“Kakak sibuk kah?” suara Thio
menggema lembut di gendang telingaku.
“Nggak. Ada apa?” tanyaku
membuat suara ini perlahan terdengar bergetar tanpa seizinku.
“Ayo ke luar. Aku tunggu di luar
apartemen. Nih! bareng anak-anak.” ajaknya sembari perlahan menutup ponselnya.
Aku lantas menyambar jaket yang
tergantung lemas di ujung ruangan serta mengalungkan syal hangat di leherku.
Langkah kupijakkan tanpa ragu menyusuri lorong apartemen. Pintu ke luar apartemen kini terlukis manis di depan mata ini. Bukan pintu yang kukatakan manis. Tapi, lelaki itu.
Thio tersenyum melihat
kehadiranku. Namun, ia menyembunyikannya dengan berpura-pura membenahi jaketnya
yang terlihat tidak bermasalah. Aku tersenyum tipis sembari langsung melangkahkan kaki mengikuti langkah kaki mereka.
Kami berangkat. Aku baru
menyadari bahwa dirikulah yang tertua di sini. Namun, aku akui wajahku tidak
bisa melukiskan kebenaran bahwa aku lebih tua dari mereka. Alias awet muda. Jadi, aku tidak perlu insecure kan akan hal itu.
“Yo, kamu tahu nggak tanggal ulang tahunku? Aku ulang tahun tepat saat kita pulang ke Indonesia
nanti lho. Kamu harus datang ya?” ajak Ira sembari merangkul manja lengan Thio
dengan gemas.
Aku hanya tersenyum sembari
terus memperhatikan mereka berdua. Iko dan Etha juga terlihat bahagia dengan
kebersamaan yang mereka ilusikan bersama.
Kesendirianku membuat langkah
ini memilih untuk mempercepat tapakan kaki setiap detiknya. Aku berhasil berjalan
mendahului mereka.
“Kak, aku mau mampir ke
supermarket dulu ya. Mau ambil uang.” ucap Iko padaku sembari mendorong pintu masuk
supermarket dengan semangat.
“Mau masuk juga, Kak?” tanya Etha sembari
menatapku lembut.
“Ayo ikut masuk. Aku juga ingin beli
minum nih.” ajak Thio sembari menatap mataku dengan berani.
“Enggak. Aku tunggu di sini aja.”
balasku sembari tersenyum melihat mereka yang langsung masuk ke dalam supermarket
itu.
Cukup lama aku menunggu.
Dinginnya negara anime ini membuat tubuhku menggigil tak menentu. Aku terus
menepuk pundakku, menggosok kedua telapak tanganku, dan menutup kedua
telingaku. Itu semua tidak berbuah apapun. Alhasil, ya aku tetap kedinginan.
Beberapa menit berlalu. Pada akhirnya, aku melihat mereka
ke luar dari supermarket itu dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
“Eh. Teman-teman, bisa temani aku ke toilet sebentar?” ucapku
membuat mereka mengangguk cepat.
“Sebentar ya, Kak. Aku duduk dulu.
Sebentar lagi kita anterin.” balas Etha sembari duduk dengan Iko di bangku taman yang cukup dekat denganku.
Thio dan Ira juga melakukan hal
yang sama.
Aku terpaksa menahan rasa
keinginanku untuk ke toilet dalam jangka waktu yang lama. Sebuah dorongan dari dalam yang keras
terasa selama aku menahan rasa kebelet
ini.
Bukannya mempercepat kegiatan,
mereka malah asik sendiri. Ada yang bermain handphone,
merayu, ngobrol-ngobrol, selfie, dan makan snack mereka. Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka
tidak kasihan terhadapku? Benar-benar tidak tahu diri!
“Aku pulang dulu ya.” ucapku sembari
menahan emosi yang sudah terkumpul sempurna dalam genggaman tanganku.
“Eh, Kak! Jangan! Ayo-ayo kita ke
toilet” ucap Ira sembari beranjak dari duduknya.
Ira dan Etha mengantarku ke toilet
dengan perasaan bersalah.
Lega rasanya.
“Makasih ya udah nganterin. Aku
pulang duluan ya.” ucapku sembari bergegas pergi.
“Aku juga.” ucap Thio sembari langsung berjalan menghampiriku.
“Aku juga ikut!” teriak Ira
sembari berlari mendekatiku.
Kami pun berpisah dengan Iko dan
Etha.
“Ayo percepat jalanmu!” bisik Thio
sembari menarik kuat tanganku dan memaksa kaki ini berjalan lebih cepat.
Aku lantas mengikuti perintahnya
dan meninggalkan Ira yang terus berteriak di belakang.
“Kenapa Ira kita tinggal?”
tanyaku sembari berbisik pada Thio.
“Aku gak mau sama Ira. Ayo
cepet!” balas Thio sembari terus menarik tanganku dengan wajah yang mengantuk.
Aku baru ingat bahwa Thio
meminum sebotol anggur tadi. Aku berpikir mungkin saja dia merasa mabuk karena
minuman itu. Aku sempat tertawa melihat ekspresi wajah polosnya yang terlihat
sangat mengantuk saat ini.
Langkah cepat kami ternyata
berhasil membuat Ira jauh dari kami. Thio merasa lega dan senang karena tidak
berada dekat dengan Ira lagi.
“Yo, kita dari tadi muter-muter terus lho. Kamu sadar kan? Atau jangan-jangan kamu sedang mabuk?” tanyaku sembari melihat wajahnya dengan
jarak lumayan dekat.
Aku mulai khawatir dengan
keadaannya.
“Nanti kalau sampai di apartemen
jangan masuk dulu ya. Aku mau bilang sesuatu.” balas Thio sembari menatapku
yakin.
“Ha? Oh oke.” jawabku sembari tersenyum
pada lelaki itu.
“Ah aku lelah. Kenapa jalanmu
sangat cepat sih, Kak, tadi? Sedari tadi, aku terus berusaha untuk jauh dari Ira. Apa kamu tidak sadar akan hal itu? Huh. Ingin sekali rasanya bisa berjalan denganmu tapi kmau terlalu cepatt. Namun, semua lelahku itu berbuah. Kini, aku bisa berjalan denganmu sekarang.” ucap Thio sembari
tersenyum manis padaku.
Aku terkejut. Detak jantung
berdetak tak menentu dalam tubuhku.
Aku terdiam.
“Kamu malu ya? Ya, gimana lagi?
Aku pengen ngomong ini terus terang supaya kamu tahu ada laki-laki yang butuh
kamu.” tambah Thio sembari membenahi kacamatanya.
Aku tidak tahan. Aku benar-benar
baper sekarang.
Dalam perjalanan menuju apartemen, kami
menemukan Etha dan Iko. Mereka tidak memperhatikan kami. Tiba-tiba, Ira muncul
dari balik keduanya. Thio kembali meremas tanganku dan berlari. Aku kelelahan
mengikuti kaki panjangnya yang berlari kencang sekali.
Saat melihat ke belakang, aku
melihat Ira sedang mengejar kami. Uang receh yang ada di kantongnya terjatuh
berserakan. Thio memanfaatkan kesempatan dengan menarik tanganku lebih kuat
sembari berlari lebih kencang.
Aku melihat tanganku yang ia
genggam. Aku begitu terkejut. Sejak kapan dia menggenggam tanganku? Dan, sampai
kapan?
Kami sudah sampai di apartemen.
Dia terlihat kelelahan dan nafasnya tak beraturan. Aku hanya bisa menatapnya
saja.
“Malam-malam olahraga
rasanya menyenangkan , ya, ternyata. Apalagi olahraga dengan kamu. Uh, aku istirahat dulu ya, Kak.”
ucap Thio sembari memasuki kamarnya.
Aku hanya bisa terdiam
melihatnya seraya menahan detak jantung yang tak terdengar kelelahan dari tubuhku.
Pagi menyambut kami dengan
hangat. Hari ini adalah waktu kepulangan kami ke Indonesia. Semua barang telah
kukemasi dengan baik sembari berkumpul untuk berdoa sebentar dengan mereka.
Pesawat siap untuk terbang
mengantar kami menuju tanah ibu pertiwi tercinta. Perjalanan panjang kami lalui dengan
bahagia.
Thio terus menatapku selama
penerbangan berlangsung. Ia duduk di depanku. Aku memilih untuk terus
mengalihkan pandanganku darinya.
Indonesia telah kami pijak
dengan sempurna. Aku melihat Thio yang sedang berdiri diam di luar pintu
pesawat sembari meneduhkan tubuhnya yang kepanasan. Aku turun dari pesawat sembari
membawa koperku.
“Aku bawain.” ucapnya sembari
mengambil koperku dan membawanya sampai ke mobil jemputan sekolah.
“Makasih, Yo.” ucapku dengan
tersenyum.
“Aku ingin bisa bicara dan jalan
berdua lagi denganmu suatu saat nanti. Mungkin aku memang adik kelasmu tapi kamu
tidak bisa menahanku untuk tidak kembali lagi padamu. Aku keras kepala sama
sepertimu. Bertahan untuk orang yang aku suka. Meskipun kondisi mengatakan tidak mungkin. Tetap ingat kenangan ini ya. Aku selalu ada dengan perasaan yang
sama. Sampai nanti.” ucap Thio sembari menyentuh jidatku perlahan dengan
senyumannya yang menawan.
Ia menunggu mobil sekolah
mengantarku pulang. Saat suara klakson mobil sekolahku berbunyi dan terdengar, Thio melambaikan tangan
dengan hangat padaku. Aku tersenyum melihatnya yang terus menungguku hingga mobil sekolahku
benar-benar datang.
Sebuah pesan singkat terkirim di
ponselku.
Andai. Andai Tuhan memberikan waktu itu hanya untukku. Aku akan terus menunggu
kehadiranmu. Tak peduli apakah rasa itu sudah melekat padamu atau tidak..
Aku hanya ingin kita bisa bertemu lagi untuk yang kedua, ketiga, keempat. He-he. Sampe tak terbatas. Dan, kelak kamu bisa menjadi pasangan
untukku. Dari aku, adik kelasmu yang selalu mengagumimu. Thio.