“Diem-diem
kamu ini pinter motret ya? Kenapa gak ikut kelompok fotografer bareng aku?”
tanya Jordan membuat kepala ini cepat menggeleng.
“Aku
jadikan hobi aja sih kak. Gak ada cita-cita buat jadi fotografer ternama. Hehe.”
balasku membuatnya tertawa keras.
Pertemuanku
dengan Jordan terjadi cukup lama karena dia yang terus terkesan pada hasil
fotoku.
“Udah
jadi murid baru di SMA Menawan ya?” tanya Jordan sembari menyerahkan kameraku.
“Iya
kak. Cepet banget.” balasku tersenyum.
Studio
kecil penuh foto menghiasi dinding berwarna kuning lemon di sisi kanan kiriku.
Lantai berwarna oranye membuat suasana ruangan semakin segar. Pemandangan di
luar jendela yang menampakkan sebuah taman kecil yang terawat menambah
pemantapan dalam penglihatanku. Ruangan ini benar-benar menakjubkan.
Hari
pertama sekolah menyambutku dengan debaran yang tak terduga. Kelas yang
memiliki berbagai murid dari macam-macam jurusan membuatku kebingungan. Jurusan
Bahasa, IPS, dan IPA akan menjadi satu kelas untuk suatu mata pelajaran pemilihan.
Suasana kelas yang ramai membuat mata ini berputar dan telinga ini terasa membisu.
Aku tak mampu memperhatikan materi dengan baik sebelum seseorang masuk secara
ganas ke dalam kelas.
“Kenapa
kamu terlambat?” tanya bu Ita dengan ganas.
“Maaf
ya, Bu. Kelaperan tadi jadinya mampir ke kantin.” ucapnya dengan wajah tanpa
salah.
“Duduk.”
balas bu Ita sembari menahan kemarahan yang kerap ingin keluar dari mulutnya.
Suasana
ramai kelas membuat bu Ita terlihat kesal. Ia marah sembari memukul meja dengan
keras.
Semua
terdiam.
“Saya
ingin kalian berkelompok sesuai dengan nama-nama yang sudah saya tentukan.”
perintah bu Ita sembari menampilkan sebuah nama yang ia tuliskan di papan tulis.
Semua
terdengar mengeluh seraya bersorak.
Aku
sekelompok dengan anak itu.
Kami
lantas berkumpul sesuai dengan kelompok masing-masing. Tugas yang diberikan
adalah menceritakan sebuah tokoh yang menginspirasi di dunia.
“Kalian
cari topik dah. Males aku.” ucap lelaki sok itu dengan keangkuhan yang
menggebu-gebu.
Aku
menggerutu kesal dalam hati. Bagaimana bisa dia bersikap tidak peduli pada
tugas ini? Topik dan presentasi kami kerjakan selangkah demi selangkah dengan
waktu yang sangat singkat. Tatapan sombong ia tunjukkan sembari maju di depan
kelas dengan percaya diri. Ia melihat sekilas catatan kecil yang aku buat. Namun,
ia bisa mempresentasikan materi ini dengan luar biasa. Aku mendadak kagum
padanya.
Suara
tepuk tangan Bu Ita dan teman-teman membuyarkan lamunanku. Lelaki itu sangat
misterius.
Rutinitas
untuk melakukan pemotretan pada sore hari aku lakukan. Jordan sudah menantiku
lembut di depan pintu studio.
“Gimana
sekolahnya?” tanya Jordan penasaran melihat wajah kusutku.
“Lelah,
Kak.” balasku sembari duduk di atas sofa berwarna merah pekat di sudut ruangan
studio.
“Hari
ini libur aja gak papa. Main-main aja di studio kebetulan gak banyak orang
dateng kok” ucap Jordan sembari kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Aku
menuruti perintahnya dengan hanya meminum segelas air minum dan menyantap
beberapa bola-bola coklat yang lezat.
“Jordan!”
teriak seseorang dari balik pintu.
“Oi oi.
Masuk.” balas Jordan sembari merangkul seseorang yang sangat akrab dengannya.
Aku
mengalihkan pandangan dan terkejut pada kedatangan manusia yang sudah kukenal
sebelumnya.
“Ini.
Adik tingkatku di SMA Yoyo.” ucapnya membuat mata ini tidak berani berkedip.
Senyuman
Radit membuat wajahku memerah padam.
“Eh,
kalian sudah kenal?” tanya Jordan terkejut dengan wajahku yang tidak terduga.
“Eka
mantanku, Kak.” balas Radit sembari terus tersenyum padaku.
Jordan
terlihat sangat senang setelah mendengar kabar menggembirakan ini. Aku hanya
terdiam dan membiarkan Radit duduk di sampingku dengan tegap.
Matahari
telah tertidur lelap.
Langit
semakin gelap.
Studio
sudah tertutup rapat.
“Ayo
pulang bareng?” ajak Radit sembari memberikanku sebuah helm polkadot.
Aku
mengangguk pada ajakkannya. Aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dengannya.
Kami beda sekolah saat SMA ini. Badannya yang semakin panjang membuatku
terlihat semakin pendek di depan bola matanya.
Sebuah
rumah yang kutinggali telah terukir sempurna di depan mata. Senyuman kembali
dia ajukan dengan sempurna.
“Makasih,
Dit.” ucapku sembari tersenyum dan melambaikan tangan lembut padanya. Meskipun aku dipertemukan dengan Radit, aku tetap saja menyegani lelaki yang aku segani di sekolah itu.
Kelulusanku
membuat peringkat kelasku naik. Aku kini sudah berada di kelas tiga SMA.
…
Hari ini adalah hari terakhirku sekolah dan bertemu dengan lelaki itu. Sudah tiga tahun aku berada di
sekolah ini tetapi aku bahkan belum tahu namanya.
Rombongan anak-anak rusuh membuat tas dan buku-bukuku terjatuh tak karuan. Seorang
lelaki yang tak asing membuat tubuh ini lantas mengalihkan pandangan padanya.
“Sori.”
ucap lelaki itu sembari membereskan
buku-bukuku yang terjatuh sembarangan di lantai.
“Abi!!”
teriak temannya membuat lelaki itu lantas meninggalkanku.
Aku
terkejut melihat sikapnya. Namun, aku senang karena kini aku mengetahui namanya. Ia bernama Abi.
Kelas
penjurusan aku lalui sembari merasakan kepanasan yang dahsyat karena jumlah siswa dalam kelas yang semakin banyak. Keramaian anak-anak membuatku memilih untuk menutup kedua telingaku dengan tanganku sembari menikmati kesendirianku seorang diri.
Abi
adalah salah satu anak dari kerumunan anak-anak ramai itu. Aku merasa menyesal karena sempat ingin
mencari tahu informasi tentang dia.
“Rek,
ini medsos dan nomor ponselku ya. Aku yakin kalian ada yang ngefans sama aku.”
ucap Abi sembari mendapatkan lemparan penghapus karet dari teman-temannya.
Diam-diam
aku menulis medsos dan nomor ponselnya.
Karena kericuhan ini, bu Ita terlihat geram dan memilih untuk ke luar
dari kelas itu tanpa berkutik. Dalam sekejap suasana di kelas ini menjadi
hening. Aku terkejut melihat guru sesabar bu Ita pergi dari kelas. Ini adalah
kejadian yang sangat langka.
Bel
pulang sekolah kembali berdering. Aku bergegas pergi untuk melakukan
sebuah pemotretan baru pada hari ini.
Aku
tidak melihat siapapun di studio sore ini. Apakah Jordan tidak masuk? Aku
melihat beberapa hasil foto yang luar biasa tergeletak rapi di atas meja. Aku
selalu menyukai foto-foto Jordan yang terlihat sederhana tetapi menawan.
Aku
ingin menjadi fotografer seperti Jordan.
“Misi.”
ucap seseorang membuatku cepat mengalihkan pandangan.
“Kak
Jordan?” balasku tersenyum senang melihat kedatangannya.
Aku
terkejut pada apa yang aku lihat. Nyatanya lelaki yang menyapa itu bukanlah Jordan.
“Eh,
kamu anak kelas penjurusan yang njatuhin buku kemarin kan?” tanya Abi membuat mulut
ini bungkam seketika.
Aku tak menyangka. Kini, aku benar-benar berhadapan dan bercengkerama dengan Abi.
“Eh
iya. Mm. Ngomong-ngomong ada keperluan apa di sini?” tanyaku sembari menahan
tanganku yang tiba-tiba gemetar.
“Aku
cari kakakku. Dimana dia?” tanyanya membuatku kebingungan.
“Siapa
kakakmu?” tanyaku terheran-heran.
Suara
hentakan kaki cepat terdengar semakin dekat. Aku lantas mengalihkan pandangan
dan melihat Jordan terengah-engah di depan pintu studio.
“Sori
dek. Sori” ucap Jordan membuatku mataku terbelalak.
Adek? Apa jangan-jangan mereka bersaudara?
“Ini adikku, Abi.” balas Jordan membuat diriku terperangah berulang kali.
Aku
mengangguk seraya menebarkan senyuman pada keduanya yang kini terus menatapku.
Mengapa dunia ini semakin sempit saja? Orang yang menjadi idolaku kini sudah di
depan mata dan ternyata dia adalah adik dari Jordan.
“Eka,
aku minta kamu fotoin aku pas hari valentine besok ya. Bisa kan?” ucap Abi membuatku
tersenyum lebar.
Hari Valentine tiba.
Pakaian
sederhana yang ia kenakan tak membuat hati ini beralih. Aku tetap saja mengidolakan
lelaki itu.
Abi
mendekatiku dengan gagah sembari memperbaiki kacamatanya. Ia membawa banyak temannya
dan berpose keren di depan kameraku.
“Ini
hadiahmu.” ucap Abi sembari memberikanku setangkai mawar putih.
Aku
tak menyangka akan hal ini. Senyum yang ke luar berhasil kutahan di dalam pipiku.
“Kak,
mau ngisi sablon buat kakak tingkat atau anak kelas? Gratis kak.” ucap beberapa
anak sembari menyodorkan kertas kecil padaku.
“Aku
tulis ya.” balasku sembari menerima kertas itu dan menuliskan sesuatu di atasnya.
Aku
melipat kertas itu dan memberikannya pada mereka. Aku baru sadar bahwa selama
ini aku sudah menyukai Abi.
Hari ini adalah hari di mana ujian akhir kami berlangsung. Aku sangat beruntung karena bisa melewatinya dengan sangat baik. Saat hendak berpaling, tiba-tiba saja ada suara yang menghentikan langkahku.
“Eka.”
panggil seseorang pelan sembari menarik tanganku perlahan.
Abi.
Iya. Ia
membawaku menjauh dari teman-temanku. Aku hanya bisa berdiam diri dan menahan
tubuhku yang kembali gemetar seperti biasanya.
“Sori
ganggu sebelumnya. Aku pengen tahu sesuatu dari kamu karena aku denger kamu
punya temen anak jurnalistik. Jadi gini. Ada seseorang yang nulis beginian di majalah dan
itu untuk aku. Apa kamu tahu siapa? Aku bakal berterima kasih sama dia. Aku
seneng ternyata ada cewek yang suka sama orang seperti aku tiga tahun. Kamu tahu
siapa?” ucapnya membuat mulutku terkunci rapat.
Tubuhku
tidak bisa terhentikan. Aku benar-benar gemetar.
“Siapapun
itu. Entah dia jelek, cantik, tinggi, pendek, gendut, pendek, apapun. Aku akui
dia adalah perempuan yang aku cari selama ini.” ucap Abi sembari terus
menatapku serius.
Wajahku
merah padam. Aku tidak bisa menahan ini. Apakah aku harus mengakuinya?
“Eka,
plis. Aku bener-bener butuh jawabanmu.” lanjut Abi dengan memohon.
Aku
harus mengakuinya. Apapun jawabannya ini adalah yang terbaik.
“Aku.
Aku yang menulisnya, Bi. Aku memang menyukaimu lebih dari tiga tahun. Iya, orang itu adalah aku.” ucapku membuatnya terlihat menjauh.
Aku
tahu hal ini akan membuatku semakin jauh darinya. Namun, ini adalah keputusan
final yang berani aku ambil. Aku akan menghadapi segala kemungkinan yang akan
ia berikan padaku.
“Hmm.
Berarti selama ini kamulah yang meminta semua medsos dan mengelike semua
postingan fotoku. Eka, aku mungkin terlihat cuek dan lebih akrab dengan
perempuan lain. Namun, aku sudah mengenalmu jauh dari aku mengenal teman-temanku
yang lain. Kamu tahu aku selama ini melakukan hal yang sama seperti yang kamu
lakukan padaku.” balasnya sembari tersenyum manis padaku.
“Kamu
meminta semua medsosku juga?” tanyaku dengan bergetar.
“Iya
bahkan semua foto, hasil pemotretanmu di studio, dan semua karya puisimu sudah
aku simpan ketat di ponselku. Ingat, Eka. Semua lelaki yang terlihat tidak
tertarik tidak selalu berakhir tidak tertarik. Bisa saja itu adalah cara lelaki
itu untuk menunjukkan rasa sayangnya. Jika kamu menyukaiku, tetaplah
menyukaiku. Untuk akhir apakah kita akan bersama atau tidak itu adalah rencana
Yang Kuasa. Terima kasih.” ucap Abi yang kini terlihat semakin dekat di
hadapanku.
“Bagiku
semua perempuan yang berani menyukaiku adalah perempuan yang cantik. Terima
kasih Eka.” lanjut Abi sembari terus tersenyum padaku dengan memberikan sebuah
gelang berwarna hitam yang seirama dengan miliknya.
Senyum
tak bisa luput dari wajahku. Aku benar-benar beruntung menyukainya.
Plot twist. Abi ternyata adiknya Jordan.
BalasHapusBagus Tir. Aku nggak kepikiran bakal ke situ
Hapus