“Haha..” suara tawa yang memekakkan telinga membuatku kesal. Seseorang lelaki dengan wajah yang biasa saja berhasil meriuhkan suasana ke...

Kebencian yang Terhenti

/
0 Comments


“Haha..” suara tawa yang memekakkan telinga membuatku kesal. Seseorang lelaki dengan wajah yang biasa saja berhasil meriuhkan suasana kelas. Ia terlihat sangat akrab dengan semua perempuan dan laki-laki di kelas ini. Untung saja ini bukanlah kelas yang akan terus aku duduki. Ini adalah kelas lintas minat Jerman. Aku dan murid jurusan lain bergabung dalam satu kelas.
                Keramaian yang memekakkan telinga terus aku hempaskan. Namun, perintah Frau Lili membuyarkan keramaian ini.
                “Guten Morgen. Frau ingin kalian membentuk kelompok sesuai dengan nomor yang kalian dapatkan di undian ini. Setelah mendapat nomor, diharapkan kalian langsung duduk melingkar bersama dengan kelompok. Tugas selanjutnya akan saya berikan. Silakan.”
                Aku mendapatkan nomor urut 4. Aku sangat senang melihat dua perempuan yang tersenyum padaku dengan menunjukkan angka nomor 4. Sialnya, aku berada satu kelompok dengan orang penuh tawa itu.
                Aku tidak mendapatkan kursi saat berkumpul dengan kelompok. Spontan, aku mengucapkan permisi sebelum mengambil kursi yang ada di sebelah pria pendiam di depanku.
                “Misi, aku mau ambil kursi sebelahmu.” ucapku perlahan.
                “Mau ini a? Gak usah duduk wes.” balas lelaki penuh tawa itu padaku.
                Senyum sekilas aku ajukan sembari mengambil kursi itu dan meletakkannya di samping perempuan-perempuan itu.
                Aku tidak menyangka harus berkelompok dengan orang itu. Dia terlihat nakal, menakutkan, dan menjengkelkan.
                “Aku Desi kamu siapa?” sapa Desi sembari mengulurkan tangannya dengan senyuman manis di wajahnya.
                “Aku Ara. Salam kenal ya.” balasku sembari terus menebarkan senyuman padanya.
                “Aku Lita. Salam kenal ya.” tambah Lita sembari mengenggam tanganku dengan sopan.
                Senyuman aku ajukan pada keduanya. Tak menyangka, kami bisa saling mengenal.
                “Kamu Ara? Aku Edgar dan ini Vino.” tambah Edgar dengan senyuman penuh kepercayaan diri.
                Senyuman singkat aku ajukan tanpa ampun pada keduanya. Aku memiliki kenangan buruk bersama para lelaki. Maka dari itu, aku terlihat sangat jahat pada bangsa adam itu.
                “Baik. Tugas yang akan saya berikan adalah membuat presentasi tentang tokoh ternama di Jerman. Masing-masing kelompok, diharapkan memikirkan tokoh siapa yang akan dipresentasikan.”
                Semua kebingungan menyerang pikiranku tanpa ragu. Wajah-wajah tenang terukir jelas di wajah kelompokku. Tunggu. Apa mereka benar-benar tidak mempedulikan tugas ini?
                “Rek, siapa tokoh e?” tanya Edgar sembari memutar posisi duduknya ke belakang.
                “Hitler.” balas seorang perempuan yang tidak kukenal.
                “Yo wes iku ae. Siapa yang kerja?” tanya Edgar sembari membiarkan matanya menatap kami satu persatu.
                Hening. Tidak ada satupun dari mereka yang mau berucap. Aku menjadi semakin sebal. Mengapa mereka begitu pasif? Aku lantas mengajukan diri untuk mengerjakannya sendirian. Semua ini aku lakukan untuk diriku sendiri. Aku tidak mau kehilangan nilai di tugas pertama ini.
                “Aku.” balasku singkat membuat seluruh anggota mengedarkan senyuman terindah untukku.
                “Yakin a?” tanya Desi sembari terus menatapku ragu.
                “Iya.” balasku mantap.
                Mereka terlihat lega dan kembali bersantai seperti semula.
                “Kamu jurusan apa e, Ra?” tanya Edgar sembari terus menatapku.
                “Aku Bahasa.”
                “Rumahmu dimana e?”
                “Gak tahu.”
                “Masa rumah e dewe gak tahu?”
                “Iya gak tahu.”
                Hmm. Pertanyaan yang terlalu dini untuk diucapkan pada pertemuan hari pertama.  Meskipun aku menjawab pertanyaannya dengan judes, ia tetap memberikan senyuman tulus padaku.
                Bel pulang sekolah berbunyi. Veranda dan Pristi menjemputku di depan kelas. Kami lantas berjalan keluar gerbang sekolah bersama-sama. Saat di perjalanan, ada seseorang yang menyapa kami.
                “Haii..” ucap seorang lelaki yang tidak aku perhatikan sepenuhnya.
                “Hai.” sapa Veranda dengan ramah.
                Suara tawa terdengar keras tepat setelah Veranda menyambut sapaan mereka. Veranda terlihat sangat malu sembari terus menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya.
                “Ara!!” teriak lelaki itu dengan suaranya yang lantang.
                Deg! Aku spontan menoleh ke belakang dan ternyata ia adalah Edgar. Aku tidak membalas sapaannya.
                “Oh ternyata tadi kata hai itu untuk kamu, Ra?” tanya Veranda sembari terus mengoyak tubuhku.
                “Ciee Ara hari pertama sudah dapat cowok saja.” tambah Pristi dengan wajah menggoda.
                Aku hanya tersenyum dan diam.
                Sekolah berakhir sempurna hari ini. Aku segera mengerjakan presentasi tokoh Hitler dengan konsentrasi. Aku menyediakan nasi campur, camilan, dan air putih di atas kasurku. Semua nikmat. Setelah menginjak slide terakhir, aku langsung ambruk dan bermain bersama mimpi-mimpi khayalanku.

                Tiba saatnya presentasi dimulai. Aku bergegas untuk mengeluarkan laptop dan flashdisc dari dalam ransel. Dan seperti biasa, mereka sama sekali tidak mempedulikan tugas ini.
                “Kelompoknya Ara. Silakan.” panggil frau Lili.
                Aku mulai panik. Semua teman-teman di kelompokku juga terlihat diam dan malas.
                “Ra, nanti kamu yang presentasi. Aku yang pencet-pencet ya. Hehe.” ucap Edgar sembari terus menunjukkan tawanya.
                “Terserahmu.” balasku sembari membawa laptopku.
                “Aku bawakan, Ra. Pokoknya masalah LCD dan laptop biar aku aja yang ngurus. Fokusmu ke presentasi dan tanya jawab.” ucap Edgar sembari mengambil laptopku dan menyiapkan presentasi.
                Semua telah siap. Aku menyuruh masing-masing anggota kelompok untuk membaca presentasi yang kubuat dan aku yang menjelaskan.
                “Presentasi apa ini panjang banget.” keluh Vito membuat suasana hatiku terbakar.
                Aku sebal dengan perkataanya itu. Dia bahkan tidak mau membantuku. Apa hak dia menjelek-jelekkan karyaku?
                Presentasi selesai. Tepukan tangan mereka ajukan sembari tersenyum melihatku.
                Kami lantas kembali duduk. Aku sangat bergetar dan tanganku bergetar.
                “Makasih ya, Ra.” ucap Desi dan Lita secara bersamaan.
                “Makasih yo.” tambah Edgar sembari meletakkan laptopku di atas meja.
                “Makasih juga kalian.” balasku dengan senyuman.

                Berawal dari hari itu. Aku menyadari keganjalan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Hari ini ada ulangan mendadak.
                “Frau minta kalian berdiri. Frau akan menentukan tempat duduk saat ulangan nanti.” perintah Frau.
                Aku dan teman-teman yang lain lantas mengambil tas dan berdiri di depan papan tulis.
                “Edgar.” panggil Frau membuat Edgar duduk di bangku paling depan.
                “Ara.” lanjut Frau membuat mataku terbelalak.
                Aku harus duduk dengan dia?
                “Wah sebangku.” ucap Edgar sembari terus menunjukkan tawa tulusnya.
                Aku hanya tersenyum sembari terus berdoa untuk meminta mukjizat kelak pada ulanganku.
                “Kamu belajar a?” tanya Edgar sembari menelungkupkan badannya.
                “Ndak.” jawabku jujur dengan tersenyum.
                “Moso e? Anak pinter kalau gak belajar tetep bagus nilainya.” ucap Edgar dengan wajah serius.
                “Nggaklah. Aku gak pintar.” balasku dengan tersenyum kembali.
                “Kamu itu lho cantik..” bisik Edgar membuatku menoleh hebat.
                “Kamu ngomong apa?” tanyaku membuatnya salah tingkah.
                “Ah. Aku bilang semangat nantik. Aku doakan kamu bisa tuntas ulangannya. Aku mau tidur dulu.” balas Edgar sembari menelungkupkan badannya lebih dalam dan terlelap.
                Kertas ulangan pun dibagikan. Aku melihat Edgar benar-benar tertidur. Aku masih belum bisa mempedulikannya. Hal yang kubisa adalah mengarang semua jawaban pada kertas putih menakutkan ini.
                Jam pengerjaan ulangan selesai. Edgar tidak menuliskan apa-apa di kertas ulangannya.
                “Sudah selesai, Ra?” tanya Edgar dengan mata merah.
                “Belum.” balasku sedikit panik karena dua nomor yang tidak bisa kukarang.
                “Ya wes. Tak tidur sek. Kalau sudah selesai bangunin.” ucap Edgar sembari kembali memejamkan kedua matanya.
                Aku kagum dengan perbuatannya. Dia ternyata baik tidak seperti penampilan luar yang aku nilai selama ini.
                “Gar, aku sudah selesai.” bisikku membuat Edgar terbangun.
                Ia spontan mengambil kertasku dan mengumpulkannya bersama dengan kertas ulangannya.
                Semua anak sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Aku memang awalnya duduk di tempat ini.
                “Kamu gak pindah a?” tanyaku membuat Edgar terlihat malas.
                “Males aku. Bentar lagi sudah bel.” balas Edgar sembari merenggangkan tubuhnya.
                Aku lantas membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas.
                Bel pun berbunyi.
                Aku bersama teman-temanku kembali ke kelas Bahasa untuk mengikuti pelajaran yang wajib diikuti murid jurusan Bahasa. Pelajaran-pelajaran itu antara lain Antropologi, Sastra Jepang, Sastra Indonesia dan Sastra Inggris.
                “Ara.” sapa Edgar saat kami berpas-pasan di jalan.
                Aku belum bisa menjawab sapaannya. Aku merasa masih ada rasa was-was yang masih bersangkar dalam hatiku.
                Edgar menjadi laki-laki pertama yang terus menyapaku setiap berpas-pasan. Entah itu di kamar mandi, perpustakaan, kelas reguler, kelas lintas minat, ruang karawitan, lapangan, dan di luar sekolah sekalipun. Aku perlahan luluh karenanya.
               
                Hari yang berbeda di lintas minat. Aku dan temanku duduk di bangku paling depan. Tiba-tiba, Edgar berpindah tempat dan menduduki bangku belakangku.
                “Ara..” sapanya dengan senyum tulus seperti biasanya.
                Aku berbalik dan tersenyum.
                “Araa…”
                Ia terus mengulangi kata-kata itu. Aku tidak menanggapinya.
                “Ara..” panggil seorang cewek yang tidak kukenal.
                Edgar tersenyum melihatku.
                “Ara..” panggil mereka sekali lagi membuatku terus menoleh ke arah mereka berulang kali.
                Aku sama sekali tidak mempedulikan mereka.

                Ulangan lintas minat kembali dilaksanakan. Dan lagi lagi, aku duduk dengan Edgar. Namun, aku merasakan perasaan yang berbeda saat ini. Edgar tidak lagi tidur dan dia mau mengerjakan ulangan itu. Kami juga sempat bercanda tawa. Batasan tembok perlahan runtuh dalam hatiku. Aku sudah merasakan debaran yang membuatku tersenyum.
                Selesai ujian. ia lagi-lagi mengatakan hal yang sama seperti pada saat itu.
                “Kalau kamu sudah selesai, bangunin aku ya.” ucapnya sembari menelungkupkan badannya.
                Aku terus meliriknya. Aku benar-benar mengakui bahwa aku sudah luluh karena tingkahnya.
                “Terima kasih Edgar. Namun, aku tidak yakin bahwa kamu melakukan semua ini karena kamu menyukaiku.” batinku sembari menyentuh pelan lengannya.
                “Oh sudah a? Ayo.” ajaknya sembari mengajakku mengumpulkan kertas ulangan bersama-sama.
                Sejak saat itu, ia menjadi sangat pendiam. Apa yang terjadi padanya?
                “Ra, aku minta pin bbmmu.” ucap Edgar membuatku terkejut,
                “Buat apa?” jawabku ketus seperti biasanya.
                “Pengen tahu aja.” balasnya dengan tawa khasnya.
                “Kamu tanya Deria.” jawabku sembari beranjak setelah mendengar bel berbunyi.

                Aku tidak berharap bahwa dia kelak akan menghubungiku lewat BBM. Saat aku bermain ponsel, aku melihat sebuah notifikasi pertemanan dari Edgar. Aku sangat terkejut. Namun, notifikasi itu aku biarkan tetap ada sampai aku benar-benar merasa tidak terPHP.
               
                Dia semakin ramah setiap harinya. Aku juga mulai berani menjawab sapaannya dengan senyuman terbaikku. Aku merasa senang karena sapaannya itu.
                Aku mengakui kalau aku menyukainya. Namun, aku tidak tahu apakah dia juga menyukaiku.
                Notif pertemanan yang aku biarkan membuat tangan ini tergerak. Aku menekan tombol centang.
                Sebuah pesan singkat langsung tersirat di layar ponselku.
                Edgar
·      Ara maaf ya selama ini aku nggoda kamu.

               
                Ara
·      Iya gak papa.

                 


               
                Dia tidak lagi menyapaku di kelas lintas minat. Aku merasa bingung dengan perubahannya yang demikian pesat. Aku sadar bahwa aku jahat padanya. Sebagai balasannya, aku rela menyukai orang yang tidak aku menyukaiku.
                Aku lantas memendam seraya terkejut mendengar berita yang diberikan oleh teman-temanku.
                “Edgar sudah jadian sama Gia. Cantik banget anaknya.” ucap Deria membuat senyum palsu ke luar dari wajahku.
                “Wah. So sweet. Barusan a?” balas teman yang lain.
                Aku tidak mau memamerkan rasa kecewaku. Aku lantas tersenyum kagum dan berpura-pura senang.
                “Oh ya. Edgar sempet bilang suka sama kamu, Ra. Dia minder mau nembak kamu karena kamu baik, polos, dan tidak bernoda. Jadi, dia mundur. Lagian kamunya juga gak suka sama dia kan, Ra?” ucap Deria membuatku terkejut.
                “Oalah. Iya.” balasku dengan senyum palsu yang kuusahakan keluar dari wajahku.
               

                Di lintas minat, kami tidak lagi berbicara lagi. Kami juga tidak sekelas lagi karena pergantian tahun. Aku senang melihat Edgar bersama Gia. Aku mengakui bahwa diriku sakit hati.  Namun, ini semua pasti adalah sebuah pelajaran untuk pencarianku dalam mencari pendamping hidupku.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger