Hal
yang tidak pernah aku bayangkan semula bahwa pada akhirnya aku bisa bertemu
dengan sosok Azmi yang hanya bisa aku temui dalam layar ponsel genggam. Tak
ingin merasakan kebahagiaan sendiri,aku
tak segan-segan menceritakkan secara gamblang pada kedua teman-temanku.
Bukannya
mendukung kebahagiaanku, tetapi malah mereka menunjukkan wajah tidak
menyenangkan.
“Awas
saja jika ada apa-apa”
“Aku
minta kamu besok kuliah sehat”
Perhatian
yang terkadang menggelikan itulah yang membuatku menyayangi mereka.
Dengan
berbekal penelusuran google, aku
mencari berbagai penginapan yang aman dengan harga terjangkau. Tak hanya itu,
aku pun mati-matian merencanakan pertemuan yang nyatanya hanya sehari ini agar
berkesan.
Menatapnya
dalam layar ponsel sedang mengecat atap, latihan PBB, apel, joging saat subuh,
dan senam pagi membuatku hanya bisa tersenyum di balik layar. Pengenalan yang
tak pernah aku bayangkan sebelumnya ternyata membawa hati ini terlampau jauh
sampai disini.
“Apa
ra kowe ki kangen a”
Salah
satu rekaman suara yang masuk dalam daftar pesan berbintang tak pernah bosan
aku putar. Tawa yang seketika muncul membuat ruang lengang ini menjadi sedikit bergema.
Tugas-tugas yang menemani membuatku tertidur terlalu pagi sembari menunggu
kabar dari Azmi.
“Istirahatlah.
Tidak perlu menungguku. Ingat, aku akan datang sebentar lagi.”
Mendengar
itu, aku tersipu malu dan menutup telepon sembari menenangkan diriku hingga
menuju dunia mimpi.
Selama kegiatan perkuliahan, aku sangat
kelelahan karena kurang istirahat. Aku menulis materi sembari terpejam sesekali
karena tidak kuat lagi. Aku memutuskan untuk terpejam dengan mengandalkan salah
satu teman dekatku.
“Lho!”
teriakku sembari melihat tulisan ‘panggilan video tak terjawab’ muncul dalam
ponselku.
Tanpa
basa-basi, aku menarik pakaian temanku dengan geram dan emosi. Melihat
tingkahku, membuatnya terkejut dan menatapku dengan heran.
“Kenapa?”
“Kenapa
dia meneleponku di saat yang tidak tepat? Bisakan jika menelepon saat aku di
kos atau bagaimana.”
“Ya.
Mungkin sekarang adalah saat-saat luangnya.”
Aku
terdiam dan melihat ponsel Azmi yang sudah tidak aktif. Aku pun mengalihkan
topik dengan fokus pada penginapan yang akan menjadi tempat tinggalnya selama
satu hari di kota Singa ini.
Sudah
saatnya. Aku menunggunya berjam-jam di depan terminal dengan tubuh yang sangat
letih. Seketika seseorang menyentuh lembut lenganku.
“Na.
Ini aku Azmi.”
Aku
yang tadinya terpejam sontak menatap Azmi bak seorang artis yang aku idolakan.
Aku menamatinya dari ujung rambut hingga kaki. Dia tersenyum.
“Apa
ra kowe ki kangen a?”
Lagi-lagi
dia mengatakan perkataan ini dengan logat Jembernya dengan romantis. Kali ini
berbeda, dia berbicara secara empat mata padaku tidak melalui media sosial
lagi. Jantungku benar-benar meletup-letup. Tak menyangka pertemuan singkat ini
bisa sangat menyenangkan hanya dengan menatap kedua mata hitamnya saja.
Aku
mencari persewaan sepeda motor untuk alat transportasi kami saat berkeliling.
Tingkah kebapakan Azmi keluar di saaat kami sedang menyantap bakso di pinggir
jalan.
“Na,
berikan piring dan kertas minyak itu.”
Aku bingung sembari memberikan piring
dan kertas minyakku pada Azmi. Setelah aku memberikannya, aku melihat Azmi
menata peralatan makan dan sampah-sampah makanan dengan sangat rapi. Aku sebagai
seorang perempuan merasa tersinggung dan merendahkan diriku.
“Aku melakukan ini karena terbiasa
dengan peraturan tentara disana. Jadi, jangan hearn.”
Aku mengangguk sembari berjalan
dengannya tak lekang oleh waktu. Kelegaan dan kepuasan membuatku semakin
mencintai lelaki itu. Ia menjagaku selama di perjalanan sehingga hatiku terasa
hangat dan berbunga-bunga. Kepalanya yang tidak berambut membuatku mudah
membuat sebuah pertanyaan konyol dan candaan yang membuatnya tertawa. Meskipun
dia tidak berbakat melucu, dia adalah tipe orang yang sangat menghargai lawan
bicaranya.
“Terima kasih.” ucapnya sembari
menitikku air mata yang ia tutupi dengan kerudung jaketnya.
Melihatnya menangis, membuatku terenyuh
dan ikut menangis. Aku baru saja sadar untuk menunggu hari esok waktu yang
ditempuh hanyalah dua jam lagi. Tepat pukul lima pagi, aku harus mengantarkan
Azmi menuju terminal agar ia tidak terlambat apel di lapangan. Hari yang
singkat membuatku mengerti apa artinya waktu.
Waktu
adalah nyawa. Dimana aku bisa merayakan nyawa dengan kebaikan maka aku akan
memperoleh kelegaan dan kebahagiaan. Sedangkan jika aku merayakannya dengan
boros dan seenaknya saja maka aku akan memperoleh penyesalan bahkan kekosongan
dalam hidup.
Perpisahan
kembali terjalin di antara aku dan Azmi.
“Nona
aku berangkat ya. Kamu tidak boleh sakit”
Aku
tersenyum sembari melambaikan tangan lewat pintu bis yang ia masukki. Kepulan
asap hitam dari bis sama sekali tidak menggangguku. Pemandangan gelap dan duka
membuatku sangat bersedih.