“Kenapa kamu rela mengajakku berkompetisi
hingga sejauh ini?”
“Agar tidak hanya aku saja yang bisa
menikmati keindahan di luar kota daerahku.”
“Kuharap kamu akan memenangkan
kompetisi fotografi terbesar ini.”
“Hanya aku saja? Manusia yang tidak
punya semangat sepertimu seharusnya bersyukur bisa bermain jauh seperti ini.”
“Ya ya. Aku akan memenangkan
kompetisi itu juga.”
Ya. Kami berlibur ke kota Bogor
untuk mengabadikan pemandangan elok rupawan disana. Jenuh jika setiap hari
terus memotret keindahan kota tempat tinggal. Sekali-sekali lah mencicipi daerah baru walaupun masih
berkutat di pulau Jawa. Siapa tahu kan? Sewaktu-waktu
bisa sampai ke Wakatobi mungkin?
“Kamu tidak keberatan jika harus
berkemah?”
“Berkemah? Tidak apa-apa. Tapi..”
“Gila saja kamu! Aku membawa dua
tenda.”
“Apa salahnya bertanya? Dimana kita
berkemah?”
“Kepo. Diam dan nikmati
perjalanannya.”
Aku menggerutu sembari menyalakan
kamera yang sudah kumatikan beberapa jam sebelumnya. Langit senja yang terlukis
indah di layar hitam sang cakrawala
membuat tanganku gatal untuk mencuri kecantikannya dalam kamera kecilku ini.
Dua foto aku dapatkan sembari menangkap diam-diam siluet dari tubuh Penta yang
sedang mengemudikan mobil di depanku.
“Sudah sampai.”
Aku membuka pintu mobil sembari
terpesona menatap indahnya lampu-lampu perumahan yang aku tatap dari bukit
kecil yang kupijak.
“Ini bukit apa?”
“Bukit Alesano.”
“Wow! Aku benar-benar. Keren
banget!”
“Hah? Kamu keren? Jelas-jelas yang
keren pemandangannya. Kamu mah biasa aja.”
“Bisakah kamu mengerti pengucapan
orang yang sangat terpesona? Wajarlah jika perkataannya ngelantur kemana-mana.”
bantahku sembari memotret pemandangan kerlap-kerlip malam yang aku bandingkan
dengan kerlap-kerlip bintang di atasnya. Kombinasi sempurna.
Tiupan angin membuat perlahan-lahan
wajahku suram. Ya aku merasa mengantuk. Debaran hati melihat Penta yang sedang
membangun dua tenda membuatku ingin memotretnya. Hasil potret yang tak terduga
pemandangan milky way secara tidak
sengaja muncul di balik punggungnya.
“Kamu suka memotretku ya? Aku memang
model Indonesia yang sangat menawan.”
“Aku memotret pemandangan di
belakangmu. Dia lebih indah darimu.”
Penta berbalik sembari diam dan
perlahan memotret cahaya indah yang juga memanjakan penglihatannya.
“Coba saja jika aku tidak mengatakan
pemandangan langka itu. Aku yakin kamu akan melewatkannya. Manusia cuek
sepertimu bisa saja melewatkan banyak hal.”
“Kenapa kamu banyak bicara? Cepat
masukkan barang-barangmu ke dalam. Aku akan menyalakan api unggun.”
Aku mengangkat kuat tas gunungku
sembari merapikan barang-barang di dalam tendaku. Aku berjaga di depan tenda
sembari memotret bayangan penduduk yang berlalu lalang di depanku.
“Punten” sapa seorang gadis cantik
seusiaku sembari memamerkan senyum dengan lesung pipinya padaku.
“Iya” balasku sembari langsung
mencari perihal bahasa sunda dari kata iya.
“Mangga” tambahku kemudian membuat
gadis itu tertawa kecil.
“Huh!” keluh Penta tiba-tiba sembari
meletakkan kayu-kayu di tengah area kemah kami.
“Aku perlu mencari api dimana?”
“Kamu diam disitu biar aku saja yang
mengurus ini.”
“Sudahlah. Kamu kelelahan biar aku
yang membantumu.”
“Baiklah.” ucapnya sembari masuk ke
dalam tenda lain dan menutupnya.
Aku menggosokkan korek dan
meletakkannya di atas kayu yang kuberi alas berupa bensin.
Kehangatan kini berhasil merangkulku
dan menyelamatkanku dari kedinginan yang merajalela. Lima foto berhasil aku
abadikan dan rata-rata siluet. Satu jam aku menunggu Penta yang tidak kunjung
keluar dari tenda.
“Penta? Penta!” teriakku dari ujung
tendaku.
Penta membuka tendanya sembari
memamerkan mata merahnya padaku.
“Kamu tidur? Tau begitu aku juga
beristirahat tadi.”
“Siapa yang menyuruhmu menungguku?”
“Terserah!”
Aku diam sembari menatap langit yang
semakin berbintang.
Pagi telah menyambutku dalam keadaan
tertidur di luar tenda. Aku terkejut sembari memeriksa keamanan isi tendaku.
Beruntungnya aku tidak ada barang-barangku yang hilang. Suasana pagi kembali
memanjakanku. Ada sebuah gunung di seberang. Namun, gunung apa itu?
“Yah, itu gunung apa?”
“Gunung Salak, Nak.”
Ya. Kini aku tahu apa nama gunung
itu dari mereka. Aku kembali memotret pemandangan ini sembari mencari air untuk
membasuh wajahku. Aku terkejut melihat area kemahku yang bersih dan rapi. Dua
tenda yang semalam berdiri kini sudah tidak ada lagi.
“Ayo kita berpindah tempat.”
“Kemana?”
“Sudah diam. Bawa tas gunungmu itu
lalu kita ke mobil.”
Aku diam saja selama perjalanan.
Penta tiba-tiba saja melirikku sembari berjalan mundur menuju sebelahku.
“Kamu tidur di luar?”
“Ya.”
“Kamu tidak suka dengan tendaku?”
“Bukan begitu. Aku hanya tertidur
saja. Orang bisa tertidur dimana saja kan?”
“Kamu hampir kehilangan tas
gunungmu.” ucap Penta sembari menguap.
“Apa maksudmu?”
“Tas gunungmu hampir dicuri.”
“Oleh siapa?”
“Ka, berapa orang yang beristirahat
di bukit itu? Memangnya hanya kamu?”
Aku terdiam sembari berpikir bahwa
semalaman Penta sudah menjaga tas gunungku hingga sulit tidur. Apakah itu
benar?
“Terima kasih.”
“Ah! Berhentilah mengatakan itu.”
“Kenapa tidak boleh? Ya, aku minta
maaf karena kesembronoanku.”
“Sudahlah. Anggap saja ini imbalan
karena kamu sudah menyalakan api unggun semalam.”
Perjalanan kembali dimulai.
“Aku tidak bisa mengajakmu terlalu
lama mengelilingi kota Bogor. Aku mendadak mendapat panggilan untuk memotret prewedding kakak sepupuku besok.”
“Wah, hebat. Tidak apa-apa.”
Tatanan ribuan bunga membentuk
sebuah labirin membuatku langsung memotret dengan cepat lewat kaca mobil yang
berada di dekatku.
“Pen, apa nama tempat ini?”
“Taman bunga nusantara”
“Wow!”
“Turunlah. Aku akan mencari parkir.”
Pemandangan yang sangat indah. Aku
menemukan berjuta aneka ragam bunga khas Indonesia disini. Taman bunga
berbentuk angsa, cinta, taman, labirin, dinosaurus, dan masih banyak lagi.
“Ka! Berbalik!”
Aku membalikkan tubuhku sembari
memperbaiki tali kamera di leherku.
Cekrek!
“Penta?”
ucapku terkejut sembari melotot ke arahnya.
Penta terlihat puas saat berhasil
mengambil pose aibku.
“Cantik”
“Kenapa, Pen?” tanyaku sembari
mencari spot foto dari balik labirin bunga di sampingku.
“Eka!!!” teriak Penta kembali
mengejutkanku.
Aku terkejut melihat ada burung yang
tiba-tiba saja menyambar rambutku. Apa Penta mengabadikan momen itu?
“Penta aku ingin lihat.”
Aku terdiam. Dia sangat lihai
memainkan lensa kameranya. Apik tenan!
“Terima kasih”
“Kenapa berbicara begitu, Pen?”
“Jawablah sama-sama.”
“Iya iya. Sama-sama.”
Beberapa hari kemudian tepat disaat
pengumuman pemenang disiarkan di radio. Aku masuk ke dalam peringkat 5 besar.
Namun, aku sama sekali tidak mendengar nama Penta diumumkan di dalamnya. Aku
sesegera mungkin menghubunginya tetapi ia sudah menonaktifkan nomornya. Hingga
saat ini aku terus membendung kerinduan yang tidak pernah ia sangkakan tumbuh
dalam diriku.
Ia seperti bayangan. Gelap, hitam,
dan terasingkan. Namun, keberadaannya membuat ribuan orang sadar itu bukanlah
gambaran dari rasa takut melainkan sebagai lambang kepercayaan diri yang sejati
untuk terus mengejar mimpi dan kembali
merekamnya dalam lensa kehidupan pribadi. Hilang? Bayangan akan hilang
jika raga sudah tak kembali bernyawa. Jika ia bersembunyi, keberadaannya selalu
menjadi penantian yang tak henti dan tak akan pernah menjadikannya asing dan
mati.