Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : berjelajah dalam karya Panggung yang diharapkan dapat berdiri kokoh tak berujung manis. Pena...
published on spotify : berjelajah dalam karya
Panggung yang diharapkan dapat
berdiri kokoh tak berujung manis. Penampilan yang mengharapkan ribuan teriakan
pujian kini tergantikan dengan teriakan kesakitan. Semua orang menyingkir dan
membelah kerumunan manusia di depan panggung menjadi dua. Petugas keamanan yang
siap sedia langsung mengajukan tandu dan menggotong beberapa anak yang terluka
dalam kejadian itu. Alfa. Iya. Ia adalah salah satu korban dalam kecelakaan itu. Kakinya
tertimpa besi dan mengakibatkan langkahnya pincang. Rintihan kesakitan muncul
tanpa henti dari mulutnya.
Suasana kericuhan ini tidak didengar
oleh Renata. Ya. Dia sibuk membagikan tiket masuk pada pengunjung yang menampilkan antrian yang sangat panjang di depan matanya itu. Tangannya
yang awalnya berusaha tenang mengatur tiket-tiket yang ada di mejanya itu, kini
bergerak dengan sangat cepat. Tentu saja. Hal ini bukanlah hal yang baik untuk
Renata. Tak jarang ia merasakan kepalanya yang pusing dan matanya yang
perlahan buram.
“Ren? Kamu nggak papa?” tanya Vania
yang terlihat cemas pada keadaan Renata.
“Ya kerasa pusing sedikit sih. Tapi udah mendingan kok.” ucap Renata
dengan nada lemas.
“Kamu harus beristirahat dulu. Aku
yang akan menggantikan tugasmu.”
“Kamu serius, Van? Mau nggantiin tugasku?”
“Tentu saja. Kamu sudah bekerja
keras, Ren.”
“Hmm. Maaf ya jadi ngerepotin kamu. Oh ya. Aku mau beli minuman dulu
di dalam ya. Terima kasih lho, Van kamu mau bantuin aku. ”
Vania menggantikan posisi Renata dan
mulai menangani pengunjung-pengunjung yang tidak sabar untuk masuk. Renata
berusaha kuat dengan tetap fokus menuju sebuah stan minuman. Saat ia
sudah berada di depan stan tersebut, ia melihat seorang perempuan yang
meringkuk ketakutan di balik stan tersebut.
“Mbak? Mbak kenapa?” tanya Renata
yang berusaha masuk ke dalam stan.
“Kecelakaan itu mengerikan, Mbak.
Saya sampai trauma karena melihat dengan mata kepala saya sendiri.”
“Hah? Kecelakaan? Kecelakaan apa?”
“Beberapa detik yang lalu, panggung
itu roboh, Mbak. Ada beberapa orang terluka. Beberapa orang dibawa ke rumah
sakit dan sebagian dibawa ke UKS.”
“Kecelakaan? Saya nggak tahu apa-apa
soal ini, Mbak. Ya ampun.” teriak Renata sembari terkejut.
Alfa. Entah mengapa lelaki itu
kembali hadir dalam benak Renata. Ya. Alfa adalah salah satu orang yang pernah
menghabiskan waktu bersamanya dalam sebuah hubungan asmara. Namun, umur
hubungan mereka tidak lama. Waktu yang tidak merestui membuat lelaki bernama
Alfa itu berpaling darinya. Tentu saja ia berpaling pada perempuan yang
memiliki banyak kehebatan yang tidak Renata punya. Pintar merawat diri, glowing,
dan mahir merebut hati seorang lelaki itu. Renata yang hanya bisa menunggu dan
memberi kabar nyatanya tidak berhasil membuat Alfa mempertahankannya.
Perlahan, Renata melangkah menuju
UKS. Benar saja. Ia menemukan Alfa di sana. Ia sedang dirawat oleh seorang
perempuan baru yang hadir dalam kehidupannya.
“Aku seneng banget bisa lihat kamu baik-baik aja.” ucap Renata sembari mengajukan senyuman pahit.
Setelah selesai memuaskan rasa
penasarannya, Renata kembali mencari beberapa minuman dan makanan yang bisa
mengisi perutnya yang terus bernyanyi fales itu. Setelah selesai mendapatkannya,
ia memilih tempat duduk yang tidak jauh dari stan tempat ia membeli makanan dan
minuman itu. Saat sedang menikmati makanan, tiba-tiba seorang lelaki duduk di
depannya.
“Kenapa kamu tidak mencariku?”
Alfa. Lelaki itu sekarang berada di
hadapan Renata. Tentu saja. Ia hadir dengan menampilkan kaki dan lengannya yang
berbalutkan kain.
“Mencari kamu? Ha-ha. Apa aku gak salah denger? Kamu kan sudah memiliki
perempuan itu. Kenapa kamu masih berharap aku akan mencari kamu?” ucap Renata yang masih
saja fokus pada makanannya.
“Bertanyalah pada pikiranku. Kenapa aku terus mengharapkan kehadiranmu padahal sih aku jelas-jelas menolak
keberadaanmu.”
“Fa, tolong. Berbicaralah dengan dewasa tanpa
rayuan. Aku nggak suka kebohongan yang dibuat-dibuat. Kamu pasti mengerti kan apa maksudku?”
“He! Aku juga tidak suka berbicara romantis
pada wanita.”
“Lalu, kenapa kamu berterus
terang?”
“Apakah berterus terang sama dengan
rayuan?”
“Tidak.”
“Hmm. Jika memang bukan
sebagai pasangan, apa aku tidak boleh mengharapkan perhatianmu?”
“ Kamu pasti tahu jawabannya. Tentu saja tidak. Itu hanya akan melukai
perempuan itu, Fa. Tolong pahami situasi ini. Kita sudah sama-sama dewasa kan?”
“Aku tahu, Ren. Aku terlalu cepat memutuskan sesuatu. Hingga pada akhirnya, ya, aku menyesal.”
Perkataan Alfa yang terdengar
menarik membuat Renata menghentikan suapannya. Ia melihat arah telunjuk Alfa
yang menampilkan perempuan yang Alfa idam-idamkan kini sedang berjalan dengan
pria lain.
“Bagaimana kamu bisa mengetahui
semua ini?” tanya Renata sembari memasukan suapan terakhirnya.
“Entahlah. Aku mudah sekali
memergoki mereka. Semudah aku membalikkan telapak tanganku.”
Renata tersenyum sembari mengemasi
piring-piring kotornya. Suasana gala dinner yang awalnya terdengar
mengerikan kini sudah terlihat normal. Alfa terus menghabiskan waktu dengan
berjalan di samping Renata. Ia juga membantunya mengurus beberapa tiket di meja
registrasi yang tersisa. Pengunjung yang sudah mulai tidak terlihat membuat
Renata bisa menghembuskan napasnya dengan keras.
“Ren, kamu tahu lembaran kertas
putih ini? Mungkin, kertas ini sekilas memang terlihat bersih tetapi nyatanya lihat! Terdapat
coretan tipis yang terlihat di sana. Tidak hanya satu tetapi banyak coretan.
Aku rasa ia berusaha menghapus coretan itu tetapi tidak bisa. Apa aku benar?”
Renata tersenyum.
“Ia memang berusaha untuk menghapus
coretan-coretan itu agar tidak terlihat. Namun, kini ia bukanlah kertas yang
sempurna. Ia telah robek. Sekuat apapun kamu berusaha merekatkan kertas itu dia gak bakal bisa utuh lagi, Fa.”
Alfa yang awalnya terlihat normal
kini menundukkan kepalanya. Ia menatap Renata dengan penuh ketegaran dan
mengangguk setuju dengan perkataannya.
“Benar, Ren. Aku tidak akan memaksa
kertas itu hingga utuh. Aku hanya berharap kelak ia akan menemukan kebahagiaan
lain yang bisa membuatnya kembali utuh dan tidak terluka lagi.”
Suasana lengang. Alfa yang masih
terdiam membuat Renata angkat bicara.
“Fa, kamu percaya nggak kalau kebahagiaan
itu hadir ketika seseorang bertahan pada
pilihannya? Ya anggap aja eperti yang kita alami saat ini. Aku bertahan dengan pilihanku
untuk menjadi single dan kamu bertahan dengan perempuan pilihanmu itu.”
“Aku percaya, Ren. Di mana semua
pilihan yang kita pikir membuahkan kebahagiaan nyatanya tidak berakhir baik.”
“Semua itu bisa terjadi tanpa
diduga. Kalau kamu percaya bahwa pilihanmu itu adalah yang terbaik, ya, serumit apapun kondisi dan keadaan yang kamu alami, kamu akan tetap mendapatkan
kebahagiaanmu itu. Ini juga yang aku yakini sampai saat ini kok.”
“Kamu memang perempuan yang luar
biasa, Ren.”
Renata tersenyum sembari membantu
Alfa untuk memesankan kendaraan online untuknya. Alfa hanya terdiam dan
melihat Renata yang sedang asik berkutat dengan ponselnya.
“Terima kasih, Ren.”
“Terima kasih? Ha-ha. Kamu berterima kasih untuk apa?”
“Karena sudah pernah bersinggah
dalam hidupku.”
Renata tersenyum sembari memberikan
anggukan padanya. Kendaraan online yang sudah dipesan kini sudah berada
di depan mata. Alfa yang masih terdiam kini menatap Renata dengan senyuman.
“Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa, Fa. Semoga kamu bahagia.”
Alfa pun menghilang bersama dengan
kendaraan beroda empat itu. Air mata tiba-tiba saja menetes dari mata Renata. Berat
rasanya menolak kesempatan untuk kembali bersama dengan orang yang tersayang.
Namun, itu tidak menjamin Renata akan mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti
ketika ia memilih untuk berdiri seorang diri. Kini, perjalanan sunyi memberikan
kelegaan pada Renata. Raga Alfa yang perlahan menghilang dan tidak menuai
pertemuan dengannya membuat ia sadar bahwa kebahagiaan bukan hanya berasal dari
lelaki yang ia cinta tetapi juga dari orang-orang di sekitarnya.