“Maaf terlambat”
ucapku sembari meletakkan tasku dekat dengan seseorang asing.
Semua mata memandangku dengan ramah
dan mempersilakanku untuk duduk sebelum seseorang menagih uang keterlambatan
datang rapat padaku.
“Denda ya.”
“Aduh iya. Berapa berapa?”
“20.000”
“Kok mahal?”
“Iya dong. Demi kelancaran acara kita.”
“Iya deh. Huu”
Perlahan aku merogoh dompetku dan
menatapnya dengan malang. Hanya ada satu lembar sepuluh ribuan disana.
“Halo? Apakah masih ada uang lain disana?”
“Tidak ada. Hanya aku dan orang-orang kecil ini.”
“Huu. Bisakah aku berhutang?” ucapku merayu
bendahara yang masih saja duduk sangat dekat denganku.
“Tidak.”
“Kamu bawa uang berapa?” ucap seorang teman yang
belum kukenal.
“Eh, hanya ada sepuluh ribu.”
“Aku pinjami dulu ya. Oh ya. Aku Rika”
Aku
tersenyum sembari mengucapkan banyak terima kasih padanya. Dia anak baik.
“Ara!” teriaknya saat berpas-pasan bertemu denganku
di jalan.
Aku hanya mengangguk sembari
memperhatikan siapa fans yang memanggilku beberapa detik yang lalu itu. Oh,
Rika. Mengapa ia bisa berani memanggil orang yang baru kenal satu hari
sebelumnya itu dengan santai? Aku terkadang hanya bisa kagum dan
terheran-heran.
Di setiap rapat, dia selalu datang
berdua. Bak alat makan, mereka adalah sendok dan garpu. Mereka akan selalu ada
bersama. Jika salah satu dari mereka tidak hadir, semua orang akan menanyakan
keberadaan mereka dengan serempak.
“Oh kalian satu gedung?”
“Iya.”
“Menurutmu aku kalem atau bagaimana?” ucap Rika sembari
memamerkan wajah manisnya dengan kedua tangan yang ia bentuk seperti huruf v di
bawah dagunya.
“Kalem.”
“Ha? Kalem? Kalau kamu tahu, Ra. Dia itu sangat
berpolah dan tidak bisa diam. Ini hanya pencitraannya saja.”
Aku tertawa melihat mereka berdua
terus berdebat karena pembelaan diri masing-masing terhadap pencitraan dan
kenyataan yang sebenarnya. Tiba saat pembagian tugas, aku berada di sisi kanan
belakang gedung untuk mengarahkan para mahasiswa baru menuju gedung selanjutnya
dari lajur kanan.
“Aku ingin dengan Ara!” teriak Rika membuatku
terkejut.
“Ayo kesini aja.” ajakku membuatnya terlihat sangat
senang.
Pada akhirnya, gladi mengenai posisi
tempat bertugas untuk hari yang akan datang sudah dilaksanakan. Kami pun
berfoto ria dengan berbagai wajah unik yang tercipta di semua wajah manusia
bergenre wanita dan pria di sekelilingku. Tingkat kekaleman Rika menghilang
saat ia sudah berhadapan dengan kamera.
“Aku menyesal sudah berkata bahwa dia kalem.”
“Benar apa yang aku bilang kan?” ucap Ana sembari
membiarkan Rika memajukan bibirnya ke depan.
Selain dikenal sebagai anak yang banyak tingkah,
Rika juga tipe orang yang mudah untuk diajak berkomunikasi. Ia tidak menutup
sekat-sekat pembicaraan dan bisa bercerita dengan panjang lebar tanpa
membedakan apakah lawan bicaranya ini adalah orang yang selama ini dekat
dengannya atau masih sebagai orang asing.
“Hai Ara! Aku boleh bantu?” ucap
Rika sembari melihatku kesusahan memasukkan aneka jajan ke dalam kotak putih
yang disusun menjulang ke atas.
“Boleh
silakan.” balasku sembari mempersilakannya duduk di sampingku.
Tiba
saat pengarahan mahasiswa ke gedung-gedung fakultas, seorang temanku
membisikkan sesuatu padaku dengan menyebalkan.
“Bisakah
berbicara seperti biasa kak?”
“Sudahlah.
Menurutmu Rika bagaimana?”
“Dia
cantik, tinggi, dan baik. Apa kakak menyukainya?”
“Tidak
aku hanya kagum.”
Aku
pun menatap Rika yang terus menjadi satu titik pandang temanku yang mengenakan
pakaian ala tentara ini. Aku langsung meninggalkannya dengan posisi yang tetap
sama. Beruntungnya, seorang teman di sebelahnya membuyarkan lamunannya dan
mengubah posisinya menjadi normal tidak seperti sebelumnya.
“IKK
dance”
“Wah,
Rika juga mengikuti dance itu?”
“Iya.
Begitu juga aku. Bagaimana apakah ada yang kurang?” tanya Novalia sembari
menunjukkan wajah malu karena melihat video yang sedang aku putar.
“Bagus.
Rika dan Ana sangat berbakat. Mereka terlihat sudah sering menari rupanya.”
“Aku
berpikir juga begitu, Ra.”
Penampilan
unik yang diadakan membuatku hanya bisa bertepuk tangan di balik ponsel tanpa
sempat menghadiri kegiatan itu secara langsung.
Jika
ditanya Rika itu seperti apa, dia seperti liontin. Meskipun terlihat anggun dan
dingin, ia juga pintar membuat sejuta orang tersenyum. Ia juga pintar mengambil
hati orang sehingga tidak diherankan banyak orang yang menyeganinya. Dia juga
tak pernah memilih dengan siapa ia dibeli. Entah dibeli oleh orang yang mampu
atau tidak mampu. Dia tetaplah liontin yang sama dan seorang Rika yang
sederhana.