“Dia adalah temanku yang selalu
mencuri sandalku. Aku selalu kehilangan sandal setiap kali aku meninggalkan
sandal-sandal itu di depan rumah.” ucapku sembari membiarkan air mataku terjun
dengan hebat menelusuri kedua pipi ini.
“Ngel, kenapa kamu malah gak pengen
pindah sih? Bukannya kalau kamu pindah sandalmu gak akan hilang lagi?” tanya
Wani sembari gemas melihat tubuhku yang terus teringkuk lemah.
Sebuah ponsel berdering cepat di tas
selempangku. Aku lantas menyambar ponsel itu dan berlari pergi dari Wani.
“Angel!” teriaknya tak menghentikan
langkah ini sedikit pun.
Rumah berlampu remang-remang, burung
gagak yang bersarang di pohon-pohon tanpa dedaunan, suara dercitan pintu yang
memekakkan telinga, dan suara telpon rumah yang terus berdering tanpa henti
telah hadir di depanku. Inilah rumahku.
“Hei!” teriak Lian sembari berlari
cepat kearahku.
“Kenapa? Kamu mau mencuri sandalku
lagi? Lihat! Gara-gara kamu terus mencuri sandalku, semua orang menyebutku
manusia sandal! Aku harus membeli sandal setiap hari karena kamu!” teriakku
kesal sembari memberikan tatapan yang sangat mengerikan padanya.
“Oh.” balas Lian sembari kembali
mengambil sandalku yang tertata rapi di depan pintu rumah.
“Li-” ucapku sembari terhenti
setelah kembali mendengar suara hentakan kaki yang berlari menjauhiku.
Aku mulai ketakutan. Lian tidak ada
di hadapanku. Jadi, siapa yang baru saja berlari itu?
“Kenapa harus berlari sih kak? Kakak
tidak tahu kalau rumah ini angker? Aku bisa saja melempar kepalamu dengan higheels ini.” ancamku sembari melepas
kedua higheelsku dengan geram.
“Ah. Lebay.” ucapnya sembari
memasuki rumah angker itu.
Aku berlari dan mengikuti Kio dari
belakang.
“Hei? Aku tidak sedang bermain
barongsai! Kenapa kamu mengikutiku dari belakang?” ucapnya sembari berbalik
dengan kesal.
“Aku tidak mengikutimu. Lihat saja!
Jika kamu sudah melihat penampakan itu, kamu yang akan bermain barongsai di
belakangku!” ancamku tidak membuat Kio ketakutan sedikitpun.
“Aku takut sekali. Lihat saja nanti.”
balasnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Kio sudah masuk ke kamarnya. Aku
terus melihat sekitar dan menyiapkan hati untuk tetap berhati-hati pada
kemungkinan yang akan terjadi.
Suara hentakan kaki kembali
terdengar. Suara itu berasal dari lantai atas. Aku lantas berlari dan membuka
paksa kamar Kio.
“Kak!” teriakku tanpa menyadari
bahwa Kio sedang melakukan hal yang tidak biasa.
Ia sedang sibuk mengenakan pakaian
boneka yang sangat besar. Apa yang dia lakukan?
“Kak!” teriakku lebih keras
membuatnya terjatuh.
Kio membuka kostum boneka itu dengan
marah.
“Kenapa kamu tidak mengetuk pintu
dulu sih! Kamu paham kan kalau itu-” teriaknya sembari terhenti pada sesuatu.
Ia spontan menarik tanganku dan
memelukku erat.
Seorang wanita berambut panjang
dengan tas belanjaan berdiri mengerikan di depan pintu kamar Kio.
Aku sangat ketakutan. Kio memelukku
erat sembari melempar barang-barang yang ada di sekitarnya.
Suara hentakan kaki yang selama ini
aku dengar berasal dari wanita itu. Ini semakin mengerikan!
“Hei! Aku tahu kamu itu palsu!
Jangan buat adikku ketakutan! Jika kamu mendekat, aku akan menghabisimu!”
teriak Kio sembari terus melangkah mundur bersamaku.
Wanita itu tidak mendengarkan
perkataan kakakku. Ia semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Lalu,
menghilang.
Tanganku gemetaran begitu juga
anggota tubuhku yang lain.
“Lho kamu kedinginan? Hei, semua
wanita akan hangat setiap kali aku memberikan pelukan mautku pada mereka.” ucap
Kio membuatku merasa kesal.
“Kak, itu tadi hantu. Hantu! Kenapa
kakak tidak ketakutan? Aku ini ketakutan bukan kedinginan! Sadar kak, sadar!”
balasku sembari memegang kedua lengan Kio dengan keras.
“Aku tahu kalau dia itu hantu. Lalu,
aku harus apa? Dia sudah menetap di rumah ini. Hei, sejak kapan kamu menumpuk
sandal-sandalmu di balik lemariku? Kamu mau jualan sandal? Pantas saja kamu
memiliki panggilan sayang itu.”
“Panggilan sayang?”
“Manusia sandal. Astaga, adikku
ternyata manusia sandal.” ejek Kio yang tidak mempedulikan ketakutan yang sudah
menggerogoti tubuhku.
“Kak! Kakak tidak mau berpikir cara
mengusir hantu itu! Aku bisa mati kalau gini terus!” teriakku tak membuat Kio
membalikkan badannya padaku.
“Hmm. Aku memang tampan ya. Sayang
sekali jika aku harus menutup wajah menawan ini dengan kostum boneka itu.
Mereka tidak akan menyeganiku lagi.” ucap Kio sembari menghusap dagunya dengan
perlahan.
“Kak!” teriakku membuat Kio
berdecak.
“Kamu kayak kucing yang mau kawin
kalau gitu terus. Kamu mau ganti nama jadi manusia kucing?” ejek Kio sembari mengambil
pakaian tidurnya.
Suara hentakan sepatu itu kembali
terdengar di atas halaman belakang rumah. Aku sendirian sekarang. Kio sedang
sibuk di kamar mandinya. Ia lama sekali.
“Angel!” teriak seseorang yang tiba-tiba
membuka jendela kamar Kio.
“Aaaa!!” teriakku sembari melempar
semua bantal Kio keluar jendela.
“Angel! Ini aku Lian. Lihat, aku
minta maaf karena sudah mencuri sandalmu.” ucap Lian sembari menunjukkan
wajahnya yang terlihat memar.
“Siapa yang memukulimu?” tanyaku
sembari perlahan mendekati Lian.
“Ada seorang wanita yang memarahiku
saat aku berada di depan pintu rumahmu. Aku ingin minta maaf pada ibumu.
Bisakah aku bertemu dengannya?” tanya Lian membuat bulu kudukku berdiri tanpa
menentu.
“Eh. Yan, seperti apa wanita itu?”
tanyaku sembari menegukkan air ludahku dengan susah payah.
“Kamu aneh ya. Apa kamu lupa dengan
ibumu sendiri? Kamu selalu ada dengannya di rumah kan? Hei, ngel. Kamu harus
periksa ke dokter. Kamu benar-benar butuh perawatan untuk kepalamu. Cepat
panggil ibumu.” pinta Lian membuatku semakin bergetar.
Kami terdiam. Suara burung gagak
menghambur kesepian yang tercipta di antara kami. Suara pintu kamar mandi yang
terbuka membuat mata ini lantas mengalihkan pandangan dari Lian.
Aku menangis.
“Ngel, kamu kenapa? Kenapa!” teriak
Kio sembari menggoncang tubuhku dengan paksa.
“Maaf kak.” balas Lian sembari
memasuki kamar Kio.
Aku berusaha menghentikan tangis
yang terus membasahi wajahku kini.
“Aku dipukuli oleh seorang wanita
saat aku berusaha mengambil sandal Angel. Dia bukan ibumu, Kak? Dia keluar dari
rumah ini.” ulang Lian sembari mengelus lembut rambutku.
“Aku gak punya ibu, Yan. Wanita apa?”
tanya Kio yang terlihat serius.
“Ah, Kak. Jangan buat aku merinding!
Kenapa tatapan kalian seolah-olah mengatakan bahwa aku melihat-” ucap Lian yang
langsung terhenti.
Aku mengalihkan pandangan dan
kembali mendengar suara hentakan sepatu yang terdengar sangat cepat. Kio dan
Lian melindungiku. Mereka merangkulku sembari bersiap pada apa yang terjadi
selanjutnya.
Wanita itu tersenyum sembari
mendekati kami. Ia benar-benar terlihat menyeramkan.
Aku tidak melihatnya. Aku memilih
untuk menutup kedua mataku dan memegang kedua lengan Kio dan Lian.
Lampu kamar yang remang membuat
suasana kamar Kio semakin mengerikan. Hawa panas membuat tubuhku merinding
hebat.
“Siapa kamu! Apa urusanmu dengan
kami?” teriak Kio membuat wanita itu semakin tersenyum.
“Kak, dia bukan manusia. Kenapa kamu
malah memarahinya?” bisik Lian membuat mataku perlahan terbuka.
“Kenapa kamu protes padaku! Ini
hakku! Dia yang membuat semua masalah ini!” balas Kio dengan nada tinggi.
“Kamu harusnya takut bukannya malah
emosi, Kak. Apa kamu tidak berpikir dengan akal sehatmu!”
“Oh jadi kamu pikir aku tidak sehat
dan gila? Apa kamu pikir kamu yang paling benar!”
“Iya aku paling benar. Bahkan kamu
tidak tahu kalau aku lah biang kerok yang membuat adikmu mendapat panggilan
kesayangan itu!”
“Ah aku tahu itu ulahmu! Aku tidak
mempedulikan itu. Aku senang dia mendapat panggilan sayang itu.” balas Kio
sembari tertawa bahagia dan melihatku.
“Kak! Itu hantu! Kenapa kalian
sempat berantem sih!” teriakku membuat wanita itu mendekat.
Kami semua terdiam.
“Apa maumu?” tanya Kio membuat
wanita itu kembali tersenyum mengerikan.
“Ah, Kak! Kau benar-benar gila!
Tolong tinggalkan kami dan jangan ganggu kami lagi.” ucap Lian membuat wanita
itu menatap wajahku dengan mengerikan.
“Katakan sesuatu!” bisik Lian
membuat mulutku bergetar.
“Ah. Ikuti perintah anak sok pintar
itu.” balas Kio dengan sebal.
“Siapa yang kau maksud!”
“Ya. Lelaki sepertimu memang pantas
dipanggil sok pintar.”
“Apa katamu!”
“Rek! Kalian memang benar-benar. Ah.
Apa kamu adalah ibuku?” tanyaku membuat wanita itu melangkah mundur.
Semua terdiam.
Kio dan Lian menghentikan
perkelahian mereka dan menatapku.
Wajah cantik terukir di wajah wanita
itu.
“Ibu.” ucapku sembari tersenyum pada
ibuku.
Wanita itu tidak lagi terlihat
menakutkan. Ia sangat cantik.
“Ibu!” ucap Kio lantas bersujud di
depan wanita itu.
“Aku bukanlah anak yang baik. Bahkan
aku tidak bisa mengenali ibuku sendiri. Aku malah memarahimu selama ini. Aku
benar-benar anak durhaka.” lanjut Kio sembari terus bersujud pada ibunya.
“Makannya dengerin aku.” ejek Lian
membuat Kio mengalihkan pandangannya.
“Rek. Huh. Aku senang bisa bertemu
denganmu ibu. Kamu boleh tinggal disini tapi tolong jangan menampakkan tubuhmu.
Itu membuat kami ketakutan.” ucapku membuat wanita cantik itu mendekatiku dan
tersenyum manis padaku.
“Ibu akan pergi.” ucap wanita dengan
suara samar.
Ia mendekati Kio dan tersenyum
padanya.
“Ibu. Aku akan menjaga Angel disini.
Aku akan selalu melindunginya.” ucap Kio sembari terus menatap wajah ibu.
Ibu terus tersenyum manis.
“Eh. Tante maaf tadi saya mencuri
sandal Angel. Hehe. Saya memang gemas melakukan itu. Dengan begitu, saya bisa
dekat dengan Angel.” ucap Lian membuatku terkejut.
“Kamu suka dengan adikku? Aku tidak
akan pernah merestuimu sampai kapanpun laki-laki sok pintar!” teriak Kio
sembari meraih kerah Lian.
“Aku tidak perlu ijinmu untuk
mencintai adikmu! Manusia emosian!” balas Lian sembari meraih kerah Kio dengan
kuat.
“Sampai jumpa, Bu.” ucapku membuat
ibu menghilang dengan senyuman manis yang masih terukir indah di wajahnya.
“Apa kalian bisa berhenti? Ah.
Terserah saja.” ucapku lantas meninggalkan mereka.
Rumah angker kami telah berubah
menjadi rumah yang menyenangkan bagi orang-orang. Kami membersihkan rumah ini,
menghias taman, dan membangun kembali pagar rumah yang kini terlihat lucu
dengan warna-warni cat yang menghiasinya.
“Kamu pintar menanam tanaman juga ya
ternyata? Aku pikir kamu hanya pandai mencuri sandal.” ejekku membuat Lian beranjak.
“Ya. Aku memang mahir di keduanya. Aku
yakin manusia emosian itu tidak bisa melakukan apa yang bisa kulakukan untukmu.”
ucap Lian sembari meraih tanganku untuk ikut menanam bersamanya.
“Apa katamu!” teriak Kio sembari
melempar pot yang ia bawa.
“Apa aku harus mengulanginya lagi,
Kak?” balas Lian membuatku mencubit keras tangannya.
“Aww!” teriak Lian kesakitan.
“Yan, dia juga kakakku. Kamu gak
boleh seenaknya sama dia!” teriakku sembari mendekati Kio.
Senyuman penuh keangkuhan terukir
jelas di wajah Kio.
“Kak!” teriakku membuat Kio mencubit
kedua pipiku dengan gemas.
Walaupun aku sudah memarahi keduanya,
mereka masih saja terus bertengkar. Entahlah apakah ibu bahagia dengan suasana
baru di rumah ini atau tidak.