untuk: Nova Erviana (Story Request) foto: flickr “Tak suka! Tak patut!” teriakmu sembari berguling-guling hingga terjatuh dari ranjan...

Tiket Baru

/
0 Comments



untuk: Nova Erviana (Story Request)
foto: flickr

“Tak suka! Tak patut!” teriakmu sembari berguling-guling hingga terjatuh dari ranjang.
Layar ponsel yang dibiarkan menyala selama tiga puluh menit menghipnotismu untuk menderita insomnia sepanjang hari. Layar itu terus kamu tekan dari aplikasi berwarna hijau dan bertuliskan whatsapp hingga tombol berbentuk tanda panah terbalik atau kembali. Halusinasi perubahan warna centang dalam pesan yang kamu kirim menggilai pikiranmu dengan berlebihan.
Sosok Vian, seorang anggota TNI yang kamu sukai, hadir dalam hadapanmu. Ia terlihat lusuh dan penuh darah karena berada di dalam medan perang. Kamu berdiri sembari menantikan kepulangannya di balik kendaraan traktor raksasa yang melebihi ukuran tubuhmu. Tiba-tiba, senjata berisikan puluhan peluru Vian arahkan terhadapmu. Sontak tanpa rasa takut, kamu malah melangkah maju dan perlahan-lahan tubuhmu melemas karena sepuluh peluru sudah menancap di dadamu. Bukan senyum rindu yang terlukis tetapi senyum kemenangan. Itulah yang kamu lihat dari wajah Vian.
“Mimpi.” ucapmu sembari lesu dan menghela nafas kesal.
Layar ponsel yang terus memanggilnya membuat tatapanmu pada pesan yang bertuliskan 21. 00 terus kamu ajukan. Ya. Dia memang sangat menyukai warna abu-abu hingga memengaruhi pesan centang yang terus kamu tunggu.
Ponselmu berdering.
Bukannya bergegas, kamu malah malas-malasan sembari melenturkan tubuh terlebih  dulu. Senyum tak terduga muncul dalam wajahmu yang sedari tadi kamu tekuk layaknya kertas usang.
“Kamu menungguku ya?”
“-_-”
“Hahahaha..”
“Kenapa tertawa?”
“Wajahmu selalu maju satu centimeter. Mengapa merengut?”
“Tentu saja menunggu perubahan warna pesan itu dan kabar darimu. Bagaimana bisa kamu tidak menyadari kesalahanmu sendiri?”
“Aku tahu. Lihat, coba lihat wajahmu di layar kamera bawahmu. Apa tidak malu?”
“Untuk apa malu?”
“Ya. Bidadari cantik arema tidak boleh merengut seperti itu. Bisa-bisa semua fansmu melarikan diri karena takut diterkam mbak-mbak ibu kos.”
Dia selalu memiliki bahan humor yang merayumu. Karena tidak kuasa menahan, akhirnya kamu juga ikut tertawa gila bersamanya.
“Aku mau berangkat untuk mengevakuasi korban bencana dulu. Doakan aku agar semua berjalan lancar.”
“Tentu.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Hanya itu? Cukup dengan kabar itu kamu bisa menjadi Ana yang penuh kebahagiaan seperti sedia kala.
Duar! Duar!
“SELAMAT TAHUN BARU!!”
Teriakan-teriakan di sekeliling rumahku sontak membangunkan matamu dan menatap layar ponselmu yang bergerak-gerak. Ya. Vian kembali memberimu pesan baru.
“Na, aku ijin patroli. Assalamualaikum”
Senyum merekah di bibirmu.
“Waalaikumsalam. Semoga berhasil.”
Kabarnya hilang lagi. Kamu terus meyakinkan diri bahwa hubungan jarak jauh ini akan berhasil dan tidak kembali mengecewakanmu. Seorang teman perempuan dekatmu lah jalan lain agar kamu mampu menangkis kebimbangan dan keraguanmu.
“Ada apa?”
“Aku kehilangan kabarnya lagi. Aku harus bagaimana?”
“Kenapa takut?”
“Dia jauh dan bisa saja dia akan hilang kan?”
“Apakah kamu pernah kehilangan tiket pertandingan bola?”
“Pernah.”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Tentu saja sedih dan menyalahkan diri sendiri. Seharusnya aku bisa menyimpannya dengan baik dan tidak ceroboh.”
“Jika tiket itu hilang, apakah kamu berhenti mengikuti pertandingan bola yang tersebar di banyak kota?”
“Tidak. Aku mungkin akan rindu dan berusaha untuk menjaganya lagi.”
“Akankah kamu bisa mendapatkannya kembali?”
“Iya.”
“Sudah banyak tiket yang hilang dalam hidupmu. Apakah kamu juga berburuk sangka pada tiket baru yang diberikan padamu saat ini?”
“Siapa tiket baru?”
“Vian.”
“Seharusnya tidak.”
“Lalu, mengapa terus khawatir?”
“Hmm.”
“Kamu sudah mendapatkan tiket baru di pertandingan yang tentu berbeda dari sebelum-sebelumnya. Terlebih lagi, mungkin, suasana dan konflik yang lebih rumit dari sebelumnya. Jika kamu mendoktrin pikiran dan mengatakan tidak bisa, itu berarti kamu memang mengharapkan tiket itu hilang. Namun, jika tidak, tiket itu akan terus ada di tanganmu.”
Kamu diam sembari meratapi layar ponsel yang memberikan pesan bahwa kamu harus segera mengisi daya ponselmu.
Tin! Tin!
“Hei..hei..hei tayo!” teriak seorang anak kecil yang mengganggumu di terminal.
Wajah geram kamu ajukan sembari terus menatap pada layar ponsel yang tetap tak merubah warna pesan yang kamu kirimkan pada Vian. Pemandangan jalan di kala malam memang tidak banyak memikat penghilatanmu. Kamu pun menikmati perjalanan dengan memainkan mimpimu dalam tidur singkatmu. Sentuhan tangan dari bapak tua membuatmu terbangun dengan terkejut.  Kamu menuruni bis dengan malas sembari menduduki kursi di depan warung dengan meminum teh hangat dengan malas.
“Mbak sakit?”
“Oh tidak, Pak.” ucapmu sembari mengusap lembut wajahmu yang keriput karena terlalu lama menunggu kabar lelaki itu.
Setelah istirahat, kamu pun kembali menaiki bis dengan wajah yang berbeda. Warna pesan yang kamu kirimkan telah berubah menjadi biru. Kini, kamu memilih untuk terus menggenggam ponsel itu hingga pesanmu terbalaskan. Namun, waktu yang berlangsung cepat membuyarkan niatmu dan menidurkanmu dengan lembut. Sinar matahari yang menyoroti matamu membuatmu terbangun dan tersadar bahwa kamu sudah sampai di kota Bumi Arema tercinta.
Saat hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba kamu terjatuh karena merasa penat dan sedikit mabuk. Sejumlah orang mengkhawatirkan keadaanmu dan menggotongmu ke atas tempat tunggu dekat dengan pintu keluar.
“Na” ucap seorang laki-laki sembari menyodorkan minuman mineral padamu.
“Vian?” teriakmu sembari terus mengusap matamu yang masih blur.
Vian yang masih mengenakan pakaian tentara dan kepalanya yang mulus membuatmu semakin terkejut. Dia tidak bisa menghentikan tawanya karena melihat wajahmu yang pucat dan bingung di hadapannya.
“Bisakah kamu melihatku dengan biasa?”
“Mengapa kamu membiarkan pesanku tak berbalas?”
“Tentara juga bisa romantis.”
“Romantis apa?”
“Memberikan kejutan seperti ini. Kamu senang kan?”
“Tidak. Sama sekali tidak.”
“Jika tidak suka, mengapa terus menatapku tanpa berkedip?”
Kamu tidak bisa menahan jaimmu dan pada akhirnya tertawa dan air mata menetes di ujung ekor matamu. Beberapa detik kemudian, kamu terlihat diam dan tersenyum. Seakan-akan kepalamu yang penat menghilang. Kamu terus saja tertawa sembari merapikan masker yang kamu pakai di wajahmu.
“Ayo. Aku antar.” ucapnya sembari membawa semua barang bawaanmu.
Kamu hanya bisa diam dan melihat tubuhnya dari belakang. Seorang Vian yang selalu kamu nantikan ternyata datang lebih cepat dari apa yang kamu harapankan. Apakah kamu masih tidak percaya bahwa tidak ada keajaiban itu dalam hidupmu?  






Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger