“Dalam agama Islam, pacaran itu dilarang. Ingatkah
kamu?”
“Iya. Lalu?”
“Kita cukup berteman saja.”
Aku
dan Rizki berteman cukup akrab saat SD. Kami terus bersama jika ingin pergi
kemanapun bak sepasang sepatu. Dia adalah sepatu kanan dan aku sepatu kiri. Tak
jarang pula menjadi bahan ejekan satu sekolah karena kebersamaan kami yang
dianggap tidak wajar.
“Kenapa terus
melihat kesana?” ucapnya sembari menunjuk ke arah kantin.
“Tidak apa-apa”
“Tidak usah ingin
menjadi seperti mereka. Toh, kamu lebih mengutamakan perintah agamamu kan?”
Aku
pun mengangguk. Semangkuk bakso andalan sekolahku memang pantas diacungi jempol
dan selalu hebat dalam membahagiakan perasaan yang sedih memang.
“Wah barengan lagi?”
“Ciee..”
Kami salah memasuki lorong kelas.
Bukan hanya seangkatan, tetapi kakak tingkat kami pun juga ikut-ikutan
mengejek. Entahlah, aku hanya bisa menunduk dan membiarkan Rizki membelaku.
Mungkin.
“Kalian berteman?”
“Tidak.”
Aku sontak terkejut dan menyernyitkan
dahi padanya yang terlihat santai saja mengatakan hal itu.
“Lalu, kalian apa?
Pacaran?”
“Mungkin.”
“Kamu menyukai gadis
itu?”
“Iya.”
Aku semakin bingung meletakkan jantung
ini pada siapa karena terasa sangat nyeri. Tanpa banyak kata, aku terus
melangkahkan kaki dengan secepat kilat. Sesampainya di kelas, aku lantas
menyelimuti kepalaku dengan jaketku yang bergantung di atas bangku.
“Ama kenapa?”
“Tidak apa-apa”
Aku biarkan jantung ini beristirahat
sejenak. Namun, mengapa masih sulit sekali menenangkannya. Ini semua kesalahan
Rizky. Mengapa dia bisa mengucapkan tiga kata tidak wajar itu di hadapanku. Hal
itu membuatku enggan mengajak Rizky berbicara di dalam kelas. Aku lantas
mengalihkan semua pikiranku dengan menantikan kedatangan guru matematika kiler
yang benar-benar marah saat ini.
Brak!
Senyum
merona di pipiku karena permintaanku terkabul. Kini, guru matematikaku marah
besar karena tingkah para laki-laki di kelas yang terus ramai di sepanjang
materi. Mereka harus menanggung hukuman yaitu mengerjakan soal tambahan di
papan. Aku mendengus pelan sembari memberikan wajah kemenangan saat Rizky
berbalik mencari jawaban.
“Itulah hukumanmu.”
Handphone
yang menjadi andalan membuatku penasaran karena kabarnya yang tidak kunjung
datang. Aku menghabiskan waktuku dengan beraktivitas dekat dengan benda
berbentuk kotak itu. Tiba-tiba, benda itu memberikan sinyal dengan tombol lampu
yang berkedip-kedip.
“Kamu marah?”
“Tidak. Memang
kenapa?”
“Maaf aku bilang
begitu. Tujuanku agar tidak diejek-ejek lagi.”
“Iya tapi tetap
temenan ya.”
“Pasti!”
Hingga tengah malam kira-kira kami
terus mengobrol lewat benda pintar ini. Namun, saat bertemu hanya sepatah dua
kata saja yang terucap. Entahlah. Namanya juga cinta monyet. Mereka selalu malu
untuk bertemu dan suka bersembunyi jika ingin berbicara.
JAUH
*
Kami sudah tidak berada di satu ikatan
tali sepatu lagi. Kini, ia berbeda warna dan jauh. Ya. Kami beda sekolah. Namun,
ibarat sepatu. Ia tetap pulang ke rak yang sama sehingga kami tidak jauh dari
kata komunikasi. Benda pintar yang terus aku andalkan membuat perbincangan ini
kembali serius dan berlangsung lama. Ya. Semoga saja.
DIAM
*
Masih cinta monyet. Malu tapi mau.
Bulan yang tidak biasa telah terlampaui hingga pertengahannya.
“Besok ulang
tahunmu, kan?”
“Iya. Kenapa bisa
ingat?”
“Aku tulis
benar-benar di memoriku.”
Itu adalah percakapan terakhirku.
Tepat di tanggal 20 Februari, aku mempersiapkan diriku perihal kado, ucapan
tengah malamku, dan semua kejutan yang kelak ingin aku berikan. Tepat pukul
02.00 WIB, ucapanku terurai secara sederhana pada ponselnya.
“Barakallah fii
umrik, Ki. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik dan semua yang diinginkan
tercapai.”
Read. Tidak ada balasan setelahnya. Aku pun
lantas kebingungan dan bergegas untuk datang awal menuju sekolah. Tidak ada
murid satupun di sekolah.
“Pagi banget, Dek?”
“Iya pak mau kerja
kelompok.”
“Wah rajin ya. Nyari
siapa, Dek?”
“Temen-temen, Pak.
Ini belum pada dateng siapa ya, Pak?”
“Ada, Dek. Guru-guru
aja yang sudah dateng.”
“Oke siap. Eh
maksudnya siap, Pak. Terima kasih”
Aku pun berjalan menuju ruang kelas
sembari mengeluarkan ponsel. Tiba-tiba, aplikasi BBM yang biasa aku gunakan
untuk bercakap-cakap dengan Rizki berulah. Rizki menghapus kontakku. Profil
gambar yang awalnya bercerita tentangnya bersama kelima sahabatnya kini menjadi
siluet dua orang dekat senja di pantai selatan. Aku terkejut sembari terus
menantikan wajah itu datang dan hendak menggamparnya. Maksudku, menanyakannya.
“Selamat ulang
tahun, Ki.” ucapku saat ia memasuki ruang kelas.
Hening. Ia sama sekali tidak
menatapku. Tiba-tiba, ia mengalihkanku dengan cara berbicara dengan orang lain.
Lalu, mereka mengambil foto berdua dan menghamburkan lamunanku karena secara
tiba-tiba mereka berfoto di depan wajahku.
“Ada apa dengan
hubunganmu dan Rizki?”
“Tidak ada apa-apa”
“Lebih baik kamu
berhenti saja mengharapkannya kembali seperti dulu. Aku mendengarnya terus
menjelek-jelekanmu di belakang.”
“Benar?”
“Iya.”
Wanita yang sangat kupercaya secara
kejam menghantam keras kepercayaanku. Ya. Dia kini sedang berbelanja pakaian
dengan Rizki. Mereka terlihat sangat berbahagia. Hingga Rizki berpas-pasan
denganku dan menampilkan wajah penuh ketakutan atas kegaranganku yang hendak
aku keluarkan.
“Maaf kita temenan
saja.”
“Memangnya selama
ini hubungan kita jauh?”
Rizki terdiam sembari terus menatap
sahabatku dengan penuh ketulusan. Entah ketulusan seperti apa.
“Kamu tahu
maksudku?”
Aku terdiam sembari terus berjalan
tanpa mempedulikan teriakan keduanya. Sepatu yang aku pelihara telah hilang.
Padahal, aku selalu membersihkannya, merawatnya, dan menjaganya agar tidak
hilang. Namun, saat ia tidak sewarna denganku, dia menyukai warna lain dan
mengganti warna kulitnya dengan keren. Tentulah tidak dapat lagi diikatkan
denganku. Kini, aku hanyalah sepatu usang yang sendirian. Sepatu yang selalu
menunggu sepatu kiri lain yang mau mengikatkan talinya untukku. Bukan sementara
tetapi selamanya.