published on spotify : berjelajah dalam karya                                 “Cewekk..” goda seorang lelaki jahil sembari mendekatiku ...

Pembunuh Tanpa jiwa

/
2 Comments


published on spotify : berjelajah dalam karya
                 
             “Cewekk..” goda seorang lelaki jahil sembari mendekatiku di tepi jalan.

Aku bergidik ngeri tanpa memedulikan suara-suara itu. Tiba-tiba salah seorang dari mereka, berdiri tepat di depanku dengan wajah yang sangat bahagia. Aku berusaha untuk menghindar. Namun, perlahan-lahan mereka mengerumuniku. Mereka terus melihat wajahku dan terus mendekatiku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menginjak beberapa kaki mereka dan berlari sekencang mungkin. Saat sedang berlari, tiba-tiba saja aku ditabrak oleh seorang gadis yang juga berusaha menghindar dari orang-orang itu.

“Maafkan aku. Kamu tidak papa?” tanya seorang gadis itu yang langsung saja menarik tanganku.

“Aku tidak papa. Bagaimana denganmu? Hei! Kepalamu berdarah!” jeritku ketika melihat sekucur darah keluar dari kepala gadis itu.

“Ah. Ini hanya luka kecil.” balas gadis itu sembari mengikat kepalanya dengan kain yang ia bawa.

Sekejap setelah ia selesai berucap, ia langsung tidak sadarkan diri. Laki-laki nakal yang terus memanggilku membuatku terpaksa menggendong gadis itu jauh dari wilayah mereka.

Beberapa menit kulalui dengan kelelahan yang melanda tubuhku. Aku sudah membersihkan lukanya. Kini, aku hanya menunggu dia terbangun. Sebuah kaleng tiba-tiba terlempar ke arah kakiku. Seorang lelaki gagah dan tinggi datang menghampiriku.

“Lika. Kamu sedang menunggu siapa?” tanya lelaki itu yang ternyata adalah teman satu angkatanku. Dia bernama Geo.

“Aku menunggu gadis ini sadar. Dia terlihat terluka beberapa detik yang lalu. Apakah kamu mengenalnya, Yo?” tanyaku sembari menegaskan kerutan dahi yang terlihat di jidatku.

“Iya. Eh maksudku tidak. Eh. Lupakan saja.” ucap Geo yang terlihat sangat ketakutan sembari pergi dari hadapanku.

Aku bingung dengan tingkah Geo. Namun, aku tidak begitu mempedulikannya. Tatapan mata segar diajukan gadis itu sembari tersenyum melihatku.

“Syukurlah akhirnya kamu sadar. Siapa namamu?” tanyaku membuatnya langsung tersenyum padaku.

Tiba-tiba saja, wajahnya sangat pucat. Ia terus melihatku dan terus mendekatiku.

            “Eh? Bisakah kamu tidak terlalu dekat?” pintaku membuat gadis itu tersenyum manis dan menjauh.

            “Aku Jina. Aku disini berniat untuk melindungi semua perempuan yang menjadi korban lelaki nakal di ujung jalan itu. Mulai besok kamu harus pulang bersamaku, Lika.” ucap Jina yang tiba-tiba saja menunjukkan wajah yang normal kembali.

Aku bingung dengannya. Ini adalah kali pertamanya aku dan dia bertemu. Bagaimana bisa dia mempercayai sampai-sampai diajaknya pulang bersamanya? Saat asik menamati wajahnya yang kebingungan melihatku, ia tiba-tiba menarikku pergi. Kini ia terus menggandeng tanganku. Eh tunggu. Tangannya dingin.

            “Jina. Kenapa tanganmu dingin?” tanyaku sembari melihat ke arahnya.

“Apakah sekarang masih dingin?” balasnya dengan wajah yang sangat tenang.

Aku terkejut. Mengapa kini tangannya terasa hangat? Aku mencoba untuk tidak memikirkan hal yang bukan-bukan. Aku lantas tetap berjalan tanpa melihat Jina.

Keesokan harinya

Bel pulang sekolah pun berbunyi. Dengan terpaksa, aku harus kembali berjalan melewati lelaki-lelaki nakal itu. Perbaikan jalan yang tak kunjung selesai membuatku masuk dalam ketidaknyamanan ini. Apa yang harus aku lakukan nanti?

“Lika.” sapa Jina yang tiba-tiba berada di samping kananku.

Aku benar-benar terkejut. Aku tidak bisa mengendalikan degup jantungku yang kini terasa sangat menyakitkan.

“Maafkan aku. Aku tadi berlari dari warung dan mengejarmu. Aku memanggil namamu tapi kamu tidak dengar.” balas Jina membuatku sedikit tenang.

Aku merasa sungkan dan memberinya senyuman terindah yang kubisa. Kami pun bersiap untuk melewati tempat mengerikan itu.

Wah cewek cantik ini sering lewat sini ya. Kenalan dong. Mau kemana sih cantik? Ayo sini sama abang…” ucap mereka yang sudah berani menyentuh tanganku.

Aku benar-benar ketakutan. Jumlah lelaki-lelaki itu bertambah banyak. Aku tidak bisa membendung rasa khawatir dan kepanikan yang merenggut jiwaku. Aku hanya bisa mematung dan pasrah.

Aku terkejut melihat Jina yang tiba-tiba berdiri tepat di depan lelaki itu.

“Ada apa cantik? Ayo bermain dengan om!” goda mereka kembali dengan gelak tawa yang hebat.

“Ayo! Aku akan menunggu kalian malam ini. Aku ingin satu saja.” ucap Jina membuatku terperangah.

Apa dia sadar dengan yang ia lakukan?

“Oke cantik. Kamu ingin kita kemana sih? Abang bersedia kok menemani. Demi kamu sayang.” ucap salah satu dari preman itu sembari mendekati Jina.

“Dimana pun yang kamu suka.” balas Jina membuat lelaki itu berteriak bahagia.

Aku mendadak merasa takut dengan Jina. Mengapa dia meladeni perbuatan lelaki-lelaki itu? Aku tetap menjauh dan melihat Jina yang kini sedang bergandengan mesra dengan salah satu lelaki itu. Aku berlari dan tetap melihat kepergian mereka. Apa Jina gila?

Aku terus mengikuti keduanya. Namun, aku terjatuh karena sebuah ranting yang tiba-tiba melesat menuju kakiku. Aku tertusuk. Aku meringis. Darah terus menghujat keluar dari kakiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku terus menangis.

Sebuah tangan kuat muncul sembari menarik ranting yang kini telah terlepas.

“Kamu mengejar siapa sih?” protes Geo lantas memaksaku menepi dan langsung mengikatkan perban pada kakiku.

Aku kesakitan. Tak satupun kata mampu keluar dari bibirku. Aku bergetar. Darah tak mau berhenti walaupun aku terus menghujani wajahku dengan tangisan.

“Ayo pulang.” ucap Geo sembari membawa tubuhku dengan kedua tangan kuatnya itu.

“Aku mau bertemu dengan Jina. Jina dibawa oleh salah satu lelaki itu!” teriakku tak membuat Geo berhenti.

“Jina!! Jinaa!!!” teriakku tak membuat sahabatku kembali.

“Kesehatanmu lebih penting. Kamu bisa menemuinya besok. Kamu tidak perlu khawatir dengan laki-laki preman itu. Mereka sudah tidak ada di sini.” ucap Geo membuatku kembali memberontak.

“Geo! Turunkan aku!” teriakku membuat Geo terkejut.

“Kamu gila? Kamu sedang terluka!” teriak Geo yang tak mau kalah denganku.

“Memang aku gila! Aku tidak akan membiarkan sahabatku dalam keadaan bahaya.” bantahku membuat Geo marah besar.

“Baiklah! Aku tidak mempedulikan orang yang sangat keras kepala sepertimu lagi!” teriaknya sembari meninggalkanku begitu saja.

Malam yang terasa dingin mencekam tubuhku. Kakiku yang terbalut tak mampu menghentikanku untuk terus berusaha berjalan menuju tempat kediaman Jina. Aku khawatir akan keadaan Jina.

Kecerobohan membuat seluruh tubuhku terluka akibat goresan semak-semak berduri yang menari-nari di sekelilingku. Sebuah pondok kecil bertuliskan Jina membuat senyum di wajahku berseri. Aku memaksa tubuhku untuk terus berjalan. Aku mengetuk pintu itu dengan perlahan. Namun, pintu itu terbuka.

Aku terkejut. Teriakan ketakutan keluar tak terkira dari mulutku. Apa yang sedang terjadi!

Semua lelaki penggoda di tepi jalan itu kini terkapar tanpa jiwa dengan busa mengepul di mulut mereka, bekas tusukan benda tajam yang menghantam perut mereka, dan wajah  penuh darah yang menghiasi senyum mengerikan yang muncul di raut mereka. Aku terus bergidik. Suasana rumah Jina benar-benar mengerikan.

Aku terkejut melihat Jina yang tiba-tiba berada di belakangku. Dia membawa pisau yang kotor akan darah dengan senyuman pucat yang ia tampilkan padaku. Matanya tidak berkedip, kulitnya tidak lagi segar.        

Aku terdiam. Aku ketakutan. Sebuah benda tak terduga muncul di samping kananku. Sebuah nisan. Nisan itu bertuliskan nama Jina. Aku terkejut dan tidak bisa lagi melihat ke arah sahabatku. Apa yang terjadi!

Jina terus tersenyum dengan tatapan yang sama padaku.

            “Jangan takut, Ka. Dendamku dengan mereka sudah terpenuhi. Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku.” ucap Jina yang terus mendekatiku tanpa kaki.

Aku sangat ketakutan.

Dor! Sebuah peluru melesat kencang dan menghantam tubuh Jina sehingga ia terjatuh dan menghilang. Aku terkejut sembari berbalik dengan cepat ke belakang.

 “Setelah melihat sahabatmu seperti ini, apakah kamu masih mau menolak ajakanku untuk pulang? Jangan keras kepala, Ka!” teriak Geo sembari membanting pistolnya penuh amarah.

“Jina.” aku bergidik.

Geo kembali mengangkat tubuhku. Suara angin terdengar jelas di telingaku. Sepasang mata terus melihatku dari jauh.

“Terima kasih, Jina.”  

Suasana rumah yang terlihat mengerikan kini telah nyaman. Rumah itu kini sudah menghilang. Dendam yang sudah terbalaskan membuat Jina bisa kembali ke dunianya dengan tenang.



2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger