Sinyal
tidak berperikemanusiaan tiba-tiba saja mengganggu perbincanganku dengan
seorang perantau. Aku menggerutu sembari kembali menghubungkan ulang dengan
telunjuk yang sudah aku tekan kuat-kuat pada layar ponselku yang sudah rapuh.
Bunyi tut yang menjengkelkan itu
masih saja betah berlagu dalam benda mati berbentuk kotak ini.
“Argh!”hanya itu kata yang bisa keluar dari bibir
tipis ini.
Ramainya
penghuni stasiun membuat bayangannya dengan cepat menghilang. Aku mencoba
mengarahkan kepalaku ke kanan dan kiri untuk menghindari beragam kepala yang
berdiri lebih tinggi dariku.
“Mbak,
tolong jangan halangi jalan.” ucap seorang ibu dengan wajah ketus dan kacamata
hitamnya sembari mendorongku ke kiri.
Aku
melirik sinis dan seketika tertawa karena pakaiannya tersangkut pintu masuk.
Karena kesenanganku itu membuat bayangan Angga semakin hilang. Namun, ternyata
dia masih menungguku di belakang.
“Kamu
mencari apa?”
“Lho,
bukankah kamu sudah ada di dalam sana?”
“Memang
sudah. Tapi aku meninggalkan tas berisi pakaianku di bagasi.”
“Oh
begitu.”
“Jangan
bertingkah bingung begitu! Bisa-bisa orang menganggapmu anak kecil yang
kehilangan orang tuanya.”
“Jangan
mengejek seakan-akan aku ini sangat pendek jika dibandingkan denganmu.”
“Memang
kenyataannya begitu kan?”
Aku
berdiam. Aku memberikan Angga jalan sembari melihatnya masuk ke dalam gerbong
kereta dengan tiga tas besar yang ia bawa. Lambaian tangan berwajah datarku
membuatnya tersenyum sebelum benda panjang besar itu berjalan dengan cepat. Ya!
Dia sudah hilang.
Belum
sempat aku menginjakkan pintu keluar stasiun, tiba-tiba sepuluh telepon tidak
terjawab mendengung perih di telingaku.
“Ya?”
“Kenapa
terlambat?”
“Aku
sudah bilang jika aku mengantarkan seorang perantau dulu.”
“Oh
aku lupa. Aku tunggu di ruang UKM”
Aku
berjalan santai sembari menatap kanan kiriku. Seketika orang yang berjalan bak
memperebutkan idola kini menjadi rumah kosong yang lama tidak ditinggali. Sepi
sekali. Perjalanan jauhku tidak lengkap jika aku tidak mengenakan kaos tangan
andalan. Ngeng! Berangkat!
tahun 2017
Aneka
piala yang terpajang dalam ruangan kamarku tak mampu membuat senyumku kembali
merekah seperti biasa. Ponselku yang terus gelap tak pernah mau memunculkan
selembar notifikasi panjang.
“Ni,
kamu baik-baik saja?”
“Baik-baik
kok.”
“Apakah
kakimu sudah sembuh?”
“Sudah.
Tolong bantu aku berdiri.”
Latihan
selama enam jam membuat kakiku bergetar tak tahu waktu. Aku tertawa
terbahak-bahak sembari menyembunyikan kakiku dengan jaketku. Ponsel yang telah
lama menungguku di dalam tas nyatanya tidak memunculkan secarik notifikasi
apapun yang aku harapkan. Latihan pun berakhir. Bahkan saking gelapnya
ponselku, langit pun turut berduka dan menjadi gelap karenanya. Dengan kaos
tangan andalan, aku menempuh perjalanan jauh. Jalanan yang sepi memaksa banyak
khalayak untuk mengendarai kendaraan mereka dengan kencang. Seketika aku
terlelap di dalam perjalanan terus terkejut karena suara desing motor mereka.
Melihatku
sampai rumah dan menutup gerbang, adikku melambaikan tangannya dari balik
jendela. Aku hanya bisa tersenyum simpul akibat kelelahan
Aku
memenjamkan mataku yang tak pernah bisa terlelap. Suara dering kencang
mengguncangkan kesepianku. Angga.
“Halo?”
“Aku
ingin minta maaf karena aku baru selesai bekerja saat ini.”
Aku
pun tersenyum sembari mendengarkan segala cerita yang ia bagikan padaku.
Seketika juga aku tertawa dan marah karena mendengarnya lupa untuk menyantap
makanan di hari-hari sibuknya.
“Sesibuk-sibuknya
seseorang, ia masih perlu memperhatikan dirinya sendiri. Toh, perawat yang
sebenarnya adalah diri sendiri bukan orang lain.”
“Aku
paham. Tapi, tuntutan mengharuskanku seperti itu.”
“Baiklah.
Namun, jangan sampai kamu olah pikiranmu seperti itu setiap harinya. Itu akan
menjadi kebiasaan burukmu yang sukar kamu ubah akhirnya.”
“Siap.”
Suara
orang mendengkur mengagetkanku. Aku mengintai dari jendela rumah dan ruang tamu
yang tidak ada orang membuatku bergidik. Nyatanya, suara itu berasal dari
ponselku. Angga tertidur saat meneleponku. Sembari mendengarkan suara nyanyian
tidurnya, aku melihat ribuan foto dalam layar laptop yang baru saja aku buka.
Siapa yang bisa menyangkal jika masa yang paling indah adalah masa SMA. Hampir
setiap detik aku bisa menatap wajahnya. Tetapi kini roda sudah berputar. Dia
menjadi sangat jauh.
Jam
weker berbunyi mengagetkanku. Aku tak menyangka panggilan ini masih berlanjut
dengan suara dengkuran yang sama. Sudah enam jam aku meneleponnya. Aku pun
segera menekan tombol merah dan memberikan asupan charger pada ponselku yang sudah marah.
“Tak
terasa sudah satu bulan kita berlatih.”
“Benar!”
“Apakah
kalian sudah merasakan sesuatu?”
“Merasa
lelah.”
“Aku
ingin segera tampil!”
Jawabanku
membuat semua anggota mengalihkan pandangan mereka terhadapku. Aku berdiam dan
tersenyum malu.
“Wah.
Semangatnya luar biasa.”
“Atau
karena ada apa-apanya?”
“Mungkin
saja si doi datang?”
“Aseque!”
Aku
tertawa terbahak-bahak sembari meneriakkan kata amin dalam batinku. Jika ia
benar-benar datang itu bukanlah sesuatu yang bisa aku lupakan. Mungkin, itu
adalah momen yang harus aku abadikan.
Penampilan
yang sudah aku tunggu-tunggu membuatku seketika berkeringat dingin saat melihat
sosok Angga duduk paling belakang. Aku menampilkan performasi yang paling baik
dari sosok seorang Raini. Setelah tampil, aku langsung berjalan ke belakang
sembari duduk bersebelahan dengan Angga.
“Hai.”
Aku
tertawa sembari melihat mata sembapnya.
“Ada
apa dengan matamu?”
“Aku
dikejar deadline. Maaf kalau nanti malam aku harus kembali.”
“Secepat
itu?”
“Iya.
Jujur, aku merasa sangat berat jika tidak melihat penampilanmu yang kesekian
kalinya ini.”
“Terima
kasih, Ngga.”
“Sama-sama.
Ada tangkai bunga di dalam tasku. Ambilah.”
Aku
pun merogoh isi tas Angga dan mengambil tangkai bunga anggrek putih dari
tasnya. Aku tersenyum sembari melihat ejekan dari mata-mata teman-temanku. Aku
tertawa sederhana dan kembali terfokus pada Angga.
4 tahun berlalu
Kegiatan
padat perlahan tak banyak kuikuti. Fokus pada skripsi adalah tujuanku untuk
kesekian kali. Kesibukan yang sama membuatku tak banyak berharap pada kehadiran
Angga. Aku berjuang mati-matian untuk menghubungi dosen dan mencari topik judul
menarik untuk penerimaan skripsiku kelak. 24 jam nonstop membuat mataku semakin
tebal setiap harinya. Tak pernah aku bayangkan perjuanganku yang terlalu gigih ini
menghasilkan predikat cum laude pada
ijazahku. Selain untukku, aku bahagia melihat kedua orang tuaku menangis atas
keberhasilanku.
“Maaf,
aku kehabisan tiket. Happy graduate :*”
Aku
tersenyum sembari mengirimkan video wajahku yang sudah berubah karena segala
peralatan make up yang aku rancang
sedemikian rupa.
“Kamu
cantik.”
Pujian
demi pujian membuatku tak hanya melambung tapi juga terharu. Merasakan hadir
pada acara puncak tanpa adanya orang seperti Angga membuatku bersedih. Aneka
selamat terucapkan tanpa henti membuatku tak bisa melihat keluargaku yang
tertutupi oleh keramaian orang.
Kesenanganku
pun sudah berakhir. Saat sedang asik bermain ponsel, aku terkejut melihat nama
Angga masuk dalam daftar wisudawan yang akan diselenggarkan tiga hari lagi.
Tanpa banyak berpikir, aku pun langsung mengurus segala tiket keberangkatanku
dan melaju cepat dengan kereta yang telah aku pesan.
Perjalanan
singkat yang aku bayangkan ternyata memakan waktu yang cukup lama. Namun,
keadaan itu dapat teratasi karena hawa dingin dari AC yang sudah menjadi
fasilitas tetap kereta pada era ini. Aku sendirian. Aku tersenyum melihat
seorang wanita yang sedang menangis sembari menelepon seseorang.
“Kamu
menungguku di stasiun?”, “Terima kasih”, “Kamu begitu jahat untuk membohongiku.”,
“Sekitar 30 menit lagi aku akan sampai”, “Tunggu aku.”
Aku
mengalihkan pandanganku pada sosok hitam yang tiba-tiba muncul dari jendelaku.
Aku tersontak kaget. Namun, nyatanya aku sedang memasuki terowongan hitam.
Kelakuanku membuat orang-orang sekitarku tertawa kecil melihatku. Aku menutupi
wajahku yang sudah memerah.
Ribuan
mahasiswa dengan berbekal rangkaian bunga memenuhi gedung. Seseorang dengan jas
hitam tampan tertawa terbahak-bahak dengan teman-temannya. Aku pun tersenyum
sembari menitikkan air mata yang tiba-tiba keluar dari ekor mataku. Banyak
teman yang ia beri salam bermunculan dari kanan hingga kiri. Tiba saat ia
menghadap ke arah depan, ia melihatku dengan wajah melongo. Aku tertawa dan
mendekatinya.
“Kamu
Riani?”
“Iyalah.”
“Kenapa
dateng? Maksudku kenapa bisa tahu jika ada acara wisuda?”
“Aku
adalah stalker terhebat. Ingatkah?”
Angga
hanya bisa tersenyum. Ia terlihat menahan sesuatu yang menyesakkan dadanya. Aku
pun memberikan bunga sebagai tanda selamat dan gelang buatanku sebagai barang
kenangan agar aku bisa menemaninya selalu meski ragaku jauh.
“Terima
kasih.” ucap Angga dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Setelah
menyerahkan semua hadiah yang bisa aku berikan, tiba-tiba Angga memegang
tanganku yang menyulapnya menjadi cincin.
“Kini
kamu dan aku sudah terikat. Jadi, jangan takut.”