“Aku berbeda.” batinku sembari melihat seluruh
kelasku mengenakan kerudung jilbab dengan rapi. Ketakutan merambat tubuhku
perlahan. Pemikiran yang negatif sudah menggerogoti kepercayaan diriku. Aku
hanya bisa memperhatikan wajah mereka satu persatu. Mereka cantik-cantik dan
tampan-tampan. Tiba saatnya aku berpindah kelas karena pelajaran selanjutnya
bukanlah pelajaran agama yang kuanut. Aku gemetar karena hanya aku saja yang
angkat kaki. Perlahan aku mencoba tersenyum ramah pada mereka seraya mendorong
pintu kelas keluar.
“Hati-hati,
ya!” teriak mereka bersamaan.
Hal
itu membuatku sontak terkejut dan memamerkan senyuman lebar pada mereka.
Keadaan
yang kutakutkan selama melanjutkan pendidikan di kelas itu tidak pernah sekalipun
terjadi. Mereka mau menerimaku apa adanya. Aku bahagia karena mereka
menyayangiku dengan sederhana.
“Ra,
ayo makan.” ajak Ida, salah satu teman kelasku, sembari mendekatiku.
“Ayo!”
balasku sembari mengikutinya dari belakang.
“Eh,
aku kok nggak diajak to. Aku ikut ya?” tanya Ervi sembari memamerkan wajah
konyol yang ia punya.
Kami
pun bersantap bersama. Aku terkejut melihat mereka yang sama sekali tidak
memandangku berbeda. Aku perlahan mulai nyaman dan bisa bersenda gurau dengan
keduanya.
Tri
adalah salah satu temanku. Ia selalu menampakkan wajah sedih setiap kali dia
berangkat ke kelas. Aku selalu mendekatinya tanpa peduli apa tanggapannya. Apa
yang terjadi sungguh di luar dugaan.
“Aku
lho ra gak suka sama tingkahnya Geo. Kamu tahu kan kalau dia ngejek aku waktu
presentasi. Hu-hu.” keluhnya sembari memeluknya.
Aku
tersenyum. Aku merasa senang bahwa Tri percaya padaku.
Aku
tak menyangka dengan Tri mengeluh seperti itu membuat kami berteman.
Selain
itu, aku mengenal temanku yang bernama Nisa. Ia sangat pendiam. Tiap kali aku
melihatnya, aku teringat diriku di masa lalu.
“Aku
memang pendiam, Ra. Aku gak bisa kayak kamu yang bisa bicara banyak dan aktif
di kelas.” ucap Nisa membuatku terkejut.
“Lho,
aku juga pendiam, Nis. Masa iya aku gak kelihatan pendiam?” tanyaku membuat
Nisa tertawa terbahak-bahak.
“Pendiam
apa lho, Ra. Kamu itu lho cerewet dan selalu gak jelas di depan kelas.” ejek
Nisa membuatku berpura-pura marah.
“Bisa
ngomong gitu lho, Nis. Orang pendiam bisa cerewet kok. Tapi, membutuhkan waktu.”
ucapku membuat Nisa tersenyum manis.
Hal
itu membuatku dan Nisa juga berteman. Setiap kali aku menyapanya, Nisa selalu
menjawab demikian.
“Siapa
ya? Kenal?”
Dia
sudah berani menjahatiku hu-hu. Namun, itu hanya sebatas gurauan belaka yang
cukup membuatku tertawa.
Keadaan
teman-teman kosku yang tidak memiliki printer mendorongku untuk membantu
mereka. Aku mencoba menyediakan jasa printer dan hal itu mereka manfaatkan
hingga tugas berakhir. Hal itu tak menyangka membuat mereka mengakui keberadaanku
dan tak sekalipun menganggapku berbeda dari mereka.
“Ra,
aku titip print ya. Sebagai balasannya, aku bakal periksa tugasmu.” ucap Afi
sembari meminta selembar tugasku.
Aku
tersenyum dan menunggu Afi menyelesaikan pemeriksaannya.
“Udah
betul, Ra. Kamu bakal dapat nilai A besok.” puji Afi membuatku tersenyum.
“Makasih,
Fi. Nanti malam lembaran printmu aku foto lewat whatsapp.” balasku sembari
beranjak mendekati Ervi dan Ida yang setia menungguku.
“Thanks.”
teriak Afi yang kubalas dengan lambaian tangan.
Saat
sesi foto bersama, kenangan burukku saat SMP dan SMA kembali terulang. Dimana keberadaanku
sama sekali tidak dianggap. Namun, mereka..
“Ayo,
Ra. Di depan sama aku.” ajak Fitri sembari menarik pelan tanganku.
Aku
mendapatkan posisi terdepan dan fotoku jelas. Astaga aku terlalu berlebihan ya.
Namun, itulah yang kurasakan. Benar-benar tidak pernah aku sangka-sangka.
Ajakan
foto itu membuatku dekat dengan Fitri. Tak jarang aku, Ida, Ervi, Fitri, dan
Tri menyantap makan siang bersama serta bertingkah konyol bersama.
“Hati-hati
ya, Ra.” ucap Firman dan Rozi bersamaan.
Aku
jujur terkejut tetapi aku berusaha menampilkan wajah biasa saja dengan
memberikan senyuman lebar pada keduanya.
“Mbak
Ira semangat ya. Jangan loyo hanya karena tugas tidak diacc sama dosen. Semangat
mbak Ira!” ucap Riani sembari menyentuh pundakku.
Aku
senang sekali.
“Ira,
kamu lagi sedih ya? Aku sampai takut nyapa kamu. Jangan sedih ya, Ra. Kegagalan
bukanlah akhir dari segalanya.” ucap Rahma sembari tersenyum hangat padaku.
“Astaga,
Ma. Kamu baik banget. Makasih ya.” balasku sembari tersenyum lebar padanya.
“Iya,
Ra.” balas Rahma dengan senyuman yang lebih hangat.
Mereka
juga ada di saat aku tidak memiliki uang.
“Ayo
makan, Ra.” ajak Ida sembari mengeluarkan uang di dompetnya.
“He-he.
Gak bawa uang aku.” balasku terkejut melihat isi dompetku yang hampa.
“Halah,
Ra. Kan ada aku. Apa gunanya berteman tapi gak ada rasa nyaman? Aku traktir. Tapi
awas kalau kamu anggap ini hutang! Awas!” ancam Ervi membuatku angkat tangan.
Aku
menyantap makan siang tanpa memikirkan uang yang aku pinjam pada Ervi. Namun,
keesokan harinya aku tetap membayarnya walaupun ia terus mengomel.
Tidak
hanya aku, orangtuaku juga sangat menyayangi teman-temanku.
“Ini,
ibu ada lauk terong dan telur. Kamu bawa ya. Kamu bagikan ke teman-temanmu.” ucap
ibuku membuatku tersenyum dengan semangat.
“Apa
temanmu dibelikan obat? Ayah mau ke apotek ini.” tawar ayah sebelum ia pergi
dari rumah.
“Ndak,
Yah. Ternyata dia sudah ada persediaan.” balasku membuat ayah mengangguk dan
beranjak pergi.
Aku
merasa lebih diterima dibandingkan saat aku masih bersekolah dulu. Terima
kasih.
Perbedaan
terkadang sanggup dibanggakan tetapi di sisi lain sanggup tuk dikecewakan. Hal
yang pantas tuk dituangkan dalam hati setiap insan adalah tetaplah berbuat baik
pada mereka tanpa perlu meminta balasan.
Mantaapp.. Meskipun berbeda tp tetep berharga kok, yg penting harus tetep baik sama siapapun tanpa memandang agama:)
BalasHapusMantaapp.. Meskipun berbeda tp tetep berharga kok, yg penting harus tetep baik sama siapapun tanpa memandang agama:)
BalasHapusmakasih ti. :) GBU
Hapus