Bom benar-benar menghancurkan semua yang ada di
sekitarnya. Termasuk tubuhmu, Ibu. Seseorang yang tidak bertanggung jawab
tiba-tiba saja menodongkan pistol ke arahmu tetapi kamu tetap memilih diam. Ia
meminta semua uangmu tetapi nyatanya kamu benar-benar memberikan segalanya
untuk lelaki pengecut itu. Kini, aku hanya bisa menangis dan terus menatap pada
nisan yang mencantumkan namamu dengan menjengkelkan. Namamu semakin hari
semakin hilang sehingga aku harus datang sesering mungkin untuk mengukir
kembali namamu huruf demi huruf dengan indah. Ya. Bunga tulip kesukaanmu selalu
aku bawa dan aku ganti di atas tanah yang menguburmu.
“Tentara? Kamu serius?”
“Memangnya kenapa?”
“Kamu sadar jika persyaratan masuk tentara harus memiliki
tinggi minimal 163 cm? Tinggi tubuhmu bahkan tidak mencapai angka itu.”
“Ria, kamu boleh bercita-cita menjadi apapun tetapi kamu
seharusnya tahu apa yang pantas dan tidak pantas buatmu. Itu bisa membuatmu
benci pada cita-cita sedangkan cita-cita itu seharusnya dikejar dan indah.”
“Jadi menurutmu, cita-cita itu pasti tergapai?”
“Ya. Tapi jika kamu imbangi dengan kondisimu sekarang,
tinggi badanmu misalnya ataupun kacamatamu yang tebal. Sudah jelas tidak akan
bisa..”
“Kenapa kamu begitu yakin kalau aku tidak bisa menjadi
tentara? Apakah persyaratan itu akan membuatku berhenti untuk bercita-cita?
Jika aku memilih berhenti, itu berarti cita-citaku masih kecil. Apakah kamu tetap tidak memperbolehkanku untuk mencintai cita-citaku?”
Semua temanku terdiam. Mereka hanya bisa menyibukkan diri
dengan mengusap layar gadget dan
menggabaikanku seketika. Aku beranjak sembari membawa kamera yang selalu tergantung
di leherku.
“Kak Ria suka militer?”
Aku menoleh sembari tetap memotret apa yang kuanggap
menarik di hadapanku.
“Suka. Kenapa dek?”
“Ini ada brosur airsoft, Kak.”
“Airsoft?”
“Iya, Kak. Airsoft itu seperti wahana simulasi para
tentara saat aksi militer. Ada permainan lumpur, penerbangan helikopter,
penembakan senjata, dan ada persewaan pakaian tentara lengkap dengan segala atributnya.
Kakak kesana bisa gratis bareng sama kak Ryan.”
Ryan? Ya. Lelaki itu kini sudah benar-benar siap menjadi
tentara. Aku terkadang iri dengannya. Postur tubuhnya sudah memenuhi syarat
untuk menjadi seorang tentara sedangkan apa daya tubuh ini? Meskipun begitu,
aku tetap setia mengagumi lelaki itu.
Keberangkatan dua tim dari sekolah membuatku sedikit
bergetar. Aku tak siap melihat semua teman-temanku beraksi hebat di tempat itu.
“Ri!” teriak Ryan dari arah belakangku.
Aku hanya bisa tersenyum sembari membenahi rambutku yang
tiba-tiba saja menghalangi wajahku.
“Kenapa, Yan?”
“Kamu paham kenapa aku bawa ini?” ucapnya sembari
menunjukkan pot berisi tanaman bunga tulip kesukaanku.
“Kenapa memang?”
“Kamu lebih memilih bunga tulip ini atau pohon akasia?”
“Bunga tulip.”
“Kenapa?”
“Ya. Karena aku suka bunga tulip.”
“Apa dia lebih spesial dibandingkan pohon akasia itu?”
“Ya. Segala kesukaanku itu spesial meskipun banyak hal
yang mungkin lebih besar dari itu.”
“Nah. Itu berarti walaupun banyak pohon besar melingkari
bunga tulipmu, kamu akan tetap memandang bunga tulipmu?”
“Ya tentu saja.”
“Anggap saja bunga tulipmu itu adalah cita-citamu sebagai
tentara. Kamu melihat memang banyak halangan dan kendala karena fisikmu yang
kurang proposional seperti kriteria tentara yang seharusnya. Namun, apakah itu
bisa mengalahkan bahkan mematikan semangatmu untuk maju menjadi tentara? Tidak
kan? Bahkan aku pun selama kamu berada jauh lebih pendek daripada
teman-temanmu, aku akan tetap mengenal bahwa perempuan itu adalah Ria. Ria,
Fitria.”
Aku hanya bisa tersenyum sembari menyambar tas ransel
yang kubiarkan tergeletak lusuh di atas tanah.
Dalam perjalanan, Ryan terus menatapku. Aku tersenyum
lantas berpaling pada ponselku. Secarik pesan singkat muncul secara beruntutan
sehingga memberikan 10 pesan masuk sekaligus.
Aku pun membuka notifikasi itu dan mendapati foto tempat
airsoft yang akan aku kunjungi saat ini. Aku terkagum-kagum dibuatnya. Banyak
hal yang selalu aku imajinasikan tentang dunia kemiliteran. Saat ini, aku
benar-benar bisa merasakan sensasi nyatanya walaupun tidak benar-benar nyata.
Suasana sederhana dimana semuanya terlihat seperti tempat
sepi di balik perumahan. Kami langsung mengenakan pakaian tentara dengan
menggunakan skenario team deadmatch
tanpa revive. Kami dibagi menjadi dua
kelompok yaitu kelompok biru dan kuning. Saat salah satu dari kami terbunuh,
kami akan ditempatkan di safe zone.
Jika salah satu dari kelompok kami anggotanya habis, maka kelompok yang lainlah
yang menang.
Aku mencoba membawa airsoft
gun dengan susah payah karena sangatlah berat sehingga aku memakai snipper supaya tepat sasaran. Permainan
ini terus berlangsung hingga kelompokku, kelompok biru, menang.
Lelah yang menyenangkan. Hari ini aku benar-benar
merasakan kesenangan apalagi kali ini Ryan sedang membawaku keluar dari tempat
perkumpulan para airsofter.
“Ri. Kamu tahu ini apa?”
“Senjata.”
“Apa yang kamu ingin lakukan padaku dengan menggunakan
senjata ini?”
“Ya aku akan memberikannya.”
“Lalu?”
“Dan menunggu sampai kamu benar-benar menjadi tentara
sesuai dengan cita-citamu.”
“Ria, apa kamu tahu mengapa banyak orang senang
mengabadikan setiap momennya lewat kamera?”
“Ya karena dapat dicetak ataupun disimpan sampai dewasa.”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Dia bisa bercerita.”
“Bercerita?”
“Memang dia benda mati yang hanya bisa dipandangi saja.
Namun, apakah kamu sadar dengan kamu melihat fotomu kamu akan tersenyum, tertawa,
marah, dan sedih? Dia seolah-olah sedang bercanda denganmu, sedang bertengkar
denganmu, sedang menggodamu, dan sedang menceritakan kisah sedih padamu. Nyatanya
dia hanya diam. Dia sama sepertimu. Banyak orang mungkin merendahkan fisikmu
tetapi apakah mereka akan seketika itu juga melupakanmu? Bahkan semakin lama
mereka menghujat, semakin banyak cerita yang dikeluarkan oleh bayanganmu. Apa
yang ingin aku katakan? Tetaplah teguh menggenggam semua hinaan dan
cita-citamu. Padukan itu dan aduklah seperti ramuan untuk menghadirkan sebuah
sajian yang tak pernah bisa orang bayangkan. Seorang Ria yang bisa berguna
walaupun tidak berada tepat pada cita-cita yang sama. Itulah Ria yang aku
selalu aku kagumi.”
Genggaman tangan yang ia hadirkan membuatku tersenyum
serasa perlahan menitikkan air mata sembari terus melihat senjata yang ada di
tanganku.
Segala hal yang
tertulis indah memang terbayangkan indah. Namun, tetaplah berjuang untuk itu
karena tulisan indah bisa saja tergores jika kita sembrono tuk
merealisasikannya. - Gia