“Meskipun mereka jatuh dari awan yang berbeda, mereka
tetap bisa bertemu dalam pelabuhan muara yang sama.”
Aku tersenyum sembari menyeduh teh hangat yang ada di dekatku.
Jaket tebal tiba-tiba saja merangkulku tanpa sepengetahuanku.
“Apa kamu nyaman?”
“Dalam hal apa?”
“Berada di depanku saat ini.”
“Biasa saja.”
Aku tidak mampu mengartikan perihal perasaan yang
menggebu dalam jantungku. Aku menganggap itu hanyalah rasa yang biasa saja
bukan rasa yang berwarna atau mungkin baru. Dia terus menceritakan perihal
kesukaan dan masa lalu yang tak terlalu baik di sekolahnya. Dius adalah preman
sekolah tersabar yang pernah aku kenal.
“Preman?”
“Ya. Aku tidak akan bisa jika tidak mendatangi ruang BK
selama aku SMA.”
“Apa yang kamu lakukan disana?”
“Menjadi korban tuduhan temanku pastinya.”
“Kamu terima?”
“Ya. Bagiku, teman adalah segalanya.”
Aku terdiam sembari menatapnya yang terus
terpingkal-pingkal karena mengingat kenakalannya yang di luar wajar saat ia
masih remaja. Hujan terus mencari perhatianku dengan berbagai suara halilintar
yang menggetarkan bangku tempat aku duduk.
“Masa lalumu baik?”
“Tidak begitu.”
“Mengapa?”
“Ditinggikan lalu dijatuhkan. Aku harap kamu paham.”
“Oke. Aku paham sekarang.”
Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Belum sempat aku
melihat benar jam pada layar ponselku, Dius sudah mengemasi barangnya dan
mengajakku untuk kembali. Tawa orang-orang dalam restoran membuatku sedikit
terganggu. Mereka melihat Dius dengan rendah. Aku sontak berdiri di sebelah
Dius sembari menutupinya agar mereka berhenti menatapnya. Perjalanan dengan
suasana dingin membuatku kembali terdiam sembari mendengar segala humor yang ia
ceritakan. Aku hanya tertawa. Namun, nyaman itu kembali tersiar dalam mataku.
Apakah ini nyaman yang dipaksakan atau memang nyaman yang diperbolehkan?
Bioskop.
Aku duduk sembari bersandar kaku pada kursi dan
menatap tulisan exit dengan spontan.
Ya. Aku takut gelap. Dingin AC berlarian di seluruh ruangan sehingga semua
orang mampu merasakan hawanya. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku
jaket yang tidak terlalu hangat.
“Kedinginan?”
“Tidak.”
Aku berbohong. Sebuah adegan lucu membuat Dius tertawa
terpingkal-pingkal dengan keras. Aku kaget. Seluruh badanku bergetar hebat
karena kejutan itu. Aku pun akhirnya tertawa simpul saat melihatnya menatapku
agar aku juga ikut tertawa. Adegan romantis tersiar. Namun, hatiku tak
mengatakan suka pada segala performansi dalam layar tersebut. Akibatnya, aku
hanya bisa menampilkan wajah datar dan terus berimajinasi dengan pikiranku
sendiri.
Usai menonton, aku lantas berjalan cepat ke luar lorong
bioskop. Pening. Hujan menyapa kembali keberadaan kami.
“Kenapa hujan?”
“Mungkin memang saatnya.”
Dius memperbaiki arah sepeda motornya dan mengatakan
sesuatu padaku.
“Tuhan memberi hujan agar kita bisa memperagakan adegan
film tadi.”
Aku mengingat-ingat adegan dimana ada dua pasangan yang
menaiki motor tanpa mantel berjalan dengan hujan yang membasahi keduanya. Kami
bisa masuk angin jika melakukan hal itu. Aku hanya berdehem dan tersenyum
simpul. Karena sejujurnya aku malu.
Doa.
Perjalanan ditempuh selama satu jam menuju daerah
kabupaten kota. Kami berangkat dengan dua pengendara ahli. Tidak. Kami berangkat
dengan sepasang teman kami sehingga berjumlah empat orang. Aku menikmati
perjalanan sembari menatap punggung Dius. Jujur, aku tidak mempercayai
keadaanku saat ini. Selama delapan belas tahun, aku berjalan dalam lorong
kehidupan seorang diri. Saat aku terjatuh, aku mencari cara untuk bangun. Saat
aku kesepian, aku mencari teman bayangan dalam imajinasiku seorang diri. Dan
kini, bukan lagi imajinasi, ia nyata benar-benar ada dan bisa aku sentuh
layaknya manusia. Dius.
Aneka gelak tawa tersiar dalam wajah ketiganya. Aku?
Tentu hanya diam.
“Jangan hujan-hujan!”
Ya. Hujan kembali datang.
Cekrik!
Suara kamera dari belakang membuatku terkejut dan
memutar bola mataku untuk mencari sumber paparazi. Dius. Dia tersenyum sembari
melihat galeri foto dalam kameranya.
Dua temanku yang sibuk satu sama lain membuatku terdiam
sembari menunggu Dius mendekatiku seusai ia memotret dua sejoli itu.
Kebahagiaan sembari melihat patung bunda Maria yang berada tepat di depanku
membuatku tenang. Gemericik hujan yang mengaliri bebatuan dan tanaman hijau di
sekitarnya menciptakan pemandangan kabut yang elok rupawan.
Hujan deras membuat helm kami basah kuyub.
“Ambil.” ucap Dius sembari memberikan topi.
“Untuk?”
“Kenakan di kepalamu agar air yang ada di helmmu merambat
dalam topiku bukan kepalamu.”
Aku menurutinya sembari terus merasakan penghargaan diri.
Di suasana yang dingin, semangkuk bakso hangat berhasil meluluhkan segala penat
yang ada. Aku kembali diam dan menatap seru ketiga temanku yang saling
berbicara satu sama lain.
“Aku yang bayar.” ucapnya saat aku memberikan uang pada
sang penjual yang terlihat kebingungan.
Kini, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Apakah
keberadaannya itu adalah sesuatu genggaman atau sandaran sementara?
Kopi.
Sepi, sunyi, dan tenang adalah tempat favoritku.
Namun, aku memberanikan diri untuk memasuki dunia lain. Dimana banyak kerumunan
lelaki yang sibuk menyeduh kopi hangat sembari bermain ponsel dengan sebayanya.
Seorang wanita cantik menatapku dengan tajam. Aku tak begitu mempedulikannya
dan memilih untuk tetap mengagumi kepadatan jalan di tepi warung ini.
“Mau pesen apa?”
“Aku tidak membawa uang.”
“Sudahlah.”
“Air putih.”
“Aduh. Dimana-mana air putih. Teh?”
“Ya sudah.”
Aku menyeduh teh dan kembali menikmati keindahan jalan
raya. Tatapan wanita itu tetap sama dari lima belas menit yang lalu.
“Ini restoran milik temanku. Apa kamu terganggu dengan
situasi ini?”
“Hanya tidak biasa saja.”
“Lalu akan berusaha terbiasa?”
“Ya.”
“Terima kasih”
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kini, kami
kembali dengan suasana jalan raya yang lengang tidak sama dengan pemandangan
sebelumnya. Perasaanku? Ya. Aku mengalami pengalaman baru tentunya. Namun,
tidak menjadi nikmat jika ada tatapan tidak bersahabat dari seorang wanita yang
ternyata adalah masa lalu Dius.
Omah Kayu.
Cuaca
yang terik dari sinar mentari membuatku sedikit mengeluh. Ramainya tempat paralayang
membuatku merasa grusah-grusuh. Ya, cemasku memang terkadang keterlaluan. Kamera
yang menjadi andalannya terus ia mainkan di dekatku. Segala instruksi pose yang diperintahkan segera aku
laksanakan untuk membantu menyukseskan pembuatan video singkatnya. Aku tidak
bisa menampilkan sesuatu yang luar biasa bak artis. Saat ia memintaku untuk berpose saat menulis, aku menampilkan wajah
berkerut seperti berpikir dan mulut yang bergerak bak orang yang mencari ide melalui
kata-kata yang disusun dalam imajinasinya. Salah satu imajinasiku selama
delapan belas tahun silam bahwa kelak aku akan memiliki video singkatku sendiri
ternyata nyata.
Beralih
tempat, kami memasuki pemandangan alam dimana suasana menjadi dingin karena
adanya ribuan pepohonan menjulang dari berbagai arah. Apik tenan.
“Ayo
naik rumah kayu!”
“Duluan.”
Degup
jantung terasa berdentang cukup keras seperti lonceng gereja yang berdendang
saat hari raya Natal. Aku beranikan kaki ini melangkah sembari menatap jurang
dalam yang ada di bawah benda yang kunaiki ini. Aku menjerit dalam hati. Namun,
aku berhasil. Bukannya mendukung, Dius malah menertawakanku dan hendak memotret
wajahku.
“Kalau
dipotret, aku turun!” ucapku tegas membuatnya melepaskan kamera dari tangannya.
Dia
tidak berhenti tertawa. Namun, sosok kakak terlihat dari sikapnya saat ini.
Jalanan
yang licin membuatku hampir terjatuh berulang kali. Dius berjalan dekat dengan
sisi belakangku. Hmm. Apakah definisi
rasa yang sebenarnya terjadi? Tawa menggelak pada wajah kami tanpa alasan. Banyak
orang merasa risih dan menatap kami dengan wajah penasaran. Namun, segera aku
hentikan tawa yang berlebihan itu dalam kebahagiaan yang aku simpan dalam
lekung senyumku saja. Definisi bahagia.
Saudara.
Perkumpulan
keluarga besar yang tak dikenal membuatku kesakitan. Ya. Kesakitan karena
cemasku menjadi terlalu hebat. Penglihatan menjadi sangat cepat berpindah ke
kanan dan kiri, tangan menjadi dingin, degup jantung yang tidak beraturan,
kepala yang berputar, dan bibir yang tidak bisa berkata apa-apa. Ya. Terkadang
hal itu membuat semua orang memandangku tidak ramah dan sombong.
“Nduk,
ayo bantu-bantu di dalam.”
“Iya,
Tante.”
Aku
memutar balikkan kain tempat kue dengan perlahan sembari merekam semua wajah
yang ada di sekitarku. Ya. Aku tidak sanggup untuk melanjutkannya.
“Dius,
tolong antarkan kue ini”
“Dius,
tolong beli air mineral tambahan di toko”
“Dius,
tolong beli peralatan P3K di toko”
“Dius,
tolong angkat kursi-kursi ini”
“Dius...tolong
tetap disini” batinku sembari terus menatapnya yang terlihat berlalu lalang
lalu pergi.
Kosong.
Aku hanya duduk menjadi batu tanpa bersuara dan berusaha menenangkan jiwaku
yang terus saja merasa khawatir dan gugup dengan situasi baru. Penat yang
semakin penat membuat aku tak bisa bersikap ramah dan memperkenalkan diri
dengan baik. Santapan sendok kecil secara perlahan aku santap dengan harapan
bisa memperbaiki kondisiku. Percuma.
“Terima
kasih sudah mau datang di acara ini.”
“Ya.”
“Kamu
tidak apa-apa?”
“Sedikit
gugup.”
“Sejak
tadi?”
“Sejak
awal.”
“Kenapa
tanganmu dingin?”
“Ya,
karena kecemasan itu.”
“Kenapa
mau bertahan?”
“Karena
ini pilihanku dan resikoku.”
Aku
benar-benar gugup karena berbagai undangan perlahan memenuhi bangku di
sekitarku. Cukup. Aku akan pulang.
Tiba
saat pemandian pengantin, aku melihat jam sudah menunjukkan pukul dua siang.
Aku meminta Dius untuk mengantarku pulang sembari berpamitan dengan semua
saudaranya. Ya. Aku bisa menunduk sembari meredakan kondisiku. Saat perjalanan
pulang, aku sembuh. Kadang aku tidak bisa mengontrolnya sendiri. Terima kasih.
Kabar.
“Kamu
mau membayarku berapa?”
“Untuk
apa?”
“Agar
aku bisa memberikan jutaan waktu padamu”
“Memangnya
kenapa?”
“Waktumu
sudah terkikis karena kesibukan-kesibukan yang ada. Lalu, kenapa tidak
membayarku dan kalian bisa bertemu setiap saat?”
“Apa
kuasamu?”
“Aku
detik jam yang terus berjalan tak lekang oleh waktu. Aku bisa saja berhenti dan
menggandakan waktuku untukmu.”
“Aku
tidak memerlukannya.”
“Apa
kamu mau bersusah payah menunggu dan menunggu setiap hari?”
“Jikalau
itu yang harus aku lakukan apa boleh buat? Lebih baik aku memanfaatkan waktu
yang diberikanNya daripada harus menggandakan waktu yang tidak jelas darimu.”
Lenyap.
Layar ponsel andalan menemani segala aktivitasku. Tak jarang aku mengingat jam
12.00, 18.00, dan 22.00. Hari dimana kabarku harus tersampaikan padanya
meskipun tidak terbalas darinya. Imajinasi seorang lelaki yang multitalent
sudah membanjiri puluhan karya singkatku. Namun, sang Kuasa malah memberikan
lelaki yang sangat multitalent dan berhati setia di muka bumi ini. Kala aku
mengingat di segala acara, ia selalu memiliki ribuan disana.
“Dius!”
“Oii,
Dius!”
Panggilan-panggilan
yang menandakan kerinduan mereka terhadap seorang Dius terkadang membuatku iri.
Apakah jika aku berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak, ada orang yang
akan menyapaku seperti itu? Tidak tahu. Mungkin? Tidak. Aku hanya mampu menatap
senyum kebersamaannya dengan teman-temannya yang sama sekali tidak berkhianat.
“Maaf,
aku tidak ada kabar.”
“Iya”
“Kenapa
mau bertahan?”
“Kembali
lagi. Pilihanku adalah resikoku.”
“Kenapa
tidak lelah? Apa tidak mau menggantiku dengan lembaran lain?”
“Jika
aku lelah, aku tidak akan menerima lembaranmu sejak awal.”
Aku
hanya mampu mendengarkan suara pesan yang pernah ia kirimkan di saat lengang.
Kini, aku tahu. Waktu adalah sesuatu yang berharga meskipun kadang ia kejam
bisa merenggut nyawa tanpa kenal situasi dan kondisi yang ada.
Gaun
indah menghiasi tubuhku dengan berbagai hiasan wajah yang menawan. Senyum
simpul diajukan Dius dengan jas hitam kebanggaannya sembari menghentikan tangis
yang keluar dari mataku.
“Jika aku lelah, aku tidak akan menerima lembaranmu sejak awal.” itu, bikin perasaanku campur aduk
BalasHapusWahh iya terima kasih master
Hapus