“Aaa!” teriakku sembari memukul jam
weker itu hingga terjatuh keras di lantai.
Suasana hening kembali
menghampiriku. Kini, aku memilih untuk terlentang sembari membiarkan semua
angan-angan dan harapanku berhamburan di langit-langit. 1..2..3.. dunia gelap
menyelimuti kelopak mataku hingga sang mentari menyapaku dengan lembut.
Aku terbangun sembari mencari ribuan
angan dan harapanku yang telah menghilang. Mereka tak pernah ada di dekatku
tetapi selalu ada di depan mataku. Sejauh apapun aku berlari mereka tetap tidak
bisa aku gapai. Apakah bisa aku terus tersenyum menghadapinya yang tak pernah
menghampiri seorang laki-laki sederhana sepertiku? Tidak. Aku adalah manusia
biasa bukanlah superhero.
Lalu lalang lalu lintas yang belum
padat membuatku bisa merasakan angin yang melintas di rambutku. Senyum seorang
bapak-bapak becak membuat wajahku mengusir kerutannya.
“Permisi, Kak. Ini ada selebaran
kompetisi pembuatan ilustrasi. Jika berminat, silakan hubungi narahubung yang
tertera di kertas, Kak.”
“Siap. Terima kasih.” ucapku sembari
tersenyum pada seorang anak laki-laki yang berada sekitar 4 tahun di bawahku.
Aku menatapinya lamat-lamat. Kata
demi kata. Hingga aku menemukan sebuah kalimat yang membuatku tak bisa
berpaling kembali dari brosur ini. ‘..Pemenang akan mendapatkan penghargaan dan
karyanya akan dikemas dalam pameran Seni Art Jakarta’. Aku terdiam sembari
memikirkan perihal seni itu. Acara seni yang merupakan salah satu seni terbesar
di Indonesia.
Aduh!
Angan-anganku buram tepat setelah aku hampir tersandung kakiku sendiri. Aku
lanjutkan perjalanan sembari menatap jalanku. Tiba-tiba, ada genangan air yang
tak sengaja aku injak hingga membuat sepatuku basah. Namun, aku terdiam sembari
menjumpai wajahku dalam genangan itu. Aku minder.
Aku berusaha menghindari hal-hal
yang bisa memperlihatkanku tetapi tidak berhasil. Kini, kaca dekat lampu jalan
membuatku kembali melihat fisik ini. Aku minder. Fix.
“Rizky, tugasmu harus revisi.
Gambarmu kurang detail. Saya ingin minggu depan kamu bisa mengumpulkan tugas
yang lebih baik dari ini.”
Entahlah kali ini aku benar-benar
tidak bisa bersemangat.
Aku menunggu angkot sembari
merasakan rintik hujan yang makin lama makin deras. Aku panik karena melihat kertas
kerjaku basah dan sobek.
Kring!
Badanku basah kuyub. Kini, aku gagal
memberikan pesanan sebuah kafe tepat waktu. Wajah yang tidak menyenangkan aku
dapatkan sembari mengeringkan kertas gambar yang aku bawa.
“Jam berapa sekarang?”
Aku hanya terdiam sembari terus
berusaha mengeringkan lukisanku.
“Silakan.” ucap pria itu sembari
menunjuk ke arah jalan raya.
Aku mengangguk dan melangkah menuju
jalan raya yang masih deras. Hari ini aku benar-benar hancur. Dalam perjalanan,
aku hanya bisa merintih lelah karena aku berjalan jauh dan menatap pasrah
selebaran kompetisi ilustrator yang aku terima.
Alun-alun kota Malang yang
menampilkan pemandangan air mancur membuat seketika bebanku berkurang. Aroma
air yang segar membuatku teringat akan senyuman orang-orang di sekitarku. Apa
kabar dengan lukisanku? Lukisanku sudah hancur dan sobek karena basah. Aku
terkadang kagum dengan air yang bisa memperlihatkan keluwesannya mengarungi
berbagai macam alur sungai yang penuh dengan bebatuan. Namun, aku kecewa jika
dia hadir dan merusak semua karya yang aku kerjakan semalaman ini. Apakah
memang ini takdirku untuk kehilangan pekerjaanku satu-satunya?
“Kak Rizky?”
Aku menoleh sembari mengusap wajah
lelahku.
“Eh, Enia. Ada apa?”
“Menghilangkan penat saja. Kakak
sendiri?”
“Sama denganmu.”
“Kak, apakah kakak pernah berpikir
bahwa mengapa seseorang bisa dengan semudah itu meraih kesuksesannya sendiri?”
“Entahlah. Aku terkadang juga iri
melihat banyak orang bisa membuat karya yang lebih bagus dari aku dan diterima
oleh khalayak umum. Bagaimana bisa sekuat itu?”
“Kak, apa kakak tahu gunting?”
“Tahu.”
“Gunting digunakan untuk apa, Kak?”
“Untuk memotong kertas atau motif.”
“Apakah kertas itu kasar?”
“Ya, terkadang bisa melukai kulit
manusia juga.”
“Apakah dengan itu gunting jadi
tidak berfungsi lagi?”
“Masih.” Aku melihatnya lamat-lamat
untuk mengerti apa perkataan yang dia maksud.
“Gunting tahu jika kertas itu dapat
melukainya. Namun, dia memiliki keinginan untuk bisa memotong kertas itu dengan
motif yang bermacam-macam supaya berguna untuk orang lain. Menurut kakak, apa
yang membuatnya kuat seperti itu?”
“Dirinya sendiri”
Ia tersenyum.
“Saat gunting rusak, apakah
kegunaannya sebagai gunting menjadi teralihkan, Kak?”
“Tidak.”
“Jika kakak berusaha keras untuk mengejar
impian kakak, kakak tidak akan mudah jatuh. Kekuatan yang ada dalam diri kakak
akan jauh lebih besar daripada permasalahan yang akan menyapa kakak nantinya.
Lalu, apalagi yang harus ditakutkan? Hasil? Apakah gunting akan terus memotong
kertas ataupun kain dengan lurus? Tidak kak. Ada saatnya dia menghasilkan
potongan yang tidak rapi. Itulah keistimewaan hidup. Dia bisa memberikan
masalah sebesar-besarnya tapi juga memberikan solusi yang semanjur-manjurya.”
Aku tersenyum. Kini, selebaran itu
sudah berubah menjadi sertifikat.
“Lulus!” teriakku sembari melempar
topi wisuda tingi-tinggi ke langit lalu menangkapnya dengan genggaman tangan
yang kuat.
“Ilustrator terbaik tahun 2019
diraih oleh Rizky.” tepuk tangan yang meraih diajukan teruntukku sembari memberikan
aku selamat.
Orang tuaku menangis sembari
mengatakan hal yang menyentuh hatiku.