Aku
terpaku sembari terdiam melihatnya pergi dengan kue ulang tahun yang ia
letakkan di dekatku. Penatnya pekerjaan membuat rasa bersalah pada wanita itu
berlebihan. Kini, aku jarang melihat kehadirannya.
“Hasil
kerja siapa ini?” tanya bapakku yang terheran-heran melihat kue tart dan kado
yang aku bawa masuk ke dalam rumah.
“Joseph.”
“Dia
laki-laki?”
“Perempuan
lah, Pak. Niat sekali jika memang benar temanku membuat hadiah seperti ini.
Paling sering sih ya minta traktiran.”
Bapak
tertawa dan menepuk pundakku.
“Selamat
ulang tahun, Nak.”
Aku
tersenyum sembari memeluknya dengan erat.
“Bagaimana
awalmu bertemu dengan Jo-?”
“Joseph,
Pak.”
“Oh
iya itu.”
Kembali di saat itu.
Konflik
membuatku ragu untuk masuk ke dalam rumah ibadat yang telah membaptisku. Aku
hanya berani melihat gereja itu dari luar sembari melihat ribuan umat yang
berdandan cantik dan tampan keluar dari pintu itu. Ya. Hanya sekedar itu. Ingin
masuk? Belum. Sampai kapan? Sampai luka di hatiku hilang tentunya.
Malam
minggu yang sedikit lengang membuatku bisa bersantai di rumah hingga bapak
pulang. Aku melamun sembari menyeduh kopi hangat yang selalu menjadi teman
pasangan hidupku dari aku SMA. Ia bahkan sudah aku anggap pacarku sendiri.
Dering
telefon darurat membuat kakiku berlari sembari meraih jaket, sepatu, dompet,
dan kunci motorku dengan sangat cepat. Sampainya di lokasi, aku hanya bisa
memamerkan wajah datar pada semua temanku yang sedang tertawa.
“Gak
usah baper bos. Ini temanku Joseph. Kami memang mau berencana mengajakmu untuk
misa nanti sore dan aku lihat pakaianmu sudah rapi. Tolong bonceng dia ya. Aku
sudah dibooking.” ucap Leonard yang berkedip pada Airi.
“Kenapa
mendadak?”
“Akankah
kamu mau datang jika kami memberitahukan hal ini? Tentu tidak. Sampai kapan
terus memelihara sakit hati jika kamu bisa mengobatinya? Itu adalah tindakan
yang tidak wajar menurutku. Kamu adalah pria sejati. Luka itu bukanlah alasanmu
untuk mundur. Jika mundur, kamu kalah? Apa kamu mau dikatakan kalah?”
“AAA!!”
teriak teman-temanku yang keluar dari semak-semak.
Jantungku
berdegup kencang karena teriakan gila mereka. Dengan terpaksa, aku menyanggupi
mereka dan membiarkan seorang perempuan bernama Joseph untuk naik di atas
motorku. Aku sengaja diam dalam perjalanan hingga ibadat selesai. Aku
membiarkan teman-temanku yang mengeluh kelelahan untuk menghiburku.
“Ah.
Sampai kapan sih Ed?”
“Sudahlah
buat apa kalian pusing? Aku saja santai. Terima kasih undangannya.”
Mereka
semua menghela nafas begitu pula Joseph. Entahlah sedari tadi ia tidak
memalingkan matanya dariku. Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini?
Aku tak peduli.
“Oh
kamu sudah kerja?”
“Iya.
Kamu sendiri?”
“Aku
kuliah sambil kerja.”
“Wah
keren ya.”
“Jika
sewaktu-waktu ada masalah pekerjaan yang bisa dibicarakan, aku bisa tanggap
dengan topik itu.”
“Aku
akan menghubungimu nanti.”
Keperluan
mendadak dari sebuah cafe mengundangki untuk datang dalam soft opening sebuah cafe. Hingga aku tidak menyadari bahwa hari ini
adalah hari spesialku.
Jarum
jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam membuat mataku sayup-sayup
dalam perjalanan. Ribuan uapan keluar dari mulutku. Suasana jalan yang dingin
dan sepi benar-benar mendukung kepulanganku. Sampainya aku di depan rumah, aku
mendapati Joseph, Airi, dan Leonard tertidur di atas motor sembari membawa dua
balon dan satu kue tart kecil bertuliskan namaku.
“Oi
rek bangun.”
Semua
temanku serentak membuka mata sembari bernyanyi lagu ulang tahun dengan nada
yang luar biasa berantakan untukku. Aku pun mengucapkan terima kasih. Namun, di
tengah kegembiraanku itu, aku melihat Joseph masih saja tertidur. Aku
menunggunya sampai ia terbangun dan membuat semua temanku berpamitan untuk
pulang.
“Tolong
antar, Joseph ya Do.”
Aku
mengangguk dan perlahan membangunkan Joseph dengan nada keras. Beruntungnya
aku, dia tidak terjatuh dari motor saat mendengarku berteriak. Dia tersenyum
sembari mengeluarkan kue tart dari kresek yang ia gantungkan di atas setirnya.
***
“Lalu?
Kenapa sekarang malah bersedih?”
“Aku
terlalu sungkan untuk melihatnya menungguku terlalu lama, Pak. Itu membuatku
menyepam chat permintaan maaf terus menerus padanya. Alhasil dia malah marah
dan mengatakan bahwa aku menyebalkan.”
“Berikan
dia kejutan dengan permintaan maafmu yang sebenarnya.” ucap bapak secara
singkat.
“Lha
bagaimana, Pak? Apakah permintaan maafku itu tidak benar?”
“Jika
hal itu benar, tentu saja hasilnya tidak akan menyakitkan orang lain. Ibarat kamu
salah menulis nama orang dalam sebuah surat. Apakah itu bukan salah? Mungkin
kamu akan menyakiti dua pemilik nama itu tanpa kamu sadari apalagi kamu
melakukannya berulang kali. Jangan mau seperti hujan. Dia tahu bahwa dengan
hadirnya hujan jutaan orang akan merasa bahagia dan semua kekeringan akan usai.
Namun, jika hujan turun dengan lebat apakah orang-orang akan tetap bahagia?
Rasa pemikiran yang salah itu malah bisa melukai orang yang ingin kita
bahagiakan. Cukup sekali dan semua berhenti. Lakukan dengan action dan jangan
cukupkan itu dengan perkataan saja.”
Bulu
kudukku berdiri saat aku tersadar bahwa aku sedang berada di tengah kuburan.
Ya. Perjalanan menuju rumahnya baru bisa aku tempuh pukul sebelas malam. Hal
ini dikarenakan adanya acara mendadak di tempatku bekerja. Angin sepoi-sepoi
yang tidak seharusnya datang membuatku kedinginan. Aku lantas mempercepat
kendaraanku hingga mencapai 100 km/jam. Seorang wanita terlihat berdiri di
depan jalan. Karena ketakutan, aku tak mengurangi kecepatanku dan membiarkannya
terjatuh. Aku pun bernafas panjang karena sudah sampai di depan rumah Joseph
yang sangat sederhana.
“Ada
apa?” tanya Joseph yang menyentuh pundakku sembari menyentuh lututnya yang
terluka.
“Selamat
ulang tahun.”
“Ah.
Terima kasih. Apakah lelaki ngebut itu adalah kamu?”
“Iya.
Aku tadi menabrakmu? Maaf.”
“Iya
tidak apa. Aku hanya terkejut saja.”
“Damai?”
“Tentu.”
Aku
sampai sekarang bingung. Untuk apa Joseph berada di jalan dekat kuburan itu.