story request : Kristianus Prayoga photo by: flickr             “Kenapa anggaran bisa sebanyak ini?”             “Eh,”         ...

Lagi-lagi Kebetulan

/
0 Comments


story request : Kristianus Prayoga
photo by: flickr

            “Kenapa anggaran bisa sebanyak ini?”
            “Eh,”
            “Kamu seharusnya memberikan rincian anggaran yang sesuai dengan penjelasan saya kemarin. Mengapa kali ini berubah?”
            “Ada beberapa masalah dan pengeluaran yang sudah dilakukan, Pak. Hal itu menyebabkan keuangan dalam proposal juga meningkat.”
            “Maaf, saya tidak menyetujui jika acara ini terlaksana.”
            Kertas proposal yang telah kami kerjakan dibuang percuma tanpa adanya belas kasihan. Tatapan Sarah membuatku membeku dan terdiam. Ya. Ini semua karena kesalahanku. Aku mencoba menjaga jarak pada Sarah yang ternyata malah mendiamkanku berminggu-minggu. Sarah adalah anak yang disiplin, tepat waktu, rajin, dan dia adalah pemimpin dalam organisasiku. Namun, jika aku harus berdiam diri terlalu lama dengannya aku merasakan sesuatu yang mengganjal meskipun aku bisa mengalihkan pikiranku pada yang lain.
            “Hey, Kris. Kenapa lesu? Mau rokok?”
            Aku menolaknya dengan sombong.
            “Tumben? Sangat disayangkan jika kamu menolak rokok pemberianku. Kebaikanku hanya berlaku hari ini saja,”
            “Aku bisa membelinya sendiri.”
            Seketika suasana pertemuan ini menjadi sedikit hening karena tingkahku yang menjadi dingin.
            “Berikan!” teriakku membuat teman-temanku sontak mengejekku habis-habisan.
            Pertemuan rapat perdana kembali diselenggarakan dengan acara yang berbeda. Aku tak sengaja datang terlambat karena permasalahan kendaraanku yang tiba-tiba mati. Sarah sama sekali tidak melihatku.
            “Rah, maaf aku telat.”
            Sarah mempersibuk diri dengan mengetik dua proposal dengan kacamata yang dipakainya.
            “Boleh aku bantu?”
            Sarah masih saja terdiam. Dia menarik dua proposal yang penuh coretan dari tanganku.
            “Baiklah. Aku akan mengetik anggarannya saja,” ucapku sembari mengambil kertas buram yang penuh dengan coretan bolpennya.
            Sarah hanya meliriku lalu mengalihkan pandangan dengan cepat.
            Aku menyelesaikan beberapa tugas dengan keterampilan mengetikku yang cepat. Aku menghitung semua kemungkinan-kemungkinan buruk dengan memberikan catatan pada file yang aku buat.
            “Rah, aku tahu permasalahan acara waktu itu. Mereka lebih senang jika penulisan anggaran disertakan dengan bukti nota atau kwitansi. Itu akan membantu agar mereka percaya bahwa rincian keuangan yang ditulis tidak palsu. Jadi, disini aku beri ruang untuk tempat bukti pembayaran dan beberapa rincian aku perkecil. Kebetulan aku memiliki banyak channel untuk pembelian dengan biaya yang lebih murah.”
            “Iya sudah,” ucapnya sembari memberikan laptopnya dengan kesal.
            Dengan sigap, aku langsung menyelesaikan rancangan dari anggaran baru yang telah aku buat ke dalam proposal acara yang Sarah buat.
            “Kenapa terlambat?”
            “Motorku mati biasa karena malas mengisi bensin lupa jika sudah di bawah huruf E”
            “Pelupa?”
            “Bukan, hanya saja malas mementingkan kepentingan pribadi jika ada suatu kepentingan yang lebih tinggi.”
            “Mengapa begitu?”
            “Aku cukup menjaga diriku dan tidak akan berhenti disitu. Orang lain yang membutuhkanku juga wajib aku jaga apalagi jika aku sampai membuat seseorang marah. Semua kebutuhanku sama sekali tidak aku lirik.”
            Sarah terdiam sembari sedikit tersenyum.
            “Pulang dengan siapa? Aku tidak melihat motor ataupun orang di luar.”
            “Jalan kaki.”
            “Boleh aku antar?”
            “Ya, jika itu membuatmu merasa lega”
            Aku mengangguk sembari menyelesaikan dua proposal dengan cepat. Aku membereskan semua peralatan band, drama, dan musik yang berserakan di dalam markas. Aku menyapu seluruh lantai yang penuh dengan reruntuhan dinding yang lembap.
            “Terima kasih orang baik.”
            “Cukup panggil Kristian saja. Aku bukan orang baik.”
            Kelegaan merabah di seluruh tubuhku. Hingga aku tak sadar komunikasi itu menjalar sampai jauh.
            “Kris, nanti ada pertemuan. Bisa datang?”
            “Pasti aku akan menjemput jam enam sore.”
            Ribuan pujian diajukan pada Sarah. Ia terlihat tampak sangat senang. Poni doranya yang seketika menutupi lengkung matanya membuatku sedikit tertawa.
            “Bagus, Rah. Idemu sangat bagus. Bapak tunggu undangan dan acaramu di hari yang akan datang.”
            Sarah terus menerus memegang proposalnya dengan penuh kebanggaan hingga tiba-tiba seseorang menyipratkan air dari genangan akibat hujan deras di kala pagi tadi.
            “Tenang, aku punya cadangannya.”
            Sarah kembali tersenyum.
            “Kenapa kalian terus bersama akhir-akhir ini?”
            “Memangnya kenapa? Toh berteman dengan siapapun boleh kan?”
            Semua teman-temanku mulai merasa aneh dengan hubungan kami. Namun, jujur memang itulah hubungan yang kami lalui saat ini. Tidak lebih sama sekali.
            Keaktifan dalam suatu kelompok paduan suara membuatku sedikit berdegup. Ia terlihat cantik dengan anggun berwarna putih dan rambut yang ia biarkan terurai. Aku mengalihkan pandangan pada beberapa kawanku yang juga hadir dalam acara itu.
            “Kris, bisa tunggu aku hingga selesai?”
            “Pasti.”
            Suara merdu memberikan kecantikan yang luar biasa pada Sarah. Dia tampil di depan panggung dengan gerakan-gerakan lembut yang sangat mendukung keanggunannya. Meskipun aku tahu nyatanya Sarah bukanlah wanita anggun.
            Dua jam aku menunggu hingga larut malam. Sarah belum juga keluar dari balik panggung. Aku mempersibuk diri dengan bermain ponsel, menaiki dan menuruni tangga gedung, dan bersandar di dekat pagar gedung yang berwarna hitam legam itu.
            “Kris, maaf aku terlalu lama.”
            Aku hanya tersenyum.
            “Ayo kita pulang”
            Dalam perjalanan, aku merasa sangat mengantuk sehingga kecepatan yang aku ajukan pada motor ini hanya 20 km/jam.
            “Kris, terima kasih banyak.”
            Panggilan membuatku harus mengucapkan selamat tinggal pada ribuan teman-temanku dan Sarah tentunya.
            “Haruskah kamu pergi ke luar kota?”
            “Iya. Ini juga untukmu.”
            “Untukku?”  
            “Pernah mendengar pernyataan witing tresno saka kulino?”
            “Iya.”
            “Itulah yang aku rasakan. Awalnya, mengantar jemputmu adalah kebiasaan tetapi kini terasa seperti tanggung jawab. Sampai kapan aku terus mengandalkan uang saku dari orang tuaku? Aku ingin berjuang untuk mereka dan juga dirimu.”
            “Kenapa berlebihan?”
            “Kapan kamu bisa melihat seorang Kristian menjadi melow? Hanya saat ini. Jangan remehkan. Orang seperti aku juga bisa romantis.”
            Sarah tersenyum sembari merangkulku dengan tangis.
            “Iya. Aku akan menunggumu. Aku ingin mengantarmu sampai stasiun.”
            “Oke.”
            Tak terasa hari ini adalah hari dimana aku mulai bekerja di hari pertama. Aku mempersiapkan segala perlengkapan pribadi dan koper yang aku siapkan hingga sampai di stasiun kota.
            Sarah menungguku dengan sabar. Dia sangat diam hari ini.
            “Kamu kenapa?”
            “Aku terkadang heran mengapa ada orang sepertimu yang sangat peduli.”
            “Ya, itu semua karena rasa itu tidak dapat diprediksi.”
            “Sekarang, kamu akan pergi?”
            “Bukan pergi. Aku bekerja. Jika pergi, aku tidak akan kembali. Namun, jika aku bekerja aku akan pulang dengan rezeki. Iya kan?”
            Sarah mengangguk.
            Melihatnya yang hampir menangis, membuatku langsung mengusap rambutnya dengan tenang. Sontak, dia langsung merangkulku dengan tangisan yang menjadi-jadi. Kini, aku tahu bahwa semuanya terlihat benar meskipun terasa kebetulan.
            Sampai-sampai aku tidak sadar bahwa aku tidak membawa dompetku.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger