untuk : Anonim (Story Request) foto : Flickr TIDAK BOLEH * “Tidak boleh!” tuturku sembari menjauhkan pelan tubuhnya dariku. “...

Sepatu Usang

/
0 Comments


untuk : Anonim (Story Request)
foto : Flickr

TIDAK BOLEH
*
“Tidak boleh!” tuturku sembari menjauhkan pelan tubuhnya dariku.
“Mengapa?”
“Dalam agama Islam, pacaran itu dilarang. Ingatkah kamu?”
“Iya. Lalu?”
“Kita cukup berteman saja.”
Aku dan Rizki berteman cukup akrab saat SD. Kami terus bersama jika ingin pergi kemanapun bak sepasang sepatu. Dia adalah sepatu kanan dan aku sepatu kiri. Tak jarang pula menjadi bahan ejekan satu sekolah karena kebersamaan kami yang dianggap tidak wajar.
“Kenapa terus melihat kesana?” ucapnya sembari menunjuk ke arah kantin.
“Tidak apa-apa”
“Tidak usah ingin menjadi seperti mereka. Toh, kamu lebih mengutamakan perintah agamamu kan?”
Aku pun mengangguk. Semangkuk bakso andalan sekolahku memang pantas diacungi jempol dan selalu hebat dalam membahagiakan perasaan yang sedih memang.
“Wah barengan lagi?”
“Ciee..”
          Kami salah memasuki lorong kelas. Bukan hanya seangkatan, tetapi kakak tingkat kami pun juga ikut-ikutan mengejek. Entahlah, aku hanya bisa menunduk dan membiarkan Rizki membelaku. Mungkin.
“Kalian berteman?”
“Tidak.”
          Aku sontak terkejut dan menyernyitkan dahi padanya yang terlihat santai saja mengatakan hal itu.
“Lalu, kalian apa? Pacaran?”
“Mungkin.”
“Kamu menyukai gadis itu?”
“Iya.”
          Aku semakin bingung meletakkan jantung ini pada siapa karena terasa sangat nyeri. Tanpa banyak kata, aku terus melangkahkan kaki dengan secepat kilat. Sesampainya di kelas, aku lantas menyelimuti kepalaku dengan jaketku yang bergantung di atas bangku.
“Ama kenapa?”
“Tidak apa-apa”
          Aku biarkan jantung ini beristirahat sejenak. Namun, mengapa masih sulit sekali menenangkannya. Ini semua kesalahan Rizky. Mengapa dia bisa mengucapkan tiga kata tidak wajar itu di hadapanku. Hal itu membuatku enggan mengajak Rizky berbicara di dalam kelas. Aku lantas mengalihkan semua pikiranku dengan menantikan kedatangan guru matematika kiler yang benar-benar marah saat ini.
Brak!
          Senyum merona di pipiku karena permintaanku terkabul. Kini, guru matematikaku marah besar karena tingkah para laki-laki di kelas yang terus ramai di sepanjang materi. Mereka harus menanggung hukuman yaitu mengerjakan soal tambahan di papan. Aku mendengus pelan sembari memberikan wajah kemenangan saat Rizky berbalik mencari jawaban.
“Itulah hukumanmu.”
          Handphone yang menjadi andalan membuatku penasaran karena kabarnya yang tidak kunjung datang. Aku menghabiskan waktuku dengan beraktivitas dekat dengan benda berbentuk kotak itu. Tiba-tiba, benda itu memberikan sinyal dengan tombol lampu yang berkedip-kedip.
“Kamu marah?”
“Tidak. Memang kenapa?”
“Maaf aku bilang begitu. Tujuanku agar tidak diejek-ejek lagi.”
“Iya tapi tetap temenan ya.”
“Pasti!”
          Hingga tengah malam kira-kira kami terus mengobrol lewat benda pintar ini. Namun, saat bertemu hanya sepatah dua kata saja yang terucap. Entahlah. Namanya juga cinta monyet. Mereka selalu malu untuk bertemu dan suka bersembunyi jika ingin berbicara.

JAUH
 *
          Kami sudah tidak berada di satu ikatan tali sepatu lagi. Kini, ia berbeda warna dan jauh. Ya. Kami beda sekolah. Namun, ibarat sepatu. Ia tetap pulang ke rak yang sama sehingga kami tidak jauh dari kata komunikasi. Benda pintar yang terus aku andalkan membuat perbincangan ini kembali serius dan berlangsung lama. Ya. Semoga saja.

DIAM
*
          Masih cinta monyet. Malu tapi mau. Bulan yang tidak biasa telah terlampaui hingga pertengahannya.
“Besok ulang tahunmu, kan?”
“Iya. Kenapa bisa ingat?”
“Aku tulis benar-benar di memoriku.”
          Itu adalah percakapan terakhirku. Tepat di tanggal 20 Februari, aku mempersiapkan diriku perihal kado, ucapan tengah malamku, dan semua kejutan yang kelak ingin aku berikan. Tepat pukul 02.00 WIB, ucapanku terurai secara sederhana pada ponselnya.
“Barakallah fii umrik, Ki. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik dan semua yang diinginkan tercapai.”
Read. Tidak ada balasan setelahnya. Aku pun lantas kebingungan dan bergegas untuk datang awal menuju sekolah. Tidak ada murid satupun di sekolah.
“Pagi banget, Dek?”
“Iya pak mau kerja kelompok.”
“Wah rajin ya. Nyari siapa, Dek?”
“Temen-temen, Pak. Ini belum pada dateng siapa ya, Pak?”
“Ada, Dek. Guru-guru aja yang sudah dateng.”
“Oke siap. Eh maksudnya siap, Pak. Terima kasih”
          Aku pun berjalan menuju ruang kelas sembari mengeluarkan ponsel. Tiba-tiba, aplikasi BBM yang biasa aku gunakan untuk bercakap-cakap dengan Rizki berulah. Rizki menghapus kontakku. Profil gambar yang awalnya bercerita tentangnya bersama kelima sahabatnya kini menjadi siluet dua orang dekat senja di pantai selatan. Aku terkejut sembari terus menantikan wajah itu datang dan hendak menggamparnya. Maksudku, menanyakannya.
“Selamat ulang tahun, Ki.” ucapku saat ia memasuki ruang kelas.
          Hening. Ia sama sekali tidak menatapku. Tiba-tiba, ia mengalihkanku dengan cara berbicara dengan orang lain. Lalu, mereka mengambil foto berdua dan menghamburkan lamunanku karena secara tiba-tiba mereka berfoto di depan wajahku.
“Ada apa dengan hubunganmu dan Rizki?”
“Tidak ada apa-apa”
“Lebih baik kamu berhenti saja mengharapkannya kembali seperti dulu. Aku mendengarnya terus menjelek-jelekanmu di belakang.”
“Benar?”
“Iya.”
          Wanita yang sangat kupercaya secara kejam menghantam keras kepercayaanku. Ya. Dia kini sedang berbelanja pakaian dengan Rizki. Mereka terlihat sangat berbahagia. Hingga Rizki berpas-pasan denganku dan menampilkan wajah penuh ketakutan atas kegaranganku yang hendak aku keluarkan.
“Maaf kita temenan saja.”
“Memangnya selama ini hubungan kita jauh?”
          Rizki terdiam sembari terus menatap sahabatku dengan penuh ketulusan. Entah ketulusan seperti apa.
“Kamu tahu maksudku?”
          Aku terdiam sembari terus berjalan tanpa mempedulikan teriakan keduanya. Sepatu yang aku pelihara telah hilang. Padahal, aku selalu membersihkannya, merawatnya, dan menjaganya agar tidak hilang. Namun, saat ia tidak sewarna denganku, dia menyukai warna lain dan mengganti warna kulitnya dengan keren. Tentulah tidak dapat lagi diikatkan denganku. Kini, aku hanyalah sepatu usang yang sendirian. Sepatu yang selalu menunggu sepatu kiri lain yang mau mengikatkan talinya untukku. Bukan sementara tetapi selamanya.
           



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger