published on spotify : berjelajah dalam karya        “Kebakaran! Kebakaran!” semua orang berteriak panik sembari membawa banyak ember...

Suara Lirih Sang Api

/
0 Comments


    published on spotify : berjelajah dalam karya

       “Kebakaran! Kebakaran!” semua orang berteriak panik sembari membawa banyak ember untuk meredakan amarah jago merah itu. Irzan hanya terpaku pada ukiran lilinnya tanpa peduli api yang merambat perlahan menuju dekat dengannya.
            “Irzan! Ke luar dari situ!” teriak Rahel tak membuat Irzan berpindah dari duduknya.
            Potongan kayu dari atap berjatuhan tetapi Irzan hanya melihatnya dan kembali mengukir lilin-lilin itu.
            “Irzan! Ayo ke luar!” teriak Rahiel yang terus berusaha berteriak.
            “Buat apa? Toh, kalau memang ini adalah hari terakhirku biar saja. Aku tidak ingin hanya membutuhkan api saat aku merasa kegelapan saja tetapi aku juga harus bisa merasakan amarahnya.” ucap Irzan sembari terus mengukir lilin bawaannya dengan wajah Rahel di dalamnya.
            “Jangan bodoh, Zan! Kamu masih punya banyak waktu untuk membuat ukiran itu! Cepat keluar!” teriak Rahel semakin kencang dari sebelumnya.
            “Apa perlu aku mengulang perkataan itu lagi? Apa kamu memaksaku untuk membenci hal yang menjadi kesukaanku? Bahkan orang tuaku pun diam jika aku berada situasi seperti ini walau kadang mereka cemas.” ucap Irzan sembari kembali dengan pekerjaannya.
            “Irzan! Aku tidak peduli. Aku ingin kamu ke luar dari tempat pembakaran ini! Lihat bajumu sudah tersulut api!” teriak Rahel semakin keras sembari membanting pintu yang langsung terlepas dari tempat semulanya.
            “Aku tahu kamu sangat membenci api hingga membuang seluruh ukiran hasil keringatku di dalam tempat sampah. Tetapi bisakah kamu menghargai api yang kini sedang menghibur kepedihanku ini? Apa perlu aku menyuruh mereka untuk membakarmu juga?” ucap Irzan membuat tangannya perlahan mengguyur seluruh ruangan dengan tepung yang ada di ranselnya.
            Rahiel kini diam.
**
            Setahun yang lalu. Irzan merupakan anak pendiam. Ia selalu menghabiskan waktu untuk membuat berbagai macam ukiran lilin yang ia pajang di ruang keluarganya. Di sana terdapat ukiran wajah keluarga besarnya, sahabat-sahabatnya, dan wajah Rahel.
            “Zan, kenapa kamu setiap hari mengukir wajah-wajah orang terdekatmu pada lilin-lilin itu?” tanya Rahel sembari memutar balikkan lilin yang ia pegang.
            “Aku hanya suka.” jawab Irzan singkat sembari kembali mengerjakan prakaryanya.
            “Tapi, percuma saja kamu mengindahkan ukiranmu di lilin itu toh mereka nantinya akan habis karena terbakar.” lanjut Rahel sembari membantu Irzan menyalakan api di atas sumbu lilin yang berlukiskan wajahnya.
            “Gampang saja. Jika terbakar, aku bisa membuatnya lagi.” balas Irzan sembari menyusun ukirannya rapi menjulang ke langit-langit ruangan.
            “Apa kamu tidak ingin menjaga mereka agar tidak habis terbakar, Zan?” tanya Rahel sembari menyeduh teh yang ada di meja dekatnya.
            “Apa kamu bisa menjaga dirimu untuk tidak habis oleh umur, El?” tanya Irzan membuat Rahiel memandang kosong terhadapnya.
            Hujan tiba-tiba saja turun, suara gemuruh langit membuat tembok bergetar dan menjatuhkan empat lilin yang sudah tertumpuk rapi di atas lilin-lilin yang lain.
            “Sama saja. Aku sebagai manusia tidak bisa melindungi orang-orang terdekatku untuk termakan oleh usia. Itulah alasan mengapa aku mengagumi lilin karena mereka tidak abadi layaknya manusia. Aku bertanya. Apakah lilin berguna saat kondisi di sekitarnya terang benderang? Atau apakah lilin lebih berguna saat suasana di sekitarnya gelap gulita? Pasti jawabannya berguna saat sekelilingnya gelap gulita. Ya sama seperti kita. Di saat banyak kejahatan dan keburukan hadir di sekeliling kita, kita sebaiknya tidak ikut terjerumus melainkan melawan arus untuk menuju kebaikan. Dengan begitu, kamu akan menjadi manusia yang berguna.” ucap Irzan sembari tersenyum hangat pada Rahel.
            Rahel tersenyum sembari mengangguk setuju dengan pernyataan yang dilantunkan oleh Irzan.
            “Lalu, apakah hujan yang memadamkan api itu merupakan tantangan atau masalah dalam hidup?”
            “Ya benar. Masalah memang terlihat menghancurkan tapi di sisi lain mereka juga merupakan anugerah. Apa jadinya jika bumi tidak ditetesi air hujan? Bumi akan terasa kering dan kondisi udaranya juga panas. Sama seperti kita. Jika masalah tidak hadir dalam hidup kita, kita tidak bisa menjadi pribadi yang tegar dan menganggap bahwa apa yang kita lakukan sudah benar dan akhirnya cuek dengan kritik atau penilaian orang.”
            Irzan kian tersenyum melihat ribuan wajah orang-orang terdekatnya terpampang indah di tatanan lilin yang ia suguhkan. Ia memberikan ukiran wajah pada Rahel.
            “Jika kamu ingin menyimpannya, aku akan memberikan lebih banyak ukiran wajah lilinmu.” tawar Irzan sembari mengambil pelan ukiran wajah Rahel.
            “Ya. Aku suka, Zan. Aku akan menyimpannya.” balas Rahel sembari mengambil pelan ukiran wajahnya dari tangan Irzan.
            Tiba di saat hari ulang tahun Rahel. Irzan sudah mengukir berbagai wajah Rahel dari ia masih kecil sampai dewasa dengan berbagai bunga warna-warni yang ia buat melingkar seperti mahkota yang terbuat dari lilin. Ia sudah menyewa sebuah taman dengan cahaya remang-remang dan menyalakan lilin-lilin itu sehingga membentuk sebuah gambar kue tart yang berkilauan. Ia juga menyiapkan foto polaroid yang ia gantungkan dari pohon satu ke pohon yang lain dengan berhiaskan cahaya api di lilin kecil yang tergantung di sekat-sekat foto itu.
            Rahel datang dengan senyum merona. Ia cantik bak ratu dari kerajaan besar. Ia terlihat sangat mewah hari ini. Ia mengenakan sepatu berhak tinggi, gaun selantai, make up halus, dan rambut yang dibiarkannya terurai indah sampai pinggangnya. Ia juga membawa kado besar di tangannya. Sekejap seorang lelaki datang dari belakangnya. Irzan kecewa karena Rahel tidak sedang mendatanginya, ia sekarang jelas-jelas berada di depannya duduk dengan lelaki yang dulu menjadi sahabatnya. Kulitnya yang gelap membuat Rahel tak sadar bahwa Irzan sedang mempersiapkan kejutan untuknya.
            “Apa ini?” tanya Rahel sembari perlahan membuka kado berwarna merah muda dengan pita besar berwarna merah yang menambah keindahannya.
            Sebuah miniatur pohon sebesar buku yang dibiarkan berdiri hadir di hadapannya. Saat ia menggeser tombol menyala, lampu-lampu yang berkilauan berkedip bergantian membuat mata Rahel terfokus pada hadiahnya itu.
            Lilin yang sudah Irzan nyalakan kalah sinarnya dengan lampu pemberian lelaki itu. Rahiel seketika terharu hingga menangis dan tidak sengaja menjatuhkan lilin-lilin buatan Irzan dan bahkan ada beberapa lilin yang terinjak. Irzan hanya diam.
            “Irzan?” ucap Rahel yang tiba-tiba tersadar saat ia melihat namanya terlukis indah di bangku taman yang ia duduki.
            Irzan sama sekali tidak menghiraukan suara perempuan itu. Ia mengemasi seratus ukiran lilin buatannya itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia semakin terkejut melihat sebuah ukiran lilin berwajah Rahel yang ia buat saat itu sudah kotor bersama dengan sampah-sampah lain di sekitarnya.
            “Kamu membuangnya?” tanya Irzan berusaha tegar meskipun karyanya sama sekali tidak dihargai.
            “Aku risih melihatnya terus mengotori rumahku. Aku sering terpeleset karena rontokkan lilin itu. Walau begitu aku suka, Zan.” ucap Rahel yang terlihat kebingungan mencari alasan untuk berbohong.
            “Apa kamu akan membuang hadiah dari lelaki itu juga?” tanya Irzan sembari melihat kado indah yang Rahel dapatkan beberapa detik yang lalu.
            “Tidak. Aku akan menyimpannya karena ini sangat berharga. Ia tidak kotor dan cahayanya terang lebih terang dibandingkan lilinmu.” ucap Rahel sembari berbalik badan meninggalkan Irzan yang masih berdiri diam menatapnya.
            “Zan. Jangan ukir wajahku lagi kalau kamu tidak mau melihatnya berada di tong sampah.” ucap Rahel membuat Irzan semakin sakit hati.
            “Bisakah orang menghargai karya seniku? Atau bisakah tidak sesakit ini?” ucapnya sembari terus melukai kakinya dengan menendangi tong sampah di depannya.
            Sampai di rumah, ia melihat susunan lilin yang telah dibuatnya selama bertahun-tahun terbakar hangus karena kecerobohannya. Ia semakin terpuruk dan merusak semua karyanya itu dengan menggunakan benda tajam sampai-sampai melukai telapak tangannya.
            Mungkin kita pernah bertemu. Hanya saja kau tak tahu itu aku. Mungkin kita pernah berjumpa. Tapi tak saling menyapa. Mungkin juga kita pernah rindu. Tapi malu ungkapkannya. Pada akhirnya, pesanku tak pernah sampai padamu’. – Sella. 
**      
                 Rahiel terdiam.
            “Tinggalkan aku! Aku tidak peduli seberapa keras kamu berteriak aku akan tetap di sini. Aku sakit hati. Sakit hati karena karyaku tidak dihargai oleh perempuan sepertimu!” teriak Irzan sembari mendorong Rahiel menjauh.
            Beberapa detik kemudian atap ruangan itu roboh sehingga menimpa tubuh Irzan yang masih berada di dalam ruangan itu. Rahiel hanya bisa menangis dan menyesali perbuatannya.

Kata-kata memanglah lebih tajam dari senjata. Ada kalanya mereka indah didengar dan ada kalanya pula mereka menyakiti pendengaran kita. Penghargaan yang dapat kita berikan kepada orang lain adalah pengakuan dan penerimaan. Lilin yang hanya bisa diam saat dibakar membuatnya semakin diakui sebagai penerang lain dalam gelap selain lampu. Ia memang mengotori lantai ataupun meja tempatnya menempel tapi itu tidak membuatnya dibuang dalam kondisi utuh tetapi malah digunakan orang kembali di saat kegelapan kembali hadir. Jadilah terang di saat yang lainnya gelap dan jadilah yang berbeda di saat yang lainnya sama. 

           
             



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger