“Koran..koran!” teriakku sembari meletakkan surat
kabar di atas pagar.
“Terima kasih, Mbak!” teriak salah
satu tetangga dengan ramahnya.
Senyum merekah sempurna di wajahku.
Aku memang hanya bisa menyebarkan
surat kabar. Aku senang bisa melihat mereka tersenyum di setiap waktu walaupun
terkadang aku harus terpeleset, kehujanan, ataupun terpercik air kotor di
sepanjang jalan. Namun, aku ingat bahwa matahari tak pernah lelah untuk
menyinari bumi walau ia terkadang terhalang langit mendung yang tidak
bersahabat. Hujan dan gemuruh hebat tak membuat matahari lari dari tempat
kediamannya. Ia malah tetap memilih diam dan terus menunggu rekahan senyum
manusia yang terus merindukan sinarnya.
Di sepanjang jalan, aku terus
meletakkan surat kabar sembari merekam semua ekspresi yang mereka berikan. Senyuman
yang berbeda-beda membuatku kagum. Ada senyuman yang langsung membuatku
tertawa, ada juga senyuman sederhana namun aku langsung merasa terenyuh, dan
ada juga senyuman lebar yang malah membuatku tersenyum biasa.
Bangunan rumah mewah yang sangat
besar kini berada di depan mataku. Aku selalu memberikan surat kabar terakhirku
untuk rumah ini. Rumah itu memiliki empat tingkat dan memiliki taman kecil di
belakangnya. Taman yang dihiasi oleh berbagai tanaman hijau indah, pohon
cemara, dan air mancur yang berbentuk sepasang kekasih yang sedang menari
mesra. Aku selalu mengagumi benar suasana rumah ini.
Huk
huk!! Gonggongan anjing yang selalu membuatku terkejut membuat surat kabar
terakhirku tak sengaja ku lempar jauh. Aku panik sembari bergegas mencari surat
kabarku itu. Aku rela memasuki sebuah semak-semak berduri hingga salah dua duri
itu menusuk lengan kiri dan kaki kananku. Sakit.
Anjing itu tidak memberikan rasa
belas kasihan padaku sedikitpun. Ia tetap menggonggong sembari menebarkan
pandangan kebencian padaku.
“Ogi..kenapa sensitif?” suara
seseorang yang terlihat sangat akrab dengan anjing pemarah itu.
Aku menarik pelan duri yang menancap
di kaki dan kananku. Aku menggigit bibirku kuat-kuat sembari bernafas
tersengal-sengal.
“Mawar?” sapa seseorang membuatku
langsung beralih.
Mati kutu.
“Kamu Mawar kan? Sedang apa disini? Apa
kamu mencariku? Eh. Sepertinya tidak.” ucap Aga, seorang laki-laki yang selalu
aku tulis dalam buku harianku.
Tak salah. Dia sekarang benar-benar
terlihat luar biasa. Aku tak bisa mendeskripsikannya. Intinya dia benar-benar
membuatku terpana.
“Aku hanya terjatuh. Oh ya. Ini surat
kabarmu. Maaf aku tidak meletakkannya tepat waktu di atas pagarmu. Ya. Itu karena
aku takut dengan gonggongan anjingmu.” ucapku jujur membuat lesung pipi keluar
dari pipinya.
“Hahaha. Maafkan Ogi. Dia memang
anjing yang aneh.” tawanya membuatku bingung.
“Dia menggonggong galak pada orang
yang ia suka. Namun, ia tidak akan menggonggong pada orang yang tidak menarik
bagi dia. Setiap hari, Ogi menyuarakan gonggongan menyeramkan itu. Jadi, jangan
takut untuk datang dan bertemu dengan dia.”
Aku tertawa kecil. Iya. Anjing itu
benar-benar aneh sama dengan pemiliknya. Begitu anehnya sampai aku terus
memasukkan tanganku ke dalam saku karena bergetar. Aku sama sekali tidak bisa
menatap wajahnya, lehernya, tubuhnya, dan pakaiannya. Aku hanya bisa melihat
sepatunya saja. Huh. Aku malu luar
biasa.
“Mawar. Aku memiliki tiga rangkaian
bunga. Ini adalah buatan ibuku. Ia ingin aku memberikannya pada teman-temanku. Ya.
Anggap saja ini sebagai hadiah karena kamu selama ini telah memberanikan diri
untuk mengantarkan surat kabar meskipun kamu mendapatkan gonggongan anjingku
itu. Pilihlah mana yang kamu suka.” ucap Aga sembari menunjuk rak bunga yang
ada di tepi tamannya.
Rangkaian bunga yang sangat indah. Berbagai
macam bunga diadukan dengan sempurna sehingga warna yang terpancar bukanlah
warna yang biasa. Aku sangat kagum.
“Aku suka dengan rangkaian bunga
berwarna oranye bercampur warna merah itu.” ucapku membuatnya lantas memberikan
rangkaian bunga yang kuinginkan.
“Tidak begitu. Hanya saja, melihat warna
ini aku teringat pada matahari.” jawabku membuat Aga mengangguk dan tersenyum.
Aku lantas kembali ke rumah sembari
melambaikan tangan pada Aga. Aku tidak akan mau bertemu dengannya lagi.
Aku merengek sembari memeluk
erat-erat rangkaian bunga pemberiannya itu.
Alunan lagu klasik terdengar dari
ruanganku. Suara lembut dan mendayu terdengar manja di telingaku. Chico,
adikku, terlihat asik sembari mengetuk meja belajarnya layaknya sebuah drum.
“Co. Alunan lagu darimanakah itu?”
tanyaku tak membuatnya berhenti mengetuk benda-benda sekitarnya.
Ya. Aku akui Chico memanglah gemar bermain
“drum”.
“Live Acoustic. Aku sangat suka pada
penyanyi yang akan berlagu pada jam delapan malam nanti, Kak. Aku akan selalu
menunggu suara merdunya.” ucap Chico membuatku mati penasaran.
Aku bergegas berganti pakaian dan
mengurai rambutku. Lalu, aku bergegas pergi sembari berpamitan dengan kedua
orang tuaku. Saat aku keluar rumah, aku melihat tiba-tiba Aga melemparkan
senyum ganas padaku.
Mati kutu.
“Mawar? Sedang apa disini? Eh, apa
ada sesuatu?” tanyanya membuatku
bergetar kembali.
“Mm..aku ingin pergi ke rumah makan
itu. Aku ingin tahu sedang apa disana. Begitu.” balasku sembari menjauh darinya
tanpa sesekali menatap wajahnya.
“Apa aku boleh ikut?” tanyanya
membuatku mengangguk sembari berjalan lebih cepat darinya.
Aku selalu tidak percaya diri bila
berada di dekat lelaki itu. Dia terlalu tampan dan sempurna. Apalah dayaku yang
biasa dan tidak sempurna sama sekali.
Alunan lagu cover berjudul ‘Soulmate’ mendiamkanku. Aku tersadar bahwa kini Aga
benar-benar ada di sampingku. Aku terus mencari alasan untuk menjauh darinya.
“Eh. Maaf. Aku ada keperluan di
tempat itu. Jadi, bisakah aku pergi sendiri?” ucapku membuat Aga kembali
memamerkan lesung pipinya.
Aku bergegas pergi sembari bersembunyi
dari ekor matanya.
Aku bahagia benar-benar bisa menjauh
dari lelaki itu. Aku melihat berbagai penampilan penyanyi akustik malam ini.
Jariku perlahan kutarik saat aku
menemukan tulisan waktu delapan malam. Aku ingin tahu siapa penyanyi pada malam
itu. Namun, ternyata tidak ada nama siapapun disana. Aku menjadi merinding. Lalu,
selama ini suara siapakah yang Chico dengar. Aku langsung bergegas pulang
sembari terus bersembunyi dari ekor mata Aga.
Ia tampak mencari sesuatu tetapi aku
tidak mempedulikannya. Hal yang terpenting adalah aku bisa benar-benar jauh
darinya. Perempuan-perempuan mengelilinginya dengan rayuan mesra. Aku
benar-benar tidak mempedulikannya. Walaupun aku merasa memang sangat peduli
dengannya. Peduli yang ditaburi oleh rasa rindu. Iya, sakit.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan
malam. Aku melihat Chico yang sudah tidak ada lagi di rumah.
Telinga perlahan aku tajamkan tetapi
aku tidak mendengar apapun. Aku ingin keluar tetapi aku takut bertemu dengan
lelaki itu. Lelaki yang selama ini selalu aku sebut dalam doaku.
Alunan saxophone indah menggetarkan
gendang telingaku. Aku perlahan keluar rumah sembari berjalan menuju tempat
pertunjukkan akustik itu. Aku melihat Chico sedang berkumpul bersama
teman-temannya. Suasana begitu ramai. Semua pengunjung berteriak kagum pada
sosok penampil yang sepertinya sangat disegani malam ini.
Aga.
Aku terbelalak. Ia kini menyanyikan
sebuah lagu sembari melemparkan tatapan matanya padaku. Lagi-lagi aku melarikan
diri. Ya. Aku benar-benar tidak mengira bahwa suara indah yang aku rekam adalah
suara darinya.
Segera aku membuka ponselku dan
menghapus semua rekaman yang tersimpan lebih dari 50 video di dalam ponselku.
“Mawar!” teriak seseorang dari
belakang tubuhku.
Aku terkejut melihat Aga yang sedang
terguling di atas tanah layaknya cacing kepanasan.
“Memang sulit mempertemukan bulan
dan matahari di waktu yang sama.” balasnya membuatku terdiam.
“Aku tahu. Selama ini, kamu selalu
menyembunyikan dirimu di balik layar untuk membiarkanku terlihat oleh banyak
orang. Kamu rela mati supaya aku bisa menyinari malam. Terbukti. Di setiap
malam, kamu tak pernah memunculkan wajah manismu di tengah keramaian itu. Bahkan,
sampai sekarang kamu sama sekali tidak berani menatap wajahku.” ucapnya
membuatku meneguk ludah sembari perlahan menatap wajahnya.
“Aku tidak bisa menatap wajahmu
bahkan berada di jarak dekat seperti ini. Kamu tahu bahwa matahari dan bulan
bekerja di waktu yang berbeda. Mustahil jika aku berada dekat denganmu. Bumi bisa
saja hancur detik ini juga.” balasku sembari mengayunkan kaki kananku.
“Namun, jika benar begitu, apa yang
membuatmu tahu akan keberadaanku? Itulah yang aku lakukan untuk menemukanmu.” ucapnya
membuatku terdiam.
Perlahan aku mendongakkan wajahku
padanya sembari memberanikan diri untuk mempertemukan mataku dengan matanya. Ia
tersenyum indah sekali. Aku bergetar. Namun, aku bangga kini aku bisa menatap
wajahnya meskipun aku tak paham benar apa maksud senyumnya yang tak pernah
luput dari wajahnnya sampai sekarang ini. Setidaknya aku bangga bisa menyimpan
rasa ini dengan sederhana.