untuk : Faisal A. ( story request ) foto : flickr              Kring!             Suara bel pintu membuat pola dudukku berpindah. T...

Hilang

/
0 Comments




untuk : Faisal A. (story request)
foto : flickr 
            Kring!
            Suara bel pintu membuat pola dudukku berpindah. Tatapan aku alihkan lebih cepat daripada angin yang melintas tepat di pintu kaca restoran terkenal di kota ini.  Lalu lalang banyak manusia membuat mataku menjadi semakin sensitif. Tanpa sadar, semua wajah aku rekam dengan gesit dalam pikiranku. Namun sayang, semuanya tidak terdefinisi dalam pikiranku karena manusia spesial itu belum juga datang.
            “Buka. Tutup. Buka. Tutup.” batinku sembari terus melihat pintu kaca yang tak berhenti terbuka setiap detiknya.
            Tiga gelas minuman dingin dengan krim sudah memenuhi isi lambungku. Tak heran jika aku terus pergi ke toilet sembari tetap menatap ke arah pintu itu. Suara ponsel yang menggetarkan saku jaketku membuatku sontak mengambilnya dengan cepat.
            Maaf. Aku tidak bisa datang ke restoran itu. Aku sedang sibuk.
            Lima kali ajakanku telah ditolak oleh pasanganku sendiri. Dia adalah Yuni. Wanita yang berparas cantik, berhijab, dan menarik di mataku. Entah apakah mata lain juga menanggapi penampilan Yuni dengan pendapat yang sama sepertiku atau tidak. Tidak ada yang tahu. Kali ini, aku memutuskan untuk berdiam di restoran ini sembari menyingkirkan kekecewaan yang kembali menyerangku hingga penat.
            Pagi yang berbeda tentunya. Aku memilih untuk diam jika ada pertemuan di kampus dengan wanita itu.
            “Yuni!” teman sekelasku berbondong-bondong mengerumuni wanita yang ternyata berada di sebelahku.
            Yuni berlari menuju teman-temannya sembari menampilkan wajah ceria yang ia miliki.
            “Yun!” teriakku mengurungkan niat untuk mengabaikannya.
            Yuni hanya melihatku dan meninggalkanku kembali bersama teman-temannya.
            “Aduh!” keluhku sembari mengusap kepalaku yang kejatuhan ranting pohon yang berukuran cukup besar.
            “Aku minta maaf, Man.” ucap Yuni yang tiba-tiba saja berada di sampingku.
            Aku sangat terkejut. Ya. Kebetulan saja ia memakai pakaian serba putih hari ini. Oleh karena itu, aku berpikiran yang tidak-tidak. Kalian pasti mengerti bukan?
            “Iya, Yun.” ucapku singkat sembari kembali melihatnya berkumpul bersama teman-temannya.
            Aku masih saja merasakan sakit pada kepalaku ini. Tiba-tiba saja, teman-temanku datang sembari menepuk pundakku dengan wajah yang pura-pura kasihan.
            “Kamu seperti ranting itu. Terjatuh sendirian. Namun, kamu masih mau kembali pada pohon yang menjatuhkanmu.”
            Aku menyernyitkan dahi sembari terus melihat mereka yang sedari tadi mengelilingku.
            Pemandangan bintang-bintang di langit serta kerlap-kerlip perumahan yang terlihat di atas tempatku, paralayang, ini berhasil memanjakan mataku. Indahnya dunia jika aku mempersilakan mereka datang pada kehidupanku tanpa paksaan. Bukan seperti apa hubungan yang aku jalani saat ini dengan Yuni. Ada apa dengan hubunganku?
            “Maaf, Yun. Aku gak mau melangkah lebih jauh dulu.”
            “Lalu, apa maksud dari pendekatan yang kamu jalani denganku saat ini?”
            “Eh?”
            “Apakah tidak ada lagi kesempatan itu dalam kehidupanmu?”
            “Baiklah. Aku mau.”
            Aku Terpaksa.
            Membaca puisi adalah salah satu mata kuliah yang aku jalani tepat pada hari ini. Ya. Aku mengutarakan semua isi puisi dalam ponselku dengan nada yang aku harapkan tersampaikan pada seluruh teman-temanku. Aku berpuisi dengan gerak tubuh yang penuh gaya. Tiba-tiba, wajah memerah datang pada wajah Yuni yang duduk tepat di depan ragaku ini berdiri. Semua anak menyorakinya yang semakin terlihat memerah. Aku bersikap biasa sembari tersenyum layaknya pria pada umumnya.
            Tak menyangka, puisi yang dibacakan oleh Yuni seperti puisi balasan untukku. Aku hanya menikmati suaranya tanpa berani melihat wajahnya.
            “Man.”
            Nada notifikasi yang berbeda membuatku seketika merampas ponselku yang sedang tergantung di bawah stop kontak dalam ruanganku.
            “Iya?”
            “Apa yang kamu lihat dari tanganku selama kita bertemu?”
            “Apa?”
            “Coba tebak. Adakah seseorang yang kamu lihat di permukaannya?”
            “Siapa itu?” hatiku berdebar-debar sembari mengharapkan jawaban namaku yang ia tulis dalam layar ponsel ini.
            “Firman.” Aku tersenyum sembari bingung mencari emoji yang bisa menggambarkan ekspresiku saat ini padanya.
            “Tapi,” aku terhenti sembari menunggu tulisan mengetik pada layar chatnya menghilang.
            “Ada seseorang yang masih aku simpan baik di balik telapak tanganku yang lain. Dia adalah masa laluku.”
            Aku terdiam sembari membiarkan jariku tak mengetik kata apapun pada layar ponselku.
            “Firman? Terima kasih karena sudah mau menghargaiku selama ini.”
            Aku tetap terdiam. Lalu, aku berusaha menelepon nomor wanita itu yang nyatanya sudah tidak bisa terhubung kembali.
            Perkuliahan memanglah cara terampuh untukku mengalihkan pemikiran ini. Namun, pertemuan itu masih saja terjadi karena kami satu kelas. Ya. Seperti biasa. Dia berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-temannya seolah-olah semuanya baik-baik saja.
            “Apakah sebuah lukisan akan bagus jika ada pelukis itu merasa terpaksa?” ucap salah satu teman sekelasku sembari menghadang jalanku dengan tiba-tiba.
“Bisa saja.” balasku dengan malas.
            “Apa kamu nyaman melakukannya?”
            “Tidak. Tentu, tidak.” balasku dengan sedikit menekan nada pada intonasi suaraku.
            “Lalu, jika kamu kehilangan lukisan yang membuatmu tidak nyaman. Apakah itu membuatmu sedih?”
            “Harusnya tidak.”
            “Ambilah kuas dan kanvasmu yang baru. Sekarang, lukislah seseorang dengan bahagia bukan karena tekanan.” ucapnya sembari terus menunggu tatapanku.
            Aku menatapnya sembari tersenyum seadanya.
            “Aku traktir bakso. Tapi hanya 1 porsi tidak boleh lebih, ya.” lanjutnya membuatku tersenyum lebar.
            Setidaknya aku memiliki banyak teman yang bisa menghargaiku dalam kebahagiaanku yang sederhana.





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger