Request by: nadiaagude photo by : flickr                  “Koran..koran!” teriakku sembari meletakkan surat kabar di atas pagar.  ...

Waktu yang Tak Pernah Sama

/
0 Comments


Request by: nadiaagude
photo by : flickr 
                “Koran..koran!” teriakku sembari meletakkan surat kabar di atas pagar.
            “Terima kasih, Mbak!” teriak salah satu tetangga dengan ramahnya.
            Senyum merekah sempurna di wajahku.
            Aku memang hanya bisa menyebarkan surat kabar. Aku senang bisa melihat mereka tersenyum di setiap waktu walaupun terkadang aku harus terpeleset, kehujanan, ataupun terpercik air kotor di sepanjang jalan. Namun, aku ingat bahwa matahari tak pernah lelah untuk menyinari bumi walau ia terkadang terhalang langit mendung yang tidak bersahabat. Hujan dan gemuruh hebat tak membuat matahari lari dari tempat kediamannya. Ia malah tetap memilih diam dan terus menunggu rekahan senyum manusia yang terus merindukan sinarnya.
            Di sepanjang jalan, aku terus meletakkan surat kabar sembari merekam semua ekspresi yang mereka berikan. Senyuman yang berbeda-beda membuatku kagum. Ada senyuman yang langsung membuatku tertawa, ada juga senyuman sederhana namun aku langsung merasa terenyuh, dan ada juga senyuman lebar yang malah membuatku tersenyum biasa.
            Bangunan rumah mewah yang sangat besar kini berada di depan mataku. Aku selalu memberikan surat kabar terakhirku untuk rumah ini. Rumah itu memiliki empat tingkat dan memiliki taman kecil di belakangnya. Taman yang dihiasi oleh berbagai tanaman hijau indah, pohon cemara, dan air mancur yang berbentuk sepasang kekasih yang sedang menari mesra. Aku selalu mengagumi benar suasana rumah ini.
            Huk huk!! Gonggongan anjing yang selalu membuatku terkejut membuat surat kabar terakhirku tak sengaja ku lempar jauh. Aku panik sembari bergegas mencari surat kabarku itu. Aku rela memasuki sebuah semak-semak berduri hingga salah dua duri itu menusuk lengan kiri dan kaki kananku. Sakit.
            Anjing itu tidak memberikan rasa belas kasihan padaku sedikitpun. Ia tetap menggonggong sembari menebarkan pandangan kebencian padaku.
            “Ogi..kenapa sensitif?” suara seseorang yang terlihat sangat akrab dengan anjing pemarah itu.
            Aku menarik pelan duri yang menancap di kaki dan kananku. Aku menggigit bibirku kuat-kuat sembari bernafas tersengal-sengal.
            “Mawar?” sapa seseorang membuatku langsung beralih.
            Mati kutu.
            “Kamu Mawar kan? Sedang apa disini? Apa kamu mencariku? Eh. Sepertinya tidak.” ucap Aga, seorang laki-laki yang selalu aku tulis dalam buku harianku.
            Tak salah. Dia sekarang benar-benar terlihat luar biasa. Aku tak bisa mendeskripsikannya. Intinya dia benar-benar membuatku terpana.
            “Kenapa tanganmu berdarah?” tanyanya membuyarkan lamunan gilaku.
            “Aku hanya terjatuh. Oh ya. Ini surat kabarmu. Maaf aku tidak meletakkannya tepat waktu di atas pagarmu. Ya. Itu karena aku takut dengan gonggongan anjingmu.” ucapku jujur membuat lesung pipi keluar dari pipinya.
            “Hahaha. Maafkan Ogi. Dia memang anjing yang aneh.” tawanya membuatku bingung.
            “Anjing aneh bagaimana?” tanyaku heran sembari memperbaiki pakaianku.
            “Dia menggonggong galak pada orang yang ia suka. Namun, ia tidak akan menggonggong pada orang yang tidak menarik bagi dia. Setiap hari, Ogi menyuarakan gonggongan menyeramkan itu. Jadi, jangan takut untuk datang dan bertemu dengan dia.”
            Aku tertawa kecil. Iya. Anjing itu benar-benar aneh sama dengan pemiliknya. Begitu anehnya sampai aku terus memasukkan tanganku ke dalam saku karena bergetar. Aku sama sekali tidak bisa menatap wajahnya, lehernya, tubuhnya, dan pakaiannya. Aku hanya bisa melihat sepatunya saja. Huh. Aku malu luar biasa.
            “Mawar. Aku memiliki tiga rangkaian bunga. Ini adalah buatan ibuku. Ia ingin aku memberikannya pada teman-temanku. Ya. Anggap saja ini sebagai hadiah karena kamu selama ini telah memberanikan diri untuk mengantarkan surat kabar meskipun kamu mendapatkan gonggongan anjingku itu. Pilihlah mana yang kamu suka.” ucap Aga sembari menunjuk rak bunga yang ada di tepi tamannya.
            Rangkaian bunga yang sangat indah. Berbagai macam bunga diadukan dengan sempurna sehingga warna yang terpancar bukanlah warna yang biasa. Aku sangat kagum.
            “Aku suka dengan rangkaian bunga berwarna oranye bercampur warna merah itu.” ucapku membuatnya lantas memberikan rangkaian bunga yang kuinginkan.
            “Kamu suka oranye?” tanyanya membuatku teringat sesuatu.
            “Tidak begitu. Hanya saja, melihat warna ini aku teringat pada matahari.” jawabku membuat Aga mengangguk dan tersenyum.
            Aku lantas kembali ke rumah sembari melambaikan tangan pada Aga. Aku tidak akan mau bertemu dengannya lagi.
            Aku merengek sembari memeluk erat-erat rangkaian bunga pemberiannya itu.
            Alunan lagu klasik terdengar dari ruanganku. Suara lembut dan mendayu terdengar manja di telingaku. Chico, adikku, terlihat asik sembari mengetuk meja belajarnya layaknya sebuah drum.
            “Co. Alunan lagu darimanakah itu?” tanyaku tak membuatnya berhenti mengetuk benda-benda sekitarnya.
            Ya. Aku akui Chico memanglah gemar bermain “drum”.
            “Live Acoustic. Aku sangat suka pada penyanyi yang akan berlagu pada jam delapan malam nanti, Kak. Aku akan selalu menunggu suara merdunya.” ucap Chico membuatku mati penasaran.
            Aku bergegas berganti pakaian dan mengurai rambutku. Lalu, aku bergegas pergi sembari berpamitan dengan kedua orang tuaku. Saat aku keluar rumah, aku melihat tiba-tiba Aga melemparkan senyum ganas padaku.
            Mati kutu.
            “Mawar? Sedang apa disini? Eh, apa ada sesuatu?”  tanyanya membuatku bergetar kembali.
            “Mm..aku ingin pergi ke rumah makan itu. Aku ingin tahu sedang apa disana. Begitu.” balasku sembari menjauh darinya tanpa sesekali menatap wajahnya.
            “Apa aku boleh ikut?” tanyanya membuatku mengangguk sembari berjalan lebih cepat darinya.
            Aku selalu tidak percaya diri bila berada di dekat lelaki itu. Dia terlalu tampan dan sempurna. Apalah dayaku yang biasa dan tidak sempurna sama sekali.
            Alunan lagu cover berjudul ‘Soulmate’ mendiamkanku. Aku tersadar bahwa kini Aga benar-benar ada di sampingku. Aku terus mencari alasan untuk menjauh darinya.
            “Eh. Maaf. Aku ada keperluan di tempat itu. Jadi, bisakah aku pergi sendiri?” ucapku membuat Aga kembali memamerkan lesung pipinya.
            Aku bergegas pergi sembari bersembunyi dari ekor matanya.
            Aku bahagia benar-benar bisa menjauh dari lelaki itu. Aku melihat berbagai penampilan penyanyi akustik malam ini.
            Jariku perlahan kutarik saat aku menemukan tulisan waktu delapan malam. Aku ingin tahu siapa penyanyi pada malam itu. Namun, ternyata tidak ada nama siapapun disana. Aku menjadi merinding. Lalu, selama ini suara siapakah yang Chico dengar. Aku langsung bergegas pulang sembari terus bersembunyi dari ekor mata Aga.
            Ia tampak mencari sesuatu tetapi aku tidak mempedulikannya. Hal yang terpenting adalah aku bisa benar-benar jauh darinya. Perempuan-perempuan mengelilinginya dengan rayuan mesra. Aku benar-benar tidak mempedulikannya. Walaupun aku merasa memang sangat peduli dengannya. Peduli yang ditaburi oleh rasa rindu. Iya, sakit.
            Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku melihat Chico yang sudah tidak ada lagi di rumah.
            Telinga perlahan aku tajamkan tetapi aku tidak mendengar apapun. Aku ingin keluar tetapi aku takut bertemu dengan lelaki itu. Lelaki yang selama ini selalu aku sebut dalam doaku.
            Alunan saxophone indah menggetarkan gendang telingaku. Aku perlahan keluar rumah sembari berjalan menuju tempat pertunjukkan akustik itu. Aku melihat Chico sedang berkumpul bersama teman-temannya. Suasana begitu ramai. Semua pengunjung berteriak kagum pada sosok penampil yang sepertinya sangat disegani malam ini.
            Aga.
            Aku terbelalak. Ia kini menyanyikan sebuah lagu sembari melemparkan tatapan matanya padaku. Lagi-lagi aku melarikan diri. Ya. Aku benar-benar tidak mengira bahwa suara indah yang aku rekam adalah suara darinya.
            Segera aku membuka ponselku dan menghapus semua rekaman yang tersimpan lebih dari 50 video di dalam ponselku.
            “Mawar!” teriak seseorang dari belakang tubuhku.
            Aku terkejut melihat Aga yang sedang terguling di atas tanah layaknya cacing kepanasan.
            “Kamu kenapa?” tanyaku membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.
            “Memang sulit mempertemukan bulan dan matahari di waktu yang sama.” balasnya membuatku terdiam.
            “Aku tahu. Selama ini, kamu selalu menyembunyikan dirimu di balik layar untuk membiarkanku terlihat oleh banyak orang. Kamu rela mati supaya aku bisa menyinari malam. Terbukti. Di setiap malam, kamu tak pernah memunculkan wajah manismu di tengah keramaian itu. Bahkan, sampai sekarang kamu sama sekali tidak berani menatap wajahku.” ucapnya membuatku meneguk ludah sembari perlahan menatap wajahnya.
            “Aku tidak bisa menatap wajahmu bahkan berada di jarak dekat seperti ini. Kamu tahu bahwa matahari dan bulan bekerja di waktu yang berbeda. Mustahil jika aku berada dekat denganmu. Bumi bisa saja hancur detik ini juga.” balasku sembari mengayunkan kaki kananku.
            “Namun, jika benar begitu, apa yang membuatmu tahu akan keberadaanku? Itulah yang aku lakukan untuk menemukanmu.” ucapnya membuatku terdiam.
            Perlahan aku mendongakkan wajahku padanya sembari memberanikan diri untuk mempertemukan mataku dengan matanya. Ia tersenyum indah sekali. Aku bergetar. Namun, aku bangga kini aku bisa menatap wajahnya meskipun aku tak paham benar apa maksud senyumnya yang tak pernah luput dari wajahnnya sampai sekarang ini. Setidaknya aku bangga bisa menyimpan rasa ini dengan sederhana.

             
            


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger