Kini hanya tersisa foto wajah manismu saja. Tidak
ada lagi tawamu dalam humorku. Tidak ada Liya dalam buku kehidupanku ini lagi.
“Hiburlah dirimu, Al.” pinta Lexa mengguncang
tubuhku perlahan.
“Untuk apa?” balasku lemas sembari terus menatap
peti cantik milik Liya.
Lexa terdiam sembari menatapku penuh duka.
“Apa kamu tahu ini?”
“Apa itu, Al?”
“Ini kertas. Apa yang kamu lakukan jika ada kertas?”
“Aku menulis atau menggambarinya sesukaku.”
“Jika kamu bosan, apa kamu mengambil kertas baru
yang lain?”
“Ya tentu saja.”
“Apakah suasana hatimu sama seperti tulisan atau
lukisanmu di kertas sebelumnya?”
“Tidak.” Lexa kini menatapku dalam-dalam.
“Aku bisa saja bersenang-senang dengan teman lama
dan melupakan Liya. Namun, aku tidak bisa mengulang lembaran kenangan itu
kembali bersama Liya. Kini, aku adalah kertas yang sedang merangkul erat
lukisan terindah yang perlahan buram berangsur samar dalam ragaku.”
Lexa terdiam dan mengangguk.
“Kamu juga harus bangga karena kematian Liya
merupakan keselamatan temanmu juga. Dia pernah berkata padaku bahwa dia sangat
bahagia jika memiliki kesempatan untuk menyelamatkan orang terdekatnya. Ya.
Tuhan mengabulkan permohonannya itu.”
Aku hanya tersenyum samar sembari menatap Lexa yang
perlahan menitikkan air mata. Aku tak melakukan apapun selain menyodorkan
setangkai bunga mawar layu padanya.
“Anggap saja dia masih hidup. Kamu akan tetap bisa
merasakan keindahannya walaupun dia kelak akan menjadi busuk. Kini, wujudnya
sudah berada di tempat megah nan mewah tanpa ada rasa sakit. Ya. Kamu harus
percaya bahwa dia kini bahagia walaupun raganya sudah tiada.”
Lexa menangis semakin kencang. Perlahan aku
mempersilakan dirinya untuk memelukku. Ya. Air matanya membasahi kerah jaketku
dengan hebat. Dengan sekuat tenaga, aku menahan air mata yang ternyata juga
ingin mengeluarkan kehebatannya dari mataku. Kini, hanya tersisa aku, Lexa, dan
peti cantik yang sudah melebur bersama kebaikannya yang tidak terhingga.
Bencana lumpur yang melanda sebuah kota di dekat
perbukitan itu, membuat kami bekerja keras siang malam untuk membersihkan
lokasi.
“Al! Hentikan pekerjaanmu itu. Ayo, kita makan
siang.” ucap salah satu rekanku sembari menepuk pundakku pelan.
Aku mengangguk sembari mengemasi peralatan kerjaku.
Aku pun melangkahkan kaki tepat di belakangku rekanku itu. Namun, tiba di dekat
tenda, aku sontak mengalihkan langkahku menuju sebuah sungai yang lumayan jauh
dari tempat penampungan itu. Hal itumembuat kakiku berlari semakin kencang guna menghindari mata yang
melihat kepergianku ini. Sampai di sungai, aku lantas memasukkan tanganku ke
dalam sungai itu sembari perlahan tersenyum tanpa alasan. Aku merasakan
seolah-olah wujud dari Liya saat ini berada tepat di sebelahku sembari
menggenggam lembut tanganku. Aku bahagia.
Senja menyambut
kesepianku dengan sangat indah. Corak langit yang keunguan membuatku makin
terkesima. Bintang-bintang tak pernah malu tuk menampilkan keindahan pada
fisiknya bertaburan menghiasi angkasa. Ya. Tenda tempat kami menginap bersama 5
orang teman mengukir segala kenangan indah saat itu.
“Le. Kenapa kamu
rela mengajakku ke Bromo padahal kamu tidak punya waktu hari ini?”
“Kebetulan
teman-teman smpku mengajakku ke Bromo. Kebetulan juga kedua sahabatku tidak
bisa hadir saat ini karena urusan pekerjaan mereka.”
“Aku merasa tidak
enak dengan teman-temanmu. Ayo, bergabunglah dengan mereka, Le.”
“Dan
meninggalkanmu sendirian disini? Tidak.”
“Aku takut kamu
menjadi bahan pembicaraan mereka.”
Aku pun menoleh
sembari memanggil mereka.
“Santai wae, Li.
Kami sudah menghabiskan banyak waktu sebelum ke tempat ini.”
“Nikmati saja
waktumu, Li. Aku tahu perlu peradaban untuk melihat dunia luar.”
Aku melihat
wajah merah dari Liya karena tingkahku sehingga membuatnya terus menutupi
wajahnya.
“Lihat? Masihkah
kamu ragu?”
Liya sontak
menggeleng sembari menengadah ke atas.
“Apa yang kamu
lihat?”
“Ya, bintang.”
“Oh jadi kamu
masih bisa tahu bintang walau kamu hanya di rumah?”
“Ya pastilah!”
Aku tertawa.
“Al?” ucap seseorang membuatku terbangun dari
tidurku.
“Kenapa kamu ada disini?” tanya Lexa membuatku
gelagapan.
Aku merenggangkan tubuhku sembari melihat matahari
yang sudah menerangi daratan tempatku berbaring. Aku beranjak dan berjalan
menuju perairan sungai untuk membasahi wajahku.
“Maaf, aku terlambat.”
“Al.” panggil Lexa sembari memberikan sebuah rantang
panjang untukku.
“Untuk apa?”
“Tadi malam, Liya hadir dalam mimpiku. Dia berkata
bahwa kamu tidak baik-baik saja. Saat aku terbangun, aku bertanya pada kakakku
bahwa kamu selalu melewatkan jam makan siang dan makan malam selama 4 minggu
ini. Aku harap kamu mau membawa rantang ini, Le.”
“Oh”
Lexa terlihat geram denganku. Namun, aku tidak
mempedulikannya.
“Al. Apakah Liya senang dengan tempat ini?”
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Dulu, dia sering menceritakanmu di tepi sungai
ini.”
Aku mulai tertarik pada topik yang dibawakan oleh
Lexa.
“Walaupun begitu, ia terus memberikanku kesempatan
untuk berbicara. Ya. Liya memanglah orang yang baik. Saking baiknya,
sampai-sampai ia masuk ke dalam mimpiku dengan mengucapkan permisi.”
“Permisi?”
“Ya. Sebelum dia mengatakan hal itu, dia tiba-tiba
menyentuh pundakku dan mengatakan permisi Lexa. Aku menyesal tidak memeluknya
saat itu.”
Lexa adalah
sahabat terbaikku, Le. Dia adalah satu-satunya teman yang tidak meninggalkanku
meskipun aku memiliki banyak kekurangan seperti ini. Jangan salahkan dia jika
ia bersikap peduli padamu. Itu karena dia sama seperti aku.
Aku sontak melotot sembari merasakan degup jantungku
yang sangat cepat. Lexa terkejut sembari berhenti berbicara.
“Kenapa kamu kesini, Xa?”
“Apa kamu sudah baik-baik saja?” tanya Lexa kembali
padaku.
“Memangnya kenapa?”
“Maaf jika aku tidak bisa menyaring perkataanku sendiri
sehingga membuatmu terkejut seperti itu.”
Aku tertawa.
“Kenapa tertawa?”
“Bagaimana bisa perkataan disaring? Aku hanya tahu
saringan kelapa saja. Apa kamu menginginkannya?”
“Bukan begitu.”
“Mengapa wajahmu seperti itu? Wajahmu kini sama
seperti matahari itu.”