“Tak suka! Tak
patut!” teriakmu sembari berguling-guling hingga terjatuh dari ranjang.
Layar ponsel yang
dibiarkan menyala selama tiga puluh menit menghipnotismu untuk menderita
insomnia sepanjang hari. Layar itu terus kamu tekan dari aplikasi berwarna
hijau dan bertuliskan whatsapp hingga
tombol berbentuk tanda panah terbalik atau kembali. Halusinasi perubahan warna
centang dalam pesan yang kamu kirim menggilai pikiranmu dengan berlebihan.
Sosok Vian, seorang
anggota TNI yang kamu sukai, hadir dalam hadapanmu. Ia terlihat lusuh dan penuh
darah karena berada di dalam medan perang. Kamu berdiri sembari menantikan
kepulangannya di balik kendaraan traktor raksasa yang melebihi ukuran tubuhmu.
Tiba-tiba, senjata berisikan puluhan peluru Vian arahkan terhadapmu. Sontak
tanpa rasa takut, kamu malah melangkah maju dan perlahan-lahan tubuhmu melemas karena
sepuluh peluru sudah menancap di dadamu. Bukan senyum rindu yang terlukis
tetapi senyum kemenangan. Itulah yang kamu lihat dari wajah Vian.
“Mimpi.” ucapmu
sembari lesu dan menghela nafas kesal.
Layar ponsel yang
terus memanggilnya membuat tatapanmu pada pesan yang bertuliskan 21. 00 terus
kamu ajukan. Ya. Dia memang sangat menyukai warna abu-abu hingga memengaruhi
pesan centang yang terus kamu tunggu.
Ponselmu berdering.
Bukannya bergegas,
kamu malah malas-malasan sembari melenturkan tubuh terlebihdulu. Senyum tak terduga muncul dalam wajahmu
yang sedari tadi kamu tekuk layaknya kertas usang.
“Kamu menungguku
ya?”
“-_-”
“Hahahaha..”
“Kenapa tertawa?”
“Wajahmu selalu
maju satu centimeter. Mengapa merengut?”
“Tentu saja
menunggu perubahan warna pesan itu dan kabar darimu. Bagaimana bisa kamu tidak
menyadari kesalahanmu sendiri?”
“Aku tahu. Lihat,
coba lihat wajahmu di layar kamera bawahmu. Apa tidak malu?”
“Untuk apa malu?”
“Ya. Bidadari
cantik arema tidak boleh merengut seperti itu. Bisa-bisa semua fansmu melarikan
diri karena takut diterkam mbak-mbak ibu kos.”
Dia selalu memiliki
bahan humor yang merayumu. Karena tidak kuasa menahan, akhirnya kamu juga ikut
tertawa gila bersamanya.
“Aku mau berangkat
untuk mengevakuasi korban bencana dulu. Doakan aku agar semua berjalan lancar.”
“Tentu.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Hanya itu? Cukup
dengan kabar itu kamu bisa menjadi Ana yang penuh kebahagiaan seperti sedia
kala.
Duar! Duar!
“SELAMAT TAHUN
BARU!!”
Teriakan-teriakan
di sekeliling rumahku sontak membangunkan matamu dan menatap layar ponselmu
yang bergerak-gerak. Ya. Vian kembali memberimu pesan baru.
“Na, aku ijin
patroli. Assalamualaikum”
Senyum merekah di
bibirmu.
“Waalaikumsalam.
Semoga berhasil.”
Kabarnya hilang
lagi. Kamu terus meyakinkan diri bahwa hubungan jarak jauh ini akan berhasil
dan tidak kembali mengecewakanmu. Seorang teman perempuan dekatmu lah jalan
lain agar kamu mampu menangkis kebimbangan dan keraguanmu.
“Ada apa?”
“Aku kehilangan
kabarnya lagi. Aku harus bagaimana?”
“Kenapa takut?”
“Dia jauh dan bisa
saja dia akan hilang kan?”
“Apakah kamu pernah
kehilangan tiket pertandingan bola?”
“Pernah.”
“Apa yang kamu
rasakan?”
“Tentu saja sedih
dan menyalahkan diri sendiri. Seharusnya aku bisa menyimpannya dengan baik dan
tidak ceroboh.”
“Jika tiket itu
hilang, apakah kamu berhenti mengikuti pertandingan bola yang tersebar di
banyak kota?”
“Tidak. Aku mungkin
akan rindu dan berusaha untuk menjaganya lagi.”
“Akankah kamu bisa
mendapatkannya kembali?”
“Iya.”
“Sudah banyak tiket
yang hilang dalam hidupmu. Apakah kamu juga berburuk sangka pada tiket baru
yang diberikan padamu saat ini?”
“Siapa tiket baru?”
“Vian.”
“Seharusnya tidak.”
“Lalu, mengapa
terus khawatir?”
“Hmm.”
“Kamu sudah
mendapatkan tiket baru di pertandingan yang tentu berbeda dari
sebelum-sebelumnya. Terlebih lagi, mungkin, suasana dan konflik yang lebih
rumit dari sebelumnya. Jika kamu mendoktrin pikiran dan mengatakan tidak bisa,
itu berarti kamu memang mengharapkan tiket itu hilang. Namun, jika tidak, tiket
itu akan terus ada di tanganmu.”
Kamu diam sembari
meratapi layar ponsel yang memberikan pesan bahwa kamu harus segera mengisi
daya ponselmu.
Tin! Tin!
“Hei..hei..hei
tayo!” teriak seorang anak kecil yang mengganggumu di terminal.
Wajah geram kamu
ajukan sembari terus menatap pada layar ponsel yang tetap tak merubah warna
pesan yang kamu kirimkan pada Vian. Pemandangan jalan di kala malam memang
tidak banyak memikat penghilatanmu. Kamu pun menikmati perjalanan dengan
memainkan mimpimu dalam tidur singkatmu. Sentuhan tangan dari bapak tua
membuatmu terbangun dengan terkejut.Kamu menuruni bis dengan malas sembari menduduki kursi di depan warung
dengan meminum teh hangat dengan malas.
“Mbak sakit?”
“Oh tidak, Pak.”
ucapmu sembari mengusap lembut wajahmu yang keriput karena terlalu lama
menunggu kabar lelaki itu.
Setelah istirahat,
kamu pun kembali menaiki bis dengan wajah yang berbeda. Warna pesan yang kamu
kirimkan telah berubah menjadi biru. Kini, kamu memilih untuk terus menggenggam
ponsel itu hingga pesanmu terbalaskan. Namun, waktu yang berlangsung cepat
membuyarkan niatmu dan menidurkanmu dengan lembut. Sinar matahari yang
menyoroti matamu membuatmu terbangun dan tersadar bahwa kamu sudah sampai di
kota Bumi Arema tercinta.
Saat hendak
menuruni anak tangga, tiba-tiba kamu terjatuh karena merasa penat dan sedikit
mabuk. Sejumlah orang mengkhawatirkan keadaanmu dan menggotongmu ke atas tempat
tunggu dekat dengan pintu keluar.
“Na” ucap seorang
laki-laki sembari menyodorkan minuman mineral padamu.
“Vian?” teriakmu
sembari terus mengusap matamu yang masih blur.
Vian yang masih
mengenakan pakaian tentara dan kepalanya yang mulus membuatmu semakin terkejut.
Dia tidak bisa menghentikan tawanya karena melihat wajahmu yang pucat dan
bingung di hadapannya.
“Bisakah kamu
melihatku dengan biasa?”
“Mengapa kamu
membiarkan pesanku tak berbalas?”
“Tentara juga bisa
romantis.”
“Romantis apa?”
“Memberikan kejutan
seperti ini. Kamu senang kan?”
“Tidak. Sama sekali
tidak.”
“Jika tidak suka,
mengapa terus menatapku tanpa berkedip?”
Kamu tidak bisa
menahan jaimmu dan pada akhirnya tertawa dan air mata menetes di ujung ekor
matamu. Beberapa detik kemudian, kamu terlihat diam dan tersenyum. Seakan-akan
kepalamu yang penat menghilang. Kamu terus saja tertawa sembari merapikan
masker yang kamu pakai di wajahmu.
“Ayo. Aku antar.”
ucapnya sembari membawa semua barang bawaanmu.
Kamu hanya bisa
diam dan melihat tubuhnya dari belakang. Seorang Vian yang selalu kamu nantikan
ternyata datang lebih cepat dari apa yang kamu harapankan. Apakah kamu masih
tidak percaya bahwa tidak ada keajaiban itu dalam hidupmu?