Wajah merah padam tergambar sangar di
wajahku sembari perlahan melirik pada temanku yang tersenyum padaku. Aku
mengalihkan pandangan dan berpikiran layaknya seorang anak-anak.
Masa sekolah ini merupakan hal yang
pertama kali aku dapatkan. Senam pagi, upacara setiap hari Senin, bercerita di
setiap jam perwalian, dan berenang di setiap hari Sabtu. Kehadiran seorang
teman yang terus membuatku diejek ‘cie’ itu seketika mengusik keamananku.
“Iska! Iska! Ciee.”
Aku diam sembari berlari cepat. Aku
sembunyi.
“Kenapa harus bertemu sih!” gerutuku
dalam hati sembari terus menjauh dari keberadaan orang itu.
Deg! Lagi-lagi bertemu di depan
gerbang sekolah. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari cepat sembari
mencari budheku di depan sekolah.
“Iska. Ini pesanan ibumu” ucapnya
sembari menatapku malu-malu.
Aku hanya mengangguk sembari menyeret
budheku agar cepat menjauh dari sekolah. Oh ya, aku juga menerima pesanan itu
darinya. Selama perjalanan pulang, dia mengikutiku. Aku jengkel dan memilih
mencari trabasan agar ia kehilangan
jejak. Sampai di rumah, aku langsung mengunci pintu dan bermain dengan adik
kecilku.
“Kenapa kok cemberut?”
“Ada yang ngikutin, Bu.”
“Siapa?”
“Teman sekelas Iska yang katanya suka
sama Iska.”
Ibu tertawa dan memelukku.
Keesokan harinya, aku berangkat
bersamaan dengan adikku.
“Ini. Jangan lupa aku dibelikan juga
ya.” ancamku dengan memberikan uang 5000 rupiah.
Tidak ada jawaban. Adik malah berlari
kencang dengan kakinya yang kecil menuju kelas. Lalu, ia kembali lagi padaku.
“Apa?”
“Mbak, antar aku ke kelas. Aku takut”
Aku pun menggandeng tangan adikku dengan
lembut dan mengantarnya sampai di depan ruang kelas bertuliskan kelas satu.
“Makasih, Mbak!” ucapnya membuatku
tersenyum.
Aku kembali ke kelas dan mendapati
wajah laki-laki yang sama. Aku jengkel dan langsung menghindar terang-terangan
di depan matanya. Peranku menjadi dokter cilik setiap hari Sabtu mampu
membuatku sekejap merasa dewasa. Namun, kembali kekanak-kanakan ketika
laki-laki itu piket jaga UKS di hari yang sama sepertiku. Aku cuek.
Tanggal ulang tahun menyapaku dengan
hangat hari ini. Perayaan pesta ulang tahun akan aku rayakan besok. List nama teman-teman yang datang sudah
aku tulis dan mencapai sepuluh anak. Senyum merona di wajahku.
“Kamu gak ngajak dia?”
Deg!
“Ngapain?”
“Iska. Dia suka sama kamu, lho. Pantaskah
jika tidak kamu undang?”
Aku diam.
“Ya udah. Aku minta tolong ya.”
“Siap.”
Tiba di hari perayaan ulang tahunku.
Aku mengajak temanku yang berulang tahun di tanggal yang sama sepertiku ke
rumah. Aku mendapatkan kabar bahwa dia tidak bisa datang karena harus futsal.
Aku lega dan bersemangat. Saat sudah berkumpul, tiba-tiba saja salah satu
temanku tersesat saat mencari rumahku. Aku dan teman-teman berpencar untuk
mencari keberadaannya. Namun, temanku ternyata memilih pulang karena sudah
terlalu lama mencari rumahku dan menitipkan hadiah padaku. Sesampainya di
rumah, dia sudah duduk di sofa. Keringat dingin mengucur deras di leherku. Aku
langsung keluar dan memarahi ibu.
“Kok dateng sih, Bu?”
“Kan kamu yang ngundang?”
“Tapi tadi dia bilang gak bisa.”
“Terus?”
“Harusnya gak dateng.”
“Sudahlah. Masa mau kamu usir?”
Aku jengkel dan masuk ke ruang tamu
tanpa melihat wajahnya sama sekali. Selesai acara, aku langsung mengambil
makanan dalam gabus.
“Makasih sudah datang.” ucapku sambil
melihat temannya yang terus mendorongnya untuk melihatku.
“Sama-sama. Duluan, Ka.” balasnya
sembari pergi bersama dia keluar pagar.
Itu sudah berakhir. Jengkelnya lagi
kenapa dia terus terbayang selama delapan tahun dalam pikiranku? Aku
benar-benar tidak normal dengan wajar.
BIRU
“Jangan ganggu kakakku lagi. Dia sudah
benar-benar pergi.” ucap adiknya yang tiba-tiba mengetikkan pesan padaku lewat facebook.
“Kamu boleh menolakku tapi kamu harus
tidak jadi dengan dia!” ucap salah satu temanku yang ternyata menyukaiku
diam-diam.
ARGHH!
Aku menggerutu sembari menutup jendela
tab dan bermain the sims selama enam
jam tanpa makan.
“Iska.”
Aku tidak mempedulikan sapaan itu.
“Hey!”
Aku menoleh sembari tersenyum
seadanya. Larangan untuk berteman dengan siapapun kini menjerat pikiran dan hatiku.
Banyak teman yang ingin berbicara padaku tetapi aku memilih untuk cuek dan
tidak mempedulikan mereka.
“Iska kok manis?”
Aku diam dan berjalan masuk ke dalam
kelas. Aku kembali menyendiri.
“Iska. Ayo temani aku ke
perpustakaan.” ajak salah satu teman perempuanku.
Aku tersenyum ramah dan mengikutinya.
Dalam perjalanan menuju perpustakaan,
aku melihat banyak gerombolan laki-laki membicarakanku. Aku tidak peduli.
Tiba di perpustakaan. Aku bertemu
dengan sahabat lamaku.
“Eh, Ka. Menurutmu berapa hasil
hitung-hitungan dari nomor dua ini?”
Aku tersenyum dan melambaikan tangan
pada temanku tetapi terhenti saat muncul suara keras di dekat telingaku.
“Aku bicara denganmu, Ka. Kamu
mendengarkan tidak? Sibuk menyapa lagi. Aku sudah bilang jangan berteman dengan
siapapun kecuali aku!” teriaknya membuat seisi perpustakaan menatapnya.
Aku diam sembari menunjukkan jawaban
atas pertanyaannya tadi. Tiba saat kerja kelompok, aku duduk berhadapan dengan
temanku laki-laki. Dia menatapku biasa tetapi seketika itu juga dia berusaha
menjamah kedua tanganku. Sontak aku menarik dan langsung bersikap kejam
padanya.
“Ngapain?”
“Gak sengaja kok. Hehe”
Aku langsung melihat arah lain. Aku
takut.
Sepulang sekolah, aku bermain media
sosial yang bernama facebook. Seketika
aku masih penasaran dengan perkembangan dia selama SMP ini. Namun, tiba-tiba
ada undangan grup yang diajukan olehnya. Dengan spontan, aku menerima ajakan
grup itu. Alhasil bukan grup baik yang disuguhkan tetapi grup yang penuh dengan
sensor tubuh. Aku langsung keluar dan merasa harga diriku hancur. Aku memilih
untuk tidak lagi menghubungi lelaki itu sampai kapanpun.
Keadaanku benar-benar tidak
terkendali. Tekanan temanku dan ingatan akan kejadian malam yang lalu membuatku
tidak bisa berpikir panjang. Banyak orang menyapaku dengan takut-takut karena
wajahku yang tidak menyenangkan. Temanku menjauh karena ia sudah mendapatkan
teman baru. Ya. Aku sendiri hari ini.
Dalam kelompok ujian akhir, ada salah
satu laki-laki yang memotretku. Namun, aku sama sekali tidak menghiraukannya.
“Ka, ayo makan bareng di gazebo dekat
perpustakaan.” ajak teman perempuanku yang lain dengan ramah.
Aku mengangguk dan berjalan bersama
mereka.
“Uh. Aku dari dulu ingin bisa berteman
dengan Iska. Gara-gara anak jahat itu aku tidak bisa melakukannya.”
Aku tersenyum. Ya. Aku memang
kehilangan satu temanku. Namun, aku mendapatkan sepuluh teman penggantinya.
ABU-ABU
Rambut baru membuatku merasa lebih
berbeda. Aku berusaha untuk ramah pada lelaki tetapi aku masih belum sanggup.
Hatiku masih mendung akan luka.
Suasana kelas yang ribut membuatku
risih. Aku memilih untuk mencatat penjelasan guru daripada harus mempedulikan
orang-orang yang ribut itu. Salah satu dari mereka didapati menatapku tanpa
henti. Ia mendekatiku dan berusaha ramah denganku.
“Siapa namamu?”
“Gak tau.”
“Alamatmu dimana?”
“Gak tau”
“Kok gak tau alamatnya sendiri?”
Aku mengalihkan pandangan sembari
tersenyum sinis.
Bukannya berakhir, ia malah lebih
bersemangat untuk mendekatiku dan mencari informasi tentangku. Di area toilet,
aku menunggu temanku di depan pintu karena tidak bisa terkunci.
“Iska!” teriak seorang laki-laki dari
pintu sebelah toilet.
Aku menoleh sembari terus
menyeripitkan kedua mataku dan mencari tahu tentang seseorang itu.
Pertemuan dengan dirinya tidak lagi
menjengkelkan seperti masa laluku tetapi juga tidak merindukan. Sapaan hangat
terus ia ajukan di setiap kali aku bertemu dirinya di balkon sekolah. Namun,
aku tidak menggubrisnya sama sekali.
“Iska duduk dengan Danang” ucap Frau
membuatku merengut.
Aku menunggunya masuk terlebih dahulu
di dalam bangku dan membiarkannya tertidur.
Aku senyum dan fokus pada pekerjaanku.
Lalu, aku segera mengumpulkannya dan duduk kembali bersama teman-temanku.
Pertemuanku di luar kelas lagi-lagi tidak sebaik apa harapanku. Dia tak pernah
lelah untuk tersenyum padaku. Aku pun memberanikan diri untuk tersenyum
padanya. Seketika itu juga, manusia itu menghilang.
“Dari dulu sampai sekarang aku gak
pernah tau Iska punya doi.” teriak salah satu temanku membuat teman-teman
sekelas menatapku penuh tanda tanya.
“Masa?”
“Bohong. Aku gak percaya”
“Serius?”
Pelajaran mengenai antropologi yang
mengisahkan tentang peramalan anak kelas yang akan lebih dulu menikah merupakan
topik yang paling aku benci. Aku menggambar corat-coret di buku catatanku
sembari terus berharap pembahasan topik itu akan cepat usai.
PUTIH
Ramah adalah salah satu prinsipku
menjalani seorang Iska yang sudah berumur 17 tahun ini. Awalnya aku tidak bisa
dan tidak mempercayai keadaan apakah aku sanggup atau hanya sekedar angan-angan
belaka. Pada akhirnya, aku membutuhkan kekuatan dari kata nekat untuk
merealisasikan hal itu.
Tiba saat kerja kelompok, aku dan
teman perempuanku sudah bekerja keras selama empat pertemuan sedangkan teman
laki-lakiku hanya menerima jadinya saja tanpa bekerja apa-apa. Aku geram dan
kembali jahat pada kaum adam itu.
“Tugas untuk pertemuan kelima aku
serahkan pada Rozzi.”
“Aku gak bisa apa-apa e.”
“Bukan alasan. Kalau gak bisa, kenapa
teman-teman yang lain bisa? Aku beri format dan kamu kerjakan.” ucapku
membuatnya terdiam.
Keesokan harinya, dia menanyakan
padaku perihal pengerjaan makalah yang merupakan salah satu tugas yang aku
berikan beberapa hari yang lalu. Aku menjawabnya dengan detail dan memberikan
contoh pengerjaan yang bisa ia tiru. Dia terlihat paham dan alhasil
pekerjaannya selesai.
Tugas selanjutnya juga aku serahkan
pada Rozzi. Namun, dia tidak mengerjakannya dan melimpahkannya secara seenaknya
padaku dan Pita. Aku jengkel dan mengerjakannya dengan berusaha sebaik-baiknya.
Namun, keadaan memaksaku untuk berpikir seorang diri. Saat bertemu, dia meminta
maaf.
“Ya biarkan semuanya sudah terjadi.”
Selanjutnya, Rozzi menjadi tekun
mengerjakan makalah tanpa suruhanku. Aku bangga dan bahagia. Tiba di semester
genap, Rozzi pindah. Ia memilih untuk tidak kuliah. Aku sekedar memberikan
semangat tetapi tak disangka chat berikutnya dia ajukan. Aku merasa risih
tetapi aku posisikan pikiranku ke dalam area positif.
Kehadiran sosok lelaki tinggi dan
pemain basket menghipnotisku seketika. Ia dekat karena tahu aku berasal dari
salah satu sekolah swasta di kota Malang. Dia menanyakan perihal guru, teman,
dan anak dari organisasiku. Setiap hari, dia bercerita mengenai dirinya di
rumah dan sering merekam suaranya saat menyanyi. Ini adalah kali pertamanya aku
mengalami pengalaman seperti ini. Setiap kali bertemu di mentoring, dia selalu
bersikap ramah dan mendekatiku perihal menanyakan perempuan yang dulu adalah
teman sekolahku. Hingga ada saat dimana dia jengkel dengan temanku dengan
mengatakan kata-kata kasar padaku. Aku tidak bisa menerima itu dan akhirnya aku
hanya bisa menumpahkan air mata. Kedekatan yang aku anggap merupakan kedekataan
yang baik ternyata menjadi pemanfaatan saja.
Sejak saat itu, aku membenci diriku
sendiri yang jatuh terhadap lubang yang aku gali sendiri. Aku mulai mengikuti
organisasi. Aku belajar ramah dan tidak judes pada kaum-kaum itu meskipun masih
merasakan ketakutan yang luar biasa. Lalu, di tengah rapat ada seseorang yang
berteriak.
“Lemot!” teriaknya membuat seisi anak
menertawakanku.
Ia juga tidak jarang mengataiku jomblo
atau apalah itu karena tahu latar belakangku yang tidak pernah berpacaran. Hal
itu membuat seluruh anak mengetahui ‘keunikanku’ itu. Saat mempersiapkan
penampilan HUT, tiba-tiba mas Edo duduk sembari mengejekku ‘jomblo’ kembali.
Aku hanya tersenyum sembari mengalihkan pandangan. Saat bermain gong, ia
berdiri di dekatku tanpa melakukan apa-apa. Aku hanya fokus pada ketukan
gendang saja. Setelah itu, ia pergi. Tiba saat h-1 acara, kami sudah memulai
gladi bersih dan semuanya sudah mulai berkolaborasi antara drama, gamelan, akustik,
dan tari. Saat persiapan, tiba-tiba ada sentuhan tangan yang mengacak-acak
rambutku. Aku deg-degan dan langsung mengalihkan pandangan. Itu apa? Itu
ngapain?
Penampilan telah berhasil disuguhkan
dengan menakjubkan berkat yang Kuasa tentunya. Ada seorang asing datang ke lapangan.
Dia bukanlah orang yang pernah aku lihat dan aku tidak mempedulikan
keberadaannya.
Di kampus, mas Edo memintaku untuk
memberikan flashdisc yang berisi film
dan mengajakku untuk pulang bersamanya. Aku posisikan tempat dudukku dekat
dengan jok paling belakang dan mengukur jarang 10 cm dari mas Edo. Ia
mengajakku untuk makan di warung bakso. Aku tidak membeli apapun kecuali
minuman dingin. Dia menceritakanku tentang kampus dan kehidupannya. Aku hanya
mendengarkan dan berusaha untuk tetap tenang. Kakiku bergetar rasanya ingin
berlari pulang dan menjauh dari pengalaman-pengalaman aneh ini.
Saat bazar, lagi-lagi aku bertemu
dengan orang asing itu dan ia terlihat jago dalam hal elpiji. Penampilannya
seperti orang populer dengan kaca mata hitam dan rambut diikat.
“Ka! Ada yang mau kenalan.” teriak
Levy, salah satu temanku, sembari menarik laki-laki asing itu.
Aku spontan menggeleng. Mas Edo
kembali mendekat. Aku bingung dan memfokuskan diri pada masakan dan uang jualan
saja. Setelah bazar selesai, aku duduk menunggu jemputan seorang diri. Lelaki
asing itu terus menatapku. Aku menggerutu.
“Lihat-lihat ae!” batinku sembari
terus menatap ke arah utara.
Pertemuanku dengan Mas Edo tidak lagi
berujung santai seperti biasanya. Aku terus berusaha untuk menghindar dan
menjauh. Aku juga mengubah cara bicaraku di chat
dengan lebih kasar. Ia pun menghilang.
Kami mendapat tugas baru untuk mengisi
paduan suara. Orang asing itu datang lagi. Aku benar-benar tidak
mempedulikannya.
Aku tersenyum dan mendukung kedekatan
Intang dengan laki-laki itu. Tiba-tiba saja, orang asing itu mengirimkan pesan
padaku. Dia bertanya tentang jadwal latihan. Aku masih bisa menerima percakapan
ini hingga menjadi lebih serius. Saat latihan, ia datang dengan menggelitiki
tanganku saat bersalaman. Aku sontak menarik dan risih. Tidak hanya itu, dia menipuku dengan mengajakku melakukan tos tetapi ternyata ia melakukan tos dengan teman di belakangku. Hal-hal
aneh ia lakukan sampai memberikan kejutan di hari ulang tahunku yang ke delapan
belas tahun.
“Dius gak tidur kemarin, Ka. Dia
begadang demi ini. Maka dari itu, suaranya tadi gak keluar waktu nyanyi.” ucap
salah satu temanku sontak membuatku terdiam.
“Ayo foto.” ajak orang asing bernama
Dius itu sembari memberikanku buket jajan besar.
Aku menolak keras. Bukannya
diolok-olok, teman-teman malah menganggap tingkah lakuku lucu. Aku menjaga
jarak saat berfoto tanpa berani menatap matanya. Saat beranjak pulang, ia
kembali mengajakku untuk berfoto di atas vespa. Aku tidak lagi mempedulikan
ekspresi cantikku tetapi aku akan berusaha untuk menutup wajahku. Aku sangat
malu.
Aku kira itu adalah titik 0 dari
perjalanannya. Namun, ternyata itu adalah awal langkahnya hingga ia bisa
merebut dan mencairkan hatiku yang beku. Pertemuannya terus membawa kerinduan.
Meskipun aku hanyalah selembar putih yang kosong, ia mau menjadi pena yang membangkitkan
rasa percaya diriku dan menyadarkanku bahwa aku juga bisa berguna untuk orang
lain dengan apa adanya diriku.