Story request by : febriano valentino photo by : flickr
Shoot! Aku berteriak sembari melompat
tinggi-tinggi menuju ring di atas kepalaku. Ya. Bola berwarna oranye itu
berhasil terjatuh tepat di ring yang tak sengaja kuremas. Pendaratan yang
kurang lihai membuatku terjatuh. Punggungku nyeri. Aku hanya bisa mengatai
diriku sendiri dan bangkit tanpa uluran tangan siapapun. Ya. Aku sedang sendiri
saat ini. Aku selalu seperti ini. Dimana aku lebih menikmati kehidupan
imajinasiku daripada realita di hadapanku. Bullying.
Apa aku harus terus mengingatnya? Untuk apa?
“Yan!” teriak seseorang yang tak mau
kalah dengan perdebatan jiwaku.
Aku hanya meliriknya tanpa berkata
apapun.
“Ayo satu lawan satu!” ajaknya tak
mempedulikan keadaanku.
Aku menggelindingkan bola kepadanya
sembari mengambil tasku dan pergi.
Dia terus berteriak selayaknya orang
sombong yang haus akan perhatian. Ia bertingkah
layaknya artis yang haus akan berbagai wartawan dan paparazi. Lelaki itu tidak akan berhenti sampai aku benar-benar
berada jauh dari lapangan itu. Hantaman bola keras mengenai punggungku. Kini punggungku
kembali nyeri. Aku tahu bahwa lemparan itu berasal dari lelaki tidak tahu diri
itu.
“Rian! Aku tahu kamu takut
menandingiku. Baik. Lihat saja pembalasanku! Suatu saat nanti kamu akan
benar-benar tidak bisa mengabaikanku!” ucapnya sembari meluncurkan ludah tepat
di atas sepatuku.
Kesal? Iya. Marah? Iya. Tapi buat
apa? Punggungku kini benar benar nyeri. Aku lantas memilih untuk duduk di tepi
taman sembari memijat lamat-lamat punggungku.
“Sayang..opo kowe krungu. Cerite atiku.”
Lantunan lagu Sayang dinyanyikan
dengan merdu membuat hatiku berdebar hebat. Aku lantas menatap penyanyi yang
ternyata tidak jauh berbeda dengan umurku. Ia terlihat mungil, cantik, dan
berpenampilan sederhana. Dalam sekejab, aku tak bisa berucap. Hmm. Sepertinya sedari
tadi aku terus melihatnya. Kini ia menatapku takut sembari berjalan cepat dan
menghentikan nyanyiannya.
Aku lantas menampar diriku sendiri
dan mengejar perempuan itu.
“Ma-maaf.” ucapku membuat perempuan
itu melirik sinis sembari pergi.
Aku terkejut. Mengapa ia melakukan
tingkah laku yang sama denganku saat aku memperlakuan temanku itu?
Ia hanya melirik sembari mengibaskan
rambut dan pergi.
Tunggu. Karma apa ini?
Aku terus menatap perempuan itu
lamat-lamat dari kejauhan. Ia sangat mirip dengan perempuan yang pernah aku
sukai. Namun, untuk apa aku kembali mengingatnya? Ya. Dia memang sukar untuk
diabaikan.
Dia di depanku sekarang. Sekarang? Sejak
kapan?
“Cia.” sapaku lirih membuatnya tersenyum.
“Kenapa kamu berjalan seperti orang
tua begitu?” tanyanya membuat perlahan kebahagiaan menggeliat dalam diriku.
“Hanya terjatuh. Tidak ada yang
perlu dikhawatirkan.” balasku sembari tersenyum kecil.
Cia tak mengatakan apapun selain
kembali bersenandung seperti biasanya. Ia menyuruhku duduk dan mendiamkanku.
“Apa yang kamu kerjakan?” tanyaku
sembari perlahan memutar tubuhku hingga berbunyi.
“Tidak perlu tahu yang jelas ini
tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu.” balasnya sembari terus menyembunyikan
layar laptopnya dariku.
“Ya. Aku paham.” balasku sembari
menghentikan topik yang aku bicarakan.
Sapaan teman-teman membuyarkan
imajinasiku. Mereka melambaikan tangan ramah sembari terus menunggu reaksiku. Cia
melihatku.
“Hai.” balasku membuat mereka
terlihat malas sembari terus berjalan.
“Hai? Bisa kah kamu mengatakan itu
dengan ekspresif? Seperti hai?” protes Cia sembari mengatakan ‘hai’ dengan
melambaikan tangan.
“Aku aneh jika melakukan itu.” balasku
tanpa berniat sedikit pun untuk meniru tingkahnya.
Cia kembali diam. Ia memilih untuk
menatap layar laptopnya yang lebih bersahabat dibandingkan aku.
“Apakah kamu bisa menemaniku lebih
lama disini? Aku ingin terus berbicara tanpa harus menelefonmu.” pintaku
membuatnya mengangguk samar.
Aku berdiam diri kembali sembari
memainkan bola basket yang tiba-tiba bersangkar di tepi kakiku. Terkadang aku
iri dengan bola ini. Ia tidak pernah mengeluh jika ia terus dibanting, dibuang,
dilempar, dipukul, dan ditinggalkan. Namun, ia selalu ada di saat orang lain
membutuhkannya.
Keheninganku membuat Cia menyenggol
pelan bahuku.
“Seperti itukah caramu bermain bola?”
tanyanya membuatku heran
Aku baru sadar bahwa aku sedari tadi
mengelus-elus bola itu dengan tampang aneh. Aku benar-benar memalukan.
“Kamu sangatlah berbeda, yan. Di telfon
kamu ibaratkan seseorang yang bijak. Namun, saat bertemu ternyata tidak.” ucapnya
membuatku kesulitan meneguk ludahku sendiri.
“Apa kamu sadar alasan mengapa aku
terus menghubungimu?” tanyaku membuatnya menutup laptop dan menatapku
lamat-lamat.
“Ya. Namun, aku lebih nyaman jika kita
berteman. Tolong jangan terbawa perasaan pada tingkah lakuku yang seakan-akan
mendukungmu. Hmm. Tapi bisa saja jika pernyataanku ini berubah seiring
berjalannya waktu.” ucapnya membuatku terbelalak.
Tunggu. Sejak kapan dia mengatakan
itu? Aku menyesal karena tidak benar-benar mendengarkannya. Aku sedari tadi
terus bergumam dengan diriku sendiri tanpa memperhatikan ucapannya.
“Aku pulang ya. Lihat langit sudah
tidak bersahabat lagi. Sampai jumpa.” ucapnya sembari berkemas.
“Aku antar.” ucapku cepat lantas
mengambil kunci motorku.
Cia hanya tersenyum dan
meninggalkanku cepat seperti bayangan. Hujan perlahan mengguyur tubuhku yang
kini masih saja membeku. Aku masih terus berusaha mencerna perkataan dari mulut
manisnya itu. Apakah ini hanya imainasiku atau memang inilah realitanya?
Dulu, dia selalu saja menghindariku.
Namun, ia mau saja jika aku mengajaknya berfoto bersama, telefon, saling
berbagi cerita, menemaniku bermain basket, dan memperhatikan kesehatanku.
Dengan hebat, ia mematahkan semua itu dengan kata kata bahwa aku tidak boleh
terbawa perasaan oleh karena tingkah manisnya itu.
Apa yang terjadi hari ini? Aku benar-benar
tidak menyangka. Bahkan air hujan yang jatuh tidak mampu membuat tubuhku
menggigil hebat.
Perlakuan yang sama terus ia ajukan
begitu pula aku pada teman-temanku. Ya. Setidaknya aku berusaha untuk merubah
sikap dinginku pada mereka.
“Yan! Dua lawan satu!” teriak temannya
yang lain dengan percaya diri.
Aku tahu Gio, teman yang tidak aku
pedulikan kemarin, sampai saat ini masih terlihat kesal padaku. Lihat saja
tampangnya. Dia melihatku bagaikan ia melihat sofa. Bukan untuk diduduki tetapi
untuk dirobek dan dibakar. Aku tetap menunjukkan wajah datar dan mendekati
keduanya.
“Kamu mau bermain dengan kami? Lihat!
Yo, kamu salah sangka terhadap dia.” ucap Tama, teman Gio, dengan bersemangat.
“Siapa yang mengiyakan ajakanmu?”
jawabku ketus membuat keduanya terdiam.
Tatapan Cia kembali terngiang dan
terbayang dalam bayanganku.
“Lihat? Apakah kamu terus menganggap
aku bodoh atau kamu menyadari kebodohanmu itu?” ejek Gio semakin kesal sembari
terus melemparkan tatapan pedas terhadapku.
“Masukkan bola itu dalam ring.” ucapku
menghentikan perdebatan mereka.
Tama menuruti perintahku dan
melompat seraya melempar bola basket menuju ring. Dengan cepat, aku menghadang
bola itu sehingga bola itu terpental jauh dari ring.
Tama terlihat senang dan terbelalak
kaget. Ia mulai mengejarku yang kini sedang mendribble bola dengan likuk-likuk tajam. Berulang kali Tama mencoba
memasukkan bola ke dalam ring. Namun, aku berhasil menghadangnya. Hingga suatu
saat, Gio turun tangan sembari mendorongku jatuh dan memasukkan bola basket ke
dalam ring.
Aku hanya terdiam dan memperbaiki
bajuku.
“Ayo.” ajak Gio yang tiba-tiba saja
mengulurkan tangannya untuk menolongku.
Senyum singkat aku ajukan. Kini, aku
bisa bermain dengan mereka.
Cia terus tersenyum di tepi lapangan
bagaikan kalender. Dimana ia terus menungguku di setiap harinya tanpa pernah
merasa lelah tergantung pada dinding ruanganku. Selain menungguku, dia juga
menyemangatiku. Seluruh hari berhasil ia hiasi dengan corak warna-warni yang
berbeda. Aku benar-benar tidak salah telah memilih perempuan ini.