Untuk : Lidya Jelahu (story request) foto: flickr             “Apa yang kalian lakukan pada Sania!” teriak Angel sembari menunjukkan ...

Hapus atau Pupus?

/
2 Comments






Untuk : Lidya Jelahu (story request)
foto: flickr

            “Apa yang kalian lakukan pada Sania!” teriak Angel sembari menunjukkan wajah Sania yang sangat pucat dan sedih.
            Plak! Bukan rasa terima kasih karena ia ditemukan tergeletak di kelas tetapi malah tamparan yang Angel terima.
            “Jangan berpura-pura baik! Kamu dan mereka sama saja! Aku tidak akan pernah masuk ke dalam grup ini lagi. Hari ini adalah hari terakhir kalian bertemu denganku! Sania sudah tiada!” teriaknya sembari merobek fotonya dari album persahabatan yang aku pegang.
            Lemparan kuat Sania melukai hidungku hingga berdarah hebat. Namun, rasa sakit itu belum seberapa sakit dibandingkan sakit hatiku saat melihat Sania berkata kasar seperti itu.
            “Maaf, Dya. Tanpa Sania aku juga tidak bisa bergabung lagi. Aku takut rahasiaku terbongkar.”
            “Rahasia?”
            “Ingatkah kamu? Dulu Sania sangat percaya padamu. Dia menderita penyakit exploding head syndrome. Dia sangat malu jika orang lain mengetahui penyakit langkanya itu. Kini, seluruh siswa mengetahui keanehannya dan menjadikannya berita viral yang menjatuhkan harga drinya.”
            “Siapa yang melakukannya?”
            “Salah satu di antara kita. Bisa saja kamu.”
            “Kenapa kamu menuduhku?”
            “Apakah penjahat mau mengakui kesalahannya? Siapapun itu aku tidak mau bergabung lagi di dalam grup sampah ini.”
            Satu persatu dari mereka pergi. Aku merasa seolah-olah akulah yang menjadi biang kerok dan tersangka. Siapa yang melakukannya?
            Pulang dari rapat organisasi, aku melarikan diri dan langsung berangkat menuju rumah Sania yang tidak jauh dari tempatku berada. Di tengah perjalanan, aku merasa kesal karena ban motorku tiba-tiba bocor. Namun, beruntungnya aku karena melihat Sania keluar dari rumahnya. Aku hendak memanggil namanya tetapi ia terlanjur pergi. Seorang pria mendekatiku dengan bersikap sopan padaku.
            “Ada apa dengan motornya?”
            “Bocor”
            “Mari saya bantu”
            Aku tersenyum sembari membiarkan pria itu memperbaiki banku. Saat aku mengalihkan pandangan ke arah rumah Sania, aku melihat Sania mengeluarkan tiga koper besar. Aku menyernyitkan dahi. Mereka sekeluarga menjual rumah dan menunggu suatu kendaraan yang akan menjemput mereka.
            “Sania!” teriakku tak membuat Sania melihatku.
            Aku berlari meninggalkan motorku dan berusaha menggapai Sania sebelum pergi. Sesampainya aku di depan rumah Sania, aku tidak melihat apa-apa. Tangan yang aku pegang bukanlah tangan Sania tetapi ranting pohon yang ada di depan gerbang rumah Sania. Ada apa denganku?
            “Ini motornya. Tadi tertinggal disana.”
            “Terima kasih.” ucapku sembari menekan tombol rumah Sania.
            “Maaf, rumah ini sudah kosong.”
            “Kosong?”
            “Tadi sore, penghuni rumah ini membawa pick up dan pergi jauh.”
            Aku semakin merinding. Mengapa aku mendadak bisa melihat Sania yang pergi beberapa detik yang lalu? Aku langsung saja pergi dengan kecepatan tinggi hingga sampai di kediamanku. Sesampainya aku disana, lantas aku melarikan diri dengan berjalan kaki menuju puncak Waringin.
            Kota Mutiara dari Timur itulah julukan kota kediamanku. Pemandangan matahari terbenam membuat penatku hilang sejenak sembari terus menatap grup persahabatan yang hanya berisi diriku seorang saja.
            “Tak pernah berpikir bahwa semua bisa berakhir secepat ini.”
            Aku menatap foto-foto terakhirku bersama mereka dengan senyuman. Tak kusangka sesuatu terjadi tepat di belakangku.
            “Exploding head syndrome?”
            “Ya. Dia bercerita bahwa setiap kali ingin tidur, dia mendengar suara ledakan seperti om dan pistol. Saat ia mengalami hal itu, jantungnya berdegup kencang seolah-olah sungguh terjadi di dekatnya.”
            “Aku yakin itu hanya karena dia terlalu sering melihat film.”
            “Bukankah jika itu penyakit langka perlu kalian rahasiakan? Kenapa kamu membocorkannya?”
            “Aku tidak tahan jika terus mendengar ceritanya seputar kesalahan yang ada di kepalanya itu. Dia sangat kekanak-kanakan.”
            Aku lantas mengalihkan pandangan menuju juru bicara itu. Try? Ya. Dia adalah salah satu sahabatku yang kini sedang mengadakan piknik dekat dengan tempatku bersandar menikmati pemandangan sunset.
            “Apa yang kamu harapakan jika kamu berhasil memberitahu seisi sekolahmu bahwa Sania aneh?”
            “Aku merasa tidak sendirian. Ketidaknyamanan yang aku rasa ternyata merupakan hal yang wajar. Para sahabatku pandai bermuka dua. Mereka pintar memasang wajah penuh penerimaan akan kelangkaan Sania tetapi di belakang malah mengeluh dengan mulut yanag pahit pada keluarganya.”
            Aku terdiam sembari melangkah dan mendekati Try.
            “Try.”
            Sontak semua teman yang mengerumuninya mengajakku untuk bergabung dengan duduk melingkar di dekat mereka. Tanpa rasa sungkan, aku langsung duduk dan menatap tajam Try yang sama sekali tidak berani menatapku.
            “Ingin disini atau bicara berdua?”
            Try diam saja.
            “Disini saja Try. Kami juga ingin tahu. Bukankah kamu selalu memberitahu perihal masalah persahabatanmu disini?”
            “Iya.”
            Aku terus menatap wajah Try yang perlahan-lahan memberanikan diri untuk meluruskannya dengan wajahku. Aku terdiam cukup lama sampai Try benar-benar ingin berbicara. Seketika keheningan tercipta dan Try meneteskan air mata.
            “Mengapa menangis?”
            “Aku bersalah.”
            “Lalu?”
            “Lupakan kesalahanku.”
            “Kembalikan Sania.”
            “Dimana Sania?”
            “Dia pergi jauh ke kota.”
            “Sejak kapan?”
            “Tadi.”
            Try terlihat gegabah dan mengambil ponselnya. Tiba-tiba, aku melihat Sania sedang berlari-lari di dekatku dengan diriku yang lain. Mereka tampak bahagia. Aku melihat Sania yang selalu membawa obat semprot tak pernah mendoktrin bahwa dia adalah orang yang penyakitan. Sesaat kemudian bayangan itu menghilang. Aku kembali terkejut karena melihat Sania sedang berada di kursi taman dengan ibunya. Ia terlihat sangat sedih.
            “Lidya!” teriak Try yang kini tiba-tiba berada di depan wajahku.
            “Aa!” teriakku kaget sembari terus mengatur nafasku.
            Terik matahari membuka mataku dengan paksa. Keramaian memenuhi kamarku yang berwarna putih. Kamarku?
            “Dia menjadi aneh saat Sania pergi ke kota, Tante.”
            “Maafkan saya, Te.”
            Aku perlahan membuka mataku dan melihat kesembilan sahabatku berdiri rapi di sisi kanan kiri ranjangku.
            “Lidya!!” teriak mereka sembari memelukku dengan erat.
            Aku hanya terdiam sembari tersenyum melihat Sania memegang tanganku.
            “Akhirnya aku bisa bertemu dengan Sania yang sesungguhnya.”
            Semua terdiam sembari terus menenangkanku.
            “Lidya. Aku tahu jika kita sudah kehilangan barang yang lama kita pelihara, barang itu akan kembali pada pemiliknya. Aku juga tahu jika suatu aplikasi yang diuninstall akan bisa diinstall ulang. Aku pun juga tahu jika coretan dalam lembaran kertas putih juga mampu dibersihkan dengan stipo. Tetaplah menjadi angka 9 yang meskipun terputus di ujungnya, dia akan berusaha untuk membentuk lingkaran baru yang kokoh di setiap coretannya.”



2 komentar:

  1. Lantas apa yang membuat dia pergi..

    BalasHapus
  2. karena rahasia yang dia jagakan pada sahabatnya terbongkar dan dia dipermalukan.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger