“Aku
dimana?” ruangan gelap yang mengurungku seketika membuatku panik.
Tak
ada cahaya sedikit pun selain warna putih dari gelas kepribadian yang terus aku
genggam. Udara dari AC yang terus menghantam punggungku seketika berubah
menjadi udara yang mengerikan. Ya. Aku kedinginan. Kulitku perlahan membiru dan
kepanikanku membuatku seluruh tubuhku menghantamkan dirinya dengan upaya untuk
memecahkan kotak penyiksaan ini. Aku kerahkan seluruh kekuatanku tetapi percuma
saja. Tiba-tiba, ada pancuran air hebat dari atas kepalaku membuatku tak bisa
bernafas karena air itu sudah berhasil masuk melewati rongga hidungku. Aku
terus melawan agar mataku tidak terpejam. Suara alat yang meledak keras
mengacaukan pikiranku.
DUAR!!
“Kebakaran!
Kebakaran!” aku terbangun.
Ya.
Aku bersyukur.
“Seli!”
teriak kakakku sembari mendobrak pintu kamarku dengan keras.
Aku
yang masih terengah-engah melihatnya dengan cucuran keringat yang tidak bisa kukendalikan.
“Kenapa
kamu meninggalkan kompor dalam keadaan menyala!”
Aku
tidak menghiraukannya. Benar. Mimpi buruk itu berhasil menghantuiku.
“Seli!
Jangan pernah pakai peralatan dapur! Aku tidak suka kamu merusak semua
barang-barangku ini!”
BRAK!
Pintu
yang terbanting keras itu berhasil meremukkan tembok kamarku. Ya. Kini sudah
muncul retakan dalam di tampilannya. Aku terus menatap kosong ruang kamarku
sembari mengendalikan nafasku.
Seketika
aku membuka ponsel, aku melihat temanku, Vilia, yang mengirimkan aku pesan.
“Sel, kamu dimana? Aku sudah berada
di tempat yang kamu janjikan. Maaf, aku tidak bisa menunggu terlalu lama
sebentar lagi aku harus pergi.”
Benar.
Aku lupa jika aku sudah berjanji padanya untuk bertemu. Aku membersihkan diri
sembari berpakaian dengan cepat. Karena kecerobohanku, aku memecahkan gelas
kepribadianku yang sangat aku jaga.
Aku
terdiam.
“Kacau!”
teriakku sembari meremas rambutku dan berdiam diri di pojok ruangan.
Seli, maaf aku harus pergi. Aku
harap kamu tidak apa-apa.
Aku
sudah membiarkan Vilia menungguku tiga jam. Aku teman seperti apa? Semua yang
aku lakukan selalu salah dan tidak pernah berjalan baik.
Beberapa
hari setelah liburan berlalu, aku kuliah seperti biasanya. Berbagai masalah aku
temui saat mengatur jadwal perkuliahan yang baru. Hal itu membuatku kembali
tertekan. Vilia hadir dengan raut wajah manis yang selalu aku kecewakan.
“Seli?
Ada apa?”
Aku
tidak mengucapkan sepatah kata apapun selain senyuman.
“Jangan
lupa datang ya? Perkumpulan sederhana itu bermanfaat kok.”
Aku
mengangguk sembari melambaikan tangan padanya.
Ya.
Perkumpulan organisasi mahasiswa baru, yang tak merubah raut wajahku, sudah
tiba.
“Oke
silakan perkenalan.”
“Aku
Vilia.”
“Aku
Yudhis.”
“Aku
Era.”
“Atan.”
“Etha”
“Ala.”
“Ara”
“Emm,
Seli.”
Perkenalan
sederhana itu dibawakan dengan selera humor yang besar sampai-sampai mataku
tertuju pada seorang laki-laki bernama Yudhis. Ia terus bergurau dan membuatku
terus tertawa.
“Bagaimana
Sel?”
“Iya”
“Oke
sampai ketemu besok.” ucap Yudhis dengan sangat ramah.
Aku
menatap pada Vilia. Dia selalu tersenyum memamerkan lesung di pipinya
seakan-akan tidak ada masalah yang dia alami. Apakah hidupnya seindah itu?
Di
sebuah warung kecil, Vilia mentraktirku. Aku senang melihat kebaikannya.
“Vilia.”
“Ya?”
“Apakah
kamu tidak pernah memiliki masalah?”
“Kenapa
berkata begitu?”
“Kamu
selalu tersenyum dan bahagia. Seakan-akan masalah takut menghampirimu.”
“Hmm.
Kau punya ini kan?” tanya Vilia sembari menunjukkan gelas kepribadiannya yang
terisi setengah.
“Oh.
Gelas kepribadianku pecah.”
“Sayang
sekali apakah itu karena aku?”
“Tidak.
Itu hanya karena kecerobohanku. Gelas kepribadianku sangat penuh. Apakah
artinya aku sangat depresi?”
“Apa
kamu merasa begitu?”
“Ya.
Aku selalu mimpi terkurung di suatu tempat yang gelap setiap hari. Hal itu
mengimbaskan aku tidak bisa bergaul dengan siapapun.”
“Seli.
Apa yang kamu rasakan jika gelas kepribadianmu itu penuh?”
“Em,
dia sangat berat.”
“Apakah
selama ini kamu terus mendengar dan menuruti kata-kata orang lain?”
Aku
membisu. Mengapa pertanyaannya seakan-akan menusukku untuk berhenti berbicara?
“Aku
dulu memiliki gelas kepribadian yang penuh. Seketika, aku ingin memberi ruang
kosong dalam gelasku tetapi aku bingung harus melakukan apa. Aku melihat
seorang ibu yang terus mengenggam uangnya dan terus menutup tangannya. Banyak
orang menyindir dan mengatakan bahwa ibu itu pamer. Namun, si ibu tidak peduli
dan tetap menutup tangannya itu. Lalu, apa yang terjadi? Dia memberikan uang
itu pada seorang pekerja yang sedang menyuapi anaknya dengan lauk nasi saja.
Setelah itu, ia bisa menerima hal baru dengan tangan kosongnya itu.”
Aku
terdiam dan terus menatap Vilia.
“Apapun
keadaanmu, apapun perkataan orang, jika apa yang kamu yakini baik lepaskanlah”
“Termasuk
air mata?”
“Ya.
Apapun.”
“Lalu
apa yang harus aku lakukan?”
“Apa
yang ingin kamu lakukan?”
Aku
terdiam. Seketika aku ingin berteriak sembari melempar kotak kaca pemberian
kakakku.
PYAR!
Vilia
terkejut. Ia memelukku. Tangisan dahsyat aku lantunkan tanpa batas. Ya. Aku
menangis dengan sangat keras.
“Awan
rela menjatuhkan butiran-butiran tubuhnya hanya untuk memberikan mata air bagi
manusia yang sedang dilanda kekeringan. Apakah itu berarti segala hal yang
dilepaskan itu berarti buruk?”
Aku
menggeleng sembari mengeringkan mataku yang lebam.
“Bawa
bunga ini, Sel. Meskipun suatu saat nanti kelopaknya akan terlepas, dia tidak
akan hilang dari ingatanmu.”
Senyum
perlahan muncul dengan rangkulan tangan dingin yang membuatku hangat.