Duar!             Bom benar-benar menghancurkan semua yang ada di sekitarnya. Termasuk tubuhmu, Ibu. Seseorang yang tidak bertanggung j...

Hujat Aku, Aku Tetap Maju!

/
0 Comments


Duar!
            Bom benar-benar menghancurkan semua yang ada di sekitarnya. Termasuk tubuhmu, Ibu. Seseorang yang tidak bertanggung jawab tiba-tiba saja menodongkan pistol ke arahmu tetapi kamu tetap memilih diam. Ia meminta semua uangmu tetapi nyatanya kamu benar-benar memberikan segalanya untuk lelaki pengecut itu. Kini, aku hanya bisa menangis dan terus menatap pada nisan yang mencantumkan namamu dengan menjengkelkan. Namamu semakin hari semakin hilang sehingga aku harus datang sesering mungkin untuk mengukir kembali namamu huruf demi huruf dengan indah. Ya. Bunga tulip kesukaanmu selalu aku bawa dan aku ganti di atas tanah yang menguburmu.
            “Tentara? Kamu serius?”
            “Memangnya kenapa?”
            “Kamu sadar jika persyaratan masuk tentara harus memiliki tinggi minimal 163 cm? Tinggi tubuhmu bahkan tidak mencapai angka itu.”
            “Ria, kamu boleh bercita-cita menjadi apapun tetapi kamu seharusnya tahu apa yang pantas dan tidak pantas buatmu. Itu bisa membuatmu benci pada cita-cita sedangkan cita-cita itu seharusnya dikejar dan indah.”
            “Jadi menurutmu, cita-cita itu pasti tergapai?”
            “Ya. Tapi jika kamu imbangi dengan kondisimu sekarang, tinggi badanmu misalnya ataupun kacamatamu yang tebal. Sudah jelas tidak akan bisa..”
            “Kenapa kamu begitu yakin kalau aku tidak bisa menjadi tentara? Apakah persyaratan itu akan membuatku berhenti untuk bercita-cita? Jika aku memilih berhenti, itu berarti cita-citaku masih kecil. Apakah kamu tetap tidak memperbolehkanku untuk mencintai cita-citaku?”
            Semua temanku terdiam. Mereka hanya bisa menyibukkan diri dengan mengusap layar gadget dan menggabaikanku seketika. Aku beranjak sembari membawa kamera yang selalu tergantung di leherku.
            “Kak Ria suka militer?”
            Aku menoleh sembari tetap memotret apa yang kuanggap menarik di hadapanku.
            “Suka. Kenapa dek?”
            “Ini ada brosur airsoft, Kak.”
            “Airsoft?”
            “Iya, Kak. Airsoft itu seperti wahana simulasi para tentara saat aksi militer. Ada permainan lumpur, penerbangan helikopter, penembakan senjata, dan ada persewaan pakaian tentara lengkap dengan segala atributnya. Kakak kesana bisa gratis bareng sama kak Ryan.”
            Ryan? Ya. Lelaki itu kini sudah benar-benar siap menjadi tentara. Aku terkadang iri dengannya. Postur tubuhnya sudah memenuhi syarat untuk menjadi seorang tentara sedangkan apa daya tubuh ini? Meskipun begitu, aku tetap setia mengagumi lelaki itu.
            Keberangkatan dua tim dari sekolah membuatku sedikit bergetar. Aku tak siap melihat semua teman-temanku beraksi hebat di tempat itu.
            “Ri!” teriak Ryan dari arah belakangku.
            Aku hanya bisa tersenyum sembari membenahi rambutku yang tiba-tiba saja menghalangi wajahku.
            “Kenapa, Yan?”
            “Kamu paham kenapa aku bawa ini?” ucapnya sembari menunjukkan pot berisi tanaman bunga tulip kesukaanku.
            “Kenapa memang?”
            “Kamu lebih memilih bunga tulip ini atau pohon akasia?”
            “Bunga tulip.”
            “Kenapa?”
            “Ya. Karena aku suka bunga tulip.”
            “Apa dia lebih spesial dibandingkan pohon akasia itu?”
            “Ya. Segala kesukaanku itu spesial meskipun banyak hal yang mungkin lebih besar dari itu.”
            “Nah. Itu berarti walaupun banyak pohon besar melingkari bunga tulipmu, kamu akan tetap memandang bunga tulipmu?”
            “Ya tentu saja.”
            “Anggap saja bunga tulipmu itu adalah cita-citamu sebagai tentara. Kamu melihat memang banyak halangan dan kendala karena fisikmu yang kurang proposional seperti kriteria tentara yang seharusnya. Namun, apakah itu bisa mengalahkan bahkan mematikan semangatmu untuk maju menjadi tentara? Tidak kan? Bahkan aku pun selama kamu berada jauh lebih pendek daripada teman-temanmu, aku akan tetap mengenal bahwa perempuan itu adalah Ria. Ria, Fitria.”
            Aku hanya bisa tersenyum sembari menyambar tas ransel yang kubiarkan tergeletak lusuh di atas tanah.
            Dalam perjalanan, Ryan terus menatapku. Aku tersenyum lantas berpaling pada ponselku. Secarik pesan singkat muncul secara beruntutan sehingga memberikan 10 pesan masuk sekaligus.
            Aku pun membuka notifikasi itu dan mendapati foto tempat airsoft yang akan aku kunjungi saat ini. Aku terkagum-kagum dibuatnya. Banyak hal yang selalu aku imajinasikan tentang dunia kemiliteran. Saat ini, aku benar-benar bisa merasakan sensasi nyatanya walaupun tidak benar-benar nyata.
            Suasana sederhana dimana semuanya terlihat seperti tempat sepi di balik perumahan. Kami langsung mengenakan pakaian tentara dengan menggunakan skenario team deadmatch tanpa revive. Kami dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok biru dan kuning. Saat salah satu dari kami terbunuh, kami akan ditempatkan di safe zone. Jika salah satu dari kelompok kami anggotanya habis, maka kelompok yang lainlah yang menang.
            Aku mencoba membawa airsoft gun dengan susah payah karena sangatlah berat sehingga aku memakai snipper supaya tepat sasaran. Permainan ini terus berlangsung hingga kelompokku, kelompok biru, menang.
            Lelah yang menyenangkan. Hari ini aku benar-benar merasakan kesenangan apalagi kali ini Ryan sedang membawaku keluar dari tempat perkumpulan para airsofter.
            “Ri. Kamu tahu ini apa?”
            “Senjata.”
            “Apa yang kamu ingin lakukan padaku dengan menggunakan senjata ini?”
            “Ya aku akan memberikannya.”
            “Lalu?”
            “Dan menunggu sampai kamu benar-benar menjadi tentara sesuai dengan cita-citamu.”
            “Ria, apa kamu tahu mengapa banyak orang senang mengabadikan setiap momennya lewat kamera?”
            “Ya karena dapat dicetak ataupun disimpan sampai dewasa.”
            “Bukan.”
            “Lalu?”
            “Dia bisa bercerita.”
            “Bercerita?”
            “Memang dia benda mati yang hanya bisa dipandangi saja. Namun, apakah kamu sadar dengan kamu melihat fotomu kamu akan tersenyum, tertawa, marah, dan sedih? Dia seolah-olah sedang bercanda denganmu, sedang bertengkar denganmu, sedang menggodamu, dan sedang menceritakan kisah sedih padamu. Nyatanya dia hanya diam. Dia sama sepertimu. Banyak orang mungkin merendahkan fisikmu tetapi apakah mereka akan seketika itu juga melupakanmu? Bahkan semakin lama mereka menghujat, semakin banyak cerita yang dikeluarkan oleh bayanganmu. Apa yang ingin aku katakan? Tetaplah teguh menggenggam semua hinaan dan cita-citamu. Padukan itu dan aduklah seperti ramuan untuk menghadirkan sebuah sajian yang tak pernah bisa orang bayangkan. Seorang Ria yang bisa berguna walaupun tidak berada tepat pada cita-cita yang sama. Itulah Ria yang aku selalu aku kagumi.”
            Genggaman tangan yang ia hadirkan membuatku tersenyum serasa perlahan menitikkan air mata sembari terus melihat senjata yang ada di tanganku.
           

            Segala hal yang tertulis indah memang terbayangkan indah. Namun, tetaplah berjuang untuk itu karena tulisan indah bisa saja tergores jika kita sembrono tuk merealisasikannya. - Gia


           




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger