For : angelinaw (story request)   photo by: Flickr             “Kenapa kamu nggak pindah rumah kalau kamu setiap hari selalu lihat ...

Hentakan Sepatu

/
0 Comments


For : angelinaw (story request)
 photo by: Flickr
            “Kenapa kamu nggak pindah rumah kalau kamu setiap hari selalu lihat penampakan-penampakan itu?” ucap Wani sembari menatapku dengan serius.
            “Aku gak bisa pergi gitu aja. Rumah itu penuh dengan kenanganku bersama Lian.” balasku sembari menitikkan air mata.
            “Ngel, siapa Lian?” tanya Wani terheran-heran sembari menyeruput minuman kesukaannya.
            “Dia adalah temanku yang selalu mencuri sandalku. Aku selalu kehilangan sandal setiap kali aku meninggalkan sandal-sandal itu di depan rumah.” ucapku sembari membiarkan air mataku terjun dengan hebat menelusuri kedua pipi ini.
            “Ngel, kenapa kamu malah gak pengen pindah sih? Bukannya kalau kamu pindah sandalmu gak akan hilang lagi?” tanya Wani sembari gemas melihat tubuhku yang terus teringkuk lemah.
            Sebuah ponsel berdering cepat di tas selempangku. Aku lantas menyambar ponsel itu dan berlari pergi dari Wani.
            “Angel!” teriaknya tak menghentikan langkah ini sedikit pun.
           
            Rumah berlampu remang-remang, burung gagak yang bersarang di pohon-pohon tanpa dedaunan, suara dercitan pintu yang memekakkan telinga, dan suara telpon rumah yang terus berdering tanpa henti telah hadir di depanku. Inilah rumahku.
            “Hei!” teriak Lian sembari berlari cepat kearahku.
            “Kenapa? Kamu mau mencuri sandalku lagi? Lihat! Gara-gara kamu terus mencuri sandalku, semua orang menyebutku manusia sandal! Aku harus membeli sandal setiap hari karena kamu!” teriakku kesal sembari memberikan tatapan yang sangat mengerikan padanya.
            “Oh.” balas Lian sembari kembali mengambil sandalku yang tertata rapi di depan pintu rumah.
            “Li-” ucapku sembari terhenti setelah kembali mendengar suara hentakan kaki yang berlari menjauhiku.
            Aku mulai ketakutan. Lian tidak ada di hadapanku. Jadi, siapa yang baru saja berlari itu?
            “Kenapa?” tanya Kio, kakak kandungku, sembari melepas sepatunya.
            “Kenapa harus berlari sih kak? Kakak tidak tahu kalau rumah ini angker? Aku bisa saja melempar kepalamu dengan higheels ini.” ancamku sembari melepas kedua higheelsku dengan geram.
            “Ah. Lebay.” ucapnya sembari memasuki rumah angker itu.
            Aku berlari dan mengikuti Kio dari belakang.
            “Hei? Aku tidak sedang bermain barongsai! Kenapa kamu mengikutiku dari belakang?” ucapnya sembari berbalik dengan kesal.
            “Aku tidak mengikutimu. Lihat saja! Jika kamu sudah melihat penampakan itu, kamu yang akan bermain barongsai di belakangku!” ancamku tidak membuat Kio ketakutan sedikitpun.
            “Aku takut sekali. Lihat saja nanti.” balasnya dengan wajah tanpa ekspresi.
            Kio sudah masuk ke kamarnya. Aku terus melihat sekitar dan menyiapkan hati untuk tetap berhati-hati pada kemungkinan yang akan terjadi.
            Suara hentakan kaki kembali terdengar. Suara itu berasal dari lantai atas. Aku lantas berlari dan membuka paksa kamar Kio.
            “Kak!” teriakku tanpa menyadari bahwa Kio sedang melakukan hal yang tidak biasa.
            Ia sedang sibuk mengenakan pakaian boneka yang sangat besar. Apa yang dia lakukan?
            “Kak!” teriakku lebih keras membuatnya terjatuh.
            Kio membuka kostum boneka itu dengan marah.
            “Kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu sih! Kamu paham kan kalau itu-” teriaknya sembari terhenti pada sesuatu.
            Ia spontan menarik tanganku dan memelukku erat.
            Seorang wanita berambut panjang dengan tas belanjaan berdiri mengerikan di depan pintu kamar Kio.
            Aku sangat ketakutan. Kio memelukku erat sembari melempar barang-barang yang ada di sekitarnya.
            Suara hentakan kaki yang selama ini aku dengar berasal dari wanita itu. Ini semakin mengerikan!
            “Hei! Aku tahu kamu itu palsu! Jangan buat adikku ketakutan! Jika kamu mendekat, aku akan menghabisimu!” teriak Kio sembari terus melangkah mundur bersamaku.
            Wanita itu tidak mendengarkan perkataan kakakku. Ia semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Lalu, menghilang.
            Tanganku gemetaran begitu juga anggota tubuhku yang lain.
            “Lho kamu kedinginan? Hei, semua wanita akan hangat setiap kali aku memberikan pelukan mautku pada mereka.” ucap Kio membuatku merasa kesal.
            “Kak, itu tadi hantu. Hantu! Kenapa kakak tidak ketakutan? Aku ini ketakutan bukan kedinginan! Sadar kak, sadar!” balasku sembari memegang kedua lengan Kio dengan keras.
            “Aku tahu kalau dia itu hantu. Lalu, aku harus apa? Dia sudah menetap di rumah ini. Hei, sejak kapan kamu menumpuk sandal-sandalmu di balik lemariku? Kamu mau jualan sandal? Pantas saja kamu memiliki panggilan sayang itu.”
            “Panggilan sayang?”
            “Manusia sandal. Astaga, adikku ternyata manusia sandal.” ejek Kio yang tidak mempedulikan ketakutan yang sudah menggerogoti tubuhku.
            “Kak! Kakak tidak mau berpikir cara mengusir hantu itu! Aku bisa mati kalau gini terus!” teriakku tak membuat Kio membalikkan badannya padaku.
            “Hmm. Aku memang tampan ya. Sayang sekali jika aku harus menutup wajah menawan ini dengan kostum boneka itu. Mereka tidak akan menyeganiku lagi.” ucap Kio sembari menghusap dagunya dengan perlahan.
            “Kak!” teriakku membuat Kio berdecak.
            “Kamu kayak kucing yang mau kawin kalau gitu terus. Kamu mau ganti nama jadi manusia kucing?” ejek Kio sembari mengambil pakaian tidurnya.
            Suara hentakan sepatu itu kembali terdengar di atas halaman belakang rumah. Aku sendirian sekarang. Kio sedang sibuk di kamar mandinya. Ia lama sekali.
            “Angel!” teriak seseorang yang tiba-tiba membuka jendela kamar Kio.
            “Aaaa!!” teriakku sembari melempar semua bantal Kio keluar jendela.
            “Angel! Ini aku Lian. Lihat, aku minta maaf karena sudah mencuri sandalmu.” ucap Lian sembari menunjukkan wajahnya yang terlihat memar.
            “Siapa yang memukulimu?” tanyaku sembari perlahan mendekati Lian.
            “Ada seorang wanita yang memarahiku saat aku berada di depan pintu rumahmu. Aku ingin minta maaf pada ibumu. Bisakah aku bertemu dengannya?” tanya Lian membuat bulu kudukku berdiri tanpa menentu.
            “Eh. Yan, seperti apa wanita itu?” tanyaku sembari menegukkan air ludahku dengan susah payah.
            “Kamu aneh ya. Apa kamu lupa dengan ibumu sendiri? Kamu selalu ada dengannya di rumah kan? Hei, ngel. Kamu harus periksa ke dokter. Kamu benar-benar butuh perawatan untuk kepalamu. Cepat panggil ibumu.” pinta Lian membuatku semakin bergetar.
            “Yan! Aku gak punya ibu!” teriakku kesal sembari menatap tajam matanya.
            Kami terdiam. Suara burung gagak menghambur kesepian yang tercipta di antara kami. Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat mata ini lantas mengalihkan pandangan dari Lian.
            Aku menangis.
            “Ngel, kamu kenapa? Kenapa!” teriak Kio sembari menggoncang tubuhku dengan paksa.
            “Maaf kak.” balas Lian sembari memasuki kamar Kio.
            Aku berusaha menghentikan tangis yang terus membasahi wajahku kini.
            “Aku dipukuli oleh seorang wanita saat aku berusaha mengambil sandal Angel. Dia bukan ibumu, Kak? Dia keluar dari rumah ini.” ulang Lian sembari mengelus lembut rambutku.
            “Aku gak punya ibu, Yan. Wanita apa?” tanya Kio yang terlihat serius.
            “Ah, Kak. Jangan buat aku merinding! Kenapa tatapan kalian seolah-olah mengatakan bahwa aku melihat-” ucap Lian yang langsung terhenti.
            Aku mengalihkan pandangan dan kembali mendengar suara hentakan sepatu yang terdengar sangat cepat. Kio dan Lian melindungiku. Mereka merangkulku sembari bersiap pada apa yang terjadi selanjutnya.
            Wanita itu tersenyum sembari mendekati kami. Ia benar-benar terlihat menyeramkan.
            Aku tidak melihatnya. Aku memilih untuk menutup kedua mataku dan memegang kedua lengan Kio dan Lian.
            Lampu kamar yang remang membuat suasana kamar Kio semakin mengerikan. Hawa panas membuat tubuhku merinding hebat.
            “Siapa kamu! Apa urusanmu dengan kami?” teriak Kio membuat wanita itu semakin tersenyum.
            “Kak, dia bukan manusia. Kenapa kamu malah memarahinya?” bisik Lian membuat mataku perlahan terbuka.
            “Kenapa kamu protes padaku! Ini hakku! Dia yang membuat semua masalah ini!” balas Kio dengan nada tinggi.
            “Kamu harusnya takut bukannya malah emosi, Kak. Apa kamu tidak berpikir dengan akal sehatmu!”
            “Oh jadi kamu pikir aku tidak sehat dan gila? Apa kamu pikir kamu yang paling benar!”
            “Iya aku paling benar. Bahkan kamu tidak tahu kalau aku lah biang kerok yang membuat adikmu mendapat panggilan kesayangan itu!”
            “Ah aku tahu itu ulahmu! Aku tidak mempedulikan itu. Aku senang dia mendapat panggilan sayang itu.” balas Kio sembari tertawa bahagia dan melihatku.
            “Kak! Itu hantu! Kenapa kalian sempat berantem sih!” teriakku membuat wanita itu mendekat.
            Kami semua terdiam.
            “Apa maumu?” tanya Kio membuat wanita itu kembali tersenyum mengerikan.
            “Ah, Kak! Kau benar-benar gila! Tolong tinggalkan kami dan jangan ganggu kami lagi.” ucap Lian membuat wanita itu menatap wajahku dengan mengerikan.
            “Katakan sesuatu!” bisik Lian membuat mulutku bergetar.
            “Ah. Ikuti perintah anak sok pintar itu.” balas Kio dengan sebal.
            “Siapa yang kau maksud!”
            “Ya. Lelaki sepertimu memang pantas dipanggil sok pintar.”
            “Apa katamu!”
            “Rek! Kalian memang benar-benar. Ah. Apa kamu adalah ibuku?” tanyaku membuat wanita itu melangkah mundur.
            Semua terdiam.
            Kio dan Lian menghentikan perkelahian mereka dan menatapku.
            Wajah cantik terukir di wajah wanita itu.
            “Ibu.” ucapku sembari tersenyum pada ibuku.
            Wanita itu tidak lagi terlihat menakutkan. Ia sangat cantik.
            “Ibu!” ucap Kio lantas bersujud di depan wanita itu.
            “Aku bukanlah anak yang baik. Bahkan aku tidak bisa mengenali ibuku sendiri. Aku malah memarahimu selama ini. Aku benar-benar anak durhaka.” lanjut Kio sembari terus bersujud pada ibunya.
            “Makannya dengerin aku.” ejek Lian membuat Kio mengalihkan pandangannya.
            “Rek. Huh. Aku senang bisa bertemu denganmu ibu. Kamu boleh tinggal disini tapi tolong jangan menampakkan tubuhmu. Itu membuat kami ketakutan.” ucapku membuat wanita cantik itu mendekatiku dan tersenyum manis padaku.
            “Ibu akan pergi.” ucap wanita dengan suara samar.
            Ia mendekati Kio dan tersenyum padanya.
            “Ibu. Aku akan menjaga Angel disini. Aku akan selalu melindunginya.” ucap Kio sembari terus menatap wajah ibu.
            Ibu terus tersenyum manis.
            “Eh. Tante maaf tadi saya mencuri sandal Angel. Hehe. Saya memang gemas melakukan itu. Dengan begitu, saya bisa dekat dengan Angel.” ucap Lian membuatku terkejut.
            “Kamu suka dengan adikku? Aku tidak akan pernah merestuimu sampai kapanpun laki-laki sok pintar!” teriak Kio sembari meraih kerah Lian.
            “Aku tidak perlu ijinmu untuk mencintai adikmu! Manusia emosian!” balas Lian sembari meraih kerah Kio dengan kuat.
            “Sampai jumpa, Bu.” ucapku membuat ibu menghilang dengan senyuman manis yang masih terukir indah di wajahnya.
            “Apa kalian bisa berhenti? Ah. Terserah saja.” ucapku lantas meninggalkan mereka.

            Rumah angker kami telah berubah menjadi rumah yang menyenangkan bagi orang-orang. Kami membersihkan rumah ini, menghias taman, dan membangun kembali pagar rumah yang kini terlihat lucu dengan warna-warni cat yang menghiasinya.
            “Kamu pintar menanam tanaman juga ya ternyata? Aku pikir kamu hanya pandai mencuri sandal.” ejekku membuat Lian beranjak.
            “Ya. Aku memang mahir di keduanya. Aku yakin manusia emosian itu tidak bisa melakukan apa yang bisa kulakukan untukmu.” ucap Lian sembari meraih tanganku untuk ikut menanam bersamanya.
            “Apa katamu!” teriak Kio sembari melempar pot yang ia bawa.
            “Apa aku harus mengulanginya lagi, Kak?” balas Lian membuatku mencubit keras tangannya.
            “Aww!” teriak Lian kesakitan.
            “Yan, dia juga kakakku. Kamu gak boleh seenaknya sama dia!” teriakku sembari mendekati Kio.
            Senyuman penuh keangkuhan terukir jelas di wajah Kio.
            “Kak!” teriakku membuat Kio mencubit kedua pipiku dengan gemas.
            Walaupun aku sudah memarahi keduanya, mereka masih saja terus bertengkar. Entahlah apakah ibu bahagia dengan suasana baru di rumah ini atau tidak.

            Happy Reading!


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger