“Pergi dari sini!” teriak ibu pemilik kontrakan
sembari melempar barang-barang milik ayah keluar.
Ayah terjatuh lantaran didorong kuat
oleh salah satu pria besar yang berada di belakang ibu jahat itu. Aku menangis
melihat ayah terjatuh jauh. Hal itu membuat bahunya bergeser dan berdarah. Aku,
yang masih berumur 8 tahun, tak kuat membawa ayah ke rumah sakit yang berjarak
10 km dari kontrakan itu. Aku hanya bisa terus menangis.
"Kontrakan 6 bulan tidak pernah membayar! Tetapi malah enak-enakan tinggal manis di kontrakan. Dasar tidak tahu diri ya!" teriak ibu itu sembari menendang koper ayah dan berangsur pergi.
“Nak, kenapa menangis? Kamu ingin
ayah bangkit kan?” tanya ayah sembari merintih kesakitan.
Aku semakin menangis. Aku berlari
sembari memeluk erat ayah yang masih terlihat kesakitan.
“Jela, ayah tidak
apa-apa. Ini hanya luka kecil. Ayo bantu ayah berdiri!” tegas ayah membuatku
semakin menangis dan terus memeluk erat tubuhnya.
“Jela. Ayah tidak pernah mengajarkan
kamu untuk menjadi perempuan cengeng! Ayo bantu ayah!” ucap ayah marah sembari
perlahan melepaskan pelukanku.
Dengan berat hati, aku berdiri
sembari menarik tangan kiri ayah yang lebih besar dari telapak tanganku.
Kami menyusuri kota selama 2 hari 2
malam. Malam kedua ini, aku dan ayah menemukan sebuah gubuk yang dipinjamkan
oleh salah satu rekannya. Gubuk itu bukanlah sembarang gubuk biasa. Ia terlihat
mewah tapi juga sederhana. Gubuk yang tepat berada di muka pantai Kedung Celeng
yang indah.
Gradiasi warna laut yang berkelok
halus membuat sekejap mata terpesona dan terfokus. Bebatuan besar yang berada
di sekitarnya membuat mata semakin merasa dimanjakan oleh ciptaan Tuhan Yang
Maha Esa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berkedip dan menghirup aroma
air laut yang asin ini.
Setiap hari, aku dan ayah selalu
menghabiskan waktu bersama dengan memancing, memasak, menikmati senja di pantai,
mengukir nama ibu di atas pasir, menghitung tetesan-tetesan hujan yang mengenai
atap gubuk, dan hal-hal lainnya.
10 tahun kemudian
“Paket-paket!” teriak seorang pria dari luar.
“Iya?” ucap ayah sembari membuka
pintu dengan perlahan.
“Pak, saya mengantar sebuah paket dari atasan saya yang katanya pernah menjadi sahabat Anda saat sekolah
dulu.” ucap pria itu
sembari menyerahkan amplop coklat besar berisikan tawaran pekerjaan di kota
besar.
“Terima kasih, Mas. Berikan salam
saya untuk beliau.” balas ayah membuat pria itu pergi.
Ayah terlihat sangat senang sembari
mengemasi pakaianku.
“Ayah? Apa kita tidak bisa membayar
uang kontrakan lagi?” tanyaku membuat ayah langsung mengecup pipiku.
Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Ia
sibuk mengeluarkan pakaian-pakaianku dan mengemasinya dalam sebuah koper.
“Nak, ambil semua pakaian di jemuran
ayah lalu tolong setrika ya.” ucap ayah membuatku semakin geram dan penasaran.
“Ayah, apa yang terjadi?” balasku
membuat ayah langsung menyuruhku duduk di tikar.
“Ayah mendapatkan pekerjaan untuk memasak di kota.
Ayah senang sekali. Kamu juga bisa bersekolah disana dan tidak lagi terus ada di tepi pantai tanpa teman seperti ini.” ucap ayah membuatku
langsung terbelalak ingin memberontak.
“Ayah. Aku sudah terbiasa hidup
hanya dengan ayah. Aku tidak mau dan tidak akan bisa bertemu dengan orang-orang
sebayaku. Aku mau tetap disini!” teriakku tak ingin menuruti perintahnya.
“Jela. Apakah kamu tahu? Mengapa
kakimu kotor?”
“Ya. Karena ia banyak berjalan.”
“Apakah dia terluka saat ia terjatuh
atau tersandung batu?”
“Iya.”
“Apakah kaki itu langsung patah?”
“Tidak yah. Dia tetap bisa digunakan
untuk berjalan.”
“Apakah kamu tidak ingin seperti
kaki itu? Apa kamu akan terus menjadi kaki yang bersih tanpa noda? Injakkan
kakimu pada pengalaman-pengalaman baru, teman-teman baru, situasi baru, dan
pelajaran baru. Ingat. Jangan pernah merasa takut menerima masalah baru juga,
Nak. Kaki yang terus terjatuh, berdarah, bahkan patah pun mereka tetap bisa
digunakan untuk berjalan dan tidak dibuang orang. Jadi, jangan pernah merasa
terbuang jika suatu saat kamu dibenci seluruh dunia karena karyamu atau
pelayanan yang kamu berikan pada mereka. Ayah ingin Jela menjadi anak gadis
ayah yang kuat.” ucap ayah membuatku mematung sembari terus ketakutan pada
imajinasiku sendiri.
JOGJA.
Kesopan santunan semua orang disana
membuat hatiku reda akan kegemetaran. Ayah terlihat sangat ramah saat
bercengkerama dengan berbagai pria yang ia temui di jalanan.
Ayah menarik tanganku menuju sebuah gerbang
raksasa, yang berwarna merah maroon, di depan mataku.
“Ayah aku tidak mau masuk.” ucapku
sembari menarik tanganku dari genggaman erat ayah.
“Kamu tunggu disini ya.” balas ayah
yang seolah-olah mengerti kecemasanku.
“Iya yah.” balasku sembari duduk
bersembunyi di samping gerbang.
“Mbaknya anak baru?” sapa seorang
pengamen muda berpakaian lusuh sembari memasukkan beberapa uang koin di saku
celananya.
Aku hanya diam sembari memeluk
diriku yang kembali bergetar hebat.
“Kak!” teriak seorang anak kecil
yang tiba-tiba muncul di balim gerbang.
“Kenapa dek?” tanya seorang pengamen
yang beberapa detik yang lalu menyapaku.
“Kakak kapan ikut bersekolah
denganku? Aku ingin kakak juga bisa sekolah.” ucap adik pengamen itu sambil
menangis.
“Kalau kakak sekolah, siapa yang
ngasih adek uang saku kalau mau beli makan?” tanya lelaki itu sembari tersenyum
tulus terhadap adiknya.
“Gak tahu kak. Tapi aku pengen kakak
ikut sekolah juga.” rengek anak kecil itu sembari memeluk kakaknya lewat
sela-sela gerbang sekolah yang aku takuti.
“Kakak bahagia kalau adek bisa
sekolah. Sekarang kakak pengen adek nggambarin kakak ya waktu pelajaran
menggambar. Nanti gambarannya adek kakak bawa kemana-mana. Biar kakak terus
ingat kalau kakak sudah diberikan adik pintar dari Tuhan. Oke?” ucap lelaki itu
membuatku perlahan-lahan tersenyum.
“Aku bakal nggambarin wajah kakak yang
bagus!” teriak perempuan bertubuh mungil itu sembari berlari masuk sekolah.
Aku langsung memalingkan muka
sembari kembali membiasakan mataku melihat keramaian jalan raya yang ada di
hadapanku.
“Jangan pernah bangga dengan telapak
kakimu yang bersih. Memang aku akui, kakiku terlihat menjijikkan dan kotor.
Walaupun begitu, aku memiliki banyak pengalaman dan juga pembelajaran hidup.
Hinaan, cacian, dan makian sudah menjadi makananku setiap hari. Jangan buat
hidupmu hambar hanya karena kamu terlalu takjub dengan suara ombak pantai yang
masih terngiang jelas di kedua telingamu.” ucap pengamen itu sembari berjalan
pergi untuk kembali mencari nafkah untuk adiknya.
Tet!
Aku
terkejut mendengar suara bel yang sangat keras itu. Aku kira sebuah kapal
kembali menawarkan padaku untuk berpindah tempat ke pulau seberang. Namun, ini
bukanlah yang seperti itu. Tiba-tiba saja, semua anak langsung berlari keluar
setelah mendengarnya. Aku pun ikut keluar sembari mengikuti kemana
teman-temanku pergi. Mereka bukannya ketakutan tetapi malah menikmati santap
makan siang bersama-sama di sebuah tempat yang penuh orang-orang berjualan yang
mereka sebut ‘kantin’. Aku tidak tahu cara bercengkerama dengan mereka. Aku pun
memutuskan untuk membantu para tukang kebun memunguti sampah-sampah yang
berserakan di bawah kursi-kursi itu.
“Ngapain ikut bersih-bersih sampah?
Itu sudah menjadi tugasku.” ucap pengamen yang kutemui kemarin.
Aku terbelalak sembari menjatuhkan
sampah yang aku bawa.
“Bisakah kamu berbicara? Atau kamu
memang memiliki keterbatasan..” tanyanya membuatku langsung menggeleng.
“Tidak. Aku tidak pernah berbicara
pada siapapun kecuali ayahku.” jawabku jujur membuatnya terkejut.
Aku langsung meninggalkan pengamen
itu sembari berlari ke kelas. Aku sendirian dan aku tersenyum. Namun, aku
terkejut melihat tulisan di papan tulis.
Jela
adalah teman baru kami. Selamat datang.
Aku
tersenyum melihat tulisan itu. Namun, beberapa saat kemudian saat segerembolan
lelaki masuk kelas aku spontan langsung melompat dan keluar dari kelas.
“Eh, Jela gak papa a?” tanya Yoni
salah satu teman kelasku.
“N-ndak p-papa” jawabku perlahan sembari kembali memasuki kelas.
Keesokan harinya, aku sengaja
berangkat pagi-pagi. Sesampainya aku di kelas, tiba-tiba aku melihat ada tulisan baru yang terlukis indah di papan tulis itu.
Jela
adalah anak yang baik. Dia mungkin diam tetapi dia selalu memeriksa barang
kehilangan dan melaporkannya pada petugas yang berwenang.
“Jela,
terima kasih ya sudah mau menyimpan dompetku yang tertinggal.” banyak teman
menjabat tanganku sembari mengucapkan terima kasih.
Aku merasa lebih baik. Aku tidak
menyangka ternyata orang kota tidak seburuk apa yang aku pikirkan.
“Jela, apa kamu bisa mengerjakan
tugas ini? Aku akan menraktirmu makan siang nanti.”
Perlahan namun pasti, aku memiliki
banyak teman.
Jela
adalah sahabat dan keluarga kami. Dia rela berangkat pagi hanya untuk merapikan
bangku dan juga memeriksa bangku kami.
Aku bisa bercengkerama akrab dengan
teman-temanku walaupun aku masih sering memasukkan tanganku ke dalam saku
seragamku.
“Jela tinggal di tepi pantai? Wah
bisa berenang, main papan seluncur, dan menyelam ya?” tanya Tia, salah satu
temanku.
“I-iya.” ucapku perlahan sembari
terkejut mendengar mereka berteriak.
“Wah, kapan-kapan kita kesana ya.
Aku mau minta ajar, Jela. Apakah boleh?” tanya Rio, salah satu temanku yang
lain.
Aku hanya tersenyum membuat semua
temanku langsung mengenal dan semakin menyukaiku.
Namun, panggilan dari kepala sekolah membuyarkan segala kebahagiaanku hari ini.
“Jela, kenapa uang bulananmu tidak
kamu bayarkan?” tanya kepala sekolahku sembari menatap tajam wajahku.
Aku hanya bisa diam karena ayah
tidak pernah memberiku uang saku selama aku sekolah.
“S-saya a-akan t-tanyakan h-hal
i-ini p-pada a-ayah s-saya.” ucapku terbata-bata sembari berangsur pergi menuju
restoran ayah.
Sampai di restoran ayah, aku melihat banyak pemadam kebakaran yang pakir berantakan di muka restoran itu. Banyak suara tangis dan teriakan histeris dari para perempuan disana. Asap hitam mengepul lekat menjujung tinggi ke arah langit. Aku merasa sesak karena tiba-tiba cemas akan keadaan ayah.
Aku menemui ayah di dekat gerobak sampah dengan keadaan yang mengenaskan. Ayahku terlihat menangis sembari tubuhnya penuh dengan luka dan darah.
“Ayah kenapa!” teriakku sembari membenahi pakaian ayah yang terlepas.
“Semuanya habis, Jela. Teman ayah
dan temanmu mati karena menyelamatkan ayah.”
“Temanku? Siapa yah?”
Ayah tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Aku langsung menggotongnya menuju rumah sakit walaupun aku tidak tahu arah
jalan menuju kesana.
“Jela! Naik ke mobilku cepat. Ayahmu
butuh pertolongan segera kalau tidak dia bisa kehilangan banyak darah!” teriak
teman sekelasku membuatku langsung berlari dan mendorong ayah ke dalam
mobilnya.
Aku terus menangis. Aku takut
kehilangan ayah. Namun, aku masih berpikir siapakah temanku yang menolongnya
ayah?
Sampai di rumah sakit, ayah masuk di
ruang UGD. Sekitar 6 jam, ayah menjalankan berbagai perawatan dan pengobatan
dari tim medis.
"Saudari Jela?” ucap dokter membuatku
langsung berdiri sembari mengusap air mataku.
“Silakan masuk.” lanjut dokter lantas menuntunku memasuki kamar ayah.
Ayah terlihat bahagia walaupun ia
masih menyisakan air mata.
“Ayah, jangan tinggalkan Jela.” ucapku sembari memeluk
erat tubuh ayah.
“Pengamen itulah yang menyelamatkan
ayah, Nak.” balas ayah membuatku terbelalak.
“Pengamen siapa yah?”
“Saat itu, ayah sedang memasakkan
hidangan untuk pelanggan. Tiba-tiba, teman ayah datang berkunjung. Ayah pun meninggalkan dapur dan menyerahkan tanggung jawab alat dapur pada asisten ayah. Salah seorang
asisten ayah tak sengaja melepas celemeknya di dekat kompor sehingga api
menyulut ujung celemek itu. Kemudian karena dia panik, semua peralatan
masak-memasak jatuh dan membuat gasnya juga terjatuh. Ledakan hebat terjadi
seketika. Saat teman ayah masuk ke ruang dapur, ia mengajak ayah keluar dari
restoran. Ayah menurutinya. Kemudian, ia berkata bahwa ia sangat bangga melihat keterampilan memasak ayah. Tiba-tiba, ia mendengar suara ledakan hebat dari dapur dan langsung mendorong ayah keluar dari restoran. Hal itu menyebabkan teman ayah kehilangan nyawa karena terkena ledakan itu. Lalu,
temanmu berteriak bahwa ada api yang menyulut pakaian ayah. Karena dia tidak
melihat jalan, ia langsung tertabrak mobil hingga ia mengalami pendarahan yang
hebat dan akhirnya meninggal. Ayah sudah mengakibatkan dua orang meninggal,
Nak.” ucap ayah sembari menangis bersedu-sedu dan memelukku.
Aku terkejut teman pertamakulah yang
telah menyelamatkan ayah. Aku menangis haru dan aku hari ini tidak sempat bercengkerama
dengannya. Bagaimana nasib adiknya ketika tahu kakaknya meninggal? Aku semakin merasa sedih.
“Jela. Kamu tahu tulisan yang setiap
pagi tertulis di papan tulis itu dari siapa?” tanya Hana, salah satu temanku yang ikut membawa ayahku ke rumah sakit.
“Siapa? Bukankah dari kalian?”
tanyaku membuat Hana terisak.
“Itu karya Onar, pengamen yang
selalu menyapamu di depan gerbang. Dia mengatakan pada kami bahwa kamu adalah
orang baru yang masih beradaptasi di kota besar seperti Jogja. Dia melakukan
itu hanya supaya kamu mau bersekolah dan bersemangat. Dia juga melarang kami
untuk berkata kasar padamu dan menuntut kami untuk memperhatikanmu. Dia juga
selalu memamerkan kebaikanmu selama ini, Jela. Aku sedih begitu tahu dia sudah
tiada sekarang.” ucap Hana membuatku semakin menangis sedih.
Aku menangis hebat. Kebaikan Onar yang begitu sabar menghadapi kediamanku ternyata membuatnya semakin hebat untuk memberikan banyak kebahagiaan padaku. Aku sangat bersyukur ketika ayah
mengajakku belajar di kota. Aku menjadi sadar dan percaya bahwa walaupun selama
10 tahun aku tidak memiliki teman, masih ada saja orang yang mau memiliki teman
sepertiku.
Air mata ini tidak bisa mewakili kata terima kasih yang
terdengar sangat sederhana. Air mata ini tidak mampu menggambarkan seberapa
besar kesedihanku melihat kenyataan yang berbalik dari ekspetasiku. Air mata
ini tidak sanggup membuat tubuh ini berhenti gemetar. Iya gemetar. Aku gemetar
karena orang-orang yang selama ini aku impikan benar-benar ada. Namun, mengapa
salah seorang teman yang begitu baik padaku lah yang diambilNya pertama kali?
Sanggupkah
kamu terus mengeluh pada apa yang terjadi dalam hidup? Apakah ada satu orang
saja yang sangat memperhatikanmu? Jaga dia. Sebelum dia pergi dan bahagiakan
dia. Ucapkan banyak terima kasih karena apa yang dia berikan belum tentu bisa
kamu berikan padanya juga. –Tiara.