foto : flickr untuk : Mas Ricky ( story request )             “Duar!” suara ledakan, yang cukup membuatku terjatuh dari tempat ...

Lukisan Kagum Sang Pencipta

/
0 Comments



foto : flickr

untuk : Mas Ricky (story request)

            “Duar!” suara ledakan, yang cukup membuatku terjatuh dari tempat tidur, terdengar keras di sebelah kanan telingaku.
            Tubuhku gemetar karena ledakan itu ternyata berasal dari komputerku. Aku sontak langsung berlari mencari kain basah dan melemparnya secara kasar di atas monitorku. Semua barang yang ada di sekitarku terbakar hangus kecuali diriku dan kasurku.
            Suara pintu terbuka pelan membuatku perlahan melirik tajam.
            “Kok bisa-bisanya kamu meletakkan kain basah di atas komputer, Yon? Gak konslet?” tanya ayah yang tiba-tiba datang sembari mengambil kain basah yang aku letakkan itu.
            Aku kebingungan karena ayah dan ibu sama sekali tidak terlihat kepanikan saat ini. Mataku mulai kabur dan buram. Setelah aku menggaruk kedua mataku, aku terkejut karena di sekelilingku tidak ada satupun api yang tadinya aku lihat. Aku menjadi bingung.
            “Kenapa kamu meletakkan kain basah disini?” tanya ayah membuatku gugup.
            “Tadi mimpi gak enak, Yah. Jadi gak sengaja ngelempar itu.” jawabku sembarangan sembari berpura-pura baik-baik saja.
            “Anak aneh.” ejek ayahku sembari mengajak ibu untuk meninggalkan kamarku.
            Aku masih saja tidak percaya pada apa yang kulihat. Api itu benar-benar nyata bahkan aku merasakannya. Tapi,  bagaimana bisa itu merupakan ilusi belaka?
            Aku memutuskan untuk mendekati komputerku yang secara terang-terangan menampilkan berjuta-juta iklan dan tawaran pekerjaan. Aku hanya bisa terperanga dan terus menahan mulutku yang kini semakin terbuka. Aku lantas menampar pipi dengan sangat keras hingga aku terjatuh.
            Monitor yang aku lihat kini gelap dan tidak ada satupun tampilan iklan yang tampak di dalamnya. Aku terus berdecak dan memilih untuk membersihkan wajahku dengan banyak air.    
            “Nak?”
            “Kenapa, Bu?”
            “Ada surat dari kak Nomo.”
            “Terima kasih, Bu.”
            “Sama-sama. Nak.”
            Aku pun membuka surat itu sembari mengenakan kacamataku.
            Leon. Ini peringatan terakhir, kenapa kamu belum mengumpulkan tugas akhir dari hasil olimpiade sains kemarin? Deadline pengumpulannya adalah satu minggu yang lalu. Maaf, kakak juga harus bersikap tegas dan disiplin. Leon kamu tidak bisa ikut bergabung kembali ke dalam perlombaan olimpiade sains besok. Terima kasih atas waktunya untuk membaca surat ini. Terima kasih.
            Aku termenung. Aku melihat kembali email dalam ponselku dan benar aku memang sudah mengirimnya. Namun, surat itu masih berbentuk draft. Aku sangat menyesal dan sangat marah saat ini.
            Jenuh. Sangat jenuh. Ya. Itu adalah kata yang sekarang bersarang manis di pikiran dan wajahku. Aku lantas keluar rumah sembari menaiki motorku menuju sebuah tempat entah dimana.
            Perjalanan yang super panas membuatku memilih berteduh di bawah pohon dekat taman. Beruntungnya aku suasana tempatku saat ini sepi sehingga aku bisa menenangkan diri dengan baik saat ini. Seorang anak kecil dengan pakaian seragam merah putih yang terlihat sangat sedih sembari membawa piala juara satu merayu ekor mataku untuk meliriknya.
            “Fia, apakah suka pialanya?”
            “Tidak suka.”
            “Lho, kenapa tidak suka?”
            “Hanya Fia saja yang mendapat piala ini. Seharusnya, teman-teman Fia juga mendapatkannya.”
            “Juara di sekolah Fia memang hanya satu. Itu berarti Fia yang terpintar disana.”
            “Teman Lia tidak ada yang bodoh, Ibu. Mereka hanya sering terlambat mengumpulkan tugas saja kok.”
            Leon terpesona mendengar ucapan gadis kecil itu. Bibir ini sudah mengataiku bodoh sebelum gadis manis itu muncul.
            Aku merasa malu dengan anak kecil itu. Di saat ia berhasil, ia masih mau bersikap rendah hati dengan tidak memamerkan diri. Namun, malah mempedulikan teman-temannya yang sedang mengalami kegagalan.
Beberapa minggu yang lalu. Aku sangat membanggakan prestasiku dimana aku memenangkan perlombaan sains sekota. Kebanggaan itu membuatku lupa memberikan semangat pada teman-temanku yang tidak seberuntung aku.
Aku sangat malu.
Kring..kring..
            Suara ponselku yang berbunyi cukup keras membuatku tersadarkan dari lamunanku dan langsung mengangkatnya.
            “Halo”
            “Kawan, hari ini pengumuman penerimaan mahasiswa yang pergi ke Cina sudah keluar.”
            “Gimana, kawan?”
            “Aku keterima.”
            “Wah selamat. Apakah ada namaku?”
            “Tidak ada, Kawan. Maafkan aku.”         
            Ucapan terima kasih tak kunjung keluar dari mulutku. Namun, aku bisa memalsukan kekecewaanku dengan tawa. Aku lantas mematikan ponselku dan menyimpannya jauh di dalam tasku.
            Aku kembali pergi membawa motorku ke sebuah tempat yang jauh sejauh-jauhnya. Kini, aku sudah berada di sebuah taman yang terkenal akan bianglala yang bersangkar di tengah taman melingkar ini. Ya. Aku memang sedang ingin menaiki bianglala seorang diri.
            Aku lantas menuju tempat pembayaran sembari antri di belakang dua orang yang sedang kasmaran.
            “Yang”
            “Apa?”
            “Apakah kamu tahu alasan mengapa bianglala itu berputar?”
            “Memangnya kenapa?”
            “Ya. Kalau tidak berputar tidak akan bisa disebut bianglala”
            “Receh ah!”
            “Aku hanya bercanda. Jika bianglala itu tidak berputar, maka dia tidak akan pernah memberikan kesempatan pada  semua orang untuk merasakan posisi teratas di bianglala itu.”
            “Teruntuk untuk siapapun?”
            “Ya. Siapapun dia.”
            Aku meneguk ludahku dengan kesusahan. Hatiku benar-benar tersayat akan kekaguman hidup yang tengah aku hadapi sekarang ini. Aku terus memandang sisi negatifnya saja tanpa pernah aku melihat keindahan atau sisi positif dari kehidupan yang terus aku sebut kelam ini. Aku yakin dengan aku gagal berangkat ke Cina itu pasti memiliki alasan. Salah satunya adalah karena temanku lebih membutuhkan kesempatan itu dibandingkan aku.
            Aku benar-benar kesakitan.
            Indah kota yang masih panas akan sinar matahari tak membuatku menyesal karena memang aku membutuhkan sinar di dalam pikiranku yang gelap dan sempit ini. Panas matahari membuatku tersenyum perlahan sembari menghembuskan nafasku selembut-lembutnya. Saat aku di posisi teratas, aku merasa semua cita-cita yang aku bayangkan jauh menjadi dekat dan tidak mustahil untuk kudapatkan.
            Aku memutuskan untuk berpindah tempat. Aku yakin ada sesuatu pembelajaran yang bisa aku petik kembali seperti halnya di tempat sebelum-sebelumnya.
            Ya. Aku memilih kafe. Secangkir kopi hangat dan racikan mie yang lezat membuat tubuhku kembali hangat.
            “Leon.” ucap seseorang yang perlahan-lahan menyentuh pundakku.
            “Kenapa?” balasku sedikit terkejut melihat temanku, Reno, kini duduk di hadapanku.
            “Ini tentang Voli”
            Aku merasakan suatu firasat yang sangat buruk. Hal ini dikarenakan pertandingan voli sudah tinggal 2 hari lagi.
            “Kami sudah merekrut pemain baru dan kami terpaksa menggantikanmu. Kami tidak ada maksud apa-apa. Sungguh. Namun, karena dalam segi fisik kamu terlalu kecil dan memakai kacamata. Jadi, kami terpaksa mengeluarkanmu sehingga kamu tidak perlu repot-repot untuk datang ke pertandingan kami besok. Maaf sebelumnya.”
            Aku hanya bisa mengangguk sembari melanjutkan santapanku. Seketika itu juga aku tersedak sembari merogoh minuman dengan kesusahan. Reno masih saja duduk di hadapanku dengan menatapku penuh ketakutan.
            “Ya. Aku menerimanya. Aku berharap kalian sukses dan menjadi juara.” ucapku membuat Reno tersenyum sembari pergi dari hadapanku.
            Aku benar-benar muak! Tiga komunitas yang aku idam-idamkan hari ini benar-benar menghancurkanku. Mengapa mereka menghentikanku disaat aku sudah terlanjur berlari jauh menuju garis final yang aku impikan bertahun-tahun? Aku sangat menyesal dan terus mengutuk diriku.
            “Huhu” suara tangis seorang wanita membuatku perlahan mengedorkan genggaman tanganku yang sedari tadi meremas kuat rambut cepakku.
            “Kamu kenapa?”
            Aku melihat dua orang wanita berumur sama sepertiku sedang bertukar pikiran dengan gaya khas mereka. Aku tak begitu peduli seperti pada gadis perempuan dan sepasang kekasih yang aku temui tadi.
            “Dia lebih menyukai perempuan itu dibandingkan aku”
            “Kenapa bisa begitu?”
            “Dia menyukai perempuan itu karena dia lebih cantik dari aku.”
            “Ya sudahlah namanya juga fisik. Fisik memang dilihat dengan mata telanjang dan itu memang sifat dasar setiap manusia. Kamu pernah melakukannya juga kan?”
            “Iya.”
            “Aku hanya berpesan. Aku minta kamu buat berhenti melakukan itu ya. Percayalah mata hati lebih indah daripada hal-hal yang sifatnya hanya sesaat saja.”
            “Oke deh.”
            Pembicaraan sederhana itu membuatku perlahan muak sekaligus puas. Aku pun lantas menaiki motor yang terparkir sembarangan di bawah pohon beringin. Lalu, aku memutuskan untuk pulang.
            Tiba-tiba, motorku mati. Aku benar-benar merasakan kesialan yang sebenarnya sangat parah tetapi aku tidak merasakan patah hati yang sangat hebat dikarenakan pembicaraan yang aku dengar dari orang-orang itu. Di saat aku menuntun motor, aku melihat ada dua bapak-bapak yang juga menuntun motor sepertiku.
            “Andaikan motor bisa bicara, apa yang ingin kamu bicarakan dengannya?”
            “Ya. Aku mungkin akan memujinya karena di awet dan praktis. Selain itu, cara memarkirnya gampang, bahan bakarnya murah, dan cara menyetirnya sama seperti mengendarai sepeda pancal.”
            “Kamu tahu apa yang ingin aku sampaikan pada motor itu?”
            “Apa?”
            “Dia kuat. Saat dia jatuh, terkena lubang, terkena hujan, dia dibanting, dia tergores, dan lampunya mati, ia tetap saja bisa digunakan. Kita seharusnya bisa menjadi manusia yang kuat. Halangan-halangan itu bukanlah merupakan sebuah halangan tetapi merupakan suatu hadiah yang beraneka ragam untuk orang-orang yang berbeda juga. Patutnya kamu bersyukur memiliki masalah yang berbeda dari orang lain. Itu berarti kamu dipercayai bahwa kamu lebih kuat saat di hadapankan pada masalah itu dibandingkan orang lain.”
            Aku hanya terus tersenyum. Tak menyangka, motorku kembali menyala. Itu membuatku bahagia dan terus tersenyum meski perlahan aku masih merasa sakit hati. Dunia ini memanglah indah jika aku mau membuka mataku dan tidak hanya terfokus pada gelapnya sang malam tanpa tetap sabar dalam penantian cerahnya sang mentari di esok hari.
           
            Malam memang gelap tetapi ia terlihat indah karena bintang-bintang di sekelilingnya. Pagi memang panas tetapi ia mampu mencerahkan segala isi bumi dan memberikan senyuman baru untuk semua manusia yang terus menunggu kehadirannya. Kadang apa yang kita anggap buruk itu adalah suatu keindahan sendiri di mata orang lain. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena kita berani untuk melihat kenyataan dan bersyukur atas pemberianNya pada dunia lewat orang-orang yang menyakiti kita. Mereka ada karena mereka diciptakan untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih kuat dari biasanya. –Tiara






Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger