published on spotify : berjelajah dalam karya “Kamu tahu dari mana?” “Saat aku menonton di bioskop, aku bertemu dengan mereka. Hmm . Ak...

Kopi Favorit

/
2 Comments


published on spotify : berjelajah dalam karya

“Kamu tahu dari mana?”

“Saat aku menonton di bioskop, aku bertemu dengan mereka. Hmm. Aku tidak percaya bahwa mereka benar-benar dekat.”

            “Mengapa tidak percaya?”

            “Selama ini, aku tidak pernah melihat mereka bercengkerama di Stasi”

            “Aku juga berpikir begitu. Namun, aku akan tetap menyegani Dion”

            “Sampai kapan?”

            “Sampai aku merasa lelah untuk bertahan”

            Tet..tet..

Berita buruk itu Gia, sahabatku, siarkan lewat ponsel tepat di saat aku sedang menantikan Dion datang menemuiku. Cukup lama aku berdiri dengan sepatu sneakers kebanggaanku. Sudah sekitar sepuluh kali aku memainkan tali tas selempangku dengan tidak jelas.

            “Ri. Maaf lama. Tadi, aku harus menyelesaikan urusanku dulu. Ayo berangkat.” ucap Dion membuatku langsung tersenyum padanya.

            “Oke gak papa. Aku tadi hanya menunggu sebentar kok.” balasku sembari membersihkan riak yang tiba-tiba saja mengganggu tenggorokanku.

            Dalam perjalanan, aku melihat Dion sedang bercengkerama seru dengan seseorang lewat ponselnya. Saking serunya, ia mengenakan earphone dan membiarkanku menikmati suasana malam minggu sendirian di balik punggungnya.

          “Ri, bagaimana perasaanmu setelah bergabung di Stasi? Adakah hal yang mengganggumu?”

          “Tidak, Yon. Aku sangat senang. Terima kasih sudah mengenalkan mereka padaku. Bahkan, kini aku menjadi gemar bernyanyi akibat ajakanmu padaku untuk mengikuti choir.”

          “Syukurlah kalau begitu. Bagaimana kabar laporan pertanggung jawaban acara minggu lalu?”

          “Sudah aku kirimkan pada keuskupan dengan nota asli dan jumlah pengeluarannya sesuai dengan jumlah pemasukan dana.”

          “Bagus.”

          “Yon, kenapa kamu mau mengantarku setiap kali ada pertemuan di Stasi?”

          “Ya, anggap saja itu balas budi.”

          Aku terdiam dan berlagak seolah-olah paham pada perkataannya sebelum ia berhenti berbicara denganku dan menelepon seseorang yang membuatnya tertawa terbahak-bahak.

          Sesampainya di Stasi, aku melihat Dion dengan terburu-buru turun dari motor dan merangkul seorang wanita sebayaku. Aku hampir jatuh lantaran masih duduk  di atas sepeda motornya. Suasana kafe di Stasi menjadi sangat ramai akibat kesuksesan acara minggu lalu itu. Di mana aku mengenal sosok Dion yang awalnya tidak pernah memotong pembicaraanku dan tidak pernah merangkul wanita lain. Kini, Dion pergi dan tidak kembali lagi untuk menyaksikan acara tahunan berupa pentas seni orang muda tahun 2019 denganku.

          Malam ini, aku sudah merasa bahwa Dion berubah.

          “Ri, bisakah nanti kamu pulang dengan Eka? Aku harus mengantar Ratna pulang ke rumah sebelum petang.”

          “Baiklah.”

          Mereka terus saling bertatap hingga pada akhirnya duduk bersebelahan. Hati yang aku pupuk agar menganggap semua ini adalah kejadian yang biasa menjadi gugur karena pemandangan itu. Ya. Ini adalah pertanda baik agar aku tidak lagi menaruh hati pada pria bernama Dion itu. Hmm. Aku jadi takut. Aku takut membuka hati lagi pada pria manapun. Bisa-bisa semua pria aku jauhi.

          “Wah, aku kagum pada perjuanganmu tujuh semester ini. Kamu berhasil meraih peringkat pertama dengan nilai terbaik di kampus. Aku akan selalu mendukungmu, Ri.”

          Gia memujiku. Aku tersenyum sembari memegang medali dan piala penghargaan dengan rasa bangga yang luar biasa.

          Pertemuanku dengan Dion membuatku menjadi muak dan mengalihkan pandanganku dari dua manusia itu.

          “Sejak kapan kamu dan Dion bermusuhan?”

          “Tidak kok. Kami berteman. Hanya saja tidak sedekat dulu. Aku harus menjaga hati pasangannya.”

          “Sampai kapan kamu menutup hatimu, Ri?”

          “Sampai ada seseorang yang tepat.”

          “Apa definisi tepat bagimu? Kita sudah berumur 23 tahun. Jika kamu bersikap terlalu selektif, itu akan mempersulit hubungan asmaramu, Ri.”

          “Ya. Aku ingin lelaki yang benar-benar tulus dan tidak banyak memberikanku harapan yang pada akhirnya hanyalah untuk memberi rasa sakit yang tak berujung.”

          “Apakah itu lelaki idamanmu, Ri?”

          “Ya. Memangnya kenapa?”

          “Sadarkah siapa orang yang selalu menemanimu di kala rapat di kampus, Ri? Bahkan dia jauh lebih baik daripada definisimu itu.”

          Aku berdiam diri sembari menyeduh kopi hangat di warung kopi yang menjadi usaha sampinganku selain menjadi konselor.

          “Ri, aku ingin kamu bisa berpikir terbuka lagi. Tolong, jangan tolak semua lelaki hanya karena masa lalumu itu. Aku yakin Tuhan akan memberikan pria yang baik untuk perempuan baik sepertimu.”

          “Baiklah. Aku akan mencoba membuka hati ini lagi.”

          “Nah, itu baru temanku.”

          Evan, seorang mantan ketua organisasiku di kampus, datang dengan pakaian rompi kesukaannya. Dia tersenyum padaku. Sembari membenahi posisi kacamataku, aku tersenyum.

          “Ada apa kemari? Apakah mau memesan kopi yang paling direkomendasikan?”

          “Memang kopi seperti apa yang sangat direkomendasikan?”

          “Kopi Pancong. Kopi dengan porsi kecil khas Pontianak ada di warung ini. Kopi ini juga sangat murah jika dibandingkan kopi-kopi yang lain.”

          “Hmm. Justru yang direkomendasikan orang mengenai kopi malah jauh dari pemikirannya tentang kopi benar begitu?”

          “Ya, benar. Orang berpikir bahwa sewajarnya kopi adalah satu cangkir penuh. Tetapi, kopi Pancong malah hanya setengah cangkir. Itu akan menumbuhkan rasa penasaran pengunjung terhadap kopi itu.”

          “Lalu, mengapa kamu menilaiku sama seperti lelaki-lelaki lain yang kamu benci? Padahal, aku jelas-jelas berbeda dengan mereka?”

            “Apa bedanya?”

            “Aku tidak semenarik mereka.”

          Aku terdiam sembari tetap menyiapkan kopi Pancong dengan tersenyum.

          “Ini, kopinya.” balasku sembari mempersilakannya duduk jauh dari hadapanku.

          Bukannya pergi, Evan malah menungguku sampai aku mau menjawab pertanyaannya itu.

          “Maafkan aku. Terlalu banyak trauma dan sakit yang  membuatku menjadi buta pada orang baik.”

          “Tok-tok.” balas Evan dengan wajah yang berseri.

          Aku terdiam sembari kebingungan pada tingkahnya.

          “Mmm..Bolehkah aku masuk?”

          “Masuk?”

          Evan mengukir serbuk kopi dengan gambar hati di kopi yang baru saja aku buat untuknya. Aku seketika tersenyum dan melihat kopi milik Evan.

Mmm.. Baiklah.”

           

            Keterpurukan pada sebuah hal yang dinamakan cinta membuatku buta pada kebaikannya. Detik-detik yang ia lalui terbuang percuma hanya untuk terus menanti wanita sepertiku untuk cepat menyadari keberadaannya. Ia memang tidak semenarik lelaki-lelaki yang pernah aku segani. Namun, hati yang tulus membuat semua yang aku tulis dalam kriteriaku lenyap. Ritia, jangan pernah mematok semuanya sesuai dengan standarmu ya. Percayalah apa yang Tuhan beri tidak akan pernah salah.



2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger