published on spotify : berjelajah dalam karya   Lelaki berambut setengah pirang, tinggi, berisi, berkuncir kuda, berkaca mata layaknya tok...

Takdir yang Kupercaya

/
2 Comments

published on spotify : berjelajah dalam karya 

Lelaki berambut setengah pirang, tinggi, berisi, berkuncir kuda, berkaca mata layaknya tokoh Harry Potter, terlihat dewasa, berkulit gelap, bergelang dua biji, dan humoris adalah lelaki yang bernama Kris.

            “Udah ada uang belum?” tanya salah satu temannya, Meri, yang berpenampilan layaknya penagih hutang, mendekatinya dengan garang.

            “Untuk apa?” tanyanya sembari memainkan jarinya di antara senar gitarnya.

            “Kamu hutang 1.000.000 denganku kan? Jangan pura-pura lupa!” teriak Meri lantas menarik paksa gitar Kris.

            “Oi. Santai. Bisa dibicarakan baik-baik. Aku sudah melunasinya kemarin lewat Liana.” balas Kris yang terlihat terkejut.

            “Mana ada! Aku dan Liana sekarang sudah tidak berteman!” ucap Meri dengan marah.

            “Eh maaf sebelumnya. Kamu yang mengatakan bahwa aku harus memberikan uang itu pada Liana kan? Itu juga karena kamu berada di luar kota selama beberapa bulan ini. Dan aku sudah menuruti kemauanmu.” balas Kris mulai tidak terima.

            “Lihat! Liana sama sekali tidak membicarakan apapun perihal uang itu.” ucap Meri sembari menunjukkan isi pesannya dengan Liana.

            Kris terkejut karena Liana tidak berkata jujur pada Meri perihal hutang yang sudah Kris lunasi. Uangnya telah dicuri.

            “Aku tidak mau tahu. Kamu harus segera melunasi ini!” teriak Meri dengan wajah penuh amarah.

            Kris pun terdiam sembari melihat Meri pergi dari hadapannya.

            “Oi bro! Diem aja?” tepuk temannya yang bernama Ben sembari memukul kahon yang ada di dekatnya.

            Kris lantas diam saja dan kembali memainkan gitarnya sehingga Ben menganggap dia baik-baik saja.

            Di tengah keramaian yang sangat padat, ia menyibukkan pikirannya dengan menciptakan lagu baru. Ia sudah membuat lima lagu buatannya sendiri berjudul ‘Takut Jatuh Hati’, ‘Duniaku’, ‘Jangan Kembali’, ‘Jika Dia Kembali, Masihkah Ada Diriku Di Hatinya?’, dan ‘Hei’.

            “Hei bro. Aku kok ngerasa kamu ada apa-apa yo. Kenapa gak cerita?” ucap Ben sembari duduk di sebelahnya dengan tampang penasaran.

            “Ada apa? Aku biasa aja. Emang kenapa wajahku?” tanya Kris sembari menutup buku lagunya.

            “Beda aja. Biasanya gak semurung ini soalnya. Entahlah mungkin aku yang butuh belaian.” balas Ben membuatnya tertawa keras.

            “Itu lho banyak tiang. Kamu belai sana!” goda Kris membuat Ben berdecak.

            “Ya kali aku belai tiang. Aku maunya belai cewek lah..” balas Ben membuat Kris berhasil menyembunyikan perasaan bingungnya lagi.

            Kris terus melihat isi lembaran di dompetnya. Uang sebesar 5.000 bersarang di sana. Dengan uang itu, Kris tidak bisa melunasi hutang yang bernilai besar itu. Ia kembali murung. Kali ini Ben tidak ada di sampingnya. Itu membuatnya bebas melepaskan kegundahan dan kemarahannya seorang diri.

            “Kris, gak mau kumpul-kumpul bareng kita? Kami membutuhkan seorang gitaris untuk perayaan kegiatan kami. Apakah kamu bersedia?” pesan singkat tiba-tiba muncul dari Liana di layar ponselnya.

            Kris tersenyum dan menenangkan dirinya pelan-pelan.

            “Hmm.. Liana mencoba merayuku lagi. Aku tahu, pasti mereka mencariku di saat mereka butuh saja ya? Kadang situasi seperti ini memang bisa disyukuri dengan begitu aku tahu peranku sangat berarti disana. Tapi sayang, bekas luka mereka masih belum pulih benar dalam ragaku.” batinnya tanpa menekan sepatah huruf pun dalam layar ponselnya.

            Selama dua hari ia memilih untuk berdiam diri tanpa ingin bertemu dengan Ben ataupun temannya yang lain. Ben merasa panik karena kehilangannya.

            “Kris, kenapa gak ke markas dua hari? Kamu gak papa?” tanya Ben yang tiba-tiba saja berada di belakangnya.

            “Hahaha. Panik banget? Butuh belaian lagi?” goda Kris sembari tertawa.

            “Pura-pura kuat kan? Aku tahu, Kris. Kenapa? Siapa tahu aku bisa bantu kan?” tanya Ben sembari duduk di dekatnya.

            “Aku kena hutang aja. Gak serius-serius banget. Balik sana.” ucap Kris membuat Ben awalnya tertawa menjadi terdiam.

            “Hutang apa? Hutang makanan? Dasar tukang makan! Makan ya pakai uang sendiri lah suka ngutang aja. Kalau gak ada uang pinjem aku kan bisa” protes Ben membuat Kris tertawa.

            “La mau gimana aku tipe orang yang butuh asupan gizi lebih banyak dari manusia normal. Ya jelas tukang makan lah.” balas Kris membuat Ben tertawa terbahak-bahak.

            “Berapa sih hutangmu? Aku bantu.” lanjut Ben sembari mengeluarkan dompetnya.

            “1.000.000” balas Kris membuat Ben terkejut hingga ia terdiam selama beberapa menit lamanya.

            “Hutang makanan sampai sebesar itu?” ucapnya dengan nada terputus-putus.

            “Ya kali aku makan sebanyak itu. Aku hutang dengan Meri. Lagian aku sudah proses mencari uang itu. Gak usah pusing lah. Tugas kuliah aja kadang minta ajarin ini malah nawarin bantu cari uang. Bisa gila kau nak.” canda Kris membuat Ben tertawa terbahak-bahak.

            “Haha. Dasar pembuka aib!” protes Ben sembari tertawa keras.

            Ben pergi. Kris kembali merenung sembari mengeluarkan sebatang rokok yang tak bisa jauh dari kehidupannya.

            “Mas, permisi. Apa saya boleh mengganggu sebentar?” tanya seorang anak kecil berwajah manis datang di hadapannya.

            “Iya ada apa?” tanyanya seketika mengubah wajahnya menjadi lebih ramah dari sebelumnya.

            “Mas apa bisa bermain gitar? Kami butuh gitaris untuk pertunjukan kecil di ujung taman ini. Acara akan diadakan pukul 9 pagi. 1 jam lagi. Kami akan membayar mas untuk ini.” ucap gadis kecil itu dengan bahasanya bak orang dewasa.

            “Iya aku bisa. Aku bantu.” balasnya tanpa banyak berpikir sembari beranjak menuju acara anak-anak itu.

            Kris selalu membantu siapapun tanpa pikir panjang dan tanpa berharap apa-apa.

            “Kris. Kamu dimana!” suara voicemail yang keras membuat Kris perlahan terbangun dari lamunannya.

            Tanpa pikir panjang, Kris beranjak pergi menggunakan jaket dan topi hitamnya dengan menggunakan motor sederhana yang sudah menjadi sahabatnya.

            Tiba di tepi jembatan, ia melihat Ben sudah dihajar habis-habisan oleh beberapa orang yang kini sudah melarikan diri.

            “Kris, siapa yang telefon? Kok tahu?” tanya Ben merintih sembari memegang wajahnya.

            Kris tidak menjawab apa-apa. Ia mengangkat tubuh Ben dekat dengan motornya. Selama pengobatan, Ben hanya terdiam melihat sahabatnya yang terlihat sibuk mengobati luka-lukanya.

            “Kris, gimana hutangmu” tanya Ben yang terhenti karena tatapan Kris.

            “Gak usah mikir hutangku. Kenapa bisa sampai tawuran?” balas Kris membuat Ben terdiam.

            “Mereka adalah orang suruhan Liana. Saat aku tahu, mereka malah menyerangku. Malangnya nasibku.” balas Ben membuat Kris melongo.

            " Mengapa membelaku sampai seperti itu? Lihat sekarang kamu malah kena imbasnya."

            “Bagaimana aku bisa berdiam diri melihat sahabatku terlilit hutang yang sebenarnya bukan hutangnya. Lagian Kris. Kamu selalu bantu aku bangun pagi untuk berangkat kuliah sampai nekat ke rumahku karena aku gak bangun, selalu denger curhat dan kasih aku masukan, gak pernah ngerasa bosen meski kita pernah diejek maho, selalu bersikap tegar walaupun sebenernya kamu rapuh, dan mau bagi susah bareng dengan kasih aku pengalaman kerja. Gimana aku diem?” protes Ben yang seketika berubah menjadi sosok yang dewasa.

            “Ya. Terima kasih.” balas Kris tersenyum lalu mendongak ke langit karena emosinya kembali tidak stabil.

            “Ayo ngamen.” ajak Ben tiba-tiba.

            Kris menoleh dan membelalakkan kedua matanya. Kris pun setuju.

            Akhirnya mereka mengamen.

           Banyak orang terkagum akan suara Kris yang semakin merdu setiap harinya juga skill gitarnya  yang semakin meningkat. Perlahan uang terkumpul dengan sendirinya dalam kaleng roti yang mereka ciptakan untuk tempat menyimpan penghasilan.

           Suatu insiden tidak menyenangkan muncul di markas mereka.

“Kris aku mau menghitung uang yang sudah kita kumpulkan satu minggu ini. Tunggu. Di mana kalengnya!” teriak Ben sembari panik mencari kaleng itu di segala tempat.

            “Dicuri.” balas Kris sembari melatih fingerstyle gitarnya.

            “Maksudmu?”

            “Kaleng itu dicuri tadi siang saat aku sedang mencuci motor.”

            “Lalu kamu diam saja! Gila. Kita sudah seminggu mengumpulkan itu semua!”

            “Apa boleh buat? Aku percaya. Mereka mengambil uang itu karena mereka sedang berada di situasi sulit sehingga membutuhkannya. Aku hanya bisa pasrah. Toh, besok kita bisa mencarinya lagi.”

            Ben hanya terdiam dan menatap sahabatnya dengan jengkel.

           Mereka kembali mengamen. Kali ini, Ben menjaga benar-benar kaleng itu dan sesekali ia mengaum keras setiap kali ia melihat banyak orang sengaja mendongak isi kaleng itu.

            Tiga minggu telah berlalu. Uang yang terkumpul sudah berkisar 100.000.

            “Cuma 100 ribu? Kita ngamen sejak pukul tujuh pagi sampai sepuluh malam dan hasilnya hanya segini saja?” protes Ben sembari membuang kaleng itu.

            “Aku percaya semua ini ada maksudnya. Setiap cerita pasti ada akhirnya. Entah itu akhir bahagia atau akhir yang mengharuskan kita berduka.” balas Kris yang tampak sangat lelah.

            “Kris! Sebesar itu kah kamu percaya pada nasib? Kamu bisa melarat jika terus berpasrah pada takdirmu!” protes Ben membuat Kris menyandarkan tubuhnya di kursi warung.

            “Ya melarat atau tidaknya itu adalah resiko. Semua pilihan pasti punya resiko. Kita ngamen pun ada resiko. Untuk apa susah? Tidak perlu dipikir tapi yang terpenting kita menjalani. Masa iya kamu ingin nilai kuliahmu bagus sedangkan kamu gak mau repot cari dosen atau ngurus akademikmu dari satu gedung ke gedung lain. Enggak kan? Mana kadang kesiangan juga. Dasar tukang telat!” protes Kris tertawa terbahak-bahak.

            Ben tersenyum.                                       

            Mereka terus mengamen hingga sebulan lamanya. Uang yang terkumpul sudah mencapai 500.000. Senyum merona muncul di wajah mereka membuat suasana persahabatan mereka semakin hangat dari sebelumnya.

            “Eh. Permisi saya boleh duduk di sini?” seorang wanita dewasa tiba-tiba saja mendekati mereka.

            “Silakan, Bu.” ucap Kris dengan ramah.

            “Kris. Coba kamu nyanyiin lagu buatanmu itu pas ngamen besok.” bisik Ben menghentikan aktivitas Kris.

            “Aku gak berani.” balas Kris dengan spontan.

           “Aku punya firasat kita bakal dapet uang banyak dengan kamu nyanyi lagu buatanmu.” ucap Ben membuat Kris berdiam diri cukup lama.

            Kris berpikir sembari memainkan lagu buatannya sendiri tersebut dengan gitar kecilnya. Ben terlihat sangat menikmati alunan senar gitar Kris sembari menghitung penghasilan yang ada di kaleng mereka.

            “Aku lebih suka yang Takut Jatuh Hati.” ucap Ben membuat Kris hanya tersenyum.

            Keesokan harinya, Kris memberanikan diri untuk menyanyikan lagu barunya di tempat umum. Benar. Banyak orang menyukai lagu barunya sehingga banyak uang masuk dalam kalengnya. Ben terlihat sangat senang.

            Awalnya mereka hanya berbekal gitar saja untuk mengamen. Namun, Tuhan memberikan mereka kesempatan untuk membuat band. Monochrome Band!

            “Saya ingin kalian memainkan lagu buatan kalian sendiri di pernikahan anak saya. Apakah bisa?” pinta ibu yang tidak asing di mata mereka.

            “Bisa bu.” ucap Kris dan Ben secara bersamaan.

            Tiba di pernikahan.

            Suasana hotel mewah, pernak-pernik yang berkilauan, parfum mahal yang tercium, pakaian jas dan gaun yang super bagus, dan suasana elegan terhias sempurna dalam ruangan itu.

            “Kris. Ini tempat artis. Kita gak salah gedung?” bisik Ben membuat Kris terbelalak.

            Dia baru menyadarinya.

            “Kris!” teriak seseorang yang membuat Kris terbelalak.

            “Langsung saja ke panggung. Pernikahan akan dimulai.” ucap Ibu itu pada Kris.

            Kris pun mengangguk. Saat sampai di atas panggung, mereka dikejutkan dengan penampilan Tulus yang tersaji di sana. Kris dan Ben pun Kris tidak bisa berbicara apa-apa. Ia berjalan dengan kaku menuju tempat untuk penampilan mereka. Nyatanya, Kris diberi kesempatan untuk bernyanyi bersama dengan tokoh idolanya itu. Ben yang menjadi pemusik ikut gemetar karena momen ini.

            Kris merasa kehilangan kepercayaan diri tetapi ia berhasil melawan kegundahan itu dan bernyanyi bak saat ia sedang sendiri.

            Penampilan itu membuat lagunya perlahan melebar ke seluruh tanah air. Hutangnya kini lunas.

Banyak orang mengagumi kisah Kris yang begitu dramatis.

 

 

Berawal dari kepercayaan kini ia berhasil membuat suatu perasaan dangkal menjadi dalam. Takdir memang terus mengujinya tetapi ia tetap percaya pada kepercayaan yang ia tekuni. Kini, sang Pencipta telah mengabulkan pengharapan yang lebih besar dari apa yang selama ini ia doakan.

 




2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger