untuk : Emilia Rosarika foto : Flickr “Maaf terlambat” ucapku sembari meletakkan tasku dekat dengan seseorang asing.         ...

Liontin

/
0 Comments


untuk : Emilia Rosarika

foto : Flickr

“Maaf terlambat” ucapku sembari meletakkan tasku dekat dengan seseorang asing.
            Semua mata memandangku dengan ramah dan mempersilakanku untuk duduk sebelum seseorang menagih uang keterlambatan datang rapat padaku.
            “Denda ya.”
            “Aduh iya. Berapa berapa?”
            “20.000”
            “Kok mahal?”
            “Iya dong. Demi kelancaran acara kita.”
            “Iya deh. Huu”
            Perlahan aku merogoh dompetku dan menatapnya dengan malang. Hanya ada satu lembar sepuluh ribuan disana.
            “Halo? Apakah masih ada uang lain disana?”
            “Tidak ada. Hanya aku dan orang-orang kecil ini.”
            “Huu. Bisakah aku berhutang?” ucapku merayu bendahara yang masih saja duduk sangat dekat denganku.
            “Tidak.”
            “Kamu bawa uang berapa?” ucap seorang teman yang belum kukenal.
            “Eh, hanya ada sepuluh ribu.”
            “Aku pinjami dulu ya. Oh ya. Aku Rika”
Aku tersenyum sembari mengucapkan banyak terima kasih padanya. Dia anak baik.
            “Ara!” teriaknya saat berpas-pasan bertemu denganku di jalan.
            Aku hanya mengangguk sembari memperhatikan siapa fans yang memanggilku beberapa detik yang lalu itu. Oh, Rika. Mengapa ia bisa berani memanggil orang yang baru kenal satu hari sebelumnya itu dengan santai? Aku terkadang hanya bisa kagum dan terheran-heran.
            Di setiap rapat, dia selalu datang berdua. Bak alat makan, mereka adalah sendok dan garpu. Mereka akan selalu ada bersama. Jika salah satu dari mereka tidak hadir, semua orang akan menanyakan keberadaan mereka dengan serempak.
            “Oh kalian satu gedung?”
            “Iya.”
            “Menurutmu aku kalem atau bagaimana?” ucap Rika sembari memamerkan wajah manisnya dengan kedua tangan yang ia bentuk seperti huruf v di bawah dagunya.
            “Kalem.”
            “Ha? Kalem? Kalau kamu tahu, Ra. Dia itu sangat berpolah dan tidak bisa diam. Ini hanya pencitraannya saja.”
            Aku tertawa melihat mereka berdua terus berdebat karena pembelaan diri masing-masing terhadap pencitraan dan kenyataan yang sebenarnya. Tiba saat pembagian tugas, aku berada di sisi kanan belakang gedung untuk mengarahkan para mahasiswa baru menuju gedung selanjutnya dari lajur kanan.
            “Aku ingin dengan Ara!” teriak Rika membuatku terkejut.
            “Ayo kesini aja.” ajakku membuatnya terlihat sangat senang.
            Pada akhirnya, gladi mengenai posisi tempat bertugas untuk hari yang akan datang sudah dilaksanakan. Kami pun berfoto ria dengan berbagai wajah unik yang tercipta di semua wajah manusia bergenre wanita dan pria di sekelilingku. Tingkat kekaleman Rika menghilang saat ia sudah berhadapan dengan kamera.
            “Aku menyesal sudah berkata bahwa dia kalem.”
            “Benar apa yang aku bilang kan?” ucap Ana sembari membiarkan Rika memajukan bibirnya ke depan.
            Selain dikenal sebagai anak yang banyak tingkah, Rika juga tipe orang yang mudah untuk diajak berkomunikasi. Ia tidak menutup sekat-sekat pembicaraan dan bisa bercerita dengan panjang lebar tanpa membedakan apakah lawan bicaranya ini adalah orang yang selama ini dekat dengannya atau masih sebagai orang asing.
            “Hai Ara! Aku boleh bantu?” ucap Rika sembari melihatku kesusahan memasukkan aneka jajan ke dalam kotak putih yang disusun menjulang ke atas.
“Boleh silakan.” balasku sembari mempersilakannya duduk di sampingku.
Tiba saat pengarahan mahasiswa ke gedung-gedung fakultas, seorang temanku membisikkan sesuatu padaku dengan menyebalkan.
“Bisakah berbicara seperti biasa kak?”
“Sudahlah. Menurutmu Rika bagaimana?”
“Dia cantik, tinggi, dan baik. Apa kakak menyukainya?”
“Tidak aku hanya kagum.”
Aku pun menatap Rika yang terus menjadi satu titik pandang temanku yang mengenakan pakaian ala tentara ini. Aku langsung meninggalkannya dengan posisi yang tetap sama. Beruntungnya, seorang teman di sebelahnya membuyarkan lamunannya dan mengubah posisinya menjadi normal tidak seperti sebelumnya.
“IKK dance”
“Wah, Rika juga mengikuti dance itu?”
“Iya. Begitu juga aku. Bagaimana apakah ada yang kurang?” tanya Novalia sembari menunjukkan wajah malu karena melihat video yang sedang aku putar.
“Bagus. Rika dan Ana sangat berbakat. Mereka terlihat sudah sering menari rupanya.”
“Aku berpikir juga begitu, Ra.”
Penampilan unik yang diadakan membuatku hanya bisa bertepuk tangan di balik ponsel tanpa sempat menghadiri kegiatan itu secara langsung.
Jika ditanya Rika itu seperti apa, dia seperti liontin. Meskipun terlihat anggun dan dingin, ia juga pintar membuat sejuta orang tersenyum. Ia juga pintar mengambil hati orang sehingga tidak diherankan banyak orang yang menyeganinya. Dia juga tak pernah memilih dengan siapa ia dibeli. Entah dibeli oleh orang yang mampu atau tidak mampu. Dia tetaplah liontin yang sama dan seorang Rika yang sederhana.





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger