untuk : Sellin Sutase ( story request ) foto : flickr  “Aku dimana?” ruangan gelap yang mengurungku seketika membuatku panik. ...

Tekanan yang Berakhir Kelegaan

/
0 Comments




untuk : Sellin Sutase (story request)
foto : flickr 

“Aku dimana?” ruangan gelap yang mengurungku seketika membuatku panik.
Tak ada cahaya sedikit pun selain warna putih dari gelas kepribadian yang terus aku genggam. Udara dari AC yang terus menghantam punggungku seketika berubah menjadi udara yang mengerikan. Ya. Aku kedinginan. Kulitku perlahan membiru dan kepanikanku membuatku seluruh tubuhku menghantamkan dirinya dengan upaya untuk memecahkan kotak penyiksaan ini. Aku kerahkan seluruh kekuatanku tetapi percuma saja. Tiba-tiba, ada pancuran air hebat dari atas kepalaku membuatku tak bisa bernafas karena air itu sudah berhasil masuk melewati rongga hidungku. Aku terus melawan agar mataku tidak terpejam. Suara alat yang meledak keras mengacaukan pikiranku.
DUAR!!
“Kebakaran! Kebakaran!” aku terbangun.
Ya. Aku bersyukur.
“Seli!” teriak kakakku sembari mendobrak pintu kamarku dengan keras.
Aku yang masih terengah-engah melihatnya dengan cucuran keringat yang tidak bisa kukendalikan.
“Kenapa kamu meninggalkan kompor dalam keadaan menyala!”
Aku tidak menghiraukannya. Benar. Mimpi buruk itu berhasil menghantuiku.
“Seli! Jangan pernah pakai peralatan dapur! Aku tidak suka kamu merusak semua barang-barangku ini!”
BRAK!
Pintu yang terbanting keras itu berhasil meremukkan tembok kamarku. Ya. Kini sudah muncul retakan dalam di tampilannya. Aku terus menatap kosong ruang kamarku sembari mengendalikan nafasku.
Seketika aku membuka ponsel, aku melihat temanku, Vilia, yang mengirimkan aku pesan.
“Sel, kamu dimana? Aku sudah berada di tempat yang kamu janjikan. Maaf, aku tidak bisa menunggu terlalu lama sebentar lagi aku harus pergi.”
Benar. Aku lupa jika aku sudah berjanji padanya untuk bertemu. Aku membersihkan diri sembari berpakaian dengan cepat. Karena kecerobohanku, aku memecahkan gelas kepribadianku yang sangat aku jaga.
Aku terdiam.
“Kacau!” teriakku sembari meremas rambutku dan berdiam diri di pojok ruangan.
Seli, maaf aku harus pergi. Aku harap kamu tidak apa-apa.
Aku sudah membiarkan Vilia menungguku tiga jam. Aku teman seperti apa? Semua yang aku lakukan selalu salah dan tidak pernah berjalan baik.
Beberapa hari setelah liburan berlalu, aku kuliah seperti biasanya. Berbagai masalah aku temui saat mengatur jadwal perkuliahan yang baru. Hal itu membuatku kembali tertekan. Vilia hadir dengan raut wajah manis yang selalu aku kecewakan.
“Seli? Ada apa?”
Aku tidak mengucapkan sepatah kata apapun selain senyuman.
“Jangan lupa datang ya? Perkumpulan sederhana itu bermanfaat kok.”
Aku mengangguk sembari melambaikan tangan padanya.
Ya. Perkumpulan organisasi mahasiswa baru, yang tak merubah raut wajahku, sudah tiba.
“Oke silakan perkenalan.”
“Aku Vilia.”
“Aku Yudhis.”
“Aku Era.”
“Atan.”
“Etha”
“Ala.”
“Ara”
“Emm, Seli.”
Perkenalan sederhana itu dibawakan dengan selera humor yang besar sampai-sampai mataku tertuju pada seorang laki-laki bernama Yudhis. Ia terus bergurau dan membuatku terus tertawa.
“Bagaimana Sel?”
“Iya”
“Oke sampai ketemu besok.” ucap Yudhis dengan sangat ramah.
Aku menatap pada Vilia. Dia selalu tersenyum memamerkan lesung di pipinya seakan-akan tidak ada masalah yang dia alami. Apakah hidupnya seindah itu?
Di sebuah warung kecil, Vilia mentraktirku. Aku senang melihat kebaikannya.
“Vilia.”
“Ya?”
“Apakah kamu tidak pernah memiliki masalah?”
“Kenapa berkata begitu?”
“Kamu selalu tersenyum dan bahagia. Seakan-akan masalah takut menghampirimu.”
“Hmm. Kau punya ini kan?” tanya Vilia sembari menunjukkan gelas kepribadiannya yang terisi setengah.
“Oh. Gelas kepribadianku pecah.”
“Sayang sekali apakah itu karena aku?”
“Tidak. Itu hanya karena kecerobohanku. Gelas kepribadianku sangat penuh. Apakah artinya aku sangat depresi?”
“Apa kamu merasa begitu?”
“Ya. Aku selalu mimpi terkurung di suatu tempat yang gelap setiap hari. Hal itu mengimbaskan aku tidak bisa bergaul dengan siapapun.”
“Seli. Apa yang kamu rasakan jika gelas kepribadianmu itu penuh?”
“Em, dia sangat berat.”
“Apakah selama ini kamu terus mendengar dan menuruti kata-kata orang lain?”
Aku membisu. Mengapa pertanyaannya seakan-akan menusukku untuk berhenti berbicara?
“Aku dulu memiliki gelas kepribadian yang penuh. Seketika, aku ingin memberi ruang kosong dalam gelasku tetapi aku bingung harus melakukan apa. Aku melihat seorang ibu yang terus mengenggam uangnya dan terus menutup tangannya. Banyak orang menyindir dan mengatakan bahwa ibu itu pamer. Namun, si ibu tidak peduli dan tetap menutup tangannya itu. Lalu, apa yang terjadi? Dia memberikan uang itu pada seorang pekerja yang sedang menyuapi anaknya dengan lauk nasi saja. Setelah itu, ia bisa menerima hal baru dengan tangan kosongnya itu.”
Aku terdiam dan terus menatap Vilia.
“Apapun keadaanmu, apapun perkataan orang, jika apa yang kamu yakini baik lepaskanlah”
“Termasuk air mata?”
“Ya. Apapun.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
Aku terdiam. Seketika aku ingin berteriak sembari melempar kotak kaca pemberian kakakku.
PYAR!
Vilia terkejut. Ia memelukku. Tangisan dahsyat aku lantunkan tanpa batas. Ya. Aku menangis dengan sangat keras.
“Awan rela menjatuhkan butiran-butiran tubuhnya hanya untuk memberikan mata air bagi manusia yang sedang dilanda kekeringan. Apakah itu berarti segala hal yang dilepaskan itu berarti buruk?”
Aku menggeleng sembari mengeringkan mataku yang lebam.
“Bawa bunga ini, Sel. Meskipun suatu saat nanti kelopaknya akan terlepas, dia tidak akan hilang dari ingatanmu.”
Senyum perlahan muncul dengan rangkulan tangan dingin yang membuatku hangat.





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger