For : tanti (story request) pHOTO BY : FLICKR           “Aku berbeda.” batinku sembari melihat seluruh kelasku mengenakan kerudung...

Pedulimu Luluhkan Hati Ini

/
3 Comments

For : tanti (story request)
pHOTO BY : FLICKR


          “Aku berbeda.” batinku sembari melihat seluruh kelasku mengenakan kerudung jilbab dengan rapi. Ketakutan merambat tubuhku perlahan. Pemikiran yang negatif sudah menggerogoti kepercayaan diriku. Aku hanya bisa memperhatikan wajah mereka satu persatu. Mereka cantik-cantik dan tampan-tampan. Tiba saatnya aku berpindah kelas karena pelajaran selanjutnya bukanlah pelajaran agama yang kuanut. Aku gemetar karena hanya aku saja yang angkat kaki. Perlahan aku mencoba tersenyum ramah pada mereka seraya mendorong pintu kelas keluar.
            “Hati-hati, ya!” teriak mereka bersamaan.
            Hal itu membuatku sontak terkejut dan memamerkan senyuman lebar pada mereka.
            Keadaan yang kutakutkan selama melanjutkan pendidikan di kelas itu tidak pernah sekalipun terjadi. Mereka mau menerimaku apa adanya. Aku bahagia karena mereka menyayangiku dengan sederhana.
            “Ra, ayo makan.” ajak Ida, salah satu teman kelasku, sembari mendekatiku.
            “Ayo!” balasku sembari mengikutinya dari belakang.
            “Eh, aku kok nggak diajak to. Aku ikut ya?” tanya Ervi sembari memamerkan wajah konyol yang ia punya.
            Kami pun bersantap bersama. Aku terkejut melihat mereka yang sama sekali tidak memandangku berbeda. Aku perlahan mulai nyaman dan bisa bersenda gurau dengan keduanya.
            Tri adalah salah satu temanku. Ia selalu menampakkan wajah sedih setiap kali dia berangkat ke kelas. Aku selalu mendekatinya tanpa peduli apa tanggapannya. Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan.
            “Aku lho ra gak suka sama tingkahnya Geo. Kamu tahu kan kalau dia ngejek aku waktu presentasi. Hu-hu.” keluhnya sembari memeluknya.
            Aku tersenyum. Aku merasa senang bahwa Tri percaya padaku.
            Aku tak menyangka dengan Tri mengeluh seperti itu membuat kami berteman.
            Selain itu, aku mengenal temanku yang bernama Nisa. Ia sangat pendiam. Tiap kali aku melihatnya, aku teringat diriku di masa lalu.
            “Kamu kok diem, Nis?” tanyaku membuatnya tersenyum padaku.
            “Aku memang pendiam, Ra. Aku gak bisa kayak kamu yang bisa bicara banyak dan aktif di kelas.” ucap Nisa membuatku terkejut.
            “Lho, aku juga pendiam, Nis. Masa iya aku gak kelihatan pendiam?” tanyaku membuat Nisa tertawa terbahak-bahak.
            “Pendiam apa lho, Ra. Kamu itu lho cerewet dan selalu gak jelas di depan kelas.” ejek Nisa membuatku berpura-pura marah.
            “Bisa ngomong gitu lho, Nis. Orang pendiam bisa cerewet kok. Tapi, membutuhkan waktu.” ucapku membuat Nisa tersenyum manis.
            Hal itu membuatku dan Nisa juga berteman. Setiap kali aku menyapanya, Nisa selalu menjawab demikian.
            “Siapa ya? Kenal?”
            Dia sudah berani menjahatiku hu-hu. Namun, itu hanya sebatas gurauan belaka yang cukup membuatku tertawa.
            Keadaan teman-teman kosku yang tidak memiliki printer mendorongku untuk membantu mereka. Aku mencoba menyediakan jasa printer dan hal itu mereka manfaatkan hingga tugas berakhir. Hal itu tak menyangka membuat mereka mengakui keberadaanku dan tak sekalipun menganggapku berbeda dari mereka.
            “Ra, aku titip print ya. Sebagai balasannya, aku bakal periksa tugasmu.” ucap Afi sembari meminta selembar tugasku.
            Aku tersenyum dan menunggu Afi menyelesaikan pemeriksaannya.
            “Udah betul, Ra. Kamu bakal dapat nilai A besok.” puji Afi membuatku tersenyum.
            “Makasih, Fi. Nanti malam lembaran printmu aku foto lewat whatsapp.” balasku sembari beranjak mendekati Ervi dan Ida yang setia menungguku.
            “Thanks.” teriak Afi yang kubalas dengan lambaian tangan.
            Saat sesi foto bersama, kenangan burukku saat SMP dan SMA kembali terulang. Dimana keberadaanku sama sekali tidak dianggap. Namun, mereka..
            “Ayo, Ra. Di depan sama aku.” ajak Fitri sembari menarik pelan tanganku.
            Aku mendapatkan posisi terdepan dan fotoku jelas. Astaga aku terlalu berlebihan ya. Namun, itulah yang kurasakan. Benar-benar tidak pernah aku sangka-sangka.
            Ajakan foto itu membuatku dekat dengan Fitri. Tak jarang aku, Ida, Ervi, Fitri, dan Tri menyantap makan siang bersama serta bertingkah konyol bersama.
            “Hati-hati ya, Ra.” ucap Firman dan Rozi bersamaan.
            Aku jujur terkejut tetapi aku berusaha menampilkan wajah biasa saja dengan memberikan senyuman lebar pada keduanya.
            “Mbak Ira semangat ya. Jangan loyo hanya karena tugas tidak diacc sama dosen. Semangat mbak Ira!” ucap Riani sembari menyentuh pundakku.
            Aku senang sekali.
            “Ira, kamu lagi sedih ya? Aku sampai takut nyapa kamu. Jangan sedih ya, Ra. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.” ucap Rahma sembari tersenyum hangat padaku.
            “Astaga, Ma. Kamu baik banget. Makasih ya.” balasku sembari tersenyum lebar padanya.
            “Iya, Ra.” balas Rahma dengan senyuman yang lebih hangat.
            Mereka juga ada di saat aku tidak memiliki uang.
            “Ayo makan, Ra.” ajak Ida sembari mengeluarkan uang di dompetnya.
            “He-he. Gak bawa uang aku.” balasku terkejut melihat isi dompetku yang hampa.
            “Halah, Ra. Kan ada aku. Apa gunanya berteman tapi gak ada rasa nyaman? Aku traktir. Tapi awas kalau kamu anggap ini hutang! Awas!” ancam Ervi membuatku angkat tangan.
            Aku menyantap makan siang tanpa memikirkan uang yang aku pinjam pada Ervi. Namun, keesokan harinya aku tetap membayarnya walaupun ia terus mengomel.
            Tidak hanya aku, orangtuaku juga sangat menyayangi teman-temanku.
            “Ini, ibu ada lauk terong dan telur. Kamu bawa ya. Kamu bagikan ke teman-temanmu.” ucap ibuku membuatku tersenyum dengan semangat.
            “Apa temanmu dibelikan obat? Ayah mau ke apotek ini.” tawar ayah sebelum ia pergi dari rumah.
            “Ndak, Yah. Ternyata dia sudah ada persediaan.” balasku membuat ayah mengangguk dan beranjak pergi.
            Aku merasa lebih diterima dibandingkan saat aku masih bersekolah dulu. Terima kasih.


Perbedaan terkadang sanggup dibanggakan tetapi di sisi lain sanggup tuk dikecewakan. Hal yang pantas tuk dituangkan dalam hati setiap insan adalah tetaplah berbuat baik pada mereka tanpa perlu meminta balasan.


3 komentar:

  1. Mantaapp.. Meskipun berbeda tp tetep berharga kok, yg penting harus tetep baik sama siapapun tanpa memandang agama:)

    BalasHapus
  2. Mantaapp.. Meskipun berbeda tp tetep berharga kok, yg penting harus tetep baik sama siapapun tanpa memandang agama:)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger