Suara bel pintu membuat pola dudukku berpindah. Tatapan
aku alihkan lebih cepat daripada angin yang melintas tepat di pintu kaca
restoran terkenal di kota ini. Lalu
lalang banyak manusia membuat mataku menjadi semakin sensitif. Tanpa sadar,
semua wajah aku rekam dengan gesit dalam pikiranku. Namun sayang, semuanya
tidak terdefinisi dalam pikiranku karena manusia spesial itu belum juga datang.
“Buka. Tutup. Buka. Tutup.” batinku
sembari terus melihat pintu kaca yang tak berhenti terbuka setiap detiknya.
Tiga gelas minuman dingin dengan
krim sudah memenuhi isi lambungku. Tak heran jika aku terus pergi ke toilet
sembari tetap menatap ke arah pintu itu. Suara ponsel yang menggetarkan saku
jaketku membuatku sontak mengambilnya dengan cepat.
Maaf.
Aku tidak bisa datang ke restoran itu. Aku sedang sibuk.
Lima kali ajakanku telah ditolak
oleh pasanganku sendiri. Dia adalah Yuni. Wanita yang berparas cantik,
berhijab, dan menarik di mataku. Entah apakah mata lain juga menanggapi
penampilan Yuni dengan pendapat yang sama sepertiku atau tidak. Tidak ada yang
tahu. Kali ini, aku memutuskan untuk berdiam di restoran ini sembari
menyingkirkan kekecewaan yang kembali menyerangku hingga penat.
Pagi yang berbeda tentunya. Aku
memilih untuk diam jika ada pertemuan di kampus dengan wanita itu.
“Yuni!” teman sekelasku
berbondong-bondong mengerumuni wanita yang ternyata berada di sebelahku.
Yuni berlari menuju teman-temannya
sembari menampilkan wajah ceria yang ia miliki.
“Yun!” teriakku mengurungkan niat
untuk mengabaikannya.
Yuni hanya melihatku dan
meninggalkanku kembali bersama teman-temannya.
“Aduh!” keluhku sembari mengusap
kepalaku yang kejatuhan ranting pohon yang berukuran cukup besar.
“Aku minta maaf, Man.” ucap Yuni
yang tiba-tiba saja berada di sampingku.
Aku sangat terkejut. Ya. Kebetulan
saja ia memakai pakaian serba putih hari ini. Oleh karena itu, aku berpikiran
yang tidak-tidak. Kalian pasti mengerti bukan?
“Iya, Yun.” ucapku singkat sembari
kembali melihatnya berkumpul bersama teman-temannya.
Aku masih saja merasakan sakit pada
kepalaku ini. Tiba-tiba saja, teman-temanku datang sembari menepuk pundakku
dengan wajah yang pura-pura kasihan.
“Kamu seperti ranting itu. Terjatuh
sendirian. Namun, kamu masih mau kembali pada pohon yang menjatuhkanmu.”
Aku menyernyitkan dahi sembari terus
melihat mereka yang sedari tadi mengelilingku.
Pemandangan bintang-bintang di
langit serta kerlap-kerlip perumahan yang terlihat di atas tempatku,
paralayang, ini berhasil memanjakan mataku. Indahnya dunia jika aku
mempersilakan mereka datang pada kehidupanku tanpa paksaan. Bukan seperti apa
hubungan yang aku jalani saat ini dengan Yuni. Ada apa dengan hubunganku?
“Maaf,
Yun. Aku gak mau melangkah lebih jauh dulu.”
“Lalu,
apa maksud dari pendekatan yang kamu jalani denganku saat ini?”
“Eh?”
“Apakah
tidak ada lagi kesempatan itu dalam kehidupanmu?”
“Baiklah.
Aku mau.”
Aku Terpaksa.
Membaca puisi adalah salah satu mata
kuliah yang aku jalani tepat pada hari ini. Ya. Aku mengutarakan semua isi
puisi dalam ponselku dengan nada yang aku harapkan tersampaikan pada seluruh
teman-temanku. Aku berpuisi dengan gerak tubuh yang penuh gaya. Tiba-tiba,
wajah memerah datang pada wajah Yuni yang duduk tepat di depan ragaku ini
berdiri. Semua anak menyorakinya yang semakin terlihat memerah. Aku bersikap
biasa sembari tersenyum layaknya pria pada umumnya.
Tak menyangka, puisi yang dibacakan
oleh Yuni seperti puisi balasan untukku. Aku hanya menikmati suaranya tanpa
berani melihat wajahnya.
“Man.”
Nada notifikasi yang berbeda
membuatku seketika merampas ponselku yang sedang tergantung di bawah stop
kontak dalam ruanganku.
“Iya?”
“Apa yang kamu lihat dari tanganku
selama kita bertemu?”
“Apa?”
“Coba tebak. Adakah seseorang yang
kamu lihat di permukaannya?”
“Siapa itu?” hatiku berdebar-debar
sembari mengharapkan jawaban namaku yang ia tulis dalam layar ponsel ini.
“Firman.” Aku tersenyum sembari
bingung mencari emoji yang bisa menggambarkan ekspresiku saat ini padanya.
“Tapi,” aku terhenti sembari
menunggu tulisan mengetik pada layar chatnya
menghilang.
“Ada seseorang yang masih aku simpan
baik di balik telapak tanganku yang lain. Dia adalah masa laluku.”
Aku terdiam sembari membiarkan
jariku tak mengetik kata apapun pada layar ponselku.
“Firman? Terima kasih karena sudah
mau menghargaiku selama ini.”
Aku tetap terdiam. Lalu, aku
berusaha menelepon nomor wanita itu yang nyatanya sudah tidak bisa terhubung
kembali.
Perkuliahan memanglah cara terampuh
untukku mengalihkan pemikiran ini. Namun, pertemuan itu masih saja terjadi
karena kami satu kelas. Ya. Seperti biasa. Dia berkumpul dan bersenang-senang
dengan teman-temannya seolah-olah semuanya baik-baik saja.
“Apakah sebuah lukisan akan bagus
jika ada pelukis itu merasa terpaksa?” ucap salah satu teman sekelasku sembari
menghadang jalanku dengan tiba-tiba.
“Bisa saja.” balasku dengan malas.
“Apa kamu nyaman melakukannya?”
“Tidak. Tentu, tidak.” balasku
dengan sedikit menekan nada pada intonasi suaraku.
“Lalu, jika kamu kehilangan lukisan
yang membuatmu tidak nyaman. Apakah itu membuatmu sedih?”
“Harusnya tidak.”
“Ambilah kuas dan kanvasmu yang
baru. Sekarang, lukislah seseorang dengan bahagia bukan karena tekanan.”
ucapnya sembari terus menunggu tatapanku.
Aku menatapnya sembari tersenyum
seadanya.
“Aku traktir bakso. Tapi hanya 1
porsi tidak boleh lebih, ya.” lanjutnya membuatku tersenyum lebar.
Setidaknya aku memiliki banyak teman
yang bisa menghargaiku dalam kebahagiaanku yang sederhana.