Aku menatap
sembari terus merasakan sakit pada pergelangan tanganku karena tarikan kuat
Vicko.
“Plis, Ven.
Jangan lepas tanganku.” pinta Vicko yang terus meremas pergelangan tanganku di
pintu bandara.
“Maaf.” ucapku
seraya melepaskan genggaman Vicko dan memasuki bandara tanpa menengok ke arah
belakang.
Sejak saat itu ia hilang dan bersembuyi tanpa
bayangan.
Prestasiku
dalam akademis berhasil membawaku untuk melanjutkan pendidikan S2 di Sydney,
Australia. Kebahagiaan yang tak terkira karena tidak menyangka akan secepat ini
terasa penuh kegembiraan. Namun, kesedihan datang karena kabar Vicko yang tak
kunjung datang memberi salam.Aku
habiskan kesedihan itu dengan melakukan banyak prestasi dan berbagai perayaan
di hari Natal.
“Mati
aku!” teriakku sembari menggeledah seluruh isi kamarku. Aku benar-benar sudah
menghilangkan tiket pulangku ke Indonesia.
Aku
merenung sembari teringat kembali pada kenangan itu. Di Jogja.
“Mau
pinjam laptop lagi?”
“Iya,
Cko. Boleh kan? Besok aku harus ngumpulkan makalahku.”
“Iya
gak papa. Entar chargernya aku kirim ke rumah aku lagi gak bawa.”
“Makasih
hehe. Kamu mau ada kuliah lagi a?”
“Heem.
Aku gak pake laptop. Kamu pulang setelah aku selesai kuliah ya. Jangan bawa
kabur.”
“Iyaa
siap. Aku nunggu sambil nugas aja kalau gitu. Gimana nyalakannya?”
“Duh,
gitu aja gak bisa. Anak jaman era kapan kamu?”
“Wes
wes sana. Kuliah aja daripada disini marah-marah.”
Aku
pun langsung mengerjakan tugasku dengan senang sembari merasakan tanganku yang
bisa berjalan cepat di layar keyboard.
Selama ini, aku hanya bisa menuliskan makalahku di aplikasi microsoft word android. Aku sering
mengalami kesulitan karena tidak bisa mengatur tata letak word android semudah di monitor. Meskipun menyebalkan, Vicko adalah
penolongku bisa lulus dari kuliah ini.
Tok..tok..
“Masuk!”
“Ini
chargernya.”
“Makasih,
Cko. Gak mampir?”
“Sudah
wes. Ada masalah a?”
“Mm..aku
gak bisa ngatur margin hehe.”
“Aduh!
Sini sini!”
Brak!
Saking
serunya melamun aku tak sadar telah menabrak pipa besar di depanku hingga aku
pening. Suasana natal yang berbeda tentunya dari negaraku. Aku menemukan ribuan
rumah. Tidak. Semua rumah lebih tempatnya diberi hiasan lampu natal sehingga
tampak sangat bercahaya. Tidak hanya rumah beserta atapnya yang bercahaya,
mereka juga memberikan patung berbentuk rusa. Seorang sinterklas ceroboh
tiba-tiba menabrakku hingga aku terkelungkup di atas gundukan salju. Ia
bukanlah orang asli negara ini. Dia terlihat cuek sembari terus berlari membawa
ribuan permen dengan sepatu skinya. Aku hanya terdiam sembari menyibak salju
yang bergelantungan di kerah kemejaku.
“Kamu
bukan orang sini?”
“Iya,
bukan.”
“Mau
menikmati natal bersamaku? Aku juga orang Indonesia.”
“Oh
iya nek.”
“Silakan
masuk.” ucap nenek itu sembari mempersilakan aku masuk ke rumah kecilnya.
Aku
memasuki rumah nenek itu sembari menunduk karena pintu rumahnya yang terlalu
pendek. Sampainya aku di dalam, aku melihat hiasan-hiasan natal klasik yang
memanjakan mata. Selain itu, ruang tamu ini disajikan api penghangat sehingga
suasana dingin di luar ruangan terselimuti oleh kehangatannya. Seseorang dengan
paras manis keluar membulatkan kedua mataku.
“Silakan
diminum” ucap gadis itu sembari memberikanku coklat panas.
Aku
menunduk sembari meminum coklat itu.
“Kak
Roman? Mengapa kakak disini?”
Tanpa
berlarut aku lantas mencium tangan si nenek dan keluar dari rumah itu.
“Aku mewakili orang
tuaku melarang keras hubungan kak Vicko dan kak Roman. Aku tidak sudi dan tidak
mau melihat wajahmu lagi, Kak. Hari ini adalah hari terakhirku melihat kalian
bersama dan tidak akan ada hari lain lagi!”
Aku
akan mengacaukan keluarga itu jika terus menampilkan wajah ini pada mereka.
Andai bisa seperti bintang. Mereka memang ada di langit tetapi mereka bisa
meredup sewaktu-waktu sehingga di saat siang orang tidak akan sadar akan
keberadaanya.
“Snowball
fight!” teriak seorang anak kecil sembari melemparkan salju mengarah pada
wajahku.
Peng!! Semua berputar seketika. Seorang
laki-laki tinggi besar mendekati sembari meminta maaf sebelum ia terdiam begitu
lama.
“Tidak
apa-apa.” ucapku sembari terhenti pada wajah tak asing di depanku ini.
Vicko.
“Terima
kasih.” lanjutku cepat sembari beranjak dari tidur singkatku dan berlari
secepat mungkin.
Di
hadapan pohon natal tertinggi di kota Sydney, aku menghitung banyaknya hiasan
natal yang tergantung sembari terus memijat dahiku yang membeku. Salju kembali
menghantam punggungku. Kali ini tidak hanya satu melainkan ribuan. Aku langsung
bersembunyi di balik pohon natal raksasaku sembari melihat siapa dalang
pelempar salju itu.
“Sampai
kapan terus bersembunyi?” tanya Vicko sembari menatapku tajam bak pembunuh.
“Aku
tidak bersembunyi. Aku melanjutkan studi disini.”
“Lalu,
kenapa harus lari seperti tertangkap polisi?”
“Ya.
Itu bukanlah hal yang penting.”
“Orang
tuaku mencarimu entah apa yang mau mereka lakukan. Besok kamu akan pulang
denganku.”
“Pulang?”
“Ya.
Ke Jogja.”
“Tidak
mau.”
“Kenapa?”
“Gila
saja harus berdua dengan orang yang sudah aku kecewakan dalam waktu yang lama.
Bahkan ucapan maaf pun masih belum bisa aku utarakan.” ucapku sembari menampar
bibirku yang terlalu jujur.
“Merry
Christmas!” ucap seorang anak kecil yang menghantamku beberapa detik yang lalu.
“Thanks.
Merry Christmas too!” balasku membuat anak itu tertawa riang karena permintaan
maafnya kuterima.
“Terima
kasih. Selamat natal juga.” ucap Vicko menirukan ucapan anak kecil itu.
“Untuk
apa?”
“Untuk
apa kamu mengatakannya pada anak itu?”
“Ya.
Untuk memaafkannya.”
“Ya
sudah. Aku memaafkanmu”
Aku
terdiam. Aku mengajaknya untuk duduk di tepi taman sembari melihat pemandangan
lampu berkelap-kelip di sepanjang jalan.
“Kamu
suka rollercoaster?”
“Tidak.
Memangnya kenapa?”
“Pantas
saja. Kamu terus berusaha melarikan diri dari hidupmu. Jika kamu menyukai
rollercoaster, kamu akan rela menanti tanjakan atau jalan menurun yang menukik
dan mampu kamu ikuti arusnya meskipun jantungmu dipacu dengan kacau. Kamu suka
bunuh diri rupanya.”
“Hah?
Apa maksudmu?”
“Jikalau
sedang naik rollercoaster, apakah kamu terus memilih untuk melompat saja karena
tidak mau mengikuti arus naik turunnya yang sama sekali tidak membuat nyaman?”
“Aku
tidak segila itu.”
“Buktikan
sekarang. Jikalau kamu tidak gila, besok kamu akan pulang ke Jogja bersamaku.”
Aku
bimbang. Analogi yang menyebalkan. Bagaimana bisa ia menggambarkan suasana
hatiku sekarang dengan suasana seorang penumpang rollercoaster? Suasana semakin
dingin dan gelap. Semakin indah pula nyala lampu-lampu di setiap jalan. Suara
lonceng malam natal berbunyi, semua orang bersukacita sembari saling
bersalam-salaman. Mall yang sepi mendadak penuh dengan pembeli karena berbagai
pernak-pernik natal yang memanjakan mata bersarang disana.
“Selamat
natal.”
“Iya.
Selamat natal.”
Kembali
hening sembari nafas yang menyesakkan berusaha aku hempaskan.
“Baiklah.
Aku ingin menjadi hiasan natal itu. Meskipun ia berkelok-kelok, ia tetap
bersinar dan memberikan keindahan. Aku juga ingin menjadi bola salju itu. Jika
ada seorang yang melemparkannya ia tidak akan hancur tetapi langsung bisa
menjadi utuh kembali karena keikhlasannya.”
Vicko
tersenyum sembari memberikan kalung bernuansa lonceng padaku.
Kota
pendidikan. Kota Gudeng. Kota Seni. Kota Budaya. Kota Museum. Kota Batik. Kota
Jogja. Kami sampai dengan debaran hati yang masih berdegup kacau sembari
menanti orang tua Vicko yang ingin menemuiku. Senyum manis yang diajukan kedua
orang tuanya yang tiba-tiba datang di balik badanku membuatku semakin
merinding. Wajah terharu Vicko juga tergambarkan dengan sangat jelas sembari
merapat dekat denganku.
“Selamat
ya..” ucap mereka sembari mempersilakan Vicko untuk berlutut.