published on spotify : Berjelajah dalam Karya             “Diem-diem kamu ini pinter motret ya? Kenapa gak ikut kelompok fotografer baren...

Stalker

/
2 Comments

published on spotify : Berjelajah dalam Karya

            “Diem-diem kamu ini pinter motret ya? Kenapa gak ikut kelompok fotografer bareng aku?” tanya Jordan membuat kepala ini cepat menggeleng.
            “Aku jadikan hobi aja sih kak. Gak ada cita-cita buat jadi fotografer ternama. Hehe.” balasku membuatnya tertawa keras.
            Pertemuanku dengan Jordan terjadi cukup lama karena dia yang terus terkesan pada hasil fotoku.
            “Udah jadi murid baru di SMA Menawan ya?” tanya Jordan sembari menyerahkan kameraku.
            “Iya kak. Cepet banget.” balasku tersenyum.
            Studio kecil penuh foto menghiasi dinding berwarna kuning lemon di sisi kanan kiriku. Lantai berwarna oranye membuat suasana ruangan semakin segar. Pemandangan di luar jendela yang menampakkan sebuah taman kecil yang terawat menambah pemantapan dalam penglihatanku. Ruangan ini benar-benar menakjubkan.

            Hari pertama sekolah menyambutku dengan debaran yang tak terduga. Kelas yang memiliki berbagai murid dari macam-macam jurusan membuatku kebingungan. Jurusan Bahasa, IPS, dan IPA akan menjadi satu kelas untuk suatu mata pelajaran pemilihan. Suasana kelas yang ramai membuat mata ini berputar dan telinga  ini terasa membisu. Aku tak mampu memperhatikan materi dengan baik sebelum seseorang masuk secara ganas ke dalam kelas.
            “Kenapa kamu terlambat?” tanya bu Ita dengan ganas.
            “Maaf ya, Bu. Kelaperan tadi jadinya mampir ke kantin.” ucapnya dengan wajah tanpa salah.
            “Duduk.” balas bu Ita sembari menahan kemarahan yang kerap ingin keluar dari mulutnya.
            Suasana ramai kelas membuat bu Ita terlihat kesal. Ia marah sembari memukul meja dengan keras.
            Semua terdiam.
            “Saya ingin kalian berkelompok sesuai dengan nama-nama yang sudah saya tentukan.” perintah bu Ita sembari menampilkan sebuah nama yang ia tuliskan di papan tulis. 
            Semua terdengar mengeluh seraya bersorak.
            Aku sekelompok dengan anak itu.
            Kami lantas berkumpul sesuai dengan kelompok masing-masing. Tugas yang diberikan adalah menceritakan sebuah tokoh yang menginspirasi di dunia.
            “Kalian cari topik dah. Males aku.” ucap lelaki sok itu dengan keangkuhan yang menggebu-gebu.
            Aku menggerutu kesal dalam hati. Bagaimana bisa dia bersikap tidak peduli pada tugas ini? Topik dan presentasi kami kerjakan selangkah demi selangkah dengan waktu yang sangat singkat. Tatapan sombong ia tunjukkan sembari maju di depan kelas dengan percaya diri. Ia melihat sekilas catatan kecil yang aku buat. Namun, ia bisa mempresentasikan materi ini dengan luar biasa. Aku mendadak kagum padanya.
            Suara tepuk tangan Bu Ita dan teman-teman membuyarkan lamunanku. Lelaki itu sangat misterius.
            Rutinitas untuk melakukan pemotretan pada sore hari aku lakukan. Jordan sudah menantiku lembut di depan pintu studio.
            “Gimana sekolahnya?” tanya Jordan penasaran melihat wajah kusutku.
            “Lelah, Kak.” balasku sembari duduk di atas sofa berwarna merah pekat di sudut ruangan studio.
            “Hari ini libur aja gak papa. Main-main aja di studio kebetulan gak banyak orang dateng kok” ucap Jordan sembari kembali sibuk dengan pekerjaannya.
            Aku menuruti perintahnya dengan hanya meminum segelas air minum dan menyantap beberapa bola-bola coklat yang lezat.
            “Jordan!” teriak seseorang dari balik pintu.
            “Oi oi. Masuk.” balas Jordan sembari merangkul seseorang yang sangat akrab dengannya.
            Aku mengalihkan pandangan dan terkejut pada kedatangan manusia yang sudah kukenal sebelumnya.
            “Ini. Adik tingkatku di SMA Yoyo.” ucapnya membuat mata ini tidak berani berkedip.
            Senyuman Radit membuat wajahku memerah padam.
            “Eh, kalian sudah kenal?” tanya Jordan terkejut dengan wajahku yang tidak terduga.
            “Eka mantanku, Kak.” balas Radit sembari terus tersenyum padaku.
            Jordan terlihat sangat senang setelah mendengar kabar menggembirakan ini. Aku hanya terdiam dan membiarkan Radit duduk di sampingku dengan tegap.
            Matahari telah tertidur lelap.
            Langit semakin gelap.
            Studio sudah tertutup rapat.
            “Ayo pulang bareng?” ajak Radit sembari memberikanku sebuah helm polkadot.
            Aku mengangguk pada ajakkannya. Aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dengannya. Kami beda sekolah saat SMA ini. Badannya yang semakin panjang membuatku terlihat semakin pendek di depan bola matanya.
            Sebuah rumah yang kutinggali telah terukir sempurna di depan mata. Senyuman kembali dia ajukan dengan sempurna.
            “Makasih, Dit.” ucapku sembari tersenyum dan melambaikan tangan lembut padanya. Meskipun aku dipertemukan dengan Radit, aku tetap saja menyegani lelaki yang aku segani di sekolah itu.   
            Kelulusanku membuat peringkat kelasku naik. Aku kini sudah berada di kelas tiga SMA.
            Hari ini adalah hari terakhirku sekolah dan bertemu dengan lelaki itu. Sudah tiga tahun aku berada di sekolah ini tetapi aku bahkan belum tahu namanya.
            Rombongan anak-anak rusuh membuat tas dan buku-bukuku terjatuh tak karuan. Seorang lelaki yang tak asing membuat tubuh ini lantas mengalihkan pandangan padanya.
            “Sori.” ucap lelaki itu sembari membereskan buku-bukuku yang terjatuh sembarangan di lantai.
            “Abi!!” teriak temannya membuat lelaki itu lantas meninggalkanku.
            Aku terkejut melihat sikapnya. Namun, aku senang karena kini aku mengetahui namanya. Ia bernama Abi.
            Kelas penjurusan aku lalui sembari merasakan kepanasan yang dahsyat karena jumlah siswa dalam kelas yang semakin banyak. Keramaian anak-anak membuatku memilih untuk menutup kedua telingaku dengan tanganku sembari menikmati kesendirianku seorang diri. 
            Abi adalah salah satu anak dari kerumunan anak-anak ramai itu. Aku merasa menyesal karena sempat ingin mencari tahu informasi tentang dia.
            “Rek, ini medsos dan nomor ponselku ya. Aku yakin kalian ada yang ngefans sama aku.” ucap Abi sembari mendapatkan lemparan penghapus karet dari teman-temannya.
            Diam-diam aku menulis medsos dan nomor ponselnya. 
             Karena kericuhan ini, bu Ita terlihat geram dan memilih untuk ke luar dari kelas itu tanpa berkutik. Dalam sekejap suasana di kelas ini menjadi hening. Aku terkejut melihat guru sesabar bu Ita pergi dari kelas. Ini adalah kejadian yang sangat langka.
            Bel pulang sekolah kembali berdering. Aku bergegas pergi untuk melakukan sebuah pemotretan baru pada hari ini.
            Aku tidak melihat siapapun di studio sore ini. Apakah Jordan tidak masuk? Aku melihat beberapa hasil foto yang luar biasa tergeletak rapi di atas meja. Aku selalu menyukai foto-foto Jordan yang terlihat sederhana tetapi menawan.
            Aku ingin menjadi fotografer seperti Jordan.
            “Misi.” ucap seseorang membuatku cepat mengalihkan pandangan.
            “Kak Jordan?” balasku tersenyum senang melihat kedatangannya.
            Aku terkejut pada apa yang aku lihat. Nyatanya lelaki yang menyapa itu bukanlah Jordan.
            “Eh, kamu anak kelas penjurusan yang njatuhin buku kemarin kan?” tanya Abi membuat mulut ini bungkam seketika.
            Aku tak menyangka. Kini, aku benar-benar berhadapan dan bercengkerama dengan Abi.
            “Eh iya. Mm. Ngomong-ngomong ada keperluan apa di sini?” tanyaku sembari menahan tanganku yang tiba-tiba gemetar.
            “Aku cari kakakku. Dimana dia?” tanyanya membuatku kebingungan.
            “Siapa kakakmu?” tanyaku terheran-heran.
            Suara hentakan kaki cepat terdengar semakin dekat. Aku lantas mengalihkan pandangan dan melihat Jordan terengah-engah di depan pintu studio.
            “Sori dek. Sori” ucap Jordan membuatku mataku terbelalak.
            Adek? Apa jangan-jangan mereka bersaudara?
            “Ini adikku, Abi.” balas Jordan membuat diriku terperangah berulang kali.
            Aku mengangguk seraya menebarkan senyuman pada keduanya yang kini terus menatapku. Mengapa dunia ini semakin sempit saja? Orang yang menjadi idolaku kini sudah di depan mata dan ternyata dia adalah adik dari Jordan.
            “Eka, aku minta kamu fotoin aku pas hari valentine besok ya. Bisa kan?” ucap Abi membuatku tersenyum lebar.

            Hari Valentine tiba.    
            Pakaian sederhana yang ia kenakan tak membuat hati ini beralih. Aku tetap saja mengidolakan lelaki itu.
            Abi mendekatiku dengan gagah sembari memperbaiki kacamatanya. Ia membawa banyak temannya dan berpose keren di depan kameraku.
            “Ini hadiahmu.” ucap Abi sembari memberikanku setangkai mawar putih.
            Aku tak menyangka akan hal ini. Senyum yang ke luar berhasil kutahan di dalam pipiku. 
            “Kak, mau ngisi sablon buat kakak tingkat atau anak kelas? Gratis kak.” ucap beberapa anak sembari menyodorkan kertas kecil padaku.
            “Aku tulis ya.” balasku sembari menerima kertas itu dan menuliskan sesuatu di atasnya.
           
            Aku melipat kertas itu dan memberikannya pada mereka. Aku baru sadar bahwa selama ini aku sudah menyukai Abi.
            Hari ini adalah hari di mana ujian akhir kami berlangsung. Aku sangat beruntung karena bisa melewatinya dengan sangat baik. Saat hendak berpaling, tiba-tiba saja ada suara yang menghentikan langkahku. 
            “Eka.” panggil seseorang pelan sembari menarik tanganku perlahan.
            Abi.
      Iya. Ia membawaku menjauh dari teman-temanku. Aku hanya bisa berdiam diri dan menahan tubuhku yang kembali gemetar seperti biasanya.
            “Sori ganggu sebelumnya. Aku pengen tahu sesuatu dari kamu karena aku denger kamu punya temen anak jurnalistik. Jadi gini. Ada seseorang yang nulis beginian di majalah dan itu untuk aku. Apa kamu tahu siapa? Aku bakal berterima kasih sama dia. Aku seneng ternyata ada cewek yang suka sama orang seperti aku tiga tahun. Kamu tahu siapa?” ucapnya membuat mulutku terkunci rapat.
            Tubuhku tidak bisa terhentikan. Aku benar-benar gemetar.
            “Siapapun itu. Entah dia jelek, cantik, tinggi, pendek, gendut, pendek, apapun. Aku akui dia adalah perempuan yang aku cari selama ini.” ucap Abi sembari terus menatapku serius.
            Wajahku merah padam. Aku tidak bisa menahan ini. Apakah aku harus mengakuinya?
            “Eka, plis. Aku bener-bener butuh jawabanmu.” lanjut Abi dengan memohon.
            Aku harus mengakuinya. Apapun jawabannya ini adalah yang terbaik.
            “Aku. Aku yang menulisnya, Bi. Aku memang menyukaimu lebih dari tiga tahun. Iya, orang itu adalah aku.” ucapku membuatnya terlihat menjauh.
            Aku tahu hal ini akan membuatku semakin jauh darinya. Namun, ini adalah keputusan final yang berani aku ambil. Aku akan menghadapi segala kemungkinan yang akan ia berikan padaku.
            “Hmm. Berarti selama ini kamulah yang meminta semua medsos dan mengelike semua postingan fotoku. Eka, aku mungkin terlihat cuek dan lebih akrab dengan perempuan lain. Namun, aku sudah mengenalmu jauh dari aku mengenal teman-temanku yang lain. Kamu tahu aku selama ini melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan padaku.” balasnya sembari tersenyum manis padaku.
            “Kamu meminta semua medsosku juga?” tanyaku dengan bergetar.
            “Iya bahkan semua foto, hasil pemotretanmu di studio, dan semua karya puisimu sudah aku simpan ketat di ponselku. Ingat, Eka. Semua lelaki yang terlihat tidak tertarik tidak selalu berakhir tidak tertarik. Bisa saja itu adalah cara lelaki itu untuk menunjukkan rasa sayangnya. Jika kamu menyukaiku, tetaplah menyukaiku. Untuk akhir apakah kita akan bersama atau tidak itu adalah rencana Yang Kuasa. Terima kasih.” ucap Abi yang kini terlihat semakin dekat di hadapanku.
            “Bagiku semua perempuan yang berani menyukaiku adalah perempuan yang cantik. Terima kasih Eka.” lanjut Abi sembari terus tersenyum padaku dengan memberikan sebuah gelang berwarna hitam yang seirama dengan miliknya.
            Senyum tak bisa luput dari wajahku. Aku benar-benar beruntung  menyukainya.
           


            


2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger