Foto: Flickr                 Tut..tut..tut..                 Sinyal tidak berperikemanusiaan tiba-tiba saja mengganggu perbincang...

Aku Butuh Temu

/
0 Comments


Foto: Flickr

                Tut..tut..tut..
                Sinyal tidak berperikemanusiaan tiba-tiba saja mengganggu perbincanganku dengan seorang perantau. Aku menggerutu sembari kembali menghubungkan ulang dengan telunjuk yang sudah aku tekan kuat-kuat pada layar ponselku yang sudah rapuh. Bunyi tut yang menjengkelkan itu masih saja betah berlagu dalam benda mati berbentuk kotak ini.
                “Argh!”  hanya itu kata yang bisa keluar dari bibir tipis ini.
                Ramainya penghuni stasiun membuat bayangannya dengan cepat menghilang. Aku mencoba mengarahkan kepalaku ke kanan dan kiri untuk menghindari beragam kepala yang berdiri lebih tinggi dariku.
                “Mbak, tolong jangan halangi jalan.” ucap seorang ibu dengan wajah ketus dan kacamata hitamnya sembari mendorongku ke kiri.
                Aku melirik sinis dan seketika tertawa karena pakaiannya tersangkut pintu masuk. Karena kesenanganku itu membuat bayangan Angga semakin hilang. Namun, ternyata dia masih menungguku di belakang.
                “Kamu mencari apa?”
                “Lho, bukankah kamu sudah ada di dalam sana?”
                “Memang sudah. Tapi aku meninggalkan tas berisi pakaianku di bagasi.”
                “Oh begitu.”
                “Jangan bertingkah bingung begitu! Bisa-bisa orang menganggapmu anak kecil yang kehilangan orang tuanya.”
                “Jangan mengejek seakan-akan aku ini sangat pendek jika dibandingkan denganmu.”
                “Memang kenyataannya begitu kan?”
                Aku berdiam. Aku memberikan Angga jalan sembari melihatnya masuk ke dalam gerbong kereta dengan tiga tas besar yang ia bawa. Lambaian tangan berwajah datarku membuatnya tersenyum sebelum benda panjang besar itu berjalan dengan cepat. Ya! Dia sudah hilang.
                Belum sempat aku menginjakkan pintu keluar stasiun, tiba-tiba sepuluh telepon tidak terjawab mendengung perih di telingaku.
                “Ya?”
                “Kenapa terlambat?”
                “Aku sudah bilang jika aku mengantarkan seorang perantau dulu.”
                “Oh aku lupa. Aku tunggu di ruang UKM”
                Aku berjalan santai sembari menatap kanan kiriku. Seketika orang yang berjalan bak memperebutkan idola kini menjadi rumah kosong yang lama tidak ditinggali. Sepi sekali. Perjalanan jauhku tidak lengkap jika aku tidak mengenakan kaos tangan andalan. Ngeng! Berangkat!
                tahun 2017

                Aneka piala yang terpajang dalam ruangan kamarku tak mampu membuat senyumku kembali merekah seperti biasa. Ponselku yang terus gelap tak pernah mau memunculkan selembar notifikasi panjang.
                “Ni, kamu baik-baik saja?”
                “Baik-baik kok.”
                “Apakah kakimu sudah sembuh?”
                “Sudah. Tolong bantu aku berdiri.”
                Latihan selama enam jam membuat kakiku bergetar tak tahu waktu. Aku tertawa terbahak-bahak sembari menyembunyikan kakiku dengan jaketku. Ponsel yang telah lama menungguku di dalam tas nyatanya tidak memunculkan secarik notifikasi apapun yang aku harapkan. Latihan pun berakhir. Bahkan saking gelapnya ponselku, langit pun turut berduka dan menjadi gelap karenanya. Dengan kaos tangan andalan, aku menempuh perjalanan jauh. Jalanan yang sepi memaksa banyak khalayak untuk mengendarai kendaraan mereka dengan kencang. Seketika aku terlelap di dalam perjalanan terus terkejut karena suara desing motor mereka.
                Melihatku sampai rumah dan menutup gerbang, adikku melambaikan tangannya dari balik jendela. Aku hanya bisa tersenyum simpul akibat kelelahan
                Aku memenjamkan mataku yang tak pernah bisa terlelap. Suara dering kencang mengguncangkan kesepianku. Angga.
                “Halo?”
                “Aku ingin minta maaf karena aku baru selesai bekerja saat ini.”
                Aku pun tersenyum sembari mendengarkan segala cerita yang ia bagikan padaku. Seketika juga aku tertawa dan marah karena mendengarnya lupa untuk menyantap makanan di hari-hari sibuknya.
                “Sesibuk-sibuknya seseorang, ia masih perlu memperhatikan dirinya sendiri. Toh, perawat yang sebenarnya adalah diri sendiri bukan orang lain.”
                “Aku paham. Tapi, tuntutan mengharuskanku seperti itu.”
                “Baiklah. Namun, jangan sampai kamu olah pikiranmu seperti itu setiap harinya. Itu akan menjadi kebiasaan burukmu yang sukar kamu ubah akhirnya.”
                “Siap.”
                Suara orang mendengkur mengagetkanku. Aku mengintai dari jendela rumah dan ruang tamu yang tidak ada orang membuatku bergidik. Nyatanya, suara itu berasal dari ponselku. Angga tertidur saat meneleponku. Sembari mendengarkan suara nyanyian tidurnya, aku melihat ribuan foto dalam layar laptop yang baru saja aku buka. Siapa yang bisa menyangkal jika masa yang paling indah adalah masa SMA. Hampir setiap detik aku bisa menatap wajahnya. Tetapi kini roda sudah berputar. Dia menjadi sangat jauh.
                Jam weker berbunyi mengagetkanku. Aku tak menyangka panggilan ini masih berlanjut dengan suara dengkuran yang sama. Sudah enam jam aku meneleponnya. Aku pun segera menekan tombol merah dan memberikan asupan charger pada ponselku yang sudah marah.
                “Tak terasa sudah satu bulan kita berlatih.”
                “Benar!”
                “Apakah kalian sudah merasakan sesuatu?”
                “Merasa lelah.”
                “Aku ingin segera tampil!”
                Jawabanku membuat semua anggota mengalihkan pandangan mereka terhadapku. Aku berdiam dan tersenyum malu.
                “Wah. Semangatnya luar biasa.”
                “Atau karena ada apa-apanya?”
                “Mungkin saja si doi datang?”
                Aseque!
                Aku tertawa terbahak-bahak sembari meneriakkan kata amin dalam batinku. Jika ia benar-benar datang itu bukanlah sesuatu yang bisa aku lupakan. Mungkin, itu adalah momen yang harus aku abadikan.
                Penampilan yang sudah aku tunggu-tunggu membuatku seketika berkeringat dingin saat melihat sosok Angga duduk paling belakang. Aku menampilkan performasi yang paling baik dari sosok seorang Raini. Setelah tampil, aku langsung berjalan ke belakang sembari duduk bersebelahan dengan Angga.
                “Hai.”
                Aku tertawa sembari melihat mata sembapnya.
                “Ada apa dengan matamu?”
                “Aku dikejar deadline. Maaf kalau nanti malam aku harus kembali.”
                “Secepat itu?”
                “Iya. Jujur, aku merasa sangat berat jika tidak melihat penampilanmu yang kesekian kalinya ini.”
                “Terima kasih, Ngga.”
                “Sama-sama. Ada tangkai bunga di dalam tasku. Ambilah.”
                Aku pun merogoh isi tas Angga dan mengambil tangkai bunga anggrek putih dari tasnya. Aku tersenyum sembari melihat ejekan dari mata-mata teman-temanku. Aku tertawa sederhana dan kembali terfokus pada Angga.
                4 tahun berlalu
                Kegiatan padat perlahan tak banyak kuikuti. Fokus pada skripsi adalah tujuanku untuk kesekian kali. Kesibukan yang sama membuatku tak banyak berharap pada kehadiran Angga. Aku berjuang mati-matian untuk menghubungi dosen dan mencari topik judul menarik untuk penerimaan skripsiku kelak. 24 jam nonstop membuat mataku semakin tebal setiap harinya. Tak pernah aku bayangkan perjuanganku yang terlalu gigih ini menghasilkan predikat cum laude pada ijazahku. Selain untukku, aku bahagia melihat kedua orang tuaku menangis atas keberhasilanku.
                “Maaf, aku kehabisan tiket. Happy graduate :*”
                Aku tersenyum sembari mengirimkan video wajahku yang sudah berubah karena segala peralatan make up yang aku rancang sedemikian rupa.
                “Kamu cantik.”
                Pujian demi pujian membuatku tak hanya melambung tapi juga terharu. Merasakan hadir pada acara puncak tanpa adanya orang seperti Angga membuatku bersedih. Aneka selamat terucapkan tanpa henti membuatku tak bisa melihat keluargaku yang tertutupi oleh keramaian orang.
                Kesenanganku pun sudah berakhir. Saat sedang asik bermain ponsel, aku terkejut melihat nama Angga masuk dalam daftar wisudawan yang akan diselenggarkan tiga hari lagi. Tanpa banyak berpikir, aku pun langsung mengurus segala tiket keberangkatanku dan melaju cepat dengan kereta yang telah aku pesan.
                Perjalanan singkat yang aku bayangkan ternyata memakan waktu yang cukup lama. Namun, keadaan itu dapat teratasi karena hawa dingin dari AC yang sudah menjadi fasilitas tetap kereta pada era ini. Aku sendirian. Aku tersenyum melihat seorang wanita yang sedang menangis sembari menelepon seseorang.
                “Kamu menungguku di stasiun?”, “Terima kasih”, “Kamu begitu jahat untuk membohongiku.”, “Sekitar 30 menit lagi aku akan sampai”, “Tunggu aku.”
                Aku mengalihkan pandanganku pada sosok hitam yang tiba-tiba muncul dari jendelaku. Aku tersontak kaget. Namun, nyatanya aku sedang memasuki terowongan hitam. Kelakuanku membuat orang-orang sekitarku tertawa kecil melihatku. Aku menutupi wajahku yang sudah memerah.
                Ribuan mahasiswa dengan berbekal rangkaian bunga memenuhi gedung. Seseorang dengan jas hitam tampan tertawa terbahak-bahak dengan teman-temannya. Aku pun tersenyum sembari menitikkan air mata yang tiba-tiba keluar dari ekor mataku. Banyak teman yang ia beri salam bermunculan dari kanan hingga kiri. Tiba saat ia menghadap ke arah depan, ia melihatku dengan wajah melongo. Aku tertawa dan mendekatinya.
                “Kamu Riani?”
                “Iyalah.”
                “Kenapa dateng? Maksudku kenapa bisa tahu jika ada acara wisuda?”
                “Aku adalah stalker terhebat. Ingatkah?”
                Angga hanya bisa tersenyum. Ia terlihat menahan sesuatu yang menyesakkan dadanya. Aku pun memberikan bunga sebagai tanda selamat dan gelang buatanku sebagai barang kenangan agar aku bisa menemaninya selalu meski ragaku jauh.
                “Terima kasih.” ucap Angga dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
                Setelah menyerahkan semua hadiah yang bisa aku berikan, tiba-tiba Angga memegang tanganku yang menyulapnya menjadi cincin.
                “Kini kamu dan aku sudah terikat. Jadi, jangan takut.”
                Akhirnya bisa ketemu juga.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger