untuk: Mega Novalia Gasper (Story Request) foto : flickr “Kak! Pulang!” Aku menatap sembari terus merasakan sakit pada pergelanga...

Sudah Resmi

/
0 Comments


untuk: Mega Novalia Gasper (Story Request)
foto : flickr

“Kak! Pulang!”
Aku menatap sembari terus merasakan sakit pada pergelangan tanganku karena tarikan kuat Vicko.
“Plis, Ven. Jangan lepas tanganku.” pinta Vicko yang terus meremas pergelangan tanganku di pintu bandara.
“Maaf.” ucapku seraya melepaskan genggaman Vicko dan memasuki bandara tanpa menengok ke arah belakang.
Sejak saat itu ia hilang dan bersembuyi tanpa bayangan.

Prestasiku dalam akademis berhasil membawaku untuk melanjutkan pendidikan S2 di Sydney, Australia. Kebahagiaan yang tak terkira karena tidak menyangka akan secepat ini terasa penuh kegembiraan. Namun, kesedihan datang karena kabar Vicko yang tak kunjung datang memberi salam.  Aku habiskan kesedihan itu dengan melakukan banyak prestasi dan berbagai perayaan di hari Natal.
“Mati aku!” teriakku sembari menggeledah seluruh isi kamarku. Aku benar-benar sudah menghilangkan tiket pulangku ke Indonesia.
Aku merenung sembari teringat kembali pada kenangan itu. Di Jogja.
“Mau pinjam laptop lagi?”
“Iya, Cko. Boleh kan? Besok aku harus ngumpulkan makalahku.”
“Iya gak papa. Entar chargernya aku kirim ke rumah aku lagi gak bawa.”
“Makasih hehe. Kamu mau ada kuliah lagi a?”
“Heem. Aku gak pake laptop. Kamu pulang setelah aku selesai kuliah ya. Jangan bawa kabur.”
“Iyaa siap. Aku nunggu sambil nugas aja kalau gitu. Gimana nyalakannya?”
“Duh, gitu aja gak bisa. Anak jaman era kapan kamu?”
“Wes wes sana. Kuliah aja daripada disini marah-marah.”
Aku pun langsung mengerjakan tugasku dengan senang sembari merasakan tanganku yang bisa berjalan cepat di layar keyboard. Selama ini, aku hanya bisa menuliskan makalahku di aplikasi microsoft word android. Aku sering mengalami kesulitan karena tidak bisa mengatur tata letak word android semudah di monitor. Meskipun menyebalkan, Vicko adalah penolongku bisa lulus dari kuliah ini.
Tok..tok..
“Masuk!”
“Ini chargernya.”
“Makasih, Cko. Gak mampir?”
“Sudah wes. Ada masalah a?”
“Mm..aku gak bisa ngatur margin hehe.”
“Aduh! Sini sini!”

Brak!
Saking serunya melamun aku tak sadar telah menabrak pipa besar di depanku hingga aku pening. Suasana natal yang berbeda tentunya dari negaraku. Aku menemukan ribuan rumah. Tidak. Semua rumah lebih tempatnya diberi hiasan lampu natal sehingga tampak sangat bercahaya. Tidak hanya rumah beserta atapnya yang bercahaya, mereka juga memberikan patung berbentuk rusa. Seorang sinterklas ceroboh tiba-tiba menabrakku hingga aku terkelungkup di atas gundukan salju. Ia bukanlah orang asli negara ini. Dia terlihat cuek sembari terus berlari membawa ribuan permen dengan sepatu skinya. Aku hanya terdiam sembari menyibak salju yang bergelantungan di kerah kemejaku.
“Kamu bukan orang sini?”
“Iya, bukan.”
“Mau menikmati natal bersamaku? Aku juga orang Indonesia.”
“Oh iya nek.”
“Silakan masuk.” ucap nenek itu sembari mempersilakan aku masuk ke rumah kecilnya.
Aku memasuki rumah nenek itu sembari menunduk karena pintu rumahnya yang terlalu pendek. Sampainya aku di dalam, aku melihat hiasan-hiasan natal klasik yang memanjakan mata. Selain itu, ruang tamu ini disajikan api penghangat sehingga suasana dingin di luar ruangan terselimuti oleh kehangatannya. Seseorang dengan paras manis keluar membulatkan kedua mataku.
“Silakan diminum” ucap gadis itu sembari memberikanku coklat panas.
Aku menunduk sembari meminum coklat itu.
“Kak Roman? Mengapa kakak disini?”
Tanpa berlarut aku lantas mencium tangan si nenek dan keluar dari rumah itu.
“Aku mewakili orang tuaku melarang keras hubungan kak Vicko dan kak Roman. Aku tidak sudi dan tidak mau melihat wajahmu lagi, Kak. Hari ini adalah hari terakhirku melihat kalian bersama dan tidak akan ada hari lain lagi!”
Aku akan mengacaukan keluarga itu jika terus menampilkan wajah ini pada mereka. Andai bisa seperti bintang. Mereka memang ada di langit tetapi mereka bisa meredup sewaktu-waktu sehingga di saat siang orang tidak akan sadar akan keberadaanya.
“Snowball fight!” teriak seorang anak kecil sembari melemparkan salju mengarah pada wajahku.
Peng!! Semua berputar seketika. Seorang laki-laki tinggi besar mendekati sembari meminta maaf sebelum ia terdiam begitu lama.
“Tidak apa-apa.” ucapku sembari terhenti pada wajah tak asing di depanku ini.
Vicko.
“Terima kasih.” lanjutku cepat sembari beranjak dari tidur singkatku dan berlari secepat mungkin.
Di hadapan pohon natal tertinggi di kota Sydney, aku menghitung banyaknya hiasan natal yang tergantung sembari terus memijat dahiku yang membeku. Salju kembali menghantam punggungku. Kali ini tidak hanya satu melainkan ribuan. Aku langsung bersembunyi di balik pohon natal raksasaku sembari melihat siapa dalang pelempar salju itu.
“Sampai kapan terus bersembunyi?” tanya Vicko sembari menatapku tajam bak pembunuh.
“Aku tidak bersembunyi. Aku melanjutkan studi disini.”
“Lalu, kenapa harus lari seperti tertangkap polisi?”
“Ya. Itu bukanlah hal yang penting.”
“Orang tuaku mencarimu entah apa yang mau mereka lakukan. Besok kamu akan pulang denganku.”
“Pulang?”
“Ya. Ke Jogja.”
“Tidak mau.”
“Kenapa?”
“Gila saja harus berdua dengan orang yang sudah aku kecewakan dalam waktu yang lama. Bahkan ucapan maaf pun masih belum bisa aku utarakan.” ucapku sembari menampar bibirku yang terlalu jujur.
“Merry Christmas!” ucap seorang anak kecil yang menghantamku beberapa detik yang lalu.
“Thanks. Merry Christmas too!” balasku membuat anak itu tertawa riang karena permintaan maafnya kuterima.
“Terima kasih. Selamat natal juga.” ucap Vicko menirukan ucapan anak kecil itu.
“Untuk apa?”
“Untuk apa kamu mengatakannya pada anak itu?”
“Ya. Untuk memaafkannya.”
“Ya sudah. Aku memaafkanmu”
Aku terdiam. Aku mengajaknya untuk duduk di tepi taman sembari melihat pemandangan lampu berkelap-kelip di sepanjang jalan.
“Kamu suka rollercoaster?”
“Tidak. Memangnya kenapa?”
“Pantas saja. Kamu terus berusaha melarikan diri dari hidupmu. Jika kamu menyukai rollercoaster, kamu akan rela menanti tanjakan atau jalan menurun yang menukik dan mampu kamu ikuti arusnya meskipun jantungmu dipacu dengan kacau. Kamu suka bunuh diri rupanya.”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Jikalau sedang naik rollercoaster, apakah kamu terus memilih untuk melompat saja karena tidak mau mengikuti arus naik turunnya yang sama sekali tidak membuat nyaman?”
“Aku tidak segila itu.”
“Buktikan sekarang. Jikalau kamu tidak gila, besok kamu akan pulang ke Jogja bersamaku.”
Aku bimbang. Analogi yang menyebalkan. Bagaimana bisa ia menggambarkan suasana hatiku sekarang dengan suasana seorang penumpang rollercoaster? Suasana semakin dingin dan gelap. Semakin indah pula nyala lampu-lampu di setiap jalan. Suara lonceng malam natal berbunyi, semua orang bersukacita sembari saling bersalam-salaman. Mall yang sepi mendadak penuh dengan pembeli karena berbagai pernak-pernik natal yang memanjakan mata bersarang disana.
“Selamat natal.”
“Iya. Selamat natal.”
Kembali hening sembari nafas yang menyesakkan berusaha aku hempaskan.
“Baiklah. Aku ingin menjadi hiasan natal itu. Meskipun ia berkelok-kelok, ia tetap bersinar dan memberikan keindahan. Aku juga ingin menjadi bola salju itu. Jika ada seorang yang melemparkannya ia tidak akan hancur tetapi langsung bisa menjadi utuh kembali karena keikhlasannya.”
Vicko tersenyum sembari memberikan kalung bernuansa lonceng padaku.
Kota pendidikan. Kota Gudeng. Kota Seni. Kota Budaya. Kota Museum. Kota Batik. Kota Jogja. Kami sampai dengan debaran hati yang masih berdegup kacau sembari menanti orang tua Vicko yang ingin menemuiku. Senyum manis yang diajukan kedua orang tuanya yang tiba-tiba datang di balik badanku membuatku semakin merinding. Wajah terharu Vicko juga tergambarkan dengan sangat jelas sembari merapat dekat denganku.
“Selamat ya..” ucap mereka sembari mempersilakan Vicko untuk berlutut.
Cincin.







Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger