published on spotify : Berjelajah dalam Karya                     “Kakak sibuk kah ?” suara Thio menggema lembut di gendang telingaku...

Sederhana yang Memikat

/
0 Comments


published on spotify : Berjelajah dalam Karya

                “Kakak sibuk kah?” suara Thio menggema lembut di gendang telingaku.
                “Nggak. Ada apa?” tanyaku membuat suara ini perlahan terdengar bergetar tanpa seizinku.
          “Ayo ke luar. Aku tunggu di luar apartemen. Nih! bareng anak-anak.” ajaknya sembari perlahan menutup ponselnya.
                Aku lantas menyambar jaket yang tergantung lemas di ujung ruangan serta mengalungkan syal hangat di leherku. Langkah kupijakkan tanpa ragu menyusuri lorong apartemen. Pintu ke luar apartemen kini terlukis manis di depan mata ini. Bukan pintu yang kukatakan manis. Tapi, lelaki itu.
         Thio tersenyum melihat kehadiranku. Namun, ia menyembunyikannya dengan berpura-pura membenahi jaketnya yang terlihat tidak bermasalah. Aku tersenyum tipis sembari langsung melangkahkan kaki mengikuti langkah kaki mereka.
                Kami berangkat. Aku baru menyadari bahwa dirikulah yang tertua di sini. Namun, aku akui wajahku tidak bisa melukiskan kebenaran bahwa aku lebih tua dari mereka. Alias awet muda. Jadi, aku tidak perlu insecure kan akan hal itu.
                “Yo, kamu tahu nggak tanggal ulang tahunku? Aku ulang tahun tepat saat kita pulang ke Indonesia nanti lho. Kamu harus datang ya?” ajak Ira sembari merangkul manja lengan Thio dengan gemas.
                Aku hanya tersenyum sembari terus memperhatikan mereka berdua. Iko dan Etha juga terlihat bahagia dengan kebersamaan yang mereka ilusikan bersama.
                Kesendirianku membuat langkah ini memilih untuk mempercepat tapakan kaki setiap detiknya. Aku berhasil berjalan mendahului mereka.
                “Kak, aku mau mampir ke supermarket dulu ya. Mau ambil uang.” ucap Iko padaku sembari mendorong pintu masuk supermarket dengan semangat.
                “Mau masuk juga, Kak?” tanya Etha sembari menatapku lembut.
                “Ayo ikut masuk. Aku juga ingin beli minum nih.” ajak Thio sembari menatap mataku dengan berani.
         “Enggak. Aku tunggu di sini aja.” balasku sembari tersenyum melihat mereka yang langsung masuk ke dalam supermarket itu.
                Cukup lama aku menunggu. Dinginnya negara anime ini membuat tubuhku menggigil tak menentu. Aku terus menepuk pundakku, menggosok kedua telapak tanganku, dan menutup kedua telingaku. Itu semua tidak berbuah  apapun. Alhasil, ya aku tetap kedinginan.
                Beberapa menit berlalu. Pada akhirnya, aku melihat mereka ke luar dari supermarket itu dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
                “Eh. Teman-teman, bisa temani aku ke toilet sebentar?” ucapku membuat mereka mengangguk cepat.
                “Sebentar ya, Kak. Aku duduk dulu. Sebentar lagi kita anterin.” balas Etha sembari duduk dengan Iko di bangku taman yang cukup dekat denganku.
                Thio dan Ira juga melakukan hal yang sama.
                Aku terpaksa menahan rasa keinginanku untuk ke toilet dalam jangka waktu yang lama. Sebuah dorongan dari dalam yang keras terasa selama aku menahan rasa kebelet ini.
                Bukannya mempercepat kegiatan, mereka malah asik sendiri. Ada yang bermain handphone, merayu, ngobrol-ngobrol, selfie, dan makan snack  mereka. Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka tidak kasihan terhadapku? Benar-benar tidak tahu diri!
                “Aku pulang dulu ya.” ucapku sembari menahan emosi yang sudah terkumpul sempurna dalam genggaman tanganku.
                “Eh, Kak! Jangan! Ayo-ayo kita ke toilet” ucap Ira sembari beranjak dari duduknya.
                Ira dan Etha mengantarku ke toilet dengan perasaan bersalah.
                Lega rasanya.
                “Makasih ya udah nganterin. Aku pulang duluan ya.” ucapku sembari bergegas pergi.
                “Aku juga.” ucap Thio sembari langsung berjalan menghampiriku.
                “Aku juga ikut!” teriak Ira sembari berlari mendekatiku.
                Kami pun berpisah dengan Iko dan Etha.
            “Ayo percepat jalanmu!” bisik Thio sembari menarik kuat tanganku dan memaksa kaki ini berjalan lebih cepat.
                Aku lantas mengikuti perintahnya dan meninggalkan Ira yang terus berteriak di belakang.
                “Kenapa Ira kita tinggal?” tanyaku sembari berbisik pada Thio.
                “Aku gak mau sama Ira. Ayo cepet!” balas Thio sembari terus menarik tanganku dengan wajah yang mengantuk.
                Aku baru ingat bahwa Thio meminum sebotol anggur tadi. Aku berpikir mungkin saja dia merasa mabuk karena minuman itu. Aku sempat tertawa melihat ekspresi wajah polosnya yang terlihat sangat mengantuk saat ini.
                Langkah cepat kami ternyata berhasil membuat Ira jauh dari kami. Thio merasa lega dan senang karena tidak berada dekat dengan Ira lagi.
                “Yo, kita dari tadi muter-muter terus lho. Kamu sadar kan? Atau jangan-jangan kamu sedang mabuk?” tanyaku sembari melihat wajahnya dengan jarak lumayan dekat.
                Aku mulai khawatir dengan keadaannya.
                “Nanti kalau sampai di apartemen jangan masuk dulu ya. Aku mau bilang sesuatu.” balas Thio sembari menatapku yakin.
                “Ha? Oh oke.” jawabku sembari tersenyum pada lelaki itu.
                “Ah aku lelah. Kenapa jalanmu sangat cepat sih, Kak, tadi? Sedari tadi, aku terus berusaha untuk jauh dari Ira.  Apa kamu tidak sadar akan hal itu? Huh. Ingin sekali rasanya bisa berjalan denganmu tapi kmau terlalu cepatt. Namun, semua lelahku itu berbuah. Kini, aku bisa berjalan denganmu sekarang.” ucap Thio sembari tersenyum manis padaku.
                Aku terkejut. Detak jantung berdetak tak menentu dalam tubuhku.
                Aku terdiam.
                “Kamu malu ya? Ya, gimana lagi? Aku pengen ngomong ini terus terang supaya kamu tahu ada laki-laki yang butuh kamu.” tambah Thio sembari membenahi kacamatanya.
                Aku tidak tahan. Aku benar-benar baper sekarang.
              Dalam  perjalanan menuju apartemen, kami menemukan Etha dan Iko. Mereka tidak memperhatikan kami. Tiba-tiba, Ira muncul dari balik keduanya. Thio kembali meremas tanganku dan berlari. Aku kelelahan mengikuti kaki panjangnya yang berlari kencang sekali.
                Saat melihat ke belakang, aku melihat Ira sedang mengejar kami. Uang receh yang ada di kantongnya terjatuh berserakan. Thio memanfaatkan kesempatan dengan menarik tanganku lebih kuat sembari berlari lebih kencang.
                Aku melihat tanganku yang ia genggam. Aku begitu terkejut. Sejak kapan dia menggenggam tanganku? Dan, sampai kapan?
                Kami sudah sampai di apartemen. Dia terlihat kelelahan dan nafasnya tak beraturan. Aku hanya bisa menatapnya saja.
                “Malam-malam olahraga rasanya menyenangkan , ya, ternyata. Apalagi olahraga dengan kamu. Uh, aku istirahat dulu ya, Kak.” ucap Thio sembari memasuki kamarnya.
                Aku hanya bisa terdiam melihatnya seraya menahan detak jantung yang tak terdengar kelelahan dari tubuhku. 
                Pagi menyambut kami dengan hangat. Hari ini adalah waktu kepulangan kami ke Indonesia. Semua barang telah kukemasi dengan baik sembari berkumpul untuk berdoa sebentar dengan mereka.
                Pesawat siap untuk terbang mengantar kami menuju tanah ibu pertiwi tercinta. Perjalanan panjang kami lalui dengan bahagia. 
                Thio terus menatapku selama penerbangan berlangsung. Ia duduk di depanku. Aku memilih untuk terus mengalihkan pandanganku darinya.
                Indonesia telah kami pijak dengan sempurna. Aku melihat Thio yang sedang berdiri diam di luar pintu pesawat sembari meneduhkan tubuhnya yang kepanasan. Aku turun dari pesawat sembari membawa koperku.
                “Aku bawain.” ucapnya sembari mengambil koperku dan membawanya sampai ke mobil jemputan sekolah.
                “Makasih, Yo.” ucapku dengan tersenyum.
                “Aku ingin bisa bicara dan jalan berdua lagi denganmu suatu saat nanti. Mungkin aku memang adik kelasmu tapi kamu tidak bisa menahanku untuk tidak kembali lagi padamu. Aku keras kepala sama sepertimu. Bertahan untuk orang yang aku suka. Meskipun kondisi mengatakan tidak mungkin. Tetap ingat kenangan ini ya. Aku selalu ada dengan perasaan yang sama. Sampai nanti.” ucap Thio sembari menyentuh jidatku perlahan dengan senyumannya yang menawan.
                Ia menunggu mobil sekolah mengantarku pulang. Saat suara klakson mobil sekolahku berbunyi dan terdengar, Thio melambaikan tangan dengan hangat padaku. Aku tersenyum melihatnya yang terus menungguku hingga mobil sekolahku benar-benar datang.
                Sebuah pesan singkat terkirim di ponselku.

                Andai. Andai Tuhan memberikan waktu itu hanya untukku. Aku akan terus menunggu kehadiranmu. Tak peduli apakah rasa itu sudah melekat padamu atau tidak.. Aku hanya ingin kita bisa bertemu lagi untuk yang kedua, ketiga, keempat. He-he. Sampe tak terbatas.  Dan, kelak kamu bisa menjadi pasangan untukku.  Dari aku, adik kelasmu yang selalu mengagumimu. Thio.
               




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger