untuk : Egidius foto : flickr           MERAH.           “Cie!”           Wajah merah padam tergambar sangar di wajahku sembari...

Sunburn and Falling Down

/
0 Comments



untuk : Egidius
foto : flickr

          MERAH.
          “Cie!”
          Wajah merah padam tergambar sangar di wajahku sembari perlahan melirik pada temanku yang tersenyum padaku. Aku mengalihkan pandangan dan berpikiran layaknya seorang anak-anak.
          Masa sekolah ini merupakan hal yang pertama kali aku dapatkan. Senam pagi, upacara setiap hari Senin, bercerita di setiap jam perwalian, dan berenang di setiap hari Sabtu. Kehadiran seorang teman yang terus membuatku diejek ‘cie’ itu seketika mengusik keamananku.
          “Iska! Iska! Ciee.”
          Aku diam sembari berlari cepat. Aku sembunyi.
          “Kenapa harus bertemu sih!” gerutuku dalam hati sembari terus menjauh dari keberadaan orang itu.
          Deg! Lagi-lagi bertemu di depan gerbang sekolah. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari cepat sembari mencari budheku di depan sekolah.
          “Iska. Ini pesanan ibumu” ucapnya sembari menatapku malu-malu.
          Aku hanya mengangguk sembari menyeret budheku agar cepat menjauh dari sekolah. Oh ya, aku juga menerima pesanan itu darinya. Selama perjalanan pulang, dia mengikutiku. Aku jengkel dan memilih mencari trabasan agar ia kehilangan jejak. Sampai di rumah, aku langsung mengunci pintu dan bermain dengan adik kecilku.
          “Kenapa kok cemberut?”
          “Ada yang ngikutin, Bu.”
          “Siapa?”
          “Teman sekelas Iska yang katanya suka sama Iska.”
          Ibu tertawa dan memelukku.
          Keesokan harinya, aku berangkat bersamaan dengan adikku.
          “Mbak, aku minta uang sangu tambahan”
          “Kan tadi sudah diberi ibu?”
          “Kurang” balas adikku sembari memamerkan pipi bakpaunya.
          “Ini. Jangan lupa aku dibelikan juga ya.” ancamku dengan memberikan uang 5000 rupiah.
          Tidak ada jawaban. Adik malah berlari kencang dengan kakinya yang kecil menuju kelas. Lalu, ia kembali lagi padaku.
          “Apa?”
          “Mbak, antar aku ke kelas. Aku takut”
          Aku pun menggandeng tangan adikku dengan lembut dan mengantarnya sampai di depan ruang kelas bertuliskan kelas satu.
          “Makasih, Mbak!” ucapnya membuatku tersenyum.
          Aku kembali ke kelas dan mendapati wajah laki-laki yang sama. Aku jengkel dan langsung menghindar terang-terangan di depan matanya. Peranku menjadi dokter cilik setiap hari Sabtu mampu membuatku sekejap merasa dewasa. Namun, kembali kekanak-kanakan ketika laki-laki itu piket jaga UKS di hari yang sama sepertiku. Aku cuek.
          “Ka, selimutnya dilipat dimana?”
          “Disitu.”
          “Ka, ini data temen yang sakit siapa yang nulis?”
          “Aku. Sudah.”
          “Oke.” balasnya sembari keluar dari ruang UKS.
          “Huh..aku gak mau. Malu.” batinku sambil melipat selimut.
          Tanggal ulang tahun menyapaku dengan hangat hari ini. Perayaan pesta ulang tahun akan aku rayakan besok. List nama teman-teman yang datang sudah aku tulis dan mencapai sepuluh anak. Senyum merona di wajahku.
          “Kamu gak ngajak dia?”
          Deg!
          “Ngapain?”
          “Iska. Dia suka sama kamu, lho. Pantaskah jika tidak kamu undang?”
          Aku diam.
          “Ya udah. Aku minta tolong ya.”
          “Siap.”
          Tiba di hari perayaan ulang tahunku. Aku mengajak temanku yang berulang tahun di tanggal yang sama sepertiku ke rumah. Aku mendapatkan kabar bahwa dia tidak bisa datang karena harus futsal. Aku lega dan bersemangat. Saat sudah berkumpul, tiba-tiba saja salah satu temanku tersesat saat mencari rumahku. Aku dan teman-teman berpencar untuk mencari keberadaannya. Namun, temanku ternyata memilih pulang karena sudah terlalu lama mencari rumahku dan menitipkan hadiah padaku. Sesampainya di rumah, dia sudah duduk di sofa. Keringat dingin mengucur deras di leherku. Aku langsung keluar dan memarahi ibu.
          “Kok dateng sih, Bu?”
          “Kan kamu yang ngundang?”
          “Tapi tadi dia bilang gak bisa.”
          “Terus?”
          “Harusnya gak dateng.”
          “Sudahlah. Masa mau kamu usir?”
          Aku jengkel dan masuk ke ruang tamu tanpa melihat wajahnya sama sekali. Selesai acara, aku langsung mengambil makanan dalam gabus.
          “Makasih sudah datang.” ucapku sambil melihat temannya yang terus mendorongnya untuk melihatku.
          “Sama-sama. Duluan, Ka.” balasnya sembari pergi bersama dia keluar pagar.
          Itu sudah berakhir. Jengkelnya lagi kenapa dia terus terbayang selama delapan tahun dalam pikiranku? Aku benar-benar tidak normal dengan wajar.
          BIRU
          “Jangan ganggu kakakku lagi. Dia sudah benar-benar pergi.” ucap adiknya yang tiba-tiba mengetikkan pesan padaku lewat facebook.
          “Kamu boleh menolakku tapi kamu harus tidak jadi dengan dia!” ucap salah satu temanku yang ternyata menyukaiku diam-diam.
          ARGHH!
          Aku menggerutu sembari menutup jendela tab dan bermain the sims selama enam jam tanpa makan.
          “Iska.”
          Aku tidak mempedulikan sapaan itu.
          “Hey!”
          Aku menoleh sembari tersenyum seadanya. Larangan untuk berteman dengan siapapun kini menjerat pikiran dan hatiku. Banyak teman yang ingin berbicara padaku tetapi aku memilih untuk cuek dan tidak mempedulikan mereka.
          “Iska kok manis?”
          Aku diam dan berjalan masuk ke dalam kelas. Aku kembali menyendiri.
          “Iska. Ayo temani aku ke perpustakaan.” ajak salah satu teman perempuanku.
          Aku tersenyum ramah dan mengikutinya.
          Dalam perjalanan menuju perpustakaan, aku melihat banyak gerombolan laki-laki membicarakanku. Aku tidak peduli.
          Tiba di perpustakaan. Aku bertemu dengan sahabat lamaku.
          “Eh, Ka. Menurutmu berapa hasil hitung-hitungan dari nomor dua ini?”
          Aku tersenyum dan melambaikan tangan pada temanku tetapi terhenti saat muncul suara keras di dekat telingaku.
          “Aku bicara denganmu, Ka. Kamu mendengarkan tidak? Sibuk menyapa lagi. Aku sudah bilang jangan berteman dengan siapapun kecuali aku!” teriaknya membuat seisi perpustakaan menatapnya.
          Aku diam sembari menunjukkan jawaban atas pertanyaannya tadi. Tiba saat kerja kelompok, aku duduk berhadapan dengan temanku laki-laki. Dia menatapku biasa tetapi seketika itu juga dia berusaha menjamah kedua tanganku. Sontak aku menarik dan langsung bersikap kejam padanya.        
          “Ngapain?”
          “Gak sengaja kok. Hehe”
          Aku langsung melihat arah lain. Aku takut.
          Sepulang sekolah, aku bermain media sosial yang bernama facebook. Seketika aku masih penasaran dengan perkembangan dia selama SMP ini. Namun, tiba-tiba ada undangan grup yang diajukan olehnya. Dengan spontan, aku menerima ajakan grup itu. Alhasil bukan grup baik yang disuguhkan tetapi grup yang penuh dengan sensor tubuh. Aku langsung keluar dan merasa harga diriku hancur. Aku memilih untuk tidak lagi menghubungi lelaki itu sampai kapanpun.
          Keadaanku benar-benar tidak terkendali. Tekanan temanku dan ingatan akan kejadian malam yang lalu membuatku tidak bisa berpikir panjang. Banyak orang menyapaku dengan takut-takut karena wajahku yang tidak menyenangkan. Temanku menjauh karena ia sudah mendapatkan teman baru. Ya. Aku sendiri hari ini.
          Dalam kelompok ujian akhir, ada salah satu laki-laki yang memotretku. Namun, aku sama sekali tidak menghiraukannya.
          “Ka, ayo makan bareng di gazebo dekat perpustakaan.” ajak teman perempuanku yang lain dengan ramah.
          Aku mengangguk dan berjalan bersama mereka.
          “Uh. Aku dari dulu ingin bisa berteman dengan Iska. Gara-gara anak jahat itu aku tidak bisa melakukannya.”
          Aku tersenyum. Ya. Aku memang kehilangan satu temanku. Namun, aku mendapatkan sepuluh teman penggantinya.
         
          ABU-ABU
          Rambut baru membuatku merasa lebih berbeda. Aku berusaha untuk ramah pada lelaki tetapi aku masih belum sanggup. Hatiku masih mendung akan luka.
          Suasana kelas yang ribut membuatku risih. Aku memilih untuk mencatat penjelasan guru daripada harus mempedulikan orang-orang yang ribut itu. Salah satu dari mereka didapati menatapku tanpa henti. Ia mendekatiku dan berusaha ramah denganku.
          “Siapa namamu?”
          “Gak tau.”
          “Alamatmu dimana?”
          “Gak tau”
          “Kok gak tau alamatnya sendiri?”
          Aku mengalihkan pandangan sembari tersenyum sinis.
          Bukannya berakhir, ia malah lebih bersemangat untuk mendekatiku dan mencari informasi tentangku. Di area toilet, aku menunggu temanku di depan pintu karena tidak bisa terkunci.
          “Iska!” teriak seorang laki-laki dari pintu sebelah toilet.
          Aku menoleh sembari terus menyeripitkan kedua mataku dan mencari tahu tentang seseorang itu.
          Pertemuan dengan dirinya tidak lagi menjengkelkan seperti masa laluku tetapi juga tidak merindukan. Sapaan hangat terus ia ajukan di setiap kali aku bertemu dirinya di balkon sekolah. Namun, aku tidak menggubrisnya sama sekali.
          “Iska duduk dengan Danang” ucap Frau membuatku merengut.
          Aku menunggunya masuk terlebih dahulu di dalam bangku dan membiarkannya tertidur.
          “Kamu cantik.” bisiknya membuatku melongo.
          “Apa?”
          “Enggak. Aku yakin nilaimu bagus. Semangat ya.” bisiknya sembari membiarkan kertas ujiannya kosong.
          Aku senyum dan fokus pada pekerjaanku. Lalu, aku segera mengumpulkannya dan duduk kembali bersama teman-temanku. Pertemuanku di luar kelas lagi-lagi tidak sebaik apa harapanku. Dia tak pernah lelah untuk tersenyum padaku. Aku pun memberanikan diri untuk tersenyum padanya. Seketika itu juga, manusia itu menghilang.
          “Dari dulu sampai sekarang aku gak pernah tau Iska punya doi.” teriak salah satu temanku membuat teman-teman sekelas menatapku penuh tanda tanya.
          “Masa?”
          “Bohong. Aku gak percaya”
          “Serius?”
          Pelajaran mengenai antropologi yang mengisahkan tentang peramalan anak kelas yang akan lebih dulu menikah merupakan topik yang paling aku benci. Aku menggambar corat-coret di buku catatanku sembari terus berharap pembahasan topik itu akan cepat usai.
          PUTIH
          Ramah adalah salah satu prinsipku menjalani seorang Iska yang sudah berumur 17 tahun ini. Awalnya aku tidak bisa dan tidak mempercayai keadaan apakah aku sanggup atau hanya sekedar angan-angan belaka. Pada akhirnya, aku membutuhkan kekuatan dari kata nekat untuk merealisasikan hal itu.
          Tiba saat kerja kelompok, aku dan teman perempuanku sudah bekerja keras selama empat pertemuan sedangkan teman laki-lakiku hanya menerima jadinya saja tanpa bekerja apa-apa. Aku geram dan kembali jahat pada kaum adam itu.
          “Tugas untuk pertemuan kelima aku serahkan pada Rozzi.”
          “Aku gak bisa apa-apa e.”
          “Bukan alasan. Kalau gak bisa, kenapa teman-teman yang lain bisa? Aku beri format dan kamu kerjakan.” ucapku membuatnya terdiam.
          Keesokan harinya, dia menanyakan padaku perihal pengerjaan makalah yang merupakan salah satu tugas yang aku berikan beberapa hari yang lalu. Aku menjawabnya dengan detail dan memberikan contoh pengerjaan yang bisa ia tiru. Dia terlihat paham dan alhasil pekerjaannya selesai.
          Tugas selanjutnya juga aku serahkan pada Rozzi. Namun, dia tidak mengerjakannya dan melimpahkannya secara seenaknya padaku dan Pita. Aku jengkel dan mengerjakannya dengan berusaha sebaik-baiknya. Namun, keadaan memaksaku untuk berpikir seorang diri. Saat bertemu, dia meminta maaf.
          “Ya biarkan semuanya sudah terjadi.”
          Selanjutnya, Rozzi menjadi tekun mengerjakan makalah tanpa suruhanku. Aku bangga dan bahagia. Tiba di semester genap, Rozzi pindah. Ia memilih untuk tidak kuliah. Aku sekedar memberikan semangat tetapi tak disangka chat berikutnya dia ajukan. Aku merasa risih tetapi aku posisikan pikiranku ke dalam area positif.
          Kehadiran sosok lelaki tinggi dan pemain basket menghipnotisku seketika. Ia dekat karena tahu aku berasal dari salah satu sekolah swasta di kota Malang. Dia menanyakan perihal guru, teman, dan anak dari organisasiku. Setiap hari, dia bercerita mengenai dirinya di rumah dan sering merekam suaranya saat menyanyi. Ini adalah kali pertamanya aku mengalami pengalaman seperti ini. Setiap kali bertemu di mentoring, dia selalu bersikap ramah dan mendekatiku perihal menanyakan perempuan yang dulu adalah teman sekolahku. Hingga ada saat dimana dia jengkel dengan temanku dengan mengatakan kata-kata kasar padaku. Aku tidak bisa menerima itu dan akhirnya aku hanya bisa menumpahkan air mata. Kedekatan yang aku anggap merupakan kedekataan yang baik ternyata menjadi pemanfaatan saja.
          Sejak saat itu, aku membenci diriku sendiri yang jatuh terhadap lubang yang aku gali sendiri. Aku mulai mengikuti organisasi. Aku belajar ramah dan tidak judes pada kaum-kaum itu meskipun masih merasakan ketakutan yang luar biasa. Lalu, di tengah rapat ada seseorang yang berteriak.
          “Lemot!” teriaknya membuat seisi anak menertawakanku.
          Ia juga tidak jarang mengataiku jomblo atau apalah itu karena tahu latar belakangku yang tidak pernah berpacaran. Hal itu membuat seluruh anak mengetahui ‘keunikanku’ itu. Saat mempersiapkan penampilan HUT, tiba-tiba mas Edo duduk sembari mengejekku ‘jomblo’ kembali. Aku hanya tersenyum sembari mengalihkan pandangan. Saat bermain gong, ia berdiri di dekatku tanpa melakukan apa-apa. Aku hanya fokus pada ketukan gendang saja. Setelah itu, ia pergi. Tiba saat h-1 acara, kami sudah memulai gladi bersih dan semuanya sudah mulai berkolaborasi antara drama, gamelan, akustik, dan tari. Saat persiapan, tiba-tiba ada sentuhan tangan yang mengacak-acak rambutku. Aku deg-degan dan langsung mengalihkan pandangan. Itu apa? Itu ngapain?
          Penampilan telah berhasil disuguhkan dengan menakjubkan berkat yang Kuasa tentunya. Ada seorang asing datang ke lapangan. Dia bukanlah orang yang pernah aku lihat dan aku tidak mempedulikan keberadaannya.
          Di kampus, mas Edo memintaku untuk memberikan flashdisc yang berisi film dan mengajakku untuk pulang bersamanya. Aku posisikan tempat dudukku dekat dengan jok paling belakang dan mengukur jarang 10 cm dari mas Edo. Ia mengajakku untuk makan di warung bakso. Aku tidak membeli apapun kecuali minuman dingin. Dia menceritakanku tentang kampus dan kehidupannya. Aku hanya mendengarkan dan berusaha untuk tetap tenang. Kakiku bergetar rasanya ingin berlari pulang dan menjauh dari pengalaman-pengalaman aneh ini.  
          Saat bazar, lagi-lagi aku bertemu dengan orang asing itu dan ia terlihat jago dalam hal elpiji. Penampilannya seperti orang populer dengan kaca mata hitam dan rambut diikat.
          “Ka! Ada yang mau kenalan.” teriak Levy, salah satu temanku, sembari menarik laki-laki asing itu.
          Aku spontan menggeleng. Mas Edo kembali mendekat. Aku bingung dan memfokuskan diri pada masakan dan uang jualan saja. Setelah bazar selesai, aku duduk menunggu jemputan seorang diri. Lelaki asing itu terus menatapku. Aku menggerutu.
          “Lihat-lihat ae!” batinku sembari terus menatap ke arah utara.
          Pertemuanku dengan Mas Edo tidak lagi berujung santai seperti biasanya. Aku terus berusaha untuk menghindar dan menjauh. Aku juga mengubah cara bicaraku di chat dengan lebih kasar. Ia pun menghilang.
          Kami mendapat tugas baru untuk mengisi paduan suara. Orang asing itu datang lagi. Aku benar-benar tidak mempedulikannya.
          Aku tersenyum dan mendukung kedekatan Intang dengan laki-laki itu. Tiba-tiba saja, orang asing itu mengirimkan pesan padaku. Dia bertanya tentang jadwal latihan. Aku masih bisa menerima percakapan ini hingga menjadi lebih serius. Saat latihan, ia datang dengan menggelitiki tanganku saat bersalaman. Aku sontak menarik dan risih.     Tidak hanya itu, dia menipuku dengan mengajakku melakukan tos tetapi ternyata ia melakukan tos dengan teman di belakangku. Hal-hal aneh ia lakukan sampai memberikan kejutan di hari ulang tahunku yang ke delapan belas tahun.
          “Dius gak tidur kemarin, Ka. Dia begadang demi ini. Maka dari itu, suaranya tadi gak keluar waktu nyanyi.” ucap salah satu temanku sontak membuatku terdiam.
          “Ayo foto.” ajak orang asing bernama Dius itu sembari memberikanku buket jajan besar.
          Aku menolak keras. Bukannya diolok-olok, teman-teman malah menganggap tingkah lakuku lucu. Aku menjaga jarak saat berfoto tanpa berani menatap matanya. Saat beranjak pulang, ia kembali mengajakku untuk berfoto di atas vespa. Aku tidak lagi mempedulikan ekspresi cantikku tetapi aku akan berusaha untuk menutup wajahku. Aku sangat malu.
          Aku kira itu adalah titik 0 dari perjalanannya. Namun, ternyata itu adalah awal langkahnya hingga ia bisa merebut dan mencairkan hatiku yang beku. Pertemuannya terus membawa kerinduan. Meskipun aku hanyalah selembar putih yang kosong, ia mau menjadi pena yang membangkitkan rasa percaya diriku dan menyadarkanku bahwa aku juga bisa berguna untuk orang lain dengan apa adanya diriku.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger