“Kamu
seharusnya memberikan rincian anggaran yang sesuai dengan penjelasan saya
kemarin. Mengapa kali ini berubah?”
“Ada
beberapa masalah dan pengeluaran yang sudah dilakukan, Pak. Hal itu menyebabkan
keuangan dalam proposal juga meningkat.”
“Maaf, saya
tidak menyetujui jika acara ini terlaksana.”
Kertas
proposal yang telah kami kerjakan dibuang percuma tanpa adanya belas kasihan.
Tatapan Sarah membuatku membeku dan terdiam. Ya. Ini semua karena kesalahanku.
Aku mencoba menjaga jarak pada Sarah yang ternyata malah mendiamkanku
berminggu-minggu. Sarah adalah anak yang disiplin, tepat waktu, rajin, dan dia
adalah pemimpin dalam organisasiku. Namun, jika aku harus berdiam diri terlalu
lama dengannya aku merasakan sesuatu yang mengganjal meskipun aku bisa
mengalihkan pikiranku pada yang lain.
“Hey,
Kris. Kenapa lesu? Mau rokok?”
Aku
menolaknya dengan sombong.
“Tumben?
Sangat disayangkan jika kamu menolak rokok pemberianku. Kebaikanku hanya
berlaku hari ini saja,”
“Aku
bisa membelinya sendiri.”
Seketika
suasana pertemuan ini menjadi sedikit hening karena tingkahku yang menjadi
dingin.
“Berikan!”
teriakku membuat teman-temanku sontak mengejekku habis-habisan.
Pertemuan
rapat perdana kembali diselenggarakan dengan acara yang berbeda. Aku tak
sengaja datang terlambat karena permasalahan kendaraanku yang tiba-tiba mati.
Sarah sama sekali tidak melihatku.
“Rah,
maaf aku telat.”
Sarah
mempersibuk diri dengan mengetik dua proposal dengan kacamata yang dipakainya.
“Boleh
aku bantu?”
Sarah
masih saja terdiam. Dia menarik dua proposal yang penuh coretan dari tanganku.
“Baiklah.
Aku akan mengetik anggarannya saja,” ucapku sembari mengambil kertas buram yang
penuh dengan coretan bolpennya.
Sarah
hanya meliriku lalu mengalihkan pandangan dengan cepat.
Aku
menyelesaikan beberapa tugas dengan keterampilan mengetikku yang cepat. Aku
menghitung semua kemungkinan-kemungkinan buruk dengan memberikan catatan pada
file yang aku buat.
“Rah,
aku tahu permasalahan acara waktu itu. Mereka lebih senang jika penulisan
anggaran disertakan dengan bukti nota atau kwitansi. Itu akan membantu agar
mereka percaya bahwa rincian keuangan yang ditulis tidak palsu. Jadi, disini
aku beri ruang untuk tempat bukti pembayaran dan beberapa rincian aku perkecil.
Kebetulan aku memiliki banyak channel untuk pembelian dengan biaya yang lebih
murah.”
“Iya
sudah,” ucapnya sembari memberikan laptopnya dengan kesal.
Dengan
sigap, aku langsung menyelesaikan rancangan dari anggaran baru yang telah aku
buat ke dalam proposal acara yang Sarah buat.
“Kenapa
terlambat?”
“Motorku
mati biasa karena malas mengisi bensin lupa jika sudah di bawah huruf E”
“Pelupa?”
“Bukan,
hanya saja malas mementingkan kepentingan pribadi jika ada suatu kepentingan
yang lebih tinggi.”
“Mengapa
begitu?”
“Aku
cukup menjaga diriku dan tidak akan berhenti disitu. Orang lain yang
membutuhkanku juga wajib aku jaga apalagi jika aku sampai membuat seseorang
marah. Semua kebutuhanku sama sekali tidak aku lirik.”
Sarah
terdiam sembari sedikit tersenyum.
“Pulang
dengan siapa? Aku tidak melihat motor ataupun orang di luar.”
“Jalan
kaki.”
“Boleh
aku antar?”
“Ya,
jika itu membuatmu merasa lega”
Aku
mengangguk sembari menyelesaikan dua proposal dengan cepat. Aku membereskan
semua peralatan band, drama, dan musik yang berserakan di dalam markas. Aku
menyapu seluruh lantai yang penuh dengan reruntuhan dinding yang lembap.
“Terima
kasih orang baik.”
“Cukup
panggil Kristian saja. Aku bukan orang baik.”
Kelegaan
merabah di seluruh tubuhku. Hingga aku tak sadar komunikasi itu menjalar sampai
jauh.
“Kris,
nanti ada pertemuan. Bisa datang?”
“Pasti
aku akan menjemput jam enam sore.”
Ribuan
pujian diajukan pada Sarah. Ia terlihat tampak sangat senang. Poni doranya yang
seketika menutupi lengkung matanya membuatku sedikit tertawa.
“Bagus,
Rah. Idemu sangat bagus. Bapak tunggu undangan dan acaramu di hari yang akan
datang.”
Sarah
terus menerus memegang proposalnya dengan penuh kebanggaan hingga tiba-tiba
seseorang menyipratkan air dari genangan akibat hujan deras di kala pagi tadi.
“Tenang,
aku punya cadangannya.”
Sarah
kembali tersenyum.
“Kenapa
kalian terus bersama akhir-akhir ini?”
“Memangnya
kenapa? Toh berteman dengan siapapun boleh kan?”
Semua
teman-temanku mulai merasa aneh dengan hubungan kami. Namun, jujur memang
itulah hubungan yang kami lalui saat ini. Tidak lebih sama sekali.
Keaktifan
dalam suatu kelompok paduan suara membuatku sedikit berdegup. Ia terlihat
cantik dengan anggun berwarna putih dan rambut yang ia biarkan terurai. Aku
mengalihkan pandangan pada beberapa kawanku yang juga hadir dalam acara itu.
“Kris,
bisa tunggu aku hingga selesai?”
“Pasti.”
Suara
merdu memberikan kecantikan yang luar biasa pada Sarah. Dia tampil di depan
panggung dengan gerakan-gerakan lembut yang sangat mendukung keanggunannya.
Meskipun aku tahu nyatanya Sarah bukanlah wanita anggun.
Dua
jam aku menunggu hingga larut malam. Sarah belum juga keluar dari balik
panggung. Aku mempersibuk diri dengan bermain ponsel, menaiki dan menuruni
tangga gedung, dan bersandar di dekat pagar gedung yang berwarna hitam legam
itu.
“Kris,
maaf aku terlalu lama.”
Aku
hanya tersenyum.
“Ayo
kita pulang”
Dalam
perjalanan, aku merasa sangat mengantuk sehingga kecepatan yang aku ajukan pada
motor ini hanya 20 km/jam.
“Kris,
terima kasih banyak.”
Panggilan
membuatku harus mengucapkan selamat tinggal pada ribuan teman-temanku dan Sarah
tentunya.
“Haruskah
kamu pergi ke luar kota?”
“Iya.
Ini juga untukmu.”
“Untukku?”
“Pernah
mendengar pernyataan witing tresno saka kulino?”
“Iya.”
“Itulah
yang aku rasakan. Awalnya, mengantar jemputmu adalah kebiasaan tetapi kini
terasa seperti tanggung jawab. Sampai kapan aku terus mengandalkan uang saku
dari orang tuaku? Aku ingin berjuang untuk mereka dan juga dirimu.”
“Kenapa
berlebihan?”
“Kapan
kamu bisa melihat seorang Kristian menjadi melow? Hanya saat ini. Jangan
remehkan. Orang seperti aku juga bisa romantis.”
Sarah
tersenyum sembari merangkulku dengan tangis.
“Iya.
Aku akan menunggumu. Aku ingin mengantarmu sampai stasiun.”
“Oke.”
Tak
terasa hari ini adalah hari dimana aku mulai bekerja di hari pertama. Aku
mempersiapkan segala perlengkapan pribadi dan koper yang aku siapkan hingga
sampai di stasiun kota.
Sarah
menungguku dengan sabar. Dia sangat diam hari ini.
“Kamu
kenapa?”
“Aku
terkadang heran mengapa ada orang sepertimu yang sangat peduli.”
“Ya,
itu semua karena rasa itu tidak dapat diprediksi.”
“Sekarang,
kamu akan pergi?”
“Bukan
pergi. Aku bekerja. Jika pergi, aku tidak akan kembali. Namun, jika aku bekerja
aku akan pulang dengan rezeki. Iya kan?”
Sarah
mengangguk.
Melihatnya
yang hampir menangis, membuatku langsung mengusap rambutnya dengan tenang.
Sontak, dia langsung merangkulku dengan tangisan yang menjadi-jadi. Kini, aku
tahu bahwa semuanya terlihat benar meskipun terasa kebetulan.
Sampai-sampai
aku tidak sadar bahwa aku tidak membawa dompetku.