“Lukisanku!” teriak seseorang dari
sudut ruangan dengan paniknya.
Aku dan Dika hanya bisa mematung
karena ini merupakan hal yang tidak kusengaja. Pesona potret seorang ibu yang
menggendong anaknya membuatku terpikat sampai-sampai aku mengarahkan gelas itu
tumpah di atas kanvas milik pria tinggi yang sekarang ada di hadapanku.
“Maafkan temanku, Mas. Ia benar-benar
tidak sengaja.” pinta Dika menolongku karena wajahku semakin pucat.
Pria tinggi itu sibuk dengan
lukisannya tanpa memperkenankan kami berbicara ataupun meninggalkannya.
Lamat-lamat aku memperhatikan lukisan yang sudah aku rusak. Aku menjadi
penasaran pada keseluruhan gambarnya. Hal yang bisa kulihat saat ini hanyalah
sebuah tangan telunjuk yang sedang memainkan sebuah awan. Apa maksud dari lukisan itu?
“Maafkan saya, Mas. Saya akan
bertanggung jawab atas kerusakan yang ada.” ucapku mencoba untuk memberanikan
diriku yang kian lama semakin lunglai.
“Aku ingin kalian membuat sebuah
pameran kecil. Dosen kalian sudah tahu akan tugas ini. Anggap saja, itu adalah
tugas kalian guna memperbaiki hatiku yang pilu karena kelakuan kalian pada
lukisanku.” ucap pria itu sembari pergi dan lalu kembali lagi menebarkan senyum
bak seorang pangeran tampan.
“Patria. Sampai bertemu satu bulan
lagi di pameran buatanmu.” ucapnya yang kini benar-benar pergi.
Aku dan Dika hanya bisa bertatapan
tanpa berani mengucapkan satu kata apapun karena kami tidak pernah mengadakan
pameran sebelumnya. Hari demi hari berlalu. Dika merupakan ketua pelaksana
dalam pameran itu sedangkan aku adalah bendahara. Di awal proses pencarian
tempat, satu persatu anak menghilang.
“Aku gak mampu, Dik.”
“Aku harus pulang kampung. Maaf ya.”
“Aku pulang, Dik. Nanti kalau ada
apa-apa kabari di grup kelas aja.”
“Aku bantu konsumsi ya kalau ada
rapat. Gak boleh terlalu sore pulangku.”
Aku hanya bisa melihat Dika yang
terlihat tegang karena ia bekerja sendirian. Ia hanya bisa duduk diam di
sampingku sembari meminum segelas kopi pesanannya.
“Dik, aku minta kamu jangan kerja
sendiri. Aku masih bisa bantu.” balasku membuat Dika mengangguk.
“Oke. Besok kita survei tempat ya?
Aku sudah menemukan empat lokasi. Tapi traktir aku makan. Dirimu sudah tahu
kalau aku anak kos kan?” ucap Dika tertawa keras sembari membereskan
buku-bukunya.
“Iya-iya. Aku bawakan bekal dari
rumah besok.” balasku membuatnya terperangah.
“Wah. Rejeki anak soleh.” balasnya
sambil mengucapkan selamat tinggal padaku.
Apa yang aku pikirkan adalah pria
yang kutemui beberapa hari yang lalu di tempat pameran adalah orang yang tidak
asing kurasa. Aku menunggu bapakku sembari melihat tempat-tempat yang ditemukan
Dika untuk menjadi sasaran tempat pameran kami.
Tin..tin..
“Lho ini anaknya bapak?” ucap
seorang pria di pameran itu.
Aku langsung terbelalak kaget
melihat begitu akrabnya Mas Patria dan ayah. Mereka terlihat seperti saudara
tetapi pada kenyataannya tidak. Beberapa menit kemudian Mas Patria melambaikan
tangan padaku dan juga ayah.
“Siapa itu, Yah?” tanyaku sembari
naik di motor ayah.
“Itu teman Ayah di stasiun radio.
Kamu buat onar ya? Dia cerita semuanya.” tuduh ayah membuatku hanya bisa
tersenyum garing.
Hari yang berbeda aku tempuh hari
ini. Aku mengepaki nasi dan juga beberapa lauk pauk yang disediakan di rumah.
Aku berusaha untuk menatanya rapi agar Dika bisa nyaman memakannya.
Tok..tok..
“Permisi, Om. Ini benar rumahnya
Bintang? Saya Dika minta ijin supaya mengajak Bintang keluar mencari tempat
untuk tugas pameran kuliah, Om.” ucap Dika membuatku berlari lalu mengintip
dari balik tirai.
“Oh ya ndak papa. Duduk dulu.” balas
ayah ramah sembari berjalan menuju ke arahku.
“Lho. Kok kamu kesini, Dik?” tanyaku
sembari memberikan bekalku padanya.
“Lha kan libur, Tang. Aku juga ingin
main suntuk terus lihat kampus jadi ingat tugas. Haha” tawanya membuatku tidak
mengoceh apapun lagi.
Kami pun langsung bergegas pergi
menuju tempat-tempat yang ada di daftar lokasi pameran.
Panasnya matahari yang terik,
jalanan macet karena ada demo angkutan umum, dan kegelisahan karena tiga tempat
untuk pameran ditolak membuat kami memiih untuk berteduh di sebuah taman.
Suasana sejuk pepohonan membuatku mengantuk karena nyaman.
Alunan piano di tengah taman membuat
mataku kembali dimanjakan hingga terlelap. Namun, aku tetap siaga dan tidak
membiarkannya tertidur. Aku memotret segala yang aku lihat dari tempat sampah,
air mancur, pemusik, pengamen, hingga toilet. Saat aku mengarahkan kamera
menuju bangku taman di sampingku, tiba-tiba saja ada sesosok kucing yang
langsung melompatiku. Aku secara spontan melompati bangku dan mengusir kucing
itu.
“Gila!” teriak Dika membuatku
merengut.
Seluruh mata memandang ke arahku.
“Dimana kameramu?” tanya Dika
membuatku langsung meraba pinggangku.
“Dimana kameranya, Dik?” tanyaku
cemas.
Dika beranjak sembari memanjat pohon
untuk meraih kameraku yang terlempar di batangnya.
Aku hanya meringis dan mengucapkan
terima kasih padanya.
Hari ini kami tidak mendapatkan
tempat yang akan kami jadikan tempat pameran. Akhirnya, Dika memilih mengerjakan
proposal di rumahku sembari kuberikan AC gratis berupa baling-baling listrik
milikku alias kipas angin.
Hari menuju deadline pameran sudah semakin dekat. Tiba-tiba saja ayah
mengajakku menuju tempat siaran. Ia mengatakan bahwa aku mungkin saja tertarik
untuk bekerja disana. Namun, aku merasa ini bukanlah waktu untuk mencari
pekerjaan karena aku memiliki tugas yang harus kulakukan dan pameran itu harus
diadakan besok lusa. Besok lusa. Itu bukan waktu yang lama.
“Gimana webnya ada kesulitan?” tanya
mas Patria yang tiba-tiba muncul di belakangku.
Aku terkejut karena aku diterima
dengan baik di tempat penyiaran ini.
“Bintang nggak ada acara kan? Ikut
makan dulu ya. Nanti mas biang ke bapak.” Lanjutnya membuatku langsung melihat
jam tanganku ternyata hari sudah semakin siang.
Aku pun menggangguk sembari
mengikuti postur tinggi mas Patria dari belakang. Ia membawaku menuju sebuah
restoran aneka macam bakso yang menjadi tempat favoritnya. Aku hanya diam
sembari mengikuti perintah-perintahnya untuk mengambil bakso, duduk di
depannya, dan menambah lauk juga. Aku belum mengenal sosok mas Patria tetapi
dia sangat baik pada penghancur lukisannya. Kenapa dia malah tidak membenciku?
“Apa kamu masih memikirkan tentang
lukisan itu?” tanyanya kemudian membuatku terbelalak.
“Itu adalah lukisan favoritku. Aku
sangat menyukai jari telunjuk. Apakah kamu tahu alasannya?” tanya mas Patria
membuatku langsung menggeleng.
“Jari telunjuk memang sering
digunakan untuk menuduh orang, menghina orang, dan menjatuhkan orang. Namun,
terkadang orang tidak sadar bahwa telunjuk itu juga merupakan suatu cara untuk
membangkitkan rasa percaya diri. Kenapa bisa begitu? Disaat kamu ingin
mengutarakan pendapat. Jari mana yang kamu keluarkan? Itu adalah jari telunjuk.
Jari itu juga mampu mengingatkanmu untuk diam disaat orang lain ingin
diperhatikan. Disaat kamu ingin bermain tuts
piano bagian jari mana yang kamu perkenankan untuk menekannya terlebih dulu
saat kecil? Tentunya jari telunjukmu. Jadi, jari telunjuk bagiku adalah satu
dari seribu cara untukku bisa merasakan bahkan terjun pada situasi-situasi
bahagia, nostalgia, kelam, takut, bahkan bangga. Jari telunjuk bukan merupakan
sebuah simbol untuk memamerkan bahwa kamu adalah yang nomor satu. Tidak. Namun,
jari telunjuk mampu menunjukkan bahwa dirimu itu satu dan tidak ada yang bisa
menggantikannya meskipun mereka terlihat lebih hebat darimu. Kamu tetaplah kamu.
Lukisan hebat yang paling sempurna dari tangan Tuhan.” ucap mas Patria
membuatku tersenyum.
Ia bahkan bersedia berbicara panjang
lebar dengan seseorang yang telah menghancurkan lukisannya yang indah itu hanya
untuk membuatku tidak jatuh ke dalam perasaan bersalahku padanya.
“Tang! Kita dapat tempat pameran.
Tempat kedua yang kita kunjungi kemarin tiba-tiba saja meneleponku. Kita bisa
menggunakannya besok lusa. Semua teman-teman sekarang sedang melakukan
pemajangan pameran disana. Kamu tidak usah khawatir. Terima kasih Bintang.”
ucap Dika membuatku tersenyum lebar hingga hampir menitikkan air mata.
“Tang, tidak perlu sedih ya. Ayo
besok ikut ngefoto-foto. Mas tadi gak sengaja lihat hasil potretmu. Mas
langsung suka.” ucap mas Patria membuatku hanya bisa mengangguk karena saking
bahagianya.
Tiba saatnya pameran. Dika
benar-benar menerapkan konsep pameran gilaku dimana di setiap dindingnya
terdapat pemajangan lukisan, pemajangan polaroid, pemajangan seni pahat, pemajangan
sertifikat penghargaan yang pernah kami dapat, pemajangan hasil potret alam dan
lingkungan, pemajangan lukisan pasir karya teman kami, pemajangan seni kopi
susu di meja ruangan ini, pemajangan kerajinan tradisional, dan juga pemajangan
karya lettering. Suasana pameran
dihiasi dengan live music classic. Di
ruangan berikutnya, terdapat sebuah mobil kuno yang indah dengan sebuah lukisan
seorang pria yang sedang bermain awan bersama dengan anak-anak kecil di
sekitarnya. Namun, langit yang dilukiskan berwarna gelap. Semua tokoh itu
menunjukkan telunjukknya tanpa takut. Aku tiba-tiba saja teringat akan mas
Patria. Apakah ini adalah lukisan yang sudah kurusak? Tanda tangan mas Patria
tertera secara jelas. Aku langsung menangis di tempat. Begitu indah dan dalam
lukisannya.
Selain pemajangan karya seni, kami
juga mengadakan sebuah bazaar dan pemutaran film pendek membuat seluruh panitia
tertawa. Pengunjung pameran kami tak menyangka mencapai satu juta pengunjung.
Seluruh panitia sangat puas akan hasil dari kerja kerasku dan Dika. Mereka memuji
kami di depan seluruh pengujung. Tak menyangka, kami mendapatkan sebuah kalung
medali penghargaan dari mas Patria yang ternyata merupakan seniman termuda di
kota ini.
Kesalahan
kecil terkadang membuat kita lupa untuk berbuat baik pada orang lain. Namun,
hal ini tidak berlaku bagi mas Patria. Dia tak pernah memilih kepada siapa ia
pantas berbuat baik. Hal yang membuat dia berbuat demikian adalah kasih.
Seluruh hidupnya penuh dengan kasih yang selalu ia syukuri. Dimana ia yakin
bahwa semua orang pantas mendapatkan kebaikan disaat mereka berada di titik
terberat pun. Dendam yang dibalas dengan kasih akan membuahkan suatu untaian
benang sejati yang tak kasat mata sehingga mampu tanpa peduli terus membuat
hatimu bahagia.
Hari ini saya belajar dari filosofi jari telunjuk
BalasHapusHehe makasih je
BalasHapus