Untuk: Wintang. foto: flickr Brak!             “Lukisanku!” teriak seseorang dari sudut ruangan dengan paniknya.             Aku d...

Jari Telunjuk Idamanmu

/
2 Comments

Untuk: Wintang.
foto: flickr
Brak!
            “Lukisanku!” teriak seseorang dari sudut ruangan dengan paniknya.
            Aku dan Dika hanya bisa mematung karena ini merupakan hal yang tidak kusengaja. Pesona potret seorang ibu yang menggendong anaknya membuatku terpikat sampai-sampai aku mengarahkan gelas itu tumpah di atas kanvas milik pria tinggi yang sekarang ada di hadapanku.
            “Maafkan temanku, Mas. Ia benar-benar tidak sengaja.” pinta Dika menolongku karena wajahku semakin pucat.
            Pria tinggi itu sibuk dengan lukisannya tanpa memperkenankan kami berbicara ataupun meninggalkannya. Lamat-lamat aku memperhatikan lukisan yang sudah aku rusak. Aku menjadi penasaran pada keseluruhan gambarnya. Hal yang bisa kulihat saat ini hanyalah sebuah tangan telunjuk yang sedang memainkan sebuah awan. Apa maksud dari lukisan itu?
            “Maafkan saya, Mas. Saya akan bertanggung jawab atas kerusakan yang ada.” ucapku mencoba untuk memberanikan diriku yang kian lama semakin lunglai.
            “Aku ingin kalian membuat sebuah pameran kecil. Dosen kalian sudah tahu akan tugas ini. Anggap saja, itu adalah tugas kalian guna memperbaiki hatiku yang pilu karena kelakuan kalian pada lukisanku.” ucap pria itu sembari pergi dan lalu kembali lagi menebarkan senyum bak seorang pangeran tampan.
            “Patria. Sampai bertemu satu bulan lagi di pameran buatanmu.” ucapnya yang kini benar-benar pergi.
            Aku dan Dika hanya bisa bertatapan tanpa berani mengucapkan satu kata apapun karena kami tidak pernah mengadakan pameran sebelumnya. Hari demi hari berlalu. Dika merupakan ketua pelaksana dalam pameran itu sedangkan aku adalah bendahara. Di awal proses pencarian tempat, satu persatu anak menghilang.
            “Aku gak mampu, Dik.”
            “Aku harus pulang kampung. Maaf ya.”
            “Aku pulang, Dik. Nanti kalau ada apa-apa kabari di grup kelas aja.”
            “Aku bantu konsumsi ya kalau ada rapat. Gak boleh terlalu sore pulangku.”
            Aku hanya bisa melihat Dika yang terlihat tegang karena ia bekerja sendirian. Ia hanya bisa duduk diam di sampingku sembari meminum segelas kopi pesanannya.
            “Dik, aku minta kamu jangan kerja sendiri. Aku masih bisa bantu.” balasku membuat Dika mengangguk.
            “Oke. Besok kita survei tempat ya? Aku sudah menemukan empat lokasi. Tapi traktir aku makan. Dirimu sudah tahu kalau aku anak kos kan?” ucap Dika tertawa keras sembari membereskan buku-bukunya.
            “Iya-iya. Aku bawakan bekal dari rumah besok.” balasku membuatnya terperangah.
            “Wah. Rejeki anak soleh.” balasnya sambil mengucapkan selamat tinggal padaku.
            Apa yang aku pikirkan adalah pria yang kutemui beberapa hari yang lalu di tempat pameran adalah orang yang tidak asing kurasa. Aku menunggu bapakku sembari melihat tempat-tempat yang ditemukan Dika untuk menjadi sasaran tempat pameran kami.
            Tin..tin..
            “Lho ini anaknya bapak?” ucap seorang pria di pameran itu.
            Aku langsung terbelalak kaget melihat begitu akrabnya Mas Patria dan ayah. Mereka terlihat seperti saudara tetapi pada kenyataannya tidak. Beberapa menit kemudian Mas Patria melambaikan tangan padaku dan juga ayah.
            “Siapa itu, Yah?” tanyaku sembari naik di motor ayah.
            “Itu teman Ayah di stasiun radio. Kamu buat onar ya? Dia cerita semuanya.” tuduh ayah membuatku hanya bisa tersenyum garing.
            Hari yang berbeda aku tempuh hari ini. Aku mengepaki nasi dan juga beberapa lauk pauk yang disediakan di rumah. Aku berusaha untuk menatanya rapi agar Dika bisa nyaman memakannya.
            Tok..tok..
            “Permisi, Om. Ini benar rumahnya Bintang? Saya Dika minta ijin supaya mengajak Bintang keluar mencari tempat untuk tugas pameran kuliah, Om.” ucap Dika membuatku berlari lalu mengintip dari balik tirai.
            “Oh ya ndak papa. Duduk dulu.” balas ayah ramah sembari berjalan menuju ke arahku.
            “Lho. Kok kamu kesini, Dik?” tanyaku sembari memberikan bekalku padanya.
            “Lha kan libur, Tang. Aku juga ingin main suntuk terus lihat kampus jadi ingat tugas. Haha” tawanya membuatku tidak mengoceh apapun lagi.
            Kami pun langsung bergegas pergi menuju tempat-tempat yang ada di daftar lokasi pameran.
            Panasnya matahari yang terik, jalanan macet karena ada demo angkutan umum, dan kegelisahan karena tiga tempat untuk pameran ditolak membuat kami memiih untuk berteduh di sebuah taman. Suasana sejuk pepohonan membuatku mengantuk karena nyaman.
            “Terima kasih bekalnya, Tang.” ucap Dika membuatku mengangguk mengiyakan pernyataannya.
            Alunan piano di tengah taman membuat mataku kembali dimanjakan hingga terlelap. Namun, aku tetap siaga dan tidak membiarkannya tertidur. Aku memotret segala yang aku lihat dari tempat sampah, air mancur, pemusik, pengamen, hingga toilet. Saat aku mengarahkan kamera menuju bangku taman di sampingku, tiba-tiba saja ada sesosok kucing yang langsung melompatiku. Aku secara spontan melompati bangku dan mengusir kucing itu.
            “Gila!” teriak Dika membuatku merengut.
            Seluruh mata memandang ke arahku.
            “Dimana kameramu?” tanya Dika membuatku langsung meraba pinggangku.
            “Dimana kameranya, Dik?” tanyaku cemas.
            Dika beranjak sembari memanjat pohon untuk meraih kameraku yang terlempar di batangnya.
            Aku hanya meringis dan mengucapkan terima kasih padanya.
            Hari ini kami tidak mendapatkan tempat yang akan kami jadikan tempat pameran. Akhirnya, Dika memilih mengerjakan proposal di rumahku sembari kuberikan AC gratis berupa baling-baling listrik milikku alias kipas angin.
            Hari menuju deadline pameran sudah semakin dekat. Tiba-tiba saja ayah mengajakku menuju tempat siaran. Ia mengatakan bahwa aku mungkin saja tertarik untuk bekerja disana. Namun, aku merasa ini bukanlah waktu untuk mencari pekerjaan karena aku memiliki tugas yang harus kulakukan dan pameran itu harus diadakan besok lusa. Besok lusa. Itu bukan waktu yang lama.
            “Gimana webnya ada kesulitan?” tanya mas Patria yang tiba-tiba muncul di belakangku.
            Aku terkejut karena aku diterima dengan baik di tempat penyiaran ini.
            “Bintang nggak ada acara kan? Ikut makan dulu ya. Nanti mas biang ke bapak.” Lanjutnya membuatku langsung melihat jam tanganku ternyata hari sudah semakin siang.
            Aku pun menggangguk sembari mengikuti postur tinggi mas Patria dari belakang. Ia membawaku menuju sebuah restoran aneka macam bakso yang menjadi tempat favoritnya. Aku hanya diam sembari mengikuti perintah-perintahnya untuk mengambil bakso, duduk di depannya, dan menambah lauk juga. Aku belum mengenal sosok mas Patria tetapi dia sangat baik pada penghancur lukisannya. Kenapa dia malah tidak membenciku?
            “Apa kamu masih memikirkan tentang lukisan itu?” tanyanya kemudian membuatku terbelalak.
            “Iya, Mas. Eh. Endak, Mas.” jawabku gugup sembari meminum segelas air putih.
            “Itu adalah lukisan favoritku. Aku sangat menyukai jari telunjuk. Apakah kamu tahu alasannya?” tanya mas Patria membuatku langsung menggeleng.
            “Jari telunjuk memang sering digunakan untuk menuduh orang, menghina orang, dan menjatuhkan orang. Namun, terkadang orang tidak sadar bahwa telunjuk itu juga merupakan suatu cara untuk membangkitkan rasa percaya diri. Kenapa bisa begitu? Disaat kamu ingin mengutarakan pendapat. Jari mana yang kamu keluarkan? Itu adalah jari telunjuk. Jari itu juga mampu mengingatkanmu untuk diam disaat orang lain ingin diperhatikan. Disaat kamu ingin bermain tuts piano bagian jari mana yang kamu perkenankan untuk menekannya terlebih dulu saat kecil? Tentunya jari telunjukmu. Jadi, jari telunjuk bagiku adalah satu dari seribu cara untukku bisa merasakan bahkan terjun pada situasi-situasi bahagia, nostalgia, kelam, takut, bahkan bangga. Jari telunjuk bukan merupakan sebuah simbol untuk memamerkan bahwa kamu adalah yang nomor satu. Tidak. Namun, jari telunjuk mampu menunjukkan bahwa dirimu itu satu dan tidak ada yang bisa menggantikannya meskipun mereka terlihat lebih hebat darimu. Kamu tetaplah kamu. Lukisan hebat yang paling sempurna dari tangan Tuhan.” ucap mas Patria membuatku tersenyum.
            Ia bahkan bersedia berbicara panjang lebar dengan seseorang yang telah menghancurkan lukisannya yang indah itu hanya untuk membuatku tidak jatuh ke dalam perasaan bersalahku padanya.
            “Tang! Kita dapat tempat pameran. Tempat kedua yang kita kunjungi kemarin tiba-tiba saja meneleponku. Kita bisa menggunakannya besok lusa. Semua teman-teman sekarang sedang melakukan pemajangan pameran disana. Kamu tidak usah khawatir. Terima kasih Bintang.” ucap Dika membuatku tersenyum lebar hingga hampir menitikkan air mata.
            “Tang, tidak perlu sedih ya. Ayo besok ikut ngefoto-foto. Mas tadi gak sengaja lihat hasil potretmu. Mas langsung suka.” ucap mas Patria membuatku hanya bisa mengangguk karena saking bahagianya.
            Tiba saatnya pameran. Dika benar-benar menerapkan konsep pameran gilaku dimana di setiap dindingnya terdapat pemajangan lukisan, pemajangan polaroid, pemajangan seni pahat, pemajangan sertifikat penghargaan yang pernah kami dapat, pemajangan hasil potret alam dan lingkungan, pemajangan lukisan pasir karya teman kami, pemajangan seni kopi susu di meja ruangan ini, pemajangan kerajinan tradisional, dan juga pemajangan karya lettering. Suasana pameran dihiasi dengan live music classic. Di ruangan berikutnya, terdapat sebuah mobil kuno yang indah dengan sebuah lukisan seorang pria yang sedang bermain awan bersama dengan anak-anak kecil di sekitarnya. Namun, langit yang dilukiskan berwarna gelap. Semua tokoh itu menunjukkan telunjukknya tanpa takut. Aku tiba-tiba saja teringat akan mas Patria. Apakah ini adalah lukisan yang sudah kurusak? Tanda tangan mas Patria tertera secara jelas. Aku langsung menangis di tempat. Begitu indah dan dalam lukisannya.
            Selain pemajangan karya seni, kami juga mengadakan sebuah bazaar dan pemutaran film pendek membuat seluruh panitia tertawa. Pengunjung pameran kami tak menyangka mencapai satu juta pengunjung. Seluruh panitia sangat puas akan hasil dari kerja kerasku dan Dika. Mereka memuji kami di depan seluruh pengujung. Tak menyangka, kami mendapatkan sebuah kalung medali penghargaan dari mas Patria yang ternyata merupakan seniman termuda di kota ini.
            Kesalahan kecil terkadang membuat kita lupa untuk berbuat baik pada orang lain. Namun, hal ini tidak berlaku bagi mas Patria. Dia tak pernah memilih kepada siapa ia pantas berbuat baik. Hal yang membuat dia berbuat demikian adalah kasih. Seluruh hidupnya penuh dengan kasih yang selalu ia syukuri. Dimana ia yakin bahwa semua orang pantas mendapatkan kebaikan disaat mereka berada di titik terberat pun. Dendam yang dibalas dengan kasih akan membuahkan suatu untaian benang sejati yang tak kasat mata sehingga mampu tanpa peduli terus membuat hatimu bahagia.

            


2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger