photo by : flickr For : mbak Cindy (story request) “Haduh!” teriak Ara menggertak sebal sembari manyun di depan wajahku.            ...

Puing-puing Kenangan Bertabur Kelabu

/
0 Comments

photo by : flickr
For : mbak Cindy (story request)


“Haduh!” teriak Ara menggertak sebal sembari manyun di depan wajahku.
            “Kenapa?” tanyaku tak memperhatikannya dengan benar.
            “Aku nggak siap buat melaporkan karya tulisku, Ma. Aku gak sepintar kamu.” balas Ara sembari perlahan membuat matanya berkaca-kaca.
            “Ra, buat apa takut? Toh berarti kamu mengerjakan tugas itu atas dasar ingin dipuji bukan keikhlasan. Coba kamu mengerjakan segala hal di hidupmu itu tanpa peduli apa tanggapan orang. Kamu pasti akan merasa tenang dan tidak terombang-ambing oleh perkataan orang.” ucapanku membuat rongga mulutnya terbuka lebar.
            “Sejak kapan jadi puitis, Ma?” goda Ara sembari menyentuh jidatku lalu mendorongnya.
            Aku merasa risih mendengar ramainya teman-temanku di luar kelas. Mereka tertawa sangat keras. Apakah mereka tidak bisa mengontrol tawanya? Aku menjadi semakin kesal.
            Ada seorang lelaki bertubuh tinggi lewat begitu saja di depanku dan langsung duduk tanpa mengatakan suatu kata apapun.
            “Hai, Ma.” ucap Tomi, teman dari lelaki dingin itu.
            Aku tersenyum sembari terus membaca karya tulisku dalam diam.
            Penilaian karya tulis yang memuaskan membuat nafasku kembali mereda. Aku bangga dengan berkat yang telah aku dapatkan dalam proses panjang ini. Aku melihat lelaki dingin itu lagi.
            “Galih!” teriak Tomi membuatku terkejut.
            Aku spontan berbalik dan mendapati lelaki dingin itulah yang berlari menuju Tomi. Oh, lelaki itu bernama Galih.
            Tiba di rumah, aku membuka komputer dan mengarahkan mouseku untuk menekan alamat facebook di dalam websiteku. Setelah login, aku langsung mengetik nama Galih dan mencari wajahnya di dalam kolom pencarian. Ketemu!
            Aku membuka facebooknya. Aku melihat berbagai foto yang menarik dari dia. Aku salah mengira bahwa Galih adalah laki-laki dingin. Ia terlihat sangat periang bersama teman-temannya. Dia juga sering meraih peringkat 5 besar di sekolah. Wah.
            Tiba saat kejuaraan kelas, aku duduk bersama Ara di barisan belakang. Seketika mataku berkeliling mencari sosok tubuh Galih yang aku rindukan. Mataku terus berkeliling hingga Ara pun ikut memutariku dengan heran.
            “Kamu cari siapa sih? Sampai nengok 180 derajat kayak gitu?” celoteh Ara tak membuatku berhenti mencari lelaki itu.
            “Peringkat empat diraih oleh Erma dari kelas 12 IPS 1. Silakan untuk Erma diharap maju ke depan untuk menerima piala dan piagam penghargaan. Berikan applause untuk Erma.”
            Aku terkejut mendengar namaku dikumandangkan. Aku beranjak sembari mengucapkan terima kasih pada semua temanku yang memberikan selamat. Aku menerima piala dan piagam penghargaan itu dengan sukacita.
            “Peringkat empat dari kelas 12 IPS 2 diraih oleh Galih. Berikan applause untuk Galih.”
            Aku terbungkam, diam, kaku, lemah, pucat, dan menggigil. Apa aku benar-benar mendengar namanya? Apakah laki-laki yang sekarang sedang berjalan dan berdiri di sampingkulah orang yang sedari tadi aku cari? Aku mati kaku. Aku tak sanggup menengadah. Aku terus merunduk melihat sepatuku yang terlihat kotor akibat kemalasanku untuk membersihkannya.
            Aku benar-benar tak sanggup melihat wajahnya.
           
            Aku telah sampai di rumah. Senyuman kedua orang tuaku atas prestasi yang kudapat membuat hatiku hangat. Aku bahagia bisa menjadi satu alasan dari senyuman mereka.
            Aku teringat Galih kembali. Aku membuka facebook dan memberanikan diri untuk mengucapkan selamat dan mengucapkan terima kasih karena dia sudah menerima permintaan pertemanan dariku.
            Galih menjawab dengan mengucapkan terima kasih.
            Aku mengira percakapan ini sudah mencapai ekornya. Namun, aku terkejut karena aku masih memulai percakapan yang terus aku jalani hingga sekarang. Kami menjadi sangat akrab. Berbagi suka duka bersama. Saling pengertian satu sama lain. Hingga didapati bahwa Galih menyukai Ara.
            Galih menanyakan segalanya tentang Ara. Hatiku terasa beku dan pedih. Namun, aku akan melakukan hal yang terbaik untuk Ara.
            Aku dan Galih menjadi teman dekat. Galih terus menerus ingin bertemu denganku untuk membahas tentang Ara. Ia sangat tergila-gila pada temanku.
            “Aku merasa Ara memanglah orang yang unik. Dia selalu membuat banyak orang tertawa tanpa mempedulikan kepedihan yang dia rasakan. Aku terkadang merasa sedih jika menemui orang seperti ini. Aku merasa niatku untuk membahagiakannya muncul tanpa izin dari hatiku sendiri. Aku ingin menjadi salah satu orang yang bisa membuatnya tersenyum.” ucap Galih sembari terus tersenyum padaku.
            Aku hanya tertawa dan menanggapi segala curahan hatinya dengan hati yang terbuka.

            “Galih. Kamu menganggapku seperti apa selama ini? Aku ingin tahu.” tanyaku sebelum ia pergi dari hadapanku.
            “Kamu adalah adikku yang terbaik. Aku tak bisa menilaimu sebagai seseorang yang lebih dari seorang adik. Apa kamu bisa mengerti diriku?” ucap Galih sembari mendekatiku dengan lembut.
            “Iya. Aku selalu mengerti.” ucapku membuatnya tersenyum lebih manis dari sebelumnya.

            Kedatangannya kembali hadir disaat adikku sunat. Aku melihat Galih sudah bersama Ara. Aku bahagia melihat keduanya.
            “Erma! Kamu cantik banget.” puji Ara membiarkan gigi gingsulnya menyilaukan mataku.
            “Erma. Kamu cantik.” puji Galih membuatku tersenyum simpul.
           
            Tak perlu kecewa jika tidak mendapatkan posisi di hati orang yang dicinta.
            Jika dirimu ada di hati itu, kamu akan merasakan kesesakan yang luar biasa.
            Dimana lebih baik terluka sendirian daripada terluka bersama dengan teman baikmu.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger