untuk : Anonim ( story request ) foto : flickr             Tut tut!             “Kenapa kamu rela mengajakku berkompetisi hingga...

Kota Hujan

/
0 Comments


untuk : Anonim (story request)
foto : flickr

            Tut tut!
            “Kenapa kamu rela mengajakku berkompetisi hingga sejauh ini?”
            “Agar tidak hanya aku saja yang bisa menikmati keindahan di luar kota daerahku.”
            “Kuharap kamu akan memenangkan kompetisi fotografi terbesar ini.”
            “Hanya aku saja? Manusia yang tidak punya semangat sepertimu seharusnya bersyukur bisa bermain jauh seperti ini.”
            “Ya ya. Aku akan memenangkan kompetisi itu juga.”
            Ya. Kami berlibur ke kota Bogor untuk mengabadikan pemandangan elok rupawan disana. Jenuh jika setiap hari terus memotret keindahan kota tempat tinggal. Sekali-sekali lah mencicipi daerah baru walaupun masih berkutat di pulau Jawa. Siapa tahu kan? Sewaktu-waktu bisa sampai ke Wakatobi mungkin?
            “Kamu tidak keberatan jika harus berkemah?”
            “Berkemah? Tidak apa-apa. Tapi..”
            “Gila saja kamu! Aku membawa dua tenda.”
            “Apa salahnya bertanya? Dimana kita berkemah?”
            “Kepo. Diam dan nikmati perjalanannya.”
            Aku menggerutu sembari menyalakan kamera yang sudah kumatikan beberapa jam sebelumnya. Langit senja yang terlukis indah di  layar hitam sang cakrawala membuat tanganku gatal untuk mencuri kecantikannya dalam kamera kecilku ini. Dua foto aku dapatkan sembari menangkap diam-diam siluet dari tubuh Penta yang sedang mengemudikan mobil di depanku.
            “Sudah sampai.”
            Aku membuka pintu mobil sembari terpesona menatap indahnya lampu-lampu perumahan yang aku tatap dari bukit kecil yang kupijak.
            “Ini bukit apa?”
            “Bukit Alesano.”
            “Wow! Aku benar-benar. Keren banget!”
            “Hah? Kamu keren? Jelas-jelas yang keren pemandangannya. Kamu mah biasa aja.”
            “Bisakah kamu mengerti pengucapan orang yang sangat terpesona? Wajarlah jika perkataannya ngelantur kemana-mana.” bantahku sembari memotret pemandangan kerlap-kerlip malam yang aku bandingkan dengan kerlap-kerlip bintang di atasnya. Kombinasi sempurna.
            Tiupan angin membuat perlahan-lahan wajahku suram. Ya aku merasa mengantuk. Debaran hati melihat Penta yang sedang membangun dua tenda membuatku ingin memotretnya. Hasil potret yang tak terduga pemandangan milky way secara tidak sengaja muncul di balik punggungnya.
            “Kamu suka memotretku ya? Aku memang model Indonesia yang sangat menawan.”
            “Aku memotret pemandangan di belakangmu. Dia lebih indah darimu.”
            Penta berbalik sembari diam dan perlahan memotret cahaya indah yang juga memanjakan penglihatannya.
            “Coba saja jika aku tidak mengatakan pemandangan langka itu. Aku yakin kamu akan melewatkannya. Manusia cuek sepertimu bisa saja melewatkan banyak hal.”
            “Kenapa kamu banyak bicara? Cepat masukkan barang-barangmu ke dalam. Aku akan menyalakan api unggun.”
            Aku mengangkat kuat tas gunungku sembari merapikan barang-barang di dalam tendaku. Aku berjaga di depan tenda sembari memotret bayangan penduduk yang berlalu lalang di depanku.
            “Punten” sapa seorang gadis cantik seusiaku sembari memamerkan senyum dengan lesung pipinya padaku.
            “Iya” balasku sembari langsung mencari perihal bahasa sunda dari kata iya.
            “Mangga” tambahku kemudian membuat gadis itu tertawa kecil.
            “Huh!” keluh Penta tiba-tiba sembari meletakkan kayu-kayu di tengah area kemah kami.
            “Aku perlu mencari api dimana?”
            “Kamu diam disitu biar aku saja yang mengurus ini.”
            “Sudahlah. Kamu kelelahan biar aku yang membantumu.”
            “Baiklah.” ucapnya sembari masuk ke dalam tenda lain dan menutupnya.
            Aku menggosokkan korek dan meletakkannya di atas kayu yang kuberi alas berupa bensin.
            Kehangatan kini berhasil merangkulku dan menyelamatkanku dari kedinginan yang merajalela. Lima foto berhasil aku abadikan dan rata-rata siluet. Satu jam aku menunggu Penta yang tidak kunjung keluar dari tenda.
            “Penta? Penta!” teriakku dari ujung tendaku.
            Penta membuka tendanya sembari memamerkan mata merahnya padaku.
            “Kamu tidur? Tau begitu aku juga beristirahat tadi.”
            “Siapa yang menyuruhmu menungguku?”
            “Terserah!”
            Aku diam sembari menatap langit yang semakin berbintang.
            Pagi telah menyambutku dalam keadaan tertidur di luar tenda. Aku terkejut sembari memeriksa keamanan isi tendaku. Beruntungnya aku tidak ada barang-barangku yang hilang. Suasana pagi kembali memanjakanku. Ada sebuah gunung di seberang. Namun, gunung apa itu?
            “Yah, itu gunung apa?”
            “Gunung Salak, Nak.”
            Ya. Kini aku tahu apa nama gunung itu dari mereka. Aku kembali memotret pemandangan ini sembari mencari air untuk membasuh wajahku. Aku terkejut melihat area kemahku yang bersih dan rapi. Dua tenda yang semalam berdiri kini sudah tidak ada lagi.
            “Ayo kita berpindah tempat.”
            “Kemana?”
            “Sudah diam. Bawa tas gunungmu itu lalu kita ke mobil.”
            Aku diam saja selama perjalanan. Penta tiba-tiba saja melirikku sembari berjalan mundur menuju sebelahku.
            “Kamu tidur di luar?”
            “Ya.”
            “Kamu tidak suka dengan tendaku?”
            “Bukan begitu. Aku hanya tertidur saja. Orang bisa tertidur dimana saja kan?”
            “Kamu hampir kehilangan tas gunungmu.” ucap Penta sembari menguap.
            “Apa maksudmu?”
            “Tas gunungmu hampir dicuri.”
            “Oleh siapa?”
            “Ka, berapa orang yang beristirahat di bukit itu? Memangnya hanya kamu?”
            Aku terdiam sembari berpikir bahwa semalaman Penta sudah menjaga tas gunungku hingga sulit tidur. Apakah itu benar?
            “Terima kasih.”
            “Ah! Berhentilah mengatakan itu.”
            “Kenapa tidak boleh? Ya, aku minta maaf karena kesembronoanku.”
            “Sudahlah. Anggap saja ini imbalan karena kamu sudah menyalakan api unggun semalam.”
            Perjalanan kembali dimulai.
            “Aku tidak bisa mengajakmu terlalu lama mengelilingi kota Bogor. Aku mendadak mendapat panggilan untuk memotret prewedding kakak sepupuku besok.”
            “Wah, hebat. Tidak apa-apa.”
            Tatanan ribuan bunga membentuk sebuah labirin membuatku langsung memotret dengan cepat lewat kaca mobil yang berada di dekatku.
            “Pen, apa nama tempat ini?”
            “Taman bunga nusantara”
            “Wow!”
            “Turunlah. Aku akan mencari parkir.”
            Pemandangan yang sangat indah. Aku menemukan berjuta aneka ragam bunga khas Indonesia disini. Taman bunga berbentuk angsa, cinta, taman, labirin, dinosaurus, dan masih banyak lagi.
            “Ka! Berbalik!”
            Aku membalikkan tubuhku sembari memperbaiki tali kamera di leherku.
            Cekrek!
            “Penta?” ucapku terkejut sembari melotot ke arahnya.
            Penta terlihat puas saat berhasil mengambil pose aibku.
            “Cantik”
            “Kenapa, Pen?” tanyaku sembari mencari spot foto dari balik labirin bunga di sampingku.
            “Eka!!!” teriak Penta kembali mengejutkanku.
            Aku terkejut melihat ada burung yang tiba-tiba saja menyambar rambutku. Apa Penta mengabadikan momen itu?
            “Penta aku ingin lihat.”
            Aku terdiam. Dia sangat lihai memainkan lensa kameranya. Apik tenan!
            “Terima kasih”
            “Kenapa berbicara begitu, Pen?”
            “Jawablah sama-sama.”
            “Iya iya. Sama-sama.”
            Beberapa hari kemudian tepat disaat pengumuman pemenang disiarkan di radio. Aku masuk ke dalam peringkat 5 besar. Namun, aku sama sekali tidak mendengar nama Penta diumumkan di dalamnya. Aku sesegera mungkin menghubunginya tetapi ia sudah menonaktifkan nomornya. Hingga saat ini aku terus membendung kerinduan yang tidak pernah ia sangkakan tumbuh dalam diriku.

            Ia seperti bayangan. Gelap, hitam, dan terasingkan. Namun, keberadaannya membuat ribuan orang sadar itu bukanlah gambaran dari rasa takut melainkan sebagai lambang kepercayaan diri yang sejati untuk terus mengejar mimpi dan kembali  merekamnya dalam lensa kehidupan pribadi. Hilang? Bayangan akan hilang jika raga sudah tak kembali bernyawa. Jika ia bersembunyi, keberadaannya selalu menjadi penantian yang tak henti dan tak akan pernah menjadikannya asing dan mati. 


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger