untuk : anonim foto : flickr             Tik..tik..tik..             Makan Malam (1)             “Kamu tau apa yang aku suka d...

Sunburn and Rising Up

/
2 Comments


untuk : anonim
foto : flickr

            Tik..tik..tik..
            Makan Malam (1)
            “Kamu tau apa yang aku suka dari hujan?”
            “Apa?”
            “Meskipun mereka jatuh dari awan yang berbeda, mereka tetap bisa bertemu dalam pelabuhan muara yang sama.”
            Aku tersenyum sembari menyeduh teh hangat yang ada di dekatku. Jaket tebal tiba-tiba saja merangkulku tanpa sepengetahuanku.
            “Apa kamu nyaman?”
            “Dalam hal apa?”
            “Berada di depanku saat ini.”
            “Biasa saja.”
            Aku tidak mampu mengartikan perihal perasaan yang menggebu dalam jantungku. Aku menganggap itu hanyalah rasa yang biasa saja bukan rasa yang berwarna atau mungkin baru. Dia terus menceritakan perihal kesukaan dan masa lalu yang tak terlalu baik di sekolahnya. Dius adalah preman sekolah tersabar yang pernah aku kenal.
            “Preman?”
            “Ya. Aku tidak akan bisa jika tidak mendatangi ruang BK selama aku SMA.”
            “Apa yang kamu lakukan disana?”
            “Menjadi korban tuduhan temanku pastinya.”
            “Kamu terima?”
            “Ya. Bagiku, teman adalah segalanya.”
            Aku terdiam sembari menatapnya yang terus terpingkal-pingkal karena mengingat kenakalannya yang di luar wajar saat ia masih remaja. Hujan terus mencari perhatianku dengan berbagai suara halilintar yang menggetarkan bangku tempat aku duduk.
            “Masa lalumu baik?”
            “Tidak begitu.”
            “Mengapa?”
            “Ditinggikan lalu dijatuhkan. Aku harap kamu paham.”
            “Oke. Aku paham sekarang.”
            Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Belum sempat aku melihat benar jam pada layar ponselku, Dius sudah mengemasi barangnya dan mengajakku untuk kembali. Tawa orang-orang dalam restoran membuatku sedikit terganggu. Mereka melihat Dius dengan rendah. Aku sontak berdiri di sebelah Dius sembari menutupinya agar mereka berhenti menatapnya. Perjalanan dengan suasana dingin membuatku kembali terdiam sembari mendengar segala humor yang ia ceritakan. Aku hanya tertawa. Namun, nyaman itu kembali tersiar dalam mataku. Apakah ini nyaman yang dipaksakan atau memang nyaman yang diperbolehkan?
            Bioskop.
            Aku duduk sembari bersandar kaku pada kursi dan menatap tulisan exit dengan spontan. Ya. Aku takut gelap. Dingin AC berlarian di seluruh ruangan sehingga semua orang mampu merasakan hawanya. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket yang tidak terlalu hangat.
            “Kedinginan?”
            “Tidak.”
            Aku berbohong. Sebuah adegan lucu membuat Dius tertawa terpingkal-pingkal dengan keras. Aku kaget. Seluruh badanku bergetar hebat karena kejutan itu. Aku pun akhirnya tertawa simpul saat melihatnya menatapku agar aku juga ikut tertawa. Adegan romantis tersiar. Namun, hatiku tak mengatakan suka pada segala performansi dalam layar tersebut. Akibatnya, aku hanya bisa menampilkan wajah datar dan terus berimajinasi dengan pikiranku sendiri.           
            Usai menonton, aku lantas berjalan cepat ke luar lorong bioskop. Pening. Hujan menyapa kembali keberadaan kami.
            “Kenapa hujan?”
            “Mungkin memang saatnya.”
            Dius memperbaiki arah sepeda motornya dan mengatakan sesuatu padaku.
            “Tuhan memberi hujan agar kita bisa memperagakan adegan film tadi.”
            Aku mengingat-ingat adegan dimana ada dua pasangan yang menaiki motor tanpa mantel berjalan dengan hujan yang membasahi keduanya. Kami bisa masuk angin jika melakukan hal itu. Aku hanya berdehem dan tersenyum simpul. Karena sejujurnya aku malu.
            Doa.
            Perjalanan ditempuh selama satu jam menuju daerah kabupaten kota. Kami berangkat dengan dua pengendara ahli. Tidak. Kami berangkat dengan sepasang teman kami sehingga berjumlah empat orang. Aku menikmati perjalanan sembari menatap punggung Dius. Jujur, aku tidak mempercayai keadaanku saat ini. Selama delapan belas tahun, aku berjalan dalam lorong kehidupan seorang diri. Saat aku terjatuh, aku mencari cara untuk bangun. Saat aku kesepian, aku mencari teman bayangan dalam imajinasiku seorang diri. Dan kini, bukan lagi imajinasi, ia nyata benar-benar ada dan bisa aku sentuh layaknya manusia. Dius.
            Aneka gelak tawa tersiar dalam wajah ketiganya. Aku? Tentu hanya diam.
            “Jangan hujan-hujan!”
            Ya. Hujan kembali datang.
            Cekrik!
            Suara kamera dari belakang membuatku terkejut dan memutar bola mataku untuk mencari sumber paparazi. Dius. Dia tersenyum sembari melihat galeri foto dalam kameranya.
            Dua temanku yang sibuk satu sama lain membuatku terdiam sembari menunggu Dius mendekatiku seusai ia memotret dua sejoli itu. Kebahagiaan sembari melihat patung bunda Maria yang berada tepat di depanku membuatku tenang. Gemericik hujan yang mengaliri bebatuan dan tanaman hijau di sekitarnya menciptakan pemandangan kabut yang elok rupawan.
            Hujan deras membuat helm kami basah kuyub.
            “Ambil.” ucap Dius sembari memberikan topi.
            “Untuk?”
            “Kenakan di kepalamu agar air yang ada di helmmu merambat dalam topiku bukan kepalamu.”
            Aku menurutinya sembari terus merasakan penghargaan diri. Di suasana yang dingin, semangkuk bakso hangat berhasil meluluhkan segala penat yang ada. Aku kembali diam dan menatap seru ketiga temanku yang saling berbicara satu sama lain.
            “Aku yang bayar.” ucapnya saat aku memberikan uang pada sang penjual yang terlihat kebingungan.
            Kini, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Apakah keberadaannya itu adalah sesuatu genggaman atau sandaran sementara?
            Kopi.
            Sepi, sunyi, dan tenang adalah tempat favoritku. Namun, aku memberanikan diri untuk memasuki dunia lain. Dimana banyak kerumunan lelaki yang sibuk menyeduh kopi hangat sembari bermain ponsel dengan sebayanya. Seorang wanita cantik menatapku dengan tajam. Aku tak begitu mempedulikannya dan memilih untuk tetap mengagumi kepadatan jalan di tepi warung ini.
            “Mau pesen apa?”
            “Aku tidak membawa uang.”
            “Sudahlah.”
            “Air putih.”
            “Aduh. Dimana-mana air putih. Teh?”
            “Ya sudah.”
            Aku menyeduh teh dan kembali menikmati keindahan jalan raya. Tatapan wanita itu tetap sama dari lima belas menit yang lalu.     
            “Ini restoran milik temanku. Apa kamu terganggu dengan situasi ini?”
            “Hanya tidak biasa saja.”
            “Lalu akan berusaha terbiasa?”
            “Ya.”
            “Terima kasih”
            Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kini, kami kembali dengan suasana jalan raya yang lengang tidak sama dengan pemandangan sebelumnya. Perasaanku? Ya. Aku mengalami pengalaman baru tentunya. Namun, tidak menjadi nikmat jika ada tatapan tidak bersahabat dari seorang wanita yang ternyata adalah masa lalu Dius.
Omah Kayu.
Cuaca yang terik dari sinar mentari membuatku sedikit mengeluh. Ramainya tempat paralayang membuatku merasa grusah-grusuh. Ya, cemasku memang terkadang keterlaluan. Kamera yang menjadi andalannya terus ia mainkan di dekatku. Segala instruksi pose yang diperintahkan segera aku laksanakan untuk membantu menyukseskan pembuatan video singkatnya. Aku tidak bisa menampilkan sesuatu yang luar biasa bak artis. Saat ia memintaku untuk berpose saat menulis, aku menampilkan wajah berkerut seperti berpikir dan mulut yang bergerak bak orang yang mencari ide melalui kata-kata yang disusun dalam imajinasinya. Salah satu imajinasiku selama delapan belas tahun silam bahwa kelak aku akan memiliki video singkatku sendiri ternyata nyata.
Beralih tempat, kami memasuki pemandangan alam dimana suasana menjadi dingin karena adanya ribuan pepohonan menjulang dari berbagai arah. Apik tenan.
“Ayo naik rumah kayu!”
“Duluan.”
Degup jantung terasa berdentang cukup keras seperti lonceng gereja yang berdendang saat hari raya Natal. Aku beranikan kaki ini melangkah sembari menatap jurang dalam yang ada di bawah benda yang kunaiki ini. Aku menjerit dalam hati. Namun, aku berhasil. Bukannya mendukung, Dius malah menertawakanku dan hendak memotret wajahku.
“Kalau dipotret, aku turun!” ucapku tegas membuatnya melepaskan kamera dari tangannya.
Dia tidak berhenti tertawa. Namun, sosok kakak terlihat dari sikapnya saat ini.
Jalanan yang licin membuatku hampir terjatuh berulang kali. Dius berjalan dekat dengan sisi belakangku. Hmm. Apakah definisi rasa yang sebenarnya terjadi? Tawa menggelak pada wajah kami tanpa alasan. Banyak orang merasa risih dan menatap kami dengan wajah penasaran. Namun, segera aku hentikan tawa yang berlebihan itu dalam kebahagiaan yang aku simpan dalam lekung senyumku saja. Definisi bahagia.
Saudara.
Perkumpulan keluarga besar yang tak dikenal membuatku kesakitan. Ya. Kesakitan karena cemasku menjadi terlalu hebat. Penglihatan menjadi sangat cepat berpindah ke kanan dan kiri, tangan menjadi dingin, degup jantung yang tidak beraturan, kepala yang berputar, dan bibir yang tidak bisa berkata apa-apa. Ya. Terkadang hal itu membuat semua orang memandangku tidak ramah dan sombong.
“Nduk, ayo bantu-bantu di dalam.”
“Iya, Tante.”
Aku memutar balikkan kain tempat kue dengan perlahan sembari merekam semua wajah yang ada di sekitarku. Ya. Aku tidak sanggup untuk melanjutkannya.
“Dius, tolong antarkan kue ini”
“Dius, tolong beli air mineral tambahan di toko”
“Dius, tolong beli peralatan P3K di toko”
“Dius, tolong angkat kursi-kursi ini”
“Dius...tolong tetap disini” batinku sembari terus menatapnya yang terlihat berlalu lalang lalu pergi.
Kosong. Aku hanya duduk menjadi batu tanpa bersuara dan berusaha menenangkan jiwaku yang terus saja merasa khawatir dan gugup dengan situasi baru. Penat yang semakin penat membuat aku tak bisa bersikap ramah dan memperkenalkan diri dengan baik. Santapan sendok kecil secara perlahan aku santap dengan harapan bisa memperbaiki kondisiku. Percuma.
“Terima kasih sudah mau datang di acara ini.”
“Ya.”
“Kamu tidak apa-apa?”
“Sedikit gugup.”
“Sejak tadi?”
“Sejak awal.”
“Kenapa tanganmu dingin?”
“Ya, karena kecemasan itu.”
“Kenapa mau bertahan?”
“Karena ini pilihanku dan resikoku.”
Aku benar-benar gugup karena berbagai undangan perlahan memenuhi bangku di sekitarku. Cukup. Aku akan pulang.
Tiba saat pemandian pengantin, aku melihat jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku meminta Dius untuk mengantarku pulang sembari berpamitan dengan semua saudaranya. Ya. Aku bisa menunduk sembari meredakan kondisiku. Saat perjalanan pulang, aku sembuh. Kadang aku tidak bisa mengontrolnya sendiri. Terima kasih.

Kabar.
“Kamu mau membayarku berapa?”
“Untuk apa?”
“Agar aku bisa memberikan jutaan waktu padamu”
“Memangnya kenapa?”
“Waktumu sudah terkikis karena kesibukan-kesibukan yang ada. Lalu, kenapa tidak membayarku dan kalian bisa bertemu setiap saat?”
“Apa kuasamu?”
“Aku detik jam yang terus berjalan tak lekang oleh waktu. Aku bisa saja berhenti dan menggandakan waktuku untukmu.”
“Aku tidak memerlukannya.”
“Apa kamu mau bersusah payah menunggu dan menunggu setiap hari?”
“Jikalau itu yang harus aku lakukan apa boleh buat? Lebih baik aku memanfaatkan waktu yang diberikanNya daripada harus menggandakan waktu yang tidak jelas darimu.”
Lenyap. Layar ponsel andalan menemani segala aktivitasku. Tak jarang aku mengingat jam 12.00, 18.00, dan 22.00. Hari dimana kabarku harus tersampaikan padanya meskipun tidak terbalas darinya. Imajinasi seorang lelaki yang multitalent sudah membanjiri puluhan karya singkatku. Namun, sang Kuasa malah memberikan lelaki yang sangat multitalent dan berhati setia di muka bumi ini. Kala aku mengingat di segala acara, ia selalu memiliki ribuan disana.
“Dius!”
“Oii, Dius!”
Panggilan-panggilan yang menandakan kerinduan mereka terhadap seorang Dius terkadang membuatku iri. Apakah jika aku berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak, ada orang yang akan menyapaku seperti itu? Tidak tahu. Mungkin? Tidak. Aku hanya mampu menatap senyum kebersamaannya dengan teman-temannya yang sama sekali tidak berkhianat.
“Maaf, aku tidak ada kabar.”
“Iya”
“Kenapa mau bertahan?”
“Kembali lagi. Pilihanku adalah resikoku.”
“Kenapa tidak lelah? Apa tidak mau menggantiku dengan lembaran lain?”
“Jika aku lelah, aku tidak akan menerima lembaranmu sejak awal.”
Aku hanya mampu mendengarkan suara pesan yang pernah ia kirimkan di saat lengang. Kini, aku tahu. Waktu adalah sesuatu yang berharga meskipun kadang ia kejam bisa merenggut nyawa tanpa kenal situasi dan kondisi yang ada.
Gaun indah menghiasi tubuhku dengan berbagai hiasan wajah yang menawan. Senyum simpul diajukan Dius dengan jas hitam kebanggaannya sembari menghentikan tangis yang keluar dari mataku.

“Terima kasih.”


2 komentar:

  1. “Jika aku lelah, aku tidak akan menerima lembaranmu sejak awal.” itu, bikin perasaanku campur aduk

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger