Anastasia Wintang (Story Request) photo by: flickr Awalnya tak disengaja Awalnya tak kukira Aku bisa berkenalan dengan dia Hin...

Pena Lain Dalam Ceritaku

/
0 Comments

Anastasia Wintang (Story Request)
photo by: flickr

Awalnya tak disengaja
Awalnya tak kukira
Aku bisa berkenalan dengan dia
Hingga menjadi teman dengannya
Awalnya rasa itu tak pernah ada
Namun tak kusangka
Ia datang lebih cepat dari biasanya
Hadirmu berwarna setelah sekian lama
Kembali berwarna setelah sekian lama
Sejak warnaku hilang entah kemana
Dan tak kunjung hadir kembali

            Puisi telah terlukis tanpa sengaja dalam layar kaca ponsel yang terus menyimpan semua kenangan indah saat bersamamu. Aku terus mengingat dimana tangan ini mengarahkan kamera padamu di acara sekolah.
            “Ngelamun aja! Nanti ada orang yang melihat chatmu bagaimana?” goda Ara membuatku jatuh dari kursi.
            “Ara kebiasaan ya? Luar biasa lho suara kecilmu itu bisa membuat aku kaget setengah mati.” ucapku tak membuat tawanya mereda.
            “Eh kenapa galau, Ran? Running Man?” tanya Ara sembari tertawa terbahak-bahak sambil menyenggolku pelan.
            “Hahaha. Aku merindukan Kale.” keluhku sembari memperbaiki celana panjangku dan merapikan kerah kemejaku.
            Aku mengira bahwa tanggapannya adalah dengan menghusap pelan punggungku tetapi nyatanya tidak.
            “Hahaha. Kirana. Kamu terus memikirkan hal-hal sulit. Kenapa kamu tidak memikirkan seseorang yang jelas-jelas lebih berharga daripada lamunanmu itu? Lihat sahabatmu.” ucap Ara membuatku terkejut dan memalingkan wajahku pada arah telunjuk Ara.
            Lima kawanku Cia, Kristi, dan Tata sedang makan bersama disana. Mereka sedang melihatku dengan senyuman ejekan seperti biasa.
Aku sangat merindukan mereka.
            “Kirana!” teriak mereka bersamaan sembari berlari kencang ke arahku.
            Aku meninggalkan Ara dan memeluk ketiga sahabatku itu. Namun sayang, mereka tidak bisa berlama-lama disini. Cuaca hujan dan mendung memaksakan mereka untuk segera pulang ke rumah dan kembali ke Jogja.
            “Aku harap ini bukan pertemuan yang terakhir kalinya.” ucapku membuat mereka menangis sembari melambaikan tangan padaku.
            Aku sadar bahwa sedari tadi aku meninggalkan Ara sendirian diam di atas meja makan restoran.
            “Gak marah?” tanyaku membuat Ara tersenyum lebar sembari menatap tajam hujan yang semakin deras.
            Aku menghabiskan makananku sembari terhenti pada sesosok lelaki yang tak asing. Ia tinggi, kulitnya sawo matang, jangkung, berkacamata, berkawat gigi, dan mengenakan jaket berwarna hitam. Aku tiba-tiba saja merasa tertarik.
            Kamera segera kuarahkan pada manusia yang kini sedang meminum secangkir kopi itu bersama teman-temannya.
            “Ara. Ada Langit.” ucapku membuat Ara mengalihkan pandangan dan kembali menatapku dengan tersenyum.
            Ara terus melihatku tanpa berkedip. Aku berusaha tetap bersikap tenang dengan kelakuan aneh temanku ini.
            “Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanyaku gemas melihat tingkahnya yang tidak pernah bisa diduga.
            “Gak papa. Wajahmu sedang memerah saja.” jawabnya membuat wajahku kembali memerah.
            Seiring berjalannya waktu aku makin giat memotret di kampus karena bertemu dengan Langit. Kami menjadi teman dekat oleh karena ternyata dia mengambil ekstrakurikuler fotografi yang sama.
            “Aku dengar-dengar kamu memang ada tugas motret di tempat orang ya?” tanyaku membuatnya tersenyum.
            “Ya begitulah. Aku sudah dipesan oleh sepasang pengantin untuk memotret pernikahan mereka di Prancis akhir Desember ini.” balasnya ramah sembari melanjutkan tugasnya.
            Aku terbelalak kagum sembari memberikannya tepuk tangan kecil yang sederhana. Aku tak menyangka bahwa ia benar-benar mendapatkan kesempatan emas itu.
            “Apa kamu sedang dekat dengan seseorang, Ngit?” tanyaku saat Langit menunggu hujan reda bersamaku di tepi jalan.
            “Iya. Mm, Ran. Apa boleh aku memberikan nomor ponselmu ke temanku?” balas Langit berusaha mengalihkan topik pembicaraanku.
            “Tidak apa apa kok. Untuk apa memangnya?” tanyaku penasaran.
            “Ada yang memintanya.” balasnya sembari pamit pergi dari hadapanku.
            Apa yang aku pikirkan bukanlah perkara siapa teman Langit yang penasaran denganku, melainkan siapa perempuan yang sedang ia dekati? Aku teringat akan Ara.
            “Ara. Apa kamu sering dihubungi oleh Langit?” tanyaku membuat Ara mendengus.
            “Iya. Kirana aku dapat kabar baik.” balasnya membuat hatiku bergejolak.
            “Apa, Ran?” tanyaku membuatnya menatapku tegas.
            “Kamu harus ikut lomba fotografi tingkat nasional itu di kampusku. Aku akan datang kesana jika kamu bersedia.lanjutnya membuat hatiku tak tenang.
            “Haha iya. Aku akan mendaftarkan diri.” balasku membuat Ara meloncat kegirangan.
            Suatu saat aku terkejut melihat Langit memasukkan isi pesannya dengan Ara dalam status. Aku merasa panik dan cemas akan keadaan ini. Namun..
            “Hai. Aku Hema teman Langit. Ini benar Kirana?” denting pesan tersiarkan pelan dalam ponselku.
            Aku sama sekali tidak menghiraukan pesan itu dan memilih untuk segera menemui Ara.
            “Ara.tanyaku membuat Ara mengalihkan pandangannya padaku.
            “Mm, Kirana jika kamu sudah menyelesaikan tugas menggambarmu tolong fotokan padaku ya.” balasmu sembari terus mengalihkan topik pembicaraanku.
            “Untuk apa?” jawabku singkat.
            “Aku ingin menyimpannya dalam ponsel supaya aku bisa meniru bagaimana proses kerjamu sampai nanti kamu menjadi sukses. Oh aku juga ingin meminta hasil fotomu.” balas Ara dengan semangat sembari mengeluarkan ponselnya.
            “Ah ya. Terima kasih Ara.” ucapku sekenanya sembari mengirim foto tugasku padanya.
            “Kirana aku suka dengan fotomu di pameran. Aku juga tidak sengaja bertemu kamu di rumah kayu.” pesan Hema kembali muncul dalam ponselku.
            Aku terus mengabaikannya dan sama sekali tidak pernah kuhiraukan. Pemikiranku tentang Ara menjadi buruk sekarang.
            Aku melihat Langit terus mendekati Ara saat kami mengadakan pertemuan. Hati ini memang remuk dan aku terluka pada apa yang aku rasakan ini.
            “Kirana aku ingin suatu saat bisa berlibur denganmu. Oh ya, beberapa menit yang lalu, Hema menelponku dengan bertanya apakah kamu lolos audisi foto?” ucap Ara membuatku terkejut.
            Hema?
            Lelaki yang terus mengirim pesan padaku setiap hari. Aku bahkan sama sekali tidak menghiraukannya karena terlalu terfokus pada Ara dan Langit.
            “Dia ingin bertemu kamu. Dia ada di depan sekarang.” ucap Ara membuatku menatap ke arahnya.
            “Ara, apa yang kamu lakukan jika aku tiba-tiba membencimu nanti?” tanyaku membuatnya tersenyum.
            “Aku akan terus melakukan hal yang biasa aku lakukan padamu. Tanpa peduli kau sedang marah ataupun benci padaku. Itu adalah janjiku. Oh ya.” ucap Ara sembari merogohkan sesuatu pada tas besarnya.
            Aku menunggunya dengan sabar sembari memainkan kameraku dan memotret Ara.
            “Ini adalah kado kecil dariku. Terimalah..” ucap Ara sembari memberikan sebuah boneka teddy bear yang sedang membawa kamera, gambar sederhana yang sedikit mirip dengan fotoku, dan setangkai bunga mawar merah muda dengan pita indah terhias disana.
            Aku terdiam.
            “Ya, anggap saja boneka beruang itu adalah seseorang yang selama ini terus mendukungmu di belakang, lalu gambar itu adalah sesosok wanita terhebat yang terus aku banggakan, dan tangkai bunga mawar merah muda itu adalah pandangan orang lain tentang dirimu yang terus terasa indah dan menawan.” lanjut Ara membuatku terdiam dan tersenyum.
            Aku menghela nafas sembari melangkahkan kakiku keluar ruangan. Hema memang ada disana.
            “Selamat ya. Ini aku berikan piagam perhargaan karena kamu sudah lolos menjadi juara satu dalam bidang pemotretan tingkat nasional. Kamu juga akan dijadikan sebagai fotografer model di majalah tahunan yang terkenal.” puji Hema membuatku tersenyum datar.
            Hati ini teriris melihat apa yang aku lukiskan dalam pikiranku membuyar dan hancur berkeping-keping dalam genggamanku hari ini.
            “Ya. Aku tahu kamu menyukai temanku sendiri. Ran, kamu tidak bisa memaksakan sesuatu yang bernama perasaan. Ia bisa muncul dengan cara mengejarmu atau bahkan dengan cara menyakitimu. Aku pun begitu. Aku ditakdirkan muncul untuk mengejarmu walau hati itu bukan untukku. Ingat, Ran. Aku tak pernah melihat apa yang ada pada fisikmu. Kamu tahu apa yang membuatku tertarik padamu? Aku suka keseriusanmu dalam bekerja, kerja kerasmu, ketegasanmu, ketelitianmu mengelola masalah uang, dan kesetiaanmu untuk terus berteman dengan siapapun.” ucap Hema membuat tubuh ini menggigil.
            “Aku berharap persahabatanmu tidak hancur perihal itu. Kirana yang selalu berpenampilan apa adanya dan mandiri tak akan pernah luput dari pikiranku. Ingat. Aku akan terus meningatmu sekalipun kamu terus membuang bayanganku jauh dari pikiranmu.” ucap Hema sembari terus tersenyum padaku tanpa henti.
            Tetesan air mata mengalir perlahan di wajahku. Apakah aku akan membenci dan tidak lagi bersahabat dengan Ara?
           
            Kebaikan yang tersampaikan kan terbalaskan tepat disaat kamu membutuhkan. Tuhan pemegang segala cerita cinta setiap orang tak akan pernah membiarkanmu merasakan segala kesakitan pada orang yang terus menghilang. Hingga suatu saat nanti, manusia idaman yang terus kau lukiskan akan datang dalam bisu yang tak pernah kau bayangkan.

                                   


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger