published on spotify : berjelajah dalam karya      “Psst. Psst.” bisikku sembari mengedarkan kedua mataku untuk mencari sesosok ...

Punggung Senja

/
1 Comments

          published on spotify : berjelajah dalam karya
     “Psst. Psst.” bisikku sembari mengedarkan kedua mataku untuk mencari sesosok penghapus karet yang terlintas.
            “Apa?” balasmu membuat tanganku langsung merogoh ke arah mejamu tanpa berkutik.
            “Kamu ingin apa?” lanjutmu sembari mendekatkan wajahmu ke arah telingaku.
            Wajahku memanas secara tiba-tiba. Aku tak bisa berkutik tetapi aku terus melawan rasa malu itu.
            “Penghapus.” bisikku membuatmu tertawa sembari meminjamkan penghapus karet hitammu padaku.
            Aku sangat malu dan perlahan tersenyum.
            “Eh, bagaimana ujiannya? Ini ujian hari terakhir lho.” ucapmu sembari tiba-tiba merangkul tubuhku.
            “Aduh. Kebiasaan ya. Bisa dong.” keluhku tak membuatmu melepaskan tanganmu dari pundakku.
            “Apa kamu tidak bisa tersenyum sedikit saja? Kamu terus menakuti orang-orang di sekitarmu dengan wajahmu yang menyeramkan itu.” omelmu membuatku langsung menyikutmu.
            “Inilah pribadiku. Aku tidak bisa mengubahnya.” balasku membuatnya kembali merangkulku.
            “Terserah kamu. Ayo kita ke kantin aku akan mentraktirmu.” ucapmu dengan nada menyerah sembari kembali berjalan bersamaku.
             Sampainya di kantin.
            “Wih, dengan Silvy lagi? Langgeng ya kalian.” puji Ricky, salah satu sahabatmu, dengan ramah.
            “Kami tidak berlangsung di dalam suatu hubugan apapun, Ric.” keluhku membuatmu melepaskan rangkulan tanganmu dan pergi menuju gerobak bakso dekat kantin sekolah.
            “Ini.” ucapmu sembari memberikanku satu mangkok bakso penuh lengkap dengan gorengan, sambal, saus tomat, mie, bakso kecil, bakso besar, tahu, siomay, dan bakso goreng. Aku memang kelaparan tetapi aku bisa membuang mereka jika aku tidak kuat nantinya.
            “Nobody nobody but you. I want nobody nobody but you. Na-na.” lirihmu sembari bernyanyi dengan memegang botol saus yang kamu imajinasikan menjadi sebuah microphone.
            Aku tertawa melihat tingkah konyolmu.
            “Kamu tidak pernah merasa bosan denganku?” tanyamu membuatku menghentikan kunyahanku.
            “Jelas bosan lah.” balasku ketus membuatnya berdecak.
            “Jika itu benar, mengapa kamu rela membuang-buang waktumu demi aku?” tanyamu mengundang sejuta tanya dalam benakku.
            “Kenapa tanya begitu?” balasku tak membuatmu mengalihkan topik yang kau ajukan.
            “Jawablah pertanyaan orang lain terlebih dahulu baru setelah itu kamu akan memperoleh jawaban yang kamu inginkan dari orang lain.” ucapmu kembali berpetuah seperti biasanya.
            “Aku melakukan apa yang hatiku inginkan. Apa bisa aku utarakan?” balasku membuatmu bungkam.
            Aku tak mengerti apakah jawaban yang aku ucapkan salah atau malah menyakitinya. Setelah berkata demikian, kamu sama sekali tidak membuka topik pembicaraan apapun denganku.
            “Hmm. Aku jadi teringat dimana kamu menaiki sebuah odong-odong dengan adikmu. Padahal sebenarnya kamu tahu bahwa umurmu sudah tidak pantas untuk menaiki kendaraan teruntuk anak-anak kecil seperti itu. Kamu terlihat seperti seseorang yang tidak tahu arah jalan pulang.”            ejekmu membuatku langsung menginjak keras kakimu dengan kejam.
            Hal itu tak membuatmu terlihat kesakitan. Kamu malah tertawa seperti tidak pernah melakukan suatu kesalahan apapun dalam hidupmu.
Eh, apa kamu ikut perpisahan sekolah besok?” tanyamu membuatku mengangguk cepat.
            “Baiklah. Sampai bertemu besok!” teriakmu sembari berlari menjauh dari hadapanku.
            Keesokan harinya.
            Aku tak berada di satu bus yang sama denganmu. Aku terus melukiskan wajahmu dalam benakku di kala aku berlabuh di dunia angan-anganku.
            Aku memasang earphone dan terlelap sembari bermain lucu dengan segala tokoh di dalam alam mimpiku.
            Ombak besar terdengar menyegarkan dalam daun telingaku. Aku terkejut karena aku sudah tiba di pantai tempat tujuan pemberangkatan kami. Aku melihatmu dari kejauhan menggunakan jaket dengan warna kesukaanku, merah. Aku terpana melihatmu yang sedang tertawa keras bersama teman-temanmu. Langkah kaki kau ajukan sampai kau dekat dengan tepi pantai.
            Langit senja mengelilingi tubuh dengan indah. Kau berdiri tak berkutik sembari menatap tajam ombak di depanmu membuatku takjub melihatmu dari kejauhan ini. Andai aku berani berlari dan bisa berdiri berdua bersamamu di sana. Namun, aku terlambat. Teman-temanmu sudah merampasmu dan kamu sudah pergi jauh dari pantai.
            “Silvy, apakah kamu berniat ikut membeli oleh-oleh bersama kami?” tanya Lia, salah seorang teman sekelasku.
            “Ndak, Li. Makasih ya.” ucapku malas sembari kembali memasang earphone.
            Tiba-tiba aku tidak sengaja mengalihkan pandanganku ke kanan. Aku melihat bus yang kau tumpangi. Sontak aku langsung beranjak turun dan menghampirimu.
            Aku lawan segala rasa malu dan ketakutan yang sudah hampir mengikisku habis sebelum aku tiba di tempat dudukmu. Kau terlihat lelah sembari membaringkan tubuhmu manja di kursi.
            “Oi.” sapaku membuat senyum di wajahmu terlukis dengan begitu indahnya.
            “Apa kamu tidak nyaman di busmu sendiri? Aku ingin tidur.” keluhmu sembari perlahan menutup mata kelelahan.
            “Aku ingin berkunjung. Lagipula aku sendirian di sana semua temanku turun membeli oleh-oleh. Apa kamu tidak ingin turun?” ajakku tak membuatmu membuka mata.
            “Tidak. Aku sudah cukup memberikan kenangan untuk keluargaku.” jawabmu asal sembari terus menguap di depan wajahku.
            “Ya baiklah. Aku akan kembali ke busku. Selamat istirahat.” ucapku sembari beranjak pergi dari kursimu.
            “Jangan pergi dulu. Lihat, busmu masih kosong kan. Di sini saja.” balasmu yang tiba-tiba menarik tanganku mendekat.
            Aku tersenyum dan duduk di sampingnya dalam waktu yang cukup lama.
            “Nobody nobody but you. I want nobody nobody but you.” lirihmu sembari memejamkan mata dengan lemas.
            “Kenapa kamu sangat menyukai lagu itu? Kamu bisa menyanyikannya lain waktu tidak saat kamu sedang tidur seperti ini.” omelku membuatmu tersenyum tak peduli.
            “Aku menyanyikan lagu itu di saat kamu ada di depanku. Siapa yang tahu jika mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir?” ucapmu membuatku terbelalak.    
            “Oh, aku lupa kalau kamu tidak bisa berbahasa inggris. Arti dari lagu itu adalah aku tidak menginginkan siapapun kecuali kamu. Gitu” balasmu membuat wajahku memanas.
            Aku berusaha mengendalikannya tapi aku tidak bisa.
            “Aku juga sengaja mengenakan jaket merah ini karena aku tahu kalau kamu suka dengan warna merah sama denganku.” lanjutmu membuat bibir ini terkunci rapat.
            “Aku mendapatkan beasiswa di Islandia. Yap. Doakan aku.” lanjutmu membuatku terkejut.
            “Apa? Kamu akan ke Islandia?” teriakku terkejut mendengarmu berkata dengan wajah datar.
            “Dasar polos. Mana mungkin aku bisa pergi sejauh itu? Aku meninggalkan kota ini saja aku merasa takut jika aku tidak bisa ketemu kamu lagi.” balasmu membuat tubuhku kembali bergetar.
            Kata-kata gombalan apa yang terus kamu ucapkan padaku saat ini benar-benar membuatku mabuk kepayang.
            “Aku akan pergi. Busku sudah penuh kelihatannya.” ucapku tak membuatmu melepaskan tanganku.
            Aku terus membujukmu namun kau terus memeluk tanganku dengan lembut seraya memasukkannya ke dalam saku jaketmu.
            “Silvy, tolong pindah ke busmu ya.” perintah bu Ani membuatku mengangguk cepat.
            “Dia tidak boleh di sini, Bu?” protesmu manja sembari terus memegang tanganku.
            “Nathan!” bantah bu Ani membuatmu melepaskan genggamanmu.
            Aku segera menaiki busku dan menjalani perjalanan pulang menuju kota asal kami.
            Tiba di gerbang sekolah, aku tidak bisa menemukanmu. Aku yakin kau sudah kembali pulang bersama keluargamu. Namun, setidaknya aku merasa senang karena genggamanmu itu. Aku berharap suatu hari nanti kau mampu memberikan genggaman dengan rasa yang sama seperti yang kau lakukan padaku tadi.


Tak payah aku terus menggurutu. Tak payah aku terus mengeluh semu. Tak payah aku terus menangis pilu. Hingga tiba di saat aku bisa bertemu. Dengan dirimu yang selalu buatku merindu. Meskipun aku tidak tahu bagaimana kabarmu. 


1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger