Selama dua tahun,  Alex sudah menjalin hubungan dengan perempuan bernama Adven. Di sepanjang perjalanan, mereka selalu ditimpa berbagai m...

Sayatan Penuh Luka

/
0 Comments


Selama dua tahun,  Alex sudah menjalin hubungan dengan perempuan bernama Adven. Di sepanjang perjalanan, mereka selalu ditimpa berbagai masalah yang melanda. Dan, permasalahan kali ini berkaitan kuat dengan sahabat mereka. Sejujurnya, mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan permasalahan baru itu.
                 Kebiasaan lama yang kulantunkan membuatku harus menjemput Adven. Aku tidak akan pernah tega melihatnya menempuh perjalanan jauh dengan kakinya. Jarak antara rumah dan universitas sama sekali tidak dekat.
                Suara klakson motor aku ajukan sembari menampilkan senyuman pada wajah manis kekasihku.
                “Selamat pagi.” sapa Adven sembari menampilkan gingsul manisnya.
                Aku lantas turun dari motor sembari sungkem pada kedua orang tuanya. Wajah penuh kegembiraan terukir indah di keluarganya.
                “Pagi, Tante.” sapaku sembari tersenyum pada ibunya, tante Fifi.
                “Selamat pagi, Alex. Mari masuk dulu.” ucapnya sembari membuka pelan pintu rumah dengan menawan.
                “Terima kasih, Tante. Kami harus berburu waktu.” ucapku sembari bersiap di atas motor.
                Lambaian tangan penuh kehangatan tergambar jelas di wajah ibunya.
                “Jangan jadikan hari ini sia-sia diantara kalian berdua.” ucap tante Fifi sembari mencium lembut dahi Adven.
                Putaran lembut tangan yang aku berikan membuat motor ini berjalan dengan lamban.
                “Alex. Aku merasa tidak enak hari ini.” keluh Adven sembari memasukkan tangannya lebih dalam di kantong jaketku.
                “Sakit?” tanyaku singkat sembari terus fokus pada jalan.
                “Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Aku takut.” ucap Adven sembari meletakkan wajahnya di atas punggungku.
                Tegukan kuat aku jatuhkan. Perasaan buruk Adven selalu terjadi secara nyata di universitas mereka. Keburukan apa yang akan terjadi selanjutnya?
                Mereka telah sampai dengan selamat di tempat parkiran idaman. Suara langkah kaki terdengar jelas menujuh arah kami. Aku mengalihkan pandanganku dan menatap lelaki yang tidak asing itu. Dia sahabatku, Xander.
                “Lex. Aku ke kelas dulu.” ucap Adven sembari pergi dari motorku.
                Aku terus menatap lelaki itu tanpa bergerak sedikit pun. Tatapan datar terus kuajukan sembari menunggu kata-kata yang kelak akan keluar dengan lugas dari mulutnya.
                “Selama kamu bersama Adven, aku merasa kamu sudah tidak pernah lagi bermain di lapangan. Apakah semua kenangan bersama kami berhasil kamu hapuskan semenjak keberadaanmu dianggap baik oleh Adven? Aku yakin kamu tidak tahu kabar mengenai Dion. Dia kalah di pertandingan futsal kemarin. Aku tidak melihat wajahmu di stadion.” ucap Xander sembari terus mendekatiku dengan wajah penuh amarah.
                Tegukan kuat kembali aku jatuhkan. Aku terkejut mendengar berita yang tidak aku dapat selama ini. Hal ini tidak biasa terjadi. Berita mengenai info lomba atau pertandingan selalu muncul tepat waktu dalam ponselku. Aku sangat terkejut.
                “Dulu, kamulah orang yang selalu tahu mengenai perlombaan itu. Semenjak kamu bersama Adven, kamu berubah drastis! Sepenting itukah Adven daripada teman-temanmu sendiri!” teriak Xander sembari menjatuhkanku dari motor.
                Luka pada sikut dan lenganku telah terukir sempurna sehingga membuat wajahnya sangat bahagia.
                “Aku minta jangan libatkan Adven dalam masalah ini. Cukup aku saja yang bisa kamu salahkan. Bukan dia.” ancamku sembari beranjak dan mengepal erat tanganku dengan amarah yang telah menggebu-nggebu.
                “Kamu mau menonjok wajahku? Silakan! Aku tidak takut dengan pengkhianat sepertimu!” teriak Xander sembari terus melangkahkan kakinya mendekatiku.
                “Nak, perkelahian tidak cocok untukmu. Kamu adalah anak yang cerdas. Kamu mampu mengalahkan musuhmu dengan pemikiranmu yang luar biasa itu. Namun, ayah minta jangan lukai orang-orang yang melukaimu. Ayah tahu kamu adalah anak yang baik.”
                Ucapan ayahku yang terngiang secara tiba-tiba membuatku tak memiliki kesempatan untuk menghindari lesatan pukulan yang Xander berikan. Tonjokan yang menimbulkan lebam di pipiku membuat amarahku kembali terulang.
                Suara ayahku yang terus menggema membuat tubuhku terus merasakan kesakitan akibat pukulannya. Aku terpuruk. Semua tubuhku memar. Aku terbatuk. Setetes darah keluar perlahan dari mulutku dan hidungku. Aku benar-benar kesakitan.
                “Aku ingin kamu putus dengan Adven!” ucap Xander sembari mengulurkan tangannya tepat di depan wajahku.
                Aku tidak menggubris tangannya dan memilih untuk berdiri sendiri tanpa bantuannya. Aku lantas membawa tasku sembari berjalan dengan payah menuju kelas yang belum terlihat.
                “Lex, aku sadar kamu bukanlah teman yang baik. Ingat! Sahabat lebih penting daripada cinta basimu itu! Aku akan memastikan bahwa semua temanmu akan menyerangmu nanti. Jika kamu mengabaikan perkataanku ini, aku tidak segan-segan meneror Adven sepanjang malam. Ingat itu!” teriak Xander sembari menabrak tubuhku.
                Kemarahan terus merenggutku tanpa ampun. Aku ingin bisa memukul wajahnya supaya ia mampu menarik kata-katanya. Ah. Aku memang lelaki payah.
                Saat aku berhasil sampai di lorong universitas, aku melihat Adven. Semua foto yang ada di dompetnya telah dirobek dengan sembarangan sehingga mengotori seluruh tempat.
                “Adven, aku sudah meneleponmu kemarin! Aku membutuhkan artikelmu dengan cepat! Mereka mencarimu untuk wawancara. Kenapa kamu tidak datang! Aku yakin kamu terus menghabiskan waktumu untuk berpacaran dengan Alex kan? Lihat, aku tidak bisa lulus ujian praktek karena kamu! Kita satu tim. Namun, keegoisanmu membuatku jatuh sekarang!” teriak Tiara salah satu teman Adven.
                Kemarahan kembali menggeliat liar di dalam tubuhku. Aku sama sekali tidak menghabiskan waktu dengan Adven kemarin. Apa yang membuat mereka terus membuat suatu berita yang tidak benar seperti itu? Sial.
                “Aku tidak tahu. Aku ditugaskan wawancara di sebuah sekolah dan menyiarkan berita di radio kemarin.” bela Adven dengan mata yang berkaca-kaca.
                “Kamu harus putus dengan Alex! Atau, aku pastikan kamu akan keluar dari universitas ini. Jangan macam-macam denganku.” teriaknya sembari mendorong Adven dan membuatnya jatuh.
                Air mata perlahan membasahi pipinya. Aku heran dengan dunia ini. Mengapa hubunganku seakan-akan tidak pernah disetujui dengan baik? Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan selama menjalin hubungan ini. Namun, kenapa aku masih kuat mencintainya.
                “Alex. Kamu kenapa?” tanya Adven sembari memegang lembut wajahku dengan air mata yang masih berlinang manis di wajahnya.
                “Aku dihajar Xander.” ucapku sembari menyentuh lembut kepala Adven.
                Suara tangisan terdengar jelas dari tubuhnya. Pelukan lembut ia berikan sembari terus membasahi seragamku. Tanganku bergetar. Aku tidak pernah ingin melihatnya menangis di hadapanku. Namun, apa yang aku dapatkan hari ini.
                Sayatan penuh luka kembali merobek pelan tubuhku.
                “Aku tidak mau putus.” ucap Adven sembari memelukku dengan kuat.
                Aku membisu. Tatapan kosong aku ajukan tanpa menjawab sepatah kata apapun. Suasana hening terus menemani kebersamaan kami. Aku benar-benar kecewa dengan perkataan Xander dan Tiara. Apa yang mereka pikirkan? Sebuah notifikasi sama sekali tidak muncul di ponsel kami. Namun, mereka dengan percaya diri memutuskan sesuatu tanpa berpikir. Sial.
                Aku tidak bisa memotret jelas objek yang menjadi ujian terakhirku. Semua hasil potret fotografi yang telah tercetak membuat aku benar-benar kecewa. Nilai buruk telah aku dapatkan. Pemikiran yang kacau membuatku tidak bisa fokus pada pembelajaran hari ini.
                Aku kecewa dengan diriku sebagai seorang anak, murid, dan pasangan Adven. Aku bahkan tidak bisa menjalankan tiga tugas itu dengan baik.
                Sebuah tarikan kuat aku rasakan sembari kembali mendapatkan pukulan keras tepat di lukaku yang belum pulih. Teriakan kuat aku ajukan sembari melihat darah kembali muncul di perutku. Xander dan teman-temanku yang lain berhasil menghajarku dan menjebakku.
                “ Aku kecewa sama kamu!” ucap Dion sembari menarik kuat kerahku.
                Aku menampar tangannya sembari memberikan tatapan tajam padanya.
                “Aku selalu mendukungmu. Apa kamu pernah datang di pertandingan futsalku? Bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini? Kamu bahkan lebih parah dariku!” teriakku sembari mendorong kuat Dion dengan tangan yang kembali mengepul ini.
                “Ya. Aku memang tidak pernah datang ke pertandinganmu. Itu karena aku tidak mempedulikanmu. Namun, apa yang bisa kamu lakukan? Semua cerita bohong berhasil aku ajukan pada teman-temanmu yang bodoh itu. Ya. Xander. Sekarang mereka sudah membencimu.” bisik Dion sembari kembali melukai wajahku dengan parah.
                Kemarahan yang besar terus menggerogoti tubuhku sembari melesatkan tonjokan kuat pada wajah lelaki payah itu.
                “Katakan dengan keras! Aku benci dengan orang pengecut! Kamu benar-benar keterlaluan!” teriakku sembari melukai wajahnya.
                Sebuah pukulan terdengar menyakitkan. Suara seorang perempuan membuat mata ini teralihkan. Adven.
                “Alex. Kamu sudah tidak datang di pertandingan Dion. Dan, kamu malah memukulnya. Dia memang pantas mendapat hukumannya!” ucap Xander sembari menunjuk Adven.
                Adven terlihat kesakitan sembari terus meringis kesakitan. Aku berlari mendekatinya. Namun, dua dosen berhasil menahan tanganku dan Xander. Mereka memaksaku untuk masuk ke kantor dengan kasar.
                Kepanikan membuatku tidak bisa tenang. Seluruh tubuhku ingin sekali melihat dan mengejar Adven. Aku sangat khawatir.
                “Kenapa kalian berkelahi! Jawab!” teriak mereka sembari member kami tatapan tajam.
                Aku terus memegang perutku dengan kesakitan dan memikirkan keadaan Adven. Aku benar-benar sangat takut.  
                “Alex yang bersalah. Dia yang memulai semua permasalahan ini.” ucap Xander sembari terus mendorong keras kepalaku.
                Aku tidak menggubrisnya.
                “Kenapa kamu melukai Adven? Jawab!” teriak salah satu dari mereka sembari menatap tajam Xander.
                “Dia mau menyelamatkan Alex. Saya tidak sengaja. Salah perempuan itu sendiri. Awalnya saya ingin menonjok dia!” teriak Xander sembari mengarahkan jari telunjuknya di depan wajahku.
                Aku membuang tangannya itu dengan kasar.
                “Ingat Xander. Jika Adven mengalami cidera yang serius, kamu harus bertanggung jawab. Alex, cepat kamu jenguk Adven. Beritahu kami keadaannya.” ucap mereka membuat kelegaan merenggut tubuhku dengan hangat.
                “Terima kasih pak.” ucapku sembari berlari menuju parkiran.
                Injakan gas kuat aku berikan. Aku mengendarai motorku dengan sembarangan. Seluruh rambu-rambu yang tertera tidak aku patuhi. Sebuah pesan singkat berdering lembut di ponselku.
                “Adven ada di rumah sakit dekat rumahmu, Lex. Dia ada di ruang 200.”
                Aku lantas mempercepat motorku sembari terus melanggar seluruh lampu lalu lintas yang ada.   
                Sebuah gemuruh petir terdengar memekakkan telinga. Hujan turun dengan ganas sembari membasahi tubuhku dengan cepat. Kameraku rusak. Air itu berhasil masuk melalui cela-cela benda berharga itu. Namun, aku tidak peduli.
                Rumah sakit itu sudah aku masuki. Aku berlari menuju ruangan yang diberikan sembari bersiap mengetuk pintu kamar inap Adven.
                “Mas. Aku kecewa dengan Alex. Kenapa dia tidak bisa menjaga Adven? Adven sampai tidak sadarkan diri. Kalau Adven kenapa-napa gimana mas?” ucap ibu Adven dengan penuh kecemasan.
                Luka kembali menyayat tubuhku. Aku benar-benar lelaki payah.
                Aku tidak berdaya. Aku tidak berani mengetuk pintu kamar Adven. Mereka sudah kecewa denganku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika aku masuk ke dalam ruangan itu. Mereka pasti akan menghukumnya. Suara dercitan pintu mengagetkanku.
                “Alex!” ucap ayah Adven sembari menatapku tajam.
                Aku berusaha berani menghadapi kemarahannya. Aku memang bersalah. Aku terus menghembuskan nafas sembari menatap wajah ayahnya.
                “Maafkan saya om.” ucapku dengan tegas.
                Ia tidak menjawab apa-apa. Sebuah jaket ia berikan padaku. Dan, ia langsung mempersilakan aku masuk ke ruangan Adven. Sebuah tatapan tidak sedap ibu Adven tunjukkan padaku. Aku lantas memberikan salam padanya seperti biasa. Ia sama sekali tidak menggubrisku.
                “Ibu. Aku mohon.” ucap Adven membuat ibunya memelukku dengan penuh kasih sayang.
                Aku perlahan mendekati Adven sembari menyentuh perutnya yang diperban. Aku terjatuh. Aku menangis. Aku telah gagal. Aku sudah benar-benar gagal. Adven sama sekali tidak berkutik. Ia membiarkan lengan tangannya basah oleh air mata pengecut sepertiku.
                Kelegaan membuatku berani menatap kembali wajahnya. Aku sudah siap.
                “Maaf.” ucapku sembari menghusap seluruh air mata yang tersisa.
                “Gak papa.” ucap Adven yang terlihat sedang menangis lagi.
                Aku terus membuatnya sedih.
                “Aku sadar aku bukan laki-laki yang baik. Aku gak mau kamu sedih terus. Kamu harus putus dari aku.” ucapku sembari terus merasakan sayatan dahsyat yang merobek jantungku.
                Aku melihat wajahnya penuh dengan lukisan kekecewaan.
                “Aku belum siap, Lex. Aku mohon.” ucap Adven sembari terus meneteskan air mata padaku.
                “Aku sudah membuat kedua orang tuamu kecewa. Aku sudah membuat sahabatku melukaimu. Aku sudah membuatmu selalu sedih setiap hari. Dan, aku harus putus dengan kamu.” ucapku sembari menahan tanganku yang terus bergetar hebat.
                “Aku gak mau kamu keluar dari kelas komunikasi dan aku gak mau kamu diteror Xander gara-gara aku. Aku percaya bahwa kamu mengerti keadaanku. Aku akan terus mencintaimu walaupun hubungan ini sudah kandas.” ucapku membuat Adven memelukku dengan lembut.
                Pelukan tulus yang ia berikan membuatku kembali lemah. Aku tidak bisa menahan teriakan kesedihan yang telah kutahan di hadapannya. Aku benar-benar mencintainya. Namun, aku harus melepaskannya.
                Hari-hari yang dijalani Adven dan Alex terasa sangat ganjal. Namun, persahabatan Alex dengan Xander menjadi baik begitu juga Adven dengan teman-temannya. Setiap bertemu, Adven selalu tersenyum begitu juga Alex. Walau sudah putus hubungan, mereka masih sering berbagi cerita satu sama lain dan saling mencintai. Dan, mereka pun berjanji untuk tidak berpindah hati. Mereka percaya bahwa mereka sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk hidup bersama.
                Pengorbanan adalah akar dari cinta.Jika kau berani melakukan pengorbanan maka kau adalah seseorang yang kuat dalam menghadapi hal cinta.Putus hubungan bukanlah akhir dari segalanya melainkan awal dari hubungan cintamu yang membuatmu lebih baik dan bahkan lebih kuat dari sebelumnya.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger