“Ah!” Tiba-tiba saja kopi yang
aku seduh tumpah mengenai tanganku.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Mengapa begitu?”
“Aku minta maaf. Hati ibu masih
beku oleh penampilanmu.”
Aku tersenyum
sembari mengeluarkan kertas tisu dan membersihkan bidang meja yang menghitam
karena kopiku. Kali ini aku sangat berhati-hati saat menyeduh kopi ini.
“Siapa
itu?”ucapmu sembari memberikan selembar foto tentang keluargamu di suatu tempat
yang asing dalam memoriku.
“Ini dimana?”
“Sabang.”balasmu
sembari menunjukkan dua tiket trip ke Sabang dan meletakkannya tepat di dekat
gelas kopiku.
“Apa maksudmu?”
“Ayo berlibur.
Ini adalah tugasku untuk meringankan penatmu”ucapmu seketika membuatku tersenyum.
Sabang. Kota
paling barat dari pulau Indonesia. Keindahan tugu 0 kilometer merupakan salah
satu destinasi wisata di kota ini. Panasnya kota Sabang membuatku lupa akan
semua masalah yang sebenarnya masih bersarang.
“Apa yang kamu
rasakan jika berada di tempat ketinggian seperti ini?”
“Ringan. Karena
yang bisa aku lihat adalah langit dan pepohonan saja.”
“Jangan lupa
untuk tetap melihat ke bawah. Banyak wanita yang lebih tidak beruntung dari
kamu. Jangan tekankan bahwa hanya dirimu yang merasakan beban seperti ini.”
Aku mengangguk
dan mengabadikan momen denganmu sembari diam-diam mengambil siluet dari
wajahmu.
Lika-liku jalan
yang berbatu membuat motormu perlahan bergeronjalan. Perkampungan yang
sederhana dengan beberapa tonggak kayu yang menancap di sepanjang jalan secara
tidak sengaja mampu memperindah pemandangan kota ini. Rubiah. Salah satu tempat
yang tergambar cantik dalam fotomu beberapa hari yang lalu di kafe kopi.
“Ayo naik”ucapmu
sembari mengajakku naik dalam salah satu perahu dayung di tepi pantai itu.
Dalam perjalanan,
aku melihatmu terus terdiam sembari memainkan ponselmu. Aku mengalihkan
pandanganku sembari membiarkan mata ini menjelajah pada pemandangan laut yang
berwarna biru. Kaca pembesar di dalam perahu membuatku tak berkedip. Aneka
ikan, terumbu karang, dan segala anemon-anemon laut terlihat benar-benar
menakjubkan. Ombak yang menerpa di sisi perahu membuat tanganku gemas dan
berusaha mengikuti alurnya. Aku menatapmu yang sedari tadi tidak sabar untuk
menerjang lautan. Pakaian renang sudah kamu kenakan sembari memasang oksigen
dan kacamata penyelam juga kaki bebek. Sebelum jatuh, kamu melambaikan tangan
padaku. Aku tersenyum sembari terus memantaumu dari kaca perahu di bawah
kakiku. Pelangi tiba-tiba hadir di siang ini. Seketika menggambarkan bahwa
bahagia terkadang bisa muncul seenaknya dan bisa menghilang semaunya pula. Kenapa
begitu menjengkelkan jika terlalu aku cermati?
Kamu terlihat
sangat senang sembari mengibaskan rambut yang basah. Kamu memberikan kameramu
sembari menunjukkan foto yang membuatku bungkam. Tulisan ‘Semangat Vivy. Aku
disini.’karyanya membuatku tersenyum.
“Sekarang tulisan
itu sudah hilang larut dalam lautan pulau ini.Biarkan dia mencari muaranya sendiri karena disitulah dia pulang. Tempat
pulang selalu nyaman meskipun dalam perjalanan harus jatuh seperti air terjun
dan mmenghantam batu yang tajam.”
Lagi-lagi dia
berpuisi. Ya. Aku menikmatinya meskipun aku merasa sedih kembali saat ini.
Pemandangan laut tak membuatku lelah untuk mencicipi aneka kuliner khas pulau
ini. Mie Jalak yang ditaburi oleh olahan ikan dan sate gurita dengan saus
padang seketika membuat lidahku ketagihan. Minuman dari buah pisang tanpa biji
yang bernama ‘pisang buieh’yang ditaburi dengan rontokan emping menciptakan
rasa baru yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Apakah sesuatu yang baru aku
alami selalu membuatku terkejut seperti ini? Seperti halnya keadaanku saat ini?
Kini, kamu
mengajakku untuk kembali pada tugu 0 kilometer sembari duduk bersantai dengan
pemandangan senja yang akan berganti malam. Lagi-lagi, kamu menyodorkan ponselmu.
Tepat saat ini, air mata menetes tanpa henti dari mataku. Penerimaan pekerjaan
sebagai dosen Geografi di kampus favorit Indonesia mendebarkan hatiku secara
kejam dan penawaran untuk membuka cabang baru di beberapa kota mengenai produk
dagang yang aku sebarkan via online menampar wajahku dengan sangat keras.
Bahagiaku kini datang dengan cara yang tiba-tiba.
“Lihat pemukiman
penduduk di bawah itu. Apa kamu tidak bisa mencari kebahagiaan disana? Lihat,
kini mereka membutuhkanmu. Apa masih bersikeras untuk menolak dan mementingkan
dirimu yang terus menghindari kesempatan dalam hidupmu? Apakah kini kamu
membuka tanganmu terhadap kesempatan dan kebahagiaan yang menjengkelkan ini?”
“Ya. Aku akan
membuka tanganku dan menggenggamnya erat-erat.”
“Jadilah seperti angka O yang tetap melingkar tanpa putus dan terus merangkul masa depan, masa kini, dan masa lalunya dengan senang hati. Maka dari itu, jangan tutup
jalanmu sebelum kamu menemukan kebahagiaan yang menjadi tujuan dalam alur
cerita kehidupanmu.”