untuk : suidige (story request) foto : flickr Brak! Aku sontak mengalihkan pandanganku sembari berlari mendekati seorang kakek-ka...

Monokrom

/
0 Comments

untuk : suidige (story request)
foto : flickr

Brak! Aku sontak mengalihkan pandanganku sembari berlari mendekati seorang kakek-kakek tua yang terjatuh parah dari becak motornya. Kepanikanku membuat jariku tak sengaja menekan tombol kamera sembari mengeluarkan kilatan cahaya yang mengagetkanku seketika. Darah perlahan mengucur dari kepala kakek-kakek itu. Sontak aku berteriak sembari mencari kendaraan yang bisa menampungku untuk membawa kakek itu ke rumah sakit.
            “Silakan masuk ke mobil saya, Mas.” ucap seorang pria sembari membuka pintu mobilnya untukku.
            Aku mengangguk sembari mengangkat tubuh kakek itu yang terasa semakin berat.
            Hingga tiba di rumah sakit, dokter sesegera mungkin mengobati dan menyelamatkan nyawa kakek itu. Namun, aku terkejut dengan apa yang ada di kameraku saat ini.
            “Mas, orang yang menabrak kakek itu harus bertanggung jawab. Apakah samean mengingat plat nomor atau wajah pelaku?”
            Aku terdiam. Sejak kapan aku memotret wajah penabrak itu dan plat nomor kendaraan truknya? Apakah ketidaksengajaan itu yang membuatku bisa mendapatkan foto bukti ini? Aku masih saja terperanga hingga wajah pria yang menolongku menjadi buram seketika.
            “Mas?”
            “Ah ya. Ini ada foto plat dan wajah pelaku.”
            “Wah, sangat jelas. Saya akan segera melaporkannya ke kantor polisi.”
            Pemindaian data telah selesai. Pria itu memintaku untuk menunggu kabar mengenai kakek itu sampai keluarganya datang berkunjung. Kesepian kembali mengusikku dan dunia imajinasiku berhasil memanjakanku hingga terlelap.
            “Mas?”
            Aku sontak terkejut sembari melihat segerombolan manusia tinggi di hadapanku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan memberikan permohonan maaf pada mereka.
            “Terima kasih, Mas. Karena samean sudah menolong kakek saya.”
            Aku hanya tersenyum sembari pergi dari tempat itu. Ya. Setidaknya ada lima orang yang tersenyum di hadapaku hari ini.
            Lensa kamera kembali aku putar-putar sembari mencari objek yang berhasil menyita perhatianku. Jepret! Kilatan cahaya yang keluar dari kameraku terlihat seperti sesosok teman yang terus memberikan aku dukungan walau hasilnya pun sangatlah buruk. Namun, ia hanya datang sesaat dan hanyalah bayangan semu yang mudah sekali lenyap.
            “Hahahaa!”
            Aku arahkan kameraku sembari memotret perkumpulan mereka yang kini sedang tertawa hebat karena temannya yang baru saja belajar sepeda ontel terperosok ke dalam selokan. Mereka memang menertawakan temannya. Namun, setelah itu, mereka menolong temannya itu sembari mengobati dan memperbaiki sepeda ontelnya yang terlepas. Ya. Kini aku merindukan mereka. Mereka yang aku sebut teman-temanku.
            Nada telefon yang selalu aku tunggu tak membuatku menyerah. Aku bersusah payah menghubungi mereka yang terlihat sedang bahagia di luar sana. Ya. Mereka sudah menemukan pasangan mereka. Aku terus berkhayal akan pertemuan reuni yang aku inginkan saat ini. Apakah khayalanku bisa mengubah segala imajinasiku menjadi keajaiban? Aku masih mengharapkan itu.
            “Halo?”
            “Maaf. Aku tidak bisa bertemu saat ini. Aku sedang sibuk.”
            “Aku akan kencan besok. Aku harap kamu tidak kecewa.”
            “Maaf. Aku di luar kota.”
            Jawaban-jawaban yang sama seperti apa yang aku dengar setahun yang lalu. Keinginanku pun kembali kandas dan kujadikan sebagai mimpi tidur yang indah dalam gelapnya malam di hidupku.
            “Kak!!”
            Teriakan itu menghancurkan sarapanku. Ya. Segelas teh panas menyerang tubuhku dan goresan garpu tajam menusuk gusiku hingga berdarah. Aku menyerah sembari membuka ganggang pintuku.
            “Kak! Kak! Kak!”
            Aku terus meremas pipiku yang semakin sakit karena luka pada gusi itu. Aku hanya melihatnya diam tanpa berkata apapun.
            “Ada orang yang meneror rumahku! Setiap pukul tiga pagi, aku selalu mendapatkan surat dengan tulisan kebahagianmu akan hilang dengan tinta merah darah yang membuat kertas itu terlihat sangat menyeramkan. Kemudian, setelah kertas itu aku pegang, boneka tanpa kepala terlempar masuk ke dalam kamarku. Aku takut, Kak.”
            “Lalu, aku harus apa?” tanyaku membuatnya kesal.
            “Kakak sudah menolong kakek-kakek tua itu menangkap penabrak tidak bertanggung jawab itu. Itu berarti kakak juga bisa membantuku menangkap peneror itu.”
            “Aku melakukan itu dengan unsur ketidaksengajaan bukan unsur sengaja.”
            “Aku tidak peduli. Aku sudah mempercayaimu dan aku ingin bukti malam ini juga.”
            “Liana! Kamu tidak boleh sembarangan memilih orang!”
            “Aku sudah mempercayai seorang teman yang bernama Krista.”
            Aku terdiam sembari mengeluh sakit pada gusiku yang belum juga pulih. Aku menatap kosong kamera yang telah terisi penuh di hadapanku saat ini. Akankah aku bisa menemukan peneror itu?
            Aku mulai kembali bersantai sembari berjalan berkeliling kota dengan kembali memotret segala kejadian di jalan. Seorang kakak beradik yang sedang berada di toko baju terlihat saling berebut sembari mengeluarkan kata-kata yang menggemaskan.
            “Aku mau itu!”
            “Aku tidak mau itu!”
            “Lalu apa maksudmu sudah merebut bajuku?”
            “Aku tidak tahu! Berikan!”
            “Ah!” gadis itu terjatuh dan gaun itu berhasil direbut oleh anak laki-laki itu.
            “Apakah aku lucu?”
`           “Bah! Apakah kamu hanya ingin mempermalukan dirimu sendiri?”
            “Bah! Memangnya kenapa? Sehari ini kamu terus merengut.  Lihat, kamu sekarang menertawakanku kan?”
            Aku tersenyum sembari memotret kakak beradik itu yang kini saling menyebarkan senyuman mereka satu sama lain.
            “Krista!”
            Aku mengalihkan pandanganku sembari melihat dua temanku yang telah aku impikan menghampiriku.
            “Eh, kenapa ada disini?”
            “Memangnya kenapa?”
            “Bukankah kamu..”
            Mereka terlihat gugup sembari berusaha melepaskan genggaman mesra mereka.
            “Kenapa dilepas?”
            “Sebentar. Bisakah kamu menungguku disana? Aku mau berbicara dengan temanku ini.”
            “Tidak! Aku tidak bisa. Urusanmu adalah urusanku.”
            Aku hanya tertawa.
            “Nikmati saja masa-masamu ini kawan. Seharusnya kamu bisa lebih bahagia daripada aku si pemegang rekor jomblo akut di SMA bukan?”
            “Eh, Kris, bukan seperti itu.”
            “Ya. Aku percaya bahwa kamu benar-benar berada di luar kota. Apakah ingin berangkat sekarang? Atau bahkan sudah kembali beberapa hari lalu? Dan kesibukanmu benar-benar membuatku sadar bahwa liburan bukan hanya untuk bersenang-senang tetapi juga tetap menekuni bakat agar bisa lebih produktif. Terima kasih kawan.”
            Mereka mematung tanpa berani menatap wajahku. Seorang anak remaja yang sedang bermain skateboard tiba-tiba saja menyita perhatianku. Ia melambung sangat tinggi. Aku pun memotretnya dengan gesit dan membuat anak itu menatapku.
            “Eh, mas. Apa tadi mas memotret saya?”
            “Iya.” ucapku sembari memperlihatkan hasil fotoku padanya.
            Dia terlihat sangat senang.
            “Mas, apakah aku bisa memilikinya?”
            Aku pun mengangguk sembari mencetak foto di dalam studio foto dan memberikannya pada anak laki-laki itu.
            “Wah! Terima kasih, Mas!” teriak anak laki-laki itu dengan penuh semangat.
            Aku tak mempedulikan kedua temanku itu. Aku terus berjalan sembari kembali fokus pada kamera yang kembali menyita perhatianku ini.
            Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku mengendap-endap sembari bersiap di balik pohon rumah Liana. Kamera yang sudah aku persiapkan benar-benar mendukung misiku kali ini. Gelapnya malam tak menghalangi penerangan kamera sehingga hasil fotonya tetap terang.
            Seseorang datang dengan membawa boneka tanpa kepala dan selembar kertas yang penuh dengan tinta merah. Aku memotretnya berulang kali di sudut pandang yang berbeda-beda tanpa ketakutan sedikit pun. Ya. Aku berhasil memotret wajahnya dengan jelas. Kini, aku harus mampu menghentikan aksinya meskipun aku tak tahu bagaimana  caranya. Flash kamera kubuat sangat terang sembari berjalan mendekati peneror itu. Aku mendapatkan tatapan wajah yang sangat mengerikan. Ia kini menutup wajahnya dengan topeng.
            Jepret! Kilatan cahaya berhasil membutakan penglihatannya dalam sekejap. Aku berlari sembari membakar barang yang ia bawa itu. Teriakan peneror itu membuat seisi rumah Liana terkejut dan berlari ke luar. Ya. Seperti apa yang aku duga. Peneror itu berhasil melarikan diri.
            “Kak!!!”
            Lagi-lagi Liana berteriak tanpa aturan di depan rumahku. Bukan garpu yang kini melukaiku, tetapi tongkat pel berhasil memerahkan dahiku. Ya. Aku terkejut.
            “Kak! Terima kasih!” teriaknya sembari memelukku dengan kencang.
“Sekarang kamu senang?”
“Tentu saja. Aku pastikan kakak juga akan senang.”
            “Apa maksudmu?”
            “Rekan kerja ayahku sangat menyukai karya foto kakak. Ia berkata bahwa foto kakak sangat keren dan nilai seninya sangat tinggi. Itu membuat mereka ingin memberikan lahan studio foto untuk kak Krista. Ya. Aku sudah menyetujuinya dan kakak hanya perlu menata studio itu seperti apa yang kakak inginkan. Perihal percetakan foto? Semua sudah tersedia di sana gratis untukmu. Ya. Anggap saja ini sebagai balas jasa karena telah menolongku.”
            Aku terdiam. Ya. Aku kini benar-benar memiliki studio foto pribadi.
            Studio ‘Monokrom’ resmi dibuka. Banyak pengunjung datang disaat aku melakukan potong pita di luar studioku. Mereka tersenyum senang melihat keberadaanku. Bilik-bilik foto dengan berbagai suasana berbeda aku berikan pada mereka. Bilik pertama tentang penangkapan. Penangkapan berupa potret pencuri dan kecelakaan-kecelakaan yang ada terpampang di dinding itu. Tentu suasana yang tergambar menggunakan cahaya yang kurang terang. Bilik-bilik yang lain juga mampu aku berikan yakni air mata, ketulusan, harapan, dan pemaksaan. Ya. Semua ekspresi para pengunjung yang hadir secara tidak sengaja telah aku rekam dalam gambar dua dimensiku.
            “Wah. Aku gak nyangka kamu bisa memiliki studio foto sebesar ini!”
            “Kamu memang teman terbaik. Kita harus berkumpul suatu saat nanti!”

            Aku terdiam tanpa mempedulikan mereka sembari membalikkan papan tutup dengan diiringi tirai merah yang menutupi jendela di seluruh studioku. Selesai.





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger