“Kebakaran! Kebakaran!” semua orang berteriak panik
sembari membawa banyak ember untuk meredakan amarah jago merah itu. Irzan hanya
terpaku pada ukiran lilinnya tanpa peduli api yang merambat perlahan menuju
dekat dengannya.
“Irzan! Ke luar dari situ!” teriak Rahel tak membuat
Irzan berpindah dari duduknya.
Potongan kayu dari atap berjatuhan tetapi Irzan hanya
melihatnya dan kembali mengukir lilin-lilin itu.
“Irzan! Ayo ke luar!” teriak Rahiel yang terus berusaha
berteriak.
“Buat apa? Toh, kalau memang ini adalah hari terakhirku
biar saja. Aku tidak ingin hanya membutuhkan api saat aku merasa kegelapan saja
tetapi aku juga harus bisa merasakan amarahnya.” ucap Irzan sembari terus
mengukir lilin bawaannya dengan wajah Rahel di dalamnya.
“Jangan bodoh, Zan! Kamu masih punya banyak waktu untuk
membuat ukiran itu! Cepat keluar!” teriak Rahel semakin kencang dari sebelumnya.
“Apa perlu aku mengulang perkataan itu lagi? Apa kamu
memaksaku untuk membenci hal yang menjadi kesukaanku? Bahkan orang tuaku pun
diam jika aku berada situasi seperti ini walau kadang mereka cemas.” ucap Irzan
sembari kembali dengan pekerjaannya.
“Irzan! Aku tidak peduli. Aku ingin kamu ke luar dari tempat
pembakaran ini! Lihat bajumu sudah tersulut api!” teriak Rahel semakin keras
sembari membanting pintu yang langsung terlepas dari tempat semulanya.
“Aku tahu kamu sangat membenci api hingga membuang
seluruh ukiran hasil keringatku di dalam tempat sampah. Tetapi bisakah kamu
menghargai api yang kini sedang menghibur kepedihanku ini? Apa perlu aku
menyuruh mereka untuk membakarmu juga?” ucap Irzan membuat tangannya perlahan
mengguyur seluruh ruangan dengan tepung yang ada di ranselnya.
Rahiel kini diam.
**
Setahun yang lalu. Irzan merupakan anak pendiam. Ia
selalu menghabiskan waktu untuk membuat berbagai macam ukiran lilin yang ia
pajang di ruang keluarganya. Di sana terdapat ukiran wajah keluarga besarnya,
sahabat-sahabatnya, dan wajah Rahel.
“Zan, kenapa kamu setiap hari mengukir wajah-wajah orang
terdekatmu pada lilin-lilin itu?” tanya Rahel sembari memutar balikkan lilin
yang ia pegang.
“Aku hanya suka.” jawab Irzan singkat sembari kembali
mengerjakan prakaryanya.
“Tapi, percuma saja kamu mengindahkan ukiranmu di lilin
itu toh mereka nantinya akan habis karena terbakar.” lanjut Rahel sembari
membantu Irzan menyalakan api di atas sumbu lilin yang berlukiskan wajahnya.
“Gampang saja. Jika terbakar, aku bisa membuatnya lagi.” balas Irzan
sembari menyusun ukirannya rapi menjulang ke langit-langit ruangan.
“Apa kamu tidak ingin menjaga mereka agar tidak habis
terbakar, Zan?” tanya Rahel sembari menyeduh teh yang ada di meja dekatnya.
“Apa kamu bisa menjaga dirimu untuk tidak habis oleh
umur, El?” tanya Irzan membuat Rahiel memandang kosong terhadapnya.
Hujan tiba-tiba saja turun, suara gemuruh langit membuat
tembok bergetar dan menjatuhkan empat lilin yang sudah tertumpuk rapi di atas lilin-lilin
yang lain.
“Sama saja. Aku sebagai manusia tidak bisa melindungi
orang-orang terdekatku untuk termakan oleh usia. Itulah alasan mengapa aku
mengagumi lilin karena mereka tidak abadi layaknya manusia. Aku bertanya. Apakah
lilin berguna saat kondisi di sekitarnya terang benderang? Atau apakah lilin
lebih berguna saat suasana di sekitarnya gelap gulita? Pasti jawabannya berguna
saat sekelilingnya gelap gulita. Ya sama seperti kita. Di saat banyak kejahatan
dan keburukan hadir di sekeliling kita, kita sebaiknya tidak ikut terjerumus
melainkan melawan arus untuk menuju kebaikan. Dengan begitu, kamu akan menjadi
manusia yang berguna.” ucap Irzan sembari tersenyum hangat pada Rahel.
Rahel tersenyum sembari mengangguk setuju dengan
pernyataan yang dilantunkan oleh Irzan.
“Lalu, apakah hujan yang memadamkan api itu merupakan
tantangan atau masalah dalam hidup?”
“Ya benar. Masalah memang terlihat menghancurkan tapi di
sisi lain mereka juga merupakan anugerah. Apa jadinya jika bumi tidak ditetesi
air hujan? Bumi akan terasa kering dan kondisi udaranya juga panas. Sama
seperti kita. Jika masalah tidak hadir dalam hidup kita, kita tidak bisa
menjadi pribadi yang tegar dan menganggap bahwa apa yang kita lakukan sudah
benar dan akhirnya cuek dengan kritik atau penilaian orang.”
Irzan kian tersenyum melihat ribuan wajah orang-orang
terdekatnya terpampang indah di tatanan lilin yang ia suguhkan. Ia memberikan
ukiran wajah pada Rahel.
“Jika kamu ingin menyimpannya, aku akan memberikan lebih
banyak ukiran wajah lilinmu.” tawar Irzan sembari mengambil pelan ukiran wajah
Rahel.
“Ya. Aku suka, Zan. Aku akan menyimpannya.” balas Rahel sembari
mengambil pelan ukiran wajahnya dari tangan Irzan.
Tiba di saat hari ulang tahun Rahel. Irzan sudah
mengukir berbagai wajah Rahel dari ia masih kecil sampai dewasa dengan
berbagai bunga warna-warni yang ia buat melingkar seperti mahkota yang terbuat
dari lilin. Ia sudah menyewa sebuah taman dengan cahaya remang-remang dan
menyalakan lilin-lilin itu sehingga membentuk sebuah gambar kue tart yang berkilauan. Ia juga menyiapkan
foto polaroid yang ia gantungkan dari pohon satu ke pohon yang lain dengan
berhiaskan cahaya api di lilin kecil yang tergantung di sekat-sekat foto itu.
Rahel datang dengan senyum merona. Ia cantik bak ratu dari
kerajaan besar. Ia terlihat sangat mewah hari ini. Ia mengenakan sepatu berhak
tinggi, gaun selantai, make up halus,
dan rambut yang dibiarkannya terurai indah sampai pinggangnya. Ia juga membawa
kado besar di tangannya. Sekejap seorang lelaki datang dari belakangnya. Irzan
kecewa karena Rahel tidak sedang mendatanginya, ia sekarang jelas-jelas berada
di depannya duduk dengan lelaki yang dulu menjadi sahabatnya. Kulitnya yang
gelap membuat Rahel tak sadar bahwa Irzan sedang mempersiapkan kejutan untuknya.
“Apa ini?” tanya Rahel sembari perlahan membuka kado
berwarna merah muda dengan pita besar berwarna merah yang menambah
keindahannya.
Sebuah miniatur pohon sebesar buku yang dibiarkan berdiri
hadir di hadapannya. Saat ia menggeser tombol menyala, lampu-lampu yang
berkilauan berkedip bergantian membuat mata Rahel terfokus pada hadiahnya itu.
Lilin yang sudah Irzan nyalakan kalah sinarnya dengan
lampu pemberian lelaki itu. Rahiel seketika terharu hingga menangis dan tidak
sengaja menjatuhkan lilin-lilin buatan Irzan dan bahkan ada beberapa lilin yang
terinjak. Irzan hanya diam.
“Irzan?” ucap Rahel yang tiba-tiba tersadar saat ia
melihat namanya terlukis indah di bangku taman yang ia duduki.
Irzan sama sekali tidak menghiraukan suara perempuan itu.
Ia mengemasi seratus ukiran lilin buatannya itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Ia semakin terkejut melihat sebuah ukiran lilin berwajah Rahel yang ia buat
saat itu sudah kotor bersama dengan sampah-sampah lain di sekitarnya.
“Kamu membuangnya?” tanya Irzan berusaha tegar meskipun
karyanya sama sekali tidak dihargai.
“Aku risih melihatnya terus mengotori rumahku. Aku sering
terpeleset karena rontokkan lilin itu. Walau begitu aku suka, Zan.” ucap Rahel
yang terlihat kebingungan mencari alasan untuk berbohong.
“Apa kamu akan membuang hadiah dari lelaki itu juga?”
tanya Irzan sembari melihat kado indah yang Rahel dapatkan beberapa detik yang
lalu.
“Tidak. Aku akan menyimpannya karena ini sangat berharga.
Ia tidak kotor dan cahayanya terang lebih terang dibandingkan lilinmu.” ucap
Rahel sembari berbalik badan meninggalkan Irzan yang masih berdiri diam
menatapnya.
“Zan. Jangan ukir wajahku lagi kalau kamu tidak mau
melihatnya berada di tong sampah.” ucap Rahel membuat Irzan semakin sakit
hati.
“Bisakah orang menghargai karya seniku? Atau bisakah
tidak sesakit ini?” ucapnya sembari terus melukai kakinya dengan menendangi
tong sampah di depannya.
Sampai di rumah, ia melihat susunan lilin yang telah
dibuatnya selama bertahun-tahun terbakar hangus karena kecerobohannya. Ia
semakin terpuruk dan merusak semua karyanya itu dengan menggunakan benda tajam
sampai-sampai melukai telapak tangannya.
‘Mungkin kita
pernah bertemu. Hanya saja kau tak tahu itu aku. Mungkin kita pernah berjumpa.
Tapi tak saling menyapa. Mungkin juga kita pernah rindu. Tapi malu
ungkapkannya. Pada akhirnya, pesanku tak pernah sampai padamu’. – Sella.
**
Rahiel
terdiam.
“Tinggalkan aku! Aku tidak peduli seberapa keras kamu
berteriak aku akan tetap di sini. Aku sakit hati. Sakit hati karena karyaku
tidak dihargai oleh perempuan sepertimu!” teriak Irzan sembari mendorong Rahiel
menjauh.
Beberapa detik kemudian atap ruangan itu roboh sehingga
menimpa tubuh Irzan yang masih berada di dalam ruangan itu. Rahiel hanya bisa
menangis dan menyesali perbuatannya.
Kata-kata memanglah lebih tajam
dari senjata. Ada kalanya mereka indah didengar dan ada kalanya pula mereka
menyakiti pendengaran kita. Penghargaan yang dapat kita berikan kepada orang
lain adalah pengakuan dan penerimaan. Lilin yang hanya bisa diam saat dibakar
membuatnya semakin diakui sebagai penerang lain dalam gelap selain lampu. Ia
memang mengotori lantai ataupun meja tempatnya menempel tapi itu tidak
membuatnya dibuang dalam kondisi utuh tetapi malah digunakan orang kembali di
saat kegelapan kembali hadir. Jadilah terang di saat yang lainnya gelap dan
jadilah yang berbeda di saat yang lainnya sama.