Brak! Aku sontak mengalihkan pandanganku
sembari berlari mendekati seorang kakek-kakek tua yang terjatuh parah dari
becak motornya. Kepanikanku membuat jariku tak sengaja menekan tombol kamera
sembari mengeluarkan kilatan cahaya yang mengagetkanku seketika. Darah perlahan
mengucur dari kepala kakek-kakek itu. Sontak aku berteriak sembari mencari
kendaraan yang bisa menampungku untuk membawa kakek itu ke rumah sakit.
“Silakan masuk ke mobil saya, Mas.”
ucap seorang pria sembari membuka pintu mobilnya untukku.
Aku mengangguk sembari mengangkat
tubuh kakek itu yang terasa semakin berat.
Hingga tiba di rumah sakit, dokter
sesegera mungkin mengobati dan menyelamatkan nyawa kakek itu. Namun, aku
terkejut dengan apa yang ada di kameraku saat ini.
“Mas, orang yang menabrak kakek itu
harus bertanggung jawab. Apakah samean mengingat plat nomor atau wajah pelaku?”
Aku terdiam. Sejak kapan aku
memotret wajah penabrak itu dan plat nomor kendaraan truknya? Apakah
ketidaksengajaan itu yang membuatku bisa mendapatkan foto bukti ini? Aku masih
saja terperanga hingga wajah pria yang menolongku menjadi buram seketika.
“Mas?”
“Ah ya. Ini ada foto plat dan wajah
pelaku.”
“Wah, sangat jelas. Saya akan segera
melaporkannya ke kantor polisi.”
Pemindaian data telah selesai. Pria
itu memintaku untuk menunggu kabar mengenai kakek itu sampai keluarganya datang
berkunjung. Kesepian kembali mengusikku dan dunia imajinasiku berhasil
memanjakanku hingga terlelap.
“Mas?”
Aku sontak terkejut sembari melihat
segerombolan manusia tinggi di hadapanku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan
memberikan permohonan maaf pada mereka.
“Terima kasih, Mas. Karena samean
sudah menolong kakek saya.”
Aku hanya tersenyum sembari pergi
dari tempat itu. Ya. Setidaknya ada lima orang yang tersenyum di hadapaku hari
ini.
Lensa kamera kembali aku putar-putar
sembari mencari objek yang berhasil menyita perhatianku. Jepret! Kilatan cahaya yang keluar dari kameraku terlihat seperti
sesosok teman yang terus memberikan aku dukungan walau hasilnya pun sangatlah
buruk. Namun, ia hanya datang sesaat dan hanyalah bayangan semu yang mudah
sekali lenyap.
“Hahahaa!”
Aku arahkan kameraku sembari
memotret perkumpulan mereka yang kini sedang tertawa hebat karena temannya yang
baru saja belajar sepeda ontel terperosok ke dalam selokan. Mereka memang
menertawakan temannya. Namun, setelah itu, mereka menolong temannya itu sembari
mengobati dan memperbaiki sepeda ontelnya yang terlepas. Ya. Kini aku
merindukan mereka. Mereka yang aku sebut teman-temanku.
Nada telefon yang selalu aku tunggu
tak membuatku menyerah. Aku bersusah payah menghubungi mereka yang terlihat
sedang bahagia di luar sana. Ya. Mereka sudah menemukan pasangan mereka. Aku
terus berkhayal akan pertemuan reuni yang aku inginkan saat ini. Apakah khayalanku
bisa mengubah segala imajinasiku menjadi keajaiban? Aku masih mengharapkan itu.
“Halo?”
“Maaf. Aku tidak bisa bertemu saat
ini. Aku sedang sibuk.”
“Aku akan kencan besok. Aku harap
kamu tidak kecewa.”
“Maaf. Aku di luar kota.”
Jawaban-jawaban yang sama seperti
apa yang aku dengar setahun yang lalu. Keinginanku pun kembali kandas dan
kujadikan sebagai mimpi tidur yang indah dalam gelapnya malam di hidupku.
“Kak!!”
Teriakan itu menghancurkan
sarapanku. Ya. Segelas teh panas menyerang tubuhku dan goresan garpu tajam
menusuk gusiku hingga berdarah. Aku menyerah sembari membuka ganggang pintuku.
“Kak! Kak! Kak!”
Aku terus meremas pipiku yang
semakin sakit karena luka pada gusi itu. Aku hanya melihatnya diam tanpa
berkata apapun.
“Ada orang yang meneror rumahku!
Setiap pukul tiga pagi, aku selalu mendapatkan surat dengan tulisan kebahagianmu akan hilang dengan tinta
merah darah yang membuat kertas itu terlihat sangat menyeramkan. Kemudian,
setelah kertas itu aku pegang, boneka tanpa kepala terlempar masuk ke dalam
kamarku. Aku takut, Kak.”
“Lalu, aku harus apa?” tanyaku
membuatnya kesal.
“Kakak sudah menolong kakek-kakek
tua itu menangkap penabrak tidak bertanggung jawab itu. Itu berarti kakak juga
bisa membantuku menangkap peneror itu.”
“Aku melakukan itu dengan unsur
ketidaksengajaan bukan unsur sengaja.”
“Aku tidak peduli. Aku sudah
mempercayaimu dan aku ingin bukti malam ini juga.”
“Liana! Kamu tidak boleh sembarangan
memilih orang!”
“Aku sudah mempercayai seorang teman
yang bernama Krista.”
Aku terdiam sembari mengeluh sakit pada gusiku yang belum juga pulih. Aku menatap kosong kamera yang telah terisi
penuh di hadapanku saat ini. Akankah aku bisa menemukan peneror itu?
Aku mulai kembali bersantai sembari
berjalan berkeliling kota dengan kembali memotret segala kejadian di jalan.
Seorang kakak beradik yang sedang berada di toko baju terlihat saling berebut
sembari mengeluarkan kata-kata yang menggemaskan.
“Aku mau itu!”
“Aku tidak mau itu!”
“Lalu apa maksudmu sudah merebut bajuku?”
“Aku tidak tahu! Berikan!”
“Ah!” gadis itu terjatuh dan gaun
itu berhasil direbut oleh anak laki-laki itu.
“Apakah aku lucu?”
` “Bah! Apakah kamu hanya ingin
mempermalukan dirimu sendiri?”
“Bah! Memangnya kenapa? Sehari ini
kamu terus merengut. Lihat, kamu
sekarang menertawakanku kan?”
Aku tersenyum sembari memotret kakak
beradik itu yang kini saling menyebarkan senyuman mereka satu sama lain.
“Krista!”
Aku mengalihkan pandanganku sembari
melihat dua temanku yang telah aku impikan menghampiriku.
“Eh, kenapa ada disini?”
“Memangnya kenapa?”
“Bukankah kamu..”
Mereka terlihat gugup sembari
berusaha melepaskan genggaman mesra mereka.
“Kenapa dilepas?”
“Sebentar. Bisakah kamu menungguku
disana? Aku mau berbicara dengan temanku ini.”
“Tidak! Aku tidak bisa. Urusanmu
adalah urusanku.”
Aku hanya tertawa.
“Nikmati saja masa-masamu ini kawan.
Seharusnya kamu bisa lebih bahagia daripada aku si pemegang rekor jomblo akut
di SMA bukan?”
“Eh, Kris, bukan seperti itu.”
“Ya. Aku percaya bahwa kamu
benar-benar berada di luar kota. Apakah ingin berangkat sekarang? Atau bahkan
sudah kembali beberapa hari lalu? Dan kesibukanmu benar-benar membuatku sadar
bahwa liburan bukan hanya untuk bersenang-senang tetapi juga tetap menekuni bakat
agar bisa lebih produktif. Terima kasih kawan.”
Mereka mematung tanpa berani menatap
wajahku. Seorang anak remaja yang sedang bermain skateboard tiba-tiba saja menyita perhatianku. Ia melambung sangat
tinggi. Aku pun memotretnya dengan gesit dan membuat anak itu menatapku.
“Eh, mas. Apa tadi mas memotret
saya?”
“Iya.” ucapku sembari memperlihatkan
hasil fotoku padanya.
Dia terlihat sangat senang.
“Mas, apakah aku bisa memilikinya?”
Aku pun mengangguk sembari mencetak
foto di dalam studio foto dan memberikannya pada anak laki-laki itu.
“Wah! Terima kasih, Mas!” teriak
anak laki-laki itu dengan penuh semangat.
Aku tak mempedulikan kedua temanku
itu. Aku terus berjalan sembari kembali fokus pada kamera yang kembali menyita
perhatianku ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku mengendap-endap sembari bersiap di balik pohon rumah Liana. Kamera
yang sudah aku persiapkan benar-benar mendukung misiku kali ini. Gelapnya malam
tak menghalangi penerangan kamera sehingga hasil fotonya tetap terang.
Seseorang datang dengan membawa
boneka tanpa kepala dan selembar kertas yang penuh dengan tinta merah. Aku
memotretnya berulang kali di sudut pandang yang berbeda-beda tanpa ketakutan
sedikit pun. Ya. Aku berhasil memotret wajahnya dengan jelas. Kini, aku harus
mampu menghentikan aksinya meskipun aku tak tahu bagaimana caranya. Flash
kamera kubuat sangat terang sembari berjalan mendekati peneror itu. Aku
mendapatkan tatapan wajah yang sangat mengerikan. Ia kini menutup wajahnya
dengan topeng.
Jepret!
Kilatan cahaya berhasil membutakan penglihatannya dalam sekejap. Aku berlari
sembari membakar barang yang ia bawa itu. Teriakan peneror itu membuat seisi rumah
Liana terkejut dan berlari ke luar. Ya. Seperti apa yang aku duga. Peneror itu berhasil melarikan diri.
“Kak!!!”
Lagi-lagi Liana berteriak tanpa
aturan di depan rumahku. Bukan garpu yang kini melukaiku, tetapi tongkat pel
berhasil memerahkan dahiku. Ya. Aku terkejut.
“Kak! Terima kasih!” teriaknya
sembari memelukku dengan kencang.
“Sekarang kamu senang?”
“Tentu saja. Aku pastikan kakak juga akan senang.”
“Apa maksudmu?”
“Rekan kerja ayahku sangat menyukai
karya foto kakak. Ia berkata bahwa foto kakak sangat keren dan nilai seninya sangat tinggi.
Itu membuat mereka ingin memberikan lahan studio foto untuk kak Krista. Ya. Aku
sudah menyetujuinya dan kakak hanya perlu menata studio itu seperti apa yang
kakak inginkan. Perihal percetakan foto? Semua sudah tersedia di sana gratis
untukmu. Ya. Anggap saja ini sebagai balas jasa karena telah menolongku.”
Aku terdiam. Ya. Aku kini
benar-benar memiliki studio foto pribadi.
Studio ‘Monokrom’ resmi dibuka. Banyak
pengunjung datang disaat aku melakukan potong pita di luar studioku. Mereka
tersenyum senang melihat keberadaanku. Bilik-bilik foto dengan berbagai suasana
berbeda aku berikan pada mereka. Bilik pertama tentang penangkapan. Penangkapan
berupa potret pencuri dan kecelakaan-kecelakaan yang ada terpampang di dinding
itu. Tentu suasana yang tergambar menggunakan cahaya yang kurang terang.
Bilik-bilik yang lain juga mampu aku berikan yakni air mata, ketulusan,
harapan, dan pemaksaan. Ya. Semua ekspresi para pengunjung yang hadir secara
tidak sengaja telah aku rekam dalam gambar dua dimensiku.
“Wah. Aku gak nyangka kamu bisa
memiliki studio foto sebesar ini!”
“Kamu memang teman terbaik. Kita
harus berkumpul suatu saat nanti!”
Aku terdiam tanpa mempedulikan
mereka sembari membalikkan papan tutup dengan diiringi tirai merah yang
menutupi jendela di seluruh studioku. Selesai.