untuk : Mbak Novi (Story Request) foto : flickr “Ah!” Tiba-tiba saja kopi yang aku seduh tumpah mengenai tanganku. “Kamu tidak ap...

0 Kilometer

/
0 Comments


untuk : Mbak Novi (Story Request)
foto : flickr

“Ah!” Tiba-tiba saja kopi yang aku seduh tumpah mengenai tanganku.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Mengapa begitu?”
“Aku minta maaf. Hati ibu masih beku oleh penampilanmu.”
      Aku tersenyum sembari mengeluarkan kertas tisu dan membersihkan bidang meja yang menghitam karena kopiku. Kali ini aku sangat berhati-hati saat menyeduh kopi ini.
      “Siapa itu?”ucapmu sembari memberikan selembar foto tentang keluargamu di suatu tempat yang asing dalam memoriku.
      “Ini dimana?”
      “Sabang.”balasmu sembari menunjukkan dua tiket trip ke Sabang dan meletakkannya tepat di dekat gelas kopiku.
      “Apa maksudmu?”
      “Ayo berlibur. Ini adalah tugasku untuk meringankan penatmu”ucapmu seketika membuatku tersenyum.
      Sabang. Kota paling barat dari pulau Indonesia. Keindahan tugu 0 kilometer merupakan salah satu destinasi wisata di kota ini. Panasnya kota Sabang membuatku lupa akan semua masalah yang sebenarnya masih bersarang.
      “Apa yang kamu rasakan jika berada di tempat ketinggian seperti ini?”
      “Ringan. Karena yang bisa aku lihat adalah langit dan pepohonan saja.”
      “Jangan lupa untuk tetap melihat ke bawah. Banyak wanita yang lebih tidak beruntung dari kamu. Jangan tekankan bahwa hanya dirimu yang merasakan beban seperti ini.”
      Aku mengangguk dan mengabadikan momen denganmu sembari diam-diam mengambil siluet dari wajahmu.
      Lika-liku jalan yang berbatu membuat motormu perlahan bergeronjalan. Perkampungan yang sederhana dengan beberapa tonggak kayu yang menancap di sepanjang jalan secara tidak sengaja mampu memperindah pemandangan kota ini. Rubiah. Salah satu tempat yang tergambar cantik dalam fotomu beberapa hari yang lalu di kafe kopi.
      “Ayo naik”ucapmu sembari mengajakku naik dalam salah satu perahu dayung di tepi pantai itu.
      Dalam perjalanan, aku melihatmu terus terdiam sembari memainkan ponselmu. Aku mengalihkan pandanganku sembari membiarkan mata ini menjelajah pada pemandangan laut yang berwarna biru. Kaca pembesar di dalam perahu membuatku tak berkedip. Aneka ikan, terumbu karang, dan segala anemon-anemon laut terlihat benar-benar menakjubkan. Ombak yang menerpa di sisi perahu membuat tanganku gemas dan berusaha mengikuti alurnya. Aku menatapmu yang sedari tadi tidak sabar untuk menerjang lautan. Pakaian renang sudah kamu kenakan sembari memasang oksigen dan kacamata penyelam juga kaki bebek. Sebelum jatuh, kamu melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum sembari terus memantaumu dari kaca perahu di bawah kakiku. Pelangi tiba-tiba hadir di siang ini. Seketika menggambarkan bahwa bahagia terkadang bisa muncul seenaknya dan bisa menghilang semaunya pula. Kenapa begitu menjengkelkan jika terlalu aku cermati?
      Kamu terlihat sangat senang sembari mengibaskan rambut yang basah. Kamu memberikan kameramu sembari menunjukkan foto yang membuatku bungkam. Tulisan ‘Semangat Vivy. Aku disini.’karyanya membuatku tersenyum.
      “Sekarang tulisan itu sudah hilang larut dalam lautan pulau ini.  Biarkan dia mencari muaranya sendiri karena disitulah dia pulang. Tempat pulang selalu nyaman meskipun dalam perjalanan harus jatuh seperti air terjun dan mmenghantam batu yang tajam.”
      Lagi-lagi dia berpuisi. Ya. Aku menikmatinya meskipun aku merasa sedih kembali saat ini. Pemandangan laut tak membuatku lelah untuk mencicipi aneka kuliner khas pulau ini. Mie Jalak yang ditaburi oleh olahan ikan dan sate gurita dengan saus padang seketika membuat lidahku ketagihan. Minuman dari buah pisang tanpa biji yang bernama ‘pisang buieh’yang ditaburi dengan rontokan emping menciptakan rasa baru yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Apakah sesuatu yang baru aku alami selalu membuatku terkejut seperti ini? Seperti halnya keadaanku saat ini?
      Kini, kamu mengajakku untuk kembali pada tugu 0 kilometer sembari duduk bersantai dengan pemandangan senja yang akan berganti malam. Lagi-lagi, kamu menyodorkan ponselmu. Tepat saat ini, air mata menetes tanpa henti dari mataku. Penerimaan pekerjaan sebagai dosen Geografi di kampus favorit Indonesia mendebarkan hatiku secara kejam dan penawaran untuk membuka cabang baru di beberapa kota mengenai produk dagang yang aku sebarkan via online menampar wajahku dengan sangat keras. Bahagiaku kini datang dengan cara yang tiba-tiba.
      “Lihat pemukiman penduduk di bawah itu. Apa kamu tidak bisa mencari kebahagiaan disana? Lihat, kini mereka membutuhkanmu. Apa masih bersikeras untuk menolak dan mementingkan dirimu yang terus menghindari kesempatan dalam hidupmu? Apakah kini kamu membuka tanganmu terhadap kesempatan dan kebahagiaan yang menjengkelkan ini?”
      “Ya. Aku akan membuka tanganku dan menggenggamnya erat-erat.”
      Jadilah seperti angka O yang tetap melingkar tanpa putus dan terus merangkul masa depan, masa kini, dan masa lalunya dengan senang hati. Maka dari itu, jangan tutup jalanmu sebelum kamu menemukan kebahagiaan yang menjadi tujuan dalam alur cerita kehidupanmu.”



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger