Puisi
telah terlukis tanpa sengaja dalam layar kaca ponsel yang terus menyimpan semua
kenangan indah saat bersamamu. Aku terus mengingat dimana tangan ini
mengarahkan kamera padamu di acara sekolah.
“Ngelamun aja! Nanti ada orang yang
melihat chatmu bagaimana?” goda Ara membuatku jatuh dari kursi.
“Ara kebiasaan ya? Luar biasa lho
suara kecilmu itu bisa membuat aku kaget setengah mati.” ucapku tak membuat
tawanya mereda.
“Hahaha. Aku merindukan Kale.” keluhku sembari memperbaiki celana panjangku
dan merapikan kerah kemejaku.
Aku mengira bahwa tanggapannya adalah
dengan menghusap pelan punggungku tetapi nyatanya tidak.
“Hahaha. Kirana. Kamu terus
memikirkan hal-hal sulit. Kenapa kamu tidak memikirkan seseorang yang
jelas-jelas lebih berharga daripada lamunanmu itu? Lihat sahabatmu.” ucap Ara
membuatku terkejut dan memalingkan wajahku pada arah telunjuk Ara.
Lima kawanku Cia, Kristi, dan Tata
sedang makan bersama disana. Mereka sedang melihatku dengan senyuman ejekan
seperti biasa.
Aku sangat merindukan mereka.
“Kirana!” teriak mereka bersamaan
sembari berlari kencang ke arahku.
Aku meninggalkan Ara dan memeluk
ketiga sahabatku itu. Namun sayang, mereka tidak bisa berlama-lama disini.
Cuaca hujan dan mendung memaksakan mereka untuk segera pulang ke rumah dan kembali
ke Jogja.
“Aku harap ini bukan pertemuan yang
terakhir kalinya.” ucapku membuat mereka menangis sembari melambaikan tangan
padaku.
Aku sadar bahwa sedari tadi aku
meninggalkan Ara sendirian diam di atas meja makan restoran.
“Gak marah?” tanyaku membuat Ara
tersenyum lebar sembari menatap tajam hujan yang semakin deras.
Aku menghabiskan makananku sembari
terhenti pada sesosok lelaki yang tak asing. Ia tinggi, kulitnya sawo matang, jangkung, berkacamata, berkawat gigi, dan mengenakan jaket berwarna hitam.
Aku tiba-tiba saja merasa tertarik.
Kamera segera kuarahkan pada manusia
yang kini sedang meminum secangkir kopi itu bersama teman-temannya.
“Ara. Ada Langit.” ucapku membuat
Ara mengalihkan pandangan dan kembali menatapku dengan tersenyum.
Ara terus melihatku tanpa berkedip.
Aku berusaha tetap bersikap tenang dengan kelakuan aneh temanku ini.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanyaku gemas melihat tingkahnya yang
tidak pernah bisa diduga.
“Gak papa. Wajahmu sedangmemerah saja.” jawabnya
membuat wajahku kembali memerah.
Seiring berjalannya waktu aku makin giat
memotret di
kampus karena bertemu dengan
Langit. Kami menjadi teman dekat oleh karena
ternyata dia mengambil ekstrakurikuler fotografi yang sama.
“Aku dengar-dengar kamu memang ada tugas motret di
tempat orang ya?” tanyaku
membuatnya tersenyum.
“Ya begitulah. Aku sudah dipesan oleh
sepasang pengantin untuk memotret pernikahan mereka di Prancis akhir Desember
ini.” balasnya ramah
sembari melanjutkan tugasnya.
Aku terbelalak kagum sembari memberikannya tepuk
tangan kecil yang sederhana. Aku tak menyangka bahwa ia benar-benar mendapatkan
kesempatan emas itu.
“Apa kamu
sedang
dekat dengan seseorang, Ngit?”tanyaku saat Langit menunggu hujan reda
bersamaku di tepi jalan.
“Iya.Mm, Ran. Apa boleh aku memberikan nomor
ponselmu ke temanku?” balas Langit berusaha mengalihkan topik pembicaraanku.
“Tidak apa apa kok. Untuk apa memangnya?”
tanyaku penasaran.
“Ada yang memintanya.” balasnya
sembari pamit pergi dari hadapanku.
Apa yang aku pikirkan bukanlah
perkara siapa teman Langit yang penasaran denganku, melainkan siapa perempuan
yang sedang ia dekati? Aku teringat akan Ara.
“Ara. Apa kamu sering dihubungi oleh
Langit?” tanyaku membuat Ara mendengus.
“Iya. Kirana aku dapat kabar baik.” balasnya membuat hatiku bergejolak.
“Apa, Ran?”
tanyaku membuatnya menatapku tegas.
“Kamu harus ikut lomba fotografi tingkat nasional itu
di kampusku.Aku akan datang kesana jika
kamu bersedia.” lanjutnyamembuat hatiku tak tenang.
“Haha
iya. Aku akan mendaftarkan diri.” balasku membuat Ara meloncat kegirangan.
Suatu saat aku terkejut melihat
Langit memasukkan isi pesannya dengan Ara dalam status. Aku merasa panik dan
cemas akan keadaan ini. Namun..
“Hai. Aku Hema teman Langit. Ini
benar Kirana?” denting pesan tersiarkan pelan dalam ponselku.
Aku sama sekali tidak menghiraukan
pesan itu dan memilih untuk segera menemui Ara.
“Ara.” tanyaku
membuat Ara mengalihkan
pandangannya padaku.
“Mm, Kirana jika kamu sudah
menyelesaikan tugas menggambarmu tolong fotokan padaku ya.” balasmu sembari
terus mengalihkan topik pembicaraanku.
“Untuk apa?” jawabku singkat.
“Aku ingin menyimpannya dalam ponsel supaya aku bisa meniru
bagaimana proses kerjamu sampai nanti kamu menjadi sukses. Oh aku juga ingin
meminta hasil fotomu.” balas Ara dengan semangat sembari mengeluarkan ponselnya.
“Kirana aku suka dengan fotomu di
pameran. Aku juga tidak sengaja bertemu kamu di rumah kayu.” pesan Hema kembali
muncul dalam ponselku.
Aku
terus mengabaikannya dan sama sekali tidak pernah kuhiraukan. Pemikiranku
tentang Ara menjadi buruk sekarang.
Aku
melihat Langit terus mendekati Ara saat kami mengadakan pertemuan. Hati ini
memang remuk dan aku terluka pada apa yang aku rasakan ini.
“Kirana
aku ingin
suatu saat bisa berlibur denganmu.
Oh ya,beberapa menit yang lalu,
Hema menelponku dengan
bertanya apakah kamu lolos audisi foto?” ucap Ara membuatku terkejut.
Hema?
Lelaki
yang terus mengirim pesan padaku setiap hari.
Aku bahkan sama sekali tidak menghiraukannya karena terlalu terfokus pada Ara
dan Langit.
“Dia
ingin bertemu kamu. Dia ada di depan sekarang.” ucap Ara membuatku menatap ke
arahnya.
“Ara,
apa yang kamu lakukan jika aku tiba-tiba membencimu nanti?” tanyaku membuatnya
tersenyum.
“Aku
akan terus melakukan hal yang biasa aku lakukan padamu. Tanpa peduli kau sedang marah ataupun benci padaku. Itu
adalah janjiku.
Oh ya.” ucap Ara sembari merogohkan sesuatu pada tas
besarnya.
Aku menunggunya dengan sabar sembari memainkan kameraku
dan memotret Ara.
“Ini adalah kado kecil dariku. Terimalah..” ucap Ara
sembari memberikan sebuah boneka teddy
bear yang sedang membawa kamera, gambar sederhana yang sedikit mirip dengan
fotoku, dan setangkai bunga mawar merah muda dengan pita indah terhias disana.
Aku terdiam.
“Ya, anggap saja boneka beruang itu adalah seseorang yang
selama ini terus mendukungmu di belakang, lalu gambar itu adalah sesosok wanita
terhebat yang terus aku banggakan, dan tangkai bunga mawar merah muda itu
adalah pandangan orang lain tentang dirimu yang terus terasa indah dan menawan.”
lanjut Ara membuatku terdiam dan tersenyum.
Aku
menghela nafas sembari melangkahkan kakiku keluar ruangan. Hema memang ada
disana.
“Selamat
ya. Ini aku berikan piagam perhargaan karena kamu sudah lolos menjadi juara
satu dalam bidang pemotretan tingkat nasional. Kamu juga akan dijadikan sebagai fotografer model di
majalah tahunan yang terkenal.”
puji Hema membuatku tersenyum datar.
Hati
ini teriris melihat apa yang aku lukiskan dalam pikiranku membuyar dan hancur
berkeping-keping dalam genggamanku hari ini.
“Ya.
Aku tahu kamu menyukai temanku sendiri. Ran, kamu tidak bisa memaksakan sesuatu
yang bernama perasaan. Ia bisa muncul dengan cara mengejarmu atau bahkan dengan
cara menyakitimu. Aku pun begitu. Aku ditakdirkan muncul
untuk mengejarmu walau hati itu bukan untukku. Ingat, Ran. Aku tak pernah
melihat apa yang ada pada fisikmu. Kamu tahu apa yang membuatku tertarik
padamu? Aku suka keseriusanmu dalam bekerja, kerja kerasmu, ketegasanmu,
ketelitianmu mengelola masalah uang, dan
kesetiaanmu untuk terus berteman dengan siapapun.” ucap Hema membuat tubuh ini
menggigil.
“Aku
berharap persahabatanmu tidak hancur perihal itu. Kirana yang selalu
berpenampilan apa adanya dan mandiri tak akan pernah luput dari pikiranku.
Ingat. Aku akan terus meningatmu sekalipun kamu terus membuang bayanganku jauh
dari pikiranmu.” ucap Hema sembari terus tersenyum padaku tanpa henti.
Tetesan
air mata mengalir perlahan di wajahku. Apakah aku akan membenci dan tidak lagi
bersahabat dengan Ara?
Kebaikan yang tersampaikankan terbalaskan tepat disaat kamu
membutuhkan. Tuhan pemegang segala cerita cinta setiap orang tak akan pernah
membiarkanmu merasakan segala kesakitan pada orang yang terus menghilang.
Hingga suatu saat nanti, manusia idaman yang terus kau lukiskan akan datang
dalam bisu yang tak pernah kau bayangkan.