story request : Sella Aulia Rahma foto : flickr             Terima Kasih.           Seketika itu juga, hujan mengguyur pekarangan...

Terima Kasih

/
0 Comments


story request : Sella Aulia Rahma
foto : flickr

            Terima Kasih.
          Seketika itu juga, hujan mengguyur pekaranganku dengan sangat hebat. Posisi Dion yang masih saja berdiri di depan pintu membuatku bungkam karena tulisan sepucuk surat darinya itu.
            “Apa maksud tulisan ini?”
            “Kamu bisa membaca?”
            “Aku bisa. Hanya saja, apa maksud dari ucapan terima kasihmu?”
            “Menurutmu apa?”
            “Berpisah?”
            “Iya.”
            “Mengapa?”
            Belum sempat aku menanyakan kata tanya itu. Dion sudah terlanjur pergi berlari menggunakan mantel jaketnya yang terlihat basah kuyub. Aku gugup dan panik melihat kondisi ini. Segera aku membersihkan lantai yang basah karena tergenang air dari bawah. Sembari membereskan segala perabotan rumah yang tidak tertata, aku menciptakan hujanku sendiri dari kelompok mata ini.
            “Selesai!”, ucapku sembari meletakkan lima buku fiksi terjemahan di atas mejaku.
            Sembari melihat pekarangan rumah, aku mengguyur tanaman ibu dengan ember yang penuh dengan air. Sontak aku melihat Dion yang sedang mengantarkan makanan ke rumah-rumah. Aku berlari sembari mendekati Dion.
            “Yon, aku bantu.”
            Dion tidak mempedulikanku. Dia malah mengada-ngadakan teman di balik tubuhku agar ia bisa segera beralih dariku. Mengapa?
            Sudah lebih dari satu bulan aku tidak bertemu dengan sosok Dion. Saking lamanya aku sampai membayangkan kursi di depanku adalah Dion. Dion adalah lelaki yang gemar sekali duduk dengan memainkan jarinya pada ponsel. Selain itu, dia juga tak pernah duduk dekat denganku hanya mau duduk di depanku dengan jarak sekitar sepuluh meter. Selama dua bulan perjalanan kami, aku merasakan kejanggalan yang hakiki. Aku akan lebih memilih kursi daripada Dion kali ini. Kursi walaupun sedikit berbicara dia selalu ada di saat aku butuh. Ia juga salah satu barang yang setia. Hal itu karena dia adalah pasangan dari meja. Tanpa meja, kursi mampu menyendiri. Namun, tanpa kursi, meja terasa kosong. Ia selalu ada di saat meja itu butuh bukannya hilang dicuri orang. Walaupun dicuri pun, ia masih bisa menggantikan bentuk kursi itu bukan posisi fungsi kursi itu.
            Aku melamun menatap lamat-lamat jendela yang membentuk sebuah kepala dari seorang laki-laki. Aku membukanya dengan cepat. Bukan. Itu bukan Dion.
Siang yang merayuku membuatku malas untuk membersihkan pakaian kotorku. Saat hendak memasuki kamar mandi, aku melihat seseorang berendam di dalam bak mandiku. Aku berteriak,
“Dek!”
Tak diduga-duga, adikku berlari mendekatiku dari belakang. Aku langsung membelalakkan mata.
“Ada apa, Mbak?”
“Gak papa, Dek.”, ucapku sembari menyuruhnya untuk kembali masuk.
Aku terdiam sembari terus memperhatikan orang berendam itu. Seketika ibu melihatku dengan amarah karena aku tak menjalankan perintahnya dengan baik.
“Kok malah berdiri disini?” ucapnya sembari memasuki kamar mandi dan memasukkan semua pakaian ke dalam bak mandi seram itu.
Aku terkejut karena orang itu sudah pergi. Kini, air itu terlihat kosong. Aku merinding dan memutuskan untuk menghipnotis diriku bahwa itu bukanlah realita tetapi hanyalah ekspektasiku belaka.
Tok..tok..
“Bu, ada tamu.” ucapku sembari melihat ibu mengalihkan pandangannya pada pintu yang kosong.
“Buka sendiri, Kak. Ibu gak lihat siapa-siapa.”
Aku kembali menegukkan ludah dan membuka pintu. Dion.
“Aku kira siapa.”
“Aku sembunyi karena ada ibumu.”
“Ada apa, Yon?”
“Ini hadiah ulang tahunmu. Selamat ulang tahun.”
“Iya. Te-”, balasku sembari terkejut melihat Dion yang sudah pergi.
Kotak kado yang tidak biasa Dion berikan membuatku sedikit bahagia karena keromantisannya yang sederhana itu.
Aku membuka kado berpita hitam itu dengan berhati-hati. Di dalamnya, adalah foto-foto candid yang ia ambil secara diam-diam di kampus. Dia juga mengumpulkan semua surat yang sudah aku kirim jika aku sedang tidak memegang ponsel selama liburan. Selain itu, ia juga memberikan surat berisi,
              Terima Kasih.
                             Dion
Lagi. Aku merengut sembari marah dengan diri sendiri. Kesalahan apa yang sudah aku buat sampai-sampai Dion pergi tanpa alasan seperti ini. Kursi yang aku letakkan dekat dengan meja belajarku tiba-tiba saja terjatuh. Kembali. Bayangan hitam berlari cepat mengitariku lalu pergi. Aku pingsan.
“Kak, kamu kenapa?”
            Aku terbangun melihat wajah ibu, adik, dan bapakku yang bercucuran air mata. Aku tersenyum memeluk ketiganya dengan berpura-pura tegar.
            Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Dion. Aku merasakan sesuatu yang tidak benar dan baik di sini. Di dalam perjalanan, motorku terasa berat. Aku merasa bahwa aku sedang sendirian. Namun, aku tidak mempedulikan itu karena tujuanku adalah sampai di rumah Dion.
            Sampainya di sana, aku melihat rumahnya kini menjadi serpihan yang hangus terbakar. Aku menemui beberapa warga sekitar sedang merenovasi rumah tersebut dan mengemasi serpihan-serpihan itu agar tidak mengenai kaki orang.
            “Pak, sebenarnya apa yang sudah terjadi?”
            “Rumah ini kebakaran, Mbak. Semua orang yang meninggali rumah ini sudah meninggal satu bulan yang lalu.”
            Aku terbelalak.
            “Dimana pemakamannya, Pak?”
            “Mari saya antar.”
            Dalam perjalanan, aku menangis keras. Akankah Dion terlibat dalam kematian beruntun itu?
            “Lia.”, bisik seseorang yang membuat motorku terasa berat.
            “Diamlah! Berisik!”, ucapku marah pada siapapun yang terus mengangguku satu minggu terakhir ini.
            Makam Dion yang terlihat rapi memang terpampang di kuburan ini. Aku kembali menangis sembari menemukan surat bertuliskan ‘terima kasih- Dion’ lagi. Aku mengusap pelan dadaku hingga aku bisa menenangkan diri dan tidak berakhir stres. Aku kini hanya bisa membersihkan makamnya dengan berbagai bunga yang aku tanam di belakang pekarangan rumah. Hingga jutaan orang melihatku dengan pandangan yang tidak biasa.
            “Terima kasih” ucap lelaki yang kini menyentuh pundakku dengan kencang.
            Dingin.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger