari ini.
Sayatan
penuh luka kembali merobek pelan tubuhku.
“Aku
tidak mau putus.” ucap Adven sembari memelukku dengan kuat.
Aku
membisu. Tatapan kosong aku ajukan tanpa menjawab sepatah kata apapun. Suasana
hening terus menemani kebersamaan kami. Aku benar-benar kecewa dengan perkataan
Xander dan Tiara. Apa yang mereka pikirkan? Sebuah notifikasi sama sekali tidak
muncul di ponsel kami. Namun, mereka dengan percaya diri memutuskan sesuatu
tanpa berpikir. Sial.
Aku
tidak bisa memotret jelas objek yang menjadi ujian terakhirku. Semua hasil
potret fotografi yang telah tercetak membuat aku benar-benar kecewa. Nilai
buruk telah aku dapatkan. Pemikiran yang kacau membuatku tidak bisa fokus pada
pembelajaran hari ini.
Aku
kecewa dengan diriku sebagai seorang anak, murid, dan pasangan Adven. Aku
bahkan tidak bisa menjalankan tiga tugas itu dengan baik.
Sebuah
tarikan kuat aku rasakan sembari kembali mendapatkan pukulan keras tepat di
lukaku yang belum pulih. Teriakan kuat aku ajukan sembari melihat darah kembali
muncul di perutku. Xander dan teman-temanku yang lain berhasil menghajarku dan
menjebakku.
“ Aku kecewa sama kamu!” ucap Dion sembari menarik kuat kerahku.
Aku
menampar tangannya sembari memberikan tatapan tajam padanya.
“Aku
selalu mendukungmu. Apa kamu pernah datang di pertandingan futsalku? Bagaimana
bisa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu bahkan lebih parah dariku!”
teriakku sembari mendorong kuat Dion dengan tangan yang kembali mengepul ini.
“Ya.
Aku memang tidak pernah datang ke pertandinganmu. Itu karena aku tidak
mempedulikanmu. Namun, apa yang bisa kamu lakukan? Semua cerita bohong berhasil
aku ajukan pada teman-temanmu yang bodoh itu. Ya. Xander. Sekarang mereka sudah
membencimu.” bisik Dion sembari kembali melukai wajahku dengan parah.
Kemarahan
yang besar terus menggerogoti tubuhku sembari melesatkan tonjokan kuat pada
wajah lelaki payah itu.
“Katakan
dengan keras! Aku benci dengan orang pengecut! Kamu benar-benar keterlaluan!”
teriakku sembari melukai wajahnya.
Sebuah
pukulan terdengar menyakitkan. Suara seorang perempuan membuat mata ini
teralihkan. Adven.
“Alex.
Kamu sudah tidak datang di pertandingan Dion. Dan, kamu malah memukulnya. Dia
memang pantas mendapat hukumannya!” ucap Xander sembari menunjuk Adven.
Adven
terlihat kesakitan sembari terus meringis kesakitan. Aku berlari mendekatinya.
Namun, dua dosen berhasil menahan tanganku dan Xander. Mereka memaksaku untuk
masuk ke kantor dengan kasar.
Kepanikan
membuatku tidak bisa tenang. Seluruh tubuhku ingin sekali melihat dan mengejar
Adven. Aku sangat khawatir.
“Kenapa
kalian berkelahi! Jawab!” teriak mereka sembari member kami tatapan tajam.
Aku
terus memegang perutku dengan kesakitan dan memikirkan keadaan Adven. Aku
benar-benar sangat takut.
“Alex
yang bersalah. Dia yang memulai semua permasalahan ini.” ucap Xander sembari
terus mendorong keras kepalaku.
Aku
tidak menggubrisnya.
“Kenapa
kamu melukai Adven? Jawab!” teriak salah satu dari mereka sembari menatap tajam
Xander.
“Dia
mau menyelamatkan Alex. Saya tidak sengaja. Salah perempuan itu sendiri.
Awalnya saya ingin menonjok dia!” teriak Xander sembari mengarahkan jari
telunjuknya di depan wajahku.
Aku
membuang tangannya itu dengan kasar.
“Ingat
Xander. Jika Adven mengalami cidera yang serius, kamu harus bertanggung jawab.
Alex, cepat kamu jenguk Adven. Beritahu kami keadaannya.” ucap mereka membuat
kelegaan merenggut tubuhku dengan hangat.
“Terima
kasih pak.” ucapku sembari berlari menuju parkiran.
Injakan
gas kuat aku berikan. Aku mengendarai motorku dengan sembarangan. Seluruh
rambu-rambu yang tertera tidak aku patuhi. Sebuah pesan singkat berdering
lembut di ponselku.
“Adven ada di rumah sakit dekat rumahmu,
Lex. Dia ada di ruang 200.”
Aku
lantas mempercepat motorku sembari terus melanggar seluruh lampu lalu lintas
yang ada.
Sebuah
gemuruh petir terdengar memekakkan telinga. Hujan turun dengan ganas sembari
membasahi tubuhku dengan cepat. Kameraku rusak. Air itu berhasil masuk melalui
cela-cela benda berharga itu. Namun, aku tidak peduli.
Rumah
sakit itu sudah aku masuki. Aku berlari menuju ruangan yang diberikan sembari
bersiap mengetuk pintu kamar inap Adven.
“Mas.
Aku kecewa dengan Alex. Kenapa dia tidak bisa menjaga Adven? Adven sampai tidak
sadarkan diri. Kalau Adven kenapa-napa gimana mas?” ucap ibu Adven dengan penuh
kecemasan.
Luka
kembali menyayat tubuhku. Aku benar-benar lelaki payah.
Aku
tidak berdaya. Aku tidak berani mengetuk pintu kamar Adven. Mereka sudah kecewa
denganku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika aku masuk ke
dalam ruangan itu. Mereka pasti akan menghukumnya. Suara dercitan pintu
mengagetkanku.
“Alex!”
ucap ayah Adven sembari menatapku tajam.
Aku
berusaha berani menghadapi kemarahannya. Aku memang bersalah. Aku terus
menghembuskan nafas sembari menatap wajah ayahnya.
“Maafkan
saya om.” ucapku dengan tegas.
Ia
tidak menjawab apa-apa. Sebuah jaket ia berikan padaku. Dan, ia langsung
mempersilakan aku masuk ke ruangan Adven. Sebuah tatapan tidak sedap ibu Adven
tunjukkan padaku. Aku lantas memberikan salam padanya seperti biasa. Ia sama
sekali tidak menggubrisku.
“Ibu.
Aku mohon.” ucap Adven membuat ibunya memelukku dengan penuh kasih sayang.
Aku
perlahan mendekati Adven sembari menyentuh perutnya yang diperban. Aku
terjatuh. Aku menangis. Aku telah gagal. Aku sudah benar-benar gagal. Adven
sama sekali tidak berkutik. Ia membiarkan lengan tangannya basah oleh air mata
pengecut sepertiku.
Kelegaan
membuatku berani menatap kembali wajahnya. Aku sudah siap.
“Maaf.”
ucapku sembari menghusap seluruh air mata yang tersisa.
“Gak
papa.” ucap Adven yang terlihat sedang menangis lagi.
Aku
terus membuatnya sedih.
“Aku
sadar aku bukan laki-laki yang baik. Aku gak mau kamu sedih terus. Kamu harus
putus dari aku.” ucapku sembari terus merasakan sayatan dahsyat yang merobek
jantungku.
Aku
melihat wajahnya penuh dengan lukisan kekecewaan.
“Aku
belum siap, Lex. Aku mohon.” ucap Adven sembari terus meneteskan air mata
padaku.
“Aku
sudah membuat kedua orang tuamu kecewa. Aku sudah membuat sahabatku melukaimu.
Aku sudah membuatmu selalu sedih setiap hari. Dan, aku harus putus dengan
kamu.” ucapku sembari menahan tanganku yang terus bergetar hebat.
“Aku
gak mau kamu keluar dari kelas komunikasi dan aku gak mau kamu diteror Xander
gara-gara aku. Aku percaya bahwa kamu mengerti keadaanku. Aku akan terus
mencintaimu walaupun hubungan ini sudah kandas.” ucapku membuat Adven memelukku
dengan lembut.
Pelukan
tulus yang ia berikan membuatku kembali lemah. Aku tidak bisa menahan teriakan
kesedihan yang telah kutahan di hadapannya. Aku benar-benar mencintainya. Namun,
aku harus melepaskannya.
Hari-hari
yang dijalani Adven dan Alex terasa sangat ganjal. Namun, persahabatan Alex
dengan Xander menjadi baik begitu juga Adven dengan teman-temannya. Setiap
bertemu, Adven selalu tersenyum begitu juga Alex. Walau sudah putus hubungan,
mereka masih sering berbagi cerita satu sama lain dan saling mencintai. Dan,
mereka pun berjanji untuk tidak berpindah hati. Mereka percaya bahwa mereka
sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk hidup bersama.
Pengorbanan adalah akar dari cinta.Jika
kau berani melakukan pengorbanan maka kau adalah seseorang yang kuat dalam
menghadapi hal cinta.Putus hubungan bukanlah akhir dari segalanya melainkan
awal dari hubungan cintamu yang membuatmu lebih baik dan bahkan lebih kuat dari
sebelumnya.