untuk : Sella (story request) foto : flickr Kini hanya tersisa foto wajah manismu saja. Tidak ada lagi tawamu dalam humorku. Tidak ad...

Raga yang Baru

/
0 Comments
untuk : Sella (story request)
foto : flickr


Kini hanya tersisa foto wajah manismu saja. Tidak ada lagi tawamu dalam humorku. Tidak ada Liya dalam buku kehidupanku ini lagi.
“Hiburlah dirimu, Al.” pinta Lexa mengguncang tubuhku perlahan.
“Untuk apa?” balasku lemas sembari terus menatap peti cantik milik Liya.
Lexa terdiam sembari menatapku penuh duka.
“Apa kamu tahu ini?”
“Apa itu, Al?”
“Ini kertas. Apa yang kamu lakukan jika ada kertas?”
“Aku menulis atau menggambarinya sesukaku.”
“Jika kamu bosan, apa kamu mengambil kertas baru yang lain?”
“Ya tentu saja.”
“Apakah suasana hatimu sama seperti tulisan atau lukisanmu di kertas sebelumnya?”
“Tidak.” Lexa kini menatapku dalam-dalam.
“Aku bisa saja bersenang-senang dengan teman lama dan melupakan Liya. Namun, aku tidak bisa mengulang lembaran kenangan itu kembali bersama Liya. Kini, aku adalah kertas yang sedang merangkul erat lukisan terindah yang perlahan buram berangsur samar dalam ragaku.”
Lexa terdiam dan mengangguk.
“Kamu juga harus bangga karena kematian Liya merupakan keselamatan temanmu juga. Dia pernah berkata padaku bahwa dia sangat bahagia jika memiliki kesempatan untuk menyelamatkan orang terdekatnya. Ya. Tuhan mengabulkan permohonannya itu.”
Aku hanya tersenyum samar sembari menatap Lexa yang perlahan menitikkan air mata. Aku tak melakukan apapun selain menyodorkan setangkai bunga mawar layu padanya.
“Anggap saja dia masih hidup. Kamu akan tetap bisa merasakan keindahannya walaupun dia kelak akan menjadi busuk. Kini, wujudnya sudah berada di tempat megah nan mewah tanpa ada rasa sakit. Ya. Kamu harus percaya bahwa dia kini bahagia walaupun raganya sudah tiada.”
Lexa menangis semakin kencang. Perlahan aku mempersilakan dirinya untuk memelukku. Ya. Air matanya membasahi kerah jaketku dengan hebat. Dengan sekuat tenaga, aku menahan air mata yang ternyata juga ingin mengeluarkan kehebatannya dari mataku. Kini, hanya tersisa aku, Lexa, dan peti cantik yang sudah melebur bersama kebaikannya yang tidak terhingga.
Bencana lumpur yang melanda sebuah kota di dekat perbukitan itu, membuat kami bekerja keras siang malam untuk membersihkan lokasi.
“Al! Hentikan pekerjaanmu itu. Ayo, kita makan siang.” ucap salah satu rekanku sembari menepuk pundakku pelan.
Aku mengangguk sembari mengemasi peralatan kerjaku. Aku pun melangkahkan kaki tepat di belakangku rekanku itu. Namun, tiba di dekat tenda, aku sontak mengalihkan langkahku menuju sebuah sungai yang lumayan jauh dari tempat penampungan itu. Hal itu  membuat kakiku berlari semakin kencang guna menghindari mata yang melihat kepergianku ini. Sampai di sungai, aku lantas memasukkan tanganku ke dalam sungai itu sembari perlahan tersenyum tanpa alasan. Aku merasakan seolah-olah wujud dari Liya saat ini berada tepat di sebelahku sembari menggenggam lembut tanganku. Aku bahagia.
Senja menyambut kesepianku dengan sangat indah. Corak langit yang keunguan membuatku makin terkesima. Bintang-bintang tak pernah malu tuk menampilkan keindahan pada fisiknya bertaburan menghiasi angkasa. Ya. Tenda tempat kami menginap bersama 5 orang teman mengukir segala kenangan indah saat itu.
“Le. Kenapa kamu rela mengajakku ke Bromo padahal kamu tidak punya waktu hari ini?”
“Kebetulan teman-teman smpku mengajakku ke Bromo. Kebetulan juga kedua sahabatku tidak bisa hadir saat ini karena urusan pekerjaan mereka.”
“Aku merasa tidak enak dengan teman-temanmu. Ayo, bergabunglah dengan mereka, Le.”
“Dan meninggalkanmu sendirian disini? Tidak.”
“Aku takut kamu menjadi bahan pembicaraan mereka.”
Aku pun menoleh sembari memanggil mereka.
“Santai wae, Li. Kami sudah menghabiskan banyak waktu sebelum ke tempat ini.”
“Nikmati saja waktumu, Li. Aku tahu perlu peradaban untuk melihat dunia luar.”
Aku melihat wajah merah dari Liya karena tingkahku sehingga membuatnya terus menutupi wajahnya.
“Lihat? Masihkah kamu ragu?”
Liya sontak menggeleng sembari menengadah ke atas.
“Apa yang kamu lihat?”
“Ya, bintang.”
“Oh jadi kamu masih bisa tahu bintang walau kamu hanya di rumah?”
“Ya pastilah!”
Aku tertawa.
“Al?” ucap seseorang membuatku terbangun dari tidurku.
“Kenapa kamu ada disini?” tanya Lexa membuatku gelagapan.
Aku merenggangkan tubuhku sembari melihat matahari yang sudah menerangi daratan tempatku berbaring. Aku beranjak dan berjalan menuju perairan sungai untuk membasahi wajahku.
“Maaf, aku terlambat.”
“Al.” panggil Lexa sembari memberikan sebuah rantang panjang untukku.
“Untuk apa?”
“Tadi malam, Liya hadir dalam mimpiku. Dia berkata bahwa kamu tidak baik-baik saja. Saat aku terbangun, aku bertanya pada kakakku bahwa kamu selalu melewatkan jam makan siang dan makan malam selama 4 minggu ini. Aku harap kamu mau membawa rantang ini, Le.”
“Oh”
Lexa terlihat geram denganku. Namun, aku tidak mempedulikannya.
“Al. Apakah Liya senang dengan tempat ini?”
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Dulu, dia sering menceritakanmu di tepi sungai ini.”
Aku mulai tertarik pada topik yang dibawakan oleh Lexa.
“Walaupun begitu, ia terus memberikanku kesempatan untuk berbicara. Ya. Liya memanglah orang yang baik. Saking baiknya, sampai-sampai ia masuk ke dalam mimpiku dengan mengucapkan permisi.”
“Permisi?”
“Ya. Sebelum dia mengatakan hal itu, dia tiba-tiba menyentuh pundakku dan mengatakan permisi Lexa. Aku menyesal tidak memeluknya saat itu.”
Lexa adalah sahabat terbaikku, Le. Dia adalah satu-satunya teman yang tidak meninggalkanku meskipun aku memiliki banyak kekurangan seperti ini. Jangan salahkan dia jika ia bersikap peduli padamu. Itu karena dia sama seperti aku.
Aku sontak melotot sembari merasakan degup jantungku yang sangat cepat. Lexa terkejut sembari berhenti berbicara.
“Kenapa kamu kesini, Xa?”
“Apa kamu sudah baik-baik saja?” tanya Lexa kembali padaku.
“Memangnya kenapa?”
“Maaf jika aku tidak bisa menyaring perkataanku sendiri sehingga membuatmu terkejut seperti itu.”
Aku tertawa.
“Kenapa tertawa?”
“Bagaimana bisa perkataan disaring? Aku hanya tahu saringan kelapa saja. Apa kamu menginginkannya?”
“Bukan begitu.”
“Mengapa wajahmu seperti itu? Wajahmu kini sama seperti matahari itu.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Sama-sama berwarna merah.”






Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger