“Eh,
bagaimana ujiannya? Ini ujian hari terakhir lho.” ucapmu sembari tiba-tiba
merangkul tubuhku.
“Aduh.
Kebiasaan ya. Bisa dong.” keluhku tak membuatmu melepaskan tanganmu dari
pundakku.
“Apa
kamu tidak bisa tersenyum sedikit saja? Kamu terus menakuti orang-orang di
sekitarmu dengan wajahmu yang menyeramkan itu.” omelmu membuatku langsung
menyikutmu.
“Inilah
pribadiku. Aku tidak bisa mengubahnya.” balasku membuatnya kembali merangkulku.
“Terserah
kamu. Ayo kita ke kantin aku akan mentraktirmu.” ucapmu dengan nada menyerah
sembari kembali berjalan bersamaku.
Sampainya di kantin.
“Wih,
dengan Silvy lagi? Langgeng ya kalian.” puji Ricky, salah satu sahabatmu,
dengan ramah.
“Kami
tidak berlangsung di dalam suatu hubugan apapun, Ric.” keluhku membuatmu
melepaskan rangkulan tanganmu dan pergi menuju gerobak bakso dekat kantin
sekolah.
“Ini.”
ucapmu sembari memberikanku satu mangkok bakso penuh lengkap dengan gorengan,
sambal, saus tomat, mie, bakso kecil, bakso besar, tahu, siomay, dan bakso
goreng. Aku memang kelaparan tetapi aku bisa membuang mereka jika aku tidak
kuat nantinya.
“Nobody
nobody but you. I want nobody nobody but you. Na-na.” lirihmu sembari bernyanyi
dengan memegang botol saus yang kamu imajinasikan menjadi sebuah microphone.
Aku
tertawa melihat tingkah konyolmu.
“Kamu
tidak pernah merasa bosan denganku?” tanyamu membuatku menghentikan kunyahanku.
“Jika
itu benar, mengapa kamu rela membuang-buang waktumu demi aku?” tanyamu
mengundang sejuta tanya dalam benakku.
“Kenapa
tanya begitu?” balasku tak membuatmu mengalihkan topik yang kau ajukan.
“Jawablah
pertanyaan orang lain terlebih dahulu baru setelah itu kamu akan memperoleh
jawaban yang kamu inginkan dari orang lain.” ucapmu kembali berpetuah seperti
biasanya.
“Aku
melakukan apa yang hatiku inginkan. Apa bisa aku utarakan?” balasku membuatmu
bungkam.
Aku
tak mengerti apakah jawaban yang aku ucapkan salah atau malah menyakitinya.
Setelah berkata demikian, kamu sama sekali tidak membuka topik pembicaraan
apapun denganku.
“Hmm.
Aku jadi teringat dimana kamu menaiki sebuah odong-odong dengan adikmu. Padahal
sebenarnya kamu tahu bahwa umurmu sudah tidak pantas untuk menaiki kendaraan
teruntuk anak-anak kecil seperti itu. Kamu terlihat seperti seseorang yang
tidak tahu arah jalan pulang.” ejekmu
membuatku langsung menginjak keras kakimu dengan kejam.
Hal
itu tak membuatmu terlihat kesakitan. Kamu malah tertawa seperti tidak pernah
melakukan suatu kesalahan apapun dalam hidupmu.
“Eh, apa kamu ikut
perpisahan sekolah besok?” tanyamu membuatku mengangguk cepat.
“Baiklah.
Sampai bertemu besok!” teriakmu sembari berlari menjauh dari hadapanku.
Keesokan
harinya.
Aku
tak berada di satu bus yang sama denganmu. Aku terus melukiskan wajahmu dalam
benakku di kala aku berlabuh di dunia angan-anganku.
Aku
memasang earphone dan terlelap
sembari bermain lucu dengan segala tokoh di dalam alam mimpiku.
Ombak
besar terdengar menyegarkan dalam daun telingaku. Aku terkejut karena aku sudah
tiba di pantai tempat tujuan pemberangkatan kami. Aku melihatmu dari kejauhan
menggunakan jaket dengan warna kesukaanku, merah. Aku terpana melihatmu yang
sedang tertawa keras bersama teman-temanmu. Langkah kaki kau ajukan sampai kau
dekat dengan tepi pantai.
Langit
senja mengelilingi tubuh dengan indah. Kau berdiri tak berkutik sembari menatap
tajam ombak di depanmu membuatku takjub melihatmu dari kejauhan ini. Andai aku
berani berlari dan bisa berdiri berdua bersamamu di sana. Namun, aku terlambat.
Teman-temanmu sudah merampasmu dan kamu sudah pergi jauh dari pantai.
“Silvy,
apakah kamu berniat ikut membeli oleh-oleh bersama kami?” tanya Lia, salah
seorang teman sekelasku.
“Ndak,
Li. Makasih ya.” ucapku malas sembari kembali memasang
earphone.
Tiba-tiba
aku tidak sengaja mengalihkan pandanganku ke kanan. Aku melihat bus yang kau
tumpangi. Sontak aku langsung beranjak turun dan menghampirimu.
Aku
lawan segala rasa malu dan ketakutan yang sudah hampir mengikisku habis sebelum
aku tiba di tempat dudukmu. Kau terlihat lelah sembari membaringkan tubuhmu
manja di kursi.
“Oi.”
sapaku membuat senyum di wajahmu terlukis dengan begitu
indahnya.
“Apa kamu tidak nyaman di busmu sendiri? Aku ingin
tidur.” keluhmu sembari perlahan menutup mata kelelahan.
“Aku ingin berkunjung. Lagipula aku sendirian di sana
semua temanku turun membeli oleh-oleh. Apa kamu tidak ingin turun?” ajakku tak
membuatmu membuka mata.
“Tidak. Aku sudah cukup memberikan kenangan untuk
keluargaku.” jawabmu asal sembari terus menguap di depan wajahku.
“Ya baiklah. Aku akan kembali ke busku. Selamat
istirahat.” ucapku sembari beranjak pergi dari kursimu.
“Jangan pergi dulu. Lihat, busmu masih kosong kan. Di sini
saja.” balasmu yang tiba-tiba menarik tanganku mendekat.
Aku tersenyum dan duduk di sampingnya dalam waktu yang
cukup lama.
“Nobody nobody but you. I want nobody nobody but you.”
lirihmu sembari memejamkan mata dengan lemas.
“Kenapa kamu sangat menyukai lagu itu? Kamu bisa
menyanyikannya lain waktu tidak saat kamu sedang tidur seperti ini.” omelku
membuatmu tersenyum tak peduli.
“Aku menyanyikan lagu itu di saat kamu ada di depanku.
Siapa yang tahu jika mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir?” ucapmu
membuatku terbelalak.
“Oh, aku lupa kalau kamu tidak bisa berbahasa inggris.
Arti dari lagu itu adalah aku tidak menginginkan siapapun kecuali kamu. Gitu”
balasmu membuat wajahku memanas.
Aku berusaha mengendalikannya tapi aku tidak bisa.
“Aku juga sengaja mengenakan jaket merah ini karena aku
tahu kalau kamu suka dengan warna merah sama denganku.” lanjutmu membuat bibir
ini terkunci rapat.
“Aku mendapatkan beasiswa di Islandia. Yap. Doakan aku.”
lanjutmu membuatku terkejut.
“Apa? Kamu akan ke Islandia?” teriakku terkejut
mendengarmu berkata dengan wajah datar.
“Dasar polos. Mana mungkin aku bisa pergi sejauh
itu? Aku meninggalkan kota ini saja aku merasa takut jika aku tidak bisa ketemu kamu lagi.” balasmu membuat tubuhku kembali bergetar.
Kata-kata gombalan apa yang terus kamu ucapkan padaku
saat ini benar-benar membuatku mabuk kepayang.
“Aku akan pergi. Busku sudah penuh kelihatannya.”
ucapku tak membuatmu melepaskan tanganku.
Aku terus membujukmu namun kau terus memeluk tanganku
dengan lembut seraya memasukkannya ke dalam saku jaketmu.
“Silvy, tolong pindah ke busmu ya.” perintah bu Ani
membuatku mengangguk cepat.
“Dia tidak boleh di sini, Bu?” protesmu manja sembari
terus memegang tanganku.
“Nathan!” bantah bu Ani membuatmu melepaskan genggamanmu.
Aku segera menaiki busku dan menjalani perjalanan pulang
menuju kota asal kami.
Tiba di gerbang sekolah, aku tidak bisa menemukanmu. Aku
yakin kau sudah kembali pulang bersama keluargamu. Namun, setidaknya aku merasa
senang karena genggamanmu itu. Aku berharap suatu hari nanti kau mampu
memberikan genggaman dengan rasa yang sama seperti yang kau lakukan padaku
tadi.
Tak payah aku terus menggurutu. Tak payah aku terus mengeluh semu. Tak
payah aku terus menangis pilu. Hingga tiba di saat aku bisa bertemu. Dengan
dirimu yang selalu buatku merindu. Meskipun aku tidak tahu bagaimana kabarmu.
keren
BalasHapusbagus
aku suka raaaa :)