“Duar!” suara ledakan, yang cukup
membuatku terjatuh dari tempat tidur, terdengar keras di sebelah kanan
telingaku.
Tubuhku gemetar karena ledakan itu
ternyata berasal dari komputerku. Aku sontak langsung berlari mencari kain
basah dan melemparnya secara kasar di atas monitorku. Semua barang yang ada di
sekitarku terbakar hangus kecuali diriku dan kasurku.
Suara pintu terbuka pelan membuatku
perlahan melirik tajam.
“Kok bisa-bisanya kamu meletakkan
kain basah di atas komputer, Yon? Gak konslet?” tanya ayah yang tiba-tiba
datang sembari mengambil kain basah yang aku letakkan itu.
Aku kebingungan karena ayah dan ibu
sama sekali tidak terlihat kepanikan saat ini. Mataku mulai kabur dan buram. Setelah
aku menggaruk kedua mataku, aku terkejut karena di sekelilingku tidak ada
satupun api yang tadinya aku lihat. Aku menjadi bingung.
“Kenapa kamu meletakkan kain basah
disini?” tanya ayah membuatku gugup.
“Anak aneh.” ejek ayahku sembari
mengajak ibu untuk meninggalkan kamarku.
Aku masih saja tidak percaya pada
apa yang kulihat. Api itu benar-benar nyata bahkan aku merasakannya. Tapi,bagaimana bisa itu merupakan ilusi belaka?
Aku memutuskan untuk mendekati
komputerku yang secara terang-terangan menampilkan berjuta-juta iklan dan
tawaran pekerjaan. Aku hanya bisa terperanga dan terus menahan mulutku yang
kini semakin terbuka. Aku lantas menampar pipi dengan sangat keras hingga aku
terjatuh.
Monitor yang aku lihat kini gelap
dan tidak ada satupun tampilan iklan yang tampak di dalamnya. Aku terus
berdecak dan memilih untuk membersihkan wajahku dengan banyak air.
“Nak?”
“Kenapa, Bu?”
“Ada surat dari kak Nomo.”
“Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama. Nak.”
Aku pun membuka surat itu sembari
mengenakan kacamataku.
Leon.
Ini peringatan terakhir, kenapa kamu belum mengumpulkan tugas akhir dari hasil
olimpiade sains kemarin? Deadline pengumpulannya adalah satu minggu yang lalu. Maaf,
kakak juga harus bersikap tegas dan disiplin. Leon kamu tidak bisa ikut
bergabung kembali ke dalam perlombaan olimpiade sains besok. Terima kasih atas
waktunya untuk membaca surat ini. Terima kasih.
Aku termenung. Aku melihat kembali email dalam ponselku dan benar aku
memang sudah mengirimnya. Namun, surat itu masih berbentuk draft. Aku sangat menyesal dan sangat marah saat ini.
Jenuh. Sangat jenuh. Ya. Itu adalah
kata yang sekarang bersarang manis di pikiran dan wajahku. Aku lantas keluar
rumah sembari menaiki motorku menuju sebuah tempat entah dimana.
Perjalanan yang super panas
membuatku memilih berteduh di bawah pohon dekat taman. Beruntungnya aku suasana
tempatku saat ini sepi sehingga aku bisa menenangkan diri dengan baik saat ini.
Seorang anak kecil dengan pakaian seragam merah putih yang terlihat sangat
sedih sembari membawa piala juara satu merayu ekor mataku untuk meliriknya.
“Fia, apakah suka pialanya?”
“Tidak suka.”
“Lho, kenapa tidak suka?”
“Hanya Fia saja yang mendapat piala
ini. Seharusnya, teman-teman Fia juga mendapatkannya.”
“Juara di sekolah Fia memang hanya
satu. Itu berarti Fia yang terpintar disana.”
“Teman Lia tidak ada yang bodoh,
Ibu. Mereka hanya sering terlambat mengumpulkan tugas saja kok.”
Leon terpesona mendengar ucapan
gadis kecil itu. Bibir ini sudah mengataiku bodoh sebelum gadis manis itu
muncul.
Aku merasa malu dengan anak kecil
itu. Di saat ia berhasil, ia masih mau bersikap rendah hati dengan tidak
memamerkan diri. Namun, malah mempedulikan teman-temannya yang sedang mengalami
kegagalan.
Beberapa minggu yang lalu. Aku sangat membanggakan
prestasiku dimana aku memenangkan perlombaan sains sekota. Kebanggaan itu
membuatku lupa memberikan semangat pada teman-temanku yang tidak seberuntung
aku.
Aku sangat malu.
Kring..kring..
Suara ponselku yang berbunyi cukup
keras membuatku tersadarkan dari lamunanku dan langsung mengangkatnya.
“Halo”
“Kawan, hari ini pengumuman penerimaan
mahasiswa yang pergi ke Cina sudah keluar.”
“Gimana, kawan?”
“Aku keterima.”
“Wah selamat. Apakah ada namaku?”
“Tidak
ada, Kawan. Maafkan aku.”
Ucapan
terima kasih tak kunjung keluar dari mulutku. Namun, aku bisa memalsukan
kekecewaanku dengan tawa. Aku lantas mematikan ponselku dan menyimpannya jauh
di dalam tasku.
Aku
kembali pergi membawa motorku ke sebuah tempat yang jauh sejauh-jauhnya. Kini,
aku sudah berada di sebuah taman yang terkenal akan bianglala yang bersangkar
di tengah taman melingkar ini. Ya. Aku memang sedang ingin menaiki bianglala
seorang diri.
Aku
lantas menuju tempat pembayaran sembari antri di belakang dua orang yang sedang
kasmaran.
“Yang”
“Apa?”
“Apakah
kamu tahu alasan mengapa bianglala itu berputar?”
“Memangnya
kenapa?”
“Ya.
Kalau tidak berputar tidak akan bisa disebut bianglala”
“Receh
ah!”
“Aku
hanya bercanda. Jika bianglala itu tidak berputar, maka dia tidak akan pernah
memberikan kesempatan pada semua orang untuk
merasakan posisi teratas di bianglala itu.”
“Teruntuk
untuk siapapun?”
“Ya.
Siapapun dia.”
Aku
meneguk ludahku dengan kesusahan. Hatiku benar-benar tersayat akan kekaguman
hidup yang tengah aku hadapi sekarang ini. Aku terus memandang sisi negatifnya
saja tanpa pernah aku melihat keindahan atau sisi positif dari kehidupan yang
terus aku sebut kelam ini. Aku yakin dengan aku gagal berangkat ke Cina itu
pasti memiliki alasan. Salah satunya adalah karena temanku lebih membutuhkan
kesempatan itu dibandingkan aku.
Aku
benar-benar kesakitan.
Indah
kota yang masih panas akan sinar matahari tak membuatku menyesal karena memang
aku membutuhkan sinar di dalam pikiranku yang gelap dan sempit ini. Panas matahari
membuatku tersenyum perlahan sembari menghembuskan nafasku selembut-lembutnya. Saat
aku di posisi teratas, aku merasa semua cita-cita yang aku bayangkan jauh
menjadi dekat dan tidak mustahil untuk kudapatkan.
Aku
memutuskan untuk berpindah tempat. Aku yakin ada sesuatu pembelajaran yang bisa
aku petik kembali seperti halnya di tempat sebelum-sebelumnya.
Ya.
Aku memilih kafe. Secangkir kopi hangat dan racikan mie yang lezat membuat
tubuhku kembali hangat.
“Leon.”
ucap seseorang yang perlahan-lahan menyentuh pundakku.
“Kenapa?”
balasku sedikit terkejut melihat temanku, Reno, kini duduk di hadapanku.
“Ini
tentang Voli”
Aku
merasakan suatu firasat yang sangat buruk. Hal ini dikarenakan pertandingan
voli sudah tinggal 2 hari lagi.
“Kami
sudah merekrut pemain baru dan kami terpaksa menggantikanmu. Kami tidak ada
maksud apa-apa. Sungguh. Namun, karena dalam segi fisik kamu terlalu kecil dan memakai
kacamata. Jadi, kami terpaksa mengeluarkanmu sehingga kamu tidak perlu
repot-repot untuk datang ke pertandingan kami besok. Maaf sebelumnya.”
Aku
hanya bisa mengangguk sembari melanjutkan santapanku. Seketika itu juga aku
tersedak sembari merogoh minuman dengan kesusahan. Reno masih saja duduk di
hadapanku dengan menatapku penuh ketakutan.
“Ya.
Aku menerimanya. Aku berharap kalian sukses dan menjadi juara.” ucapku membuat
Reno tersenyum sembari pergi dari hadapanku.
Aku
benar-benar muak! Tiga komunitas yang aku idam-idamkan hari ini benar-benar
menghancurkanku. Mengapa mereka menghentikanku disaat aku sudah terlanjur
berlari jauh menuju garis final yang aku impikan bertahun-tahun? Aku sangat
menyesal dan terus mengutuk diriku.
“Huhu”
suara tangis seorang wanita membuatku perlahan mengedorkan genggaman tanganku
yang sedari tadi meremas kuat rambut cepakku.
“Kamu
kenapa?”
Aku
melihat dua orang wanita berumur sama sepertiku sedang bertukar pikiran dengan
gaya khas mereka. Aku tak begitu peduli seperti pada gadis perempuan dan
sepasang kekasih yang aku temui tadi.
“Dia
lebih menyukai perempuan itu dibandingkan aku”
“Kenapa
bisa begitu?”
“Dia
menyukai perempuan itu karena dia lebih cantik dari aku.”
“Ya
sudahlah namanya juga fisik. Fisik memang dilihat dengan mata telanjang dan itu
memang sifat dasar setiap manusia. Kamu pernah melakukannya juga kan?”
“Iya.”
“Aku
hanya berpesan. Aku minta kamu buat berhenti melakukan itu ya. Percayalah mata
hati lebih indah daripada hal-hal yang sifatnya hanya sesaat saja.”
“Oke
deh.”
Pembicaraan
sederhana itu membuatku perlahan muak sekaligus puas. Aku pun lantas menaiki
motor yang terparkir sembarangan di bawah pohon beringin. Lalu, aku memutuskan
untuk pulang.
Tiba-tiba,
motorku mati. Aku benar-benar merasakan kesialan yang sebenarnya sangat parah
tetapi aku tidak merasakan patah hati yang sangat hebat dikarenakan pembicaraan
yang aku dengar dari orang-orang itu. Di saat aku menuntun motor, aku melihat
ada dua bapak-bapak yang juga menuntun motor sepertiku.
“Andaikan
motor bisa bicara, apa yang ingin kamu bicarakan dengannya?”
“Ya.
Aku mungkin akan memujinya karena di awet dan praktis. Selain itu, cara
memarkirnya gampang, bahan bakarnya murah, dan cara menyetirnya sama seperti
mengendarai sepeda pancal.”
“Kamu
tahu apa yang ingin aku sampaikan pada motor itu?”
“Apa?”
“Dia
kuat. Saat dia jatuh, terkena lubang, terkena hujan, dia dibanting, dia
tergores, dan lampunya mati, ia tetap saja bisa digunakan. Kita seharusnya bisa
menjadi manusia yang kuat. Halangan-halangan itu bukanlah merupakan sebuah
halangan tetapi merupakan suatu hadiah yang beraneka ragam untuk orang-orang
yang berbeda juga. Patutnya kamu bersyukur memiliki masalah yang berbeda dari
orang lain. Itu berarti kamu dipercayai bahwa kamu lebih kuat saat di
hadapankan pada masalah itu dibandingkan orang lain.”
Aku
hanya terus tersenyum. Tak menyangka, motorku kembali menyala. Itu membuatku
bahagia dan terus tersenyum meski perlahan aku masih merasa sakit hati. Dunia ini
memanglah indah jika aku mau membuka mataku dan tidak hanya terfokus pada gelapnya
sang malam tanpa tetap sabar dalam penantian cerahnya sang mentari di esok
hari.
Malam memang gelap tetapi ia terlihat indah
karena bintang-bintang di sekelilingnya. Pagi memang panas tetapi ia mampu
mencerahkan segala isi bumi dan memberikan senyuman baru untuk semua manusia
yang terus menunggu kehadirannya. Kadang apa yang kita anggap buruk itu adalah
suatu keindahan sendiri di mata orang lain. Hal itu tidak lain dan tidak bukan
karena kita berani untuk melihat kenyataan dan bersyukur atas pemberianNya pada
dunia lewat orang-orang yang menyakiti kita. Mereka ada karena mereka
diciptakan untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih kuat dari biasanya. –Tiara