Seketika itu juga, hujan mengguyur
pekaranganku dengan sangat hebat. Posisi Dion yang masih saja berdiri di depan
pintu membuatku bungkam karena tulisan sepucuk surat darinya itu.
“Apa maksud
tulisan ini?”
“Kamu bisa
membaca?”
“Aku bisa.
Hanya saja, apa maksud dari ucapan terima kasihmu?”
“Menurutmu
apa?”
“Berpisah?”
“Iya.”
“Mengapa?”
Belum
sempat aku menanyakan kata tanya itu. Dion sudah terlanjur pergi berlari
menggunakan mantel jaketnya yang terlihat basah kuyub. Aku gugup dan panik
melihat kondisi ini. Segera aku membersihkan lantai yang basah karena tergenang
air dari bawah. Sembari membereskan segala perabotan rumah yang tidak tertata,
aku menciptakan hujanku sendiri dari kelompok mata ini.
“Selesai!”,
ucapku sembari meletakkan lima buku fiksi terjemahan di atas mejaku.
Sembari
melihat pekarangan rumah, aku mengguyur tanaman ibu dengan ember yang penuh
dengan air. Sontak aku melihat Dion yang sedang mengantarkan makanan ke
rumah-rumah. Aku berlari sembari mendekati Dion.
“Yon, aku
bantu.”
Dion tidak
mempedulikanku. Dia malah mengada-ngadakan teman di balik tubuhku agar ia bisa
segera beralih dariku. Mengapa?
Sudah lebih
dari satu bulan aku tidak bertemu dengan sosok Dion. Saking lamanya aku sampai membayangkan kursi di depanku adalah
Dion. Dion adalah lelaki yang gemar sekali duduk dengan memainkan jarinya pada
ponsel. Selain itu, dia juga tak pernah duduk dekat denganku hanya mau duduk di
depanku dengan jarak sekitar sepuluh meter. Selama dua bulan perjalanan kami,
aku merasakan kejanggalan yang hakiki. Aku akan lebih memilih kursi daripada
Dion kali ini. Kursi walaupun sedikit berbicara dia selalu ada di saat aku
butuh. Ia juga salah satu barang yang setia. Hal itu karena dia adalah pasangan
dari meja. Tanpa meja, kursi mampu menyendiri. Namun, tanpa kursi, meja terasa
kosong. Ia selalu ada di saat meja itu butuh bukannya hilang dicuri orang.
Walaupun dicuri pun, ia masih bisa menggantikan bentuk kursi itu bukan posisi fungsi
kursi itu.
Aku melamun
menatap lamat-lamat jendela yang membentuk sebuah kepala dari seorang
laki-laki. Aku membukanya dengan cepat. Bukan. Itu bukan Dion.
Siang yang merayuku membuatku malas
untuk membersihkan pakaian kotorku. Saat hendak memasuki kamar mandi, aku
melihat seseorang berendam di dalam bak mandiku. Aku berteriak,
“Dek!”
Tak diduga-duga, adikku berlari
mendekatiku dari belakang. Aku langsung membelalakkan mata.
“Ada apa, Mbak?”
“Gak papa, Dek.”, ucapku sembari
menyuruhnya untuk kembali masuk.
Aku terdiam sembari terus memperhatikan
orang berendam itu. Seketika ibu melihatku dengan amarah karena aku tak
menjalankan perintahnya dengan baik.
“Kok malah berdiri disini?” ucapnya
sembari memasuki kamar mandi dan memasukkan semua pakaian ke dalam bak mandi
seram itu.
Aku terkejut karena orang itu sudah
pergi. Kini, air itu terlihat kosong. Aku merinding dan memutuskan untuk
menghipnotis diriku bahwa itu bukanlah realita tetapi hanyalah ekspektasiku
belaka.
Tok..tok..
“Bu, ada tamu.” ucapku sembari melihat
ibu mengalihkan pandangannya pada pintu yang kosong.
“Buka sendiri, Kak. Ibu gak lihat
siapa-siapa.”
Aku kembali menegukkan ludah dan
membuka pintu. Dion.
“Aku kira siapa.”
“Aku sembunyi karena ada ibumu.”
“Ada apa, Yon?”
“Ini hadiah ulang tahunmu. Selamat
ulang tahun.”
“Iya. Te-”, balasku sembari terkejut
melihat Dion yang sudah pergi.
Kotak kado yang tidak biasa Dion
berikan membuatku sedikit bahagia karena keromantisannya yang sederhana itu.
Aku membuka kado berpita hitam itu dengan
berhati-hati. Di dalamnya, adalah foto-foto candid
yang ia ambil secara diam-diam di kampus. Dia juga mengumpulkan semua surat
yang sudah aku kirim jika aku sedang tidak memegang ponsel selama liburan.
Selain itu, ia juga memberikan surat berisi,
Terima
Kasih.
Dion
Lagi. Aku merengut sembari marah dengan
diri sendiri. Kesalahan apa yang sudah aku buat sampai-sampai Dion pergi tanpa
alasan seperti ini. Kursi yang aku letakkan dekat dengan meja belajarku
tiba-tiba saja terjatuh. Kembali. Bayangan hitam berlari cepat mengitariku lalu
pergi. Aku pingsan.
“Kak, kamu kenapa?”
Aku
terbangun melihat wajah ibu, adik, dan bapakku yang bercucuran air mata. Aku
tersenyum memeluk ketiganya dengan berpura-pura tegar.
Aku
memutuskan untuk pergi ke rumah Dion. Aku merasakan sesuatu yang tidak benar
dan baik di sini. Di dalam perjalanan, motorku terasa berat. Aku merasa bahwa
aku sedang sendirian. Namun, aku tidak mempedulikan itu karena tujuanku adalah
sampai di rumah Dion.
Sampainya
di sana, aku melihat rumahnya kini menjadi serpihan yang hangus terbakar. Aku
menemui beberapa warga sekitar sedang merenovasi rumah tersebut dan mengemasi
serpihan-serpihan itu agar tidak mengenai kaki orang.
“Pak,
sebenarnya apa yang sudah terjadi?”
“Rumah ini
kebakaran, Mbak. Semua orang yang meninggali rumah ini sudah meninggal satu
bulan yang lalu.”
Aku
terbelalak.
“Dimana
pemakamannya, Pak?”
“Mari saya
antar.”
Dalam
perjalanan, aku menangis keras. Akankah Dion terlibat dalam kematian beruntun
itu?
“Lia.”,
bisik seseorang yang membuat motorku terasa berat.
“Diamlah!
Berisik!”, ucapku marah pada siapapun yang terus mengangguku satu minggu
terakhir ini.
Makam Dion
yang terlihat rapi memang terpampang di kuburan ini. Aku kembali menangis
sembari menemukan surat bertuliskan ‘terima
kasih- Dion’ lagi. Aku mengusap pelan dadaku hingga aku bisa menenangkan
diri dan tidak berakhir stres. Aku kini hanya bisa membersihkan makamnya dengan
berbagai bunga yang aku tanam di belakang pekarangan rumah. Hingga jutaan orang
melihatku dengan pandangan yang tidak biasa.
“Terima
kasih” ucap lelaki yang kini menyentuh pundakku dengan kencang.