“Apa yang kalian lakukan pada
Sania!” teriak Angel sembari menunjukkan wajah Sania yang sangat pucat dan
sedih.
Plak!
Bukan rasa terima kasih karena ia ditemukan tergeletak di kelas tetapi malah
tamparan yang Angel terima.
“Jangan berpura-pura baik! Kamu dan
mereka sama saja! Aku tidak akan pernah masuk ke dalam grup ini lagi. Hari ini
adalah hari terakhir kalian bertemu denganku! Sania sudah tiada!” teriaknya
sembari merobek fotonya dari album persahabatan yang aku pegang.
Lemparan kuat Sania melukai hidungku
hingga berdarah hebat. Namun, rasa sakit itu belum seberapa sakit dibandingkan
sakit hatiku saat melihat Sania berkata kasar seperti itu.
“Maaf, Dya. Tanpa Sania aku juga
tidak bisa bergabung lagi. Aku takut rahasiaku terbongkar.”
“Rahasia?”
“Ingatkah kamu? Dulu Sania sangat
percaya padamu. Dia menderita penyakit exploding head syndrome. Dia sangat malu
jika orang lain mengetahui penyakit langkanya itu. Kini, seluruh siswa
mengetahui keanehannya dan menjadikannya berita viral yang menjatuhkan harga
drinya.”
“Siapa yang melakukannya?”
“Salah satu di antara kita. Bisa
saja kamu.”
“Kenapa kamu menuduhku?”
“Apakah penjahat mau mengakui
kesalahannya? Siapapun itu aku tidak mau bergabung lagi di dalam grup sampah
ini.”
Satu persatu dari mereka pergi. Aku
merasa seolah-olah akulah yang menjadi biang kerok dan tersangka. Siapa yang
melakukannya?
Pulang dari rapat organisasi, aku
melarikan diri dan langsung berangkat menuju rumah Sania yang tidak jauh dari
tempatku berada. Di tengah perjalanan, aku merasa kesal karena ban motorku
tiba-tiba bocor. Namun, beruntungnya aku karena melihat Sania keluar dari
rumahnya. Aku hendak memanggil namanya tetapi ia terlanjur pergi. Seorang pria
mendekatiku dengan bersikap sopan padaku.
“Ada apa dengan motornya?”
“Bocor”
“Mari saya bantu”
Aku tersenyum sembari membiarkan
pria itu memperbaiki banku. Saat aku mengalihkan pandangan ke arah rumah Sania,
aku melihat Sania mengeluarkan tiga koper besar. Aku menyernyitkan dahi. Mereka
sekeluarga menjual rumah dan menunggu suatu kendaraan yang akan menjemput
mereka.
“Sania!” teriakku tak membuat Sania
melihatku.
Aku berlari meninggalkan motorku dan
berusaha menggapai Sania sebelum pergi. Sesampainya aku di depan rumah Sania,
aku tidak melihat apa-apa. Tangan yang aku pegang bukanlah tangan Sania tetapi
ranting pohon yang ada di depan gerbang rumah Sania. Ada apa denganku?
“Ini motornya. Tadi tertinggal
disana.”
“Terima kasih.” ucapku sembari
menekan tombol rumah Sania.
“Maaf, rumah ini sudah kosong.”
“Kosong?”
“Tadi sore, penghuni rumah ini
membawa pick up dan pergi jauh.”
Aku semakin merinding. Mengapa aku
mendadak bisa melihat Sania yang pergi beberapa detik yang lalu? Aku langsung
saja pergi dengan kecepatan tinggi hingga sampai di kediamanku. Sesampainya aku
disana, lantas aku melarikan diri dengan berjalan kaki menuju puncak Waringin.
Kota Mutiara dari Timur itulah
julukan kota kediamanku. Pemandangan matahari terbenam membuat penatku hilang
sejenak sembari terus menatap grup persahabatan yang hanya berisi diriku
seorang saja.
“Tak pernah berpikir bahwa semua
bisa berakhir secepat ini.”
Aku menatap foto-foto terakhirku
bersama mereka dengan senyuman. Tak kusangka sesuatu terjadi tepat di
belakangku.
“Exploding head syndrome?”
“Ya. Dia bercerita bahwa setiap kali
ingin tidur, dia mendengar suara ledakan seperti om dan pistol. Saat ia
mengalami hal itu, jantungnya berdegup kencang seolah-olah sungguh terjadi di
dekatnya.”
“Aku yakin itu hanya karena dia
terlalu sering melihat film.”
“Bukankah jika itu penyakit langka
perlu kalian rahasiakan? Kenapa kamu membocorkannya?”
“Aku tidak tahan jika terus
mendengar ceritanya seputar kesalahan yang ada di kepalanya itu. Dia sangat
kekanak-kanakan.”
Aku lantas mengalihkan pandangan
menuju juru bicara itu. Try? Ya. Dia adalah salah satu sahabatku yang kini
sedang mengadakan piknik dekat dengan tempatku bersandar menikmati pemandangan sunset.
“Apa yang kamu harapakan jika kamu
berhasil memberitahu seisi sekolahmu bahwa Sania aneh?”
“Aku merasa tidak sendirian.
Ketidaknyamanan yang aku rasa ternyata merupakan hal yang wajar. Para sahabatku
pandai bermuka dua. Mereka pintar memasang wajah penuh penerimaan akan
kelangkaan Sania tetapi di belakang malah mengeluh dengan mulut yanag pahit
pada keluarganya.”
Aku terdiam sembari melangkah dan
mendekati Try.
“Try.”
Sontak semua teman yang
mengerumuninya mengajakku untuk bergabung dengan duduk melingkar di dekat
mereka. Tanpa rasa sungkan, aku langsung duduk dan menatap tajam Try yang sama
sekali tidak berani menatapku.
“Ingin disini atau bicara berdua?”
Try diam saja.
“Disini saja Try. Kami juga ingin
tahu. Bukankah kamu selalu memberitahu perihal masalah persahabatanmu disini?”
“Iya.”
Aku terus menatap wajah Try yang
perlahan-lahan memberanikan diri untuk meluruskannya dengan wajahku. Aku
terdiam cukup lama sampai Try benar-benar ingin berbicara. Seketika keheningan
tercipta dan Try meneteskan air mata.
“Mengapa menangis?”
“Aku bersalah.”
“Lalu?”
“Lupakan kesalahanku.”
“Kembalikan Sania.”
“Dimana Sania?”
“Dia pergi jauh ke kota.”
“Sejak kapan?”
“Tadi.”
Try terlihat gegabah dan mengambil
ponselnya. Tiba-tiba, aku melihat Sania sedang berlari-lari di dekatku dengan
diriku yang lain. Mereka tampak bahagia. Aku melihat Sania yang selalu membawa
obat semprot tak pernah mendoktrin bahwa dia adalah orang yang penyakitan. Sesaat
kemudian bayangan itu menghilang. Aku kembali terkejut karena melihat Sania
sedang berada di kursi taman dengan ibunya. Ia terlihat sangat sedih.
“Lidya!” teriak Try yang kini
tiba-tiba berada di depan wajahku.
“Aa!” teriakku kaget sembari terus
mengatur nafasku.
Terik matahari membuka mataku dengan
paksa. Keramaian memenuhi kamarku yang berwarna putih. Kamarku?
“Dia menjadi aneh saat Sania pergi
ke kota, Tante.”
“Maafkan saya, Te.”
Aku perlahan membuka mataku dan
melihat kesembilan sahabatku berdiri rapi di sisi kanan kiri ranjangku.
“Lidya!!” teriak mereka sembari
memelukku dengan erat.
Aku hanya terdiam sembari tersenyum
melihat Sania memegang tanganku.
“Akhirnya aku bisa bertemu dengan
Sania yang sesungguhnya.”
Semua terdiam sembari terus menenangkanku.
“Lidya. Aku tahu jika kita sudah
kehilangan barang yang lama kita pelihara, barang itu akan kembali pada
pemiliknya. Aku juga tahu jika suatu aplikasi yang diuninstall akan bisa
diinstall ulang. Aku pun juga tahu jika coretan dalam lembaran kertas putih
juga mampu dibersihkan dengan stipo. Tetaplah menjadi angka 9 yang meskipun
terputus di ujungnya, dia akan berusaha untuk membentuk lingkaran baru yang
kokoh di setiap coretannya.”
Lantas apa yang membuat dia pergi..
BalasHapuskarena rahasia yang dia jagakan pada sahabatnya terbongkar dan dia dipermalukan.
BalasHapus