photo by : flickr For : mbak novi (story request)                  “Gak saya terima!” teriak ibumu saat aku hendak mencium tangannya. ...

Penantian satu cahaya

/
0 Comments

photo by : flickr
For : mbak novi (story request)

                 “Gak saya terima!” teriak ibumu saat aku hendak mencium tangannya.
            “Apa maksudnya, Bu?” lawanmu ketika mendengar ibumu menggertakku.
            “Lihat saja penampilannya. Tidak menarik! Masih banyak perempuan yang lebih cantik dan lebih menawan dari dia!” ucap ibumu semakin keras.
            Aku terdiam dan memilih untuk perlahan keluar dari kerumunan perdebatan itu. Aku terus melihatmu membelaku dengan keras di depan ibumu.
            Aku memilih duduk di tepi taman rumahmu sembari terus meneteskan air mata.
            “Mengapa fisik selalu menjadi permasalahan yang utama? Aku tidak bisa berbuat apa apa jika menyangkut pautkan permasalahan tentang hal itu.” batinku sembari terus meringis dalam kesedihanku.
            Suara pintu yang terbanting membuatku terkejut dan sontak berbalik melihatmu kesal sembari memegang perih pipi kananmu.
            “Dika kamu kenapa?” tanyaku tak membuatmu berucap suatu apapun.
            Aku tidak ingin memaksamu untuk membuka mulut. Air mata perlahan memudar dari wajahku. Aku berusaha tenang dan terus memperhatikan Dika yang terlihat sangat marah sekarang.
            “Aku bingung dengan ibuku sendiri. Ibu tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Bahkan teruntuk pada kakakku saja ia tidak pernah menuntut seperti ini.” keluhmu sembari menyandarkan tubuhmu di pilar di dekatmu.
            Aku terdiam. Ketakutan dan kepedihan kembali menggerogotiku. Tangis yang kubendung dalam mataku kembali pecah. Aku benar-benar sakit hati.
            “Sadarilah, Vy. Aku akan tetap mencintaimu seperti biasanya. Aku percaya kata pepatah bahwa kekuatan cinta itu dapat melebihi apapun. Ingat. Aku akan selalu memiliki hatimu walaupun berbagai masalah datang menerjang hidupmu. Apa kamu percaya padaku?” tanyamu membuatku tenang perlahan.
            “Iya aku percaya. Aku juga tetap mencintaimu.” ucapku membuatmu tersenyum simpul dan beranjak mengajakku pergi dari rumahmu.
           
            Suasana taman yang ramai penuh dengan tawa anak-anak kecil membuat kepedihan di wajahku memudar.
            “Aku bersyukur pada Tuhan bahwa orang tuaku bisa menerima diriku apa adanya.” keluhku membuatmu langsung meremas tanganku.
            “Vivy, tarik kembali perkataanmu. Dengar! Aku tidak suka kamu mengulang kembali apa yang sudah terjadi tadi. Apa kamu tidak percaya dengan ucapanku tadi?”
            “Aku percaya. Namun, kenyataan memang berkata demikian, Dik. Aku tidak bisa melawan takdir.”
            “Apa menurutmu dengan kamu berubah cantik aku bisa mengutarakan seluruh rasaku padamu lebih dari biasanya? Jika itu memang kamu lakukan aku berani sumpah bahwa aku tidak bisa mencintaimu dengan cara yang sama seperti biasanya.” teriakmu kesal pada perdebatanku sendiri.
            Aku tersenyum padamu. Kini aku melihatmu sedang bersusah payah untuk menenangkan hatimu yang kembali gusar.
           
            Tiba aku di rumah. Aku melihatmu bercakap-cakap serius dengan kedua orang tuaku. Tangis kembali meradang dalam wajahku. Aku membuka ponsel dan melihat pesan dari muridku.
            Mbak Vivy maaf kronologis cerita yang mbak kirim ke hapeku hilang. Jadi gak bisa bikin cepennya.
            Aku menjawab pesan polos itu sembari berusaha menenangkan hati yang kacau ini. Aku tak tahu apakah aku salah jika aku menceritakan cerita menyedihkan ini pada muridku. Namun, aku tetap melakukannya.
            Aku tak mengharapkan apapun dari muridku. Aku hanya berusaha jujur dan memberitahukan segalanya dengan jujur.
            Muridku tidak tinggal diam. Dia terus membujukku dan menghiburku. Perlahan senyum mekar dalam wajahku. Aku beruntung pernah mengenalnya.
            “Vy. Sampai kapan kamu terus nangis? Aku capek dengarnya.” keluhmu sembari mengetuk pintu kamarku dengan lembut.
            Aku perlahan membuka pintu dan tersenyum padamu.
            “Ayo kita keluar.”
            Suasana taman yang berbeda telah tampak. Taman yang gelap, sepi, dan cukup menyeramkan untuk dijadikan taman angker.
            Aku melihatmu langsung mempersilakan duduk di tempat yang kau tunjuk.
            “Vivy apa yang kamu lihat sekarang?” ucapmu membuatku bingung.
            “Aku melihat segalanya gelap, mengerikan, dan suasana yang tidak nyaman.”
            “Apa kamu bisa terus tersenyum di suasana seperti ini?”
            “Tidak. Tentu tidak. Bawa aku pergi!”
            Seketika lampu taman itu menyala. Seluruhnya memunculkan cahaya yang berbeda. Ada yang berwarna merah, hijau, abu-abu, biru, oranye, dan lain-lain. Suasana sepi yang beralih menjadi suasana romantis terasa secara tiba-tiba. Tiupan saxophone dan suara piano membuat tubuhku seakan kembali hidup dan dapat bangkit dari ketakutanku.
            “Apa kamu bisa terus tersenyum di suasana seperti ini?”
            “Ya. Aku akan selalu bahagia.”
            “Cahaya-cahaya itu adalah keluarga, teman, dan sahabat yang kita punya. Dimana mereka selalu ada di suka duka kita. Mereka memberikan dukungan hanya berupa sebuah cahaya kecil. Namun, apa yang terjadi jika mereka menyalakan cahaya itu bersama sama? Semua kegelapan yang memenjarakanmu hilang. Lalu, siapa yang mengaliri seluruh lampu itu untuk bercahaya? Dia adalah sang Pencipta.” ucapmu panjang lebar dengan penuh rasa bangga.
            Aku terdiam.
            “Lihatlah seluruh lampu ini. Satu cahaya lampu yang tidak menyala itu akan menyala jika listrik mengalirkan aliran padanya. Dia akan kalah dengan berbagai macam lampu yang bersinar terang di sekelilingnya. Vivy, aku yakin suatu saat nanti ibuku akan luluh dan bisa menerimamu.”
            Aku tersenyum dan merangkulmu dengan hangat.
           

            Teruntuk padamu Ibu. Aku tidak bisa memaksamu. Aku disini akan setia menunggu di kala aku berlabuh pada jalan buntu dengan pilu. Aku akan selalu bersamamu dalam rindu yang terus aku kumandangkan untukmu. Ibu.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger