Untuk : Lidya Jelahu Foto : flickr.com                 “Pergi dari sini!” teriak ibu pemilik kontrakan sembari melempar barang-baran...

Langkah Kepercayaan yang Telah Aku Dapat

/
0 Comments

Untuk : Lidya Jelahu
Foto : flickr.com

                “Pergi dari sini!” teriak ibu pemilik kontrakan sembari melempar barang-barang milik ayah keluar.
            Ayah terjatuh lantaran didorong kuat oleh salah satu pria besar yang berada di belakang ibu jahat itu. Aku menangis melihat ayah terjatuh jauh. Hal itu membuat bahunya bergeser dan berdarah. Aku, yang masih berumur 8 tahun, tak kuat membawa ayah ke rumah sakit yang berjarak 10 km dari kontrakan itu. Aku hanya bisa terus menangis.
            "Kontrakan 6 bulan tidak pernah membayar! Tetapi malah enak-enakan tinggal manis di kontrakan. Dasar tidak tahu diri ya!" teriak ibu itu sembari menendang koper ayah dan berangsur pergi.
            “Nak, kenapa menangis? Kamu ingin ayah bangkit kan?” tanya ayah sembari merintih kesakitan.
            Aku semakin menangis. Aku berlari sembari memeluk erat ayah yang masih terlihat kesakitan.
            “Jela, ayah tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Ayo bantu ayah berdiri!” tegas ayah membuatku semakin menangis dan terus memeluk erat tubuhnya.
            “Jela. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi perempuan cengeng! Ayo bantu ayah!” ucap ayah marah sembari perlahan melepaskan pelukanku.
            Dengan berat hati, aku berdiri sembari menarik tangan kiri ayah yang lebih besar dari telapak tanganku.
            Kami menyusuri kota selama 2 hari 2 malam. Malam kedua ini, aku dan ayah menemukan sebuah gubuk yang dipinjamkan oleh salah satu rekannya. Gubuk itu bukanlah sembarang gubuk biasa. Ia terlihat mewah tapi juga sederhana. Gubuk yang tepat berada di muka pantai Kedung Celeng yang indah.
            Gradiasi warna laut yang berkelok halus membuat sekejap mata terpesona dan terfokus. Bebatuan besar yang berada di sekitarnya membuat mata semakin merasa dimanjakan oleh ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berkedip dan menghirup aroma air laut yang asin ini.
            Setiap hari, aku dan ayah selalu menghabiskan waktu bersama dengan memancing, memasak, menikmati senja di pantai, mengukir nama ibu di atas pasir, menghitung tetesan-tetesan hujan yang mengenai atap gubuk, dan hal-hal lainnya.
            10 tahun kemudian
“Paket-paket!” teriak seorang pria dari luar.
            “Iya?” ucap ayah sembari membuka pintu dengan perlahan.
            “Pak, saya mengantar sebuah paket dari atasan saya yang katanya pernah menjadi sahabat Anda saat sekolah dulu.” ucap pria itu sembari menyerahkan amplop coklat besar berisikan tawaran pekerjaan di kota besar.
            “Terima kasih, Mas. Berikan salam saya untuk beliau.” balas ayah membuat pria itu pergi.
            Ayah terlihat sangat senang sembari mengemasi pakaianku.
            “Ayah? Apa kita tidak bisa membayar uang kontrakan lagi?” tanyaku membuat ayah langsung mengecup pipiku.
            Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Ia sibuk mengeluarkan pakaian-pakaianku dan mengemasinya dalam sebuah koper.
            “Nak, ambil semua pakaian di jemuran ayah lalu tolong setrika ya.” ucap ayah membuatku semakin geram dan penasaran.
            “Ayah, apa yang terjadi?” balasku membuat ayah langsung menyuruhku duduk di tikar.
            “Ayah mendapatkan pekerjaan untuk memasak di kota. Ayah senang sekali. Kamu juga bisa bersekolah disana dan tidak lagi terus ada di tepi pantai tanpa teman seperti ini.” ucap ayah membuatku langsung terbelalak ingin memberontak.
            “Ayah. Aku sudah terbiasa hidup hanya dengan ayah. Aku tidak mau dan tidak akan bisa bertemu dengan orang-orang sebayaku. Aku mau tetap disini!” teriakku tak ingin menuruti perintahnya.
            “Jela. Apakah kamu tahu? Mengapa kakimu kotor?”
            “Ya. Karena ia banyak berjalan.”
            “Apakah dia terluka saat ia terjatuh atau tersandung batu?”
            “Iya.”
            “Apakah kaki itu langsung patah?”
            “Tidak yah. Dia tetap bisa digunakan untuk berjalan.”
            “Apakah kamu tidak ingin seperti kaki itu? Apa kamu akan terus menjadi kaki yang bersih tanpa noda? Injakkan kakimu pada pengalaman-pengalaman baru, teman-teman baru, situasi baru, dan pelajaran baru. Ingat. Jangan pernah merasa takut menerima masalah baru juga, Nak. Kaki yang terus terjatuh, berdarah, bahkan patah pun mereka tetap bisa digunakan untuk berjalan dan tidak dibuang orang. Jadi, jangan pernah merasa terbuang jika suatu saat kamu dibenci seluruh dunia karena karyamu atau pelayanan yang kamu berikan pada mereka. Ayah ingin Jela menjadi anak gadis ayah yang kuat.” ucap ayah membuatku mematung sembari terus ketakutan pada imajinasiku sendiri.
            JOGJA.
            Kesopan santunan semua orang disana membuat hatiku reda akan kegemetaran. Ayah terlihat sangat ramah saat bercengkerama dengan berbagai pria yang ia temui di jalanan.
            Ayah menarik tanganku menuju sebuah gerbang raksasa, yang berwarna merah maroon, di depan mataku.
            “Ayah aku tidak mau masuk.” ucapku sembari menarik tanganku dari genggaman erat ayah.
            “Kamu tunggu disini ya.” balas ayah yang seolah-olah mengerti kecemasanku.
            “Iya yah.” balasku sembari duduk bersembunyi di samping gerbang.
            “Mbaknya anak baru?” sapa seorang pengamen muda berpakaian lusuh sembari memasukkan beberapa uang koin di saku celananya.
            Aku hanya diam sembari memeluk diriku yang kembali bergetar hebat.
            “Kak!” teriak seorang anak kecil yang tiba-tiba muncul di balim gerbang.
            “Kenapa dek?” tanya seorang pengamen yang beberapa detik yang lalu menyapaku.
            “Kakak kapan ikut bersekolah denganku? Aku ingin kakak juga bisa sekolah.” ucap adik pengamen itu sambil menangis.
            “Kalau kakak sekolah, siapa yang ngasih adek uang saku kalau mau beli makan?” tanya lelaki itu sembari tersenyum tulus terhadap adiknya.
            “Gak tahu kak. Tapi aku pengen kakak ikut sekolah juga.” rengek anak kecil itu sembari memeluk kakaknya lewat sela-sela gerbang sekolah yang aku takuti.
            “Kakak bahagia kalau adek bisa sekolah. Sekarang kakak pengen adek nggambarin kakak ya waktu pelajaran menggambar. Nanti gambarannya adek kakak bawa kemana-mana. Biar kakak terus ingat kalau kakak sudah diberikan adik pintar dari Tuhan. Oke?” ucap lelaki itu membuatku perlahan-lahan tersenyum.
            “Aku bakal nggambarin wajah kakak yang bagus!” teriak perempuan bertubuh mungil itu sembari berlari masuk sekolah.
            Aku langsung memalingkan muka sembari kembali membiasakan mataku melihat keramaian jalan raya yang ada di hadapanku.
            “Jangan pernah bangga dengan telapak kakimu yang bersih. Memang aku akui, kakiku terlihat menjijikkan dan kotor. Walaupun begitu, aku memiliki banyak pengalaman dan juga pembelajaran hidup. Hinaan, cacian, dan makian sudah menjadi makananku setiap hari. Jangan buat hidupmu hambar hanya karena kamu terlalu takjub dengan suara ombak pantai yang masih terngiang jelas di kedua telingamu.” ucap pengamen itu sembari berjalan pergi untuk kembali mencari nafkah untuk adiknya.
            Tet!
            Aku terkejut mendengar suara bel yang sangat keras itu. Aku kira sebuah kapal kembali menawarkan padaku untuk berpindah tempat ke pulau seberang. Namun, ini bukanlah yang seperti itu. Tiba-tiba saja, semua anak langsung berlari keluar setelah mendengarnya. Aku pun ikut keluar sembari mengikuti kemana teman-temanku pergi. Mereka bukannya ketakutan tetapi malah menikmati santap makan siang bersama-sama di sebuah tempat yang penuh orang-orang berjualan yang mereka sebut ‘kantin’. Aku tidak tahu cara bercengkerama dengan mereka. Aku pun memutuskan untuk membantu para tukang kebun memunguti sampah-sampah yang berserakan di bawah kursi-kursi itu.
            “Ngapain ikut bersih-bersih sampah? Itu sudah menjadi tugasku.” ucap pengamen yang kutemui kemarin.
            Aku terbelalak sembari menjatuhkan sampah yang aku bawa.
            “Bisakah kamu berbicara? Atau kamu memang memiliki keterbatasan..” tanyanya membuatku langsung menggeleng.
            “Tidak. Aku tidak pernah berbicara pada siapapun kecuali ayahku.” jawabku jujur membuatnya terkejut.
            Aku langsung meninggalkan pengamen itu sembari berlari ke kelas. Aku sendirian dan aku tersenyum. Namun, aku terkejut melihat tulisan di papan tulis.
            Jela adalah teman baru kami. Selamat datang.
            Aku tersenyum melihat tulisan itu. Namun, beberapa saat kemudian saat segerembolan lelaki masuk kelas aku spontan langsung melompat dan keluar dari kelas.
            “Eh, Jela gak papa a?” tanya Yoni salah satu teman kelasku.
            “N-ndak p-papa” jawabku perlahan sembari kembali memasuki kelas.
            Keesokan harinya, aku sengaja berangkat pagi-pagi. Sesampainya aku di kelas, tiba-tiba aku melihat ada tulisan baru  yang terlukis indah di papan tulis itu.
            Jela adalah anak yang baik. Dia mungkin diam tetapi dia selalu memeriksa barang kehilangan dan melaporkannya pada petugas yang berwenang.
            “Jela, terima kasih ya sudah mau menyimpan dompetku yang tertinggal.” banyak teman menjabat tanganku sembari mengucapkan terima kasih.
            Aku merasa lebih baik. Aku tidak menyangka ternyata orang kota tidak seburuk apa yang aku pikirkan.
            “Jela, apa kamu bisa mengerjakan tugas ini? Aku akan menraktirmu makan siang nanti.”
            Perlahan namun pasti, aku memiliki banyak teman.
            Jela adalah sahabat dan keluarga kami. Dia rela berangkat pagi hanya untuk merapikan bangku dan juga memeriksa bangku kami.
            Aku bisa bercengkerama akrab dengan teman-temanku walaupun aku masih sering memasukkan tanganku ke dalam saku seragamku.
            “Jela tinggal di tepi pantai? Wah bisa berenang, main papan seluncur, dan menyelam ya?” tanya Tia, salah satu temanku.
            “I-iya.” ucapku perlahan sembari terkejut mendengar mereka berteriak.
            “Wah, kapan-kapan kita kesana ya. Aku mau minta ajar, Jela. Apakah boleh?” tanya Rio, salah satu temanku yang lain.
            Aku hanya tersenyum membuat semua temanku langsung mengenal dan semakin menyukaiku.     
          Namun, panggilan dari kepala sekolah membuyarkan segala kebahagiaanku hari ini. 
            “Jela, kenapa uang bulananmu tidak kamu bayarkan?” tanya kepala sekolahku sembari menatap tajam wajahku.
            Aku hanya bisa diam karena ayah tidak pernah memberiku uang saku selama aku sekolah.
            “S-saya a-akan t-tanyakan h-hal i-ini p-pada a-ayah s-saya.” ucapku terbata-bata sembari berangsur pergi menuju restoran ayah.
             Sampai di restoran ayah, aku melihat banyak pemadam kebakaran yang pakir berantakan di muka restoran itu. Banyak suara tangis dan teriakan histeris dari para perempuan disana. Asap hitam mengepul lekat menjujung tinggi ke arah langit. Aku merasa sesak karena tiba-tiba cemas akan keadaan ayah.
               "Ayah! Ayah!" teriakku sembari berlari memutari restoran.
               Aku menemui ayah di dekat gerobak sampah dengan keadaan yang mengenaskan. Ayahku terlihat menangis sembari tubuhnya penuh dengan luka dan darah.
            “Ayah kenapa!” teriakku sembari membenahi pakaian ayah yang terlepas.
            “Semuanya habis, Jela. Teman ayah dan temanmu mati karena menyelamatkan ayah.”
            “Temanku? Siapa yah?”
            Ayah tiba-tiba tidak sadarkan diri. Aku langsung menggotongnya menuju rumah sakit walaupun aku tidak tahu arah jalan menuju kesana.
            “Jela! Naik ke mobilku cepat. Ayahmu butuh pertolongan segera kalau tidak dia bisa kehilangan banyak darah!” teriak teman sekelasku membuatku langsung berlari dan mendorong ayah ke dalam mobilnya.
            Aku terus menangis. Aku takut kehilangan ayah. Namun, aku masih berpikir siapakah temanku yang menolongnya ayah?
            Sampai di rumah sakit, ayah masuk di ruang UGD. Sekitar 6 jam, ayah menjalankan berbagai perawatan dan pengobatan dari tim medis.
        "Saudari Jela?” ucap dokter membuatku langsung berdiri sembari mengusap air mataku.
            “Silakan masuk.” lanjut dokter lantas menuntunku memasuki kamar ayah.
            Ayah terlihat bahagia walaupun ia masih menyisakan air mata.
“Ayah, jangan tinggalkan Jela.” ucapku sembari memeluk erat tubuh ayah.
       “Pengamen itulah yang menyelamatkan ayah, Nak.” balas ayah membuatku terbelalak.
            “Pengamen siapa yah?”
            “Saat itu, ayah sedang memasakkan hidangan untuk pelanggan. Tiba-tiba, teman ayah datang berkunjung. Ayah pun meninggalkan dapur dan menyerahkan tanggung jawab alat dapur pada asisten ayah. Salah seorang asisten ayah tak sengaja melepas celemeknya di dekat kompor sehingga api menyulut ujung celemek itu. Kemudian karena dia panik, semua peralatan masak-memasak jatuh dan membuat gasnya juga terjatuh. Ledakan hebat terjadi seketika. Saat teman ayah masuk ke ruang dapur, ia mengajak ayah keluar dari restoran. Ayah menurutinya. Kemudian, ia berkata bahwa ia sangat bangga melihat keterampilan memasak ayah. Tiba-tiba, ia mendengar suara ledakan hebat dari dapur dan langsung mendorong ayah keluar dari restoran. Hal itu menyebabkan teman ayah kehilangan nyawa karena terkena ledakan itu. Lalu, temanmu berteriak bahwa ada api yang menyulut pakaian ayah. Karena dia tidak melihat jalan, ia langsung tertabrak mobil hingga ia mengalami pendarahan yang hebat dan akhirnya meninggal. Ayah sudah mengakibatkan dua orang meninggal, Nak.” ucap ayah sembari menangis bersedu-sedu dan memelukku.
            Aku terkejut teman pertamakulah yang telah menyelamatkan ayah. Aku menangis haru dan aku hari ini tidak sempat bercengkerama dengannya. Bagaimana nasib adiknya ketika tahu kakaknya meninggal? Aku semakin merasa sedih.
            “Jela. Kamu tahu tulisan yang setiap pagi tertulis di papan tulis itu dari siapa?” tanya Hana, salah satu temanku yang ikut membawa ayahku ke rumah sakit.
            “Siapa? Bukankah dari kalian?” tanyaku membuat Hana terisak.
            “Itu karya Onar, pengamen yang selalu menyapamu di depan gerbang. Dia mengatakan pada kami bahwa kamu adalah orang baru yang masih beradaptasi di kota besar seperti Jogja. Dia melakukan itu hanya supaya kamu mau bersekolah dan bersemangat. Dia juga melarang kami untuk berkata kasar padamu dan menuntut kami untuk memperhatikanmu. Dia juga selalu memamerkan kebaikanmu selama ini, Jela. Aku sedih begitu tahu dia sudah tiada sekarang.” ucap Hana membuatku semakin menangis sedih.
               Aku menangis hebat. Kebaikan Onar yang begitu sabar menghadapi kediamanku ternyata membuatnya semakin hebat untuk memberikan banyak kebahagiaan padaku. Aku sangat bersyukur ketika ayah mengajakku belajar di kota. Aku menjadi sadar dan percaya bahwa walaupun selama 10 tahun aku tidak memiliki teman, masih ada saja orang yang mau memiliki teman sepertiku.

            Air mata ini tidak bisa mewakili kata terima kasih yang terdengar sangat sederhana. Air mata ini tidak mampu menggambarkan seberapa besar kesedihanku melihat kenyataan yang berbalik dari ekspetasiku. Air mata ini tidak sanggup membuat tubuh ini berhenti gemetar. Iya gemetar. Aku gemetar karena orang-orang yang selama ini aku impikan benar-benar ada. Namun, mengapa salah seorang teman yang begitu baik padaku lah yang diambilNya pertama kali? 
          Sanggupkah kamu terus mengeluh pada apa yang terjadi dalam hidup? Apakah ada satu orang saja yang sangat memperhatikanmu? Jaga dia. Sebelum dia pergi dan bahagiakan dia. Ucapkan banyak terima kasih karena apa yang dia berikan belum tentu bisa kamu berikan padanya juga. –Tiara.
           






Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger