story request : Kak Edward             “Sudah selesai minta maafnya? Jadi malas aku.”             Aku terpaku sembari terdiam mel...

Aku Bukan Lagi Hujan

/
0 Comments


story request : Kak Edward

            “Sudah selesai minta maafnya? Jadi malas aku.”
            Aku terpaku sembari terdiam melihatnya pergi dengan kue ulang tahun yang ia letakkan di dekatku. Penatnya pekerjaan membuat rasa bersalah pada wanita itu berlebihan. Kini, aku jarang melihat kehadirannya.
            “Hasil kerja siapa ini?” tanya bapakku yang terheran-heran melihat kue tart dan kado yang aku bawa masuk ke dalam rumah.
            “Joseph.”
            “Dia laki-laki?”
            “Perempuan lah, Pak. Niat sekali jika memang benar temanku membuat hadiah seperti ini. Paling sering sih ya minta traktiran.”
            Bapak tertawa dan menepuk pundakku.
            “Selamat ulang tahun, Nak.”
            Aku tersenyum sembari memeluknya dengan erat.
            “Bagaimana awalmu bertemu dengan Jo-?”
            “Joseph, Pak.”
            “Oh iya itu.”
            Kembali di saat itu.
            Konflik membuatku ragu untuk masuk ke dalam rumah ibadat yang telah membaptisku. Aku hanya berani melihat gereja itu dari luar sembari melihat ribuan umat yang berdandan cantik dan tampan keluar dari pintu itu. Ya. Hanya sekedar itu. Ingin masuk? Belum. Sampai kapan? Sampai luka di hatiku hilang tentunya.
            Malam minggu yang sedikit lengang membuatku bisa bersantai di rumah hingga bapak pulang. Aku melamun sembari menyeduh kopi hangat yang selalu menjadi teman pasangan hidupku dari aku SMA. Ia bahkan sudah aku anggap pacarku sendiri.
            Dering telefon darurat membuat kakiku berlari sembari meraih jaket, sepatu, dompet, dan kunci motorku dengan sangat cepat. Sampainya di lokasi, aku hanya bisa memamerkan wajah datar pada semua temanku yang sedang tertawa.
            “Gak usah baper bos. Ini temanku Joseph. Kami memang mau berencana mengajakmu untuk misa nanti sore dan aku lihat pakaianmu sudah rapi. Tolong bonceng dia ya. Aku sudah dibooking.” ucap Leonard yang berkedip pada Airi.
            “Kenapa mendadak?”
            “Akankah kamu mau datang jika kami memberitahukan hal ini? Tentu tidak. Sampai kapan terus memelihara sakit hati jika kamu bisa mengobatinya? Itu adalah tindakan yang tidak wajar menurutku. Kamu adalah pria sejati. Luka itu bukanlah alasanmu untuk mundur. Jika mundur, kamu kalah? Apa kamu mau dikatakan kalah?”
            “AAA!!” teriak teman-temanku yang keluar dari semak-semak.
            Jantungku berdegup kencang karena teriakan gila mereka. Dengan terpaksa, aku menyanggupi mereka dan membiarkan seorang perempuan bernama Joseph untuk naik di atas motorku. Aku sengaja diam dalam perjalanan hingga ibadat selesai. Aku membiarkan teman-temanku yang mengeluh kelelahan untuk menghiburku.
            “Ah. Sampai kapan sih Ed?”
            “Sudahlah buat apa kalian pusing? Aku saja santai. Terima kasih undangannya.”
            Mereka semua menghela nafas begitu pula Joseph. Entahlah sedari tadi ia tidak memalingkan matanya dariku. Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini? Aku tak peduli.
            “Oh kamu sudah kerja?”
            “Iya. Kamu sendiri?”
            “Aku kuliah sambil kerja.”
            “Wah keren ya.”
            “Jika sewaktu-waktu ada masalah pekerjaan yang bisa dibicarakan, aku bisa tanggap dengan topik itu.”
            “Aku akan menghubungimu nanti.”
            Keperluan mendadak dari sebuah cafe mengundangki untuk datang dalam soft opening sebuah cafe. Hingga aku tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari spesialku.
            Jarum jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam membuat mataku sayup-sayup dalam perjalanan. Ribuan uapan keluar dari mulutku. Suasana jalan yang dingin dan sepi benar-benar mendukung kepulanganku. Sampainya aku di depan rumah, aku mendapati Joseph, Airi, dan Leonard tertidur di atas motor sembari membawa dua balon dan satu kue tart kecil bertuliskan namaku.
            “Oi rek bangun.”
            Semua temanku serentak membuka mata sembari bernyanyi lagu ulang tahun dengan nada yang luar biasa berantakan untukku. Aku pun mengucapkan terima kasih. Namun, di tengah kegembiraanku itu, aku melihat Joseph masih saja tertidur. Aku menunggunya sampai ia terbangun dan membuat semua temanku berpamitan untuk pulang.
            “Tolong antar, Joseph ya Do.”
            Aku mengangguk dan perlahan membangunkan Joseph dengan nada keras. Beruntungnya aku, dia tidak terjatuh dari motor saat mendengarku berteriak. Dia tersenyum sembari mengeluarkan kue tart dari kresek yang ia gantungkan di atas setirnya.
            ***
            “Lalu? Kenapa sekarang malah bersedih?”
            “Aku terlalu sungkan untuk melihatnya menungguku terlalu lama, Pak. Itu membuatku menyepam chat permintaan maaf terus menerus padanya. Alhasil dia malah marah dan mengatakan bahwa aku menyebalkan.”
            “Berikan dia kejutan dengan permintaan maafmu yang sebenarnya.” ucap bapak secara singkat.
            “Lha bagaimana, Pak? Apakah permintaan maafku itu tidak benar?”
            “Jika hal itu benar, tentu saja hasilnya tidak akan menyakitkan orang lain. Ibarat kamu salah menulis nama orang dalam sebuah surat. Apakah itu bukan salah? Mungkin kamu akan menyakiti dua pemilik nama itu tanpa kamu sadari apalagi kamu melakukannya berulang kali. Jangan mau seperti hujan. Dia tahu bahwa dengan hadirnya hujan jutaan orang akan merasa bahagia dan semua kekeringan akan usai. Namun, jika hujan turun dengan lebat apakah orang-orang akan tetap bahagia? Rasa pemikiran yang salah itu malah bisa melukai orang yang ingin kita bahagiakan. Cukup sekali dan semua berhenti. Lakukan dengan action dan jangan cukupkan itu dengan perkataan saja.”
            Bulu kudukku berdiri saat aku tersadar bahwa aku sedang berada di tengah kuburan. Ya. Perjalanan menuju rumahnya baru bisa aku tempuh pukul sebelas malam. Hal ini dikarenakan adanya acara mendadak di tempatku bekerja. Angin sepoi-sepoi yang tidak seharusnya datang membuatku kedinginan. Aku lantas mempercepat kendaraanku hingga mencapai 100 km/jam. Seorang wanita terlihat berdiri di depan jalan. Karena ketakutan, aku tak mengurangi kecepatanku dan membiarkannya terjatuh. Aku pun bernafas panjang karena sudah sampai di depan rumah Joseph yang sangat sederhana.
            “Ada apa?” tanya Joseph yang menyentuh pundakku sembari menyentuh lututnya yang terluka.
            “Selamat ulang tahun.”
            “Ah. Terima kasih. Apakah lelaki ngebut itu adalah kamu?”
            “Iya. Aku tadi menabrakmu? Maaf.”
            “Iya tidak apa. Aku hanya terkejut saja.”
            “Damai?”
            “Tentu.”
            Aku sampai sekarang bingung. Untuk apa Joseph berada di jalan dekat kuburan itu.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger