published on spotify : berjelajah dalam karya             Brak!             “Eza! Jangan pukul adikmu! Masuk kamar!” teriak Ibu sembari...

Keberanian yang Hilang

/
2 Comments


published on spotify : berjelajah dalam karya

            Brak!

            “Eza! Jangan pukul adikmu! Masuk kamar!” teriak Ibu sembari menghampiri Eza.

            “Dia nakal, Bu. Dia mencuri mainanku.” ucap Eza tidak terima.

            “Masuk kamar!” teriak ibu sembari melemparku keras ke lantai.

            Darah berceceran keluar dari mulut Eca, saudara Eza. Hal itu membuatnya terus menangis. Aku terpaku lemas bukan karena takut pada darah. Namun, aku sakit hati karena aku dipaksa bertarung dengan saudaraku sendiri. Iya. Dia adalah pemukul kasti yang sama denganku. Kini, Vien terbelah dua dan ia terus menutup mata. Aku berusaha mendekat tetapi sudah terlambat. Ia sekarang benar-benar sudah tiada.

            Ibu datang kembali dengan air mata yang membasahi wajahnya. Di dalam percakapan telepon, aku mendengar bahwa Eca mengalami pendarahan hebat di hidungnya. Oleh karena itu,  ia harus mendapat perawatan lebih lanjut yaitu operasi. Kemarahan ibu yang hebat membuat ia membuangku dan Vien ke dalam gudang. Ibu tidak hanya membuangku tetapi juga melemparku hingga tubuhku hampir rusak. Aku adalah pemukul kasti yang bersedih karena aku kehilangan Vien, saudaraku.

            Hari-hari di dalam gudang terasa sunyi. Namun, aku saja yang merasakan rasa itu. Semua barang bersenang-senang bersama keluargan saat ini.

            “Emma!” teriak Maj, si jam weker, sembari tersenyum lebar kepadaku.

            Aku tersenyum simpul sembari bersandar di dalam kotak peralatan olahraga.

            “Aku mengundangmu datang ke pesta pernikahan ayah dan ibuku. Aku mohon datang ya tik tok?” pinta Maj sembari membalikkan badannya yang bertuliskan beberapa kata undangan pesta itu.

            “Mm, aku tidak berani berjanji.” ucapku singkat membuat wajahnya sedikit kecewa.

            “Oke, Emma. Aku akan tetap mengharapkan kehadiranmu tik tok” balas Maj sembari menepuk tubuhku.

            “Terima kasih.” ucapku sembari tersenyum padanya.

            Aku terus menatap pada bulan yang sedari tadi terus membuatku tersenyum.

            “Maaf, Lan. Aku tidak bisa seceria dulu.” ucapku membuat Bulan itu menunjukkan wajah penuh antusias padaku.

            “Apa yang terjadi?” tanya Bulan yang mengubah wajahnya menjadi murung.

            “Saudaraku meninggal karenaku”

            “Apa kamu sengaja melakukannya?”

            “Tidak. Aku hanya menuruti apa yang manusia lakukan padaku. Namun, mereka masih kecil aku tidak mau menyalahkannya.”

            “Lalu?”

            “Aku hanya mengeluh. Kenapa aku diciptakan untuk melukai orang lain? Ibuku berkata bahwa semua yang ada di bumi ini memiliki kelebihan masing-masing. Lalu, kelebihan apa yang aku punya?”

            “Menurutmu apa kelebihan yang aku punya?”

            “Ya, kamu bisa memberikan terang di saat malam datang.”

            “Namun, hanya sesaat. Apa aku benar?”

            “Ho ho ho. Ya aku juga berganti warna hanya sebentar. Namun, tetap diingat oleh semua makhluk di bumi ini. Ho ho ho. ” tambah langit yang tiba-tiba masuk dalam pembicaraan kami.

            “Apa maksudnya?” tanyaku mulai kebingungan.

            “Ho ho ho. Kelebihanmu tidak akan bisa dikenali jika kamu tidak mengenalkannya pada dunia. Apakah kamu sudah menunjukkan kemampuanmu di depan alam semesta hari ini?” tanya Langit membuatku berpikir keras.

“Namun, bagaimana aku tahu apa kelebihanku itu?” tanyaku pada mereka.

“Ha! Temui si cermin kebijaksanaan. Dia bisa membantumu. Mataku terbuka karena perkataannya.” ucap Bulan membuatku langsung terkejut.

“Ho ho ho. Iya. Karena kata-katanya itu, aku tak takut memamerkan sisi gelapku pada semua mata di cakrawala.” ucap Langit sembari tersenyum lebar.

“Baiklah. Aku akan mencarinya.” ucapku membuat Langit dan Bulan tersenyum bangga padaku.

Tiba di saat acara ulang tahun pernikahan orang tua Maj. Aku menghadirinya dengan sukacita. Semua barang melihatku terheran-heran.

“Yo. Emma, kamu tidak apa-apa yo?” tanya Asket, si Bola Basket, padaku.

            “Memangnya kenapa?”

            “Yo kamu memakai dandanan badut yo?”

            “Ya, aku ingin semua orang tertawa.”

            “Aduh yo. Sangat disayangkan yo. Boneka itu sudah lebih dulu berhasil membuat banyak orang tertawa yo.”

Aku spontan mengalihkan pandanganku pada si boneka beruang lucu yang dikerumuni banyak barang termasuk Maj.

“Hai Emma! Kamu datang! Apa kamu mencoba gaya baru hari ini? Ayo, ibuku sangat merindukanmu.” ajak Maj membuatku langsung mengikutinya.

“Aku melepas bajuku dulu.” ucapku saat sadar semua barang memandangku dengan jijik.

“Oh, baiklah.” ucap Maj membiarkanku menuju ruang ganti.

Aku berjalan masuk ke dalam kotak sembari merenung.

            “Aku tidak mempunyai kelebihan untuk menghibur mereka.” batinku sembari membersihkan dandanan dan pakaianku.

          Setelah merenung, aku pun memberanikan diri untuk keluar dari kotak itu dan menemui Ibu Maj yang menungguku di sudut ruangan.

            “Wow! Kamu mengundang Emma, si pemukul kasti.” ucap Ibu Maj sembari berhati-hati di dekatku.

            Perlakuan mereka memanglah terlihat normal. Namun, setiap kali aku berjalan, mereka terus mengatakan hati-hati padaku. Mereka takut aku merusak hari perayaan mereka. Apakah begitu? Apakah kelebihanku itu membuat orang ketakutan?

            “Hati-hati, Emma! Uh, lampu itu bisa membakar semua ruangan jika kamu menjatuhkannya.” ucap Ibu Maj yang terlihat sangat khawatir.

            “Tenang, Bu tik tok. Dia sudah berpegang erat pada rantai yang kuat. Tidak usah khawatir tik tok.” balas Maj sembari terus mengungkapkan hati-hati padaku.

            Aku merasa sangat tersinggung. Saat aku duduk, tiba-tiba aku terkejut karena ada teman yang memanggilku dengan lantang. Perlahan lampu di atas kepalaku jatuh dan merusak hiasan dinding di tempat Ibu Maj duduk. Aku lantas berdiri dan kembali merusak salah satu tamu yang hadir di sana.

            “Emma, kamu keluar dari sini.” pinta ibu Maj sembari memintaku dengan spontan untuk pergi.

            “Ibu tik tok, Emma tidak sengaja melakukannya tik tok.” bela Maj sembari terus menahanku untuk pergi.

            “Kumohon.” rayu Maj membuat Ibunya tetap menggeleng.

            “Pergi”

          Sesaat semua barang lengang, tiba-tiba Asti, barang yang memanggilku tadi, mendekatiku.

            “Maafkan aku, Emma.” ucap Asti, si bola kasti, yang tampak sangat merasa bersalah.

            Aku hanya tersenyum.

            “Aku tidak apa-apa.” ucapku sembari berjalan ke luar ruangan.

            Langit semakin gelap. Aku memilih untuk pergi dari pesta itu tanpa mengucapkan selamat tinggal pada siapapun. Aku menangis. Iya, menangis. Sebuah pemukul kasti yang hanya bisa merusak. Itulah aku.

            “Emma, kamu itu kuat. Sangat kuat. Kamu mampu menampis bola kasti yang hampir membunuhku dengan sangat keras.”

            “Lalu?”

            “Bahkan aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku bangga memiliki saudara sepertimu, Emma.”

            “Aku juga bangga memiliki saudara pemukul kasti yang tidak pernah merusak apapun seperti dirimu.”

            “Emma! Jangan berkata begitu!”

 

            Perlahan bayangan itu hilang. Ya. Aku merindukan keberadaan Vien. Aku bahagia bisa bertemu dengan dirinya walau hanya dalam kabut mimpiku saja.

            Hari ini aku berniat menemui si cermin kebijaksanaan. Apakah aku akan mendapatkan jawabannya? Aku tidak yakin. Aku takut. Takut saat aku tidak terima pada jawabannya, instingku memintaku untuk memecahkan kacanya. Ya. Aku harus bisa menahan diri.

            Sebuah tempat aksesoris, penuh dengan kaca, dan tulisan ‘Barang Mudah Pecah’ berada di sekelilingku dengan manja. Aku menahan napas. Takut akan merusak semuanya.

            “Hai. Wow. Kamu sangat berani datang ke tempat ini. Kamu bisa mendapatkan amarah dahsyat jika kamu melukai kami.”

            “Kamu akan dibakar dan dibuang hahaha”

            Celotehan tidak bermutu membuatku malas mendengarkan. Aku terhenti ketika melihat sebuah cermin tua menatapku dengan senyuman.

            “Apakah kamu si cermin kebijaksanaan?” tanyaku membuat cermin tua itu mengangguk.

            “Iya.” jawab cermin tua itu sembari menarikku ke dalam sebuah kotak yang gelap dengan berbekal lilin kecil di dalamnya.

            “Lilin, jangan dengarkan pembicaraan kami.” pinta cermin tua itu pada lilin dengan tegas.

            “Baik!” ucapnya sembari menutup mata.

            “Apa yang kamu kelukan, Nak?” tanya cermin tua itu dengan sabar.

            “Eeh. Aku tidak tahu apa kelebihan yang aku punya, Nek. Maksudku, Bu.” ucapku dengan grogi.

            “Panggil aku Nenek. Agar kamu bisa semakin akrab denganku. Silakan, Nak” balas cermin tua itu dengan sangat ramah.

            “Aku tidak memiliki kelebihan, Nek. Aku selalu merusak semua barang yang ada di sekitarku. Banyak barang mengatakan bahwa aku kuat. Apakah kuat yang mereka ajukan bisa diterapkan kepada sebuah pemukul kasti perusak sepertiku?”

            “Menurutmu apa yang membuatmu dikatakan kuat?”

            “Karena fisikku yang terbuat dari kayu mungkin.”

            “Kalau begitu, mengapa kamu rapuh seperti ini? Bukannya kamu kuat seutuhnya?”

            Aku tidak bisa berkutik.

            “Kekuatanmu bukanlah dari apa yang kamu lihat. Namun, dari apa yang kamu rasakan. Dia tidak terlihat tetapi menguatkan. Dia bisa bertumbuh di mana pun. Jika dia sudah bertumbuh besar, dia mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Apa kamu tahu sesuatu itu?”

            “Tidak, Nek.”

            “Itu adalah keberanian.”

            “Keberanian?”

            “Iya. Walaupun kamu diciptakan kuat dengan tubuh yang berlapis-lapis besi ataupun baja sekalipun. Jika kamu tidak berani, maka semua itu hanyalah kehampaan dan basa-basi. Memang banyak manusia mengagumi kekuatanmu. Namun, kamu sama sekali tidak mengakui kekuatanmu sendiri. Bagaimana kamu bisa menemukan kelebihanmu? Kelebihan memang harus ditunjukan kepada dunia. Namun sebelum itu, kamu pun harus bisa percaya dan berani mengakui kelebihan yang kamu punya.”

            Aku terdiam. Tidak ada satu pun kata yang berani terlintas di pikiranku.

            “Jangan buat traumamu terhadap masa lalu menjadi batu besar yang menghalangi langkahmu. Bukalah batu besar itu, maka kamu akan menemukan sesuatu yang jauh lebih indah dari perenunganmu. Tidak ada sesuatu yang bisa diraih tanpa perjuangan, semua butuh perjuangan dan tekad agar mereka bisa menjadi sesuatu hal yang bermanfaat untukmu hingga akhirat.”

            Aku tersenyum.

Kini, hidupku telah berubah. Aku tidak takut menjadi kuat. Aku terus menerus menolong banyak barang yang terancam bahaya dengan mengandalkan kekuatanku. Banyak manusia menggunakanku untuk berkompetisi. Beberapa kali mereka berhasil meraih tropi dan kejuaraan yang mereka impikan berkatku. Tak jarang pula, mereka mengabadikan fotoku di dinding rumah mereka. Barang-barang lain kini sangat menyayangiku. Mereka menyayangiku bukan sebagai badut tetapi sebagai Emma, si pemukul kasti yang selalu merusak segalanya.








2 komentar:

  1. Yoooo 😍
    I love this a lot!
    Thanks for taking my request Tiara.
    Pemilihan karakternya keren dan pesannya juga sipp (I can relate to Emma 😩)
    Lucu kamu ngasih namanya Emma sama Vien, kayak namaku 💞💞😍

    (THAT DRAWING MADE ME SMILE SO HARD LOL THANKS A LOT FOR THAT)

    Keep writing Tiara!

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger