Story request : Nova Erviana                                                                                photo by : pinterest ...

Waktu Kembali

/
0 Comments



Story request : Nova Erviana
                                                                               photo by : pinterest


            “Sampai ketemu akhir pekan.”
            Hal yang tidak pernah aku bayangkan semula bahwa pada akhirnya aku bisa bertemu dengan sosok Azmi yang hanya bisa aku temui dalam layar ponsel genggam. Tak ingin merasakan kebahagiaan sendiri,  aku tak segan-segan menceritakkan secara gamblang pada kedua teman-temanku.
            Bukannya mendukung kebahagiaanku, tetapi malah mereka menunjukkan wajah tidak menyenangkan.
            “Awas saja jika ada apa-apa”
            “Aku minta kamu besok kuliah sehat”
            Perhatian yang terkadang menggelikan itulah yang membuatku menyayangi mereka.
            Dengan berbekal penelusuran google, aku mencari berbagai penginapan yang aman dengan harga terjangkau. Tak hanya itu, aku pun mati-matian merencanakan pertemuan yang nyatanya hanya sehari ini agar berkesan.
            Menatapnya dalam layar ponsel sedang mengecat atap, latihan PBB, apel, joging saat subuh, dan senam pagi membuatku hanya bisa tersenyum di balik layar. Pengenalan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya ternyata membawa hati ini terlampau jauh sampai disini.
            “Apa ra kowe ki kangen a”
            Salah satu rekaman suara yang masuk dalam daftar pesan berbintang tak pernah bosan aku putar. Tawa yang seketika muncul membuat ruang lengang ini menjadi sedikit bergema. Tugas-tugas yang menemani membuatku tertidur terlalu pagi sembari menunggu kabar dari Azmi.
            “Istirahatlah. Tidak perlu menungguku. Ingat, aku akan datang sebentar lagi.”
            Mendengar itu, aku tersipu malu dan menutup telepon sembari menenangkan diriku hingga menuju dunia mimpi.
             Selama kegiatan perkuliahan, aku sangat kelelahan karena kurang istirahat. Aku menulis materi sembari terpejam sesekali karena tidak kuat lagi. Aku memutuskan untuk terpejam dengan mengandalkan salah satu teman dekatku.
            “Lho!” teriakku sembari melihat tulisan ‘panggilan video tak terjawab’ muncul dalam ponselku.
            Tanpa basa-basi, aku menarik pakaian temanku dengan geram dan emosi. Melihat tingkahku, membuatnya terkejut dan menatapku dengan heran.
            “Kenapa?”
            “Kenapa dia meneleponku di saat yang tidak tepat? Bisakan jika menelepon saat aku di kos atau bagaimana.”
            “Ya. Mungkin sekarang adalah saat-saat luangnya.”
            Aku terdiam dan melihat ponsel Azmi yang sudah tidak aktif. Aku pun mengalihkan topik dengan fokus pada penginapan yang akan menjadi tempat tinggalnya selama satu hari di kota Singa ini.
            Sudah saatnya. Aku menunggunya berjam-jam di depan terminal dengan tubuh yang sangat letih. Seketika seseorang menyentuh lembut lenganku.
            “Na. Ini aku Azmi.”
            Aku yang tadinya terpejam sontak menatap Azmi bak seorang artis yang aku idolakan. Aku menamatinya dari ujung rambut hingga kaki. Dia tersenyum.
            “Apa ra kowe ki kangen a?”
            Lagi-lagi dia mengatakan perkataan ini dengan logat Jembernya dengan romantis. Kali ini berbeda, dia berbicara secara empat mata padaku tidak melalui media sosial lagi. Jantungku benar-benar meletup-letup. Tak menyangka pertemuan singkat ini bisa sangat menyenangkan hanya dengan menatap kedua mata hitamnya saja.
            Aku mencari persewaan sepeda motor untuk alat transportasi kami saat berkeliling. Tingkah kebapakan Azmi keluar di saaat kami sedang menyantap bakso di pinggir jalan.
            “Na, berikan piring dan kertas minyak itu.”
Aku bingung sembari memberikan piring dan kertas minyakku pada Azmi. Setelah aku memberikannya, aku melihat Azmi menata peralatan makan dan sampah-sampah makanan dengan sangat rapi. Aku sebagai seorang perempuan merasa tersinggung dan merendahkan diriku.
“Aku melakukan ini karena terbiasa dengan peraturan tentara disana. Jadi, jangan hearn.”
Aku mengangguk sembari berjalan dengannya tak lekang oleh waktu. Kelegaan dan kepuasan membuatku semakin mencintai lelaki itu. Ia menjagaku selama di perjalanan sehingga hatiku terasa hangat dan berbunga-bunga. Kepalanya yang tidak berambut membuatku mudah membuat sebuah pertanyaan konyol dan candaan yang membuatnya tertawa. Meskipun dia tidak berbakat melucu, dia adalah tipe orang yang sangat menghargai lawan bicaranya.
“Terima kasih.” ucapnya sembari menitikku air mata yang ia tutupi dengan kerudung jaketnya.
Melihatnya menangis, membuatku terenyuh dan ikut menangis. Aku baru saja sadar untuk menunggu hari esok waktu yang ditempuh hanyalah dua jam lagi. Tepat pukul lima pagi, aku harus mengantarkan Azmi menuju terminal agar ia tidak terlambat apel di lapangan. Hari yang singkat membuatku mengerti apa artinya waktu.
            Waktu adalah nyawa. Dimana aku bisa merayakan nyawa dengan kebaikan maka aku akan memperoleh kelegaan dan kebahagiaan. Sedangkan jika aku merayakannya dengan boros dan seenaknya saja maka aku akan memperoleh penyesalan bahkan kekosongan dalam hidup.
            Perpisahan kembali terjalin di antara aku dan Azmi.
            “Nona aku berangkat ya. Kamu tidak boleh sakit”
            Aku tersenyum sembari melambaikan tangan lewat pintu bis yang ia masukki. Kepulan asap hitam dari bis sama sekali tidak menggangguku. Pemandangan gelap dan duka membuatku sangat bersedih.
            “Akankah ada waktu kembali?”  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger