Cerita dari : Blasius Alvin Rizky Pratama foto : flickr             Kring !             “Aaa!” teriakku sembari memukul jam weker...

Lulus

/
0 Comments


Cerita dari : Blasius Alvin Rizky Pratama
foto : flickr

            Kring!
            “Aaa!” teriakku sembari memukul jam weker itu hingga terjatuh keras di lantai.
            Suasana hening kembali menghampiriku. Kini, aku memilih untuk terlentang sembari membiarkan semua angan-angan dan harapanku berhamburan di langit-langit. 1..2..3.. dunia gelap menyelimuti kelopak mataku hingga sang mentari menyapaku dengan lembut.
            Aku terbangun sembari mencari ribuan angan dan harapanku yang telah menghilang. Mereka tak pernah ada di dekatku tetapi selalu ada di depan mataku. Sejauh apapun aku berlari mereka tetap tidak bisa aku gapai. Apakah bisa aku terus tersenyum menghadapinya yang tak pernah menghampiri seorang laki-laki sederhana sepertiku? Tidak. Aku adalah manusia biasa bukanlah superhero.
            Lalu lalang lalu lintas yang belum padat membuatku bisa merasakan angin yang melintas di rambutku. Senyum seorang bapak-bapak becak membuat wajahku mengusir kerutannya.
            “Permisi, Kak. Ini ada selebaran kompetisi pembuatan ilustrasi. Jika berminat, silakan hubungi narahubung yang tertera di kertas, Kak.”
            “Siap. Terima kasih.” ucapku sembari tersenyum pada seorang anak laki-laki yang berada sekitar 4 tahun di bawahku.
            Aku menatapinya lamat-lamat. Kata demi kata. Hingga aku menemukan sebuah kalimat yang membuatku tak bisa berpaling kembali dari brosur ini. ‘..Pemenang akan mendapatkan penghargaan dan karyanya akan dikemas dalam pameran Seni Art Jakarta’. Aku terdiam sembari memikirkan perihal seni itu. Acara seni yang merupakan salah satu seni terbesar di Indonesia.
            Aduh! Angan-anganku buram tepat setelah aku hampir tersandung kakiku sendiri. Aku lanjutkan perjalanan sembari menatap jalanku. Tiba-tiba, ada genangan air yang tak sengaja aku injak hingga membuat sepatuku basah. Namun, aku terdiam sembari menjumpai wajahku dalam genangan itu. Aku minder.
            Aku berusaha menghindari hal-hal yang bisa memperlihatkanku tetapi tidak berhasil. Kini, kaca dekat lampu jalan membuatku kembali melihat fisik ini. Aku minder. Fix.
            “Rizky, tugasmu harus revisi. Gambarmu kurang detail. Saya ingin minggu depan kamu bisa mengumpulkan tugas yang lebih baik dari ini.”
            Entahlah kali ini aku benar-benar tidak bisa bersemangat.
            Aku menunggu angkot sembari merasakan rintik hujan yang makin lama makin deras. Aku panik karena melihat kertas kerjaku basah dan sobek.
            Kring!
            Badanku basah kuyub. Kini, aku gagal memberikan pesanan sebuah kafe tepat waktu. Wajah yang tidak menyenangkan aku dapatkan sembari mengeringkan kertas gambar yang aku bawa.
            “Jam berapa sekarang?”
            Aku hanya terdiam sembari terus berusaha mengeringkan lukisanku.
            “Silakan.” ucap pria itu sembari menunjuk ke arah jalan raya.
            Aku mengangguk dan melangkah menuju jalan raya yang masih deras. Hari ini aku benar-benar hancur. Dalam perjalanan, aku hanya bisa merintih lelah karena aku berjalan jauh dan menatap pasrah selebaran kompetisi ilustrator yang aku terima.
            Alun-alun kota Malang yang menampilkan pemandangan air mancur membuat seketika bebanku berkurang. Aroma air yang segar membuatku teringat akan senyuman orang-orang di sekitarku. Apa kabar dengan lukisanku? Lukisanku sudah hancur dan sobek karena basah. Aku terkadang kagum dengan air yang bisa memperlihatkan keluwesannya mengarungi berbagai macam alur sungai yang penuh dengan bebatuan. Namun, aku kecewa jika dia hadir dan merusak semua karya yang aku kerjakan semalaman ini. Apakah memang ini takdirku untuk kehilangan pekerjaanku satu-satunya?
            “Kak Rizky?”
            Aku menoleh sembari mengusap wajah lelahku.
            “Eh, Enia. Ada apa?”
            “Menghilangkan penat saja. Kakak sendiri?”
            “Sama denganmu.”
            “Kak, apakah kakak pernah berpikir bahwa mengapa seseorang bisa dengan semudah itu meraih kesuksesannya sendiri?”
            “Entahlah. Aku terkadang juga iri melihat banyak orang bisa membuat karya yang lebih bagus dari aku dan diterima oleh khalayak umum. Bagaimana bisa sekuat itu?”
            “Kak, apa kakak tahu gunting?”
            “Tahu.”
            “Gunting digunakan untuk apa, Kak?”
            “Untuk memotong kertas atau motif.”
            “Apakah kertas itu kasar?”
            “Ya, terkadang bisa melukai kulit manusia juga.”
            “Apakah dengan itu gunting jadi tidak berfungsi lagi?”
            “Masih.” Aku melihatnya lamat-lamat untuk mengerti apa perkataan yang dia maksud.
            “Gunting tahu jika kertas itu dapat melukainya. Namun, dia memiliki keinginan untuk bisa memotong kertas itu dengan motif yang bermacam-macam supaya berguna untuk orang lain. Menurut kakak, apa yang membuatnya kuat seperti itu?”
            “Dirinya sendiri”
            Ia tersenyum.
            “Saat gunting rusak, apakah kegunaannya sebagai gunting menjadi teralihkan, Kak?”
            “Tidak.”
            “Jika kakak berusaha keras untuk mengejar impian kakak, kakak tidak akan mudah jatuh. Kekuatan yang ada dalam diri kakak akan jauh lebih besar daripada permasalahan yang akan menyapa kakak nantinya. Lalu, apalagi yang harus ditakutkan? Hasil? Apakah gunting akan terus memotong kertas ataupun kain dengan lurus? Tidak kak. Ada saatnya dia menghasilkan potongan yang tidak rapi. Itulah keistimewaan hidup. Dia bisa memberikan masalah sebesar-besarnya tapi juga memberikan solusi yang semanjur-manjurya.”
            Aku tersenyum. Kini, selebaran itu sudah berubah menjadi sertifikat.
            “Lulus!” teriakku sembari melempar topi wisuda tingi-tinggi ke langit lalu menangkapnya dengan genggaman tangan yang kuat.
            “Ilustrator terbaik tahun 2019 diraih oleh Rizky.” tepuk tangan yang meraih diajukan teruntukku sembari memberikan aku selamat.
            Orang tuaku menangis sembari mengatakan hal yang menyentuh hatiku.
            “Aku bangga padamu.”

           
             



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger